slam datang ke dunia tanpa filsafat.
Ia merupakan kehendak Tuhan yang turun kepada manusia, dan tidak sebaliknya, yakni upaya manusia untuk menemukan petunjuk jalan menuju Tuhan.1 Oleh karena filsafat tidak hanya untuk umat Islam maka
kajian filsafat sangatlah penting bagi umat Islam. Salah satu tokoh yang berjasa besar memberikan penjelasan terhadap umat Islam adalah Al-Farabi.
Al-Farabi menjadi ikon besar dalam filsafat Islam dikarenakan karyanya masih terus dibahas oleh para ilmuan. Al-Farabi mempunyai nama lengkap Abu Nasr Muhammad Ibn Al-Farakh Al-Farab. Orang Barat mengenalnya dengan nama Al-Farabius atau Avennasar. Kota Farab, sebuah kota di Turki Tengah merupakan tempat kelahiran Al- Farabi pada tahun 870 M dan Ayahnya keturunan Persia dan pernah menjabat sebagai panglima perang Turki, sedangkan ibunya adalah orang Turki asli.2 Sebutan nama Al-Farabi diambil dari nama kota
1 Cyril Glasse, The Concise Encyclopaedia of Islam; terj, Ghufron A. Mas‘adi.
Ed. 1, Cet. 3. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada), h. 99
2 Kebiasaan bangsa Timur Tengah memanggil nama sesorang yang terkenal dengan nama tempat lahirnya, Al-Farabi pun lebih terkenal dengan sebutan nama kota lahirnya. Lihat Wahyu Martiningsih, Para Filsuf dari Plato sampai Ibnu Bajjah, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2014), hal. 244.
I
Farab tempat beliau dilahirkan.3Al-Farabi melewatkan masa remajanya di Farab. Di kota yang mayoritas mengikuti mazhab syafi‘iyah4 dan disinilah Al-Farabi menerima pendidikan dasarnya. Ia digambarkan
―sejak dini memiliki kecerdasan istimewa dan bakat besar untuk menguasai hampir setiap subjek yang dipelajari.‖ Pada masa awal pendidikannya, Al-Farabi belajar Al-Qur‘an, tata bahasa, kesusastraan, ilmu-ilmu agama (fiqh, tafsir, dan ilmu hadits), dan aritmatika dasar. Ia mempunyai kecakapan luar biasa dalam bidang bahasa. Bahasa yang dikuasainya antara lain bahasa Iran, Turkestan, dan Kurdistan, bahkan Munawir Sjadzali,5 mengatakan bahwa ia dapat berbicara dalam tujuh puluh macam bahasa; tetapi yang ia kuasai dengan aktif empat bahasa:
Arab, Persia, Turki dan Kurdi.
Dengan ilmu yang dimiliki Al-Farabi mendapatkannya dari tempat dan berguru kepada banyak ilmuan terkenal tanpa memandang agamanya. Pada waktu mudanya, Al-Farabi pernah belajar bahasa dan sastra Arab di Baghdad kepada Abu Bakar Al-Saraj, dan logika serta filsafat kepada Abu Bisyr Mattitus ibn Yunus, seorang Kristen Nestorian yang banyak menerjemahkan filsafat Yunani, dan kepada Yuhana ibn Hailam. Kemudian, ia pindah ke Harran, pusat kebudayaan Yunani di Asia Kecil, dan berguru kepada Yuhana ibn Jilad. Tidak berapa lama, ia kembali ke Baghdad untuk memperdalam filsafat. Ia menetap di kota ini selama 20 tahun.6 Di kota ini juga ia membuat ulasan terhadap buku-buku filsafat Yunani dan mengajar, di antara muridnya yang terkenal adalah Yahya ibn ‗Adi, filsuf Kristen.
Berbanding lurus dengan ilmu yang dimilikinya, Al-Farabi juga terkenal karena sikap kesederhanaannya yang luar biasa, beliau
3 Poerwanta dkk., Seluk-Beluk Filsafat Islam, (Bandung: Rosda, 1988, cet ke- 1), hal. 133.
4 Mazhab Syafi‘iyah adalah slah satu mazhab fiqih yang mengikuti pendapatnya Imam Syafi‘i (ada empat mazhab fiqih yang sangat terkenal dan mempunyai banyak pengikut) . mazhab fiqih tidak membahas sesuatu yang diluar fiqih seperti filsafat, ilmu kalam dan yang lainnya.
5 Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara, Sejarah dan Pemikiran, (Jakarta: UI Press, 1993, Cet ke-5), hal. 49.
6 Hasyimsah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002, cet ke-3), hal. 32.
senantiasa bersikap zuhud. Pada usia 75 tahun, tepatnya pada tahun 330 H (945 M), Al-Farabi pindah ke Damaskus dan berkenalan dengan Saif Al-Daulah Al-Hamdani, Sultan Dinasti Hamdan di Aleppo. Sultan memberinya kedudukan sebagai seorang ulama istana dengan tunjangan yang besar sekali, tetapi Al-Farabi lebih memilih hidup sederhana (zuhud) dan tidak tertarik dengan kemewahan dan kekayaan. Ia hanya memerlukan empat dirham sehari untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selanjutnya, sisa tunjangan jabatan yang diterimanya dibagi-bagikan kepada fakir miskin dan amal sosial di Aleppo dan Damaskus.
Seorang keilmuan tentang Ketimuran Prancis Massignon menjelaskan bahwa Al-Farabi dinobatkan sebagai seorang filsuf Islam yang pertama, ini disebabkan karena sebelum beliau, memang Al- Kindi telah membuka pintu filsafat Yunani bagi dunia Islam. Akan tetapi, ia tidak menciptakan sistem (mazhab) filsafat tertentu, sedang persoalan-persoalan yang dibicarakannya masih banyak yang belum memperoleh pemecahan yang memuaskan. Sebaliknya, sistem filsafat yang lengkap yang dilakukan Al-Farabi telah dapat menciptakan suatu dan memainkan peranan penting dalam dunia Islam seperti peranan yang dimiliki oleh plotinus bagi dunia Barat. Begitu juga dengan Al- Farabi menjadi guru Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan filsuf Islam lain yang datang sesudahnya. Oleh karena itu, ia mendapat gelar ―guru-kedua‖
(al-mu‟allim ats-tsani atau the Second Teacher) sebagai kelanjutan dari Aristoteles yang mendapat gelar ―guru-pertama‖ (al-mu‟allim al-awwal).7
Kemampuan Al-Farabi tidak sebanding dengan zaman yang dihadapi. Al-Farabi hidup pada zaman ketika situasi politik dan kekuasaan Abbasiyah diguncang oleh berbagai gejolak, pertentangan, dan pemberontakan, di beberapa daerah Abbasiyah tak terkendali dan mengalami kekacauan. Al-Farabi lahir pada masa pemerintahan Al- Mu‘taaddid (870-892 M) dan meninggal pada masa pemerintahan Muti‘. Suatu periode paling kacau dan tidak ada stabilitas politik sama sekali. Pada waktu itu timbul berbagai macam tantangan, bahkan
7Atang Abdul Hakim dkk, Filsafat Umum dari Mitologi sampai Teofilosofi, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hal. 448.
pemberontakan terhadap kekuasaan Abbasiyah dengan berbagai motif: Pertama motif agama yang menyebabkan perdebatan tak kunjung berujung hingga menyebabkan saling kafir mengkafirkan dan akhirnya terjadi pertumpahan darah antara muslim yang satu dengan muslim yang lainnya, antara muslim yang taat dengan muslim yang mengerjakan ibadah biasa-biasa saja, antara muslim yang jadi penguasa dengan muslim yang menjadi rakyat biasa dan muslim yang jelata.
Kedua motif kesukuan yang semakin tajam, adanya kebanggaan suku yang berlebihan menyebabkan saling bersaing menjadi penguasa, Abbasiyah tetap mendapatkan perlawanan dari keturunan Muawwiyah yang masih tersisa, Pun dengan suku-suku yang lain yang ingin berlomba menjadi penguasa dan akhirnya berakhir sama, berakhir dengan pertumpahan darah. Ketiga motif kebendaan, motif ini lebih kepada persaingan antara si kaya yang memiliki banyak harta dengan si miskin yang hidup apa adanya, kebencian dan saling mencurigai antara keduanya tidak elak menimbulkan perselisihan yang mendalam juga.
Pada akhirnya masyarakat miskin dan masyarakat yang kaya terkotak- kotakkan, ada dinding bak langit yang memisahkan antara keduanya dan akhirnya ketidak harmonisan terjadi di mana-mana.
Beberapa motif tersebut terdapat masalah yang tak kalah peliknya di internal Abbasiyah saat itu dan gagal diatasi oleh para penguasa Abbasiyah di antaranya banyak anak raja dan penguasa lama berusaha mendapatkan kembali wilayah dan kekuasaan nenek moyangnya, khususnya orang-orang Persia dan Turki. Akibat situasi politik yang kisruh, Al-Farabi menjadi gemar berkhalwat, menyendiri, dan merenung. Ia merasa terpanggil untuk mencari pola kehidupan bernegara dan bentuk pemerintahan yang ideal.8 Hidupnya yang tidak dekat dengan penguasa dan tidak menduduki salah satu jabatan pemerintah dan Al-Farabi juga tidak pernah menginginkan jabatan itu pada satu pihak merupakan keuntungan karena Al-Farabi sebagai seorang filsuf yang memiliki ―kebebasan‖ dalam berpikir tanpa harus berusaha menyesuaikan gagasannya dengan pola dan situasi politik
8Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara, Sejarah dan Pemikiran, (Jakarta: UI Press, 1993, cet ke-5), hal. 51.
saat itu, tetapi pada pihak lain ia tidak mempunyai peluang untuk belajar dari pengalaman dalam pengelolaan urusan kenegaraan, dan menguji teori-teorinya dengan kenyataan politik yang hidup di tengah kehidupan bernegara pada zamannya.