• Tidak ada hasil yang ditemukan

Biografi Hidup Al-Kindi

Dalam dokumen fajar gemilang filsafat islam (Halaman 77-81)

embahas tentang filsuf Islam yang terkemuka maka tidak ―afdhal‖ jika tidak membahas tentang Filsuf Islam yang pertama1 muncul di belahan Timur Islam, tepatnya di kota Bagdad. Pemikiran dan karyanya memberikan sumbangsih yang sangat besar bukan hanya untuk umat Islam akan tetapi untuk peradaban dunia. Beliau adalah Al-Kindi yang

dijuluki sebagai ahli filsafat Arab (The Great Arab Philosopher)2, lahir di Kufah sekitar tahun 185 H/801 M dan meninggal 260 H/873 M.

Beliau adalah keturunan Arab bangsawan yang mempunyai suku bernama suku Kindah yang bermukim di wilayah Selatan Arab.3

1 Al-Kindi dijuluki ―Al-Filusuf Al-Awwal‖ karena sebelum beliau, tidak ada tokoh Islam yang mampu memadukan filsafat Yunani dan pemikiran (baca:

filsafat) Islam. Diawal pemikirannya Al-Kindi memberikan argumen tentang terbatasnya alam kosmos, dengan menggunakan pendekatan matematika Al- Kindi memberikan argumen terhadap terbatasnya ruang, waktu dan sudut bumi.

Lihat : Mulyadhi Kartanegara, Lentera Kehidupan: Panduan Memahami Tuhan, Alam, dan Manusia (Bandung : PT Mizan Pustaka, 2017), hal. 19

2 Abdul Aziz Dahlan, Eksiklopedia Tematis Dunia Islam, Jilid 4 (Jakarta:

Ichtiar Baru Van Hoeve, 2000), hal.179

3 Suku Kindah merupakan suku nomaden, ini terlihat dari sifat dari suku Kindah yang suka berpindah-pindah dari wilayah satu ke wilayah lainnya. Suku Kindah pada masa sebelum Islam berada di wilayah Arab Selatan, kemudian

M

Al-Kindi mempunyai nama lengkap Abu Yusuf Ya‘qub bin Ishaq ibn Sabbah ibn Imran ibn Ismail bin Muhammad bin Al-Ash‘ats bin Qais Al-Kindi.4 orang-orang yang bertemu dengan beliau lebih senang memanggilnya Al-Kindi saja sesuai dengan nama suku beliau yakni suku Kindah, sedangkan orang Eropa dan Amerika ―Barat‖

menyebutnya dengan nama yang pelafalannya sedikit berbeda dengan orang Arab, jika orang Arab menyebutnya dengan Al-Kindi maka orang Barat menyebutnya dengan Al-Kindus.5

Pendidikan Al-Kindi banyak dipengaruhi oleh tempat beliau tumbuh, Al-Kindi tidak hanya tumbuh di satu tempat akan tetapi tumbuh di beberapa tempat, yang pada masa kecilnya beliau menghabiskan waktunya di Basrah untuk belajar membaca dan menulis, berhitung serta menghafal al-Qur‘an, sewaktu remaja beliau belajar bahasa dan sastra Arab, fikih, serta ilmu kalam sedangkan sewaktu dewasa beliau tinggal di wilayah Bagdad yang merupakan kota ilmu pengetahuan untuk belajar ilmu kimia. Kedua wilayah ini merupakan wilayah yang saat itu ramai dengan pendidikan. Maka tidak heran jika pada akhirnya Al-Kindi kemudian tumbuh dan berkembang

pada masa datangnya Islam dan karena berubahnya iklim di wilayah selatan Arab menyebabkan suku Kindah berpindah-pindah dari Selatan Arab sampai dengan ke Utara Arab. Perpindahan dari wilayah Selatan Arab ke bagian Utara Arab menyebabkan suku Kindah menyebar ke berbagai wilayah dan kota-kota besar lainnya seperti ke daerah Kuffah, Basrah, dan Bagdad. Lihat: Wahyu Martiningsih, Para Filsuf dari Plato sampai Ibnu Bajjah, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2014), hal. 238

4 Semua nama yang disematkan pada nama Al-Kindi adalah keluarga yang hampir semuanya adalah nama terkenal dan berprestasi, ayah beliau adalah gubernur, seperti yang dijelaskan diatas. Ishab bin Ash-Shabah merupakan kakek Al-Kindi, seorang pejabat pemerintahan Abbasiyah di zamannya Al- Mahdi hingga masa Harun Ar-Rasyid. Sedangkan Muhammad bin Al-Ash‘ats (kakeknya dari kakeknya Al-Kindi) adalah penguasa daerah Muhsil di Irak, sedangkan Al-Asy‘ats bin Qaish adalah seorang sahabat nabi yang pertama datang ke Kuffah dan termasuk sahabat nabi yang banyak meriwayatkan hadis- hadis nabi, bahkan pada masa setelah meninggalnya nabi, beliau ikut berperang dengan Saat bin Abi Waqas untuk memerangi Persia. Pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib beliau juga ikut memerangi kaum Khawarij, lihat Abdul Aziz Dahlan, op.cit., hal. 180

5Ibid., h. 238-239.

sebagai anak yang penuh dengan ilmu pengetahuan, beliau tidak hanya ahli dibidang filsafat akan tetapi ahli juga diberbagai ilmupengetahuan seperti Kimia, Matematika, Astronomi, Kedokteran, Geografi hingga musik, ditambah lagi dengan garis keturunan beliau yang tidak kalah hebat, Ayah beliau adalah orang yang sangat terkenal, menjadi Gubernur Basrah yang berkuasa sekitar 25 tahun yakni pada masa pemerintahan Khalifah Abbasiyyah, Al-Hadi (169-170 H/ 785-786 M) dan Harun Ar-Rasyid (170-194 H/786-809 M).6

Selain menempuh pendidikan dibeberapa tempat, Al-Kindi juga mempelopori adanya gerakan menterjemahkan buku-buku asing ke bahasa Arab,7 untuk menterjemahkan buku-buku asing tersebut Al- Kindi kemudian belajar bahasa Syiria dan Yunani. beliau kemudian banyak mengkaji dan mendalami ilmu-ilmu filsafat barat dan beberapa pergumulan pemikiran yang saat itu saling bertentangan dengan sangat–sangat tajam antara pemikiran dan faham Mu‘tazilah yang sangat mengandalkan rasio dalam membentuk argumennya dan Syiah dengan konsep imammahnya yang tak kalah kuat juga. Hasil terjemahan ini kemudian dikumpulkan di Al-Kindiyyah, sebuah perpustakaan pribadi milik Al-Kindi.8

6Ibid, h. 239.

7Tokoh terkenal Ibnu Abu Usaibi‘ah (w. 668 H/ 1269 M), pengarang Tabaqatal Attiba, mencatat beberapa kesimpulan menarik tentang Al-Kindi diantaranya: Al-Kindi sebagai salah satu tokoh dari empat tokoh penerjemah mahir pada masa gerakan penerjemahan. Tiga orang lainnya adalah Husnain bin Ishaq, Tsabit bin Qurrah, dan Umar bin Farkhan At-Thabari. Meskipun sebagian penulisnya meragukan keikutsertaannya dalam menerjemahkan buku- buku ilmu pengetahuan dan filsafat, setidaknya ia ikut memperbaiki terjemahan Arab dari sejumlah buku. Kegiatan Al-Kindi lebih banyak tertuju pada upaya menyimpulkan pemikiran filsafat yang sulit dipahami dan kemudian mengarang sendiri dengan gaya bahasa yang mudah dipahami oleh orang Arab. Dengan kata lain, ia turut menyumbangkan pemikirannya secara efektif dalam memasukkan filsafat ke dalam khazanah pengetahuan Islam. Bahkan, dalam The Legacy of Islam diuraikan tentang sumbangan Al-Kindi dalam optika diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan banyak mempengaruhi ilmuan barat Roger Bacon, Lihat Mustofa Hasan, Sejarah Filsafat Islam (Geneologis dan Transmisi Filsafat Timur ke Barat), (Bandung: Pustaka Setia, 2015), hal. 69-71.

8 Atang Abdul Hakim dkk, Filsafat Umum dari Mitologi sampai Teofilosufi, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hal. 441.

Peran penting dan kontribusi terbesar yang diberikan Al-Kindi bagi dunia Islam saat itu adalah terbukanya pintu-pintu filsafat dan toleransi ilu filsafat bagi para ilmuwan muslim. Umat muslim pada zaman dahulu amat menentang untuk mempelajari ilmu filsafat, karena dikhawatirkan akan menyebabkan berkurangnya rasa hormat kepada Tuhan dan penggunaan akal yang kadang melampaui batas pemikiran orang Arab saat itu. Namun, Al-Kindi mencoba membangun nilai filsafat dan mendesak mereka agar menoleransi gagasan-gagasan dari luar Islam yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan Islam.9 Gagasan dan sikap inilah yang kemudian hari memberinya gelar faylasuf (filsuf), karena apa yang ia perkenalkan dalam bidang filsafat murni, sebenarnya hanya sedikit mengundang ide-ide asli daripadanya, sekalipun ia memiliki pemikiran bebas.

Dua buah karyanya yang berjudul “Tentang Filsafat Pertama serta Tentang Keesaan Tuhan dan Keterbatasan Badan Alam Semesta.10 Mempertegas pandangan Al-Kindi yang berbeda dengan filsuf-filsuf Yunani, seperti Aristoteles, Plato, dan sebagainya. Salah satunya, tentang masalah penciptaan yang selalu menjadi persoalan karena memiliki hubungan dengan doktrin keesaan Tuhan. Namun, Al-Kindi berhasil mengkonfrontasi teori Ex Nihilo Nihil Fit yang dikemukakan oleh Aristoteles dilawan dengan teori Creatio ex Nihilo. Masalah penciptaan ini ia garap dalam Ibn Nabatah berkata, ―Al-Kindi dan karya-karyanya telah menghiasi kerajaan Al-Mu‘tasim.‖ Ia juga terkenal pada masa pemerintahan Al-Mutawakkil (232-247 H/ 847- 861 M). Ibn Abi Usaibi‘ah menceritakan kemsyhuran Al-Kindi pada masa lalu,‖Muhammad dan Ahmad, dua putra Musa Ibn Syakir, yang bersekongkol untuk memusuhi orang yang maju dalam ilmu pengetahuan, mengutus Sanad ibn Ali ke Baghdad untuk memisahkan Al-Kindi dari Al-Mutawakkil. Persengkongkolan mereka berhasil sehingga Al-Mutawakkil memerintahkan Al-Kindi ditangkap.

9 Wahyu Martiningsih, Para Filsuf dari Plato sampai Ibnu Bajjah, (Jogjakarta:

IRCiSoD, 2014), hal. 240.

10 Ibid, hal. 240.

Perpustakaannya disita, dipencilkan, dan disegel dengan nama

―Perpustakaan Al-Kindi.‖11

Al-Kindi hidup dan berinteraksi dengan pemerintahan Al- Ma‘mun, Al-Mu‘tasim maka Harun Nasution, tidak heran jika Al- Kindi menganut aliran Mu‘tazilah yang mengedepankan rasio dan filsafat dalam pemahaman keislamannya. Di samping itu zaman Al- Kindi adalah zaman penerjemahan buku-buku Yunani yang memberikan pengaruh besar terhadap pola pikiran Al-Kindi dan ia turut aktif dalam kegiatan terjemahan.

Riwayat lain tentang sepak terjang Al-Kindi dilukiskan dalam karikatur Al-Jahiz dalam Kitab Al-Bukhala. Al-Kindi hidup mewah di sebuah rumah yang di kebun rumahnya ia memelihara banyak binatang langka. Ia hidup menjauh dari masyarakat, bahkan dari tetangga-tetangganya. Sebuah kisah menarik oleh Al-Qifti memaparkan bahwa Al-Kindi bertetangga dengan seorang saudagar kaya yang tidak pernah tahu bahwa Al-Kindi adalah seorang tabib ahli. Ketika anak sang saudagar tiba-tiba lumpuh dan tidak seorang tabib pun di Baghdad mampu menyembuhkannya, seorang memberi tahu sang saudagar bahwa ia bertetangga dengan filsuf tercermelang yang sangat pandai mengobati penyakit seperti itu dengan musik, alhasil anak dari saudagar kaya itupun sembuh seketika.

Dalam dokumen fajar gemilang filsafat islam (Halaman 77-81)