• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ruang Lingkup Filsafat Islam

Dalam dokumen fajar gemilang filsafat islam (Halaman 41-47)

Berbicara ruang lingkup Filsafat Islam, hal tersebut perlu dirujuk pada aspek objek filsafat terlebih dahulu. ―Objek filsafat itu bukan main luasnya‖, tulis Louis Katt Soff, yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu yang ingin diketahui manusia.23 Karena memiliki pikiran atau akal yang aktif, manusia sesuai dengan tabiatnya, cenderung untuk mengetahui segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada menurut akal pikirannya. Jadi, objek filsafat adalah mencari keterangan sedalam-dalamnya.24

22 Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum (Bandung:

Pustaka Setia, 2008), h. 438.

23 Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat, dan Agama, (Surabaya: Bina Ilmu, 1991), cet. Ke-9, h. 84.

24 Pernyataan ini dapat dilihat dari pandangan Juhaya S. Praja bahwa ―objek penyelidikan filsafat adalah segala yang ada dan mungkin ada, tidak terbatas‖.

Inilah yang disebut objek materia filsafat. Jika demikian, apakah yang membedakan filsafat dari ilmu pengetahuan lainnya? Jawabannya tidak ada perbedaan antara objek filsafat dan objek ilmu pengetahuan lainnya, kalau objek filsafat yang dimaksud adalah objek materianya. Hal ini dikarenakan ilmu pengetahuan pun mempunyai objek materia yang sama dengan filsafat, yaitu segala yang ada dan yang mungkin ada. Ilmu pengetahuan bebas dan tidak terikat untuk menentukan objek penyelidikannya, dan sampai saat ini, belum ada pembatasan dalam objek ilmu pengetahuan (objek material). Namun filsafat, dapat dibedakan dengan ilmu pengetahuan lainnya dari segi sifat penyelidikannya. Filsafat memiliki sifat mendalam dalam menyelidiki sesuatu, sedangkan objek penyelidikan ilmu pengetahuan hanya terbatas pada sesuatu yang dapat diselidiki secara ilmiah, dan jika tidak dapat diselidiki lagi, ilmu pengetahuan akan terhenti sampai di situ. Tetapi penyelidikan filsafat tidaklah demikian, filsafat akan terus bekerja hingga permasalahannya dapat ditemukan sampai akarnya. Lihat lebih lanjut Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat dan Etika,

Lebih lanjut dapat dirincikan bahwa objek filsafat ada dua, yaitu (1) objek materia dan (2) objek forma. Mengenai objek materia, banyak yang sama dengan objek materia sains. Sains memiliki objek materia empiris; filsafat menyelidiki objek itu juga, tetapi bukan bagian yang empiris, melainkan pada bagian yang abstrak. Adapun objek forma filsafat yaitu mencari keterangan yang sedalam-dalamnya tentang objek materi filsafat (yakni, segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada).25

Selanjutnya Endang Saifuddin Anshari memperincikan bahwa objek filsafat terdiri sebagai berikut.

1. Objek materia filsafat dapat dibagi atas tiga persoalan pokok, yaitu:

a.HakikatTuhan;

b.Hakikatalam;dan c. Hakikat manusia.

2. Objek forma filsafat adalah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya hingga ke akarnya) tentang objek materi fil- safat (sarwa-yang-ada).26

Dengan redaksi lebih detil, Hamzah Ya‘qub dalam buku “Filsafat Agama; Titik Temu Akal dengan Wahyu mengatakan bahwa objek fil- safat adalah mencari keterangan sedalam-dalamnya tentang hal-hal berikut ini;

1. ―Ada umum‖, yaitu menyelidiki yang mungkin adanya ditinjau secara umum. Dalam realitanya terdapat bermacam-macam yang mungkin adanya. Dalam bahasa Eropa, ―ada umum ini disebut

ontologia yang berasal dari perkataan Yunani ―onontos yang be- rarti ―ada‖. Dalam bahasa Arab sering digunakan istilah ―untulujia

dan ―ilmu kainat‖.

2. ―Ada mutlak‖, yakni sesuatu yang ada secara mutlak, yaitu Zat yang wajib ada, tidak bergantung pada apa dan siapa pun. Adanya tidak berpermulaan dan tidak berpenghabisan. Ia terus-menerus

(Bandung: Yayasan Piara, 1997), h. 12 (buku ini telah diterbitkan oleh Prenada, Jakarta, 2007).

25 Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: Rosdakarya, 1990), h.18-19.

26 Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat, dan Agama (Surabaya: Bina Ilmu, 1991), cet. ke-9, h. 87.

ada karena ada dengan pasti. Ia merupakan asal adanya segala sesuatu. Inilah yang disebut ―Tuhan‖, yang dalam bahasa Yunani disebut ―Theodicea dan dalam bahasa Arab disebut ―Ilah atau

Allah.

3. ―Kosmologia‖, yaitu filsafat yang mencari hakikat alam, yaitu apakah sebenarnya alam dan bagaimanakah hubungannya dengan

―Ada mutlak‖. Kosmologia adalah filsafat alam yang menerangkan bahwa adanya alam adalah tidak mutlak. Alam dan isinya adanya itu karena dimungkinkan Allah. ‖Ada tidak mutlak‖, mungkin

―ada‖, dan mungkin ―lenyap sewaktu-waktu‖ pada suatu masa.

4. ―Antropologia‖ (filsafat manusia). Manusia termasuk ―ada yang tidak mutlak‖ maka menjadi objek pembahasan. Apakah manusia itu sebenarnya?, apakah kemampuannya dan apakah pendorong tindakannya? Semua ini diselidiki dan dibahas dalam antropologia.

5. ―Etika‖: filsafat yang menyelidiki tingkah laku manusia.

Bagaimana tingkah laku manusia yang dipandang baik dan buruk serta tingkah laku manusia mana yang membedakannya dengan makhluk lain? Inilah sederetan pertanyaan penting untuk mendala- mi hakikat tingkah laku manusia.

6. ―Logika‖: filsafat akal budi dan biasanya juga disebut ―mantiq‖.

Akal budi adalah akal yang terpenting dalam penyelidikan manusia untuk mengetahui kebenaran. Tanpa kepastian tentang logika, semua penyelidikan tidak mempunyai kekuatan dasar. Tegasnya, tanpa akal budi, tidak akan ada penyelidikan. Oleh karena itu, logika mempermasalahkan adakah manusia mempunyai akal budi dan dapatkah akal budi itu mencari kebenaran? Kemudian, mun- cul permasalahan apakah kebenaran itu dan sampai di manakah kebenaran dapat ditangkap oleh akal budi manusia? Penyelidikan tentang akal budi disebut ―filsafat akal budi atau ―logika.

Penyelidikan tentang bahan dan aturan berpikir disebut ―logika mi- nor‖, sedangkan yang menyelidiki isi berpikir disebut ―logika

mayor. Filsafat akal budi ini disebut epistemologi dan ada yang menyebut kritica sebab akal yang menyelidiki akal. 27

Adapun objek filsafat Islam adalah sama dengan objek kajian filsafat pada umumnya, yaitu realitas, baik yang material maupun yang gaib. Perbedaannya terletak pada subjek yang mempunyai komitmen Qur‟anik.28

Dalam hubungan ini objek kajian filsafat Islam bertemakan Tuhan, alam, manusia, dan kebudayaan. Tema besar itu dapat dijabarkan lebih spesifik sesuai dengan perkembangan zaman sehingga dapat ditarik benang merah dari perkembangan sejarah pemikiran kefilsafatan hingga sekarang.

Pembagian objek filsafat dalam versi ahli Ushul Fiqh, sebagaimana dikutip Faturahman Jamil dibagi pada dua rumusan, yaitu sebagai berikut.29

1. ―Falsafah Tasyri: filsafat yang memancarkan hukum Islam atau menguatkannya dan memeliharanya. Filsafat ini bertugas membic- arakan hakikat dan tujuan penetapan hukum Islam. Filsafat tasyri‟

terbagi pada:

a. dasar hukum Islam (da‟aim al-ahkaam);

b. prinsip-prinsip hukum Islam (mabadi‟al-ahkaam);

c. pokok-pokok Islam (ushul al-ahkaam) atau sumber-sumber hukum Islam (mashaadir al-ahkaam);

d. tujuan-tujuan hukum Islam (maqaashid al-ahkaam);

e. kaidah-kaidah hukum Islam (qawaa‟id al-ahkaam).

2. ―Falsafah Syariah‖: filsafat yang diungkapkan dari materi-materi hukum Islam, seperti ibadah, muamalah, jinayah, ‗uqubah, dan se- bagainya. Filsafat ini bertugas membicarakan hakikat dan rahasia hukum Islam. Pembagian falsafah syariah adalah:

27 Hamzah Ya‘qub, Filsafat Agama: Titik Temu Akal dengan Wahyu (Jakarta:

Pedoman Ilmu Jaya, 1992),cet.

ke-1, h. 7-8.

28 Musa Asy‘arie, et. al., Filsafat Islam: Kajian Ontologis, Aksiologis, Historis, Perspektif (Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam, 1992), cet. ke-1, h. 15.

29 Faturrahman Djamil, Metode Ijtihad Majelis Tarjih Muhammadiyah (Jakarta:

LOGOS, 1997), h. 15.

a. rahasia-rahasia hukum Islam (asraar al-ahkaam);

b. ciri-ciri khas hukum Islam (khashaa‟is al-ahkaam);

c. keutaman-keutaman hukum Islam (mahaasin al-ahkaam);

d. karakteristik hukum Islam (thawabi‟al-ahkaam).

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ditinjau secara material, objek filsafat sama dengan objek ilmu pengetahuan. Ditinjau secara forma, objek filsafat Islam mencakup Tuhan, alam, dan manusia yang bersumber pada Al-Quran, hadis, dan akal.

Lebih jelas lagi, C.A. Qadir menyatkan bahwa objek kajian filsafat Islam adalah sebagai berikut.

1. Masalah doktrin monotheisme atau keesaan Allah. Menurut dok- trin ini, Allah adalah pencipta alam semesta yang tidak berawal (Qadiim), tidak berakhir (Baqa‟), tidak berubah, Mahatahu, Maha- kuasa, satu-satunya yang disembah. Jelasnya, Allah yang Satu, yang tiada tandingannya dan yang unik. Karena tidak ada yang menyerupainya dalam kodrat atau sifat-sifat-Nya, dosa terbesar yang tidak mungkin diampuni adalah dosa penyekutukan ter- hadap Allah (syirik). Semua filsuf Muslim berpandangan bahwa monotheisme (tawhiid) merupakan doktrin sentral dari sistem pemikiran mereka, dan tidak disangsikan lagi, hal itu diilhami oleh Al-Quran, dan merupakan doktrin Islam yang jelas dan tegas.

2. Masalah yang sangat penting adalah menyangkut kenabian (nubuwwat), yang mencakup pembahsan mengenai sifat dasar dan ciri-ciri kesadaran nubuwwah, perbedaan dan persamaannya dengan kesadaran mistik, logika, atau kesahihan kesadaran keaga- maan, dan masalah-masalah yang berkaitan dengannya.

3. Masalah penyelarasan antara filsafat dan agama, para filsuf ber- pendapat bahwa pada tingkat terakhir, hasil pemikiran filsafat tidak mungkin bertentangan dengan agama karena keduanya ber- sumber pada hakikat terakhir yang sama. Apabila ada ketidaksera- sian, diperlukan refleksi yang lebih mendalam atau tafsiran baru.

Apabila kontradiksinya tidak dapat dihilangkan, timbul perbedaan

pendapat tentang apakah akal pikiran atau iman yang harus diuta- makan. 30

Namun, pengkajian objek dapat semakin meluas dan mendalam sehingga objeknya bisa ditambah. Hal itu dikarenakan di belakang objek ilmu-ilmu positif yang diperoleh dengan penelitian dan pengujian yang bertujuan mengenal sejumlah perkara tertentu, terdapat persoalan yang lebih umum dan lebih jauh, yang hanya bisa ditanggulangi dengan akal-pikiran. Persoalan itulah yang membentuk filsafat. Misalnya, dari apakah benda pada umumnya ini tersusun?

Bagaimana suatu benda dapat berubah menjadi lainnya, seperti perubahan oksigen dan hidrogen menjadi air, dan roti serta daging menjadi daging manusia dan hewan? Bagaimana kita menafsirkan gerakan, sedangkan gerakan ini merupakan gejala umum pada alam?

Apakah tempat itu, yaitu yang ditempati benda dan berlangsung pula gerakan di dalamnya? Apakah zaman itu, yang menjadi ukuran gerakan dan ukuran wujud semua perkara? Apa perbedaan antara makhluk hidup dan makhluk tidak yang hidup? Apakah ciri-ciri khas tiap-tiap makhluk hidup? Apakah antara makhluk-makhluk hidup terdapat perbedaan susunan semata-mata? Apakah jiwa itu? Apabila ada, apakah jiwa manusia abadi atau akan musnah?

Terdapat sederetan pertanyaan lain yang tidak termasuk dalam salah satu ilmu nyata (biasa), dan metode-metode ilmu pun tidak berguna bagi persoalan-persoalan yang ditanyakan itu. Persoalan tersebut membentuk ilmu ―fisika‖ model tertentu. Dari sini kita meningkat pada ilmu yang lebih umum, yaitu ilmu ―metafisika‖ yang membahas wujud pada umumnya, sebab wujud, sifat zat yang mengadakan. Dari sini kita dapat menjawab pertanyaan, ―Apakah alam semesta ini terwujud dengan sendirinya atau mempunyai sebab yang tidak tampak?‖ 31 Pertanyaan tersebut pada prinsipnya memang krusial.

30 Yusuf Musa, Al-Qur‟an dan Filsafat: Penuntun Mempelajari Filsafat Islam, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), cetakan pertama, h. 79.

31 Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam. (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), h.5.

Begitulah objek kajian filsafat Islam yang memiliki ciri khas tersendiri, meskipun tidak dapat dihindari adanya pengaruh dari filsafat Yunani dalam mengkaji objek kajian filsafat yang sudah ada.

Masing-masing (antara objek kajian filsafat Islam dan filsafat Yunani) memiliki nilai karakteristik masing-masing.

Dalam dokumen fajar gemilang filsafat islam (Halaman 41-47)