PENDAPATAN DAEKAH
C. DANA PERIMBANGAN
1. DANA BAcr HAstL
Dana Bagi Hasil [DBH) merupakan
pendapatanpemerintah
yang dibagihasilkandengan daerah/wilayah di mana
lokasipendapatanitu
t14
t1 Penganggarci Daefih
dihasilkan sesuai dengan proporsi tertentu atas danayangsudah dikumpulkan Qsroportionality ofcollection). Pengertian
dan definisi dari DBH ini
iugamengindikasikan bahwa fokus dari DBH adalah untuk mengatasiketimpangan vertikal antarapemerintah pusat dan daerah. Ketimpangan Vertikal disebabkan oleh penguasaan sumberpendapatan oleh pusat iauh melebihi pengu.lsaan sumber pendapatan oleh daerah, sehingga daerah tidak akan dapatrnembiayai urusannya tanpa adanya transfer/bagi hasil atas pendapaan pusat tersebuL Ketimpangan vertikal juga bisadiartikan sebagai kesenjangan antara potensi sumber pendapatan daerah dengan kebutuhan pendanaan urusan daerah.
Dibandingkan dengan jenis dana transfer lainnya DBH merupakan dana transfer yang
relatif
penting di dalam menjamintingkat desent-alisasi fitlgh degreeof
decentralization)melalui
uncondirronalitydalam
pengguniun dana. Dana transferDBH umumnya bersifat unconditional {bebas digunakanoleh
penerimaJ. Penggunaan DBHyang diatur dan
diarahkanjuga akan mengaburkan tuiuan dari alokasi dana bagi hasil itu sendiri.DBH yang diterapkan selama
ini memiliki
issueterkajt
dengan: 1) pmporsi bagi hasil, 2) penentuan total penerimaan yang dibagihasilkan, 3]eligibility
untuk daerah penerima DBH, dan 4J alokasi periode pNBp fpoolreve n u e) yang dibagihasilkan.
fenis dana bagi hasil dirinci menurut obiek pendapatan yang mencakup:
a.
Bagi hasil paiak; danb.
bagi hasil sumber daya alam.(1)
Bagi HasilPajak
a. Bagi Hasil Pajak Bumi dan Bangunan Sektor perkebuna&
Perhutanan, dan
Pertambangen (PBBp3)
Pajak
Bumi dan
Bangunan IPBBJmemiliki
peran yang cukup besarbagi
kelangsungandan
kelancaran pembangunan, sehingga perluditangani dan dikelola lebih intensif.
penanganandan
pengelolaan tersebut diharapkan mampu menujutertib
administrasi serta mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembiaya.an pembangunan SubyekPajak Bumi dan
Bangunanadalah orang atau badan
yang nyata-nyatamemiliki dan/atau
menguasaibumi dan/aAu
bangunan Obyek PaiakBumi
dan Bangunan adalahbumi
dan bangunan. Bumi adalah tubuh bumi, permukaan bumi atau tanah, bangunan yang ada di atasnya, perairan maupun udara di atas tanahtersebul
Sedangkan yang115
N{ooul I\'IATA KsLIAtr Flv{P IPDN
dimaksud dengan bangunan adalah gedung jalan, kolam renang pagar'
tempat
olahraga, dermaga, tanaman, danlainlain
yang memberikan manhat. Walib paiak adalah orang atau badan yang memenuhi' Syarat- qrarat obyektif,yaitu
yangmemiliki obyek yangnilai
iualnya melebihi nilai minimum yang dibebankan dari pengenaanpaiak
Berdasarkan
karakteristik
obiek palaknya, PaiakBumi
dan Bangunan [PBBJ dapat dikelompokkan meniadi:1.
PBB Sektor Pedesaaanadalah oblek
PBBdalam
suatu wilayah yangmemiliki ciri-ciri
pedesaanseperti
sawah,ladang
empang tradisional dan lain-lain.2.
PBB Sektor Perkotaan adalah objek PBB dalam suatu wilayah yangmemiliki
fasilitas perkotaan, seperti: pemukiman penduduk yang memiliki fasilitas perkotaan, real state, komplek pertokoan'industri'
perdagangan dan iasa.3.
PBB Sektor Perkebunan adalah obiek PBB yang diusahakan dalam bidang budidaya perkebunan,baik
yang diusahakanoleh
BUMN' BUMD, mauPun swasta'4.
PBB Sektor Perhutanan adalahobiek
PBBdi bidang
usaha yang menghasilkan komoditas hasil hutan, sepertikayu tebangan'rotan'
dammal dan lain-lain.5.
PBB Sektor Pertambangan adalah obiek PBB di bidang usaha yang menghasilkankomoditas hasil
tambangsepertiemas,
batubara' minyak, dan gas bumi danlain-lain'
Dengan
diberlakukannya
Undang-UndangNomor 28 Tahun
2009tenang
Paiak Daerah danRetribusi
Daerah [selanlutnya disebut UUPDRDJ, maka PBB sektor Perdesaan dan Perkotaan IPBB P2] diserahkan meniadi
paiak
daerah'Untuk itu
Pemerintah Daerah(dalam hal ini
pemerintah kabupaten/kota] harus mengelola sendiri PBB P2' Selamaini
PBBP2dikelola dan dipungut oleh
Pemerintah Pusat' kemudian daerah menerima sebagian besar hasil pemungutannya'Dengan UU PDRD pengelolaan dan pemungutan PBB P2 sepenuhnya menjadi meniadi tanggung
iawab dan hak pemerintah
daerahkota/
kabupaten tanpa harus 'membagi'kepada pemerintah pusat' Pemerintah Pusat dalam hal ini DJP [Direktoratlendral Pajak) Kementerian Keuangan bertanggung
iawab mengelola
PBBP2sampai 37
Desember 2073 sepanlang belum dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota berdasarkan Perda'116
P'retuafl od'tt dai Pengantgsran Daerch
Akan tetapi mulai 1 ]anuari 2014 pengelolaan PBB sepenuhnyamenladi tanggung j awab Kabupaten/Kota.
Sementara itu, PBB P3 tetap merupakan penerimaan pemerintah pusat yang dibagihasilkan dengan daerah. Adapun penyaluran Dana Bagi Hasil PBB dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:
a)
Untuk DBH PBB bagianprovinsi
(76,2%) bagian kabupaten/kota (6+,80/0) dan biaya pemungutan PBB[9%) dari
sektor perdesaan, perkotdan, perkebunan, perhutanan dan pertambangan nonmigas.Pen5raluran dilaksanakan secara
mingguan melalui
penerbitanSPM oleh KPPN setempat berdasarkan realisasi pembayaran PBB di masing-masing kabupaten/kota kecuali untuk penyaluran DBH PBB sektor pertambangan migas dan sektor pertambangan panas bumi.
bl Untuk DBH PBB sektor pertambangan migas dan
sektor pertambanganpanas bumi bagian daera[ alokasi
sementara DBH PBB sektor pertambangan migas dansektor
pertambangan panas bumi yang bersumber dari rencana penerimaan PBB sektor pertambangan migas dan sektor pertambangan panas bumi dalam APBN tahun anggaran berjalan digunakan sebagai dasar penyaluran triwulan I, II dan III tahun anggaran berjalan, masing-masing sebesar 25o/odan
alokasi sementara. Realisasi PBBsektor
pertambangan migas dan seliitorpertambangan panas bumi tahun anggaran berialan ditetapkan sebagai alokasidefinitif
DBH PBB sektor p€rtambangan migas dan sektor pertambangan panas bumi.Penyaluran
Fiwulan
IV merupakan selisih antara alokasidefinitif
dengan iumlah dana yang telah dicairkan pada
triwulan I
s.dIII.
Khusus untuk alokasi DBH PBB sektor
pertarnbangan migasdihitung
dengan formula yang memperhatikan iumlah penduduk, luas wilayah, PADdan potensi produksi sumber daya migas.Penyaluran
DBH
PBB bagianpemerintah
menggunakan alokasi sementara yang menladi dasar penyaluran tahapI
danll, di
mana ditetapkan masing-masing sebesar 2596dan 50% dari
perkiraan alokasi sementara. Untuk penyaluran DBH PBBbagian p€merintah tahaplll,
prognosa realisasi penerimaan yang ditetapkan oleh Di$en Paiak digrrnakan sebagai dasaralokasi definitif. Penyaluran tahapIII
merupakan selisih antara alokasi definitifdengan iumlah dana yang
OO0OOOOOOOOOOOOOOOOOOOO OO0 0 0 C O a OOOOOOOOoo C C C C cOoioO COOoOtO0 C CO0O0
ll7
MoDr'L \.IATA KULTAH FtrlP IPDN
telah dicairkanselama tahap I dan [[. Dalam penyaluran tahap
III ini
disalurkan pula insentif kepada kabupaten dan/kota yang realisasi penerimaanPBB sektor
Pedesaandan Perkotaan pada
tahun anggaran sebelumnya mencapai/melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan.-
Perhitungan DBH PBB migas dan panasbumi
Perhitungan alokasi DBH PBB migas dan panas
bumi
ditatausahakan dengan ketentuan sebagai berihxt:1)
PBB migas onshore dan panasbumi
ditatausahakan berdasarkanleak
dan kedudukan obiek pajak dan dlbag] by origin,2J
PBB migas offshore dan PBB migas tubuh bumi ditatausahakan per kabupaten/kota dengan menggunakanformula
dan dibagi sesuai persentase DBH PBB, di mana perhitungan PBB migas offshore dan PBB migas tubuhbumi
per kabupaten/kotadari PBB
migas yang ditanggung Pemerintah ditetapkan:a.
1096 menggunakan formula.b.
gOVodibagi
secaraproporsional
sesuai r€alisasi PBB migas tahun anggaran sebelumnya.Formula yang digunakan untuk menghitung PBB migas yang ditanggung pemerintah, PBB migas
yang dibayar
langsungoleh
KKKSke
bank persepsi menggunakan formula:b.
BagiHasil
Pajak Penghasilan IDBH PPh Pasal21 dan
Pasal25/29
WaiibPajak Orang Pribadi Dalam Negeri)
Paiak
penghasilanadalah paiak yang dikenakan atas
tambahan kemampuan ekonomisdalam bentuk apa pun, baik diperoleh
dari Indonesia atau luar negeri, digunakan untuk konsumsi atau menambah kekayaanwaiib pajak
Secara umum ada duajenis
paiak penghasilar;yaitu
(ij
paiak penghasilan [PPh] badan dan[ii)
pajak penghasilan [PPhj individu.PPh Badan
tidak
dibagihasilkan dan sepenuhnya menjadi pendapatanpemerintah pusat
SedangkanPPhlndividu termasuk ienis
yangdibagihasilkan dengan daerah otonom.
fenis
PPh yang dibagihasilkan adalah PPh yang diatur pada pasal 21 dan pasal 25/29.Paiak penghasilan Pasal 21 adalah paiak atas penghasilan atas gaii, upah, honorarium, tunjangaD dan pembayaran
lain
dengan nama dan dalamll8
?ere .atadn dan lenynggamn Daeftih
bentuk apa pun sehubungan dengan pekerjaan atau iabatan, jasa" dan kegiatan yang dilakukan olehWP0P dalam negeri. Palak Penghailan Pasal 21 dipotong, diseto4 dan dilaporkan oleh Pemotong Pajak, yaitu pemberi
kerja,
bendaharawan pemerintah,dana
pensiun, badan, perusahaandan
penyelenggaraan kegiatan. Pelaporan penerimaan PPh Pasal 21 dilakukan berdasarkan tempat ke4aPPh Pasal 25terkait
dengan Pajak Penghasilan orangpribadi
dalam negeri yang menjalankan kegiatan usahaatau
pekeriaan bebasatau
memperoleh penghasilanteratur
lainnya yang bersifat Udak final yang diangsur setiap bulannya.Sedangkan PPh Pasal 29 adalah Paiak Penghasilan yang harus dilunasi oleh
Waiib
Paiak OrangPribadi
sebagaiakibat
PPh Terutang dalam Surat Pemberitahuan [SPI] Tahunan Pajak Penghasilan lebih besar dari padakredit
paiak yang telahdisetor
sendiri. Pencatatan penerimaan PPh Pasal25/29 berdasarkan asasdomisili wajib
pajak Secaraumum dapat dikatakan bahwa PPh pasal 21 adalah paiak yang dikenakan atas penghasilan yang diterima dari pemberi keria, sedangka PPh pasal 25 adalah pajak yang harus dibayarsendiri
olehwajib
paiak padatiap
bulan.-
Obiek paiak penghasilanPenghasilan yang diterima atau diperoleh pegawaitetap, baik berupa penghasilan yang bersifat teratur maupun tidak teratur;
Penghasilan yang diterima atau diperoleh penerima pensiun secrra teratur berupa uang pensiun atau penghasilan seienisnya;
Penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan
kerja
dan penghasilan sehubungan denganpensiun yang diterima
secarasekaligus berupa uang pesangon, uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua atau jaminan hari tua, dan pembayaran lain sejenis;
Penghasilan pegawai
tidak tetap
atau tenaga ker.ja lepas, berupa upah harian, upah mingguarL upah safuan, upah borongan, atau upah yang dibayarkan secara bulanan;5.
Imbalan kepada bukan pegawai, antaralain
berupa honorarium, komisi, fee, dan imbalan seienis dengan nama dan dalam bentuk apa pun sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan;6.
Imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa uangsaku, uang representasi, uangrapat,
honorarium,hadiah
atau penghargaanl19
It{oDUr- -\.1ATA KULTAH FMP IPI)N
dengan nama
dan
dalambentuk
apapun, dan imbalan
sejenis dengan. nama apa pun.penerimaan Negaradari
PPh Pasal 21 dan Pasal25/29 WPOPDN yang dibagihasilkan ke daerah sebesar 207o dari realisasi penerimaan PPh Pasal 21 dan Pasal25/29
WPOPDN dengan rincian sebagai berikut:a]
Bagian Provinsi sebesar 8026.bJ
Bagian Kabupaten atau Kota sebesar 1296, dengan rincian:1J
8,4%o untuk kabupaten/kota tempat waiib paiak terdaftarZ) 3,60 untuk seluruh kabupaten/kota dalam provinsi
yangbersangkutan dengan bagian yang sama besar.
Penyaluran DBH PPh Pasal 21 dan Pasal