• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Akhlak

Dalam dokumen pengaruh keharmonisan keluarga terhadap (Halaman 68-84)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Akhlak

1. Pengertian Akhlak

masa bayi, masa kanak-kanak, masa anak, masa remaja, sampai masa dewasa.





































Artinya: “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Wahyudin, 2004:34).

Sebenarnya, ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mendefinisikan kata akhlaq yaitu pendekatan linguistik (kebahasaan) dan pendekatan terminologik (peristilahan). Dari sudut kebahasaan akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu isim masdar dari kata al-akhlaqa- yukhliqu- ikhlaqan, sesuai dengan timbangan (wazan) tsulasi majid af’ala-yuf’ilu-if’alan, berarti as-sajiyah (perangai), ath- thabi’ah (kelakuan, tabiat, watak dasar), al-adat (kebiasaan, kelaziman), al-maru’ah (peradaban yang baik), dan ad-din (agama).

Kata akhlak juga isim masdar dari kata akhlaqa yaitu ikhlaq.

Berkenaan dengan ini timbullah pendapat bahwa secara linguistik, akhlak merupakan isim jamid atau isim ghair mustaq, yaitu isim yang tidak memiliki akar kata. Kata akhlaq secara etimologis berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata khalaqa kata asalnya adalah khuliqun berarti adat, perangai atau tabaiat. Secara terminologis dapat dikatakan bahwa akhlak merupakan pranata perilaku manusia dalam segala aspek kehidupan, dalam pengertian umum akhlak dapat dipadankan dengan etika atau nilai moral.

Ibn Miskawaih (421 H/1030 M), yang dikenal sebagai pakar bidang akhlak terkemuka mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sementara itu, Imam Al-Ghazali (1015-1111 M), dikenal sebagai hujjatul Islam (pembela Islam) karena kepiawaiannya dalam membela Islam dari berbagai paham yang dianggap menyesatkan, dengan agak lebih luas daripada Ibn Miskawaih mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gamblang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Berbicara soal akhlak, maka perlu disimak apa yang ada dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan: “ Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk akhlak serta peradaban bangsa yang bernartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. Dalam UU ini secara jelas ada “akhlak”, kendati tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang apa yang dimaksudkan dengan akhlak, sehingga menimbulkan berbagai tafsir tentang maksud dari kata tersebut.

Sementara menurut istilah (terminologis) terdapat beberapa pengertian tentang akhlak, sebagaimana telah dikemukakan oleh beberapa ahli, diantaranya adalah sebagai berikut:

Simon Philips, 2008 mengatakan:

“Akhlak adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan.”

Hermawan Kartajaya, 2010 mengatakan:

“Akhlak adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu (manusia). Ciri khas tersebut adalah asli, dan mengakar kepada kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan mesin pendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berujar, serta nerespon sesuatu.”

Ahli pendidikan nilai Darmiyati Zuchdi (2008:39), memaknai watak sebagai seperangkat sifat-sifat yang selalu dikagumi sebagai tanda-tanda kebaikan, kebijakan, dan kematangan moral seseorang.

Lebih lanjut dikatakan bahwa tujuan pendidikan watak adalah mengajarkan nilai-nilai tradisional tertentu, nilai-nilai yang diterima secara luas sebagai landasan perilaku yang baik dan bertanggung jawab.

Hal tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa hormat, tanggung jawab, rasa kasihan, disiplin, loyalitas, keberanian, toleransi, keterbukaan, etos kerja dan kecintaan pada Tuhan dalam diri seseorang. Dilihat dari tujuan pendidikan watak, yaitu penanaman seperangkat nilai-nilai maka pendidikan watak dan pendidikan nilai pada dasarnya sama. Jadi, pendidikan watak pada dasarnya adalah pendidikan nilai, yaitu penanaman nilai-nilai agar menjadi sifat pada

diri seseorang dan karenanya mewarnai kepribadian atau watak seseorang.

Individu yang berakhlak baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik kepada Tuhan Yang Maha Esa, dirinya, sesama, lingkungan, Bangsa dan Negara serta Dunia Internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya. (Depdiknas, 2010).

Akhlak yang baik terdiri dari mengetahui hal yang baik, menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik, kebiasaan dalam cara berfikir, kebiasaan dalam hati, dan kebiasaan dalam tindakan. Ketiga hal ini diperlukan untuk mengarahkan suatu kehidupan moral, ketiganya ini membentuk kedewasaan moral. Ketika kita berfikir tentang jenis karakter yang kita inginkan bagi anak-anak kita, sudah jelas bahwa kita menginginkan anak-anak kita untuk mampu menilai apa yang benar, dan kemudian melakukan apa yang mereka yakini itu benar, meskipun berhadapan dengan godaan dari dalam dan tekanan dari luar.

Akhlak berasal dari nilai tentang sesuatu, suatu nilai yang diwujudkan dalam bentuk perilaku anak itulah yang disebut akhlak.

Jadi suatu akhlak melekat dengan nilai dari perilaku tersebut, karenanya tidak ada perilaku anak yang tidak bebas dari nilai. Sejauh mana kita memahami nilai-nilai yang terkandung di dalam perilaku

seorang anak atau sekolompok anak memungkinkan berada dalam kondisi tidak jelas. Dalam arti bahwa apa nilai dari suatu perilaku amat sulit dipahami oleh orang lain daripada oleh dirinya sendiri. Dalam kehidupan manusia, begitu banyak nilai yang ada di dunia ini, sejak dahulu sampai saat ini.

Beberapa nilai dapat kita identifikasi sebagai nilai yang penting bagi kehidupan anak baik saat ini maupun di masa yang akan datang, baik untuk dirinya maupun untuk kebaikan lingkungan hidup di mana anak hidup saat ini dan masa yang akan datang. Dalam referensi Islam, nilai yang sangat terkenal dan melekat yang mencerminkan akhlak/perilaku yang luar biasa tercermin pada Nabi Muhammad Saw, yaitu: (1). Sidik, (2). Amanah, (3).Fatonah, (4). Tablig. Tentu dipahami bahwa empat nilai ini merupakan esensi, bukan seluruhnya. Karena Nabi Muhammad Saw. Juga terkenal dengan akhlak kesabarannya, ketangguhannya, dan berbagai akhlak lain.

Sidik yang berarti benar, mencerminkan bahwa Rasulullah berkomitmen pada kebenaran, selalu berkata dan berbuat benar, dan berjuang untuk menegakkan kebenaran. Amanah yang berarti jujur atau terpercaya, mencerminkan bahwa apa yang dilakukan Rasulullah dapat dipercaya oleh siapa pun, baik oleh kaum Muslimin maupun Nonmuslim. Fatonah yang berarti cerdas/pandai, arif, luas wawasan, terampil dan profesional. Artinya, perilaku Rasulullah dapat dipertanggungjawabkan kehandalannya dalam memecahkan

masalah. Tablig yang bermakna komunikatif mencerminkan bahwa siapa pun yang menjadi lawan bicara Rasulullah, maka orang tersebut akan mudah memahami apa yang dibicarakan/dimaksudkan oleh Rasulullah.

Banyak nilai yang dapat menjadi perilaku/karakter dari berbagai pihak. Di bawah ini berbagai nilai yang dapat kita identifikasi sebagai nilai-nilai yang ada dikehidupan saat ini. Nilai-nilai yang dianggap penting dalam kehidupan manusia saat ini yang terkait dengan diri sendiri seperti jujur, kerja keras, tegas, sabar,ulet, disiplin, mandiri, pemberani, tanggung jawab, teguh dan terbuka. Nilai yang terkait dengan orang/makhluk lain seperti senang membantu, toleransi, murah senyum, pemurah, kooperatif/mampu bekerjasama, amar ma’ruf, nahi munkar, peduli (manusia dan alam), dan adil. Nilai yng terkait dengan ketuhanan seperti ikhlas, iman, takwa dan sebagainya.

Nilai yang dikembangkan oleh Arry Ginanjar dalam 7 budi utama yaitu: Jujur, Tanggung jawab, Visioner (mampu pemimpin dengan baik), Disiplin, Kerja sama, Adil, Peduli. Berdasarkan apa yang dirumuskan oleh Arry Ginanjar di atas merupakan hasil refleksi terhadap perjalanan bangsa ini dari waktu ke waktu. Secara umum, kondisi bangsa yang dirasakan saat ini berbeda dengan apa yang menjadi akhlak bangsa.

Arry Ginanjar (2008: iv-v) mengemukakan:

“Kini yang utama bukanlah “budi”. Karena itu bangsa Indonesia mengalami krisis yang luar biasa karena yang utama pada bangsa ini adalah kekuasaan, harta, dan jabatan.

Sementara itu budi, moral, etika, akhlak, tidak lagi dinomorsatukan”.

Adanya kesamaan diantara akhlak dan watak (kepribadin) memang karena kedua-duanya adalah merupakan sifat dasar asli yang ada dalam diri individu seseorang. Hal yang sangat abstrak dalam diri seseorang di mana seseorang sering menyebutnya tabiat atau perangai. Akhlak memang merupakan sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pemikiran dan perbuatannya. Akhlak dapat ditemukan dalam sikap-sikap seseorang terhadap dirinya, terhadap orang lain, terhadap tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya dan situasi atau keadaan yang lainnya.

Seorang Filsuf Yunani bernama Aristoteles mendefinisikan akhlak yang baik sebagai kehidupan dengan melakukan tindakan- tindakan yang benar sehubungan dengan diri seseorang dan orang lain. Aristoteles mengingatkan kepada kita tentang apa yang cenderung kita lupakan di masa sekarang ini. Kehidupan yang berbudi luhur termasuk kehidupan yang berorientasi pada diri sendiri (seperti kontrol diri dan moderasi) sebagaimana halnya dengan kebaikan yang berorientasi pada hal lainnya seperti kemurahan hati dan belas kasihan, dan kedua jenis kebaikan ini berhubungan. Kita perlu untuk mengendalikan diri kita sendiri, keinginan kita, hasrat kita untuk melakukan hal yang baik bagi orang lain.

akhlak merupakan perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma Agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Orang yang perilakunya sesuai dengan norma-norma disebut berakhlak mulia.

Akhlak mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang poteni dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, dan bersabar.

Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat baik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut.Watak seseorang dapat dibentuk, dapat dikembangkan dengan pendidikan nilai. Pendidikan nilai akan membawa pada pengetahuan nilai, pengetahuan nilai akan membawa pada proses internalisasi nilai, dan proses internalisasi nilai akan mendorong seseorang untuk mewujudkannya dalam tingkah laku yang sama akan menghasilkan watak seseorang.

Secara singkat prinsip-prinsip akhlak atau karakter Islam dalam rangka melakukan hubungan antar manusia (hablun minannas) dalam keluarga bisa dikelompokkan menjadi beberapa bagian yaitu, berhubungan dengan orang tua, berhubungan dengan orang yang

lebih tua, berhubungan dengan orang yang lebih muda, berhubungan dengan teman sebaya, dan berhubungan dengan lawan jenis.

Dari pengertian-pengertian di atas dapat dipahami bahwa kata akhlak sebenarnya jamak dari kata khuluqun artinya tindakan. Kata khuluqun sepadan dengan kata khalqun artinya kejadian dan kata khaliqun artinya pencipta dan kata makhluqun artinya yang diciptakan, dengan demikian rumusan terminologis dari akhlak merupakan hubungan erat antara Khaliq dengan makhluk serta antara makhluk dengan makhluk. (Hamzah Ya’Qub, 1993: 11)

a). Membina Akhlak dengan Orang tua

Perlu ditegaskan di sini yang dimaksud dengan orang tua adalah orang yang melahirkan anak-anaknya, yaitu ayah dan ibu.

Bergaul dengan orangtua tidak sama seperti bergaul dengan orang lain atau teman sebaya. Orangtua memiliki kedudukan yang sangat istimewa di hadapan anak-anaknya sehingga mereka harus menghormatinya dan mematuhi perintah-perintahnya.

Agar hubungan dengan kedua orang tua berjalan dengan baik, terutama bagi anak, ada beberapa tata cara yang harus diperhatikan dan menjadi akhlak atau karakter mulia yakni, mengikuti keinginan dan saran kedua orang tua dalam berbagai aspek kehidupan selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, menghormati dan memuliakan kedua orang tua serta berterima kasih atas kasih sayang dan jasa-jasa mereka, membantu kedua orangtua

secara fisik dan material, selalu mendoakan kedua orang tua agar selalu mendapatkan ampunan, rahmat, dan karunia dari Allah.

Jika kedua orang tua meninggal hal-hal yang harus dilakukan oleh anak adalah mengurus jenazahnya dengan baik, melunasi utang- utangnya, melaksanakan wasiatnya, meneruskan silaturrahim yang dibina orangtua pada waktu hidupnya, memuliakan sahabat- sahabatnya dan mendoakannya. Berbakti kepada orangtua (biir al- walidain) merupakan kewajiban yang harus dipenuhi setiap muslim kapanpun, di manapun, dan bagaimanapun kondisinya. Oleh karena itu, Alquran melarang melontarkan kata-kata yang dapat menyinggung hati orang tua, meskipun terdengar sepele seperti kata AH.

Dalam (QS. Al-Isra’ (17): 23)





















































Artinya: “Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan

"ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Marzuki, Pendidikan Karakter Islam, 2015).

Islam mengajarkan agar seseorang berbakti, serta mentaati ibu bapak tidak menyuruh untuk menyekutukan Allah. Setelah kita

menunaikan kewajiban terhadap Allah maka kewajiban berikutnya adalah berbakti kepada ibu bapak, hadits Nabi mengatakan:

ﺎﻓ ر ﻊﺧ ا ل و ا ﺪﻟ ﻚﯾ ﺎﻓ ﻦﺴﺣ ﺎﻤﮭﺘﺒﺤﺻ )

ر و ا ه (ﻢﻠﺜﻣ

Artinya: “Pulanglah kepada ibu bapakmu , pasti nanti anak-anakmu akan berbuat baik kepadamu.” (Wahyudin, 2004: 53)

b). Membina Akhlak dengan Orang yang Lebih Tua

Orang yang lebih tua adalah orang yang memiliki usia yang lebih tua dari usia seseorang, baik sedikit terpautnya maupun banyak.

Orang ini bisa saja masih saudaranya, seperti kakak, paman, bibi, dan kerabatnya yang lain, atau bukan saudaranya. Terhadap orang yang lebih tua ini yang harus dilakukan tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan terhadap kedua orangtua, selama orang yang lebih tua itu patut diperlakukan seperti itu.

Islam mengajarkan agar seorang muslim menghormati seseorang dan tidak memandang rendah dan hina kepadanya, apalagi jika ia pantas mendapatkan penghormatan itu. Menghormati orang yang lebih tua dinilai sebagai salah satu sikap dasar yang paling penting yang menjadi identitas Islam dalam masyarakat sehingga pembentukan akhlak dengan yang lebih tua semakin meningkat dan sesuai yang diinginkan.

Dalam rangka pembinaan hubungan baik (berakhlak) antara kita dan orang-orang yang lebih tua, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya: 1). Jika orang yang lebih tua itu adalah

saudara kita, kita harus memberikan penghormatan yang sebaik- baiknya, apalagi jika mereka adalah saudara dari ayah atau ibu kita.

Ketika kedua orangtua kita sudah meninggal, mereka dapat mengganti kedudukan kedua orangtua kita. Oleh karena itu, kita harus memperlakukan mereka sebagaimana mereka kedua orangtua kita, 2). Jika orang-orang yang lebih tua itu bukan saudara kita maka kita tetap harus menghormati mereka, selama mereka layak untuk dihormati. Jika mereka tidak layak dihormati, mungkin karena perilku mereka yang tidak baik, kita tidak perlu menghormati mereka dengan berlebihan.

Pada zaman modern seperti sekarang ini terkadang batasan umur tidak lagi diperhatikan sehingga pergaulan terjadi tanpa memandang siapa yang diajak bergaul dan rambu-rambu diabaikan begitu saja. Seorang muslim sudah selayaknya memerhatikan semua sikap dan perilakunya karena Islam sudah mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk dalam pergaulan antarmanusia.

Meskipun kebanyakan orang mengabaikan aturan ini, setiap muslim harus berusaha agar umat Islam menjadi teladan bagi umat lainnya dalam hal pergaulan sehari-hari. Generasi muda yang baik, tidak semata-mata karena kehebatan prestasinya dibidang akademik atau kariernya, tetapi bagaimana generasi muda juga bisa menghormati orang lain, terutama yang lebih tua. Inilah salah satu nilai karakter penting yang harus ditumbuhkan sejak dini.

c). Membina Akhlak dengan Orang yang Lebih Muda Maksud orang yang lebih muda di sini adalah orang yang memiliki usia yang lebih muda daripada seseorang, termasuk adiknya.

Berikut ini hal-hal yang harus dilakukan dalam rangka berhubungan dengan orang-orang yang lebih muda yaitu: 1). Jika mereka itu saudara kita, kita harus memberikan kasih sayang sepenuhnya dengan ikut merawat, membimbing, mendidik dan membantu, 2). Jika mereka bukan saudara kita, kita harus tetap menyayangi mereka dengan menunjukkan kasih sayang kita. Jangan sekali-kali menyakiti mereka dan melakukan sesuatu yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangan mereka, baik dari segi fisik maupun mental.

Menghormati orang yang lebih muda merupakan cerminan keluhuran hati dan kesantunan seseorang. Meskipun di atas sudah ditegakan bahwa orang yang muda harus menghormati orang yang lebih tua, bukan berarti orang yang tua tidak harus menghormati yang lebih muda. Jika semua orang dapat melakukan hubungan yang paling hormat tanpa memerhatikan usia, akan terbinalah pergaulan hidup sehari-hari harmonis yang dipenuhi dengan nilai-nilai akhlak mulia.

d). Membina Akhlak dengan Teman Sebaya

Teman sebaya adalah orang-orang yang memiliki usia yang hampir sama dengan usia seseorang dan menjadi teman atau sahabatnya. Kepada mereka ini ia harus dapat bergaul dengan

sebaik-baiknya, apalagi mereka itu adalah saudaranya. Mereka ini adalah orang-orang yang sehari-harinya bergaul dengannya dan menemaninya, baik dikala suka maupun duka.

Hal-hal yang dapat dilakukan dalam rangka berhubungan dengan teman sebaya adalah 1). Saling memberi salam setiap bertemu dan berpisah dengan mereka dan dilanjutkan saling berjabat tangan, kecuali lawan jenis, 2). Saling menyambung tali silaturrahim dengan mempererat persahabatan dengan mereka, 3). Saling memahami kelebihan dan kekurangan serta kekuatan dan kelemahan masing-masing sehingga segala macam bentuk kesalahpahaman dapat dihindari, 4). Saling menolong, 5). Bersikap rendah hati dan tidak bersikap sombong, 6). Saling mengasihi, 7). Memberi perhatian kepada mereka, 8). Selalu membantu mereka, apalagi jika mereka memintanya, 9). Ikut menjaga mereka dalam gangguan orang lain, 10). Saling memberi nasihat dengan kebaikan dan kesabaran, 11).

Mendamaikan mereka apabila berselisisih, dan saling mendoakan (Marzuki, 2009).

e). Membina Akhlak dengan Lawan Jenis

Maksud lawan jenis di sini adalah orang-orang yang memiliki jenis kelamin yang berbeda dengan seseorang. Terhadap orang- orang yang menjadi lawan jenisnya, Iskam memberikan aturan khusus yang harus dijadikan pegangan. Orangtua harus memberikan pemahaman yang cukup kepada anaknya tentang tata aturan

pergaulan dengan lawan jenis agar ia tidak melakukan kesalahan secara hukum dan norma Islam.

Berikut ini akhlak yang harus dibangun dalam rangka berhubungan dengan orang-orang yang menjadi lawan jenis. Seperti:

a). Tidak berkhalwat, yaitu berdua-duaan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang tidak mempunyai hubungan suami istri dan tidak pula mahram (saudara dekat) tanpa ada orang ketiga. Termasuk dalam pengertian khalwat adalah berdua-duaan di tempat umum yang di antara mereka tidak saling mengenal, atau saling mengenal, tetapi tidak kepedulian atau tidak mempunyai kontak komunikasi sama skali, meskipun berada pada tempat yang sama, seperti di pantai, pasar, restoran, atau bioskop, b). Mengurangi pandangan mata, kecuali yang memang benar-benar perlu, c). Tidak boleh menampakkan aurat di hadapan lawan jenisnya dan juga tidak boleh saling melihat aurat satu sama lain, d). Tidak melakukan hal-hal yang menjurus perzinaan, seperti bergandengan tangan, berciuman, dan berpelukan apalagi sampai melakukan perzinaan.

Berdasarkan pada beberapa pengertian tersebut di atas, dapat dimaknai bahwa akhlak adalah keadaan asli yang ada dalam diri individu seseorang yang membedakan antara dirinya dengan orang lain. Pengertian akhlak, watak dan kepribadian memang sering ditukar-tukar dalam penggunaannya. Oleh karena itu, tidak heran jika dalam penggunaan seseorang terkadang tertukar menyebutkan

akhlak, watak atau kepribadian. Hal ini karena ketiga istilah ini memang memiliki kesamaan yakni sesuatu asli yang ada dalam diri individu seseorang yang cenderung menetap secara permanen.

Dalam dokumen pengaruh keharmonisan keluarga terhadap (Halaman 68-84)

Dokumen terkait