ركف
E. Kepribadian dan Mekanisme Perilaku Muslim
Konsep Kepribadian Muslim| 47
super ego) secara harmonis, jika tidak, maka terjadi tekanan- tekanan psikis yang menjadi faktor terjadinya sakit kepribadian, misalnya, histeria, stress, keinginan bunuh diri, dan lain-lain.
Teori Sigmund Freud dipilih di sini adalah sebagai komparasi antara struktur kepribadian Gazālīyah dengan psikologi modern yang berbasis hasil kajian klinis seperti psikoalanalisis tersebut, sehingga memberi gambaran betapa rumitnya kajian tentang kepribadian manusia tersebut, baik yang dilakukan secara skolastik maupun filosofik yang menghasilkan psikologi. Namun hingga saat sekarang pun pengetahuan manusia secara kepribadian masih meluangkan sisi-sisi misterius dan keunikan yang mendorong untuk terus adanya kajian tentang diri manusia. Teori psikoanalisis Freud sendiri yang terkesan merendahkan posisi manusia, karena memposisikannya sebagai makhluk seksual yang menurut tesis tersebut jelas bahwa sifat dasar manusia adalah materialistik yang suka dan mengincar kebahagian seksual layaknya semua binatang adalah mendapat antitesis yang ramai dari para pakar selanjutnya, terutama dari para agamawan yang meyakini manusia sebagai makhluk religius.
Sebagai bukti konkret adalah banyaknya tokoh yang menentangnya, bahkan dari kalangan muridnya sendiri seperti C.G. Jung dan Alfred Adler, dan juga dari sejawatnya. Tegasnya, teori Freud tentang psikologi alam bawah sadar tersebut tidak diterima secara total oleh para ilmuwan kepribadian, tetapi ada juga yang meluruskan kelemahan-kelemahannya, sehingga muncul aliran-aliran psikologi seperti Psiko-Behavioristik, Psiko- Humanistik, dan lain-lain.
48 | Patologi Muslim (Makrifat Diri Menuju Pribadi Hakiki Meraih Bahagia Abadi)
pribadi yang secara sadar memeluk Islam sebagai agamanya.
Tentu saja, muslim memiliki struktur kepribadian yang secara fitrah sama dengan manusia yang lainnya yang menurut al-Gazālī yaitu; memiliki nafsu syahwāt (hawa nafsu sebagai representasi kebutuhan jasmaniahnya); memiliki ruh (representasi nyawa/daya dan penggerak hidup); dan memiliki kecerdasan intelektual dan intuitif (berbasis akal) yang membentuk kesadaran sebagai pribadi yaitu inti atau hakikat manusia berupa hati nurani. Yang membedakan muslim dengan lainnya adalah pengertian, pengetahuan, serta pemahamannya tentang nilai dan norma- norma ajaran Islam, sehingga kepribadian muslim dapat dipahami sebagai sifat-sifat khas yang merupakan kualitas pribadi yang bermuatan keyakinan terhadap Tuhan Allah (mukmin) Yang Esa dan bersikap sebagai hamba yang tunduk terhadap Tuhannya.
Dalam perspektif struktur kepribadian psikoanalisis, kepribadian muslim adalah sebuah pribadi yang memiliki unsur super ego yang kokoh karena berisi nilai-nilai moralitas ilahiah dan berideologi religius monoteistik. Tentu saja, secara mekanistik, pribadi muslim adalah pribadi yang siap melahirkan perilaku behavioral yang terkontrol secara sadar dengan kekuatan religiusitas dalam dirinya, sehingga secara teoretik, pribadi muslim adalah pribadi yang ideal dan bagus, serta siap menjalani kehidupannya dengan baik, karena memiliki atitude relegius bertumpu pada panduan Tuhannya.
Kepribadian muslim pada hakikatnya adalah kepribadian islami, artinya kepribadian yang khas, karena pola kesadarannya bertumpu pada satu standar yaitu nilai-nilai dan ajaran/syariah Islam.32 Terdapat ciri-ciri tentang kepribadian muslim menurut beberapa tokoh, di antaranya yaitu Reza Arasteh. Menurutnya, kepribadian muslim merupakan bentukan dari usaha sadar dari subyek muslim terhadap dirinya, yaitu melalui struktur super egonya yang diisi dan ditempa dengan nilai-nilai keyakinan dan ketaatan terhadap peraturan ilahi, sehingga ciri-ciri teoretiknya
32 Zuhairni dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta Bumi Akasara,2009), 199.
Konsep Kepribadian Muslim| 49
adalah patuh terhadap kebaikan, cerdas dan memahami kebenaran, melakukan dan mengaktualisasikan kebaikan, mampu menahan dan mengarahkan syahwāt atau gairah hidupnya untuk ketaatan terhadap Tuhan, menegakkan komitmen untuk berperilaku yang salih dengan kesungguhan (jihad) dan semangat yang tinggi melawan hawa nafsu dan musuh-musuh kebenaran, memiliki ketangguhan atau sabar menghadapi tantangan, serta mempunyai wawasan dan tujuan hidup sebagai hamba Tuhan.33
Kepribadian muslim dalam pandangan Muhammad al- Gazālī adalah sosok diri yang berperangai Islami, artinya, pribadinya berisi kesadaran nilai-nilai Islam, yaitu berelasi secara vertikal dengan Tuhannya dengan berperilaku sebagai pengabdi yang rendah diri/tunduk-patuh, mencintai Tuhannya, serta mengharapkan pertolongan-Nya; berelasi dengan sesamanya dengan ramah dan kasih-sayang dan dapat menjalin muamalah atau interaksi sosial yang baik dengan menampilkan perilaku yang bermanfaat. Itulah kata kunci perangai seorang muslim.
Selanjutnya, ia mengatakan, bahwa perangai adalah patokan sebuah kehidupan, baik pribadi maupun sosial-kemasyarakatan, dan jika perangai atau kepribadian manusia rusak, maka akan hancurlah masyarakat dan bangsa ini.34
Secara mekanistik, kepribadian muslim tersebut dapat menampilkan visi sebagai sosok abdi atau hamba Tuhan, karena Super egonya diharapkan tampil sebagai penunjuk/pengarah terhadap id yang sudah menjadi gairah dan semangat hidupnya, sehingga terjadi harmoni antara unsur-unsur pribadinya, yaitu akal (ego) menundukkan dan mengarahkan syahwātnya (id) ke arah hal-hal baik, dan super ego-nya yang berisi kesadaran iman-
33Kepribadian demikian merupakan kepribadian sufistik, bukan kepribadian konvensional bentukan keluarga, sosial, dan etnis, tetapi sebuah kepribadian religius. Periksa, A. Reza Arasteh, Revolusi Spiritual: Metode Mengembangkan Kepribadian Sufi; Aktualisasi Diri Fitri, (Jakarta: Inisiasi Press, 2002), 30-31.
34 Muhammad al-Gazālī, Khuluq al-Muslim, (Kairo: Syirkah Nahdhat Misr, 2004), 30.
50 | Patologi Muslim (Makrifat Diri Menuju Pribadi Hakiki Meraih Bahagia Abadi)
takwa kepada Allah menguatkan ego sebagai pengontrol perilakunya, sehingga dengan demikian, kepribadian muslim adalah pribadi yang potensial mengintegrasikan unsur-unsur kepribadiannya dengan baik dimana super ego sebagai komando dirinya sehingga dapat terbentuk harmoni kepribadian yang salih yang mengaktualisasikan perilaku yang bagus, berguna baik bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat sekitarnya.