SUASANA PSIKOLOGIKAL
Pembuka ingga hari ini perhatian dunia ilmu pengetahuan terhadap Primbon Jawa masih dapat dikatakan belum dilakukan dengan sungguh-sungguh. Hal ini dapat dimengerti karena masih cukup kuatnya anggapan bahwa Primbon itu lebih terarah pada
‘ngelmu’ dan memiliki kandungan isi yang sepintas lebih sulit dipahami secara ilmiah.
Termasuk dalam keadaan itu adalah perhatian arsitektur thd Primbon. Melalui sajian yang berjudul ‘Dimensi Psikologikal, Estetik dan Etik dalam Primbon Jawa’ misalnya, Josef Prijotomo (1999) telah mencoba untuk menyodorkan model penalaran atas Primbon Jawa tadi. Diakui oleh Prijotomo bahwa yang dia sodorkan adalah sebuah model penalaran yang lazim digunakan di dunia arsitektur (barat) dan oleh karena itu bisa saja menimbulkan bias yang tertentu bagi upaya pemahaman atas Primbon Jawa.
Penggelaran penalaran di kesempatan sekarang ini harus diakui masih belum bergeser dari kemungkinan bias tadi, mengingat yang ditangani dalam kesempatan ini adalah penajaman atas model penalaran atas Primbon Jawa tadi. Dengan demikian, pergelaran ini sebaiknya tidak disejajarkan dengan karya yang luar biasa mengagumkan dari Darmanto Jatman (1999) berjudul “Psikologi Jawa”.
H
Landasan Penalaran dan Ancangan arus diakui bahwa dunia arsitektur sebaiknya menangkap dengan kritis ihwal effek dan suasana psikologikal dari gubahan-gubahan ruang maupun bentuk.
Effek psikologikal yang didapat oleh seseorang dari sesuatu gubahan ruang-bentuk
H
sebaiknya tidak disamakan dengan suasana dan pengalaman psikologikal yang terselenggara di saat seseorang mengantisipasimaupun sedang berkontak dengan gubahan ruang-bentuk. Sebuah usulan rancanganyang menawarkan suasana
‘keterbukaan’ misalnya, tidak selalu berakhir dengan sebuah gedung yang mendatangkan efek keterbukaan itu. Hal ini tidak dapat terjadi karena tawaran keterbukaan itu belum tentu merupakan sebuah tujuan yang akan dicapai tetapi justru merupakan sarana bagi tujuan yang lain. Aturan bahwa sempadan bangunan adalah sebesar x meter dapat disampaikan pula sebagai kasus yang serupa. Masyarakat awam banyak membaca aturan sempadan itu sebagai sebuah keharusan untuk dipatuhi tanpa mengetahui sebab-
musabab dan pertimbangan-pertimbangan di balik besaran x meter itu. Tidak jarang sempadan itu dilanggar karena dianggap sebagai sebuah pembatasan atas kebebasan pemilik lahan dalam memanfaatkan hak miliknya, sebagai sebuah halangan bagi tujuan- tujuan dari pemilik lahan. Padahal, sempadan merupakan sebuah pertimbangan publik atas wajah dan gubahan lingkungan. Melalui penalaran dan ancangan seperti itu pulalah penelusuran atas Primbon Jawa ini dilakukan.
Pengoperasian Primbon
T
indakan pemilihan atau penetapan watak memiliki kekhususan yang perlu menjadi perhatian, salah satu sebabnya dalah karena di sini pulalah faktor kehandalan Primbon Jawa bagi dunia arsitektur ikut berperan dengan cukup lantang.Untuk itu di sini akan dimunculkan satu kasus pengoperasian hitungan yang
dilaksanakan dalam membangun rumah dan bangunan orang Jawa, yakni perhitungan atas jumlah kasau :
UGA JARAK CACAHING USUK
Mungguh cacah usuk kabeh dijarak telu, yen panjarake tiba jarak angka;
1. Watake akeh prihatine 2. Watake becik, nemu suka bungah
3. Watake grigen [h.20]
Peng-Indonesia-an bebas adalah sebagai berikut : “Juga jarak jumlah Kasau. Mengenai jumlah usuk, kesemuanya dijarak tiga-tiga. Bila pen-jarak-an jatuh pada jarak 1 – wataknya banyak prihatinnya; 2-wataknya baik, mendapatkan kesukaan; 3-wataknya sering sakit”. Memperhatikan penyampaian di Primbon ini, kita sudah dibuat bertanya- tanya : “di sini perhitungan itu menunjukkan pada banyaknya usuk yang diperlukan ataukah menunjuk pada jumlah jarak-antar-kasau?”. Persoalan ini muncul karena sebuah bentang sebesar 0,5 meter, misalnya akan memerlukan dua batang kasau, sedangkan jarak-antar-kasau yang terjadi adalah sebanyak satu buah saja; sedangkan kalu bentangan sebesar 1 meter ditangani dengan menghadirkan jarak-antar-kasau sebanyak 2 buah, maka kasau yang diperlukan adalah sebanyak 3 batang.
Dari kasus penentuan jarak antar kasau/usuk di atas, pemahaman atas yang tersurat tentu membuat kita mengatakan bahwa bila jumlah jarak-antar-kasau yang digunakan mencapai jumlah kelipatan tiga, penghuni dari ruamgh bersangkutan akan sering tertimpa sakit. Misalnya, bentangan yang akan dipasangi kasau adalah sepanjang 4, 2 meter bentangan ini akan dapat diisi oleh 14 jarak-antar-kasau dengan jarak masing-
masing kasau adalah 0,3 meter. Jumlah kasau yang diperlukan adalah sebanyak 14+1=15 batang (bukan sebanyak 14 batang karena disini yang dihitung adalah jumlah kasau, bukan jumlah jarak jarak-antar-kasau). Mengingat bahwa perhitungan dalam Primbon itu menunjuk pada ‘jarak kasau’; bukan jumlah kasau, maka yang harus dimasukkan ke dalam ketentuan itu adalah bilangan 14 dan bukan 15. bilangan 14 merupakan jumlah sebesar (3 x 4 ) jarak ditambah lagi dengan 2 jarak-antar-kasau. Tambahan sebanyak 2 jarak-antar-kasau itulah yang ‘mendatangkan’ apa yang oleh Primbon ditulis sebagai :
“2.Watake becik, nemu suka bungah”. Dengan hasil hitingan seperti ini, tentunya orang Jawa akan memutuskan untuk menggunakan jarak sebesar 0,30 meter tadi.
Bandingkan perhitungan itu dengan tindakan yang menunjukkan pada jumlah kasau yang digunakan, yakni sebanyak 15 batang. Jumlah sebesar ini tentu akan merupakan 3 x 4 batang ditambah dengan 3 batang kasau. Dengan besaran sebanyak 3 batang itu, hitungan ini akan menunjuk pada “3-watake geringen”. Dengan hasil hitungan seperti ini, tentunya orang Jawa akan menolak untuk menggunakannnya bagi bangunan yang diinginkannya. Dengan perbedaan yang cukup mencolok inilah kita dituntut untuk dengan seksama memperhatikan perhitungan terhadap jarak-antar-kasau ataukah perhitungan jumlah kasau, bukan? Dengan pembacaan yang seksama, terlihat bahwa perhitungan kasau itu menunjukkkan pada “jarak-antar-kasau”; bukan pada ‘jumlah kasau’. Dengan demikian, jumlah kasau sebanyak 15 batang tidak perlu dipermasalahkan, karena yang harus dicermati penghitungannya adalah jumlah jarak-antar-kasau.
Watak
B
“
anyak prihatin, menemukan kesukaan, mendapatkan sakit” merupakan demi hasil dari pen-jarak-an yang tertentu antara kasau yang satu dengan yang lain.Watak yang diyakini bisa mendatangkan efek yang tidak merugikan dan/atau mencelakakan, tentulah yang akan dijadikan pilihan keputusan, sehingga dari
keseluruhan proses yang dijalani dalam membangun, bisa saja watiak yang terhimpun adalah seperti yang telah disampaikan di depan, tetapi tidak ada jeleknya untuk disampaikan kembali, yakni : “Segera mendapatkan pemenuhan atas sandang-pangan (kegiatan 1); harta dunia akan mengikutinya serta dikasihi oleh sanak saudara (kegiatan 2); mendapatkan kekayaan (kegiatan 3); akan segera mendapat rejeki yang halal (kegiatan 4 ); penghuninya memiliki watak yang ‘ayem’ (tenang) (kegiatan 5); menemukan
kegembiraan (kegiatan 6); banyak rejekinya (kegiatan 7) dan akhirnya, penghuni akan
‘rahayu slamet’(selamat sejahtera ) (kegiatan 8)”. Orang jawa memang berkepentingan dengan watak yang akan terjadi dari hasil sesuatu perhitungan, tak peduli apakah watak itu benar-benar akan terjadi dari hasil sesuatu penghitungan, tak peduli apakah watak tiu benar-benar akan terjadi ataukah tidak. Bagi kepentingan arsitektur, adalah keberanian dari arsitektur untuk menjamin dan mempertanggungjawabkan terbitnya watak demi watak yang ditimbulkan dari penghitungan yang dilakukan? Apabila penyampaian jawab atas pertanyaan ini dibatasi hanya pada apa yang telah ditulis oleh Primbon, sudah barang tentu arsitektur harus bisa memberikan jaminan dan pertanggungjawaban itu.
Tuntutan seperti inilah yang telah dengan sinis sekali disampaikan oleh Serat Balewarna (1920-an) maupun oleh banyak pihak yang kurang simpatik dengan Primbon Jawa.
Betapa tidak sinis, dari rangkaian watak itu tentunya kita bisa mengatakan bahwa sebagaian banyak orang Jawa sudah mencapai tingkat kemakmuran dan kesejahteraan yang mengesankan; padahal dalam kenyataannya tidak banyak yang mencapai tingkatan itu. Dihadapkan pada sinisme seperti itu, tentulah kita akan bertanya-tanya, dimanakah kesalahan dan kekeliruan yang telah menyebabkan terjadinya sinisme itu? Apakah petunjuk yang dimuat di Primbon itu tidak banyak dipraktekkan, dan karena itu masih banyak orang Jawa yang belum makmur dan sejahtera? Ataukah petunjuk itu
dipraktekkan tetapi dengan menggunakan pola dan rumusan penalaran yang tidak seperti kita (dan Serat Balewarna) jalankan?
Dihadapkan pada keterbatasan yang menghadang, maka hanyalah pertanyaan terakhir itu yang akan ditangani, sekaligus menempatkan penanganan ini sebagai sebuah
pertanggungjawaban arsitektural mengenai perwatakan yang melekat pada proses mendirikan bangunan di kalangan orang Jawa.
Signifikasi Bilangan Penunjuk Watak ila menggunakan hitungan ‘2-mendapatkan kesukaan’ maka orang Jawa yang menempati bangunan itu akan benar-benar menemukan kesukaan. Itulah yang secara harafiah akan tersimpulkan dari kasus penghitungan kasau bangunan di depan.
Sekali lagi disajikan di sini penghitungan tersebut selengkapknya, baik untuk keperluan menunjukkan keadaan pembacaan harfiah yang mendatangkan sinisme, maupun untuk penjelajahan yang mencoba untuk menghindarkan timbulnya sinisme atas Primbon
B
UGA JARAK CACAHING USUK
Mungguh cacah usuk kabeh dijarak telu, yen panjarake tiba jarak angka;
1. Watake akeh prihatine 2. Watake becik, nemu suka bungah
3. Watake grigen [h.20]
Perhitungan tentang kasau itu tidak hanya menunjukkan pada penghitungan yang hasil perwatakkan menguntungkan, menggembirakan, menyejahterakan maupun
menenteramkan, atau dengan kata lain menunjuk pada perwatakan yang merugikan, menyusahkan, mencelakakan, atau dengan kata lain menunjuk pada perwatakan yang negatig? Penyajian yang melibatkan baik yang berwatak positif maupun yang berwatak negatif ternyata menjadi pola umum dari perhitungan demi perhitungan dalam Primbon Jawa. Pertanyaan kini, jikalau orang seumumnya cenderung untuk menghindari watak- watak negatif, mengapakah perwatakan yang bersifat negatif disertakan di dalam setiap perhitungan? Salah satu kemungkinan jawaban yang dapat dikemukakan adalah karena diharapkan oleh Primbon agar orang Jawa tidak menggunakan hasil hitungan yang berwatak negatif tadi. Bila jawaban ini dianggap benar, maka sebagai konsekuensinya tentulah bisa dimunculkan penalaran yang berikut ini. Perhitungan dalam Primbon Jawa memuat hasil-hasil perhitungan yang dianjurkan untuk digunakan dan sekaligus juga disajikan hasil hitungan yang dianjurkan untuk dihindarkan. Dengan kata lain, apabila Primbon Jawa dipandang sebagai sebuah aturan tentang membangun, maka aturan ini tidak memuat larang dan keharusan melainkan berisi anjuran untuk digunakan atau untuk dihindari. Dari tinjauan ‘punishment and reward’, watak demi watak memang
merupakan ‘punishment’ bilamana perwatakannya bersifat negatif; dan merupakan ‘reward’
bilamana perwatakannya bersifat positif . tinjauan seperti ini, sayang sekali, sebaiknya dihindari karena bisa menjerumuskan penelusuran tentang Primbon Jawa ke dalam sinisme.
Jikalau watak yang positif merupakan hasil hitungan yang dianjurkan dan watak yang negatif merupakan hasil hitungan yang sebaiknya dihindari, maka watak demi watak itu sebenarnya merupakan petunjuk tentang hasil hitungan yang diperoleh dalam melakukan perhitungan. Sekarang, kalau perhatian atas Primbon tidak lagi dipusatkan pada watak, tetapi pada bilangan yang menyebabkan munculnya watak demi watak, tidak berlebihan bila disini dikatakan bahwa perhitungan itu menunjuk pada hasil demi hasil hitungan yang dianjurkan untuk digunakan dan yang dianjurkan untuk dihindari. Jika diperhatikan dengan seksama, sebenarnya bilangan demi bilangan yang memunculkan watak tadi adalah bilangan yang menunjuk pada besaran dan/atau ukuran dari bagian-baagian bangunan orang Jawa. Sesampai di sini, rangkaian watak-watak yang terhasilkan dari rangkaian perhitungan dapat diganti dengan rangkaian besaran /ukuran yang terhasilkan dari rangkaian perhitungan. Bila demikian halnya, tak ayal lagi pada gilirannya akan terhasilkan ukuran dan besaran keseluruhan dari bangunan-bangunan orang Jawa.
Sekarang, dapatlah dikatakan bahwa rangkaian hitungan yang menunjuk pada watak yang positif adalah juga menjadi rangkaian besaran/ukuran bangunan di arsitektur Jawa menjadi tak terelakkan lagi. Buku berjudul : “Petungan : sistem ukuran dalam arsitektur Jawa” (Prijotomo 1995) dapat disampaikan disini sebagai penerapan dari aturan tentang besaran/ukuran di arsitektur Jawa.
Watak sebagai Sarana i arena Taman Rekreasi seperti di Ancol – Jakarta, orang dapat melakukan rekreasi dengan mengalami peristiwa yang mencengangkan, menyeramkan, menakutkan ataupun menegangkan. Sajian film juga ada yang menggelarkan peristiwa yang sama. Meskipun hanya orang-orang tertentu saja yang mendapatkan kenikmatan dari peristiwa-peristiwa seperti itu, tidak sedikit pula yang cenderung untuk menghindari pengalaman seperti itu. Memang, suasana psikologikal dari sesuatu gubahan mampu mendorong seseorang untuk menikmati atau menghindarinya. Dengan demikian, orang diberi kebebasan sepenuhnya untuk menikmati atau menghindari dari gubahan yang dihadapinya. Disadari sepenuhnya ataupun tidak, setiap perancang pasti menghadirkan gubahan yang berpeluang untuk dinikmati atau dihindari oleh pemerhati, penonton ataupun pengguna karya rancangnnya.
D
Apakah penyajian watak yang bersifat positif maupun yang negatif di dalam Primbon Jawa juga boleh dimengerti sebagaimana suasana psikologikal seperti diatas? Apa yang akan didapatkan sebagai pelajaran bila suasana psikologikal itu digunakan untuk memperlajari Primbon Jawa? Sebagian jawaban atas pernyataan-pernyataan tadi telah dapat diperoleh dari pasal tentang watak dan tentang bilangan. Watak demi watak menjadi faktor perhitungan yang dengan bebas boleh dipilih oleh pengguna Primbon Jawa. Memang, faktor perhitungan ini sebenarnya bukan merupakan sebuah jaminan atau kepastian akan hasil yang didapat bila seseorang berketetapan untuk memilih yan gsatu dan mengabaikan yang lain. Dari tinjauan arsitektur, bukanlah faktor perhitungan itu yang menjadi sasaran dan tujuan, tetapi justru adalah bilangan demi bilangan yang
menunjuk pada besaran/ ukuan bangunan. Faktor-faktor perhitungan (=watak) yang hadir sebagai pilihan demi pilihan suasana psikologikal tertentu, digunakan oleh Primbon Jawa sebagai perangsang (stimulant ) bagi orang Jawa untuk memilih yang ini dan bukan yang itu, untuk memilih dan menetapkan besaran /ukuran yang ini dan bukan yang itu. Dengan demikian, watak bukan lagi tujuan (ends) tetapi sepenuhnya adalah sarana (means) bagi rangsangan untuk memilih besaran /ukuran yang tertentu (yang dianjurkan untuk dipilih).
Apabila watak merupakan suasana psikologikal menjadi sebuah sarana, tentu saja posisi ini sangat berbeda dari posisi suasana psikologikal yang ditawarkan oleh taman Rekreasi atau film suspense. Munculnya sinisme atas Primbon Jawa, sebagaimana telah dilakukan oleh Serat Balewarna dan sebagian arsitek di Indonesia, nampaknya terjadi karena telah keliru dalam mem-posisi-kan watak-watak tadi, yakni memahami apa yang tersaji dalam Primbon seakan seabgai sebuah hasil rancangan, seakan sebagai sebuah realita suasana psikologikal.
Penutup enyoroti kasus-kasus yang tersajikan di depan, tidaklah berlebihan bila
psikologi ruang yang disoroti dalam Primbon Jawa cenderung untuk menunjuk pada efek psikologik(al) yang didapat oleh seseorang dari sesuatu gubahan ruang-bentuk. Di sini orang Jawa dihadapkan pada komponen efek psikologik(al) yang akan dialami bila dia memutuskan untuk memulih dan menetapkan (per)hitungan yang ini, dan bukan (per)hitungan yang itu. Apakah efek psikologi(al) ini benar-benar terjadi ataukah tidak, bukanlah persoalan yang relevan untuk dibincangkan di sini, mengingat Primbon itu sendiri nampaknya juga tidak mengarah untuk menuju ke sana. Tujuan utama dari Primbon bukan memberikan kepastian akan adanya efek psikologik(al) tertentu, tetapi memanfaatkan (meng-‘antisipasi’) efek psikologik(al) sebgai sebuah alat untuk menyampaikan atau mengkomunikasikan penggal demi penggal aturan dan tatanan arsitektur. Sesampai di sini, kita dihadapkan pada psikologi ruang sebagai sebuah sarana, bukannya sebagai sebuah tujuan.
M
Suasana psikologikal sebagai sarana dan sebagai tujuan sekaligus menjadi pokok tinjauan yang telah mengalami kerancuan dalam perlakukan orang terhadap Primbon. Dengan memposisikan suasana psikologikal sebagai sarana, yang menjadi tujuan memang tidak dengan eksplisit dimunculkan, menjadi tersirat di balik yang tersurat. Pengamanan terhadap besaran/ukuran adalah pesan yang tersirat dari perhitungan-perhitungan di Primbon Jawa. Memang masih diperlukan kajian lebih lanjut dan mendalam untuk memahami penggunaan psikologi ruang sebagai sarana, namun satu hal perlu
dikemukakan disini. Penempatan suasana psikologikal sebgai sarana sama sekali tidak mengakibatkan penilaian yang merendahkan status dan posisi dari psikologi sebgai sebuah pengetahuan. Pengenalan psikologi sebgai sarana memang menjadi konsekuensi dari penempatan psikologi sebagai bagian dari kajian tentang arsitektur; bukan
sebaliknya yakni arsitektur sebagai bagian dari kajian tentang psikologi ruang.
Bacaan dan Rujukan
1. Bambang Soejadi; 1982; Air adalah Unsur yang sangat penting untuk Dilestarikan dalam Dampak Lingkungan; dalam Torsi; th II, ed 2-5; FT.Sipil ITS
2. Darmanto Jatman; 1999; Psikologi Jawa; Bentang Budaya; Yogyakarta
3. Josef Prijotomo; 1984; Pedoman Perancangan dalam Arsitektur Jawa; Puslit ITS; ( tak dipublikasikan).
4. ---; 1984; Idea and Form of Javanese Architecture; Gajah Mada University Press; Yogyakarta
5. ---;1988 (a); “The Text-Reading and Personal Expression”; (makalah untuk International Symposium : Traditional Dwelling and Settlements; Berkeley); tak dipublikasikan
6. ---: 1988 (b); Model Sistem Volume-Ruang dalam Arsitektur Jawa; Puslit ITS;
tak dipublikasikan
7. ---:1988 (c); Pasang Surut Arsitektur di Indonesia; CV. Ardjun;
Surabaya.
8. ---:1995; Petungan : Sistemm Ukuran Arsitektur Jawa; Gajah Mada University Press; Yogyakarata
9. ---:1999; Dimensi Psikologikal, Estetika dan Etika dalam Primbon Jawa; dalam Naskah Arsitektur Nusantara – jilid 1; Lab. Perkembangan Arsitektur ITS;
Surabaya
10. R.Ismoenandar K; 1986;Joglo; Dahara Prize; Semarang
11. Riswanto Hadiwidjojo dan Josef Prijotomo; 1993; Identifikasi Konstrksi Bangunan Tradisional Jawa; Puslit ITS; tak dipublikasikan
12. Zein Moedjijono WP; 1985; Arsitektur Jawa; Yayasan Panunggalan; Surabaya;
(bahan ceramah tidak dipublikasikan) 13. --- (nd); Serat Balewarna; np
Primbon-Primbon
1. Primbon Betaljemur Adammakna; 1982; Soemodidjojo Mahadewa; Yogyakarta 2. Primbon Sabda Pandita; tt; Trimurti; Surabaya ( R. Tanoyo – Penghimpun ) 3. Primbon Jawa Pandita Sabda Nata; 1976; T.B. Pelajar; Solo; ( R. Tanoyo –
Penghimpun )
4. Primbon Jawa Makara; tt; Toko Buku Sadu Budi; Solo
5. Primbon Jawa Sabda Guru; 1973; Toko Buku K.S.; Solo ( SPH.
Handanamangkara – Penghimpun )
Keterangan :
i Disiapkan untuk disajikan dalam Seminar Nasional ‘Psikologi Ruang dalam Arsitektur dan Kota’ yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Teknik Arsitektur – Pasca Sarjana Universitas Diponegoro, Semarang, pada tanggal 15 Januari 2001