104
105
luas. Organisasi-organisasi sosial, lembaga-lembaga keagamaan, dan lembaga keluarga yang secara tradisional merupakan lembaga alamiah yang dapat memberikan dukungan dan bantuan informal, pemecahan masalah dan pemenuhan kebutuhan para anggotanya, cenderung semakin melemah perannya. Oleh karena itu, seringkali sistem ekonomi yang diwujudkan dalam berbagai bentuk pembangunan proyek-proyek fisik, selain mampu meningkatkan kualitas hidup sekelompok orang, tidak jarang malah memarjinalkan kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat.
Dalam literatur pelayanan kemanusiaan (human services), definisi pemberdayaan memiliki beberapa dimensi, yaitu;
1. Proses pengembangan yang dimulai dengan pertumbuhan setiap individu melalui pengetahuan dan puncaknya adalah perubahan sosial yang lebih besar.
2. Suatu keadaan psikologis yang ditandai oleh adanya peningkatan perasaan self-esteem, eficacy, dan kontrol.
3. Pembebasan yang dihasilkan oleh gerakan sosial, yang dimulai dari pendidikan dan politisasi ketidakberdayaan masyarakat, kemudian melibatkan upaya-upaya kolektif dari ketidak berdayaan untuk memeroleh kekuasaan dan merubah struktur yang masih opresif.
Sedang pelaksanaan proses dan pencapaian tujuan pemberdayaan dilakukan dan dicapai melalui penerapan strategi pemberdayaan. Pemberdayaan dapat dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu;
1. Pendekatan mikro. Pemberdayaan dilakukan terhadap individu melalui bimbingan, konseling, stress managemet, intervensi krisis. Tujuan utamanya adalah membimbing atau melatih individu dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya. Model ini sering disebut pendekatan yang berpusat pada tugas (task centered approach).
2. Pendekatan mezzo. Pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan kelompok sebagai media intervensi. Pendidikan dan pelatihan, dinamika kelompok, biasanya digunakan sebagai strategi dalam meningkatkan kesadaran,
106
pengetahuan, keterampilan, dan sikap individu agar memiliki kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
3. Pendekatan makro. Pendekatan ini disebut strategi sistem besar (large-system strategy), karena sasaran perubahan diarahkan pada sistem lingkungan yang lebih luas seperti perumusan kebijakan, perencanaan sosial, kampanye, aksi sosial, lobi, pengorganisasian dan pengembangan masyarakat, merupakan beberapa strategi dalam pendekatan ini.
Tulisan ini lebih menyoroti strategi pemberdayaan melalui pendekatan makro- struktural. Hal ini didasarkan pada beberapa pengalaman bahwa upaya pemberdayaan melalui pendekatan mikro dan mezzo telah banyak dijalankan, tetapi hasilnya tidak cukup efektif karena terkendala oleh hambatan-hambatan struktural yang bersumber dari kebijakan pemerintah yang kurang membuka akses bagi masyarakat bawah untuk menjangkau sumber-sumber penting yang mendukung tercapainya mobilitas sosial vertikal secara adil, misalnya, kesempatan untuk mendapatkan posisi dalam kekuasaan, mendapatkan pelayanan publik di bidang kesehatan, pendidikan, dan sebagainya, yang berkualitas terpusat di kota-kota besar dan hanya bisa dijangkau oleh warga masyarakat tertentu. Sementara, masyarakat kelas bawah, penyandang cacat, kaum perempuan, dan masyarakat pedesaan secara umum kurang terfasilitasi.
Pemberdayaan dan Pemerataan Kesempatan
Pemberdayaan meliputi akses terhadap sumber-sumber dan kapasitas untuk menggunakan sumber-sumber tersebut dalam suatu cara yang efektif. Akses terhadap sumber-sumber tersebut hanya bisa terlaksana jika tersedia kesempatan yang sama bagi setiap orang dan sekaligus mencerminkan terwujudnya prinsip keadilan sosial sebagai salah satu landasan utama pembangunan nasional. Dengan demikian, untuk memercepat perwujudan upaya pemberdayaan komunitas diperlukan suatu mekanisme pengaturan (kebijakan) yang adil, yang memungkinkan semua orang memiliki kesempatan sama (equality of opportunity) terhadap sumber-sumber (resources) yang menjadi hajat hidup warga negara Indonesia (Munandar, 2008).
107
Semangat penciptaan pemerataan kesempatan yang merupakan salah satu indikator pembangunan yang berkeadilan sosial sebenarnya secara normatif telah dinyatakan dalam beberapa pasal atau ayat Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen yang merupakan landasan konstitusional Negara Indonesia, misalnya, pasal 27 ayat 2 ”Tiap- tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.” Pasal 28H ayat 2 ”Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memeroleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.” Pasal 31 ayat 1 ”Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”, ayat 2 ”Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.” Pasal 34 ayat 2 ”Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan”, ayat 3 ”Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak” dan masih banyak pasal-pasal lainnya dalam UUD 1945 yang merupakan hasil amandemen yang mengarah ke perbaikan hidup dan kehidupan bangsa. Ini berarti, secara konseptual dan moral, pemerintah Orde Reformasi cukup peduli terhadap kepentingan seluruh warga negara
Tetapi dalam pelaksanaannya, semangat membangun persamaan dan keadilan sosial itu tidak disertai dengan mekanisme kebijakan yang mengatur agar hak-hak warga negara dalam berbagai bidang kehidupan tersebut bisa terwujud secara merata dan berkeadilan sosial. Justru yang terjadi adalah persaingan bebas gaya liberal, yaitu warga negara yang kuat menjadi pemenang dan mendapat hak-hak isitimewa melebihi warga negara yang lemah.
Sampai saat ini, untuk mendapatkan hak-hak di bidang pendidikan, pekerjaan, kesehatan, politik, perumahan, dan aspek-aspek kesejahteraan rakyat secara umum sebagai variabel yang memberikan penguatan bagi terwujudnya masyarakat yang berdaya (powefull), diserahkan pada mekanisme pasar. Sementara itu, pemerintah berdiri sebagai wasit yang seringkali lebih berpihak pada yang kuat dan mengabaikan hak-hak yang lemah. Kenyataannya dapat dilihat pada Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 dan
108
Pasal 5 Undang-Undang Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa ”Setiap warga negara memunyai hak yang sama untuk memeroleh pendidikan.” Undang-undang ini hanya membahas hak warga negara yang secara ideal memang sama. Tetapi dalam realitas, peluang sosial-ekonomi untuk mendapatkan pendidikan, terutama sekolah favorit berbeda satu sama lain, tergantung dari status sosial ekonomi seseorang atau keluarganya.
Dalam berbagai bidang kehidupan seperti ekonomi, politik, pelayanan kesehatan, dan pelayanan publik lainnya, masyarakat harus bersaing secara bebas tanpa adanya pengaturan terhadap perbedaan mendasar yang secara nyata terjadi pada pihak- pihak yang terlibat (kompetitor). Tentu saja persaingan gaya liberal semacam ini akan menghasilkan para pemenang yang kuat. Sementara itu, pemerintah hanya menjadi pengawas jalannya pertandingan dan belum ada upaya yang berarti untuk membuat suatu mekanisme pengaturan, agar persaingan tersebut berjalan secara sehat dan adil sehingga tujuan pemberdayaan dan pemerataan kesempatan bagi seluruh warga negara bisa dicapai secara efektif.