Walid saja, sedangkan orang Barat menyebutnya Averroes dan ada juga yang menulisnya dengan Averrois1, Dalam buku karangan Nurcholis Madjid, dijelaskan tentang penamaan Ibnu Rusyd, bahwa penyebutan Averrios untuk Ibnu Rusyd adalah akibat dari terjadinya metamorfose Yahudi-Spanyol Latin. Oleh orang Yahudi, kata Arab Ibnu diucapkan seperti kata Ibrani 9 bahasa Yahudi dengan Aben.
Sedangkan dalam standar Latin Rusyd menjadi Rochd. Dengan demikian nama Ibnu Rusyd menjadi Aben Rochd. Akan tetapi, dalam bahasa Spanyol huruf konsonan ‖b‖ diubah menjadi ‖v‖, maka Aben menjadi Aven Rochd. Melalui asimilasi huruf-huruf konsonan dalam bahasa Arab disebut Idgham kemudian berubah menjadi Averrochd, karena dalam bahasa Latin tidak ada huruf ‖sy‖, huruf ‖sy‖ dan d dianggap dengan ‖s‖ sehingga menjadi Averriosd. Kemudian, rentetan
‖s‖ dan ‖d‖ dianggap sulit dalam bahasa Latin, maka huruf ‖d‖
dihilangkan sehingga menjadi Averros. Agar tidak terjadi kekacauan antara huruf ‖s‖ dengan ‖s‖ posesif maka antara ‖o‖ dan ‖s‖ diberi sisipan ‖e‖ sehingga Averroes, dan ‖e‖ sering mendapat tekanan sehingga menjadi Averrois.2 Di negeri-negeri Eropa Latin, Ibnu Rusdy terkenal dengan sebutan Explainer (bahasa Arabnya : Asy-Syarih) atau dalam bahasa Indonesia disebut ―juru tafsir‖.3
1 Berbedanya nama lengkap dari Ibnu Rusd dibeberapa refrensi disebabkan oleh adanya potongan nama yang disusun tidak beraturan, sebagian buku hanya menyebutkan nama yang memang sudah akrab dikalangan masyarakat Islam saat itu dan ada juga yang menuliskan dengan nama lengkapnya. Lihat: Mustofa Hasan, Sejarah Filsafat Islam: Geneologis dan Transmisi Filsafat Timur ke Barat (Bandung: CV Pustaka Setia, 2015), hal. 164
2 Nurcholis Madjid, Kaki Langit Peradaban Islam, (Jakarta: Paramadina), hal.
94-95
3 Karya-karya Ibnu Rusdy hingga dengan saat ini masih tersimpan baik di Eropa, tokoh seperti Ibnu Rusdy dianggap langka dan unik sehingga sangat dihormati melebihi rasa hormat orang-orang Timur terhadapnya. Karya-karya Ibnu Rusdy dilestarikan dan dijaga, diterjemahkan kedalam bahasa latin dan dipublikasikan keseluruh sekolah dan kampus-kampus, ini jauh berbeda dengan yang terjadi di wilayah Timur, karya-karya Ibnu Rusdy dibakar dan tidak diizinkan terbit dan diajarkan di sekolah-sekolah, bahkan teori filsafat karya Ibnu Rusdy sempat diharamkan dan dilawankan dengan teori Al-Ghazali.
Panggilan ini sebenarnya diambil dari nama kakeknya.
Keturunannya berasal dari keluarga yang alim dan terhormat, bahkan terkenal dengan keluarga yang memiliki banyak keilmuan. Kakek dan ayahnya mantan hakim di Andalus dan ia sendiri pada tahun 565 H/1169 M diangkat pula menjadi hakim di Seville dan Cordova.
Karena prestasinya yang luar biasa dalam ilmu hukum, pada tahun 1173 M ia dipromosikan menjadi ketua Mahkamah Agung, Qadhi al- Qudhat di Cordova.4
Ibnu Rusyd tumbuh berkembang dan hidup dalam keluarga yang besar sekali ghairahnya pada ilmu pengetahuan. Hal itu terbukti, Ibnu Rusyd bersama-sama merivisi buku Imam Malik, Al-Muwatha, yang dipelajarinya bersama ayahnya Abu Al-Qasim dan ia menghapalnya dengan sangat detail. Selain mempelajari kitab-kitab karangan ulama terkenal, Ia juga juga mempelajari matematika, fisika, astronomi, logika, filsafat, dan ilmu pengobatan5 yang guru-gurunya dalam ilmu- ilmu tersebut tidak terlalu terkenal, paling tidak saat itu dikelan hanya pada wilayah Andalusia saja, tetapi secara keseluruhan Cordova terkenal sebagai pusat studi filsafat. Adapun seville terkenal karena aktivitas-aktivitas artistiknya. Cordova pada saat itu menjadi saingan bagi Damaskus, Baghdad, Kairo, dan kota-kota besar lainnya di negeri-negeri Islam Timur.6
Menjadi seorang yang berasal dari keturunan terhormat dan ilmuan, ayah (Ahmad Ibnu Muhammad lahir tahun 487 H dan meningal 563 H) pernah menjadi hakim di Cordova dan kakeknya
4 M. M. Syarif, History of Muslim Philosophy, vol. I, (Wisbaden: Otto Horossowitz, 1963) , h. 197
5 Dalam beberapa tulisan yang salah satunya merupakan tulisan tokoh terkenal Dominique Urvory menyebut Ibnu Rusyd sangat setia pada filsafat Yunani, Ilmu kedokteran, pengobatan dan ilmu-ilmu yang berbau ilmiyah dan reachet, sehingga Ibnu Rusyd ditempatkan pada salah satu falasifah muslim di era itu, yang walaupun dibeberapa tulisan lainnya para penulis lebih senang menyebut Ibnu Rusyd sebagai seorang yang faqih dibandingkan dengan menyebutnya sebagai seorang filsuf. Lihat Eksiklopedi... (editor: Sayyed Hosen Nasser & Olivrer Leamen), hal. 414-215., Lihat juga Mustofa Hasan, Sejarah Filsafat Islam..., hal. 164
6 Ibid., hal. 199
(Muhammad Ibnu Ahmad, tahun lahirnya tidak diketahui, wafatnya tahun 520 H/ 1126 M) adalah ahli fiqih mazhab Maliki dan imam masjid Cordova serta pernah menjabat sebagai hakim agung di Spanyol. Ayah dan kakeknya adalah ulama yang sangat disegani bukan hanya di kota Cordova akan tetapi kemashurannya di seantero Andalusia terutama dibidang fiqih, maka ketika Ibnu Rusyd dewasa ia diberikan jabatan untuk pertama kalinya yakni sebagai hakim pada tahun 565 H/1169 M, di Seville. Kemudian iapun kembali ke Cordova, sepuluh tahun di sana, iapun diangkat menjadi qhadi, selanjutnya ia juga pernah menjadi dokter Istana di Cordova menggantikan Ibnu Thufail, dan sebagai seorang filosof dan ahli dalam hukum ia mempunyai pengaruh besar di kalangan Istana, terutama di zaman Sultan Abu Yusuf Ya‘qub al-Mansur (1184-99 M), ia ditempatkan pada hirarki tertinggi Al-Muwahhidun.
Kelebihan dan kemasyhurannya Ibnu Rusdy dalam bidang filsafat mulai terlihat dari peristiwa Khalifah Abu Yaqub yang memerintahkan Ibnu Tufail (orang Barat menyebutnya Abubacer) untuk meringkas semua pemikiran Aristoteles sehingga bisa dipahami dengan lebih mudah dan sederhana, akan tetapi Ibnu Tufail menyarankan Ibnu Rusdy untuk mengulas karangan Aristoteles. Saran Ibnu Tufail ini kemudian diungkapkan secara lengkap sebagaimana yang tertuang dibawah ini:
―Abu Bakar Ibn Tufail, pada suatu hari memanggilku dan bercerita kepadaku bahwa ia mendengar Amirul Mukminin mengeluh tentang keterpenggalan cara pengungkapan Aristoteles atau penerjemahnya dan akibatnya, maksudnya kabur. Ia mengatakan bahwa jika ada seseorang yang membaca buku-buku ini kemudian dapat meringkasnya dan menjernhkan tujuan-tujuannya, setelah pertama-tama memahaminya sendiri secara seksama, orang lain akan mempunyai waktu yang longgar untuk memahaminya. ―kalau kamu mempunyai kesempatan‖ Ibnu Tufail menasihatiku, ―lakukanlah itu. Aku percaya kamu bisa, karena aku tau engkau mempunyai otak yang cemerlang dan watak yang baik, dan betapa besar pengabdianmu kepada ilmu itu. Kamu tahu usia tuaku, jabatanku-
dan komitmenku pada tugas lain yang aku kira jauh lebih vital – yang menyebabkan aku tidak dapat melakukan sendiri hal itu.‖7
Lalu setelah menerima saran dari Ibnu Tufai tersebut maka Ibnu Rusdy mulai menulis dan merumuskan pikiran-pikiran Aristoteles, sejak saat itu Ibnu Rusdy dijuluki ―Juru ulas‖ sebagaimana dikatakan oleh Bouyges, bahkan Dante dalam karyanya Divine Comedy menyebut Ibnu Rusdy bersama Euclid, Ptolomeus, Hippocrates, Ibnu Sina dan Galen menyebutnya dengan julukan ―Juru ulas yang agung‖ (The Commentator).8
Menjadi seorang filsuf, pengaruh Ibnu Rusdy dikalangan Istana tidak disenangi oleh kaum ulama dan kaum fuqaha. Sewaktu timbul peperangan antara Sultan Abu Yusuf dan kaum Kristen, sultan berhajat pada kata-kata kaum ulama dan kaum fuqaha. Maka kedaan menjadi berubah, Ibnu Rusyd disingkirkan (dibuang dari tanah kelahirannya) oleh kaum ulama dan kaum fuqaha. Ia dituduh (mihnah al-Akbar) membawa aliran filsafat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, akhirnya Ibnu Rusyd ditangkap dan diasingkan ke suatu tempat yang bernama Lucena di daerah Cordova. Oleh sebab itu, kaum filosof tidak disenangi lagi, maka timbullah pengaruh kaum ulama dan kaum fuqaha. Akan tetapi aib yang diterima Ibnu tidak berlangsung lama, sekembalinya Al-Mansyur ke Marrakusy (sekarang Maroko) Ibnu Rusyd dipanggil dan diampuni. Ibnu Rusdy kemudian dipindahkan ke Maroko dan meninggal di sana dalam usia 72 tahun pada tahun 595 H/1198 M.9