‘Membaca’ Arsitektur (Jawa)
♦0. Pengantar
K
ita membaca untuk beberapa keperluan, tetapi tetaplah saja membaca itu adalah berhadap-hadapan dengan tulisan yang ditata dan diatur secara tertentu. Oleh karena tatanan dan aturan itu sudah demikian menyatu dalam diri kita, bukan mustahil bila kita seringkali malahan akan tergagap-gagap untuk menjawab pertanyaan: “apa sajakah aturan dan tatanan dari sebuah tulisan agar bisa dibaca?” Keseharian kita dalam membaca tulisan yang beraksara Latin misalnya, juga akan membawa kita tergagap kalau harus menjawab pertanyaan itu. Baiklah, di antara sederetan aturan dan tatanan dalam penulisan dengan menggunakan aksara Latin, satu dari aturannya adalah yang berkenaan dengan penulisan sebuah kalimat. Dalam penulisan Latin, sebuah kalimat itu terdiri dari sejumlah kata; masing-masing kata memiliki arti yang tersendiri namun kebersamaan kata dalam sebuah kalimat itu akan membentuk sebuah pengertian yang tersendiri, yang tidak mesti merupakan penjumlahan dari arti setiap kata yang membentuk kalimat tadi.Dalam penulisan latin, sebuah kalimat dapat dengan mudah dikenali karena diawali dengan huruf kapital dan deretan kata itu diakhiri dengan tanda baca berupa titik.
Sedangkan untuk mengenali kata yang terdapat dalam sebuah kalimat bertulisan latin, juga tidak susah karena setiap kata akan dipisahkan dari kata yang lain oleh adanya spasi atau rongak. Demikianlah sepotong kecil tatanan dan aturan dari penulisan beraksara latin. Apakah dalam penulisan dengan menggunakan aksara lainnya juga akan mengikuti tatanan dan aturan itu? Tentu saja tidak. Lihat saja penulisan dengan menggunakan aksara Cina yang menulisnya saja dari atas ke bawah, tidak dari kiri ke kanan; dan tulisan Arab, menggunakan arah dari kanan ke kiri. Penulisan dengan menggunakan aksara Jawa juga mempunyai aturan dan tatanan yang berbeda dari penulisan beraksara latin.
Perbedaan inilah yang akan dijadikan pusat perhatian dari kajian yang sedang anda baca.
Bertolak dari perbedaan itu, beberapa spekulasi yang berkenaan dengan arsitektur Jawa dalam perbedaannya dengan arsitektur Barat akan diangkat ke permukaan. Mengingat kajian terhadap perbedaan itu masih belum sampai pada temuan dan simpulan, maka yang akan tersampaikan dalam sajian sekarang ini adalah catatan-catatan kritis yang berkenaan dengan penjelajahan atas arsitektru Jawa pada khususnya, dan pada arsitektur nir-barat pada umumnya.
1. Tulisan Jawa ahasa Jawa memiliki sistem tulisannya yang tersendiri, mengingat dia memiliki pula abjadnya yang berbeda dari abjad latin yang kita kenal. Gambaran berikut ini (gambar 1) mencontohkan tulisan Jawa yang ditulis dengan menggunakan abjad Jawa itu sendiri.
B
Kalaupun itu benar-benar tulisan berbahasa Jawa, belum tentu orang mempercayainya karena cenderung memperlihatkan sosok gambar. Kalaupun ada yang telah mau mengakui itu sebagai tulisan, belum tentu yang bersangkutan bisa membacanya. Tetapi baiklah contoh ini di percaya saja sebagai sebuah tulisan yang berisi informasi yang tertentu. Apa yang diinformasikan belum disoalkan sekarang, karena masih harus melakukan pengamatan yang lebih sesama atas tulisan Jawa tadi.
Gambar 1. Contoh tulisan Jawa (corak penulisan akhir abad 20)
Dari gambar 1 dapat dengan nyata dilihat bahwa antara huruf yang satu dengan yang lain praktis selalu menempati posisi yang sama jauhnya. Dengan kata lain, tidak ditemukan adanya tanda atau petunjuk yang memungkinkan kita mengenal manakah deretan huruf yang membentuk sebuah kata ataupun manakah deretan kata yang membentuk sebuah kalimat. Kenyataan inilah yang secara langsung dan mencolok membedakan tulisan Jawa dari tulisan latin. Jikalau dalam tulisan latin kita dapat menangkap arti setiap kata karena dapat mengenali kata demi kata; tidaklah demikian halnya dengan tulisan Jawa. Terhadap sebuah kalimat juga sama saja kejadiannya, yakni tidak mudah dikenali manakah kalimat yang terbentuk oleh deretan kata di tulisan Jawa itu, apalagi kalau yang dimaksudkan dengan sebuah kalimat adalah rangkaian kata yang membangkitkan sebuah arti yang tertentu.
Sebenarnya, terdapat sekurangnya tiga hal yang memperlihatkan perbedaan yang mencolok antara tulisan Jawa dengan tulisan latin.
Pertama, Abjad latin dan abjad Jawa menunjukkan adanya perbedaan yang sangat mendasar. Di samping wujudnya sangat berbeda, juga pelafalan dan penulisannya sangat berbeda. Sebuah huruf dalam abjad latin adalah benar benar sebuah huruf, tidak peduli apakah pembacaannya mengharuskan kita untuk mengucapkan dua huruf. Misalnya saja huruf ‘p’ yang dalam pelafalannya menjadi ‘pé’. Tidak demikianlah halnya dengan abjad Jawa. Pada abjad Jawa, setiap huruf selalu menunjuk pada dua atau tiga huruf latin.
Huruf pertama dalam abjad Jawa, kalau ditulis dengan menggunakan huruf latin adalah
‘ha’ , sedangkan huruf terakhirnya adalah ‘nga’.i
Menyaksikan huruf-huruf Jawa seperti itu, tentu timbul pertanyaan bagaimana kalau mau menulis “akan” atau menulis “itu”? Di sini bahasa Jawa mengatur adanya sejumlah tanda baca dan sejumlah tanda bunyi-baca. Contoh berikut ini mencoba untuk
menjelaskannya.
Tulisan latin: itu akan
[i]
Tulisan Jawa (ditulis latin) [ha][ta] [ha][ka][na][|]
[u]
Kedua, perbedaan lain yang juga cukup bena (significance) adalah medan di mana penulisan dilakukan. Dalam tulisan latin, setiap huruf dijejer dan digandeng dalam satu lajur lurus ke kanan. Praktis tidak dilakukan penulisan di mana sesuatu huruf diberi tambahan atau ditulisi huruf atau tanda baca di atas, di kiri, di kanan dan di bawah sesuatu huruf jawa. Dengan demikian, tindakan menulis dengan menggunakan tulisan latin cukup mudah dilakukan karena selalu segaris saja medan penulisannya. Dalam penulisan Jawa, huruf demi hurufnya bisa dilengkapi dengan huruf atau tanda baca yang diletakkan di keempat penjuru huruf bersangkutan.
Contoh-contoh berikut menunjukkan medan-medan penulisan mana sajakah yang dimanfaatkan dalam penulisan Jawa.
Tulisan latin Tulisan Jawa (dilatinkan) letak medan tulis
Panaraga [pa][na][ra][ga] normal segaris
Pena [é][pe][na] di depan huruf
[e] [i]
Penari [pa][na][ra] di atas huruf
Panah [pa][na][h] di belakang huruf
Panca [pa][nya] di bawah huruf
[ca]
Ketiga, tidak peduli apakah tulisan itu dibuat dengan tangan ataukah dibuat dengan menggunakan alat tulis seperti mesin ketik atau mesin cetak, aturan menulis Jawa
mengatakan bahwa huruf maupun tanda baca yang satu tidak digandengkan dengan huruf yang lain. Aturan ini jelas sekali berbeda dari aturan menulis latin yang dilakukan dengan tangan. Tulisan tangan yang menggunakan huruf latin mengharuskan kita untuk menyambung huruf yang satu dengan yang lain agar dapat menghasilkan sebuah kata.
Dalam hal tulisan latin dibuat dengan mesin ketik atau mesin cetak, masing-masing huruf tidak disambung dengan huruf yang lain, namun agar dapat menjad isebuah kata, tulisan latin mengatur dibuatnya jarak antara kata yang satu dengan kata yang lain.
Artinya, dalam tulisan latin (yang dibuat dengan mesin ketik), jarak antar huruf dan jarak antar kata adalah berbeda. Aturan ini tidak berlaku di tulisan Jawa. Dari contoh di atas menjadi jelas sekali bahwa tulisan tadi samasekali tidak memperlihatkan adanya kata demi kata yang membentuk kalimat maupun petikan. Di tulisan Jawa itu, setiap huruf dan tanda baca ditulis dengan jarak yang selalu sama jauhnya. Antara kata yang satu dengan kata yang lain tidak boleh ada jarak pemisah. Jadi, meskipun bahasa Jawa mengenal adanya kata, tetapi kalau dilihat dari aturan menulis menurut tulisan latin, tulisan Jawa itu tidak menunjukkan adanya perbedaan antara menulis huruf, menulis kata maupun menulis kalimat. Deretan huruf dan tanda baca itu sekaligus adalah kumpulan uhruf dan tanda baca, juga merupakan kumpulan dari sejumlah kata, dan sekaligus kalimat.
Meskipun sudah dilatinkan, tetapi dengan mengikuti aturan penulisan Jawa, dengan melihat ‘iniadalahkarungberas’ saja, keakraban kita dengan aturan tulisan latin sudah memunculkan pertanyaan mengenai keberadaannya sebagai sejumlah kata ataukah
sebuah kata, sebuah kalimat ataukah sebuah kata, atau bahkan bukan kedua-duanya karena hanyalah derertan huruf semata?
Dengan mengikuti pembacaan yang berlaku dalam tulisan Jawa, penulisan latinnya akan menjadi sebagai berikut.
d e w i p a n c a w a t i a d a l a h s a t u p e r m a i s u r i p r a b u b a s u k e s t i ,
Bila tulisan di atas adalah sebuah kalimat atau penggal kalimat, manakah kata-kata yang membentuk kalimatnya? Benar, dalam tulisan Jawa tidak diperlihatkan adanya perbedaan antara sebuah kata dengan sebuah kalimat: sebuah kalimat adalah deretan huruf yang tanpa pembubuhan jarak yang memungkinkan kata yang satu terpisah dari kata yang lain. Dengan demikian, pertama-tama perlulah dipercaya terlebih dulu bahwa yang tersajikan adalah sebuah kalimat atau penggal kalimat. Setelah itu barulah dilakukan penelusuran kata-kata mana sajakah yang membentuk kalimatnya. Tindakan menduga- duga atau memperkirakan mana sajakah kata yang membentuk kalimat menjadi mutlak dilakukan oleh seorang pembaca tulisan Jawa. Bukan mustahil bila seseorang ternyata telah keliru melakukan pengenalan kata, sehingga dia pada akhirnya mengenal kalimat dengan pengertian yang keliru. Agar tidak terpeleset ke dalam kekeliruan arti
keseluruhan kalimat, maka segenap kemungkinan kata yang terdapat di dalam deretan huruf tadi haruslah dibangun oleh seorang pembaca tulisan Jawa. Tetapi, agar dapat mengenali sebuah kata, ada pula tuntutan yang mutlak harus dikuasai oleh seorang pembaca tulisan Jawa, yakni pengenalan dan penguasaan kosakata (vocabulary). Sebagai
sebuah urutan membaca untuk mendapatkan arti dari sebuah kalimat dalam tulisan Jawa, berikut ini adalah langkah-langkah yang harus ditempuh
- meyakini bahwa tulisan yang dihadapi adalah sebuah (penggal-)kalimat - melakukan penjelajahan pencarian kata-kata dengan bekal kekayaan kosakata - melakukan berbagai kemungkinan perangkaian arti kata guna mendapatkan
kemungkinan arti sebuah (penggal-)kalimat
- menetapkan satu pilihan arti kalimat yang terbentuk dari rangkaian arti kata-kata.
Urutan pencarian arti kalimat itu jelas sangat berbeda dari urutan yang terjadi di saat seseorang membaca tulisan latin, yakni
- mendapatkan/memastikan arti dari setiap kata yang terdapat dalam kalimat - melakukan berbagai perangkaian atas kemungkinan arti dari rangkaian arti kata - memastikan arti kalimat dengan memilih satu dari berbagai kemungkinan yang
ada.
Dengan pembandingan itu dapatlah dilihat bahwa dalam membaca tulisan Jawa seseorang akan berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan arti kalimat yang jauh lebih banyak daripada kalau berhadapan dengan tulisan latin.
2. ‘Space bar’ dan ruang
D
alam mesin ketik dan keyboard komputer, ada sebuah tombol yang disebut“space-bar”, yakni sebuah tombol yang gunanya adalah untuk mengetik ‘space’.
Mengingat betapa pentingnya ‘space’ ini, maka digunakan tanda # untuk mewakilinya,
sehingga kalau tulisan biasa terlihat “saya juga” maka dalam membicarakan ‘space’ itu penulisannya akan menjadi “saya#juga”. Sudah barang tentu, dalam hal ini, ‘ruang’ tadi memiliki status yang persis sama dengan setiap huruf, tanda baca maupun bilangan dan simbol-simbil lain di keyboard dan mesin ketik itu. Di sini, mesin ketik dan keyboard ternyata menempatkan ‘ruang’ itu sama dengan setiap tombol yang ada, yakni sebagai sebuah benda. Jadi, mengetikkan sebuah huruf sama persis arti, maksud dan effeknya dengan mengetik sebuah ‘space’. Dengan demikian, keberadaan dari ‘space’ ini tidak lagi sama dengan keberadaan dari space yang terdapat pada tulisan. Pada mesin ketik, kita mengetik huruf dan mengetik space tidak ada bedanya, dan dengan demikian yang dinamakan space dan huruf itu juga sama-sama sebagai tindakan mengetik. Apa artinya, artinya adalah dalam ihwal mengetik itu, kita telah melakukan penulisan yang sama persis dengan kegiatan menulis dalam sistem Jawa, yang berbeda hanyalah kalau dalam sistem Jawa tidak ada tindakan menulis space, dalam mengetik kita bisa menulis space.
Kasus mesin ketik itu dengan jelas memperlihatkan bahwa tombol space memiliki potensi yang dahsyat dalam menjadikan sistem latin dan sistem jawa menjadi berbeda tetapi sekaligus tidak berbeda. Tombol space diberi tugas besar oleh tulisan latin untuk membingkai dan mengurung kata, sekaligsu mengesahkan kehadiran deretan huruf sebagai sebuah kata. Itulah yang membedakan tulisan latin dari tulisan jawa. Akan tetapi, karena dalam menulis dengan mesin ketik, tombol ini sama gunanya dengan tombol- tombol yang lain, maka yang diketikkan itu tidak menempatkan kegiatan menulis adalah kegiatan menempatkan kata yang saling berjejeran, tetapi menulis adalah menekan tombol, adalah membubuhkan benda di atas kertas atau monitor. Bahwa yang ditekan
dan dituliskan adalah space, tidak menjadi masalah. Itu berarti bahwa sebuah kalimat adalah sebuah deretan yang menerus dari hasil ketukan tombol, tidak ada penghentian maupun pemisahan antara huruf/tombol yang satu dengan huruf/tombol yang lain.
Inilah yang menjadikan pengetikan dan penulisan Jawa tidak berbeda satu dari yang lain.
Di depan telah disinggung barang sebentar peran dari tombol ‘space-bar’ di mesin ketik dan keyboard komputer. Memang, meskipun tindakan menekan tombol ‘space-bar’
hanyalah sebuah tindakan menekan tombol tetapi demikian pentingya hasil ketikan ini terhadap apa yang diketikkan. Dengan ketukan atas space bar ini sebuah kata dengan tegas menghadirkan dirinya, sebuah pengertian menjadi terbentuk yakni arti dari kata yang hadir tadi. Dalam kaitan dengan penulisan kalimat, ketukan atas tombol space-bar memberi jalan bagi rangkaian kata itu untuk menyatu diri ke dalam sebuah kesatuan pengertian yang baru yaitu arti dari kalimat yang ditulis itu. Di sini menekan tombol space-bar adalah tindakan yang dengan sadar dan sengaja dilakukan yakni menghadirkan kekosongan, bukan menghadrikan jarak atau sela antara kata yang satu dengan kata yang lain. Oleh karena kekosongan dengan sadar dan sengaja dihadirkan, juga dengan sadar dan sengaja mesin ketik serta keyboard komputer diberi tombol space bar, maka status dari kosong itu tidak boleh dibedakan.dari status tombol-tombol yang lain yaitu:
melakukan re-produksi atas sepenggal kecil pengalaman kita. Di sini `kosong'adalah sebuah obyek yang sama dengan tiap huruf, bilangan dan tanda baca yang terdapat di sebuah tulisan ataupun mesin ketik. Di situ kosong adalah sebuah tanda baca yang samasekali tidak boleh diartikan sebagai sebuah ketidak-ada-an, sebuah ke-lowong-an ataupun sebagai sebuah sela ataupun rongga. Tombol ini adalah sebuah tanda baca yang
mengatakan “saya memisahkan kata yang satu denga kata yang lain; saya merangkaikan kata yang satu dengan kata yang lain; saya memaksa deretan huruf berubah menjadi sebuah satuan pengertian kata dan deretan kata berubah menjadi satu pengertian
kalimat”. Yang kiranya pentig untuk digarisbawahi dari peran besar yang dijalankan oleh
‘kosong’ ini adalah kesederajatan eksistensinya sebagai sebuah obyek riil kebahasaan yang dinyatakan atau menyatakan keberadaan dan kehadiran dirinya sebagai sebuah
‘kosong’.
Sebelum melanjutkan penelusuran atas ‘space bar’ ini dilanjutkan, sebaiknya disampaikan dulu mengenai kegiatan menulis, bukan mengetik yang berkenaan dengan space bar ini.
Di saat kita meulis kata demi kata, penelusuran space bar di atas mengatakan bahwa space bar ini adalah sebuah tanda baca. Bila memang demikian halnya, maka di dalam kegiatan menulis, semestinya juga dapat dikatakan bahwa sewaktu kita menulis, kita juga menulis ‘kosong’ itu. Dengan menuliskan ‘kosong’ itu berarti bahwa kita bukannya pindah dari menulis sebuah kata ke sebuah kata yang lain, tetapi kita menulis walaupun yang ditulis adalah tidak menuliskan apa-apa. Ini kelihatan ganjil, tetapi menjadi sangat wajar dan dimengerti sepenuhnya kalau dikaitkan dengan pengertian arsitektural tentang
‘ruang’-arsitektur. Dalam dunia arsitektur, sebuah ruang arsitektur adalah sebuah kekosongan yang diyakini bukan sebagai ketiadaan tetapi sebagai sebuah ke-ada-an: ada tapi tak nampak. Dengan demikian, dengan menekan tombol space bar atau menulis ‘ ‘ [kosong] ini, kita memberi pengakuan bahwa kosong itu ada, dan juga, ada itu dapat hadir sebagai tidak ada apa-apa. Pengakuan seperti inilah yang menjadikan ruang sebagai sebuah kekosongan adalah sebuah obyek, sebuah benda yang maya (abstract object -
abstract dalam arti tak nampak, bukan dalam arti (ter)saripati). Seterusnya, dengan menulis ‘ ‘ itu, sebenar-benarnya kita juga mengakui bahwa antara menulis dan membaca adalah dua hal yang sangat berbeda dan tak boleh dicampuradukkan.
Bagaimanakah peninjauan kita atas ‘kosong’ yang ada di antara kata-kata yang
tertuliskan? Melalui adanya ‘kosong’ antara kata-kata itulah kita memiliki kemampuan untuk membaca dalam arti menangkap arti dari yang dibaca. ‘Benda’ yang berupa
‘kosong’ itu tidak hanya menjadikan deretan huruf berubah menjadi kata, tetapi juga mengubah deretan kata menjadi sebuah kalimat. Tidak itu saja, seperti telah berkali-kali dikatakan, dengan benda yang ‘kosong’ ini pulalah arti dan makna dari kata serta dari kalimat menjadi tertangkap oleh pengalaman kita. Benda ‘kosong’ ini pulalah yang ikut membingkai keluasan pengalaman kita khususnya dalam hal melakukan pendugaan dan penafsiran. Membaca adalah mengakui fungsi dan guna dari ‘kosong’ sebagai sebuah kemandirian. Pengakuan ini menjadikan ketidakpastian melenyap karena ‘kosong’ telah mengubah deretan huruf menjadi kata dan deretan kata menjadi kalimat. Penjelajahan lebih lanjut akan dicoba untuk dipertajam dengan menghadirkan kembali petikan yang telah ditangani di depan.
“dewipancawatiadalahsalahsatupermaisuriprabubasukesti,darikerajaanwirata”
“Dewi Pancawati adalah salah satu permaisuri Prabu Basukesti, dari kerajaan Wirata”
Dikuasai (dibingkai) oleh aturan tulis dan baca latin, maka dua contoh di atas membuat kita untuk mendapatkan arti kalimat dari contoh bawah, bukan dari yang atas.
Kemampuan ini sepenuhnya dimungkinkan karena di contoh kedua kita menjumpai
adanya ‘kosong’ di antara setiap kata yang satu dengan kata yang lain.
Kosong antara satu kata dengan kata lain dari penulisan latin mengindikasikan
pengakuan akan keberadaan ruang. Kosong ini adalah rupa atau wujud ruang dari jagad penulisan latin. Dalam tulisan Jawa, keberadaan dari kosong itu tidak diperlihatkan melalui tulisannya, melainkan dibiarkan berada di dalam proses penafsiran tulisan- kalimat Jawa.
Keberadaan ruang menjadi berbeda dalam penanganannya, dan dengan demikian bukan mustahil bila pandangan dan pikiran dasar atas ruang juga menjadi berbeda.
Ruang itu sebuah kekosongan, ketiadaan [dalam pengertian sebagai sebuah sesuatu yang nyata namun tidak nampak] ataukah sebuah kelowongan juga secara mendasar akan memberi corak tersendiri bagi pemahaman ruang arsitektur.
Kosong yang ada dalam tulisan latin itu apakah memisahkan kata yang satu dengan kata yang lain, ataukah menjadi perangkai dari kata yang satu dengan kata yang lain demi hadirnya sebuah kalimat? Ataukah, merupakan kebutuhan dari setiap kata untuk menyatakan dirinya sebagai sebuah kata? Rangkaian pertanyaan ini membuat ihwal kosong dan kata menunjuk pada pertalian yang tertentu. Di dalam konteks kalimat dan paragraf, keberadaan dari rongak sangatlah mungkin untuk menjadi salah satu atau bahkan keseluruhan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan tadi. Yang pasti, kosong menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari kata, meskipun bukan bagian dari kata, bila mereka itu berada dalam satu buah kalimat. Kita tak mempersoalkan siapakah yang telebih dulu ada, karena bisa saja keduanya adalah kehadiran yang bersama-sama. Tentu,
sekali lagi, di sini kata dan rongak ditinjau dari konteks kalimat sebagai rangkaian kata.
Sekarang, apabila kosong itu diganti dengan ‘ruang’ sedangkan kata diganti dengan
‘bentuk’, maka melalui tulisan latin kita secara indrawi akan dapaat menyaksikan bahwa ruang dan bentuk dapat saja dikatakan sebagai ruang mendahului bentuk dalam
kehadiran sebuah arsitektur (baca: arsitektur), dapat sama-sama ada bersamaan, hanya kesempatannya untuk muncul dan terlihat sajalah yang menempatkan bentuk itu ada terlebih dulu, baru ruangnya. Di sini ruang menjadi pemisah, perangkai atau petanda (signifier) bagi bentuk (signified)? Pembicaraan menjadi harus demikian berkepanjangan, dan oleh karena itu baiklah dibiarkan saja kajian tentang ruang-bentuk itu. Yang pasti, dengan tulisan Jawa yang tidak memunculkan kosong pada penyusunan kalimatnya, reaksi pertama yang sangat wajar adalah “karena tak ada kosongnya, maka tulisan Jawa tidak dapat menjadi tulisan yang merupakan rangkaian kata dan kalimat. Kalau sudah demikian, apakah pertanyaan-pertanyaan ang berkenaan dengan ruang/rongak menjadi gayut (relevan). Satu hal, dapat dipastikan bahwa konsepsi filosofi maupun kajian-kajian yang berkenaan dengan arsitektur Jawa praktis tak pernah memberi perhatian atas berbagai karya tulis beraksara jawa yang ada. <bisa saja dilontarkan argumen: tak bisa baca dan tulis aksara Jawa, tetapi argumen itu sebaiknya lalu diikuti pula konsekuensinya yakni: temuan dari kajian yang dilakukan bukanlah asali atau murni Jawa>
3. Status: ruang, rongga, sela atau apa?
D
alam tulisan latin keterpisahan antara kata yang satu dengan yang lainditunjukkan oleh dihadirkannya kekosongan yang dapat saja dikatakan sebagai