• Tidak ada hasil yang ditemukan

Beberapa Varian Hermeneutika

Dalam dokumen KIAT SUKSES SEORANG ENTREPRENEUR - SIMAKIP (Halaman 124-129)

BAB II KAJIAN TEORITIK

2.8. Pendekatan Hermeneutik

2.8.4. Beberapa Varian Hermeneutika

Bahasa sebagai unsur fundamental dalam hermeneutika. Sebab, analisis suatu fakta dilakukan melalui hubungan simbol-simbol dan simbol-simbol tersebut sebagai simbol dari fakta.

f. Paul Ricoeur

Teks adalah otonom atau berdiri sendiri dan tidak bergantung pada maksud pengarang. Otonomi teks ada tiga macam sebagai berikut : a. Intensi atau maksud pengarang.

b. Situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks.

c. Untuk siapa teks dimaksud.

Tugas hermeneutika mengarahkan perhatiannya kepada makna objektif dari teks itu sendiri, terlepas dari maksud subjektif pengarang ataupun orang lain. Interpretasi dianggap telah berhasil mencapai tujuannya jika ”dunia teks” dan ” dunia interpreter” telah berbaur menjadi satu.

g. Jacques Derrida

Dalam filsafat bahasa – dalam kaitan dengan hermeneutika, membedakan antara ”tanda” dan ”simbol”. Setiap tanda bersifat arbitrer.

Bahasa menurut kodratnya adalah ”tulis”Objek timbul dalam jaringan tanda, dan jaringan atau rajutan tanda ini disebut ”teks”. Segala sesuatu yang ada selalui ditandai dengan tekstualitas. Tidak ada makna yang melebihi teks. Makna senantiasa tertenun dalam teks.

pemahaman psikologis terhadap pengarang – dikembangkan menjadi intuitive understanding yang operasionalisasi merupakan rekonstruksi – merekonstruksi pikiran pengarang.

 Tujuan pemahaman lebih merupakan makna yang muncul dalam pandangan pengarang yang telah direkonstruksi.

 Tidak hanya melibatkan pemahaman konteks kesejarahan dan budaya pengarang tetapi juga pemahaman terhadap subjektivitas pengarang.

 Ada lima unsur dalam pemahaman penafsir, teks, maksud pengarang, konteks historis dan konteks kultural.Hasil interpretasi akan lebih baik jika penafsir mengatahui latar belakang sejarah pengarang teks.

Bagan Hermeneutika Romantisme

Konteksi Historis

Penafsir Teks Maksud

Pengarang

Konteks Kultural

b).

Hermeneutika Metodis

 Tokoh Wilhem DiltheyManusia sebagai makhluk eksestensial.

 Manusia adalah makhluk yang memahami dan menafsirkan dalam setiap aspek kehidupan.

 Makna teks harus ditelusuri dari subjek tif pengarangnya.

 Merupakan metode pemahaman – interpretative methode.

 Hermeneutika adalah teknik memahami ekspresi tentang kehidupan yang tersusun dalam bentuk tulisan.

 Hermeneutika historis.

c).

Hermeneutika Fenomologis

 Tokoh Edmund Husserl.

 Pengetahuan dunia objektif bersifat tidak pasti.

 Proses pemikiran harus kembali pada data, bukan pada pemikiran, yakni pada halnya sendiri harus menanmpakan diri.

 Pengetahuan sejati adalah kehadiran data dalam kesadaran budi, bukan rekayasa pikiran untuk membentuk teori.

 Membebaskan diri dari prasangka, yakni membiarkan teks berbicara sendiri.

 Teks merefleksikan kerangka mentalnya sendiri dan penafsir harus netral dan menjauhkan diri dari unsur-unsur subjektifnya atas objek.

 Menafsirkan teks berarti secara metodologis mengisolasi teks dari semua hal yang tak ada hubungannya – termasuk bias –bias subjek penafsir dan membiarkannnya mengkomunikasikan maknanya sendiri pada subjek.

 Ada tiga langkah yang harus dilakukan :

1. Reduksi fenomologis, dengan menempatkan dunia dalam tanda kurung.

2. Reduksi eiditik yang dikerjakan dengan memusatkan perhatian dan pengamatan pada esensi sesuatu yang coba dipahami.

3. Rekonstruksi dengan menghubungkan hasil reduksi fenomologis dengan hasil reduksi eidetik.

d).

Hermeneutika Dialektis

 Dengan eksemplar Martin Heidegger.

 Prasangka historis atas objek merupakan sumber pemahaman, karena prasangka adalah bagian dari eksistensi yang harus dipahami.

 Pemahaman adalah sesuatu yang muncul dan sudah ada mendahului kognisi.

 Keragaman makna dan dinamika eksistensial.

 Memahami teks yang sama secara baru dengan makna baru.

e).

Hermeneutika Dialogis

 Dengan eksemplar Hans-Georg Gadamer.

 Pemahaman dimuai dengan pra-penilaian – pre-judgement.

 Pemahaman yang benar adalah pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis.

 Kebenaran dapat dicapai melalui dialektika dengan mengajukan beberapa pertanyaan.

 Bahasa menjadi medium penting bagi terjadinya dialog.

 Pembangkitan kembali makna teks.

 Proses pemahaman adalah proses peleburan horizon-horizon.

f).

Hermeneutika Kritis

 Dengan tokoh Jurgen Habermas.

 Merupakan teori kritis, menemukan kesalahan dan kekurangan pada kondisi yang ada.

 Mempertautkan antara beragam domain realitas, antara partikular dan universal, antara kulit dan isi dan antara teori dan praktek.

 Pemahaman didahului kepentingan, kepentingan sosial dan kepentingan kekuasaan.

 Merupakan refleksi kritis penafsir.

 Penafsir mengambil jarak atau melangkah keluar dari tradisi dan prasangka.

 Setiap penafsiran dipastikan ada bias-bias dan unsur-unsur kepentingan politik, ekonomi, sosial termasuk bias strata kelas, suku dan gender.

g).

Hermeneutika Integrasi Dialektis

 Integrasi daliketis antara penjelasan – explanatory dan pemahaman – understanding.

 Merupakan perbedaan fundamental antara paradigma interpretasi teks tertulis dan wacana – discourse dan percakapan – dialogue.

 Berbagai interpretasi yang dapat diterima menjadi mungkin.

h).

Hermeneutika Dekonstruksionis

 Dengan eksemplar Jacques Derrida.

 Bahasa merupakan sistem yang tidak stabil.

 Makna tulisan – teks, selalu mengami perubahan, tergantung pada konteks pembacanya.

 Menolak makna esensial yang tunggal dan utuh.

 Lebih menekankan pencarian makna eksistensial.

Perkembangan hermeneutika sebagai berikut :

1. Friedrich Ernst Daniel Scheleiermacher, mengubah makna hermenetika dari sekedar kajian teks keagamaan – bible menjadi kajian pemikiran filsafat, hermeneutika romantic.

2. Wilhelm Dilthey, makna herneneutika menjadi kajian sejarah, tokoh hermeneutika metodis.

3. Edmund Husserl, pengetahuan dunia objektif bersifat tak pasti, karena pengetahuan sesungguhnya diperoleh dari apparatus sensor yang tak sempurna.

Sebagai tokoh hermeneutika fenomenologis

4. Martin Heidegger, Hermeneutika sebagai kajian ontologis. Sebagai tokoh hermeneutika dialektis.

5. Hans –Georg Gadamer, Menekankan dialektika – dialogis.

6. Jurgen Habermas, Menggeser makan hermeneutika kepada pemahaman yang diwarnai oleh kepentingan.

7. Paul Ricoeur, Aspek pandangan hidup interpreter sebagai faktor utama.

Varian integrasi dialektis.

8. Jacques Derrida, bahwa bahasa juga sistem simbol yang lain merupakan sesuatu yang tidak stabil. Tokoh hermeneutika dekontruksionis.

Dari perkembangan filsafat hermeneutika di atas, maka penelitian ini lebih tepat menggunakan dialektika dialogisnya Hans-Georg Gadamer. Hal inilah yang menjadi titik tekan penelitian kewirausahaan. Tujuan penelitian untuk mengungkap bagaimana kinerja individu atau organisasi sangat tergantung atau bersifat saling mempengaruhi dengan lingkungan maupun konteks sosialnya.

Dalam dokumen KIAT SUKSES SEORANG ENTREPRENEUR - SIMAKIP (Halaman 124-129)