• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAMPAK BURUK PATOLOGI MUSLIM

A. Dosa dan Kerusakan Kepribadian

Sebagai telah diuraikan sebelumnya, bahwa patologi muslim adalah disiplin ilmu yang concern dengan penyakit-penyakit batin yang meracuni, merusak, dan bahkan menghancurkan kepribadian muslim, maka dapat ditegaskan, bahwa muslim patologis adalah muslim yang secara jasmaniah hidup, tetapi secara substansial, kemanusiaannya bermasalah yang akibatnya tidak dapat merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Oleh sebab itu, perlu dipahami tentang dampak buruk/negatif dari kepribadian muslim yang sakit tersebut. Memang, kepribadian yang ditumbuhi oleh satu atau beberapa penyakit itu memiliki dampak berupa hal-hal, sifat-sifat, atau kondisi negatif yang buruk untuk perjalanan kepribadian selanjutnya, dan kondisi buruk kepribadian seperti itu disebut dalam terminologi agama ini dengan dosa. Oleh sebab itu, penting kiranya diulas secara detail tentang dosa, yaitu sebagai berikut.

1. Konsep Dosa

Terminologi dosa sangat variatif, antara lain meliputi maʻṣiyah, wizr/iṡm, jurm, khaṭi’ah, junāḥ, munkar, fisq, dan ẓulm (

قسف - ركنم - حانج - ةئيطخ - مرج – مثا - رزو - ةيصعم

-

ملظ

) yang hal itu otomatis menunjukkan bervariasinya penyakit kepribadian itu sendiri.

Dosa adalah noda kepribadian, yaitu segala hal yang berpotensi menyebabkan manusia menjadi sengsara/resah/ dan tidak bahagia. Terma dosa juga menunjuk pada konsep keburukan, misalnya berupa pelanggaran (melakukan hal yang dilarang seperti membunuh, berzina, berbohong dan lain-lain, dan

Dampak Buruk Patologi Muslim| 169

dapat pula berupa ketidakaktifan melakukan hal yang seharusnya, misalnya, tidak menjalankan salat, tidak membayar zakat, tidak mau berpuasa, dan lain-lain. Dengan demikian, dilarangnya perbuatan dosa oleh agama adalah karena hal itu mengganggu kehidupan yang berarti merupakan pelanggaran dalam hidup.

Memang, sebetulnya, banyak sebutan mengenai dosa dalam bahasa Arab yang diantaranya adalah berupa żanb, iṡm, ʻiṣyān, dan maʻṣiyah (

ةيصعم و نايصع - مثا - بنذ

). Dosa yang diterjemahkan dari kata maksiat (

ةيصعم

) mempunyai makna ‘berpaling’ dari ketaatan kepada Tuhan, artinya, melakukan hal yang salah, sehingga pelaku dosa (

يِصا علا

) tersebut sampai melakukan maksiat karena menentang suara hatinya, bahkan sebaliknya, menuruti keinginan hawa nafsunya. Karena maksiat adalah penanda (simbol) bahwa pribadi mengalami disintegrated disebabkan nurani atau akal-budi tidak berfungsi mengontrol dan membimbing diri (ego) seorang pendosa, maka dikategori sebagai terkena penyakit

syahwāniyah’.

Sebagai telah disinggung sebelumnya bahwa satuan-satuan maksiat itu jika dicermati menjadi sangat banyak, seperti, berani terhadap orang tua, mencuri, meninggalkan kewajiban salat, dan lain-lain, maka upaya penanganannya pun menjadi detail pula.

Namun, dapat dibuatkan suatu teori, bahwa semua penyimpangan itu adalah maksiat yang timbul karena tidak terdapatnya kontrol diri (meminjam Freud, tidak menfungsikan super ego), sehingga hawa nafsu (id) akan menguasai dan merajai pribadi Si pendosa. Untuk itu, dapat dinyatakan, bahwa

‘terjadinya maksiat adalah karena rusaknya mekanisme kepribadian, yaitu tidak berfungsinya unsur-unsur pribadi sebagaimana mestinya, sehingga penanganannya adalah dengan menguatkan mekanisme kepribadian tersebut”. Pendekatan penanganan maksiat itu melalui dua aspek; pertama adalah pendekatan ilmiah, yaitu menguatkan keimanan dan keyakinan yang benar, serta penyadaran diri terhadap bahayanya maksiat dan menyadarkan bagusnya berbuat patuh atau ketaatan terhadap

170 | Patologi Muslim (Makrifat Diri Menuju Pribadi Hakiki Meraih Bahagia Abadi)

agama; kedua adalah pendekatan praktikal (‘amaliah-sulūkiyah), yaitu melatih dengan disiplin untuk melakukan ketaatan dan meninggalkan larangan sekuat tenaga sampai memperoleh hasilnya, yaitu kesadaran kepribadian yang ideal tentang beribadah. Selain itu, untuk follow up, tidak boleh memberi peluang sekecil apapun terhadap diri-pribadi untuk bermaksiat lagi, sebab hal itu merupakan penyakit yang sifatnya adiktif, meracuni pribadi, sehingga ketika sedikit dituruti, maka akan terus minta atau menuntut maksiat selanjutnya.

Demikian mengenai konsep maksiat sebagai suatu yang berdampak sebuah dosa, dan secara sederhana dapat dikatakan, bahwa dosa adalah ekses spiritual negatif dari kualitas kepribadian muslim yang sakit ataupun menyimpang yang berupa cela/cedera, kesempitan ruang hati/dada, efek emosional- afektifnya berupa kegelapan dan kebusukan hati yang secara sensasional membuat rasa sedih hati seorang muslim, sehingga bagi pribadi muslim yang masih ada kesadaran kebaikannya, akan timbul rasa penyesalan dan gejolak hati untuk bangkit ke jalan kebenaran (

ةبوت

). Hati yang bergejolak dan sesekali merasakan kesedihan dan penyesalan itu menandakan adanya dosa yang merupakan ekses maksiat.1

Dosa secara metaforik merupakan perangkap syetan dimana bagian dalamnya adalah api dan bagian luarnya itu disertai dengan rasa nikmat dan keinginan syahwat yang sifatnya spontanitas membuat Si pendosa lalai, terlena, dan tenggelam, serta tidak menyadari kalau balasan/ancaman siksa Ilahi sedang menantinya.

Dosa merupakan perbuatan yang benar-benar dilarang oleh, bukan hanya Islam, tetapi juga agama-agama seluruhnya. Sebab, perbuatan dosa itu merusak dan merugikan, tidak saja terhadap diri sendiri, tetapi juga terhadap orang-orang yang lain juga. Dosa

1 Sayyid Hasyim RM, Akibat Dosa: Makna dan Pengaruhnya atas Kehidupan Manusia. (Bandung: Pustaka Hidayah. 1996), 56.

Dampak Buruk Patologi Muslim | 171

yang dilarang di sini adalah dosa atas dasar kebodohan dan kesengajaan, bukan karena kekhilafan.

Memang, setiap orang pasti pernah berdosa, baik sengaja maupun tidak, besar maupun kecil. Dan perbuatan dosa terkadang merupakan dampak dari semangat kreasi manusia yang terkadang memang untuk kebaikan, karena agama sendiri menyuruh manusia ini berkreasi untuk mewujudkan kemajuan. Tetapi persoalannya adalah tidak semua kreasi manusia tersebut merealisasikan kebaikan, tetapi terkadang justru berwujud kesalahan, disebabkan karena kreasi tersebut--bagaimanapun baiknya tujuan semula--adalah melalui ikhtiar (Baca: ijtihad).

Ikhtiar manusia tidak lepas dari kesalahan. Oleh karena itu, Allah pun membuka lebar-lebar, jikalau manusia-manusia merealisasikan kesalahan dalam berkreasinya, untuk segera kembali ke arah jalan yang benar, yaitu sebagai taubat hamba kepada Tuhannya.

Terkait itu, teradapat sebuah riwayat Hadis dari Sahabat Abu Ayyub, bahwasannya Nabi Muhammad saw. bersabda sebagai berikut:

لْو ل