• Tidak ada hasil yang ditemukan

Muslim sebagai Sosok Pribadi yang Mengimplementasikan Islam

هللا ُ

C. Muslim sebagai Sosok Pribadi yang Mengimplementasikan Islam

muslim (yang percaya memiliki fitrah) merasa kurang dan tidak merasa puas jika belum dapat memberikan kebaikan, apalagi sebaliknya, membuat gangguan terhadap lingkungan sekitarnya.

C. Muslim sebagai Sosok Pribadi yang Mengimplementasikan Islam

Term “muslim” berasal dari bahasa Arab yang berarti orang yang menyatakan diri sebagai penganut, pengamal, atau pemeluk agama Islam, bukannya sekedar orang yang mengamati dan mempelajari Islam saja, dan untuk yang terakhir ini dikenal dengan istilah seorang “Islamisis”. Muslim berarti pula, secara leksikal, orang yang menyerahkan diri (jiwa-raga dan totalitas pribadinya) untuk tunduk-patuh terhadap--dan dibentuk oleh-- nilai-nilai mulia yang membentuk kepribadian Islami.

Memang, jika diamati, Islam sebagai agama wahyu yang turun dari langit (dari Dzat Yang Maha Tinggi) adalah membawa misi mencetak manusia menjadi makhluk-makhluk Allah yang unggul (ideal/ al-maṡal al-aʻlā) dengan dibekali potensi kejiwaan (al-nafs) yang dikenal dengan spiritual (al-Rūh) yang sempurna, sehingga mampu mengemban amanat menjadi Khalīfah Allah di atas Bumi. Sebagai khalīfah berarti sebagai hamba yang mampu mencitrakan kebaikan dan kesempurnaan Tuhan Allah dalam batas kemampuan manusia untuk dapat mencipta dan membangun kehidupan yang baik di atas Bumi ini, serta mengelola alam dan mengaturnya.

Untuk merealisasi semua itu, Islam menyediakan seperangkat nilai (a set of values) yang secara sistemik akan membentuk sebuah citra kepribadian makhluk unggul dan mulia yang diistilahkan dengan “muslim” tersebut. Dengan demikian, Islam memuat seperangkat nilai kepribadian yang bersifat ideal- normatif sebagaimana dikenal dengan “kepribadian Islami”.

Sementara itu, kepribadian muslim berarti orang yang berkepribadian Islami. Kepribadian muslim dalam pengertian ini adalah bersifat empirik-sosiologis, sebagai implementasi dari konsep kepribadian Islami tersebut.

20 | Patologi Muslim (Makrifat Diri Menuju Pribadi Hakiki Meraih Bahagia Abadi)

Satu karakter dasar kepribadian muslim, dengan demikian, adalah sifat kepatuhan terhadap nilai dan norma serta berperilaku yang damai, sejahtera, aman, bersih, dan selamat atau bebas dari cacat/penyakit, baik zahir maupun batin.

Kepribadian itu tumbuh dan berkembang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Al-Gazālī menegaskan, bahwa kalau kepribadian itu ditentukan oleh faktor lingkungan atau milleu, maka menurut William Stern, kepribadian ditentukan oleh faktor hereditas (keturunan, pembawaan) dan milleu secara konvergensi.

Selanjutnya, terdapat tiga cara atau teori dalam memahami konstruksi kepribadian. Pertama adalah secara skripturalis atau tekstual, yaitu suatu pengkajian kepribadian yang didasarkan pada teks-teks Alquran ataupun Hadis. Kedua adalah secara falsafi, yaitu upaya pengkajian kepribadian Islami yang didasarkan pada berpikir spekulatif dengan ditopang oleh akal sehat. Ketiga adalah pendekatan sufistik, yaitu upaya pengkajian kepribadian Islami dengan menekankan pada pembentukan kecerdasan intuitif untuk menguatkan spiritualitas muslim agar mencapai habitatnya, yaitu bersatu dengan kebajikan dan kemuliaan Tuhan Allah Swt..

Sebagai sebuah genre, kepribadian muslim memiliki karakter berbeda-beda yang memang dipengaruhi oleh natur kemanusiaan Si muslim itu sendiri. Artinya, walaupun Islam sudah mencanangkan sebuah format kepribadian yang ideal dan bagus, tetapi dalam tataran realitas sosiologis-empiris, maka antara muslim satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan-perbedaan watak atau sifat yang bermuara pada perbedaan kualitas kepribadiannya. Hal itu disebabkan oleh intensitas yang berbeda pula antara satu muslim dengan yang lainnya dalam kemampuan menginternalisasi nilai-nilai kepribadian Islami, sehingga dapat diistilahkan dengan ungkapan-ungkapan yang variatif, misalnya;

ada “muslim patuh”, “muslim nakal”, “muslim ideal”, “muslim menyimpang”, dan lain-lain yang kesemuanya menggambarkan variasi muslim sebagai pribadi yang mengamalkan Islam tersebut.

Muslim yang serius dan taat dalam internalisasi nilai Islam dan iman, misalnya, secara ikhlas dan khusyuk dalam menunaikan

Islam dan Konstruksi Kepribadian Muslim | 21

rukun Islam, dan menjalani salat secara zahir dan batin, akan mampu memantulkan kepribadian muslim ideal, misalnya, bersifat sabar karena ahli puasa; bersifat patuh dan disiplin kepada peraturan karena hikmah dari rajin salat; bersifat dermawan karena terbiasa berzakat. Sementara itu, muslim yang kurang intens dalam internalisasi nilai-nilai ajaran Islam, karena memang masa bodoh (kurang merespons) terhadap ajaran keislaman, mungkin karena ia awam/bodoh atau sebenarnya mengerti Islam, tetapi tidak peduli, maka akan tumpul dalam memantulkan citra kepribadian Islami, dan bahkan idealisme kepribadian Islami dapat menjadi kabur dan lepas dari dirinya, sehingga sulit dibedakan antara dirinya yang muslim dengan orang lain yang tidak beragama Islam, sekalipun.

Atas dasar pemikiran seperti di atas, maka dapat dimengerti, bahwa karakter-karakter dan kualitas-kualitas muslim itu berbeda- beda sesuai dengan kecenderungannya untuk menekankan nilai tertentu dalam Islam. Paling tidak, kepribadian muslim dapat diketahui terdapat lima karakteristik, yaitu; mempunyai kepribadian syahadatain, kepribadian muṣallī, kepribadian ṣā’imīn, kepribadian muzakkī, dan kepribadian hajjī. Masing-masing karakteristik kepribadian tersebut dapat ditelaah kembali sedetail mungkin, secara empirik, dalam kehidupan nyata muslim di tengah masyarakatnya. Pengetahuan tentang karakteristik kepribadian muslim dalam kehidupan empiriknya melahirkan, dan juga membutuhkan, sebuah upaya khusus penelitian terhadap perilaku muslim dalam kehidupannya yang pada gilirannya akan melahirkan sebuah disiplin tentang tipologi muslim. Displin ini akan menghasilkan suatu pengetahuan tentang, misalnya, muslim sehat, muslim sakit, muslim menyimpang, dan lain-lain. Ini menjadi penting dalam kerangka membangun dan mengontrol kepribadian pada umumnya, dan pendidikan mental manusia muslim pada khususnya. Di sisi lain, memang dalam tataran praksis, terdapat muslim-muslim yang melanggar norma, tatakrama, adat, dan/atau tradisi yang berkembang di masyarakatnya, sehingga ia dinilai sebagai tidak mampu

22 | Patologi Muslim (Makrifat Diri Menuju Pribadi Hakiki Meraih Bahagia Abadi)

adjustment dan akibatnya dapat menjadi problem, dan bahkan penyakit bagi masyarakatnya. Terdapat juga muslim yang jauh dari ketaatan terahadap peraturan agamanya, misalnya muslim pemabuk, muslim pezina, koruptor, dan lain-lain, yang semuanya itu menuntut upaya pelurusan dan penyehatan sebagaimana habitat idealnya sebagai muslim. Sementara itu, juga banyak muslim-muslim yang membawa berkah dalam kehidupan, misalnya, dapat menjadi teladan bagi sesamanya, serta mampu menciptakan kesejahteraan dan ketentraman/kedamaian hidup.

Memang harus dibedakan dan dipisahkan antara muslim dan Islam. Kalau Islam adalah entitas ajaran Tuhan Allah Swt. yang memuat seperangkat nilai-nilai ideal-normatif; sementara, muslim adalah manusia pengamal nilai-nilai Islami yang dipengaruhi oleh kecenderungan-kecenderungan internal dan eksternalnya, serta bersifat empirik-sosiologis, sehingga kalau terdapat muslim yang menyimpang, dan bahkan menjadi penyakit masyarakatnya, maka harus dipisahkan antara dia sebagai muslim dengan Islam, secara konseptual, sebagai agamanya. Kalau ada muslim yang nyata- nyata menjadi sampah sosial, karena kepribadiannya meresahkan dan membahayakan masyarakat, maka tidak boleh serta-merta dikaitkan dengan Islam sebagai agama yang dipeluknya yang mencitakan kebaikan dan kasih sayang terhadap alam semesta.

Islam tetap bagus dan mulia sebagai ajaran Ilahi, sementara muslim menjadi bermacam-macam, ada yang baik dan ada yang buruk kepribadiannya.