dan komitmenku pada tugas lain yang aku kira jauh lebih vital – yang menyebabkan aku tidak dapat melakukan sendiri hal itu.‖7
Lalu setelah menerima saran dari Ibnu Tufai tersebut maka Ibnu Rusdy mulai menulis dan merumuskan pikiran-pikiran Aristoteles, sejak saat itu Ibnu Rusdy dijuluki ―Juru ulas‖ sebagaimana dikatakan oleh Bouyges, bahkan Dante dalam karyanya Divine Comedy menyebut Ibnu Rusdy bersama Euclid, Ptolomeus, Hippocrates, Ibnu Sina dan Galen menyebutnya dengan julukan ―Juru ulas yang agung‖ (The Commentator).8
Menjadi seorang filsuf, pengaruh Ibnu Rusdy dikalangan Istana tidak disenangi oleh kaum ulama dan kaum fuqaha. Sewaktu timbul peperangan antara Sultan Abu Yusuf dan kaum Kristen, sultan berhajat pada kata-kata kaum ulama dan kaum fuqaha. Maka kedaan menjadi berubah, Ibnu Rusyd disingkirkan (dibuang dari tanah kelahirannya) oleh kaum ulama dan kaum fuqaha. Ia dituduh (mihnah al-Akbar) membawa aliran filsafat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, akhirnya Ibnu Rusyd ditangkap dan diasingkan ke suatu tempat yang bernama Lucena di daerah Cordova. Oleh sebab itu, kaum filosof tidak disenangi lagi, maka timbullah pengaruh kaum ulama dan kaum fuqaha. Akan tetapi aib yang diterima Ibnu tidak berlangsung lama, sekembalinya Al-Mansyur ke Marrakusy (sekarang Maroko) Ibnu Rusyd dipanggil dan diampuni. Ibnu Rusdy kemudian dipindahkan ke Maroko dan meninggal di sana dalam usia 72 tahun pada tahun 595 H/1198 M.9
Ibnu Rusdy , dibidang ushul fiqh dan fiqh, kemudian memadukan dan menawarkan pendapat terhadap kasus-kasus perdebatan ulama (ikhtilaf) empat mazhab besar kemudian menganjurkan pengintegrasian penalaran analogis (qiyas). Walaupun karya Ibnu Rusdy menyangkut Ushul Fiqh dan Fiqih akan tetapi tetap saja, sebagai seorang filsuf memuat sudut pandang filosofis, seperti karyanya yang berjudul ―Bidayah Al-Mujtahid wa Nihdyah Al- Muqtashid,10 sebuah uraian logis tentang hukum Islam yang monumental, yang sebagian besar ditulis sekitar tahun 564 H/1168 M.
Karya-karya Ibnu Rusyd benar-benar memuat sudut pandang ke arah filsafat.
Pemikirannya Ibnu Rusdy secara garis besar menonjol dalam dua hal, yakni astronomi/kosmologi dan kedokteran dan obat-obatan.
Dalam bidang astronmi/kosmologi, Ibnu Rusdy melakukan sejumlah pengamatan dan penelitian pada masa mudanya, ia tertarik pada beberapa bagian pernyataan Aristoteles khususnya pada perubahan- perubahan akibat dari kritik Aristotelian terhadap sistem Ptolemaik, yaitu sebuah kritik yang telah diawali oleh filsuf muslim lainnya seperti Ibnu Bajah dan teman Ibnu Rusdy ―Ibnu Tufail‖.
Pada pembahasannya Ibnu Rusdy memberikan komentar- komentar dan mempertegas segi demonstratif teks Aristotelian, akan tetapi Ibnu Rusdy juga menutup dan menambalnya dengan sebuah hipotesis umum bahwa semua fenomena langit yang berkaitan dengan perbedaan kecepatan planet harus dapat dijelaskan secara logis seperti yang diajarkan dalam filsafat. Penjelasan Ibnu Rusdypun diuraikan
10 Pada kitab ini terdapat pembahasan yang sangat luas dan mendalam, Ibnu Rusdy tidak hanya membahas tentang mazhab Maliki yang dianutnya akan tetapi membahas semua mazhab, baik mazhab yang dianggap kecil (pengikutnya sedikit dan pendapatnya jarang diketahui oleh umat Islam) sampai mazhab besar (mazhab populer dan mempunyai pengikut yang sangat besar dan menyebar diseluruh negri Islam), bahkan pembahasan yang diulas tidak hanya pembahasan dengan argumen klasik tapi mencakup juga argumen konservatif hingga yang libral. Sehingga pendapat Ibnu Rusdy di kitab ini sangat sistematis, detail, rinci dan sangat logis (kerangka kitab ini tentu saja menggambarkan bahwa Ibnu Rusdy adalah seorang filsuf). Lihat: Dedi Supriyadi, Perbandingan Mazhab (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hal. 220
dengan memberikan penjelasan sebuah teori ―gerakan sepanjang heliks (laulabi)‖ atau ―gerakan sepanjang sekrup (halazuni)‖ yang sering dikemukakan oleh Aristoteles akan tetapi Aristoteles kurangmampu memberikan penjelasan secara eksplisit mengenai subjek ini.
Fokus dari penjelasan Ibnu Rusdy terhadap gerakan benda-benda langit ini adalah masalah gerakan kutub dari satu bola langit pada sumbu-sumbu kutub bola langit lainnya. Hanya melalui Al-Bithruji (Alpe-tragius) model matematis untuk gerak ini dilontarkan secara sangat jelas dan logis, meskipun pada akhirnya pendapat ini tidak mendapat banyak pendukung diawal kemunculannya hingga jauh abad ke-10H/ ke-16 M.
Karya-karya Ibnu Rusdy adalah sebagai berikut :
a. Tahafut at-Tahafut. Kitab ini berupaya menjabarkan dengan menyanggah dan menangkis butir demi butir keberatan ter- hadap Al-Ghazali dalam kitabnya Tahafut Al-Falasifah (Kacau balaunya kaum filusuf) yang dengan kitab ini Al-Ghazali memberikan kritikan yang sangat pedas terhadap para filosof.
Tahafut at-Tahafut (kacau balaunya tahafut Al-Ghazali), lebih luwes dari pada fashl dalam menegaskan keunggulan agama yang didasarkan pada wahyu atas akal yang dikaitkan dengan agama yang murni rasional. Akan tetapi, Tahafut at-Tahafut juga setia kepada Fashl, melalui pandangan terhadap diri Nabi yang mempunyai akl aktif untuk melihat gambaran-gambaran secara rasional. Seperti halnya juga para filsuf, dan yang mengubah gambaran-gambaran tersebut dengan mengubah imajinasi menjadi simbol-simbol yang sesuai kebutuhan orang awam. Dengan demikian, rasioanlisme religius Ibnu Rusyd bukan sekedar reduksionisme, seperti halnya paham Al- Muwahhidun, ini merupakan keyakinan pada kemungkinan untuk membangun kembali rantai penalaran secara apos- teriori.11 Sampai sekarang kitab ini banyak dikaji oleh orang- orang yang mendalami filsafat, bahkan kitab ini menjadi
11 Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam..., hlm. 229
rujukan utama para filosof modern ketika menghadapkan masalah filsafat dan tasawuf.
b. Fash al-Maqal fi ma bain al-Hikmat wa al-Syari‟ah min alIttishal (kata putus tentang hubungan filsafat dan syariat) Kitab ini berisikan tentang hubungan antara filsafat dengan agama.
c. Al-Kasyf‟an Manahij al-Adillat fi ‟Aqa‟id al-Millat, (menyingkap metode-metode pembuktian) berisikan kritik terhadap metode para ahli ilmu kalam dan sufi.
d. Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid. Kitab perbandingan semua mazhab fikih, baik yang terkenal maupun mazhab fikih yang tidak terlalu diperhatikan oleh masyarakat muslim, dikaji secara filosofis, sistematis dan logis.
e. Kulliyat Fi Al-Thibb (kitab ini membicarakan garis-garis besar ilmu kedokteran dan menjadi pegangan para mahasiswa kedokteran di Eropa selama berabad-abad.
f. Al-Qanun (karya tulis yang merupakan ulasan atas karya Aristoteles, kemudian kitab ini dijadikan beberapa (3) bagian yang merupakan buku ulasan kecil, yaitu kitab Al-Asghar (yang lebih kecil), Al-Ausat (yang sedang) dan Al-Akbar (yang lebih besar).