Strategi sudah menjadi istilah yang sering digunakan oleh masyarakat untuk menggambarkan berbagai makna seperti suatu rencana, taktik atau cara untuk
65
mencapai apa yang diinginkan. Didalam strategi yang baik terdapat koordinasi tim kerja, memiliki tema, mengidentifikasi faktor pendukung yang sesuai dengan prinsip- prinsip pelaksanaan gagasan secara rasional, efisien dalam pendanaan dan memiliki taktik untuk mencapai tujuan secara efektif. Jadi perencanaan strategis penting untuk memperoleh keunggulan bersaing dan memiliki produk yang sesuai dengan keinginan konsumen dengan dukungan yang optimal dari sumber daya yang ada.
Strategi dan Daya saing Menurut kamus besar bahasa indonesia (KBBI), strategi diartikan sebagai ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam perang dan damai. Sedangkan beberapa pengertian lain mengenai daya saing, yaitu:
a) Menurut Council of Competitiveness, Washington DC, pada tahun 2006, daya saing adalah kapasitas bangsa untuk menghadapi tantangan persaingan pasar internasional dan tetap menjaga atau meningkatkan pendapatan riil-nya.
b) Menurut European Commission pada tahun 1999, daya saing diartikan sebagai kemampuan menghasilkan produk barang dan jasa yang memenuhi pengujian internasional, dan dalam saat bersamaan juga dapat memelihara tingkat pendapatan yang tinggi dan berkelanjutan, atau kemampuan daerah menghasilkan tingkat pendapatan dan kesempatan kerja yang tinggi dengan tetap terbuka terhadap persaingan eksternal.
Peningkatan Daya Saing UMKM Permasalahan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia pada umunya relatif sama. Namun penentuan strategi untuk peningkatan daya saing, tetap harus meneliti UMKM secara detail dan berkesinambungan agar tercipta suatu solusi dalam memenangkan persaingan yang ada. Oleh karena itu ada beberapa langkah yang bisa ditawarkan, agar UMKM bisa menjaga dan memenangkan persaingan, yaitu:
1. Konsisten menjaga kualitas produk.
2. Tambahkan daya saing UMKM melalui packaging produk yang menarik.
3. Berani bersaing dari segi harga.
66 4. Menjaga loyalitas konsumen.
UMKM perlu menggunakan strategi pengelolaan pengetahuan untuk meningkatakan daya saing dengan menerapkan IRSA ( identity, reflect, share and apply ) ( Setiarso, 2006) adalah sebagai berikut:
1. Identifikasi : knowledge assets yang ada di suatu perusahaan diidentifikasi sebagai berikut kebanyakan berada di memori staff atau bersifat tacit, pengalaman, kreativitas staff, catatan-catatan, dokumen, manual, laporan, hasil penelitian perlu diinventaris dengan baik dan dibuat knowledge mapping.
2. Reflect : merubah tacit ke explicit knowledge agar dapat dengan mudah di bagi atau share dengan karyawan yang lain, inventarisasi apa yang sudah menjadi best practices, membuat manual atau dokumentasi yang baik sehingga mudah dipahami oleh orang lain, membuat analisis apakah ada gap antara knowledge yang sudah diinventarisasi dengan knowledge yang dibutuhkan.
3. Hasil dari refleksi berupa: kumpulan dari best practice description di setiap fungsi organisasi (ingat ISO 9002), saran-saran perbaikan, index dari informasi yang ada, serta hasil analisa gap berupa program atau kegiatan knowledge sharing untuk menutup knowledge gap.
4. Share dan Application : terdapat sistem atau mekanisme sehingga staf dapat mengakses knowledge based-systems yang tersedia, diciptakan group-group diskusi, kelompok kerja atau bentuk workshop yang sistematis dan berkesinambungan, budaya belajar sepanjang masa perlu disosialisasikan dan diterapkan, kemudian aplikasi knowledge assets untuk meningkatkan kinerja perusahaan perlu dibentuk dan dibuat sistem berbasis pengetahuan (knowledge basedsystems), kinerja intangible assets terus ditingkatkan dan disosialisasikan secara periodik, dan adanya audit system knowledge –performance.
67
Sejumlah faktor diperlukan untuk kesuksesan penerapan strategi KM di perusahaan adalah sebagai berikut :
1. scanning mengenai lingkungan perusahaan;
2. kondisi dan praktek bisnis, apakah perusahaan melakukan pengumpulan informasi dan pengetahuan mengenai kondisi dan praktek bisnis di luar perusahaan;
3. operasional pesaingnya, apakah perusahaan memahami cara kerja atau operasional internal perusahaan dibandingkan dengan pesaingnya;
4. memasukkan knowledge sebagai aset;
5. budaya perusahaan yang berdasarkan knowledge, seperti coorporate culture perlu diciptakan agar inovasi menjadi membudaya di perusahaan;
6. perusahaan menghadapi kenyataan bahwa mereka membutuhkan pengelolaan dari aset knowledge untuk investasi yang penting berupa : tenaga kerja, jaringan dan sistem informasi dan pengetahuan.
2.4 Kinerja UMKM
Kinerja UMKM sekarang ini dengan Negara jauh lebih rendah dibandingkan Negara lain, adapun Salah satu penyebab kinerja UMKM di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan kinerja UMKM di Negara-negara maju, adalah masih rendahnya pengembangan atau penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh UMKM di Indonesia. Padahal, di era perdagangan bebas dan globalisasi perekonomian dunia, iptek bersama dengan SDM merupakan dua faktor dominan dalam menentukan tingkat daya saing dari suatu produk atau perusahaan.UMKM yang bisa survive baik di pasar domestik dan global adalah UMKM yang efisien dan menghasilkan prduk-produk berkualitas tinggi. SDM dan Iptek merupakan dua komponen yang tidak bisa dipisahkan, dimana SDM sangat dibutuhkan untuk pengembangan pengetahuan atau penyerapan teknologi artinya agar UMKM bisa mengembangkan teknologi sendiri dalam hal harus ada keterampilan dan kemampuan tenaga kerja dan pengusaha UMKM untuk menyerap pengetahuan dan teknologi. Menurut ( Setiarso, 2006) catatan dari
68
Deperindag, permasalahan dalam penerapan/pengembangan iptek di UMKM dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yakni masalahmasalah internal (yang dapat dipengaruhi oleh pengusaha) dan masalah-masalah eksternal bagi pengusaha adalah given).
Masalah-masalah internal antara lain adalah :
1. kesadaran dan kemauan pengusaha untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna di perusahaan masih sangat terbatas,
2. keterbatasan modal untuk melakukan perbaikan/peningkatan teknologi, 3. kurangnya kemampuan pengusaha untuk memanfaatkan peluang usaha, 4. lemahnya akses dan terbatasnya informasi tentang sumber teknologi dan
pengetahuan tertentu.
Sedangkan masalah-masalah eksternal adalah sebagai berikut:
1. Sebagian besar hasil litbang yang ada hingga saat ini bukan yang diperlukan oleh UMKM,
2. proses alih teknologi kepada UMKM belum optimal, antara lain keterbatasan tenaga pendamping di lapangan,
3. publikasi hasil-hasil litbang masih terbatas dan penyebarannya belum menjangkau UMKM di seluruh wilayah,
4. skim pembiayaan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk pembelian mesin-mesin baru untuk UMKM masih terbatas misalnya sistem leasing dan sewa beli mesin/peralatan di satu pihak masih terbatas, dan dipihak lain belum banyak dimanfaatkan oleh UMKM karena tidak kompetitif.