• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makna Kepribadian Normal dan Terminologinya

KONSEP MUSLIM IDEAL DAN CIRI-CIRINYA

A. Makna Kepribadian Normal dan Terminologinya

52 | Patologi Muslim (Makrifat Diri Menuju Pribadi Hakiki Meraih Bahagia Abadi)

terhadap wujud Tuhan Yang Maha Agung, Sang Pencipta- Pengelola-Pelindung-Pengatur Satu-satunya (tauḥid rubūbiyyah), Sang Tempat Mengabdi, ketundukan, pemujaan dan pujian, serta ketaatan secara total kepada-Nya, akan berdampak pada ketentraman batin/hati manusia. Semakin mendalam dan bergelora iman seorang individu, akan semakin bersemangat dalam menjalani kehidupannya, karena kehidupan ini adalah sarana mencari sebesar-besar anugerah Tuhan Allah Swt. tersebut;

Jadi, semakin mantap iman di hati/kalbu seseorang, akan membuatnya tulus beramal dan terus ingin beramal sebagai sarana menghamba kepada-Nya. Dengan demikian, amal-perbuatan adalah aktualisasi iman seseorang serta pelembagaannya dalam hati. Bagi orang mukmin, orang yang percaya kepada Allah Yang Esa, beramal atau beraktivitas yang tulus karena-Nya adalah terapi bagi kesehatan spiritualnya, beramal adalah tanda kesehatannya, dan semakin banyak amal seseorang maka akan berakibat baik bagi perkembangan dan peningkatan kualitas kepribadiannya.3

Keputusan Sidang Umum WHO (World Healthy Organisation) pada tahun 1959 telah menyepakati tentang rumusan kepribadian yang sehat dari seseorang, yaitu apabila dapat memenuhi 8 (delapan) kreteria, yaitu:

1. Jika seseorang mampu beradaptasi dan adjustment secara konstruktif terhadap kenyataan obyektif atau lingkungan hidupnya, meskipun itu kurang menyenangkan baginya.

2. Jika ia memperoleh kepuasan dari hasil usahanya sendiri.

3. Jika ia merasa lebih puas untuk memberi daripada menerima dari pihak lain.

4. Jika ia dapat terbebas dari emosi tegang (stress), cemas, dan depresi yang menyelimutinya.

5. Jika ia dapat berinteraksi dengan orang lain dengan saling menguntungkan secara memuaskan dari kedua belah pihak.

3 Saʻid Hawwa, Tarbiyatuna al-Rūḥiyyah: Dirāsah Manhājiyyah Hādifah fi al- Tarbiyah wa al- Tazkiyah wa al-Sulūk, (Kairo: 2010), 156-157.

Konsep Muslim Ideal dan Ciri-cirinya | 53

6. Jika ia mampu menerima kekecewaan (musibah) ataupun kegagagalan sebagai pelajaran bagi usaha berikutnya agar lebih baik.

7. Jika ia dapat membawakan relasi permusuhan menuju solusi yang kreatif-konstruktif menuju kondisi yang lebih baik.

8. Jika ia dapat memiliki rasa kasih sayang dengan relasinya dalam kehidupannya.

Pada tahun 1984, delapan kreteria tersebut diredefinisi kembali menjadi 4 (empat) kreteria saja untuk ukuran pribadi yang sehat. Yang delapan rumusan tersebut dirumuskan dengan sehat secara biologis-psikologis, dan sosial, lalu ditambah satu lagi, yaitu spiritual. Dengan demikian, seseorang dinilai sehat, jika memiliki kesehatan secara bio-psiko-sosio-spiritual. Aspek spiritual yang mewujud dalam bentuk agama (religio), yaitu rasa iman dan takwa, ternyata sebelumnya tidak dihiraukan oleh para ahli kesehatan di Barat (terutama dunia psikiatri/kedokteran jiwa), sehingga pengobatan/penanganan tidak maksimal dalam menyembuhkan gangguan-gangguan kesehatan manusia.4 Padahal, spiritual/rohani tersebut (bertumpu pada aspek hati/qalbu) adalah inti dari manusia. Dengan begitu, mereka dinilai gagal dalam memahami manusia seutuhnya, karena mengabaikan sisi spiritual. Oleh karena itu, pada era belakangan, di Barat (Amerika-Eropa) menjadi trending bermunculan pendalaman- pendalaman terhadap aspek spiritual, baik yang berbasis agama (Kristen dengan aliran-aliran Barunya semisal Children of Gad) ataupun yang lainnya. Gerakan ini terkenal dengan NRM (New Religion Movement). Tujuannya adalah untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup yang penyejahteraan hidup ditumpukan pada dua pendekatan, yaitu medikal-psikiatrik dan spiritual.

Walaupun begitu, tetap saja muncul problem dalam pendekatan spiritual, karena kurang maksimal dalam memahami

4 Bandingkan dengan Mif Baihaqi, Sunardi, dkk., Psikiatri; Konsep Dasar dan Gangguan-gangguan, (Bandug: PT Refika Aditama, 2007), 18-20.

54 | Patologi Muslim (Makrifat Diri Menuju Pribadi Hakiki Meraih Bahagia Abadi)

serta menghayati spiritualitas itu sendiri. Aspek spiritual memang harus dibedakan antara spiritual murni, artinya yang berbasis wahyu/kebenaran Ilahiyah, dan pseudo spiritual/agama, yaitu berupa semacam sempalan-sempalan agama mainstream, maupun spiritual budaya sebagai hasil konstruksi nalar-pikir manusia.

Banyak terjadi kasus-kasus aliran spiritual yang menyimpang yang justru menimbulkan masalah psikososial-religius yang gawat, yang berawal dari ajaran-ajaran spiritual yang menyimpang yang justru mengakibatkan psikopatologis yang meresahkan, misalnya, aliran Hare Krishna, James Jones dan sejenisnya yang mengajak masyarakat untuk menikmati ritual bunuh diri. Di Indonesia, juga banyak terjadi seperti; adanya aliran Isa Bugis yang menganggap umat Islam Indonesia sekarang ini masih sebagai periode Makkah; ada aliran Inkar Sunnah; ada juga Darul Arqom; ada lagi Islam Jamaah; ada juga Aliran Salamullah (Lia Alimuddin) yang mengaku mendapat wahyu dari Jibril, dan lain-lain yang kemungkinan besar akan terus silih-bergantian muncul kesesatan-kesesatan spiritualitas.

Tegasnya, harus dipahami betul-betul tentang aliran-aliran spiritual atau keimanan dari NRM tersebut. Sebab, kalau tidak, akan berdampak pada timbulnya patologi sosial dan psikopatologis yang jelas-jelas meresahkan masyarakat.

Pendekatan keimanan dalam terapi spiritual bukan dimaksudkan untuk mengubah keimanan (conversion of faith), tetapi justru memperdalam keimanan-ketakwaan yang bermuara pada semangat amal saleh (kesalehan individu dan sosial secara simultan).

Posisi keimanan (spiritual) bagi manusia sungguh signifikan, karena berdasarkan penelitian Harrington, A. Monakow V, Goldstein, dan juga Synderman yang dipresentasikan dengan judul Brain and Religion: Undigested Issues, bahwa manusia di dalam jaringan/susunan pusat syarafnya (di otak) terdapat apa yang dikenal dengan God Spot yang menunjukkan, bahwa keimanan berbasis agama/spiritual (dalam aktus berzikir-berdoa-beribadah- beramal saleh) adalah termasuk salah satu dari potensi-potensi

Konsep Muslim Ideal dan Ciri-cirinya | 55

kepribadian manusia yang seharusnya berjalan serasi-seimbang dengan aspek-aspek kepribadian yang lain.

Dengan demikian, pelayanan kesehatan jiwa ataupun kepribadian tidak hanya ditangani di lingkungan rumah-rumah sakit, tetapi juga di tempat-tempat ibadah, seperti masjid-masjid, dan itu dapat berperan sebagai penyehat (pembentuk kesehatan pribadi) yang ampuh, yakni dapat meningkatkan imunitas diri dari segala penyakit, karena terbebas dari stress, cemas, dan depresi.

Sebagaimana Sendiony, F.E yang telah meneliti kesehatan berbasis peningkatan kerohanian/agama sehingga mengatakan bahwa pengamalan agama dapat meningkatkan derajat kesejahteraan seseorang, karena menyebabkan bebas dari stress, cemas, dan depresi. Demikian pula Christy, dalam penelitiannya yang dilaporkan dengan judul “prayer as medicine” menyimpulkan, bahwa doa, zikir, dan ibadah-ritual juga merupakan obat bagi penderita gangguan kesehatan selain obat medis. Itu semua sangat masuk akal, karena ketika seseorang menunaikan ibadah-ritual, maka hatinya menjadi cerah dan kokoh yang dapat menggetarkan energi positif pada jiwa-raganya, sehingga akan menyingkirkan energi-energi negatif dirinya, terutama potensi-potensi penyakitnya.