• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARSITEKTUR JAWA SEBAGAI KAWASAN PENELITIAN i

Dalam dokumen MEMBACA [JAWA] - Spada UNS (Halaman 32-44)

Sinopsis

Disampaikan wawasan yang umum dan khusus mengenai

“Arsitektur Jawa”, baik sebagai sebuah wilayah penelitian maupun sebagai wilayah pengetahuan. Dengan wawasan ini diharapkan dapat digambarkan kawasan penelitian yang dapat dijalankan di bawah atribut “Arsitektur Jawa”.

Pengantar rsitektur Jawa dan kebudayaan serta tradisi Jawa seakan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Pandangan yang telah mentradisi ini jelas bukanlah pandangan yang keliru; tetapi sebaiknya sudah kita letakkan sebagai salah satu dari berbagai pandangan yang berkenaan dengan arsitektur Jawa. Khususnya arsitektur Jawa itu diletakkan sebagai sebuah wilayah penelitian. Saya mengatakan adanya

pandangan yang telah mentradisi, tentunya diperlukan kejelasan (clarification) akan hal itu.

Selanjutnya, kalau dikatakan pula sebagai salah satu pandangan, tentunya diperlukan kejelasan pandangan-pandangang lain yang dapat diberlakukan bagi arsitektur Jawa sebagai wilayah penelitan dan juga sebagai wilayah pengetahuan. Kertas kerja ini mencoba untuk menggelar keberadaan arsitektur Jawa yang diletakkan sebagai sebuah wilayah penelitian dan pengetahuan, sedemikian rupa sehingga diharapkan mampu memberikan wawasan bagi kita semua akan ada yang sudah , yang belum maupun yang belum tuntas atas pengkajiaan dan pemahaman terhadap dan tentang arsitektur Jawa.

A

Teori Arsitektur (Jawa) rsitektur Jawa niscaya dapat dibangun sebagai sebuah pengetahuan arsitektur. Keniscayaan ini dapat disampaikan di sini karena pada

pengetahuan arsitektur seumumnya, kita telah diberi petunjuk-petunjuk yang cukup jelas dan tegas, sebagaimana pernah disampaikan oleh Dr.Ir. Iwan Sudrajat (1999). Walaupun penyampaian dari Iwan Sudrajat itu dibatasi dalam kawasan teori arsitektur, namun kiranya kita bisa memperluasnya menjadi petunjuk yang berlaku bagi kawasan arsitektur

A

sebagai sebuah pengetahuan. dalam kertas kerjanya yang berjudul “Membangun Sistem Teori Arsitektur Nusantara : Mengubah Angan-Angan menjadi Kenyataan” disampaikan tiga macam teori(-) arsitektur yakni Theory in Architecture, Theory of Architecture serta Theory about Architecture (h. I – 87 ). Pengenalan atas tiga kelompok teori itu dilakukan oleh Iwan Sudrajat berdasarkan pada permasalahan yang ditangani oleh teori-teori tadi.

- Theory in Architecture, menurut Iwan Sudrajat :

• “Kebanyakan teori arsitektur tergolong ke dalam kelompok ini.

Theory in Architecture umumnya mengamati aspek-aspek formal, tektonik, struktural, representasional dan prinsip-prinsip estetik yang melandasi gubahan arsitektur, serta berusaha merumuskan dan mendefinisikan prinsip-prinsip teoritis dan praktis yang penting bagi penciptaan desain bangunan yang baik. Teori yang tergolong dalam kelompok ini cenderung bersifat superfisial, deskriptif dan

preskriptif, kurang dilandasi oleh interpretasi dan pemahaman kritis dan mendalam”

- Mengenai Theory of Architecture, Iwan Sudrajat menuliskan :

• “Teori yang tergolong ke dalam kelompok ini berusaha untuk menjelaskan bagaimana para arsitek mengembangkan prinsip-prinsip dan menggunakan pengetahuan, teknik dan sumber-sumber dalam proses desain dan produksi bangunan. Isu pokok di sini bukanlah prinsip-prinsip umum yang memandu desain, tetapi bagaimana dan mengapa arsitek mendesain, menggunakan media dan bertindak;

serta mengapa di antara mereka bisa terjadi keragaman historis maupun budaya”.

- Sedangkan tentang Theory about Architecture, diterangkan dengan ringkas sebagai berikut :

• “Teori yang tergolong dalam kelompok ini bertujuan menjelaskan makna dan pengaruh arsitektur, mendudukkan arsitektur dalam konteks sosial budayanya, memerikan bagaimana arsitektur bekerja sebagai produser budaya atau memahami bagaimana arsitektur digunakan dan diterima oleh masyarakat. Dengan kata lain, teori ini berusaha menjelaskan bagaimana arsitektur berfungsi, dipahami dan diproduksi secara sosial dan budaya”.

Dengan keterangan dari Iwan Sudrajat itu kita mengetahui bahwa sekurangnya ada tiga kelompok besar permasalahan yang masing-masing menunjuk pada arsitektur sebagai sebuah obyek di dalam lingkungannya; proses berarsitektur yang dilakkukan oleh para arsitek,d an dengan demikian dapat pula dikatakan sebagai seluk beluk persoalan perancangan arsitektur. Di kelompok ketiga kita bergelut dengan ihwal makna dan pengaruh arsitektur di dalam dan terhadap lingkungan sosial budaya masyarakatnya.

Dengan mengesampingkan posisi pengelompokan itu sebagai pengelompokan teori; dan menggantinya menjadi pengelompokan atas permasalahan umum dunia arsitektur, nampaknya sudah cukup memadai bagi kita bersama untuk mengatakan bahwa ketiganya adalah juga kelengkapan (minima ) pengetahuan (tentang ) arsitektur. Dengan demikian, tidak pula berlebihan bila kita juga mengatakan bahwa ketiga kelompok itu semestinya berlaku pula bagi keberadaan arsitektur Jawa sebagai sebuah pengetahuan (tentang) arsitektur. Bila kelengkapan pengetahuan itu belum tersedia di arsitektur Jawa, di situlah terbentang lapangan bagi peneliti-peneliti. Melalui proses pengetahuan – penelitan –

pengetahuan maka bukan saja budaya atau tradisi meneliti menjadi subur, tetapi pengetahuan juga semakin diperkaya, diperluas dan dipertajam.

Arsitektur Jawa, Budaya dan Tradisi ekaguman dan kebanggaan atas budaya dan tradisi Jawa dapat saja dikatakan sebagai latar belakang yang cukup kuat bagi pandangan yang selama ini masih cukup kuat bertahan di wilayah pengetahuan kita tentang arsitektur Jawa pada khususnya, arsitektur Nusantara pada umumnya. Dalam pandangan ini, dipercaya bhwa budaya dan tradisi tidak saja menjadi latar belakang namun sekaligus ditingkatkan menjadi sumber dan gagasan pokok bagi keberadaan dan kehadiran arsitektur Jawa. Sering dikatakan “arsitektur [Jawa] adalah cermin kebudayaan [dan tradisi Jawa]”, sebuah pernyataan yang menunjukkan di mana posisi kebudayaan dan tradisi di dalam jagad arsitektur [Jawa]. Walaupun secara lebih khusus dan mendalam hal ini akan diuraikan oleh Ir. I Nyoman Gelebet, namun beberapa hal yang dalam

pandangan saya cukup penting untuk diperhatikan, akan saya sampaikan dalam kesempatan ini.

K

(a) Arsitektur sebagai cermin budaya dan tradisi

Arsitektur menjadi salah satu (obyek) kasus bagi kepentingan teori dan

pandangan di dalam ilmu kebudayaan. Meski pada dasarnya pandangan seperti ini – tidak – untuk memproduksi arsitektur, tetapi dalam prakteknya, sering dianggap pandangn ini mampu untuk digunakan untuk memproduksi arsitektur.

(b) Arsitektur Jawa sebagai rekaman budaya dan tradisi

Disini, pandangan yang digunakan adalah “Arsitektur itu bagaikan sebuah bahasa”.

Di sini arsitektur dipandang bagaikan sebuah karangan / tulisan. Untuk itu, kemampuan untuk membaca hanya akan muncul manakala kita sudah bisa menguasai huruf, kata dan kosakata serta tatabahasa sebagai prasyarat bagi terbitnya kemampuan membaca. Dari membaca diperoleh kemampuan untuk mengerti isi, makna dan maksud dari bacaan itu. Dalam arsitektur, sudah barang tentu tersedia seperangkat prasyarat bagi kemampuan untuk membaca arsitektur.

Melalui pembacaan terhadap arsitektur itulah isi, makna serta maksud dari kebudayaan dan tradisi dapat diungkapkan. (Masalahnya memang, bisa jadi kita di dunia arsitektur tidak mengenal siapakah yang dimaksud dengan huruf, kata dan tatabahasa arsitektur ).

Meskipun keduanya memperlihatkan perbedaan yang cukup besar, namun bila dikembalikan pada kelompok pengetahuan arsitektur akan terlihat bahwa ihwal ( a ) lebih menunjuk pada kelompok pengetahuan dengan prioritas pada pengetahuan ‘about architecture’. Sebaliknya ihwal ( b ) akan memprioritaskan pada pengetahuan ‘in architecture’.

Dengan kata lain, ihwal ( a ) mampu membangun pengetahuan arsitektur dengan skala prioritas : ‘about architecture’, diikuti oleh ‘in architecture’ dan diakhiri dengan ‘of architecture’.

Sementara itu, ihwal ( b ) akan menurunkan skala prioritas sebagai berikut : ‘in architecture’, diikuti oleh ‘about architecture’ dan diakhiri dengan ‘about architecture’.

Perspektif Pengetahuan Arsitektur Jawa

Arsitektur Jawa dari / dalam pandangan Jawa

Dinamika internal masyarakat Jawa menjadi isyu pokok dari kajian seperti ini.

Berbagai kajian yang pada ujung-ujungnya menunjuk pada “arsitektur (Jawa) adalah (pen)cermin(an) dari kebudayaan Jawa” dapat dikelompokkan di sini. Karena di sini kita menunjuk pada ‘kebudayaan’ maka ada baiknya kalau hal itu tidak dibatasi hanya dalam kosmologi, adat dan kebiasaan / tradisi, atau sistem kepercayaan. Di sini dapat saja

‘kebudayaan’ itu diperluas sehingga mencakup susastra, seni tari, seni pewayangan dan sebagainya.

Arsitektur Jawa dari / dalam pandangang Nusantara

Menjadi kajian bandingan ( comparative studies ) untuk mendapatkan tipologi dan morfologi arsitektur Nusantara; juga merupakan kajian untuk memperoleh jawab atas masalah dalam arsitektur Jawa, di mana jawab itu diperoleh dari arsitektur Nusantara.

Misalnya konsep ‘api’ sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat tropis, dalam tandingannya dengan peran api dalam masyarakat empat musim.

Arsitektur Jawa dari / dalam pandangan Pengetahuan Arsitektur

Apabila ‘Budaya Jawa’ diganti dengan ‘Pengetahuan Arsitektur’, maka penjelasan atas pengetahuan arsitektur Jawa tidak banyak berbeda. Di sini yang dimaksud dengan

‘Pengetahuan Arsitektur’ adalah beragam dan bermacam cabang dan ranting

pengetahuan yang ada di dalam arsitektur seumumnya, seperti misalnya pengetahuan

tentang sistem struktur, estetika, atau teori dan filsafat arsitektur. Sudah barang tentu dalam perspektif ini dapat dimasukkan pula kesejarahan dan dinamika perkembangan arsitektur Jawa, mulai dari masa purba hingga masa reformasi saat ini.

Pengkayaan Pengetahuan Arsitektur Jawa

Pergaulan Arsitektur Jawa dengan Arsitektur tan-Jawa (a) Mempertanyakan ‘pengaruh’

Adalah kaitan antara arsitektur Jawa dengan arsitektur Toraja? Bagimanakah ke- Jawa-an arsitektur modern? Kedua pertanyaan itu hanyalah sebuah pancingan bagi penjelajahan untuk membangun pengetahuan arsitektur Jawa yang lebih ‘supel’. Apa yang tejradi dalam perjalanan arsitektur Jawa? Tidak terlalu sulit dalam menjawab pertanyaan ini. Melalui ‘sejarah’ arsitektur Jawa kita telah mengetahui bahwa berbagai arsitektur dari luar Jawa telah menjadikan perkembangan arsitektur Jawa semakin lama kaya dan kompleks. Dalam segenap penjelajahan kesejarahan atau (perkembangan arsitektur ) itu, nyaris tak pernah dipersoalkan adanya tidaknya sebuah sosok arsitektur asli Jawa; sebuah sosok yang di saat Hindu dan Budha memperkenalkan diri di Jawa telah menghasilkan perkembangan tertentu di arsitektur Jawa. Selama ini, perkembangan yang terjadi di arsitektur Jawa itu lebih banyak dikatakan sebagai buah dari ‘pengaruh luar’ yang diserap oleh arsitektur Jawa. Dari peninjauan kritis kita, sebaiknya kita bersama mempertanyakan tentang ‘pengaruh’ tersebut. Kalau arsitektur Jawa itu dipengaruhi oleh Hindu dan Budha misalnya, pernahkah kita mempertanyakan bahwa

pernyataan itu memiliki nuansa seakan-akan arsitektur Jawa adalah pihak penerima yang berada dalam kedudukan yang subordinate, sebagai pihak penerima yang harus

menerima? Apakah tidak terdapat kemungkinan di mana justru arsitek(tur) Jawa itulah yang dengan aktif melakukan dialog dengan arsitek(tur) Hindu-Budha, untuk selanjutnya melakukan kombinasi dan pengkayaan diri dengan menyerap arsitek(tur) dari luar Jawa?

(b) Tipologi dan Morpologi Arsitektur Nusantara

Apakah kita sungguh yakin bahwa arsitektur Jawa adalah arsitektur yang mandiri, yang tidak melakukan dialog dengan arsitektur Nusantara lainnya? Kalau wujud

arsitektur Sumba, arsitektur Madura (-Sumenep) dan arsitektur Jawa itu sendiri

dijejerkan satu sama lain, jelas terlihat bahwa keserupaan yang sangat bena / signifikan dari mereka itu adalah keserupaan dari bangun atau sosok atapnya,yang di Jawa dikenal dengan sosok atap Joglo.

Perjalanan Arsitektur Jawa dalam Melintasi Waktu

Dari setiap cabang dan ranting pengetahuan arsitektur serta kebudayaan, pengkajian yang diletakkan dalam kerangka waktu akan membentuk pengkayaan yang tersendiri. Walaupun seringkali di sini kita harus dihadapkan pada ihwal sejarah arsitektur, tetapi dapat saja pengkayaan pengetahuan dengan memperhatikan kerangka waktu membebaskan diri kajiannya dari kungkungan kajian sejarah arsitektur. Sudah barang tentu, perjalanan yang melitas waktu ini bisa dilakukan dalam dinamika internal arsitektur Jawa maupun dinamika eksternal. Dalam dinamika internal di sini pertanyaan pokoknya adalah bagaimana tindakan yang dilakukan oleh arsitektur Jawa dalam

pergaulannya dengan perkembangan masyarakat dan budaya Jawa, maupun pengetahuan

arsitektur Jawa. Di sini kita dihadapkan pada arsitektur Jawa sebagai pihak yang (pro-) aktif di hadapan perkembangan dan lintasan waktu. Dalam dinamika eksternal

pertanyaan pokok adalah apa yang terjadi di arsitektur Jawa sehubungan dengan

munculnya perkembangan arsitektur / teknologi / budaya yang masuk ke Jawa? Di sini kita berhadapan dengan posisi arsitektur Jawa sebagai penerima masukkan dari luar.

Dalam bahasan kita ini, sejujurnya saja kita tergagap-gagap dalam mendapatkan penyelesaian arsitektur(al) yang berkenaan dengan bingkai waktu masa kini.kita masih belum dengan tuntas memberikan jawaban bagi pertanyaan bagaimanakah wujud arsitektur Jawa di dalam perjumpaannya dengan arsitektur modern apalagi dengan arsitektur postmodern. Di sini kita tiba-tiba saja harus melintas waktu yang demikian cepat perputarannya, sedangkan diri kita tidak memiliki kesiapan untuk itu.

Penutup asih jauh lebih banyak yang bisa dan perlu disampaikan mengenai arsitektur Jawa. Sumbangan pemikiran dari banyak orang pastilah akan menjadi lebih memperkaya khasanah pengetahuan arsitektur Jawa. Kiprah nyata dari Laboratorium Arsitektur Jawa jelas sangat dinantikan oleh demikian banyak pihak, termasuk pihak internasional. Semoga masing-masing dari kita tidak mengatakan :

“ah,itu bukan tugas saya”.

M

Keterangan :

i Disiapkan untuk disajikan dalam Lokakarya Pembangunan Laboratorium Arsitektur Jawa di UNS pada tanggal 17 Juni 1999, di UNS -Surakarta

GEOMANCY DALAM KONFLIK TRADISI DAN

Dalam dokumen MEMBACA [JAWA] - Spada UNS (Halaman 32-44)