A. Arti Virus dan Penyakit Kepribadian
Secara leksikal, virus berarti racun, benih, atau bodi meta organisme sebangsa racun yang menyebabkan atau menularkan penyakit1 atau merupakan bibit yang berpotensi menimbulkan sakit atau menciptakan kondisi sakit. Virus bersifat parasit yang menginveksi organisme lalu selanjutnya merusaknya. Dari situ, dapat dipahami, bahwa virus merupakan potensi penyakit yang jika dibiarkan menjadilah penyakit yang sifatnya sebagai problem atau pengganggu, dan bahkan perusak sesuatu. Relasi antara virus dan penyakit adalah bersifat kausalistik, dalam arti, bahwa penyakit itu muncul disebabkan oleh benih-benih virus potensial yang menjadi faktornya yang disebut virus; juga virus-virus itu berkembang menjadi penyakit. Sebagai contoh, sakit flu adalah penyakit yang disebabkan oleh virus influensa. Gejala-gejalanya adalah bersin-bersin, radang tenggorokan, hidung tersumbat, dan batuk-batuk. Gejala-gejala yang menunjukkan serangan penyakit tersebut dinamakan dengan simtomp-simtomp penyakit.
Dalam kajian biologi, virus dipahami sebagai bibit negatif yang mengganggu kesehatan jasmanai dan menimbulkan penyakit, seperti batuk, kudis, panu, dan lain-lain. Sedangkan dalam ilmu kesehatan kepribadian, virus dipahami sebagai benih sifat-sifat dasar atau kualitas-kualitas yang berpotensi mengganggu kesehatan pribadi. Sementara kesehatan pribadi ditandai dengan gejala bagusnya perilaku dan suasana bahagianya (hati) individu bersangkutan.
1 Kamus Bahasa Indonesia, Penerbit ARKOLA, 564.
94 | Patologi Muslim (Makrifat Diri Menuju Pribadi Hakiki Meraih Bahagia Abadi)
Kepribadian, sebagaimana dipahami memiliki kualitas- kualitas, yaitu sehat atau normal, dan sakit, sehingga sangat maklum kalau pribadi itu memiliki penyakit-penyakitnya. Dan sebagaimana telah disinggung sebelumnya, kalau hal-hal yang mengganggu pribadi juga disebut dengan penyakit, maka tentu saja terdapat faktor-faktor penyebabnya yang disebut dengan virus-virus perusak kepribadian. Disebut virus karena memiliki kemiripan dengan virus penyakit jasmani-biologis, yaitu tumbuh, berkembang, dan menyebar yang jika tidak ditangani, pasti akan bertambah serius dan bahkan berpotensi memberi peluang aktusnya penyakit-penyakit turunannya.
Penyakit kepribadian, dengan demikian, adalah kondisi atau sifat-sifat aktual yang melekat dan menyerang lingkungan hati atau jiwa (
بلقلا - سفنلا
) manusia yang berakibat rusaknya fungsi hati tersebut, sehingga individu tidak memiliki kemampuan untuk berperilaku yang baik dan bermanfaat. Dalam kondisi aktual, hati atau pribadi yang sakit membuat manusia (sebagai subyek/pribadi) menjadi kehilangan hakikatnya, karena hakikat atau jati dirinya adalah hatinya. Sedangkan makna dari kepribadiannya yang sakit adalah bahwa ia tidak mampu tampil sebagai manusia yang sehat ditandai dengan perilakunya yang tidak merepresentasikan sebagai perilaku manusia, mungkin perilaku binatang, seperti rakus, boros, bengis, destruktif, membunuh, mengacau, menakut-nakuti, jijik, kotor, dan lain-lain.Kondisi sakit kepribadian manusia dapat dilihat dari kualitas perilaku yang ditampakkannya, karena perilaku merupakan ekspresi dari sifat-sifat atau kualitas kepribadiannya tersebut.
Sebagai contoh, perilaku bengis yang meresahkan dan mengancam ketentraman masyarakat dalam bentuk pengeboman di tempat- tempat tertentu adalah mencerminkan pribadi yang sakit, karena hal itu layaknya dilakukan oleh binatang harimau yang bengis dan buas saja yang dengan tanpa rasa kasihan melukai dan membunuh mangsanya. Tentu saja, pribadi sakit tersebut disebabkan oleh adanya penyakit tertentu yang tumbuh dan berkembang dalam
Virus dan Penyakit Kepribadian Muslim | 95
diri subyek/individu yang disebabkan oleh adanya virus penyakit rohani, misalnya fanatisme, ekstremisme, takabbur, dan lain-lain virus yang akan dikaji selanjutnya. Virus tersebut tidak lain adalah benih-benih penyakit (rohani/hati) itu sendiri yang menyerang dan melenyapkan kondisi sehat (normal) kepribadian seorang individu.
Kalau rohani--atau disebut juga dengan pribadi dan/atau hati--telah disepakati sebagai sebuah entitas yang memiliki penyakit-penyakit yang merusaknya, sebagaimana adanya penyakit-penyakit zahir yang menyerang badan-jasmani sampai fatal atau mati, maka selanjutnya, hal yang sangat urgen adalah mengkaji dan mendalami penyakit-penyakit rohani tersebut dengan serius, tidak kalah dengan semangat mengkaji penyakit- penyakit jasmani, dan bahkan, penyakit rohani tersebut lebih penting untuk didahulukan, karena; pertama, rohani adalah esensi dari manusia dalam perspektif jasmaninya; kalau esensinya sudah sakit maka jasmaninya pasti terancam--kalau tidak terdampak-- sakit juga; kedua, rohani menggerakkan jasmani, dan rohani yang sehat akan berdampak menggerakkan perilaku untuk kebaikan jasmaninya, dan sebaliknya; ketiga, penyakit jasmani tidak bersifat kekal dan abadi, dalam arti, akan berakhir dengan kematian jasmani tersebut. Sedangkan penyakit rohani bersifat kekal dan abadi mengikuti keabadian rohani tersebut, artinya, setelah matinya jasmani, maka penyakit rohani justru lebih riil dampaknya dalam menyakiti subyek/individu yang sakit tersebut, yaitu di akhirat kelak.2
Dari uraian di atas, dapat dimaklumi, bahwa penyakit rohani/kepribadian ialah suatu sifat atau kondisi potensial yang buruk dan merusak dalam sistem kedirian seorang individu yang memotivasinya untuk berbuat buruk dan merusak yang menyebabkannya tidak memiliki kebahagiaan dan terhalang
2 Ṣāliḥ bin Ibrāhīm bin Abd al-Laṭīf, al-Ṣiḥḥah al-Nafsiyyah min Manẓūr Islāmīy baina ʻUlamā’ al-Islām wa ʻUlamā’ al-Muslimīn, (Riyāḍ: Dar al-Faḍilah, 2005), 132-133.
96 | Patologi Muslim (Makrifat Diri Menuju Pribadi Hakiki Meraih Bahagia Abadi)
untuk memperoleh keridaan Allah. Bagi muslim, diharuskan mengerti, memahami dengan baik, serta mengetahui cara-cara mengatasi penyakit-penyakit batinnya, jika menginginkan hidup yang selamat dan baik/bahagia di dunia maupun akhirat.
Mengingat urgensinya mengerti dan memahami penyakit- penyakit batin/rohani tersebut, maka hal itu telah dikaji dalam perspektif Islam (Qur’ānī) sejak zaman Rasulullah saw. dan berlanjut terus sepanjang kehidupan ini, sehingga dihasilkan warisan kajian (turāṡ) yang berharga yang hingga sekarang sangat penting dan perlu dikembangkan oleh para sarjana mutakhir seiring dengan perkembangan zaman yang semakin menimbulkan tantangan-tantangan baru dalam pergaulan kehidupan yang semakin membawa kompetisi ketat yang sangat potensial menimbulkan keresahan-keresahan dan kekacauan hati dalam menghadapinya.
Memang penyakit rohani pun berkembang, dalam arti, berturunan serta bervariasi sebagaimana penyakit jasmani yang jika dibiarkan, tidak segera ditangani (di-treatment), akan bertambah parah dan merusak serta melahirkan penyakit-penyakit baru turunannya. Hal itu sebagaimana telah ditegaskan oleh Allah Swt. dalam Q.S. al-Baqarah (2):10: