• Tidak ada hasil yang ditemukan

PETUNGAN SEBAGAI PEDOMAN PERANCANGAN

Dalam dokumen MEMBACA [JAWA] - Spada UNS (Halaman 176-200)

ARSITEKTUR JAWA

(kajian dengan ancangan Semiotika)

i

…… in architecture the fact of articulating a certain space in a certain way signifies the subdivision of all possible spatial articulations and dispositions (substance of expression) accoerding to a system of oppositions (form expression ) in order to communicate, among all the possible functions that man may perform within his cultural context ( substance of content ), a series of functions that all specified and defined by system of

cultural units ( the system of sememes ) that represents the form of the content.

Umberto Eco

ii

0. Pembuka

S

emiotika bukanlah pengetahuan baru bagi dunia arsitektur. Bahkan dalam arsitektur Barat, semiotika ini sudah mulai tersisihkan di awal 1980-an dengan mapannya Purna-modernisme dan mengkristalnya Pasca-modernisme ke dalam Dekonstruksiiii. Di tahun 1960-an dan 1970-an dunia arsitektur Barat telah dengan demikian intensifnya menyelenggarakan penjelajahan atas semiotika ini, dan sebagai buahnya adalah mapan dan absahnya Purna-modernisme, meluncurnya Dekonstruksi, dan mungkin yang terpenting dari semua itu adalah : bergesernya pendapat tentang arsitektur sebagai wadah kegiatan, menjadi arsitektur sebagai salah satu bentuk komunikasi non-verbal. Kalau memang demikian halnya, apakah penyajian ihwal semiotika pada kali ini, di Indonesia khususnya adalah langkah yang sudah kadaluwarsa?

Sudah barang tentu jawabnya adalah “ya” dan “tidak”. Jawaban pertama akan disampaikan oleh mereka yang menggunakan skala waktu perkembangan arsitektur Barat sebagai acuannya (berorientasi Barat ); dan jawaban kedua akan diberikan oleh mereka yang menggunakan jagad perkembangan pemahaman atas arsitektur Indonesia sebagai acuannya ( berorentasi Nusantara). Dihadapkan pada kenyataan itu, mkalah ini jelas menunjuk pada posisi jawaban yang kedua; bukan karena makalah ini harus dibuat demi mensukseskan forum akademik yang sangat berharga ini, tetapi karena memang pada kenyataannya masih banyak yang belum kita kerjakan, baik terhadap semiotika maupun terhadap arsitektur Nusantara dan arsitektur Indonesiaiv. Memang harus diakui bahwa dalam penjelajahan Semiotika ini arsitektur Indonesia tertinggal sangat jauh dari

penjelajahan yang telah dilakukan oleh dunia sastra, kesusastraan dan ( tentu saja ) kebahasaan Indonesia. Ketertinggalan ini dengan sangat sederhana dan gampang

dibuktikan lewat terbitan yang beredar di pasaran di mana sejumlah kajian Semiotika atas karya sastra Indonesia dapat dijumpai di toko buku dan perpustakaan, tapi tak satupun juga terbitan tentang kajian semiotikal atas arsitektur Nusantara dan Indonesia.

Kesadaran akan kenyataan itulah makalah ini mencoba untuk menyodorkan sebuah bahan diskusi semiotikal atas arsitektur nusantara, yang dalam kesempatan sebuah bahan diskusi semiotikal atas arsitektur Nusantara, yang dalam kesempatan ini adalah arsitektur Jawa, agar dapat menutup kekurangan dan mengejar ketinggalan pada umumnya dan memberikan alternatif usaha pemahaman atas arsitektur nusantara pada khususnya.

1. Kawruh Kalang, Serat Centhini, Primbon dan Petungan

T

ajug, Joglo, Limasan dan Kampung adalah tipe-tipe ( atap ) bangunan Jawa yang sudah demikian akrab bagi para arsitek yang mengenal arsitektur Nusantara dari daerah Jawav. Berragam pemahaman terhadap sistem nilai dan latar budaya, demikian pula dengan dalam dan luasnya pandangan Jawa dalam

arsitekturnya, juga telah digarap dengan sangat rinci dan tajam. Karenanya cukuplah beralasan bila dalam kesempatan ini kita tak membicarakannya kembali. Di sini kita akan membincangkan salah satu sumber ke-arsitektur-an Jawa yang selam ini masih belum mendapatkan banyak perhatian dari para arsitek dan peneliti arsitektur Jawa, yakni apa yang selama ini oleh masyarakat Jawa dikenal dengan “Petungan”. Sumber yang satu ini

dengan sangat pendek telah disinggung dalam Kawruh Kalang versi Mangkunegaran, dan dengan cukup lengkap disajikan dalam Serat Centhini hasil trasliterasi Kamajaya.

Sementara itu, sebagai sebuah petungan tentang bangunan Jawa yang teramat mudah didapat di pasaran, sumber ini dimulat dalam sejumlah Primbon.

Seperti halnya Serat Centhini yang memuat sedemikian banyak ihwal tentang pengetahuan dan masyarakat Jawa, demikian pulalah halnya dengan Primbon yang isinya telah sama-sama kita ketahui banyak diwarnai oleh ihwal yang “cukup sulit diterima oleh nalar”. Dan, kalau kita membatasi perhatian hanya pada ihwal bangunan Jawa, maka akan kita saksikan bahwa Serat Centhini, telah memuat selengkapnya apa yang telah disajikan oleh Kawruh Kalang dan Primbon meskipun pemuatannya tidak dalam satu bab khusus tetapi tersebar pada berbagai jilid. Sementara itu, bila Kawruh Kalang versi Mangkunegaran maupun versi Kasunanan Surakarta kita mati, perhatian utama dari hanyalah pada segenap tipe bangunan, pemilihan kayu, dan keterangan atas segenap nama dan letak dari bagian-bagian bangunan Jawa. Di Kawruh Kalang ini, ukuran dari masing-masing bagian bangunan tidak diberikan keterangan yang sepadan rincinya dengan uraian tentang hal-hal yang telah tersebutkan tadi. Dan memang, dari segenap bahan tulis yang berhasil dihimpun selama ini, belum dapat ditemukan pedoman bagi penetapan ukuran yang sedemikian rincinya seperti yang sudah disajikan oleh Kawruh Kalang versi Kasunanan Surakartavi. Yang dapat diperoleh sejauh ini hanyalah

serangkaian Petungan yang menunjuk pada pengukuran atas beberapa bagian pokok bangunan Jawa, sebagaimana dicantumkan dalam Serat Centhini maupun dalam sejumlah Primbon. Sebenarnya dengan menggabungkan Kawruh Kalang dengan

Primbon tidak dapat memperoleh gambaran dan pemahaman yang lebih banyak mengenai arsitektur Jawa, apalagi dalam beberapa Primbon dicantumkan pula watak- watak tanah tempat mendirikan bangunan, peletakan pintu gerbang dan bahkan jarak antara unit bangunan satu dengan unit yang lain dan juga penempatan sumur.

Masalahnya memang, mengapa Petungan dalam Primbon itu belum mampu berperan dan berkedudukan seperti Kawruh Kalang yang misalnya saja telah disebutkan Gunawan Tjahjono dalam disertasinya.

Memang bisa dimaklumi bila Petungan dalam Primbon tidak mendapatkan perhatian, mengingat hingga saat ini sudah terlanjur tersebar anggapan bahwa Primbon itu lebih banyak berisi ‘ngelmu klenik’ dan / atau berisi hal-ihwal perdukunan. Meskipun ada bagian-bagian dari Primbon itu sebaiknya tidak diberlakukan bagi Petungan tentang bangunan. Makalah ini akan memanfaatkan semiotika sebagai salah satu alat yang memungkinkan untuk membuktikan bahwa Petungan tadi bukanlah ngelmu klenik, bukan pula ihwal perdukunan.

2. Teba Petungan

S

ebelum menggunakan semiotika bagi pembedahan Petungan, ada baiknya untuk mengawali penjelajahan ini dengan menunjukkan teba dari

Petungan dalam sejumlah Primbon Jawa. Dengan melihat butir demi butir dari apa yang disajikan oleh Petungan tadi, diharapkan dalam tahap paling awal kita sudah

mendapatkan gambaran bahwa status ngelmu klenik itu telah dapat disingkirkan. Tabel yang terdapat pada lampiran II memperlihatkan butir demi butir Petungan tadi. Dari

butir demi butir nampaklah bahwa kalau kesemuanya itu dirangkaikan ke dalam urut- urutan kegiatan menyiapkan dan membangun bangunan, cukup banyak butir petungan yang mampu bersesuaian dengan kegiatan kita dalam menyelenggarakan perancangan dan pembangunanvii. Sementara itu, dari butir demi butir itu nampak pula hadirnya

‘unsur perancangan’ yang sepintas menjurus pada ngelmu, klenik, seperti misalnya : A – perhitungan bagi orang yang akan menghuni desa; E – pemilihan hari untuk membuat pintu halaman; O – watak bulan untuk mendirikan rumah; atau R – watak bulan untuk menempati rumah.

Dari Petungan-petungan yang tersaji dalam tabel tadi, nampak pula bahwa tidak satu pun Primbon yang memuat semua butir unsur perancangan. Hanyalah Primbon Jawa Pandita Sabda Nata saja yang memiliki butir unsur perancangan yang paling banyak dan nampaknya dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar dari sebuah proses

penyiapan dan pendirian bangunan sebagaimana lazimnya kita melakukannya. Dari semua unsur perancangan itu, nampak pula bahwa hanya satu Primbon saja yang tidak memuat butir O-watak bulan untuk mendirikan rumah. Mengapa butir ini disajikan oleh hampir semua Primbon, apakah merupakan tindakan yang sangat penting untuk

dilakukan? Sementara itu, dari semua Primbon yang ada, tidak satupun juga yang mencantumkan tipe-tipe (atap)bangunan atau hal – ihwal yang menyangkut dengan wujud dan bentuk bangunan; apalagi ihwal teknik dan konstruksinya. Pemilihan bahan bangunan juga merupakan unsur perancangan yang tidak disajikan dalam Primbon- primbon tadi.

3. Gaya dan Materi Penyajian erhitungan-perhitungan mengenai ihwal rumah dan bangunan Jawa yang tidak terjumpai dala Primbon pada umumnya memiliki format penyajian yang tidak berbeda satu sama lain. Format tersebut pada umumnya berbentuk kalimat-kalimat informatif sebagaimana dicontohkan di bawah ini. Contoh-contoh ini di ambil dari Primbon Djawa Pandita Sabda Nata ( 1976 ).

P

Contoh 1 :

Jarak dedeging saka

Mungguh dedeging saka kang katon, iya iku kajabaning purus ing dhuwur lan pendem ing ngisor, tinepus nganggo astane dewe, iya iku wiwit pucuking deriji panunggul nganti tumeka ing sikut, ana pirang asta, dene jarake ana papat iyo iku : 1. Suku; 2. Waktu;

3. Gajah; 4. Buta

Yen panjarake tiba jarak angka : 1. Suku, iku kanggo sakaning pawon;

2. Waktu, iku kanggo sakaning lumbung utowo masjid;

3. Gajah, iku kanggo sakaning omah utawa pandapa;

4. Buta, iku kanggo sakaning pajaksan utawa pakunjaran

(h.21) Contoh 2 :

Uga petung dedeging saka

Iki petung dedeging saka kang katon, ( purus lan pendem ora katut kapetung ) pangetunge pecake dewe tinemu pirang pecak, ing ngisor iki petunge.

Yen dedege saka tiba petunge pecak 1. Saka, watake kukuh;

2. Som, watake ayem;

3. Mahe, watake ala;

4. Baya, watake ala;

5. Pati, watake ala.

(h.21)

Contoh 3 :

Uga maneh petung dedeging saka

Iku ana maneh petung dedeging saka omah, ( uga ora metung dalah tanceb lan puruse ), uga kapetung nganggo pecake dewe, katemu pirang pecak, pengetunge nganggo wilangan lima, yen tiba wilangan :

1. Bumi, watake tetep 2. Bayu, watake serepan 3. Gunung, watake kerep ngalih 4. Sengkala, watake kerep gering 5. Geni, watake kobongan

(h. 22) Ketiga contoh petungan diatas menunjukkan format umum dalam petungan dalam Primbon. Tidak ada sajian yang diagramtik, bentuk tabel, apalagi yang berbentuk rumus matematis. Selanjutnya, sengaja dipilih tiga contoh atas penghitungan / pengukuran satu jenis unsur bangunan saja yakni saka (= tiang), semata-mata untuk menunjukkan bahwa dalam petungan dimungkinkan hadirnya penghitungan / pengukuran / pengamatan atas satu unsur dengan cara yang berbeda-beda, dengan hasil yang juga tidak sama sat dengan yang lain. Pada contoh pertama terlihat bahwa pengukuran tiang ditujukan untuk

menerapkan ukuran tiang dari berbagai fungsi / jenis bangunan; satuan pengukuran yang digunakan adalah asta (= hasta). Contoh kedua dan ketiga memperlihatkan pengukuran yang ditujukan untuk menentukan “watak”, dan satuan pengukur yang digunakan adalah pecak (=tapak kaki). Meski satuan pengukur dan prosedur pengukuran pada contoh kedua dan ketiga tidak berbeda, namun ‘watak’ yang dihasilkan berbeda.

4. Susunan “tiga-bagian” dari Petungan engan memperhatikan format penyajian dari petungan (seperti

dicontohkan di atas ), maka yang terlihat hanyalah urut-urutan kalimat yang susunannya terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama mengemukakan satuan

pengukuran yang digunakan serta bagaimana pengukuran itu diselenggarakan; bisa berupa satuan penghitung serta bagaimana penghitungan dilakukan; atau, bisa pula berupa unsur apa yang harus diamativiii. Bagian kedua adalah nama atau sebutan yang diberikan atas hasil pengukuran / penghitungan / pengamatan. Sebagaimana

pembahasan nanti menunjukkan, walau bagian ini hanya berupa nama atau sebutan tetapi memiliki peranan yang tak bisa diabaikan begitu saja. Bagian ketiga dari format penyajian petungan merupakan kesimpulan-kesimpulan yang dihasilkan dari

penghitungan / pengukuran / pengamatan tadi. Kesimpulan ini bisa berupa jenis penggunaan, sifat dari faktor / unsur yang dihitung /diukur; atau, bisa pula berupa perwatakan atas petungan terdiri dari tiga bagian, susunan penulisan dari masing-masing contoh petungan di atas dapat dimodifikasi tanpa kehilangan arti dan tujuan.

D

Contoh 1.

Bagian Kesatu : Dasar ukuran adalah hasta; kelipatan : empat

Bagian Kedua : 1. suku 2. watu 3. Gajah 4. Buta Bagian Ketiga : Dapur Lumbung;

Masjid Dalem;

Pendapa Pengadilan;

Penjara

Contoh 2

Bagian Kesatu : Dasar ukuran adalah pecak; kelipatan : lima

Bagian Kedua : 1. Saka 2. Som 3. Mahe 4. Baya 5. Pati Bagian Ketiga : Kokoh Terang

(ayem)

Buruk Buruk Buruk

Contoh 3

Bagian Kesatu : Dasar ukuran adalah pecak; pengukuran dengan kelipatan : lima Bagian Kedua : 1. Bumi 2. Banyu 3. Gunung 4. Sengkala 5. Geni Bagian Ketiga : Mantap Serepan Sering

pindah Sering sakit Kebakaran Gambar 1 : Beberapa contoh penghitungan dalam bentuk bagan.

Langkah dalam modifikasi susunan petungan ini mengikuti langkah yang dilakukan oleh Claude Levi Strauss ( 1965) dalam kajian yang dilakukan terhadap cerita- cerita / mitos Yunani dan Indian-Amerika Selatan. Dalam kajian yang dituangkan dalam

The Structural Study of Myth”. Levi Strauss membuktikan bahwa dengan memodifikasi susunan mitos dapat dihasilkan pola-pola tertentu yang pada gilirannya dapat

menunjukkan struktur dari mitos. Malahan, kajian antropologis dari Levi-Strauss ini berhasil pula menjelaskan bagian-bagian tertentu dari mitos yang sampai dengan hadirnya kajian ini, masih genap.

Dengan susunan baru di atas dapat dilihat bahwa petungan yang dalam susunan terdahulu menunjukkan rangkaian langkah atau prosedur, kini dengan susunan baru petungan ini telah kehilangan posisinya dalam rangkaian langkah, sebagai gantinya, susunan yang kini ( hanya ) bersifat deskriptif (namun masih infomatif) ini

memperlihatkan beberapa hal baru. Dengan susunan baru ini terlihat jelas pola dari petungan yang berbentuk seperti pada gamabr di bawah ini.

Gambar 2 : Pola dari susunan petungan dalam bentuk unsur Pola yang disusun secara mendatar ( horisontal ) ini, dapat pula disusun mendatar (horisontal) ini, dapat pula disusun secara menegak ( vertikal ).

Hasil Petungan (bagian kedua)

Satuan Petungan (bagian kedua)

Satuan Petungan (bagian ketiga) Satuan Petungan (bagian kesatu)

Kesimpulan Petungan (bagian kesatu) Satuan Petungan

(bagian kesatu)

Gambar 3 : Pola dari petungan dalam bentuk menegak

Sebagaimana diketahui, bagian kedua adalah hasil dari pengadaan atas bagian kesatu; tanpa adanya penetapan hasta (=bagian kesatu ), tak akan terhasilkan suku, watu, gajah ataupun buto, (=bagian kedua). Bila bukan hasta yang diisikan pada bagian kesatu, bukanlagi urutan tadi yang diperoleh. Tetapi bila dalam mengkur tiang digunakan tapak kaki ( =bagian kesatu ), terdapatlah dua kemungkinan sebutan bagian kedua: saka, som, mahe, baya, pati; atau bumi, banyu, gunung, sengkala, geni. Menarik untuk diperhatikan di sini, baik apa yang tercantum pada bagian yang kesatu maupun bagian yang kedua adalah karakteristik mereka berdua yang merupakan aspek material dari petungan. Kedua bagian tersebut ( misalnya ihwal tiang ) menunjuk pada wujud ragawi (fisik) dari petungan yakni hasta atau tapak kaki – yang merupakan bagian tubuh manusia – serta sebutan dari bagian tiang yang diukur. Sementara itu, bila ditinjau dari tiang yang diukur itu sendiri, kedua bagian dari petungan ternyata menjadi tanda-tanda tertentu dari tiang yang bersangkutan. Dengan kata lain, baigan kesatu dan kedua adalah aspek pertanda (=signifier) dari tiang khususnya, dan dari petungan pada umumnya. Dari kenyataan ini dapatlah dikatakan bahwasanya walaupun ada dua bagian namun keduanya merupakan aspek yang sama dari petungan.

Mengenai bagian ketiga dari pola petungan, bagian ini adalah kesimpulan yang diberikan dan terhadirkan setelah bagian kedua dari petungan sudah dihasilkan. Akan tetapi, dalam praktek penggunaan petungan, bisa pula terjadi keadaan yang sebaliknya, yakni bagian ketiga ditetapkan terlebih dahulu baru setelah itu diukur pada tiang sedemikian rupa sehingga jatuh pada ukuran : saka, agar lebih jelas, disini disampaikan sebuah ilustrasi sederhana. Bila satu tapak kaki besarnya adalah 30 cm dan tersedia kayu

untuk tiang sepanjang 330 cm, pengukuran yang dilakukan akan menghasilkan 330 / 30 tapak. Hasil pengukuran sebesar 11 tapak ini bila dibagi dengan 5 ( = jumlah sebutan dari bagian kedua ) akan menghasilkan 11 pembagian yang bersisa 1 tapak. Sisa ini dalam petungan disebut ‘saka’, dan ini menghadirkan watak kokoh (=bagian ketiga ).

Sementara itu, bila membangun diinginkan watak yang kokoh, harus diusahakan tiang yang ukuran panjangnya mampu menghasilkan sisa hitungan sebesar 1 tapak, sebesar sebutan saka. Tiang tersebut dapat sepanjang 330 atau 480 cm karena bila diukur dengan tapak akan menghasilkan sisa ukuran sebesar saka = 1 tapak. Dengan ilustrasi sederhana di atas dapat dilihat bahwa antara bagian kedua dengan bagian ketiga dapat terjadi hubungan timbal-balik, saling menyimpulkan dan malahan saling mengikat dengan ketat.

Walaupun begitu, ada perbedaan yang menonjol antara baigan kedua dan bagian ketiga.

Baik pada contoh 3 di depan, bagian ketiga ini adalah non-material dalam

karakteristiknya. Akan halnya contoh 1, pembacaan atas susunan arti petungan pada primbon menunjukkan bahwa bagian ketiga itu bukanlah dalem, dapur, lumbung atau pendapa itu sendiri; bagian ketiga ini adalah peruntukan dari tiang – tiang untuk dapur, dan sebagainya – dan karena itu tidak bisa disebut sebagai berkarakteristik material.

Karekateristik yang non-material dari bagian ketiga ternyata memberikan kemudahan untuk mengatasi aspek dalam petungan. Disini keterkaitan,yang ketat dengan bagian kedua dapat diartikan bahwasanya bagian ketiga ini merupakan aspek pertanda ( = signified ) dari petungan. Artinya, tiang bersangkutan ditandai peruntukan dan perwatakannya, petungan yang bersangkutan ditandai oleh peruntukan dan perwatakan dari pengukuran / pengamatan.

Dari uruaian diatas, menjadi jelas bagaimana bangunan struktural dari petungan dalam primbon Jawa. Dalam primbon, petungan memiliki karakter dan struktur yang tersendiri atas material – non-material, juga signifier – signified. Model yang berpautan untuk itu adalah seperti berikut ini :

Bagian kesatu dan

Material pertanda signifier bagian kedua Petungan : : : :

Non-materil tertanda signified bagian ketiga Gambar 5 : model struktur Petungan

Model ini bukanlah model matematis, jadi hendaknya hendaknya tidak dibaca secara matematis, tetapi petungan berstruktur atau aspek petanda dan aspek tertanda, terdiri dari bagian yang berkarakter material dan non-material.

5. Susunan “dua bagian” dari Petungan

D

i samping susunan tiga bagian dari petungan, seperti tercontohkan pada bagian terdahulu, dalam primbon-primbon yang berhasil dikumpulkan dijumpaii pula susunan yang tidak seperti susunan tiga-bagian tadi.

Susunan seperti ini dapat dilihat dari dua contoh yang diambil dari Primbon Betaljemur- Adammakna (1982).

Contoh 4.

No. 174. Ngedegake mayu lan ngelih omah.

Ing sasi :

1. Sura : ngedegake omah, nemu susah, kobongan, enggal ngalih pangonan.

Contoh 5.

No. 194 Gawe lawang pakarangan

Gawe lawang pakarangan papan kang arep diedegi lawang, dawane kaukur, banjur kapara 5. Yen lawang madhep mangidul pangetunge wiwit saka wetan. Madhep mangulon wiwit saka kidul. Madhep mangalor wiwit saka kulon. Madhep mangetan wiwit ska lor, kaya ing ngisor iki :………….

Contoh 6.

No 168. Pemilihing pakarangan (palemahan ) yen :

1. Miring ngetan, aran menikmulyo, sirno ing leloro, akeh rejekini, slamet ayem, tandurno wit cocor bebek ing padon kulon.

Bila dibandingkan dengan contoh-contoh dari pasal 3 dan 4 di depan, perbedaan yang menonjol pada susunan petungan ini adalah: di sini tidak ditemukan penghitungan yang perlu / harus dilakukan, pada petungan jenis ini tidak ‘dijumpai’ bagian kedua hari susunan petungan yakni hasil perhitungan / pengukuran / pengamatan. Dengan demikian susunan ini nampaknya hanya mengandung bagian kesatu dan ketiga saja.

Akan tetapi, bila untuk pengamatan sebagai bagian kesatu disitu tercantum satuan pengukur/penghitung, ketiga contoh ini tidak memperlihatkan tanda-tanda sebagai satuan pengukur/penghitung; bulan Sura, pagar yang dibagi menjadi lima bagian dan

keadaan fisik tapak yang miring ke timur, apakah mereka ini satuan pengukur / penghitung ? apa yang terlihat dari penggal-penggal susunan petungan ini cenderung untuk dapat disebut sebagai unsur petungan yang diamat. Bila digolongkan sebagai

‘unsur yang diamat’, apakah penggal lain dari susunan ini dapat dikatakan sebagai kesimpulan pengamatan (bagian kesimpulan dari petungan merupakan ciri dari bagian ketiga sesuatu petungan)?

Dengan menganggap bahwa susunan petungan dari contoh 4,5 dan 6 di atas terdiri dari unsur yang diamati dan kesimpulan pengamatan, susunan petungan tadi tentunya dapat dimodifikasi menjadi sebagai berikut ini.

Contoh 4

Unsur yang diamati : Bulan Sura

Kesimpulan pengamatan : Kesusahan, kebakaran, pindah rumah dalam waktu dekat Contoh 5 ( hanya diambil sisi utara dari pekarangan )

Unsur yang

diamati : 1 2 3 4 5

Kena lara-

bahaya Sering

kesulitan “sangar”

kurang baik Kesimpulan

pengamatan Baik, selamat Segenap pekerjaan

sukses Contoh 6

Unsur yang diamati Tapak miring ke timur, namanya manimaya

Kesimpulan pengamatan Penyakit sirna, banyak rejeki, sejahtera, tanamilah dengan cocor bebek di pojok barat

Gambar 6 Beberapa contoh Petungan dalam bentuk bagan

Dengan melihat susunan yang baru ini, terlihat bahwa pada “unsur yang diamati” maka semua unsur tadi adalah unsur-unsur yang ‘given’. Unsur ini tidak diukur atau

diperhitungkan, tetapi sudah ada dan tinggal diamati (=given ). Dan dalam posisinya sebagai unsur ‘given’ ini, dan mengingat pula akan salah satu ciri dari bagian kesatu dan bagian kedua dari susunan petungan pada pasal 3 dan 4 yakni merupakan unsur ‘given

menjadi jelas sudah bahwa penggal susunan ‘unsur yang diamati’ ini menjadi segolongan dengan bagian yang kesatu dan / atau kedua. Tetapi, oleh karena dalam contoh-contoh ini tidak ditetapkan satuan pengukur / penghitung, dengan sendirinya bagian ini lebih tepat bila digolongkan ke dalam bagian kedua. Penggolongan ini lebih dikuatkan lagi oleh contoh 5 dan 6. Pada contoh 5 rentang garis 1,2,3,4 dan 5 dari pekarangan tadi tidak berbeda statusnya dengan angka-angka sisa perhitungan / pengkuruan. Pada contoh 6, satuan manimaya bagi keadaan tapak yang miring ke timur juga sama statusnya dengan kedua dari susunan petungan, malahan bila dibanding dengan contoh 5 status ini lebih jelas bagi ( bagian kedua ‘diisi’ dengan sebutan atau nama yang diberikan kepada hasil perhitungan / pengukuran ).

Untuk mengatakan bahwa kesimpulan pengamatan pada susunan petungan di atas adalah bagian ketiga dari susunan petungan, kiranya tak perlu dipersoalkan lagi karena bagian ini telah memenuhi ciri-ciri yang telah ditunjukkan oleh bagian ketiga dari petungan dalam primbon Jawa.

Dengan telah tergolongkannya unsur demi unsur dari susunan petungan ini ke dalam bangun umum susunan petungan, kiranya dapat pula dikatakan bahwa susunan

‘dua bagian’ dari petungan ini bersesuaian pula dengan model struktur petungan; di

Dalam dokumen MEMBACA [JAWA] - Spada UNS (Halaman 176-200)