• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemikiran Filsafat al-Razi

Dalam dokumen fajar gemilang filsafat islam (Halaman 135-142)

Fokus utama dalam pemikiran filsafat al-Razi adalah jiwa, kemudian lima yang kekal.17 Setelah itu, moral, kenabian dan agama, yang merupakan sisi pengembangan daya kritik intelektualnya. Jiwa merupakan titik kesamaan perhatian utama antara al-Razi dan Plato.

Untuk ini ada ilustrasi indah untuk menggambarkan substansi pokok filsafat Plato (Platonik) sebagaimana dipresentasikan oleh Gaarder: ―...

suatu kerinduan untuk kembali ke alam jiwa...‖18.

12 Mahmud Hashim, Nusus Mukhtarah min al-falsafahal-Mashriq (Kairo-Mesir:

Maktabah al-Al anjalu al-Misriyyah,1969). Kajian ini mengedepankan Sina, dan Al-Ghazali, Ibnu Tufail, Ibnu Rusyd dan Ibnu Arabi.

13. Tulisan ini meluluskan Al-Kindi, Al-Farabi, Ikhwan Al-Shafa, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Ibnu Rusyd. Lihat Ahmad Hanafi, Pengantar filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), hal. 22

14 Abu Bakar Aceh, Sejarah Filsafat Islam (Solo: Romadoni, 1991). Tulisan ini, dalam analisis sub-sub bahasanya, memperhitungkan Al-Kindi, Al-Farabi ,Al-Ghazali dan Ibnu Maskawaih.

15 Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam,.Mulyadi Karta Negara (Jakarta:

Pustaka jaya,1987). Tulisan ini menggunakan Pendekatan Historis Naratif Sekwensial;Mulaiwarisan Yunani sampai warna Filasafat Islam Abad Modern dan Kontemporer.

16 Ibrahim Madkour, filsafat Islam: metode dan peneraannya,bagian pertama (Jakarta: Rajawali Pers,1988). Sajiannya secara topical; mengenai masalah Filsafat, Tasawuf dan Kalam.

17 Yunasir Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi dalam Islam (Jakarta:Bumi Aksara,1991). Buku ini memaparkan bahasannya secara historis-ketokohan.

18 Al-Rais Saharil Halu, Mausu‟ah A‟lam Al-Falsafah, juz 1(Bairut-Libanon:

Dar Al-Qutub Al-Illmiyyah 1992), 155.

1. Lima yang Kekal

Prinsip lima yang kekal yaitu (five co-eternal principles/ al-mabadi‟ al- Qadimah alKhamsah) menurut al-Razi adalah: (1) Sang Pencipta, (2) jiwa universal, (3) materi pertama, (4) ruang absolut, dan (5) waktu absolut.19

Al-Razi memberikan penjelasan secara pasrial demikian:

1) Sang Pencipta adalah Tuhan Yang Maha Tinggi dan Maha Sempurna.

2) Jiwa universal adalah jiwa yang hidup dari jasad ke jasad sam- pai suatu waktu menemukan kebebasan yang hakiki.

3) Materi pertama adalah materi yang dari padanya Tuhan men- ciptakan dunia. Materi ini terdiri dari atom-atom yang mempunyai volume. Atom-atom ini mengisi ruang sesuai dengan kepadatannya. Tanah merupakan atom yang paling padat, kemudian air, hawa dan api.

4) Ruang absolut adalah adalah ruang yang abadi, tanpa awal dan tanpa akhir. 5) Masa absolut adalah masa yang abadi, tanpa awal dan tanpa akhir. 20

Prinsip yang pertama dan kedua (Sang Pencipta dan jiwa universal), dalam sistem al-Razi dikaitkan secara erat dengan usaha yang berani untuk bergulat dengan masalah yang mendesak bagi pembenaran penciptaan dunia yang sedemikian mengganggu pikiran para filsuf sejak zaman Plato, sebagaimana dipaparkan pada bagian akhir sub tulisan ini.

Di sini jiwa memiliki kekalan seperti halnya dengan Tuhan. Oleh karena jiwa butuh materi (prinsip ketiga), maka Tuhan terpaksa menciptakan kesatuan dengan bentuk-bentuk material. Kemudian, materi memerlukan sebuah locus tempat ia tinggal, yang tidak lain adalah ruang (prinsip keempat). Ruang sebagai konsep yang abstrak, tidak terbatas dan sekaligus kekal. Demikian ini dalam arti ruang universal/ mutlak. Sedangkan ruang partikular/ tertentu tidak dapat

19 Jostein Gaarder, Dunia Sophie: Sebuah Novel Filsafat (Bandung:Mizan,1996), hal. 98

20 Al-Rais Saharil Halu, Mausu‟ah A‟lam Al-Falsafah, juz 1(Bairut- Libanon:Dar Al-Qutub Al-Illmiyyah 1992), hal.155

dipahami secara terpisah dari materi, yang merupakan esensinya yang sejati.

Sedangkan waktu merupakan semacam gerak. Waktu universal tidak dapat diukur dan tidak terbatas (al-dahr), yang merupakan ukuran perlangsungan dunia akali, yang berbeda dengan ukuran perlangsungan dunia inderawi, yang disebut oleh Plato sebagai

―bayang-bayang keabadian yang bergerak-gerak‖. Sedangkan waktu partikular dapat diukur dan terbatas. Berkat cahaya akal, maka jiwa, yang telah terpikat oleh bentuk-bentuk material dan kesenangan- kesenangan inderawi, pada akhirnya sadar akan kedudukannya yang sejati dan terdorong untuk mencari tempat pemukimannya kembali di dunia akali, yang merupakan tempat tinggal yang hakiki. Prinsip lima kekal itu merupakan sebuah sistem metafisika yang koheren. Sistem ini mencerminkan daya kecerdikan al-Razi, sebagai pembenaran terhadap tesis filosofis bahwa dunia ini diciptakan, dan sekaligus sebagai obat bagi kebingungan para filosof. Dalam hal ini Fakhry menjelaskan bahwa persoalan yang dihadapi oleh mereka bukan sekadar ―apakah dunia ini diciptakan atau tidak?‖, akan tetapi lebih rumit ketika melewati batas-batas risalah polemik teologi dan filsafat, baik dalam Islam maupun Kristen –apakah Tuhan menciptakan dunia, melalui ―keniscayaan alam‖ (necessity of nature) atau melalui tindakan bebas?. Persoalan ini pernah dinyatakan oleh kaum Skolastik Latin.21

Dalam pemikiran di atas terdapat konsekuensi logis. Apabila

―kemestian alam‖ yang dituntut, maka konsekuensi logisnya adalah, bahwa Tuhan, yang menciptakan dunia dalam waktu, berada dalam waktu itu sendiri. Sebab suatu produk alamiah harus terjadi secara niscaya atas pelaku alamiahnya dalam waktu. Di sisi lain, apabila tindakan ―kehendak bebas‖ yang dijadikan jawaban, maka ada pertanyaan lain yang segera muncul: ―mengapa Tuhan lebih senang menciptakan dunia dalam waktu partikular daripada dalam cara yang lainnya?‖

21 Yunasir Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi dalam Islam (Jakarta:Bumi Aksara,1991)hal.37

2. Jiwa

Pada penjelasan tentang jiwa ini, ada sesuatu yang mengejutkan pendirian Aristotelianisme dan ajaran Islam, yakni pernyataan keyakin-an al-Razi kepada Pythagorean-Platonik tentang metempsikosis (transformasi jiwa).

Pendapat al-Razi tentang jiwa, meskipun asalnya hidup, tidak sabar dan dalam keadaan bodoh. Oleh karena terpesona oleh materi, maka ia berusaha untuk dipersatukan dengannya dan untuk dianugerahi bentuk yang memungkinkannya dapat menikmati kesenangan-kesenangan jasmani. Tetapi, karena ada perlawanan materi terhadap kegiatan jiwa yang sedang dalam pembentukan, maka Tuhan ―bermurah hati‖ untuk membantunya dan menciptakan dunia ini, dengan bentuk materialnya, agar jiwa dapat melampiaskan nafsu syahwatnya untuk menikmati bagian kesenangan-kesenangan material untuk sementara waktu.22

Selanjutnya, Tuhan menciptakan manusia dan memberinya akal dari ―esensi ketuhanan-Nya‖, sehingga akal pada akhirnya dapat menggugah jiwa dari keterbuaian jasmaninya dalam tubuh manusia, dan mangingatkannya pada nasib (hakikat)nya yang sejati sebagai warga dunia yang lebih tinggi (akali) dan akan tugasnya untuk mencari dunia tersebut melalui pengkajian filsafat. Ketika jiwa sampai ke taraf ketagihan terhadap pengkajian filsafat, ia berhak memperoleh keselamatannya dan bergabung kembali dengan dunia akali dan dengan demikian ia terbebas –sebagaimana dikatakan oleh kaum Pythagorean kuno—dari ―jantera kelahiran‖. Ketika tujuan akhir ini tercapai dan jiwa manusia yang dibimbing oleh akal telah kembali ke tempat asalnya yang sejati, ―dunia yang lebih rendah‖ ini akan berhenti, dan materi, yang telah demikian lekat terjalin dengan bentuk, akan kembali kepada keadaannya semula yang betul-betul murni dan sama sekali tiada berbentuk.23

Di dalam pembahasan jiwa tersebut, al-Razi tidak saja mengajukan sebuah teori yang berani dan orisinal tentang jiwa, akan

22 Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam, ter. Mulyadhi Kartanegara. (Jakarta:

Pustaka Jaya, 1987) hal. 151

23 Ibid., hal.155.

tetapi juga memberikan penjelasan mengenai penciptaan dunia dalam waktu oleh Sang Pencipta. Konsepsi Pythagorean-Orphik tentang kembalinya jiwa secara melingkar dan pelepas-annya yang terakhir dari

―jantera kelahiran‖ dikemukakan dengan tegas dan fungsi terapi mistik filsafat cukup ditonjolkannya.

3. Moral

Pemikiran al-Razi tentang moral beraset konsep transmigrasi jiwanya, yang tertuang dalam karyanya Philosophical Way (Jalan Filsafat), tarutama berkenaan dengan masalah penyembelihan hewan.

Dalam hal ini Fakhry menjelaskan bahwa al-Razi merasa terganggu oleh penderitaan hewan, terutama yang diakibatkan oleh perlakuan manusia. Menurutnya, penyembelihan hewan buas dapat dibenarkan sebagai pemeliharaan terhadap terhadap kelangsungan hidup manusia.

Tetapi hal itu tidak dapat diterapkan kepada hewan-hewan piaraan.

Menurut hematnya, bahwa penyembelihan itu diartikan sebagai pembebasan jiwa mereka dari penghambaan kepada tubuh, dan dengan demikian menjadikan mereka lebih dekat dengan takdir akhirnya. dengan memberikan kemungkinan bagi mereka ―tinggal dalam tubuh lain yang lebih baik, seperti tubuh manusia.24

4. Kenabian dan Agama

Menurut pemikiran yang dikemukakan oleh al-Razi, akal menjadi kompas utama dalam kehidupan setiap manusia. Akal diberikan oleh Tuhan kepada setiap insan dalam kekuatan yang sama. Perbedaan timbul karena pengaruh pendidikan, lingkungan dan suasana. Manusia bebas untuk menerima ilmu pengetahuan dari manapun sumbernya.

Sebab, ilmu itulah yang akan menyucikan jiwanya, untuk dapat kembali kepada Tuhannya.

Dalam hal ini Al-Razi tidak percaya kepada para Nabi.

Disebabkan bahwa mereka dipandangnya hanya membawa kehancuran bagi manusia. Kebenaran wahyu yang didakwahkannya, tidak benar adanya. Oleh karenanya, al-Qur‘an dengan uslub-nya tidak

24 Ibid., hal. 155.

merupakan mu‘jizat bagi Muhammad. Ia hanya sebagai buku biasa.

Nikmat akal lebih kongkret daripada wahyu. Oleh karena itu, kegiatan membaca buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya lebih berarti daripada membaca buku-buku agama.25

kemudian dalam hubungan kenabian dan agama, al-Razi menegaskan bahwa para Nabi tidak berhak mengklaim bahwa mereka memiliki keistimewaan khusus, baik rasional maupun spiritual, karena semua manusia sama. Padahal keadilan dan kemahahakiman Tuhan memastikan untuk menolak memberikan keistimewaan kepada seseorang di atas orang lain.26

Lalu mukjizat dipandangnya sebagai bagian dari mitos keagamaan atau rayuan dan keahlian yang dimaksudkan untuk menipu dan menyesatkan. Ajaran agama saling kontradiktif, karena satu sama lain saling menghancurkan, dan tidak sesuai dengan pernyataan bahwa ada realitas permanen. Hal itu dikarenakan setiap Nabi membatalkan risalah pendahulunya, akan tetapi menyerukan bahwa apa yang dibawanya adalah kebenaran, bahkan tidak ada kebenaran lain, dan menusia menjadi bingung tentang pimpinan dan yang dipimpin, panutan dan yang dianut. Semua agama merupakan sumber peperangan yang menimpa manusia sejak dulu, di samping merupakan musuh filsafat dan ilmu pengetahuan.27

Pemaparan pemikiran di atas dapat dipahami, bahwa dalam pandangan al-Razi, agama itu hanya warisan tradisional yang diikuti oleh masyarakat karena tradisi saja. Oleh karena pandangannya yang demikian, maka al-Razi dapat disebut seorang ateis, karena mengkritik semua agama. Tetapi di sisi lain, ia seorang monoteis sejati yang mengaku adanya Tuhan Pencipta, sehingga baginya, nabinya adalah akalnya sendiri. Kritik terhadap al-Razi, dengan cara yang tajam pernah disampaikan oleh Abu al-Hatim al-Razi (w. 330 H.) –seorang yang sezaman dan senegara dengan al-Razi— dalam kitabnya A‟lam al-

25 Yunasir Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi dalam Islam (Jakarta:Bumi Aksara,1991),hal. 35-36

26 Ibid., hal. 37

27Ibrahim Madkour, filsafat Islam: Metode dan Peneraannya,Bagian Pertama (Jakarta: Rajawali Pers,1988) hal.115

Nubuwwah28 Di dalamnya tidak ditegaskan nama al-Razi, akan tetapi cukup mengarahkan kritiknya kepada orang yang disebutnya al-Mulhid (sang ateis). Namun ada indikasi pasti yang menunjukkan bahwa sang ateis ini bukan orang lain selain al-Razi. Buku tersebut memuat protes fundamental yang diarahkan dengan al-Razi yang dihadiri oleh para ulama dan pemimpin politik. Protes-protes ini, secara global, mendekati semua protes yang sebelumnya telah dikobarkan oleh al- Rowandi. Seakan kedua tokoh tersebut mengulangi nada yang sama.29

Dalam pendapat al-Rowandi –rekan sezaman dengan al-Razi—

amat masyhur dan mempunyai keberanian intelektual yang luar biasa, sampai-sampai ia benar-benar berani menginterpretasikan al-Qur‘an dengan meniru-nirukannya dan menertawakan Muhammad. Tetapi, namanya tertutupi oleh al-Razi.30

28 Ibid., hal.115

29 Kitab ini merupakan hasil kodifikasi perdebatan-perdebatan tajam antara Abu al- Hatim dengan al- Razi yang dihadiri oleh para ulama dan pemimpin politik., Ibrahim Madkour, filsafat Islam: Metode dan Peneraannya,Bagian Pertama (Jakarta: Rajawali Pers,1988), hal.114

30 Ibid., hal.114-115

Dalam dokumen fajar gemilang filsafat islam (Halaman 135-142)