• Tidak ada hasil yang ditemukan

FARMASI BAHAN ALAM DAN OBAT TRADISIONAL

Dalam dokumen Untitled - Universitas Udayana (Halaman 189-200)

Pengaruh Ekstrak Daun Sirih (Piper Betle) Dengan Konsentrasi Yang Berbeda Untuk Mengatasi Infeksi Bakteri (Aeromonas Hydrophilla) Pada Ikan Air Tawar

Yusransyah, Adisti Riana Putri STF Muhammadiyah Tangerang Email: [email protected]

ABSTRAK

Permasalahan yang sering muncul dalam usaha budidaya ikan air tawar adalah serangan penyakit bakteri yang disebabkan oleh Aeromonas Hydrophilla atau biasa dikenal penyakit bercak merah “Motil Aeromonas Septicemia” (MAS). Penelitian ini berTujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun sirih dalam menghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophilla secara in vitro; pengaruh pemberian berbagai konsentrasi ekstrak daun sirih terhadap tingkat kelulushidupan ikan air tawar dan konsentrasi terbaik yang mampu memberikan tingkat kelulushidupan tertinggi pada ikan air tawar.

Rancangan percobaan yang digunakan dengan 5 perlakuan yaitu Kontrol positif menggunakan amoxicillin tablet 500mg, kontrol negatif tidak diberi obat, K1 menggunakan ekstrak daun sirih dengan konsentrasi 0,20%, K2 menggunakan ekstrak daun sirih dengan konsentrasi 0,40% dan K3 menggunakan ekstrak daun sirih dengan konsentrasi 0,60%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman ekstrak daun sirih berpengaruh nyata terhadap tingkat kelulushidupan ikan air tawar. Tingkat kelulushidupan ikan air tawar selama penelitian adalah 44% ikan lele (Clarias sp.) [A], 55% ikan patin (Pangasius hypopthalmus) [B] dan 24% ikan mas (Cyprimus carpio) [C]. Hasil penelitian menunjukkan pula perlakuan K3 (konsentrasi daun sirih 0,60%) merupakan perlakuan yang terbaik, dengan tingkat kelulushidupan ikan air tawar sebesar 41,33%.

Kata kunci : Ikan air tawar, Daun sirih, Aeromonas hydrophilla

Kode Abstrak: PFA-1

Aktivitas Antioksidan Faloak Instan (Sterculia urceolata, Smith) secara in vitro Menggunakan Metode DPPH (1,1-difenyl-2-picrylhydrazyl)”

Priska Ernestina Tenda1*, Samuel D.I. Makoil1, Maria I.M.Indrawati 1. Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Kupang

Alamat Responden : [email protected] ABSTRAK

Pendahuluan : Tanaman faloak merupakan salah satu tanaman tradisional yang dapat berkhasiat sebagai antioksidan dengan bagian yang dimanfaatkan dari pohon faloak adalah kulit kayu dari pohon faloak tersebut karena diketahui mengandung senyawa kimia yang berkhasiat sebagai antioksidan yakni flavonoid.

Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan besar kekuatan antioksidan dari faloak instan berdasarkan harga IC50. Sampel diambil dengan cara mengambil kulit pohon faloak yang tidak terlalu tua.

Metode: Kulit pohon faloak diekstraksi dengan Metode dekok dengan menggunakan air hingga memperoleh sari faloak. Sari faloak tersebut kemudian dilakukan Metode rekristalisasi sehingga menjadi minuman faloak instan. Serbuk faloak instan yang telah diperoleh dari hasil rekristalisasi selanjutnya dilakukan uji kadar air dan dilanjutkan dengan identifikasi kualitatif senyawa zat aktif yang terkandung dalam faloak instan tersebut. Faloak instan tersebut selanjutnya diuji terhadap DPPH (1,1-difenyl-2-picrylhydrazyl) sebagai radikal bebas dan diukur pada panjang gelombang 517,4 nm menggunakan spektrofotometer UV-vis.

Hasil: Hasil penelitian menunjukan faloak instan memiliki aktivitas antioksidan sangat lemah dengan nilai IC50 sebesar 2.307,77 ppm ± 58,20 ppm.

Kesimpulan: Aktivitas Antioksidan Faloak Instan (Sterculia urceolata, Smith) secara in vitro Menggunakan Metode DPPH (1,1-difenyl-2-picrylhydrazyl) sangat lemah dengan nilai IC50 sebesar 2.307,77 ppm ± 58,20 ppm.

Kata kunci : Faloak Instan, Antioksidan, Metode DPPH

Identifikasi Senyawa Antioksidan dalam Selada Air (Nasturtium officinale R.Br) Hindra Rahmawati,1* Bustanussalam,2

1Fakultas Farmasi Universitas Pancasila,2Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

*Email korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Latar Belakang: Selada air (Nasturtium officinale R.Br) merupakan tanaman yang tumbuh di daerah dataran tinggi. Selada air banyak dikonsumsi masyarakat sebagai sayuran.

Kandungan selada air diantaranya adalah protein, kalsium, fosfor, besi, vitamin-vitamin A, E dan C, flavonoid dan fenol. Beberapa diantara senyawa-senyawa tersebut dikenal berkhasiat sebagai antioksidan.

Tujuan: Penelitian ini berTujuan mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa antioksidan dalam tanaman selada air.

Metode: Penelitian yang dilakukan meliputi pembuatan ekstrak etanol 96% dengan Metode maserasi dan refluks, partisi menggunakan n-heksan dan etil asetat, pemurnian menggunakan kromatografi kolom, uji aktivitas antioksidan dengan Metode peredaman radikal bebas DPPH, dan penentuan struktur kimia senyawa aktif.

Hasil penelitian: Hasil uji aktivitas antioksidan dengan Metode peredaman radikal bebas menggunakan DPPH (1,1-Difenil-2-pikrilhidrazil) menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat selada air memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dengan nilai IC50 sebesar 67,77 μg/mL.

Pemurnian dengan kromatografi kolom pertama (SiO2; sistem pelarut gradien n-heksan-etil asetat 10:1 sampai 1:1 dilanjutkan dengan CHCl3-MeOH 15:1 sampai 1:1) dan pemantauan aktivitas antioksidannya dengan DPPH, menghasilkan fraksi 5 yang memiliki aktivitas antioksidan tertinggi. Pemurnian lebih lanjut dilakukan dengan kromatografi kolom kedua (SiO2 ; sistem pelarut gradien n-heksan-etil asetat 1:1 dan CHCl3-MeOH 5:1), menghasilkan fraksi 5.2 yang memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dengan nilai IC50 sebesar 75,65 μg/mL. Berdasarkan hasil analisis penapisan fitokimia, senyawa aktif termasuk golongan fenol. Hasil analisis menggunakan spektrofotometer UV-VIS, spektrofotometer Fourier Transform Infra Red (FT-IR), Kromatografi Gas-Spektrometer Massa (KG-SM) menunjukkan senyawa aktif antioksidan yang terdapat dalam fraksi 5.2 diduga adalah 2-Metoksi-4-vinilfenol.

Kata kunci: selada air, Nasturtium officinale R.Br., ekstrak etanol, antioksidan, DPPH.

Kode Abstrak: PFA-3

Kandungan Zat Berkhasiat Sinensetin dari Kultur Tanaman Kumis Kucing (Orthosipon stamineus)

Elfahmi,1,2 Yesi Gusnelti,1* Totik Sri Mariani,2 Syaikhul Aziz.1

1Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha no. 10 Bandung 40132

2 Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha no. 10 Bandung 40132

*Email korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Latar Belakang: Teknik kultur jaringan selain untuk perbanyakan dan pemuliaan tanaman, sering dimanfaatkan untuk memproduksi senyawa metabolit sekunder. Sinensetin merupakan senyawa utama dari tanaman kumis kucing yang juga berkhasiat sebagai obat. Dengan teknik kultur jaringan ini diharapkan kadar sinensetin dapat meningkat. Metode penetapan kadar sinensetin dapat dilakukan dengan cara KLT Densitometri yang terhitung lebih sederhana untuk penetapan kadar senyawa aktif dari suatu ekstrak.

Tujuan: Penelitian ini berTujuan untuk mengetahui kandungan zat berkhasiat sinensetin dari berbagai kultur tanaman kumis kucing.

Metode: Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan yaitu pembuatan kultur tanaman kumis kucing dan penentuan kadar sinensetin dari berbagai hasil kultur tanaman kumis kucing.

Kadar sinensetin dihitung terhadap berat kering simplisia.

Hasil penelitian: Kadar sinensetin pada kultur kalus adalah 0,016 %, kultur kalus embriogenik adalah 0,051 %, kultur in vitro adalah 0,010 %, dan kultur tanaman hasil aklimatisasi adalah 0,099 %. Kadar sinensetin dari beberapa hasil kultur ini masih kecil jika dibandingkan dengan wildtype yang memiliki kadar 0,142 %.

Kesimpulan: Kadar sinensetin tertinggi dari kultur tanaman kumis kucing diperoleh dari kultur tanaman hasil aklimatisasi.

Kata kunci: Sinensetin, kultur jaringan, kumis kucing

Kode Abstrak: PFA-4

Isolasi Senyawa Flavonoid dari Ekstrak Etil Asetat Rimpang Temu Kunci (Boesenbergia pandurata (Roxb.) Schlechter)

Elfahmi,1,2 Syaikhul Aziz,1 Iman Sulaiman.1

1Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha no. 10 Bandung 40132

2 Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha no. 10 Bandung 40132

*Email korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Latar Belakang: Boesenbergia pandurata (Robx.) Schlecht atau temu kunci adalah tanaman dari suku Zingiberaceae yang kaya akan kandungan flavonoid. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rimpang temu kunci memiliki banyak aktivitas farmakologi.

Tujuan: Untuk mendapatkan senyawa flavonoid dari rimpang temu kunci.

Metode: Proses isolasi untuk mendapatkan senyawa flavonoid dari rimpang temu kunci meliputi proses ekstraksi dan pemurnian. Ekstraksi dilakukan dengan Metode maserasi menggunakan pelarut etil asetat, sedangkan pemurnian dilakukan dengan serangkaian teknik kromatografi dan teknik rekristalisasi. Analisis dan identifikasi struktur flavonoid dilakukan menggunakan data spektrofotometer UV dan spektrometer RMI.

Hasil penelitian: Isolat yang didapatkan dari ekstrak etil asetat temu kunci berupa kristal jarum tidak berwarna.Spektrum UV-Vis isolat menunjukkan adanya serapan maksimum pada λmaks

285 nm. Data spektrum 1H RMI (MeOH-d4) menunjukkan keberadaan sinyal pada δH 3,82 ppm; 6,05 ppm (H, d, J=2 Hz); 6,10 ppm (H, d, J=2 Hz); 5,42 ppm. Di sekitar δH 7,35 – 7,47 ppm terdapat 5 sinyal proton; 2,71 ppm (H, m) dan 2,98 ppm (H, m). Spektrum 13C RMI (MeOH-d4) menunjukkan sinyal karbon pada δC 56,48 ppm; 45,73 ppm; 192,01 ppm; 164,45 ppm; 166,82 ppm; 167,33 ppm; 94,56 ppm; 97,43 ppm; 105,05 ppm; 127,52 ppm; 129,77 ppm; 129,93 ppm; 140,87 ppm dan 80,43 ppm

Kesimpulan: Berdasarkan data spektroskopi dan membandingkan dengan data senyawa yang telah dipublikasi, diketahui senyawa flavonoid yang didapatkan adalah 5-metoksi-7-hidroksi flavanon atau alpinetin.

Kata kunci: Boesenbergia pandurata (Roxb.) Schlechter, flavonoid, isolasi, alpinetin Kode Abstrak: PFA-5

Ekstrak Terstandar Daun Bawang Kucai (Allium tuberosum Rottler) Sebagai Obat Antihiperkolesterol

Yoppi Iskandar, Moelyono MW, Ahmad Muhtadi Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Jatinangor, Sumedang 45363 ABSTRAK

Hiperlipidemia merupakan suatu keadaan tingginya konsentrasi lipid yang ditandai dengan meningkatnya konsentrasi trigliserida, LDL (low density lipoprotein), dan kolesterol darah melebihi batas normal. Usaha penanggulangan terhadap penyakit ini telah banyak dilakukan, utamanya dengan obat-obatan antihiperkolesterol yang beredar saat ini, tetapi bahaya efek samping bisa ditimbulkan oleh obat–obatan tersebut. Oleh karena itu penelitian dan pencarian obat baru khususnya yang berasal dari bahan alam khususnya tanaman obat seperti jamu antihiperkolesterol terus diteliti dan dikembangkan. Supaya obat tradisional ini lebih berdaya guna dan dapat dimasukkan ke dalam pelayanan kesehatan formal. Oleh sebab itu, penelitian ini berTujuan untuk menguji ekstrak terstandar daun bawang kucai (Allium tuberosum Rottler) sebagai obat antihiperkolesterol yang berkualitas, berkhasiat dan aman.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa hasil penetapan standardisasi simplisia daun bawang kucai diperoleh kadar abu 10,69 %, kadar abu tidak larut asam 3,54 %, kadar sari larut air 1,8 %, kadar sari larut etanol 8,3 %, dan kadar air 8,3 %.

Hasil penetapan kandungan logam dalam simplisia diperoleh kadar natrium 0,003%, kadar kalsium 0,052 %, kadar kalium 0,4 %, kadar magnesium 0,02 %, kadar besi 0,003 % dan kadar seng 0,0004 %. Hasil penapisan fitokimia menunjukkan bahwa senyawa metabolit yang terkandung di dalam ekstrak daun bawang kucai adalah polifenol, flavonoid, saponin, monoterpen dan seskuiterpen, steroid, dan triterpenoid. Kemudian dari hasil penetapan standardisasi ekstrak daun bawang kucai diperoleh kadar air 9,5%, kadar abu 4,68%, kadar abu larut air 82,86%, kadar abu tidak larut asam 1,47%, bobot jenis ekstrak 0,87, kadar sari larut air 22,33%, dan kadar sari larut etanol 53%., dan kadar minyak atsir 0,09%. Ekstrak daun bawang kucai (Allium tuberosum Rottler) memiliki efek antihiperlipidemia dengan dosis 100 mg/kg BB, 150 mg/kg BB, dan 200 mg/kg BB tikus pada tikus putih jantan galur Wistar ditinjau dari penurunan kadar kolesterol total, trigliserida, dan LDL-kolesterol serta menaikkan kadar HDL-kolesterol dengan taraf nyata α = 0,05 dan α = 0,01.

Kata kunci : Allium tuberosum Rottler, ekstrak terstandar, antikolesterol

Pemanfaatan Tumbuhan Sangkareho (Callicarpa longifolia Lam) Asal Kalimantan Tengah sebagai Obat Tradisonal

Rezqi Handayani1, Ahmad Khadafi2, Rizka Amalia2, Gabrile Anastasia2 1 Dosen Program Studi D-III Farmasi Universitas Muhammadiyah Palangkaraya 2 Mahasiswa Program Studi D-III Farmasi Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Email:[email protected] ABSTRAK

Latar Belakang: Kalimantan Tengah merupakan salah satu provinsi terluas di Indonesia memiliki kekayaan berbagai jenis tanaman, mamalia, burung, reptile dan sebagainya. Salah satu tanaman obat yang telah dimanfaatkan sebagai obat tradisional, yang dikenal dan digunakan oleh masyarakat Tumbang Bantian, Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya Provinsi Kalimantan Tengah adalah tanaman Sangkareho. Daun tumbuhan Sangkareho (Callicarpa longifolia Lam) dipercayai memiliki manfaat secara empiris sebagai obat untuk mengobati luka luar dan diare

Tujuan: Penelitian ini berTujuan untuk melihat gambaran farmakognostik tumbuhan Sangkareho(Callicarpa longifolia Lam) dan untuk membuktikan khasiat daun sangkareho sebagai obat untuk luka luar dan diare dengan melihat kemampuan daya hambat ekstrak daun sangkareho (Callicarpa longifolia Lam) terhadap bakteri S.aureus dan E.coli.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan melakukan standarisasi simplisia dengan menggunakan dua parameter yaitu spesifik (makroskopik dan mikroskopik) dan non spesifik (bahan organik asing, kadar abu, kadar sari dan susut pengeringan, profil Kromatografi Lapis Tipis) serta uji daya hambat ekstrak daun Sankareho (Callicarpa longifolia Lam) terhadap pertumbuhan bakteri dengan menggunakan Metode Kirby Beur.

Hasil: Hasil identifikasi kimia simplisia daun sangkareho (Callicarpa longifolia Lam) menunjukkan mengandung komponen senyawa kimia alkaloid, flavonoid, tanin dan steroid.

Hasil organoleptis menunjukkan daun snagkareho bewarna hijau, dengan bau yang khas dan rasa yang pahit. Analisis parameter non spesifik dari daun sangkareho (Callicarpa longifolia Lam) diperoleh susut pengeringan sebesar 0,36%, bahan organik asing 0,001%, kadar sari larut air dan etanol sebesar 11,08% dan 6,93% serta kadar abu total sebesar 8,09%. Hasil KLT menujukkan peregrakan dan pemsiahan noda yang baik pada eluen non polar (n- heksan:etil asetat). Dan untuk uji daya hambat ekstrak daun sangkareho (Callicarpa longifolia Lam) hasil positif ditunjukkan pada uji daya hambat dengan menggunakan bakteri S. Aureus. Hasil positif ditunjukkan dengan adanya zona hambat pada media Blood Agar yang telah ditanam bakteri S. Aureus sedangkan pada media EMB yang telah ditanam bakteri E.coli tidak terdapat zona hambat.

Kesimpulan: Penelitian ini telah membuktikan Daun tumbuhan Sangkareho (Callicarpa longifolia Lam) secara ilmiah memiliki kandungan senyawa kimia yang dapat menghasilkan efek terapi salah satunya yaitu memiliki efektifitas daya hambat pada bakteri S.aureus.

Kata kunci: Tumbuhan Sangkareho, Farmakognostik, Uji Daya Hambat, Obat Tradisional Kode Abstrak: OFA-1

Penetapan Parameter Standarisasi Non Spesifik Ekstrak Etanol Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.)

Zainab,1* Faril Gunanti1, Hardi Astuti Witasari,1 Citra Ariani Edityaningrum,1 Mustofa,2 Mimiek Murrukmihadi.3

1 Fakultas Farmasi, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta 55164.

2 Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 55281.

3 Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 55281.

*Email korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Latar Belakang: Produk obat-obat herbal yang berkualitas ditentukan oleh mutu dari bahan baku yang digunakan. Ekstrak daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) sebagai salah satu bahan baku utama dalam produk herbal perlu dilakukan penetapan parameter non spesifik sebagai langkah peningkatan mutu produk.

Tujuan: menetapkan parameter non spesifik ekstrak etanol 60% daun belimbing wuluh.

Metode: Desain penelitian non eksperimental. Ekstrak daun belimbing wuluh dibuat dengan Metode maserasi menggunakan etanol 60% hingga diperoleh ekstrak kental. Uji parameter non spesifik kadar air menggunakan Metode destilasi toluen, kadar abu total dan kadar abu tidak larut asam menggunakan Metode gravimetri, penetapan batas logam timbal (Pb) dan cadmium (Cd) menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA), serta cemaran mikroba meliputi Angka Lempeng Total (ALT) dan identifikasi mikroba patogen.

Hasil penelitian: penetapan parameter non spesifik ekstrak etanol 60% daun belimbing wuluh menunjukan susut pengeringan simplisia 9,22±0,17%, kadar air ekstrak 6,45±0,16%, kadar abu total 7,68±0,20%, kadar abu tidak larut asam 3,49±0,18%, kadar logam Pb 0,46±0,25 ppm dan Cd 0,03±0,006 ppm, angka lempeng total < 10 CFU/gram dan tidak terdapat mikroba patogen E. coli, Salmonella, S. aureus.

Kesimpulan: ekstrak etanol 60% daun belimbing wuluh dari desa Hargobinangun, Pakem, Sleman memenuhi persyaratan secara umum berdasarkan Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.

Kata kunci: Averrhoa bilimbi L., daun belimbing wuluh, ekstrak etanol 60%, parameter non spesifik.

Kode Abstrak: OFA-2

Skrining Aktivitas Biologis Kulit Batang Faloak Triana Hertiani 1,*, Prisci Permanasari1, Herlyanti Mashar1, Siswadi2

Department of Pharmaceutical Biology, Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada, Sekip Utara, Yogyakarta 55281; Balai Penelitian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kupang,

Jl. Alfons Nisnoni No 7B, Airnona, Kupang ABSTRAK

Faloak (Sterculia quadrifida R.Br.) adalah tumbuhan asli dari daerah Nusa Tenggara Timur yang merupakan bagian timur Indonesia. Laporan tentang aktivitas farmakologinya masih sangat jarang walaupun kulit batangnya telah digunakan oleh masyarakat lokal sebagai bagian dari ramuan tradisional untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Sebagai salah satu upaya untuk memberikan dukungan ilmiah, kami melakukan eksplorasi aktivitas dari kulit batang Faloak sebagai penangkal radikal bebas, imunomodulator dan antimikroba dengan menggunakan teknik in vitro.

Kulit batang dimaserasi menggunakan etanol dan diikuti dengan evaporasi untuk memperoleh ekstrak etanol. Ekstrak digunakan untuk pengujian aktivitas penangkal radikal bebas DPPH untuk memperoleh harga IC50. Pengujian imunomodulator dilakukan pada makrofag dan limfosit mencit. Aktivitas antimikroba dievaluasi terhadap pertumbuhan planktonik dan biofilm Candida albicans, Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa dengan menggunakan teknik mikrodilusi. Kristal violet digunakan dalam pengecatan biofilm yang terbentuk.

Hasil menunjukkan bahwa kulit batang yang mengandung kadar fenol total sebesar 34,43%

EAG (setara asam galat), total flavonoid sebesar 1,55% KE (setara kuersetin) dengan aktivitas penangkal radikal bebas DPPH sebesar 84,07 g/mL (Vit C: 74,72 g/mL) . Aktivitas imunomodulatornya moderat sebagaimana ditunjukkan dengan efeknya terhadap proliferasi limfosit dan fagositosis makrofag. Ekstrak etanol tidak berfek toksik terhadap sel Vero, hanya saja tidak terlihat potensi penghambatan efek antimikroba baik terhadap pertumbuhan planktonik maupun biofilm mikoba uji. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol kulit batang Faloak berpotensi sebagai imunomodulator dan antioksidan.

Kata kunci: Sterculia quadrifida, imunomodulator, penangkal radikal bebas DPPH Kode Abstrak: OFA-3

Aktivitas Fagositosis Makrofag Dan Proliferasi Limfosit In Vitro Ekstrak Etanolik Herba Patikan Kebo (Euphorbia Hirta L) dan Isolat Flavonoidnya

Andayana Puspitasari,1* Suwijiyo Pramono1, Sudibyo Martono1, Sitarina Widyarini2

1 Departemen Biologi Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

2 Deparrtemen Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

*Email korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Latar Belakang: Penelitian terhadap aktivitas sebagai imunomodulator dan antioksidan herba patikan kebo (Euphorbia hirta L) telah banyak dilaporkan. Aktivitas tersebut dikarenakan kandungan senyawa fenolik dan flavonoid yang terdapat pada tanaman patikan kebo.

Tujuan: Pada penelitian ini dilakukan uji aktivitas imunostimulan in vitro ekstrak etanolik patikan kebo dan isolat senyawa flavonoidnya, parameter yang diukur adalah proliferasi sel limfosit, kapasitas dan indeks fagositosis makrofag.

Metode: Penelitian diawali dengan isolasi flavonoid menggunakan kromatografi kertas preparatif. Isolat yang didapat dimurnikan dengan kromatogrfi lapis tipis preparatif dan dilakuan uji kromatografi 2 dimensi. Terhadap ekstrak awal dan isolat yang cukup murni dilakukan uji aktivitas fagositosis makrofag dan proliferasi limfosit in vitro juga senyawa kuersetin dan kuersitrin murni sebagai pembanding aglikon dan glikosida flavonoid.

Hasil penelitian : Hasil isolasi senyawa flavonoid dari ekstrak etanolik patikan kebo menggunakan kromatografi kertas dengan fase gerak asam asetat 30 % menghasilkan 5 buah isolat yaitu PK1-PK5. Terhadap isolat PK4 dilakukan pemisahan lanjutan menggunakan fase gerak air, sehingga didapat PK4a dan PK4b. Hasil uji fagositosis makrofag menunjukkan bahwa semua isolat memiliki aktivitas fagositosis makrofag. Aktivitas fraksi tidak dapat dibandingkan dengan ekstrak karena memiliki konsentrasi uji optimum yang berbeda.

Kesimpulan : Isolat kode PK 4A memiliki aktivitas yang paling tinggi. Perkiraan struktur parsial isolat PK 4 A adalah flavon dengan gugus hidroksi bebas pada posisi 7, 3‟ dan 4‟, serta memiliki gugus hidroksi bebas atau terikat gula pada posisi 3 dan 5.

Kata kunci: fagositosis makrofag, proliferasi limfosit, patikan kebo, isolasi flavonoid

Kode Abstrak: OFA-6

Dalam dokumen Untitled - Universitas Udayana (Halaman 189-200)

Dokumen terkait