• Tidak ada hasil yang ditemukan

BIOLOGI MOLEKULER DAN BIOTEKNOLOGI

Dalam dokumen Untitled - Universitas Udayana (Halaman 67-81)

Optimasi Proses Produksi Etanol dari Khamir Thermotolerant dan Etanol Toleran OL- 23

Zuhelmi Aziz, Umi Marwati, Megawati, Aprin Puspa Dinar

Fakultas Farmasi, Universitas Pancasila, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jakarta 12640

*Email korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Latar Belakang: Sebagian besar produksi etanol dilakukan melalui teknologi fermentasi.

Produksi etanol dengan cara fermentasi memerlukan substrat (bahan baku) dan mikroorganisme. Kemampuan Saccharomyces cerevisiae dalam produksi etanol secara fermentasi memerlukan substrat sebagai sumber karbon. Substrat dapat berasal dari bahan atau limbah yang mengandung gula sederhana maupun polisakarida, salah satunya molase.

Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah molase. Sumber mikroba yang digunakan isolat khamir OL-23 yang mempunyai sifat thermotolerant dan etanol toleran Tujuan: Penelitian ditujukan untuk mendapatkan kondisi optimum produksi etanol dengan variasi jumlah inokulum isolat khamir OL-23 (5%, 10% dan 15%) pada variasi kadar molase (2%,6% dan 8%).

Metode: Perkembangan sel khamir isolate OL-23 dihitung dengan method Petroff-Hauser, sisa glukose diukur dengan spektrofotometer, penetapan kadar etanol dengan kromatografi gas.

Hasil penelitian: Hasil menunjukkan bahwa optimum kondisi produksi etanol dengan subsrat molase sebesar 8%, konsentrasi inokulum sebesar 15%, 4 hari fermentasi merupakan waktu tertinggi untuk panen etanol.

Kesimpulan: kadar etanol tertinggi hasil fermentasi diperoleh sebesar 55,17%.

Kata kunci: etanol, khamir OL-23, fermentasi, thermotolerant, etanol toleran.

Kode Abstrak: PBM-1

Eksudat Ikan Gabus (Channa Striata) Memodulasi Sistem Imun Melalui Peningkatan Aktivitas Makrofag Dan Jumlah Sel Leukosit, Limfosit, Dan Neutrofil

Nunuk Aries Nurulita*, Mega Kartikasari, Suparman, Tumisem Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Jl. Raya Dukuhwaluh Kembaran Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia

*Email korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Latar Belakang: Ikan gabus (Channa striata) telah digunakan secara empiris untuk meningkatkan kemampuan system imun tubuh. Ikan gabus mengandung asam lemak tak jenuh (poli unsaturated fatty acid/PUFA) antara lain asam eicosapentanoat acid/EPA, DHA, asam arakidonat, dan glutamin yang penting dalam sistem imun dan sangat dibutuhkan dalam aktivasi makrofag.

Tujuan: Penelitian ini berTujuan untuk menentukan potensi eksudat ikan gabus (Channa striata) sebagai imunomodulator melalui peningkatan aktivitas dan kapasitas makrofag serta peningkatan jumlah sel leukosit, limfosit dan neutrofil.

Metode: Sampel uji yang digunakan adalah eksudat non polar ikan gabus yang diperoleh dengan cara mengambil fase minyak dari cairan yang keluar dari ikan gabus setelah pemanasan oven, 100°C. Pada penelitian ini digunakan mencit Balb/c yang diinduksi dengan Staphylococcus aureus (SA) untuk melihat efek modulasi eksudat ikan gabus terhadap aktivasi makrofag. Mencit dibagi menjadi lima kelompok, yaitu: kontrol negatif (minyak jagung 0,5 mL), kontrol positif (Stimuno 0,026 mL), kelompok perlakuan 1 (3,9 mg/hari), kelompok perlakuan 2 (2,6 mg/hari), dan kelompok perlakuan 3 (1,3 mg/hari). Mencit diberi perlakuan selama 7 (tujuh) hari, kemudian pada hari ke-8, diinfeksi dengan SA secara interaperitoneal. Aktivasi makrofag dilihat dengan menggunakan latex beads.

Jumlah leukosit, limfosit, neutrofil darah mencit dihitung dengan menggunakan haematology analyzer.

Hasil penelitian: Hasil penghitungan dan pengamatan menunjukkan perlakuan eksudat ikan gabus dapat meningkatkan aktivitas dan kapasitas makrofag secara dose dependent. Eksudat ikan gabus pada dosis 3,9 mg/hari secara signifikan menunjukkan efek yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol positif stimuno (p<0,05). Pada dosis tersebut aktivitas fagositosis makrofag sebesar 82,2 % dengan kapasitas 3,6, sedangkan stimuno aktivitas fagositosis makrofag sebesar 67,8 % dengan kapasitas 2,6.

Eksudat ikan gabus juga meningkatkan jumlah sel leukosit, lymfosit, neutrofil dibandingkan dengan kontrol negatif.

Kesimpulan: Eksudat ikan gabus mempunyai efek imunomodulator melalui mekanisme peningkatan aktivitas dan kapasitas makrofag serta peningkatan jumlah sel-sel yang berperan dalam system imun, antara lain leukosit, limfosit, dan neutrofil.

Kata Kunci: Channa striata , imunomodulator, makrofag, leukosit, limfosit, neutrofil.

Kode Abstrak: PBM-2

70 Pemanfaatan Metode PCR-RFLP untuk Deteksi Mutasi Daerah RRDR Gen rpoB

pada Isolat Klinik MDR-Tuberculosis

Sagung Chandra Yowani,1,3I Nengah Wirajana,2,3 Made Rai Dwitya Wiradiputra.1

1Jurusan Farmasi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana, Bali 80361, INDONESIA

2 Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Udayana, Bali 80361, INDONESIA

3Kelompok Studi MDR & XDR Tuberculosis,Universitas Udayana, Bali 80361, INDONESIA

*Email korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Latar Belakang: Mutasi pada RRDR (Rifampicin Resistance Determinant Region) pada gen rpoB Mycobaterium tuberculosis diketahui sebagai surrogate marker kejadian MDR- TB (Multi Drug Resistance Tuberculosis). Deteksi dini MDR-TB secara cepat dan akurat sangat penting untuk penentuan regimen antibiotik yang tepat dan pencegahan penyebaran epidemi MDR-TB. Selama ini, Metode deteksi konvensional MDR-TB yang didasarkan pada kultur bakteri dari spesimen biologis pasien (DST: Drug Sensitivity Test), memerlukan waktu hingga 6 minggu untuk mendapatkan hasil pengujian. Oleh karena itu, Metode molekuler merupakan pilihan untuk deteksi yang lebih cepat.

Tujuan:Penelitian ini berTujuan untuk mengaplikasikan Metode PCR-RFLP untuk mendeteksi adanya mutasi pada RRDR gen rpoB M.tuberculosis dengan menggunakan enzim restriksi yang tepat.

Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah eksploratif laboratoris dengan menggunakan isolat klinik pasien MDR-TB di RSUP Sanglah, Denpasar. Tahap pertama dilakukan pemilihan enzim restriksi secara in silico menggunakan program Clone Manager. Enzim restriksi yang dipilih, kemudian digunakan untuk memotong situs spesifik pada sekuen DNA produk PCR dari RRDR gen rpoB M.tuberculosis. Digesti dilakukan pada suhu 370C selama 3 jam. Hasil digesti dideteksi menggunakan elektroforesis agarosa 1,6%.

Hasil penelitian: Enzim restriksi yang dipilih dari hasil analisis secara in silico adalah PvuI yang mengenali kodon 510 dan 511 dari gen rpoB M. tuberculosis. Deteksi hasil digesti pada gel agarosa menunjukkan adanya dua pita pada isolat H37Rv sebagai standar bakteri yang tidak mengalami mutasi. Begitu pula pada isolat P10, P11, dan 86. Hal ini menunjukkan bahwa pada ketiga isolat tersebut tidak terjadi mutasi. Pada sampel 134 hanya didapatkan satu pita yang menunjukkan bahwa enzim restriksi tidak memotong sekuen produk PCR. Hal tersebut menandakan bahwa pada isolat134 terjadi mutasi pada kodon 510 sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya

Kesimpulan: Metode PCR-RFLP dengan menggunakan enzim restriksi yang tepat, dapat digunakan untuk mendeteksi adanya mutasi pada RRDR gen rpoB M.tuberculosis.

Kata kunci: Multi-drug resistance, Mycobacterium tuberculosis, gen rpoB, mutasi, enzim restriksi PvuI

Kode Abstrak: OBM-1

71 Uji Aktivitas Ekstrak Daun Pepaya (Carica Papaya L.) Terhadap Candida Albicans

Dari Pasien HIV Eka Desnita1*

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah Email korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Latar Belakang: Candida albicans merupakan penyebab paling banyak infeksi jamur di rongga mulut. Jamur ini juga dapat menyebabkankan didiasis oral. Insiden kandidiasis oral mencapai 95% Candida albicans pada pasien HIV/AIDS. Salah satu tanaman yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhannya adalah daun pepaya.

Tujuan: Penelitian ini merupakan eksperimental berTujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) terhadap Candida albicans dari pasien HIV.

Metode: Penelitian ini merupakan eksperimental menggunakan ekstrak daun papaya dengan konsentrasi 30%, 40%, 50%, 60% dan 70%. Uji aktivitas antifungi dilakukan dengan Metode difusi cakram dengan mengukur daerah hambatan (halo zone).

Hasil Penelitian: Hasil penelitian diperoleh rerata berturut-turut 0mm, 0mm, 8,45mm, 10,24mm dan 13,3mm. Dimana pada konsentrasi 30% dan 40% belum adanya daya hambat sedangkan pada konsentrasi 50% sudah terlihat daya hambat nilai rerata yaitu 8,45mm, konsentrasi 60% nilai rerata 10,24mm dan pada konsentrasi 70% nilai rerata 13,3mm. Diameter zona hambat ini selalu mengalami peningkatan sebanding dengan peningkatan konsentrasi ekstrak daun pepaya. Hasil uji statistik menggunakan one way anova dilihat bahwa nilai p-valuemm 0,05 (p = 0,00).

Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat aktivitas ekstrak daun pepaya pada konsentrasi 50%, 60%, dan 70% dan kontrol (+) terhadap daya hambat pertumbuhan Candida albicans dari pasien HIV.

Kata Kunci: carica papaya l., candida albicans, pasien HIV

72 Isolasi dan Identifikasi Gen e6 human papillomavirus (hpv) tipe 52 dengan Metode

Polymerase Chain Reaction

Yufri Aldi,1* Marlina,1 Afiya Hasanah,1 Akmal Djamaan,1 Andani.2

FFakultas Farmasi Universitas Andalas Padang, INDONESIA

2 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang, INDONESIA

*Email korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Latar Belakang: Kanker serviks merupakan penyebab kematian nomor dua terbesar di Indonesia setelah kanker payudara. Faktor mayor penyebab kanker serviks adalah infeksi high risk Human papillomavirus (HPV). HPV tipe 52 merupakan HPV beresiko tinggi yang memiliki prevalansi terbesar ketiga diIndonesia. Namun, penelitiaan mengenai HPV 52 ini masih sedikit di Indonesia khususnya di Sumatera Barat dan Pekanbaru.

Metode: DNA diisolasi dari 50 sampel yang berasal dari dua jenis sampel, yaitu sampel apusan vagina dan jaringan kanker pasien kanker serviks. Identifikasi DNA HPV menggunakan primer GP 5+/6+ sedangkan utk mendeteksi DNA HPV tipe 52 menggunakan primer spesifik tipe 52.

Hasil Penelitian: Isolasi DNA dengan menggunakan DNA extraction Kit (GeneaidTM) untuk sampel jaringan kanker serviks dan Genomic DNA Mini Kit, InvitrogenTM untuk sampel apusan serviks, menunjukkan bahwa 26 dari 50 sampel positif terdapat DNA HPV.

Dari 26 yang positif DNA HPV, ternyata diperoleh satu sampel positif DNA HPV-52 terlihat berdasarkan adanya pita yang dihasilkan dari primer yang digunakan yaitu 323 bp.

Kesimpulan: Dari 50 sampel yang digunakan untuk penelitiaan sebanyak 52%

teridentifikasi DNA HPV dan 2% sampel teridentifikasi DNA HPV tipe 52 Kata kunci: Kanker serviks, HPV tipe 52, Primer, PCR

Kode Abstrak: OBM-3

73 Peran Peptida Sinyal Trimetilamin N-Oxida Reduktase A (TorA) dalam Sekresi

Periplasma Protein Human Ephidermal Growth Factor (HEGF) Menggunakan Inang E. Coli BL21

Sriwidodo1*, Toto Subroto2, Iman P Maksum2, Eriya Utama2

*1Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, Jatinangor 45363 , Indonesia.

2Fakultas MIPA, Universitas Padjadjaran, Jatinangor 45363, Indonesia E-mail Korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Latar Belakang: Human Epidermal Growth Factor (hEGF) adalah protein terapeutik yang berperan dalam proses proliferasi, migrasi dan diferensiasi sel. hEGF ini sudah dapat diproduksi menggunakan sel inang Eschericia coli, tetapi mayoritas hEGF rekombinan ini diproduksi secara intraseluler yang diketahui memiliki banyak kelemahan antara lain adanya akumulasi protein yang non-fungsional, banyaknya protein yang terbentuk sebagai badan inklusi akibat dari kesalahan pelipatan, dan tingginya laju degradasi akibat adanya enzim protease intraseluler. Ekspresi periplasma menjadi teknik sekresi periplasma yang dikembangkan dalam mengatasi kelemahan ekspresi intraseluler menggunakan peptida sinyal yang difusikan dengan protein target untuk dapat melewati jalur sec dependent ataupun jalur TAT (Twin Arginine Translocation).

Tujuan: Mengembangkan produksi hEGF rekombinan dengan Metode sekresi periplasma menggunakan peptida sinyal yang belum pernah digunakan sebelumnya yaitu Trimetilamin N-Oxida Reduktase A (TorA) dan mengkarakterisasi sekaligus mengukur kadar protein hEGF rekombinan yang disekresikan untuk melihat hasil optimal baik pada periplasma maupun media kultur sel.

Metode: Gen hEGF dalam vektor plasmid pD881-TorA ditransformasi secara elektroporasi ke dalam sel inang Eschericia coli BL21 lalu diinduksi menggunakan L- ramnosa dan kemudian hEGF rekombinan diekstraksi dari periplasma dan dikarakterisasi menggunakan SDS-PAGE, hEGF rekombinan yang disekresikan kemudian diverifikasi dan dihitung jumlahnya menggunakan Metode ELISA.

Hasil Penelitian: Ekspresi hEGF ditunjukkan dengan adanya pita tebal elektroforegram SDS-PAGE Trisin di sekitar 6,2 kDa pada fraksi tidak terlarut. Sekresi periplasma berupa perpindahan hEGF dari sitoplasma menuju ruang periplasma sel Escherichia coli ditunjukkan juga dengan adanya pita yang sama pada t 1 jam setelah induksi dan terlihat dengan ketebalan hampir sama yang berarti hEGF menumpuk di sitoplasma dan sedikit ke luar menuju media. Hal ini diperkuat dengan tipisnya pita hEGF pada t 20 jam setelah induksi. Hasil verifikasi menggunakan ELISA sekaligus menunjukkan jumlah hEGF dalam media kultur sebesar 0,9625 µg/ mL.

Kesimpulan: Ekstraksi periplasma pada t 1 jam setelah induksi telah cukup optimal menghasilkan hEGF rekombinan pada teknik sekresi periplasma menggunakan peptida sinyal TorA.

Kata kunci: hEGF rekombinan, TorA, ekspresi periplasma, SDS-PAGE, ELISA Kode Abstrak: OBM-4

74 Aktivitas Sitotoksik Ekstrak Etanol Kulit Batang Asam Kandis (garcinia cowa roxb.)

Terhadap Sel Kanker Payudara t47d dengan Metoda MTT (mikrotetrazolium) Elidahanum Husni,1* Fatma Sriwahyuni,1 Faras Nahari,1

FFakultas Farmasi Universitas Andalas Padang

*Email korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Latar Belakang: Tumbuhan Garcinia (Guttiferae) mengandung berbagai jenis senyawa metabolit sekunder dan berdasarkan uji bioaktivitas menunjukkan aktifsebagai antikanker.

Tujuan: Menguji efek sitotoksik ekstrak etanol kulit batang asam kandis (Garcinia cowa Roxb.) terhadap sel kanker payudara T47D secara in vitro.

Metode: Potensi ekstrak kulit batang asam kandis ini diuji dengan Metode MTT. Prinsip kerja metoda MTT adalah dengan mengukur aktivitas dehidrogenase mitokondria pada sel-sel hidup yang memiliki kemampuan untuk mengkonversi MTT menjadi formazan.

Pengujian ekstrak dilakukan dari konsentrasi 0,1 μg/ml, 1 μg/ml, 10 μg/ml, dan 100 μg/ml.

Hasil penelitian: Dari pengujian yang dilakukan diperoleh nilai IC50 ekstrak kulit batang asam kandis terhadap sel kanker payudara 47D sebesar 5,1 ± 1,68 μg/ml.

Kesimpulan: Kulit batang asam kandis (Garcinia cowa Roxb.) mampu menghambat pertumbuhan sel kanker payudara T47D secara signifikan pada konsentrasi 10 μg/ml dan 100 μg/ml.

Kata kunci: Kanker Payudara, Asam Kandis (Garcinia cowa Roxb.), MTT

Kode Abstrak: OBM-5

29 Overproduksi Protein Merkuri Reduktase MerA Hasil Transformasi Gen merA

pada Sel Escherichia Coli BL-21 Fatimawali,1* Billy Kepel,2 Trina Tallei 3

1Program Studi Farmasi FMIPA Unsrat Manado 95115, Indonesia

2Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Unsrat Manado 95115, Indonesia

3 Program Studi Biologi FMIPA Unsrat Manado 95115, Indonesia.

*Email korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Latar Belakang: Senyawa toksik merkuri anorganik dapat didetoksifikasi menggunakan enzim merkuri reduktase MerA.

Tujuan: Penelitian ini berTujuan untuk melakukan overproduksi protein MerA hasil transformasi gen merA pada sel E. coli BL-21 dengan induksi IPTG.

Metode: Overproduksi dilakukan pada volume 200 mL dengan suhu pertumbuhan 25 dan 37 C sampai OD600 nm ~ 0,7, suhu induksi, konsentrasi akhir IPTG 0,1 mM, 1,0 mM dan 5,0 mM dan waktu induksi terbaik 1, 2 dan 3 jam. Pelet sel dilisis dengan sonikasi pada suhu 4C, kemudian protein kasar dianalisis dengan SDS-PAGE.

Hasil Penelitian: Hasil overproduksi terbaik pada induksi dengan IPTG konsentrasi 0,1 mM, menunjukkan bahwa OD600 = 0,7 dicapai pada saat inkubasi selama 3 jam pada suhu 37oC. Hasil analisis dengan SDS-PAGE terlihat menghasilkan protein merA yang tebal dengan ukuran 62 kDa.

Kesimpulan: Overproduksi protein MerA dengan ukuran 62 kDa berhasil dilakukan menggunakan induksi IPTG dengan kondisi optimum: konsentrasi IPTG 0,1 mM, lama inkubasi 3 jam dan suhu inkubasi 37oC. Protein MerA hasil overproduksi tersebut, dapat digunakan pada penelitian selanjutnya untuk proses detoksifikasi merkuri anorganik.

Kata kunci : Overproduksi, Escherichia coli BL-21, protein MerA

Kode Abstrak: OBM-6

30

Single Nucleotide Polymorphisme (SNPs) Human Papillomavirus (HPV) Tipe 18 dari Isolat Pasien Kanker Serviks

1Marlina, 2Andani Eka Putra, 1Yufri Aldi, 1Dewi Gulyla Hari, 1Akmal Djamaan

1Fakultas Farmasi, Kampus Limau Manis, Universitas Andalas, Padang

2Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Jl. Perintis Kemerdekaan, Padang

Email: [email protected]

ABSTRAK

Kanker serviks yang disebabkan oleh Human Papillomavirus (HPV) menempati peringkat 4 dari jenis kanker yang paling banyak diderita penduduk dunia, dan lebih dari 85% kasus kanker serviks terjadi di negara berkembang. Berdasarkan tingkat keganasan penyakit yang diakibatkan nya, maka HPV terbagi atas dua golongan, high risk HPV dan low risk HPV, yang tergolong high risk antara lain tipe 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 50, 51, 53, 55, 56, 58, 64 dan 68. Tipe yang terbanyak ditemukan dari hasil identifikasi sampel adalah tipe 16 dan 18. Telah dilakukan analisis molekuler dari 11 isolat yang positif mempunyai gen E6 dengan menggunakan primer spesifik. Semua isolate di sekuensing untuk mengetahui jajaran nukleotidanya. Hasil yang diperoleh dari data sekuensing isolate dibandingkan dengan isolate referen NC0013571, terdapat 27 SNPs yang terjadi pada semua tempat, yaitu proses transisi dan transversi. NSPs yang paling banayk terjadi adalah proses transversi (70, 07%), sedangkan sisanya proses transisi sebanayk 25, 93%. Dari data ini dapat diduga bahwa point mutation yang terjadi bersifat silet mutation. Data yang diperoleh dari pohon filogeni membuktikan bahwa ampel group I berada dalam satu lineage dengan NC001357 dan sekuens referen lainnya, sedangkan group II dan III berada dalam lineage terpisah dengan sekuens referens. Untuk data homolog atau identity, seluruh sampel isolate menunjukkan kisaran angka >98%, yang berarti bahwa isolate sampel merupakan varian dari NC001357.

Kata kunci: Isolat kanker serviks, HPV tipe 18, sekuensing, NSPs, referen NC001357 Kode Abstrak: OBM-7

31 Pemetaan Polimorfisme Genetik ADRB2 Gln27Glu pada Orang Indonesia dan

Implikasinya Terhadap Terapi Asma Zullies Ikawati1, Mustofa2, Sri Haryanti3,

1Fakultas Farmasi UGM Yogyakarta, 2 Departemen Farmakologi dan Terapi, Fakultas Kedokteran, UGM Yogyakarta, 3STIFAR Yaphar Semarang

Email: [email protected] ABSTRAK

Asma merupakan penyakit yang menyerang saluran pernafasan yang prevalensinya cukup besar. Beberapa faktor termasuk genetik akan mempengaruhi keberhasilan pengobatan.

Adanya polimorfisme dapat menyebabkan respon seseorang penderita asma terhadap obat- obatan tersebut menjadi bervariasi. Obat golongan beta agonis bekerja pada -2 adrenergik (ADRB2), di mana gen ADRB2 telah dire-sekuensing dengan 45 jenis single nucleotide polymorphism (SNPs). Di antara SNPs tersebut, salah satunya adalah terjadi pada posisi 27, yaitu perubahan asam glutamate ke glutamin (Glu27Gln); rs1042714.

Penelitian ini bertujuan melakukan pemetaan polimorfisme genetic gen ADRB2 pada SNPs Glu27Gln; rs1042714 dan pengaruh polimorfisme tersebut terhadap efikasi beta agonis dan efek samping hipokalemia.

Penelitian ini merupakan penelitian observasional menggunakan rancangan potong lintang yang dilakukan di lima rumah sakit di Daerah Istimewa Yogyakarta dan satu rumah sakit di Jateng selama enam bulan antara Juni 2015 sampai April 2016. Subjek penelitian adalah pasien dengan diagnosa asma yang menjalani pengobatan di poliklinik penyakit dalam di rumah sakit tersebut dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi serta bersedia ikut dalam penelitian dengan menanda tangani surat pernyataan persetujuan. Diperoleh 105 orang subyek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pemetaan polimorfisme genotype menunjukkan bahwa 66 subyek adalah homozygot Gln 27-WT, 30 subyek memiliki heterozygot Gln27Glu, 8 subyek homozygot Glu 27-Mutan, dan 1 pasien tidak terdeteksi. Pengamatan efek samping dilihat dari pemeriksaan kadar kalium.

Dari 105 subyek yang memenuhi kriteria inklusi, 57 orang menjalani 2 kali pemeriksaan kadar kalium dengan interval 1 bulan, untuk diketahui apakah terjadi penurunan/kenaikan/tetap kadar kalium. Dari sebanyak 36 pasien homozygot Gln 27-WT, 1 pasien (2,8%) hipokalemi, Dari 19 pasien dengan heterozygot Gln27Glu, 3 pasien (15,8%) menunjukkan hipokalemi, dan dari 2 pasien Homozygot Glu 27-Mutan, dua- duanya (100%) hipokalemi. Ada kecenderungan terjadinya hipokalemi pada pasien dengan polimorfisme Gln27Glu. Pengamatan efikasi dilihat dari nilai Asthma Control Test (ACT). Tiga kelompok genotype menujukkan bahwa semua masuk dalam kategori terkontrol sebagian, dimana nilai rata-rata ACT masing-masing adalah 17,29 pada homozygot Gln 27-WT; 16,2 pada heterozygot Gln27Glu, dan 16,75 pada Homozygot Glu 27-Mutan. Terlihat kecenderungan bahwa polimorfisme pada Gln27Glu tidak mempengaruhi efikasi beta agonis.

Kata kunci: Asma, Polimorfisme ADRB2, Gln27Glu, Efek samping, Efikasi.

32 Kombinasi Isolat Aktif Caesalpinia sappan L. dengan Cisplatin Menginduksi

Penghambatan Siklus Sel pada Sel MCF-7/HER2

Riris Istighfari Jenie1, Sri Handayani1.2, Ratna Asmah Susidarti1, Edy Meiyanto1*

1Cancer Chemoprevention Research Center, Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

2Pusat Penelitian Kimia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) E-mail untuk korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Ekspresi berlebihan protein HER2 meningkatkan prognosis yang buruk pasien kanker payudara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas sitotoksik isolat aktif (C), yang kemungkinan mengandung senyawa brazilin, dari tanaman Caesalpinia sappan L. dikombinasikan dengan cisplatin pada sel kanker payudara yang mengekspresikan secara berlebihan protein HER2 (sel MCF7/HER2). Uji aktivitas sitotoksik dilakukan menggunakan uji MTT, sedangkan pengamatan terhadap siklus sel dan apoptosis dilakukan menggunakan flowcytometer.

Isolat C menunjukkan aktivitas sitotoksik pada sel MCF-7/HER2 dengan nilai IC50

sebesar 15 µg/ml. Kombinasi isolat C dengan cisplatin menunjukkan efek sinergis dengan nilai indeks kombinasi pada rasio konsentrasi ½ IC50 sebesar 0,71 (IK <1) dan menurunkan viabilitas sel sebesar 61%. Analisis siklus sel mengindikasikan bahwa perlakuan tunggal ½ IC50 isolat C menginduksi akumulasi sel di fase S dan G2/M, sedangkan perlakuan kombinasi isolat C dengan cisplatin memperlihatkan akumulasi sel di fase G2/M. Pada uji apoptosis, kombinasi isolat C dengan cisplatin tidak menunjukkan induksi terhadap apoptosis. Data penelitian ini mengindikasikan bahwa isolat C memiliki aktivitas penghambatan proliferasi sel MCF-7/HER2 melalui penghambatan siklus sel, namun tidak melalui induksi apoptosis.

Kata kunci: kanker payudara, HER2, Caesalpinia sappan L., siklus sel

Kode Abstrak: OBM-9

Uji Efektivitas Kombinasi Ekstrak Etil Asetat Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) dan Senyawa 5-Fluorourasil Sebagai Ko-Kemoterapi Kanker Kolon Secara In Silico

dan In Vitro

Rifki Febriansah*, Nur Oktafiyani

Prodi Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Indonesia

*Email korespondensi : [email protected] ABSTRAK

Latar Belakang : Kanker kolon telah menjadi lima besar kanker yang sering terjadi pada pria maupun wanita. Penyebab pasti dari kanker kolon belum diketahui, namun enzim Cyclooxygenase 2 (COX-2) berperan dalam terbentuknya kanker ini. Sel kanker kolon (WiDr) merupakan salah satu sel yang kurang sensitif terhadap perlakuan senyawa 5- fluorourasil (5-FU), suatu agen kemoterapi golongan antimetabolit. Resistensi sel WiDr ini salah satunya diperantarai oleh peningkatan enzim timidilat sintetase yang merupakan target pengahambatan utama dari 5-FU. Sehingga diperlukan sebuah senyawa sebagai kombinasi kemoterapi untuk meningkatkan senstivitas sel WiDr terhadap 5-FU.

Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efektivitas ekstrak etil asetat buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) sebagai agen ko-kemoterapi pada sel kanker kolon.

Metode : Sampel yang digunakan adalah ekstrak etil asetat buah mengkudu. Uji yang dilakukan adalah uji sitotoksik, uji kombinasi dengan agen kemoterapi dan uji apoptosis. Uji sitotoksik menggunakan Metode MTT assay terhadap sel WiDr, konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 46,87 µg/ml – 1500 µg/ml sedangkan konsentrasi 5-FU yang digunakan 15,62 µg/ml – 500 µg/ml. Uji kombinasi menggunakan konsentrasi ½ IC50; 3/8 IC50; ¼ IC50; dan 1/8 IC50 dari ekstrak etil asetat dan 5-FU. Uji kombinasi menghasilkan nilai Combination Index (CI). Uji apoptosis menggunakan konsentrasi CI terbaik yang didapat dari uji kombinasi ekstrak etil asetat dan senyawa 5-FU.

Hasil penelitian : Dari pengujian diperoleh nilai IC50 ekstrak etil asetat mengkudu sebesar 868,69 µg/ml dan nilai IC50 5-FU sebesar 795,54 µg/ml. Pada sel WiDr uji kombinasi ekstrak etil asetat dan 5-FU menghasilkan nilai CI 1,17 yang berarti memiliki efek antagonis.

Uji apoptosis menunjukkan bahwa ekstrak tunggal memiliki sifat memacu apoptosis sel WiDr.

Kesimpulan : Ekstrak etil asetat buah mengkudu mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai agen khemopreventif dan bersifat antagonis ketika dikombinasikan dengan 5-FU.

Kata kunci : Ekstrak etil asetat mengkudu; WiDr; sitotoksik; apoptosis; ko-kemoterapi

Dalam dokumen Untitled - Universitas Udayana (Halaman 67-81)

Dokumen terkait