• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ancangan

Dalam dokumen MEMBACA [JAWA] - Spada UNS (Halaman 50-66)

GEOMANCY DALAM KONFLIK TRADISI DAN MODERN

2. Ancangan

Sebelum melanjutkan pembicaraan tentang Primbon Jawa, ada baiknya di sini sejenak disoroti hasil kerja dari Michael Parker Pearson dan Colin Richards (1997) dalam buku yang mereka sunting “Architecture & Order : Approaches to Social Space”. Kedua penulis itu telah dengan baik menunjukkan sejumlah ancangan dalam kajian yang menggelarkan adanya perbedaan-perbedaan antara yang modern dengan yang tan- modern. Di sini dihimpunnya berbagai pendapat dan pemikiran yang pada pokoknya menyatakan bahwa perbedaan yang terjadi adalah sebuah kondisi logis dari adanya perubahan dan perkembangan, baik itu berkaitan dengan pemikiran maupun dengan keadaan eksternaliii. Melalui kerja Pearson dan Richards ini dapat dengan mudah dikenali bahwa ihwal Primbon Jawa dan Geomansi seumumnya itu adalah sebuah babak

perkembangan yang posisinya adalah sebelum babakan masa kini. Meskipun telah banyak yang mengetahui hal ini, namun rasanya tak banyak yang mengenal dan memahami konsekuensinya. Memperlakukan penalaran modern terhadap

petungan/primbon adalah salah satu dari konsekuensi itu. konsekuensi lain yang muncul adalah sebagaimana tersaji berikut ini.

Berhadapan dengan keadaan yang berbeda dari kelaziman yang telah terpatri itu, adakah kesempatan dan peluang untuk membedah dan menyingkap ‘misteri’ dari

Primbon itu? jangankan mempertanyakan kemungkinan Primbon sebagai sebuah format aturan / peraturan bangunan; menempatkan Primbon sebagai sebuah kajian untuk arsitektur Jawa saja enggan dilakukan. Keengganan ini nampaknya banyak disebabkan oleh muncul dari terpatrinya pemikiran lain terhadap Primbon ini, seperti ‘primbon itu klenik’. Mengapa pemikiran seperti ini muncul? Diduga keras pemikiran seperti ini muncul karena dalam melakukan pengenalan, pengkajian dan pemahaman atas arsitektur Nusantara telah dan banyak dikuasai oleh pendekatan antropologi dan etnografi yang disusun oleh para ahli Belanda dari masa sebagai kemerdekaan. Bahan-bahan ini semakin diperkaya oleh pemikir dan penulis semenjak masa kemerdekaan. Salah satu yang dapat dimunculkan di sini adalah kerja antropolgi-agama dari Geertz dan Rahmat Subagya, yang masing-masing memberi sorotan khusus atas Primbon. Primbon, menurut mreka, adalah bentuk dari sistem kepercayaan dari masyarakat Jawaiv. Cukup banyak tanda- tanda yang menunjukkan bahwa penggarapan terhadap arsitektur Nusantara dapat didekati dan diancang dari antropologi dan etnografi bukanlah langkah yang keliru, tetapi akan keliru kalau menganggap dan memperlakukan antropologi dan / atau

etnografi itu sebagai arsitektur, demikian pula sebaliknyav. Yang patut disayangkan nampaknya belum ada yang tergerak untuk melakukan penggarapan atas arsitektur modern dengan ancangan antropologik / etnologik, sehingga belum bisa dilakukan pembandingan antara arsitektur moden dan arsitektur Nusantara. Sementara itu, penggarapan atas arsitektur Nusantara dengan menggunakan arsitektur modern juga belum menarik perhatian. Muara dari keadaan terakhir ini adalah tersisihnya Primbon dari percaturan arsitektur, dan semakin tajamnya konflik antara tradisi dan modernitas.

Segenap gelaran di atas disajikan di sini sebagai latar belakang dari hadirnya konflik antara tradisi dan modernitas. Selanjutnya, akan dicoba untuk digelarkan beberapa butir penjajahan atas Primbon Jawa, yang dalam hal ini dibatasi pada hal-ihwal yang berkaitan langsung dengan bangunan dan arsitektur. Penggelaran ini tidak diarahkan untuk membeberkan konflik-konflik itu sendiri, tetapi lebih diarahkan untuk menegaskan bahwa sebenarnya konflik itu tidak perlu terjadi.

Mempertanyakan Keberadaan Konflik 1.

Memang tidak mudah untuk meletakkan Petungan sebagai data bagi penjelajahan akademik arsitektur. Bahasa Jawa yang digunakan untuk menyampaikan materi-materi, misalnya telah menjadi tembok penghalang paling depanvi. Walaupun ada yang bisa berbahasa Jawa, tetapi belum tentu penguasaan atas Primbon dapat dijamin, sebab disana-sini masih dimunculkan kata-kata yang lebih tua, sehingga diperlukan kamus yang lebih khusus. Sangat disayangkan bahwa mereka yang cukup menguasai bahasa Jawa

kurang berminat, sementara yang kurang menguasai justru berminat besar untuk mendalami ihwal bangunan dan arsitektur Jawa. Kelompok yang terakhir ini, terpaksa tidak menyertakan Primbon dan Petungan sebagai data kajian dan cukup puas dengan data yang muncul dari hasil kajian ahli-ahlivii. Data sekunder telah menjadi data primer, sedangkan data primer ditiadakan.

Bila penguasaan terhadap bahasa Jawa tidak menjadi penghalang, tidak berarti kesempatan untuk menjelajahi Primbon dan Petungan dapat berjalan lancar. Diduga kuat bahwa penulisan yang terdapat dalam primbon adalah bagaikan pita perekam. Yang ditulisakan dalam primbon adalah sebagaimana disampaikan atau diucapkan oleh pakar Jawa di bidang Primbon tadi ( para dukun atau wong tuwa ). Serat Centhini dapat dimunculkan sebagai contoh nyata atas hal itu, meskipun naskah itu tersajikan dalam format tembang.

Satu contoh dari format sajian Primbon dapat diberikan di sini : Jarak dedeging saka

Mungguh dedeging saka kang katon, iya iku kajabaning purus ing dhuwur lan pendem ing ngisor, tinepus nganggo astane dewe, iya iku wiwit pucuking deriji panunggul nganti tumeka ing sikut, ana pirang asta, dene jarake ana papat iyo iku : 1. Suku; 2. Waktu; 3. Gajah; 4. Buta

Yen panjarake tiba jarak angka : 1. Suku, iku kanggo sakaning pawon;

2. Waktu, iku kanggo sakaning lumbung utowo masjid;

3. Gajah, iku kanggo sakaning omah utawa pandapa;

4. Buta, iku kanggo sakaning pajaksan utawa pakunjaran (primbon Djawa – Pandita Sabda Nata (1976);h.21)

Bagaimanakah pemahaman yang dapat diambil dari pokok materi tentang ‘jarak dedeging saka’ – panjang tiang – itu? Apakah itu menunjuk pada jarak antar tiang ataukah

menunjuk pada panjang dari tiang? Pertanyaan yang kedua bisa dimunculkan karena kalimat pertama berbunyi ‘mungguh dedeging saka kang katon…’, yakni ‘adapun tinggi tiang yang kelihatan….’. Lalu, bagaimana bentuk pemahaman dari kalimat kedua yang

berbunyi : ‘yen panjarake tiba jarak angka 1. Suku, iku kangga sakaning pawon’? Meski kaliman ini di-Indonesia-kan bebas menjadi : ‘kalau pengukurannya jatuh pada jarak angka 1-Suku, itu adalah untuk dapur’, kalimat ini masih tidak dengan langsung membuat kita berkata : “kalau demikian, untuk dapur ukurannya adalah ….”

Ihwal kalimat kedua seperti contoh di atas masih tidak sesulit upaya pemahaman atas kalimat yang berbunyi : ‘yen dedege saka tiba petungan pecak 1. Saka, watake kukuh’

(loc.cit), di mana peng-Indonesia-annya kurang lebih menjadi : ‘bila tinggi tiang jatuh pada hitungan pecak 1-saka, wataknya kokoh’. Format penyajiannya st ini tentu sulit dimengerti dengan mengkaji tulisan-tulisan dalam buku pelajaran dan pengetahuan.

Bersyukurlah bahwa melalui pemanfaatan cara kerja para strukturalis, upaya

pemahaman itu telah berhasil dilakukan. Prijotomo (1985) telah menunjukkan bahwa penyajian dari petungan itu ternyata dipahami dengan menggunakan model semiologi dari Hjelmslev. Melalui pemahaman ini pula dapat diketahui bahwa petungan-petungan dalam Primbon menunjukkan ciri-ciri pengaplikasian sebagai berikut :

a. Petungan-petungan dalam primbon dapat dikelompokkan ke dalam petungan yang hanya menunjuk pada perhitungan ( misal : 2-Kitri – untuk pendapa );

dan yang menunjuk pada pertimbangan dan perhitungan (misal: 1-Saka- wataknya kukuh).

b. Masing-masing pasal dari petungan menunjuk pada perhitungan /

pertimbangan terhadap satu unsur bangunan dan / atau tapak dan lokasinyaviii. Dengan demikian, penggunaan petungan dalam primbon untuk menggarap sebuah bangunan yang utuh dan lengkap menuntut perangkaian atas segenap bagian / pasal yang berkenaan dengan terbentuknya bangunan tersebut.

2.

Sehubungan dengan pembangunan rumah, setiap penghitungan yang dilakukan selalu dilakukan dengan maksud-maksud tertentu. Salah satu maksud yang sangat jelas adalah demi kepentingan pemilik dan keluarga rumah itu sendiri. Sementara itu, setiap rumah atau bangunan yang didirikan, akan dengan serta merta merupakan bagian dari lingkungan di mana bangunan tadi di dirikan. Bila pemilik memiliki kesadaran atas hal ini, maka dia juga memberikan perhatian pada lingkungan tadi. Bentuk perhatian ini bisa berupa penyesuaian bangunan dengan lingkungan; menjadikan unsur-unsur lingkungan yang mempengaruhi upaya penghadiran bangunan; malahan bisa pula perhatian terhadap masyarakat yang tinggal di lingkungan tadi. Oleh karena itu, bila ditinjau dari segi

manusia sebagai pokok tujuan penghitungan, dapat dilihat bahwa ada kemungkinan- kemungkinan bahwa petungan ‘ditujukan’ bagi :

a. kepentingan dengan pemilik dan keluarganya (=intern keluarga);

b. kepentingan dengan sanak keluarga dari pemilik;

c. kepentingan dengan keterkaitan pada masyarakat disekitarnya.

Pengamatan terhadap petungan dalam primbon menunjukkan bahwa ketiga tujuan penghitungan diatas dijadikan tujuan dari setiap penghitungan, baik secara terpisah / sebagian maupun secara keseluruhan.

Sementara itu, dalam petungan, sama sekali tidak ada larangan untuk

menggunakan sesuatu ukuran. Bahkan ukuran yang watak atau artinya menunjuk pda malapetaka atau kerugian yang sangat fatal, tidak ditegaskan oleh Petungan sebagai dilarang digunakan. Kalau memang demikian halnya, boleh saja menggunakan ukuran yang art / wataknya mencelakakan. Persoalannya memang, seandainya kita masing- masing adalah pemakai ukuran itu, siapakah diri kita untuk menanggung resiko yang demikian merugikan itu? Logika gampang tentu akan mengatakan “tidak!” Jadi, meskipun tidak ada larangan, adalah pertimbangan individual kita masing-masing yang menjadikan ukuran tadi tidak digunakan. Sesampai di sini. Petungan sebagai aturan atau peraturan itu, tidak dimunculkan sebagai sebuah pernyataan yang mengatakan “ini boleh dipakai, itu dilarang dipakai”. Boleh dan tidaknya dikembalikan sepenuhnya pada

pemakai, tetapi seperti kodrat manusia seumumnya, siapakah orang yang ingin celaka?

Ini berarti bahwa Petungan adalah hanya anjuran atau saran. Peraturan bangunan tidak disajikan sebagai boleh dan dilarang, tetapi sebagai sebuah kesempatan psikologis yang bisa dipilih. Pengamatan ini telah membuat Prijotomo (1995) untuk menengarai adanya dua kategori petungan, yakni petungan yang bercorak justificatory dan yang bercorak decisive.

3.

Kesulitan dan sekaligus hambatan bagi usaha mengkaji primbon diperberat lagi dengan kenyataan bahwa Primbon yang beraneka-ragam itu praktis tidak menyajikan yang lengkap mengenai pengetahuan bangunan Jawa. Yang nampaknya selalu dimunculkan dalam primbon adalah urusan mengenai kegiatan mendirikan, memperbaiki atau memindah rumah / bangunan. Sejauh Primbon yang berhasil dihimpun, hanyalah Primbon Jawa Pandita Sabda Nata. Dan, berbicara tentang

banyaknya Primbon yang pernah membanjiri di toko buku hingga pertengahan 1980-an, ternyata untuk pokok materi yang sama tergelarlah uraian yang berbeda-beda. Tabel berikut mencoba untuk menggambarkan perbedaan antar Primbon yang ada

Centhini I SN SP+JM BA Centhini III+Kalang

1. Esri- Lumbung Sri-Lumbung Emas-Omah-mburi Sri-Omah-mburi Sri(=Esri)-Omah-mburi 2. Adi- Palesungan Kardi-Palesungan Salaka-Pandapa Kitri-Padapa Kitri – Pandapa

3. Gana-Pawon Gana-Pawon Gana-Pawon Gana-Pawon Gana-Pawon 4. Emas-Omah-mburi Emas-Omah-mburi Kardi-Lesung Liyu-Regol Liyu(=Kaliyu)-Regol 5. Perak-Pandapa Perak-Pandapa Esri-Lumbung Pokah-Lumbung Pokah-Lumbung

Keterangan : SN = Primbon Sabda Nata; SP = Primbon Sabda Pandita; JM = Primbon Jawa Makara; BA

= Primbon Betaljemur Adammakna; Kalang = Kawruh Kalang.

Tabel 1 : Sebutan dan Peruntukkan ukuran pada berbagai Sumber (sebutan dan ukuran panjang lebar bangunan dengan satuan ukuran pecak) Bila berbeda-beda isinya, bagaimana sebuah perampatan (generalisasi) dapat dilakukan?

Kalau memang berbeda-beda, Primbon mana yang paling bisa diandalkan?

Pertanyaan yang berbeda ternyata bisa memberikan petunjuk akan adanya perbedaan-perbedaan itu. Kalau pertanyaan itu diluncurkan menjadi “mengapa ada perbedaan-perbedaan?” maka Serat Centhini I dan III serta Primbon Betaljemur dapat dimanfaatkan untuk dijadikan petunjuk jalan bagi jawabannya. Dalam Serat Centhini I dikatakan bahwa sebutan dan peruntukkan itu disampaikan oleh seorang guru yang bermukim di kawasan Gunung Muria; sementara itu, dalam Serat Centhini III yang menyampaikan adalah seorang guru di kawasan Pranaraga. Primbon Betaljemur

Adammakna sendiri, dengan tegas mengatakan bahwa dia adalah primbon yang berasal dari Yogyakarta. Melalui petunjuk-petunjuk itu dapatlah kini dibuat dugaan bahwa perbedaan-perbedaan itu memang terjadi karena adanya daerah pemakai petungan itu juga berbeda. Ringkasnya, daerah-daerah memiliki kesempatan dan kemungkinan untuk membuat versinya masing-masing. Bila jawab seperti ini yang diperoleh, masihkah gayut (relevant) untuk mempertanyakan perampatan itu?

4.

Dalam Petungan : sistem Ukuran Arsitektur Jawa, Prijotomo (1995) telah

mencoba untuk memantapkan patokan pengukuran dan penghitungan yang digelar oleh petungan-petungan di Primbon Jawaix. Patokan itu dia tuliskan sebagai y=5n+p, dimana y adalah besar dari ukuran akhir yang didapatkan; n adalah sebarang satuan bilangan yang digunakan untuk memperkalikan satuan kelipatan ukuran ( bisa saja bilangan ini menjadi 3, 4 atau 6); dan p adalah harga / bilangan yang memiliki sebutan dan perwatakan / peruntukkan yang tertentu. Jadi bila n = 4 dan p = 1, maka panjang y adalah (5x4)+1 = 21. Tinjauan berikut ini secara khusus akan menyoroti ihwal p dari

patokan tadi. Sebutan-sebutan yang termuat dalam setiap harga p dapat saja dipergunakan bagi macam penghitungan atau pengukuran yang berbeda, seperti misalnya sebutan Sri, Kitri, Gana, Liyu, Pokah tak hanya dipakai untuk melakukan pengukuran panjang-lebar bangunan, tetapi juga dipakai untuk menghitung jumlah usuk bangunan. Sementara itu, bisa saja terjadi sebutan yang sama tetapi penulisannya

berbeda seperti Sri dengan Esri, atau sebutannya sinonim, seperti Prawata dengan sinonimnya yakni Gunung atau Salaka dengan sinonimnya adalah Perak. Jadi, memang dapat dikatakan bahwa dalam masyarakat Jawa penghafalan atas sebutan masih lebih dianjurkan daripada penghafalan atas besarnya bilangan dari p itu.

Segenap penghitungan dan pengukuran yang telah dilakukan dapat ditabulaksikan dalam perbandingan antar naskah sebagaimana tersajikan dalam tabel-tabel berikut ini :

Centhini I Sabda Nata Sabda Pandita Jawa-Makara

Panjang tiang (pecak)

Bumi-teteg Banyu-serepan Prawata-alihan Sangkala-geringen Geni-kabasmaran

Bumi-tetep Banyu-serepan Gunung-ngalihan Sengkala-gering Geni-kobongan

Bumi-tetep Banyu-serepan Gunung-ngalihan Sengkala-gering Geni-kobongan

Bumi-tetep Banyu-serepan Gunung-ngalihan Sengkala-gering Geni-kobongan Tabel 2 : Sebutan dan Ukuran tiang bagi berbagai Peruntukkan

Sebutan CenthiniI Sabda-Nata(a) Sabda-Nata(b) Sabda-Padita Jawa-Makara Betaljemu r Usuk-

kayu (jumlah )

Sri Kitri Gana Liyu Pokah

Omah-mburi Pandapa Masjid (jelek) (jelek)

Omah-mburi Pandapa Masjid Regol Pawon

Omah-mburi Pandapa Masjid Regol Dapur

Omah-mburi Pandapa Masjid Regol Pawon

Pandapa Omah-mburi Lumbung Regol Pawon

Baik Baik Sedang Jelek Jelek

Tabel 3 : Perbandingan Unsur Penghitungan pada Sumber-Sumber

Sumber /

naskah Unsur hitung/

ukur bangunan Omah-

mburi Pandapa Palesungan Lumbung Pawon /

Gandhok Regol Masjid

Semua menggunakan 5n+1 atau 5n+2 Centhini I Panjang &lebar

Tinggi tiang

usuk

5n+4

5n+1

5n+5

5n+2

5n+2

-

5n+1

-

5n+3

-

- - -

- -

Semua menggunakan 5n+1 atau 5n+2

5n+3 Primbon

SP Panjang &lebar Tinggi tiang

Usuk

5n+1

5n+1

5n+2

5n+2

5n+4

-

5n+5

-

5n+3

5n+5

- - 5n+4

Semua menggunakan 5n+1 atau 5n+2

- - 5n+3 Primbon

JM Panjang &lebar Tinggi tiang

Usuk

5n+1

5n+1

5n+2

5n+2

5n+4

-

5n+1

-

5n+3

5n+5

-

Semua menggunakan 5n+1 atau 5n+2

- 5n+4

- - - Primbon

SN (a) Panjang &lebar Tinggi tiang

Usuk

5n+4

5n+2

5n+5

5n+1

5n+2

-

5n+1

5n+3

5n+3

5n+3

- - -

- - - Centhini

III Panjang &lebar 5n+1 5n+2 - 5n+5 5n+3 5n+4 -

Primbon

SN (b) Usuk 5n+1 5n+2 - - - - 5n+3

Primbon

BA Panjang&lebar 5n+1 5n+2 - 5n+5 5n+3 5n+4 -

Usuk

Tabel 4 : Patokan bagi Peruntukan Bang menurut Sumber

Semua menggunakan 5n+1,5n+2 atau 5n+3

Dalam menyelenggarakan penghitungan atau pengukuran, patokan umum yang berlaku menunjukkan pada kegiatan pengurangan sebesar bilangan tertentu dari sebuah ukuran panjang atau jumlah. Setelah pengurangan itu diberlakukan terdapatlah sisa dari panjang atau jumlah tersebut. Contoh berikut ini disajikan kembali untuk memberikan gambaran atas hal tersebut.

58. Penghitungan Besarnya Rumah

Ini adalah perhitungan untuk mendapatkan panjang-lebarnya bangunan, diukur dengan menggunakan pecaknya [pecak= panjang dari tumit hingga ujung jari kaki – pen] sendiri, lima demi lima menurut Esri, Kardi, Gana, Emas, Salaka.

1. Bila Omah, arahkan pada hitungan Emas;

2. Bila Pandapa, arahkan pada hitungan Salaka;

3. Bila Pawon, arahkan pada hitungan Gana;

4. Bila Lesung, arahkan pada hitungan, Kardi;

5. Bila Lumbung, arahkan pada hitungan, Esri.

(Primbon Sabda Pandita (t.t.) h.81)

Mengenal p, keadaannya berbeda dari ciri-ciri dari n. Dari contoh primbon di atas, p itu berkaitan langsung dengan jenis bangunan yang dirujuk, yakni :

p=1 sebutannya : Emas untuk jenis bangunan : Omah p=2 sebutannya : Salaka untuk jenis bangunan : Pandapa p=3 sebutannya: Gana untuk jenis bangunan : Pawon p=4 sebutannya : Kardi untuk jenis bangunan : Lesung p=5 sebutannya: Esri untuk jenis bangunan : Lumbung

Dari daftar di atas jelas bahwa setiap bilangan yang diberikan pada p akan dengan langsung menunjuk pada sebuah jenis tertentu, dan sama sekali tak terlihat tanda-tanda perunjukkan pada tipe yang tertentu, dan samasekali tak terlihat tanda-tanda penunjukan pada tipe yang tertentu. Memang, dalam banyak kelaziman dan kesepakatan (convention) tradisi arsitektur Jawa menyebutkan bahwa jenis bangunan tertentu dapat memiliki tipe bangunan yang tertentu, sehingga tipe Masjid / tajug adalah bagi bangunan peribadahan atau yang disucikan / sakral; tipe Joglo adalah bagi pendapa; tipe Limasan adalah bagi omah(-mburi); dan tipe Kampung adalah untuk jenis-jenis bangunan lainnya, termasuk

dapat pula untuk jenis bangunan omah(-mburi). Bahwa pengkaitan antara tipe dan jenis itu sepenuhnya adalah kelaziman dapat ditunjukkan lewat kutipan berikut ini :

“Menggah petanganing oekoeran ingkang makaten waoe boten wawaton saking dhapoer, wawaton saking kangge oetawi perloenipun, kadosta : sanadjan dhapoer limasan, ingkang limrah oetawi manggenipoen pantjen dipoen angge griya wingking, ewadene menawi dipoen ange pandapa inggih kedah kadhawahaken kitri; sanadjan dhapoer joglo ingkang limprah oetawi mangganipoen dipoen angge pandapa, mangka dipoen angge gandhok inggih kedah

kadhawahaken gana…. (Kawroeh Kalang Mangoendarma (1906) h.22)

[mengenai ukuran yang seperti tersebut diatas 5n+p – pen.)tidaklah didasarkan pada dapur (tipe –pen.)bangunan, tetapi didasarkan pada peruntukkannya, seperti misalnya : meskipun tipe Limasan itu lazimnya adalah untuk omah-mburi, akan tetapi bila tipe ini untuk pendapa maka ukurannya harus dijatuhkan pada hitungan kitri; atau, walaupun dapur joglo itu lazimnya untuk pendapa, padahal dipakai untuk membentuk gandhok, maka dijatuhkan pada hitungan gana…]

Kutipan tadi jelas menegaskan bahwa bilangan p itu harus tepat benar dengan penggunaan jenis bangunan, sedangkan tipe bangunan dapat saja berbeda dari kelaziman.

Penutup pakah masih harus ada konflik antara tradisi dan modernitas? Uraian di depan telah memperlihatkan bahwa potensi konflik antara tradisi dan modernitas itu dapat ditiadakan, atau sekurang-kurangnya dipersempit. Masih banyak yang harus dikerjakan sebelum pengetahuan tentang arsitektur Nusantara pada khususnya, pada arsitektur tan-barat seumumnya, menjadi ‘tuan rumah’ di negeri

arsitektur masing-masing. Kehadiran konflik tidak perlu menjadi sumber bagi penolakan yang satu dan penerimaan yang lain, tetapi justru dijadikan motor penggerak bagi

rekonsiliasi antara pihak-pihak yang mengalami konflik tadi. Penjelajahan atas arsitektur Nusantara, pada akhirnya, akan memberikan buah yang sangat berharga: merupakan sumbangan bagi jagad arsitektur seumumnya.

A

Kepustakaan

• Departemen Pekerjaan Umum (1984) : Peraturan Bangunan Nasional;

Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan; Bandung; cetakan ke 6

• Egenter, Nold (1992) : Architectural Anthropology 1;Structura Mundi;

Lausanne

• Koentjaraningrat (1984) : Kebudayaan Jawa; Balai Pustaka; Jakarta

• Pearson, Michael Parker&Colin Richards (eds.)(1997) : Architecture&Order : Approaches to Social Space; Routledge; London

• Prijotomo, Josef (1995) : Petungan : Sistem Ukuran dalam Arsitektur Jawa; Gadjah Mada University Press; Yogyakarta

• Subagya, Rahmat (1981): Agama Asli Indonesia; Sinar Harapan; Jakarta

• Suseno, Franz Magnis (1984) : Etika Jawa; Gramedia; Jakarta

• Bermacam-macam Primbon Jawa yang berhasil dihimpun ( sebanyak 9 versi)

Keterangan :

i Disiapkan untuk SEMINAR GEOMANCY SEBAGAI PENDEKATAN ARSITEKTUR;

Semarang, 11 Desember 1997. Penyelenggara : Jurusan Arsitektur Fakultas Tenik Unika Soegijapranata, Semarang

ii untuk selanjutnya, penulisan Peraturan Bangunan Nasional ini disingkat menjadi PBN.

iii Bab I : Ordering the Word : Perceptions of Architecture, Space and Time; dan Bab II : Architecture and Order : Spatial

Representation and Archeology, secara khusus menggelar uraian perbedaan-perbedaan itu. Michael Parker Pearson & Colin Richards (eds. ) ( 1997) : Architecture & Order : Approaches to Social Space;

Routledge; London; h. 1-72.

iv Mengenai Geertz (1966), dapat dibaca dalam Religion of Java; dan mengenai Rahmat Subagya (1979) dapat dibaca dalam Agama Asli

Indonesia. Tentu, masih bisa dimunculkan sederetan nama dan karyanya

seperti Koentjaraningrat (1984) dengan Kebudayaan Jawa, yang

merupakan garapan etnografi, atau Franz Magnis Suseno (1984) dengan Etika Jawa, yang merupakan garapan etika.

v Nold Egenter misalnya, dengan jelas dan tegas menunjukkan beda antara ancangan antropologik terhadap arsitektur dengan antrologi- arsitektur. Nold Egenter (1992): Architectural Anthropology 1;

Structura Mundi; Laussane.

vi Sebenarnya keadaan sekarang sudah lebih menguntungkan di banding dengan awal abad 20, dimana primbon dan petungan masih ditulis dengan huruf Jawa. Bersyukur bahwa Primbon Betaljemur Adammakna telah diindonesiakan dan telah diperkenalkan di internet.

vii Desertasi Gunawan Tjahjono (1988) dan tesis Revianto (1996) adalah contoh jelas bagi keadaan ini.

viii Pada pencirian ini, kesamaan dengan Peraturan Bangunan Nasional tak perlu diragukan lagi. Maksudnya Peraturan Bangunan Nasional juga mengisi pasal-pasalnya dengan (per)aturan atas bagian-bagian

bangunan.

ix Lihat Josef Prijotomo (1995) : Petungan : sistem Ukuran dalam Arsitektur Jawa; Gadjah Mada University Press; Yogyakarta.

SUASANA PSIKOLOGIKAL

Dalam dokumen MEMBACA [JAWA] - Spada UNS (Halaman 50-66)