BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
6. Analisis Regresi dan Pengujian Hipotesis
penyebarannya mengikuti arah garis diagonal. Sehingga model regresi layak dipakai untuk prediksi hasil belajar berdasarkan masukan variabel bebasnya:
Gambar 4.8. Grafik Normal Probability Plot Hasil Uji Normalitas
Ho: Tidak terdapat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat
Ha: Terdapat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat Dasar pengambilan keputusannya adalah:
P < 0,05, maka Ho ditolak P ≥ 0,05, maka Ho diterima
Pengujian hipotesis ini dilakukan dengan teknik analisis statistik regresi sederhana yang distandarisir, dari hasil olahan komputer sub program SPSS for Windows yang akan dipaparkan melalui tabel-tabel signifikansi, berikut penjelasan sesuai dengan hipotesis yang telah dirumuskan. Hasil analisis regresi sederhana terdapat pada tabel 4.9.
Tabel 4.9 Hasil Analisis Regresi
Variabel Penelitian Koefisien t-hitung Prob.(Sig.)
Constanta ( C ) 54.871 3.310 0.002
Keharmonisan (X1) 0.463 4.533 0.000
F-hitung 20.550 Prob. F-hitung 0.004
R 0.583 Standar Error 8.08
R-Square 0.339 N 42
Adjusted R-Squared 0.323 Keterangan Tabel 4.9:
Angka R sebesar 0.583 menunjukkan bahwa korelasi nilai pengamatan dan nilai prediksi cukup kuat.
Angka R square atau koefisien determinasi adalah 0.339. Hal ini berarti bahwa model mempunyai daya ramal 33,9% variasi Y dijelaskan oleh model.
Adjusted R Square yaitu 0.323. Hal ini berarti 32,3% variasi dari variabel terikat bisa dijelaskan oleh variasi dari variabel bebas, sedangkan sisanya 67,7% dijelaskan oleh variabel lain di luar model.
Standard Error of Estimate (SEE) adalah 8.08 Makin kecil SEE akan membuat model regresi semakin tepat memprediksi variabel terikat.
Hasil persamaan regresi yang diperoleh sebagai berikut:
Y = 54.871 + 0.463X1 + e b. Pengujian Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini dapat dilakukan pengujian terhadap hipotesis yang diajukan dengan analisis regresi sederhana. Tabel 4.9 merupakan pengujian hipotesis dengan melihat nilai p value, jika nilai p value lebih kecil dari 0.05 maka pengaruh antara variabel signifikan.
Hasil pengujian hipotesis sebagai berikut: “ Berdasarkan analisis regresi pada tabel 4.9, diperoleh koefisien pengaruh keharmonisan keluarga terhadap akhlak peserta didik sebesar rxy = 0,463 dengan nilai p = 0,000 < 0,05. Ini menunjukkan bahwa
keharmonisan keluarga berpengaruh positif signifikan terhadap akhlak peserta didik. Hal ini diartikan bahwa semakin baik kondisi keharmonisan keluarga, maka akhlak peserta didik akan semakin tinggi/meningkat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian ketigayang berbunyi “Keharmonisan keluarga berpengaruh terhadap akhlak anak di MTs. Al-Hidayah Lemoa Kec.
Bontolempangan Kab. Gowa.” diterima.
B. Pembahasan
Berdasarkan analisis regresi pada tabel 4.9, diperoleh koefisien pengaruh keharmonisan keluarga terhadap akhlak peserta didik sebesar rxy = 0,463 dengan nilai p = 0,000 < 0,05. Ini menunjukkan bahwa keharmonisan keluarga berpengaruh positif signifikan terhadap akhlak peserta didik. Hal ini diartikan bahwa semakin baik kondisi keharmonisan keluarga, maka akhlak peserta didik akan semakin tinggi/meningkat. Berdasarkan hipotesis yang ketiga mengatakan bahwa pengaruh keharmonisan keluarga terhadak akhlak peserta didik yaitu “diterima”.
Banyak penelitian yang dilakukan para ahli, menemukan bahwa remaja yang berasal dari keluarga yang penuh perhatian, hangat, dan harmonis mempunyai kemampuan dalam menyesuaikan diri dan sosialisasi yang baik dengan lingkungan disekitarnya. Anak yang mempunyai penyesuaian diri yang baik di sekolah biasanya memiliki
latar belakang keluarga yang harmonis, menghargai pendapat anak, dan hangat. Hal ini disebabkan karena anak yang berasal dari keluarga yang harmonis akan menpersepsi rumah mereka sebagai suatu tempat yang membahagiakan karena semakin sedikit masalah antara orang tua, maka semakin sedikit masalah yang dihadapi anak dan begitu juga sebaliknya.
Keharmonisan dalam hubungan keluarga sangat dibutuhkan dan berepengaruh positif pada perkembangan akhlak sikap dan perilaku anak mendukung dan menciptakan keharmonisan hubungan antar kedua orang tua, keharmonisan antar orang tua dan anak maupun keharmonisan antar anak dan anak. Selain itu harus mampu membangun rasa kasih sayang antar anggota keluarga, saling pengertian, saling memperhatikan, saling membantu, saling menghargai atau saling menghormati antar anggota keluarga dan mempunyai komunikasi yang baik antar anggota keluarga serta kualitas dan kuantitas konflik yang minim di dalam rumah.
Kebersamaan dan keharmonisan dalam keluarga, secara langsung mengajarkan anak bagaimana memahami perasaan orang lain, dengan adanya situasi dan kondisi keluarga harmonis yang di dalamnya tercipta kehidupan yang saling menghargai dan diwarnai rasa kasih sayang dapat memungkinkan peserta didik untuk tumbuh dan berkembang secara seimbang.
Dengan dukungan kondisi keluarga yang harmonis juga dapat menstimulus peserta didik untuk meningkatkan aktifitasnya dalam belajar agar prestasi belajarnya di sekolah akan tercapai dengan baik.
Namun jika kondisi keluarganya tidak harmonis dan kurang mendapat dukungan dari keluarga bisa saja mengakibatkan peserta didik kurang dalam kegiatan belajar dan akan mempengaruhi prestasi belajarnya, dengan demikian kondisi keharmonis keluarga mempunyai peranan penting dalam menunjang peserta didik untuk mencapai prestasi belajarnya dengan baik.
Sebagian orang tua banyak yang beranggapan bahwa keadaan di dalam rumah dan kondisi keluarga tidak mempunyai peranan yang begitu besar terhadap proses belajar anak dan hasil belajar anaknya di sekolah. Mereka menganggap bahwa setelah anak mendapatkan pendidikan di sekolah maka lepaslah hak dan kewajiban keluarga atau orangtua untuk memberikan pendidikan kepada anaknya. Semua tanggung jawab dari keluarga telah beralih ke pihak sekolah, berhasil atau tidaknya anak dalam belajar, tinggi atau rendah prestasi belajarnya sudah menjadi tanggung jawab sekolah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keharmonisan keluarga adalah terciptanya suasana yang penuh keakraban saling pengertian, persahabatan, toleransi, saling menghargai satu sama lainnya yang menimbulkan perasaan amandan rasa puas bagi masing-masing anggota keluarga, dengan suasana yang menyenangkan membuat
perasaan remaja menjadi tenang dan damai, merasa betah dirumah, karena rumah merupakan tempat bagi remaja untuk memperoleh kebutuhannya dari orang tua seperti kasih sayang,diperhatikan, diakui dan dihargai.
Dengan demikian, keluarga yang harmonis membentuk sakinah mawaddah dan rahmah merupakan suatu kondisi yang hendaknya diciptakan oleh pasangan suami istri di dalam rumah tangganya, dan ini memerlukan suatu upaya sistematis dankonstruktif dari kedua belah pihak.
Dari beberapa pembahasan tentang keharmonisan maka penulis akan membahas tentang akhlak. Dilihat dari beberapa pengertian ilmu akhlak dan unsur-unsur yang terdapat di dalamnya, ilmu akhlak sebagai ilmu yang tidak berdiri sendiri karena berkaitan dengan tingkah laku manusia dan ilmu akhlak sebagai ilmu yang memiliki akhlak yang sama dengan cabang ilmu lainnya, dalam ilmu- ilmu sosial dilihat dari berbagai pendekatan yang digunakan untuk mengetahui gejala jiwa manusia dengan mengacu pada segala sesuatu yang konkret untuk mengetahui segala yang abstrak atau perbuatan sebagai gambaran isi hati manusia.
Dalam ilmu akhlak perbuatan manusia berasal dari isi hatinya, tetapi yang berhak menilai isi hati hanya diri manusia itu sendiri, sedangkan yang paling mengetahui isi hati adalah Allah Swt. Oleh karena itu, ilmu akhlak membahas objek penting pada diri manusia,
yaitu pengkajian tentang hati sebagai kekuatan jiwa manusia dalam bertindak yang menjadi latar belakang diterima atau ditolaknya suatu perbuatan oleh Allah Swt.
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Alaq ayat 1-5:
Artinya: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahamulia, yang mengajar manusia dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Berdasarkan ayat di atas dapat diambil suatu pemahaman bahwa kata khalaq, artinya telah berbuat, telah menciptakan atau telah mengambil keputusan untuk bertindak. Secara terminologis akhlak adalah tindakan yang tercermin pada akhlak Allah Swt, yang salah satunya dinyatakan sebagai pencipta manusia dari segumpal darah, sebagai sumber pengetahuan yang melahirkan kecerdasan manusia pembebasan dari kebodohan serta peletak dasar yang paling utama dalam pendidikan.
Konsep akhlak dalam Al-Qur’an salah satunya dapat diambil dari pemahaman terhadap surat Al-Alaq ayat 1-5 yang secara tekstual menyatakan perbuatan Allah Swt, dalam menciptakan manusia sekaligus membebaskan manusia dari kebodohan. Ayat pertama surat Al-Alaq tersebut merupakan penentu perjalanan akhlak manusia
karena ayat tersebut menyatakan agar setiap tindakan harus dimulai dengan keyakinan yang kuat kepada Allah Swt. Sebagai pencipta semua tindakan atau yang memberi kekuatan untuk berakhlak.
Keharmonisan keluarga sangat dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah keterbukaan antara anggota keluarga, pengertian antara anggota keluarga, saling memberikan motivasi antara anggota keluarga, dan saling tolong menolong antara keluarga, sehingga peranan keluarga untuk menuju keharmonisan dapat di pertanggung jawabkan oleh keluarga karena keluarga merupakan satu bagian yang tidak dapat dipisahkan antara ayah, ibu dan anak- anak yang merupakan bagian penerus keluarga.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Adapun yang menjadi bagian dari simpulan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Keharmonisan keluarga pada peserta didik MTs Al-Hidayah Lemoa Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa berada pada kategori “baik”, maka hipotesis pertama yang mengatakan bahwa gambaran keharmonisan keluarga peserta didik MTs Al-Hidayah Lemoa Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa “kurang harmonis” antara orang tua dengan anak. ditolak
2. Kondisi akhlak peserta didik MTs Al-Hidayah Lemoa Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa berada pada kategori “baik”
maka hipotesis kedua yang mengatakan bahwa gambaran akhlak peserta didik Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa berada pada kategori “kurang baik”. ditolak
3. Koefisien pengaruh keharmonisan keluarga terhadap akhlak peserta didik sebesar rxy = 0,463 dengan nilai p = 0,000 < 0,05 dalam kategori “sedang”, ini menunjukkan bahwa keharmonisan keluarga berpengaruh positif signifikan terhadap akhlak peserta didik. Hal ini diartikan bahwa semakin baik kondisi keharmonisan keluarga, maka akhlak peserta didik akan semakin tinggi/meningkat. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian yang berbunyi
“Keharmonisan keluarga berpengaruh terhadap akhlak peserta didik di MTs. Al-Hidayah Lemoa Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa.”diterima.
B. Saran
Adapun masukan dan saran dari penulis berkaitan dengan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pada orang tua peserta didik hendaknya anak selalu dimotivasi untuk berbuat baik dan berakhlak mulia, orang tua juga harus mendidik akal kecerdasannya. Nilai akhlak yang sederhana harus sejak dini ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anaknya sehingga di kehidupan dewasanya anak akan benar-benar bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai akhlak.
2. Pada peneliti selanjutnya, dalam penelitian ini hanya mengambil dua variabel, yakni keharmonisan keluarga dan kualitas akhlak.
Penulis menyadari bahwa masih ada beberapa tipe keharmonisan keluarga dan kualitas akhlak yang belum penulis teliti, untuk itu pada peneliti lain yang ingin meneliti dengan judul yang sama diharapkan lebih mengembangkan konsep yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Ambo. Enre. 2006. Pendekatan Psikologi Pendidikan Anak.
Pustaka Timur. Yogyakarta.
Abdurrahman, Muhammad. 2016. Akhlak Menjadi Seorang Muslim. Ed. 1, Cet. I; Rajawali. Jakarta.
Adisusilo, S. J. R. 2013. Pembelajaran Nilai Karakter. Ed. 1, Cet. II;
Rajawali, Jakarta.
Adiwikarta. 1988. Pembelajaran Nilai Karakter. Rajawali. Jakarta.
Ahmadi, H. Abu. 2007. Sosiologi Pendidikan. Cet II; PT. Rineka Cipta.
Jakarta.
Al-Hakim, Imad. 2007. Menjadi Istri Penuh Pesona. Cet XI; PT. Aqwam Media Profetika. Solo.
Al-Hasyimi. 1997. Akhlak Menjadi Seorang Muslim. Rajawali. Jakarta.
Al-Hijazy. 2001. Akhlak Menjadi Seorang Muslim. Rajawali. Jakarta.
Andirja, Abidin Firanda. 2012. Kiat-kiat Membahagiakan Istri.
Naashirusunnah. Madinah.
Anwar, Rosihon. 2008. Aqidah Akhlak. Cet. II; Pustaka Setia. Bandung.
Amin, Ahmad. 1995. Ilmu Akhlak. Cet II; Pustaka Setia. Bandung. 2010.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Belajar Penelitian (Pendekatan Praktik).
Rineka Cipta. Jakarta.
At-Tuwanisi dan Al-Jumbulati. 2002. Akhlak dan Adab Islam. PT. Bhuana Ilmu Populer. Jakarta.
Beni, Ahmad Saebani. 2010. Ilmu Akhlak. Cv Pustaka Setia. Bandung.
Buchori, Mochtar. 2007. Model Pendidikan Karakter. Cet I; Perpustakaan Nasional. Yogyakarta.
130
Daradjat, Sakiah. 1994. Model Pendidikan Karakter. Cet I; Banguntapan.
Yogykarta.
Duval dan Logan. 1986. Pembelajaran Nilai Karakter. Cet II; Rajawali.
Jakarta.
Chan, Nana. 2013. Pendidikan Karakter. Cet III; Alfabeta. Bandung.
Faizi, Mastur. 2012. Mendidik Anak Ala Pendidikan Orang Hebat. Cet I;
Flass Books. Yogyakarta.
Getteng, Abd. Rahman. 1997. Pendidikan Islam dan Pembangunan.
Yayasan Al-Ahkam. Ujung Pandang.
Ginanjar, Arry. 2008. Pendidikan Karakter. Cet III; Alfabeta. Bandung.
Gunarsa. 2009. Model Pendidikan Karakter. Cet I; Perpustakaan Nasional.
Yogyakarta.
Gunawan, Heri. 2014. Pendidikan Karakter. Cet III; Alfabeta. Bandung.
Hamid, Abdul. 2010. Ilmu Akhlak. Cet II; Pustaka Setia. Bandung.
Hasbullah. 2003. Model Pendidikan Karakter. Cet I; Perpustakaan Nasional. Yogyakarta.
Kartajaya, Hermawan. 2010. Pembelajaran Nilai Karakter. PT.
Rajagrafindo Persada. Jakarta.
Mawaddah, Inna. 2013. Akhlak dan Adab Islami. PT Buana Ilmu. Jakarta.
Margono, 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Cet I: Rineka Cipta.
Jakarta.
Marimba, Ahmad. D. 1998. Ilmu Pendidikan Islam. Cet II, h.9. CV Pustaka Setia. Bandung.
Marsuki. 2015. Pendidikan Karakter Anak. Ed.1, Cet I; Amzah. Jakarta.
Muhsinatun, Siasah Masruri. 2013. Model Pendidikan Karakter. Cet I;
Perpustakaan Nasional. Yogyakarta.
Mustafa. 2003. Akhlak Menjadi Seorang Muslim. Cet I; Rajagrafindo Persada. Jakarta.
Nick. 2002. Perkembangan Peserta Didik. Rajagrapindo. Jakarta.
Philips, Simon. 2008. Ilmu Akhlak. Pustaka Setia. Bandung.
Purwanto, M. Ngalim. 1990. Psikologi Pendidikan. Cet V; PT. Remaja Rosdayakarya. Bandung
Rafi’ Udhin, 2007. Ketenangan dan Kebahagiaan dalam Keluarga. Bulan Bintang. Jakarta.
Sahertian, Piet A. 1994. Propil Pendidikan Profesional. Cet I; PT. Andi Offset. Yogyakarta.
Sardiman, 1992. Prinsip-prinsip Dasar dan Konsepsi Pendidikan Islam.
Kalam Mulia. Jakarta.
Shihab, Quraish. 2007. Pengantin Al-Qur’an. Lentera Hati. Jakarta.
Sudjana, Nana. 2000. Dasar-dasar Proses Belajar. Cet IV; PT. Sinar Baru Algesindo. Bandung.
Sugiyono, 2013. Metode Penelitian Kuantitatif,Kualitatif, dan R D. Cet 18;
Alfabeta. Bandung.
Sumadi, Sutrisna. 2007.Pendekatan Psikologis bagi Anak. Cet I; PT.
Mutiara Sumber Widya. Jakarta.
Sumantri, 1993. Pendidikan Nilai dan Karakter. PT. Raja Gravindo Persada. Jakarta.
Suryabrata, Sumadi. 2002. Psikologi Pendidikan. Ed I, Cet II; PT. Raja Grarindo Persada. Jakarta.
Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Belajar. Cet I; Bandung.
Syamsu, Yusuf L.N dan Sugandi M. Nani. 2013. Perkembangan Peserta Didik. Cet IV, Ed 1; PT. Raja Grapindo Persada. Jakarta.
Tafsir, Ahmad. 2004. Sosiologi Pendidikan. PT. Rineka Cipta. Jakarta.
Triatna, Cepi Permana Johar. 2011. Pendidikan Karakter. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Vembrianto. 1990. Ayo Mengenal Allah. PT. Mutiara Sumber Widya.
Jakarta.
Wahyudin. 2004. Ilmu Akhlak. Pustaka Setia. 2010.
Ya’Qub, Hamzah. 1993. Model Pendidikan Karakter. Cet I; Perpustakaan Nasional. Yogyakarta.
Zuchdi, Darmiyati. 2008. Model Pendidikan Karakter. Cet I; Perpustakaan Nasional. Yogyakarta.
http: //keharmonisankeluarga.com/29.htm (Diakses tanggal 26 Oktober 2016)
http. //pendidikan akhlak.com/goodreads/gom/author/quotes/376115.htm (Diakses tanggal 12 September 2016)
RIWAYAT HIDUP
Sahara, lahir di Gowa pada tanggal 02 Januari 1988, merupakan anak kedua dari dua bersaudara.
Penulis lahir dari pasangan suami istri bapak Abd.
Hamid dan ibu Tarring. Penulis sekarang bertempat tinggal di RT 001 RW 001 Desa Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Lemoa lulus pada tahun 2001, lalu melanjutkan sekolah menengah pertama di MTS Al- Hidayah Lemoa dan lulus pada tahun 2004, kemudian melanjutkan jenjang pendidikan ke MA Al-Hidayah Lemoa Kecamatan Bontolempangan lulus pada tahun 2007, kemudian melanjutkan jenjang pendidikan ke STAI DDI-MANGKOSO pada tahun 2007 (semester 1-6) pindah studi ke Universitas Muhammadiyah Makassar (UNISMUH) lulus pada tahun 2012. Pada tahun 2013 penulis mencoba melanjutkan pendidikan pada Program Pascasarjana UNISMUH Makassar Jurusan Magister Manajemen Pendidikan Islam.
134
ANGKET TENTANG PENGARUH KEHARMONISAN KELUARGA TERHADAP AKHLAK PESERTA DIDIK DI MTS ALHIDAYAH LEMOA
KECAMATAN BONTOLEMPANGAN KABUPATEN GOWA TAHUN PELAJARAN 2016
I. Identitas Responden
1. Nama Siswa:...
2. Jenis Kelamin: ...
3. Umur :...
4. Kelas : ...
5. Pekerjaan Orang Tua: ...
6. Banyaknya Bersaudara: ...
7. Penghasilan Orang Tua/Bulan: ...
II. Petunjuk Pengisian Kuesioner
1. Isilah setiap daftar pernyataan yang diajukan dengan jawaban yang saudara anggap paling sesuai.
2. Memberikan tanda silang (X) pada pembobotan yang disediakan sesuai dengan jawaban yang anda anggap benar, yang terdiri dari lima pilihan yaitu:
A. Tingkat Keharmonisan Keluarga (X1)
1. Kami sekeluarga memiliki waktu khusus untuk berkumpul bersama.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
2. Mengungkapkan perasaan sayang pada anggota keluarga merupakan hal yang sudah semestinya.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
3. Kami sekeluarga bergotong royong membersihkan rumah pada hari libur.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
4. Jika ada pertengkaran yang terjadi di rumah, saya memilih untuk tidak mengeluarkan pendapat.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
5. Kami sekeluarga percaya bahwa tuhan akan memberikan petunjuk dalam kehidupan kami.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
6. Jika ada perlakuan kakak/abang/adik saya yang tidak saya sukai, maka saya akan membicarakannya secara baik- baik.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
7. Orang tua saya tidak peduli dengan masalah anak- anaknya.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
8. Dalam memutuskan sesuatu hal yang menyangkut diri saya, orang tua mengajak saya untuk mendiskusikannya dengan mengambil keputusan bersama-sama.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
9. Ketika saya melakukan kesalahan orang tua akan mengajak saya berbicara untuk mencari tahu alasan mengapa kesalahan itu saya lakukan.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
10. Mendahulukan membantu orang tua adalah hal yang lebih utama daripada keluar bersama teman-teman.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
11. Kami berperilaku sesuai dengan nilai-nilai agama dalam kehidupan kami sehari-hari.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
12. Kesibukan yang dimiliki orang tua tidak mengurangi perhatian mereka dalam memantau kebutuhan kami.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
13. Kesibukan yang dimiliki oleh orangtua tidak membuat mereka lupa untuk berkumpul bersama anak-anaknya pada hari libur.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
14. Saya senang mendengarkan orangtua saya jika sedang bersama mereka.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
15. Saya melaksanakan ibadah tanpa harus disuruh oleh orangtua saya.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
16. Tanpa alasan yang jelas terkadang ayah memarahi ibu di depan anak-anaknya.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
17. Saya tidak peduli dengan masalah yang terjadi di rumah.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
18. Orangtua saya menyediakan waktunya untuk mendengarkan keluhan anak-anaknya.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
19. Kami sekeluarga tidak memiliki waktu khusus untuk berkumpul bersama.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
20. Betapapun sibuknya, orangtua saya akan akan berusaha pulang sebelum waktu makan malam.
a. Sangat sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
21. Jika saya bertengkar dengan saudara saudara, orangtua saya dapat mengatasinya.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
22. Jika ada perlakuan kakak/abang/adik saya yang tidak saya sukai maka saya akan membicarakannya secara baik-baik.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
23. Berbagi cerita dengan anggota keluarga sehari-hari adalah hal yang menyenangkan.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
24. Abang/kakak/adik saya tidak keberatan meminjamkan barang miliknya pada saya.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
25. Orangtua memberikan masukan pada anak-anaknya tentang cara bergaul yang baik.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
26. Saya akan mengambil alih pekerjaan orangtua di rumah ketika mereka terlihat lelah.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
27. Orangtua lebih mengutamakan pekerjaannya dibandingkan keluarga.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
28. Mengisi waktu senggang dengan dengan ayah/ibu merupakan hal yang membosankan.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
29. Saya tidak merasa bermasalah ketika meninggalkan ibadah yang seharusnya saya kerjakan.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
30. Kami sekeluarga tetap memiliki waktu makan bersama walaupun tiap anggota keluarga memiliki kesibukan masing-masing.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
31. Orangtua saya tidak menegur saya walaupun saya tidak melaksanakan ibadah.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
32. Saudara saya mau mengungkapkan kesedihannya pada saya.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
33. Saya biasa membicarakan permasalahan yang saya alami pada orangtua.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
34. Kami sekeluarga menyempatkan waktu untuk berkumpul setiap harinya walau hanya sebentar.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
35. Saya biasanya pergi keluar rumah tanpa berpamitan.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
36. Ketika terjadi krisis keuangan dalam keluarga maka orangtua akan mengajak kami berdiskusi untuk mencari solusi dari permasalahan yang sedang terjadi.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu
37. Saya akan menceritakan keluh kesah saya pada orangtua saya ketika saya memiliki masalah.
a. Sangat Sering d. Tidak Sering
b. Sering e. Sangat Tidak Sering c. Ragu-ragu