• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aset Tak Berwujud (Intangible Asset)

Dalam dokumen MANAJEMEN STRATEGI.pdf - Palu (Halaman 98-103)

Aset tak berwujud ( intangible asset ) merupakan suatu asset yang dapa terlihat dan dapat kita rasakan serta asset ini dapat menghasilkan untuk perusahaan. sumber daya terwujud minsalnya merek, reputasi perusahaan, moral organisasi, pemahaman teknik, paten dan merek dagang, serta akumulasi pengalaman dalam organisasi meski bukanlah aset yang dapat disentul atau dilihat, aset-aset ini sering kali penting dalam menciptakan keunggulan kompetitif. Kapanilitas organisasi (organizational capabilities ) bukan merupakan input khusus seperti aset berwujud atau tidak berwujud, melainkan keahlian kapabilitas dan cara untuk menggabungkan aset, tenaga

Teori RBV Sumber daya

Internal

Aset Tanwujud (Intangible

Asset)

Kriteria VRIN SCA Performance

93

kerja dan proses yang digunakan oleh suatu perusahaan untuk mengubah input menjadi output.

Menurut Bank Dunia, perubahan dari masyarakat informasi (information society) menjadi era knowledge terjadi dengan sangat cepat, powerful,l dan nyata (real).

Knowledge adalah bentuk primer dari capital. Tanpa knowledge, uang hanya selembar kertas yang hampir tidak ada nilainya. Mesin hanya seonggok besi dan gedung hanyalah tembok batu bata dan sekumpulan material bahan bangunan. Knowledge memberikan “kehidupan” dan makna pada semua itu sehingga mempunyai nilai dan berguna bagi manusia.

Mengacu pada Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mengklasifikasikan knowledge menjadi empat tipe: know-what, know-why, know-how, dan know-who (Lee & Gibson, 2002). Pengetahuan adalah suatu konsep yang lebih luas daripada informasi. Informasi umumnya hanya berkaitan dengan komponen know- what dan know-why. Dua tipe lain yaitu know-how dan know-who merupakan tacid knowledge yang diperoleh dari pengalaman yang sulit untuk dikodifikasikan, diukur, dan disebarkan.Lebih jelasnya diuraikan sebagai berikut:

1. Know-whatmerujuk pada knowledge tentang fakta yang menjawab pertanyaan- pertanyaan yang relatif sederhana. Sebagai contoh : “Berapa banyak karyawan diperusahaan ini? Berapa total penjualan perusahaan ini tahun 2006?” Know what lebih dekat dengan apa yang disebut dengan informasi. Untuk yang berkenaan dengan sesuatu yang rumit, seseorang harus memiliki know-how yang lebih spesifik.

2. Know-whymerujuk pada scientific knowledge dari principle and lows of nature.

Aplikasi knowledge jenis ini terutama pada pengembangan teknologi, produk atau proses pada area industri atau organisasi yang spesifik seperti riset di laboratorium.

Untuk memperoleh akses pada knowledge tipe ini, perusahaan harus berinteraksi atau mempekerjakan spesialis yang terlatih baik atau perusahaan membeli pengetahuan tertentu.

94

3. Know-how merujuk pada skill atau kapabilitas dalam melakukan sesuatu. Know- how adalah tipikal knowledge yang dikembangkan berdasarkan pengalaman seseorang atau perusahaan secara spesifik. Know-how sulit untuk dikodifikasikan dan ditiru oleh pesaing karena menyatu pada individu dan perusahaan.

4. Know-whomerujuk pada informasi siapa tahu apa (who knows what) dan siapa tahu bagaimana melakukan apa (who knows to do what). Know-who sangat penting dalam ekonomi.Informasi terdispersi secara luas dan tidak seimbang karena pembagian kerja yang luas dan adanya perubahan (dan pengembangan) teknologi yang cepat.

Menurut Grant (2000), dikutip dari Purnomosidhi (2006), ekonomi pengetahuan memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut :

1. Lebih difokuskan pada sumber daya intangible daripada tangible 2. Memiliki lingkungan bisnis yang sangat kompetitif

3. Bersifat digital, virtual, serta banyak memanfaatkan jaringan (network) Karakteristik diatas salah satunya menjadi dasar bahwa Intangible asset sangat penting untuk meraih keunggulan bersaing. Selanjutnya Andriessen et al. (2000) menyatakan bahwa core competence hampir selalu terdiri dari kombinasi dari harta tak berwujud (intangible asset), seperti pengetahuan tertentu dan keahlian dengan baik pada budaya tertentu. Andriessen mengartikan core kompetensis sebagai rangkaian unik intangible asset.

Istilah intangible Asset menurut buku “Pengindonesian Kata dan Bahasa Asing (2003:108)” diartikan sebagai “Aset Tanjuwud”. Pada Kamus The Contemporery English – Indonesian (1996:1009), Intangible Asset pada istilah akuntansi diartikan sebagai aktiva tak berwujud atau aktiva tak kelihatan.Pada saat ini, perusahaan berusaha menjadi lebih efektif untuk berkompetisi dengan berinvestasi pada inovasi yang berkelanjutan, berhubungan dengan Riset dan Pengembangan (R&D), pelatihan staf, mencari informasi tehnologi baru, terus menerus beradaptasi dengan pasar dengan persyaratan pelanggan. Hal ini merupakan pengeluaran-pengeluaran spesifik dan kegiatan yang menciptakan intangible asset, mewakili dasar untuk keefektifan dari

95

pelanggan dan merupakan keunggulan kompetitif perusahaan. Perubahan perspektif tangible keperspektif intangible (pada Gambar 2.8) harus mengembangkan konsep baru untuk manajemen perusahaan yang menjadi penggerak nilai baru dari sumber daya intangible dan menyoroti kinerja perusahaan saat ini dalam menciptaakan nilai tambah (value added) dari penciptaan sistem nilai perusahaan (Daum, 2005).

Gambar 4. 3 PerubahanPerspektif Tangible keperspektif Intangible

Sumber : (Daum, 2005)

Perspektif intelectual capital (modal intelektual) pada awalnya dikembangkan sebagai kerangka kerja untuk analisis kontribusi nilai intangible asset yang ada dalam organisasi yang dipublikasikan oleh (Roos & Roos, 1997) yang mengklasifikasikan intellectual capital terdiri dari human capital, organization capital, relationship, dan customer capital. Human capital terdiri dari knowledge capital, skill capital,

96

motivation capital dan task capital. Organisational capital terdiri dari business process capital,dan business & development capital. Customer & relationship capital terdiri dari customer relationship capital, supplier relationship capial, network partener relationship capital,dan investor relationship capital.

Kemudian (Stewart, 1997) mendefinisikan modal intelektual sebagai bahan intelektual yang telah dibakukan, ditangkap, dan leverage untuk menciptakan kekayaan dengan memproduksi suatu aset bernilai lebih tinggi. Selanjutnya (Lev, 2001) mendefinisikan aset nirlaba sebagai “assets are claims to future benefits, such as the rents generated by commercial property, interest payment derived from a bond, and cash flow from production facility”. Sedangkan aktiva memenuhi kriteria accounting rationale, keahlian dan kompetensi intangible termasuk keterampilan tertentu karyawan, langganan, pelanggan, dan budaya organisasi (Leitner, 2010).

Menurut Choo & Bontis (2002:622) Intellectual capital merupakan sumber daya organisasi yang terdiri dari human capital, structural capital,dan relational capital. Human capital didefinisikan pada level individu sebagai kombinasi dari empat faktor yaitu: (1) your genetic inheritance, (2) your education, (3) Your experience, dan(4) Your attitudes about your life and business.Structural capital merupakan konstruk mekanisme dan struktur dari organisasi yang dapat membantu pekerja untuk mengunakan kemampuan intelektualnya mencapai kinerja bisnis. Relational capital direpresentasikan sebagai sumber potensial intangible organisasi yang berada diluar organisasi (ex-firm), intangible termasuk pengetahuan tentang customer, suppliers, government, atau asosiasi industri yang terkait.

Intangible asset (Daum, 2005) merupakan sumber material (bukan aset keuangan/modal keuangan atau sumber daya fisik seperti aktiva tetap). Intangible asset sebagai faktor produksi, memainkan peranan penting dalam proses penciptaan nilai suatu perusahaan dan yang memungkinkan untuk bersaing dengan sukses. Intangible asset (aset tanwujud) biasanya dibagi ke dalam kategori utama sebagai berikut:

97

Human capital: Employees’ individual professional expertise and skills, social skills, entrepreneurial engagement, ability to innovate and respond to changes

Relationship capital: Customer capital (brands, customer relationships, relationships with marketing and distribution partners etc.), other business partner capital (supplier relationships/supplier network, contract manufacturers etc.), and important stakeholders (such as environmental pressure groups in the oil industry)

Structural capital: Business infrastructure/processes, working methods, information systems, databases, intellectual property (patents, copyrights, trademarks), organizational design, location advantages, corporate culture.

Menurut Lev (2001) penggunaan terminalogi, Intangible Asset, Intelectual Capital,dan Knowledge Assets saling menggantikan (interchangeable). Ketiganya digunakan secara luas: Intangible dalam literatur akuntansi, knowledge digunakan oleh ekonom, dan intellectual capital digunakan oleh manajemen dan literatur hukum.

Menurut (Daum, 2005) mengintegrasikan konsep “intangible asset” (terutama didunia akuntansi) dan “intellectual capital” (dunia knowledge management dan berdasarkan perspektif dinamis perusahaan). Perspektif tersebut merujuk pada esensi yang sama : a nonphysical claim to future benefits.Penelitian ini menggunakan istilah “intangible asset” dengan alasan grand theory diperoleh dari teori RBV yang merupakan penjabaran ilmu dari manajemen strategi.

Dalam dokumen MANAJEMEN STRATEGI.pdf - Palu (Halaman 98-103)