نو ُرُف
C. Faktor Ekternal Terjadinya Patologi Muslim
Konsep Muslim Menyimpang dan Muslim Patologis | 81
menanganinya (men-treatment). Ini tentu saja memerlukan kajian dan penelitian seksama. Sebab, dengan berhasil mendiagnosis dan menganalisisnya, maka akan memudahkan upaya treatment dan terapi secara tepat dan efektif.
Penyakit-penyakit mental-kepribadian ini (istilah Islamnya:
amraḍ al-bāṭin/ penyakit-penyakit batin) memang lebih tersembunyi sifatnya yang biasanya seseorang yang mengidapnya sendiri tidak dapat mengetahuinya, sehingga muncul kesulitan untuk mengobatinya. Dan ini menurut ibn al-Jauzi perlu dimintakan bantuan melalui orang lain yang bijaksana dan mampu menilik penyakit-penyakit batinnya, yaitu konselor agama/konselor muslim.
Adapun penyakit-penyakit kepribadian muslim, dan juga penyakit kepribadian secara umum, yang berhasil diketahui dan dijelaskan oleh para pakar di antaranya adalah; penyakit salṭah al- hawā, karatan hati, mata keranjang, ʻisyq, dusta, ḥasad, ḥiqd, gaḍab, kibr, ʻujb, riya’, ḥuzn, gamm dan hamm, khauf dan ḥiżr, over kegembiraan/ uforia, kasal, maṣa’ib. Tambahan dari ibn Qayyim, yaitu; al-nafs, maraḍ al-qalb, syuḥḥ, hobby berbuat keji, raib, al-hawaa, maʻazif, ṭalab al-ri’asah wa al- ʻuluw, al-gaiḍ, al-bugḍ.
82 | Patologi Muslim (Makrifat Diri Menuju Pribadi Hakiki Meraih Bahagia Abadi)
Islam, secara konseptual, merupakan seperangkat nilai yang agung yang diperuntukkan oleh Tuhan Allah Swt. menjadi resep kehidupan bagi umat manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Seorang muslim, untuk dapat menjadi baik, haruslah menerapkan resep Islam tersebut secara konsisten dan menyeluruh (kaffah). Sebaliknya, tanpa menerapkannya dalam kehidupan nyata, Islam tidak berpengaruh apa-apa dalam pembentukan kepribadian muslim tersebut.
Nilai-nilai Islam sebagai unsur pembentuk kepribadian muslim memang digambarkan sebagai benih tanaman yang ditancapkan seorang petani di atas lahan tanah. Lahan tanah diibaratkan sebagai komposisi karakter dasar yang tersusun dari insting (garīzah) dan temperamen. Sementara, upaya petani dalam merawat dan mengawasi tanamannya diibaratkan sebagai pendidikan. Dari proses tanam tersebut, maka hasilnya sangat ditentukan oleh beberapa faktor; yaitu benih tanamannya, lahan tanahnya (subur dan tandusnya), dan semangat bertaninya. Jika kualitas benih tanaman itu baik, lalu tanahnya subur, dan dikelola secara baik, maka dapat dipastikan hasilnya akan baik pula.
Analoginya, jika nilai-nilai keislaman yang diserap seseorang itu sahih dan benar (berkualitas), lalu karakter dasar seorang muslim tersebut bagus (secara psikologis adalah sehat), dan ada upaya serius untuk mengembangkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dan perilakunya, maka muslim tersebut dapat dipastikan menjadi baik dan bagus (ṣālih). Tetapi sebaliknya, jika nilai-nilai keislaman yang ditanam tersebut bias, maka walaupun karakter dasar seorang muslim tersebut sehat dan baik, maka kepribadiannya menjadi menyimpang dan tidak sehat, bahkan sakit. Ini sama halnya dengan sebuah ilustrasi, bahwa apabila nilai-nilai Islam tersebut lurus, tetapi ditanam di lahan watak manusia yang tidak sehat atau tandus, banyak benih-benih penyakit kejiwaan, maka hasilnyapun kurang maksimal. Namun, untuk kasus terakhir ini, perlu dicermati lebih dalam, terutama harus dikaji mendalam tentang problematika kejiwaannya untuk dapat tepat memberikan treatment yang tentunya berbeda dengan
Konsep Muslim Menyimpang dan Muslim Patologis | 83
kasus sebelumnya yaitu tentang benih nilai-nilai keislaman yang bias.
Tentunya menjadi penting untuk dapat menyusun nilai-nilai keislaman yang lurus dari sumbernya (Alquran dan Hadis) dalam konteks pembentukan kepribadian muslim yang sehat. Sebab, kesalahan dalam mengambil nilai-nilai keislaman akan berakibat terciptanya kepribadian muslim yang tidak lurus dan menyimpang. Dengan demikian, diperlukan kecermatan luar biasa dalam menghimpun nilai-nilai tersebut, dan itu memerlukan pemahaman mendasar tentang watak Islam sebagai agama muslim sebagaimana dipaparkan di bab 2.
Diantara sikap yang dapat memengaruhi dan menimbulkan gejala patologis seorang muslim yang merupakan aspek eksternal, karena keterpengaruhan faktor pemahaman yang telah melembaga dalam lingkungannya, adalah sikap ekstrem dan fundamentalistik dalam beragama Islam, yaitu kaku/rigid dan fanatik.
Bersikap ekstrem dalam beragama (gulūw) adalah bertentangan dengan watak dasar Islam, yaitu moderat.
Sebaliknya, konsekuensi perintah Islam untuk bersikap moderat adalah larangan terhadap muslim untuk tidak bersikap gulūw (ekstrem) dalam segala urusan agama.
Kata gulūw berasal dari kata Arab,
وُلُغ
, yang secara konjugatif dapat berpola kata kerjaالاغ
-وُلْغا ي
yang berarti memuncak, menepi, atau mengujung (ولُغ
–فاارِحْنِا
–فُّراطات
), atau juga boleh dipola dengan (لغ
–ىِلْغا ي
-ُناايالاغ
) yang berarti mendidih atau membolak- balik, yakni, menggelombang. Adapun secara terminologis, gulūw adalah sikap melampaui batas normal dalam beragama. Gulūw memiliki dua model, yaitu model aktif, yaitu melampaui batas dan keterlaluan dalam memegangi agama lebih dari yang diajarkan yang mungkin karena faktor kecenderungan watak seseorang untuk memperberat diri dalam menjalankan agama, atau kesalahan dalam memahami karena memang tidak punya alat
84 | Patologi Muslim (Makrifat Diri Menuju Pribadi Hakiki Meraih Bahagia Abadi)
yang mumpuni atau memang karena kesalahan dalam pemahaman; yang lain adalah gulūw pasif, yaitu berbentuk mengurangi batas-batas perintah agama, atau meninggalkannya sama sekali. Misal, meninggalkan kewajiban, atau menghalalkan yang haram dan sebaliknya.
Gulūw merupakan larangan agama dalam segala bentuknya.
Banyak istilah yang bersinonim dengan istilah ini, seperti; tanaṭṭuʻ, tasyaddud, dan al-ʻanaf. Gulūw dalam praktik beragama tampak dalam berakidah, beribadah, bermuamalat, bermunakahat (dalam bidang hukum keluarga, al-aḥwāl al-syakhṣiyyah), berpolitik (siyāsah), dalam lingkungan manusia hidup, dan lain-lain fenoma kehidupan. Agama Islam mengutuk sikap itu, misalnya, pada Q.S.
al-Fatihah (1): 6 – 7; Q.S. al-Baqarah (2): 229; Q.S. Hud (11): 112;
Q.S. al-Nisa’ (4): 171; Q.S. al-Maidah (5): 77; dan Q.S. al-Hadid (57):
27. Demikian juga sabda Nabi, banyak menolak sikap itu, misalnya, riwayat Muslim, Abu Dawud dan Ahmad dari ibn Mas’ud, bahwa Nabi bersabda:
...اًثالاث ااهالااق ,انْوُعِطانا تُمْلاا اكالاه “
“.
Artinya: “Rusaklah orang-orang yang melampaui batas, seraya mengulanginya tiga kali…..”.
Imam Nawawi menjelaskan bahwa makna kata al- mutanaṭṭiʻūn adalah orang-orang yang memperdalamkan pengertian, pemahaman, dan pengamalan ajaran agama secara ekstrem dan melampaui batas makna yang wajar. Ada juga riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda: