• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER

7. Dasar Penerapan Pendidikan Karakter

Menurut Hamdani Hamid & Beni Ahmad Saebani, pendidikan karakter memiliki landasan normatif antara lain:

a. Berasal dari ajaran Agama Islam, yaitu dari Al-Qur’an dan As- Sunnah, berlaku pula untuk ajaran agama lainnya yang banyak dianut manusia;

b. Adat kebiasaan atau norma budaya;

c. Pandangan-pandangan filsafat yang menjadi pandangan hidup dan asas perjuangan suatu masyarakat atau suatu bangsa;

d. Norma hukum yang telah diundangkan oleh Negara berbentuk konstitusi, undang-undang, dan peraturan perundang-undangan lainnya yang bersifat memaksa dan mengikat akhlak manusia.49

Berikut merupakan dasar penerapan pendidikan karakter dilihat dari pandangan agama Islam dan Negara:

48 Tim P3KMI, Muslim Integral; Buku Program Pendampingan Pengembangan Kepribadian Muslim Integral (P3KMI), (Yogyakarta: Cipta Media Aksara, 2012), h. 42

49 Hamdani Hamid & Beni Ahmad Saebani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2013), h. 54

a. Dasar Agama Islam

Sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an, manusia adalah manusia dengan berbagai karakter. Dalam kerangka besar, manusia mempunyai dua karakter yang berlawanan, yaitu karakter baik dan buruk.50 Hal tersebut tertera dalam Al-Qur’an surat Asy-Syams ayat 8-10, yang menyebutkan bahwa manusia memiliki dua karakter yang berlawanan. Beruntung bagi manusia yang terus menjaga dan menyucikan jiwa (karakter) dan merugilah bagi yang mengotorinya (mengabaikan dari perbaikan). Firman Allah Swt.:

َْﳍَﺄَﻓ ﱠﺳَد ﻦَﻣ َبﺎَﺧ ْﺪَﻗَو ۞ ﺎَﻫﺎﱠﻛَز ﻦَﻣ َﺢَﻠْـﻓَأ ْﺪَﻗ ۞ ﺎَﻫاَﻮْﻘَـﺗَو ﺎَﻫَرﻮُﺠُﻓ ﺎَﻬَﻤ

۞ﺎَﻫﺎ

“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS.

Asy-Syams [91]: 8-10)

Menurut hemat penulis, penggagas pendidikan karakter pertama kali adalah Rasulullah Saw. Sejak berabad-abad tahun yang lalu, beliau diutus untuk membenahi, memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia pada zamannya.

ُﺳﻮُﻳ ُﻦْﺑ ِﺪﱠﻤَُﳏ ﻮُﺑَأ ََﺮَـﺒْﺧَأ ْﺑ ِﺪﻴِﻌَﺳ ﻮُﺑَأ ﺄﺒﻧأ , ﱡ ِﱐﺎَﻬَـﺒْﺻَْﻷا َﻒ

َُﳏ ٍﺮْﻜَﺑ ﻮُﺑَأ ﺎﻨﺛ , ِِّﰊاَﺮْﻋَْﻷا ُﻦ ُﻦْﺑ ُﺪﱠﻤ

ُﻦْﺑ ِﺰﻳِﺰَﻌْﻟا ُﺪْﺒَﻋ ﺎﻨﺛ , ٍرﻮُﺼْﻨَﻣ ُﻦْﺑ ُﺪﻴِﻌَﺳ ﺎﻨﺛ , ﱡيِذوﱡرَوْﺮَﻤْﻟا ٍﺪْﻴَـﺒُﻋ َﻼْﺠَﻋ ُﻦْﺑ ُﺪﱠﻤَُﳏ ِﱐَﺮَـﺒْﺧَأ , ٍﺪﱠﻤَُﳏ

, َن

ِﻦْﺑ ِعﺎَﻘْﻌَﻘْﻟا ِﻦَﻋ ُﷲ َﻲِﺿَر , َةَﺮْـﻳَﺮُﻫ ِﰊَأ ْﻦَﻋ , ٍﺢِﻟﺎَﺻ ِﰊَأ ْﻦَﻋ , ٍﻢﻴِﻜَﺣ

ِﷲ ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻗ :َلﺎَﻗ ُﻪْﻨَﻋ

" ِق َﻼْﺧَْﻷا َمِرﺎَﻜَﻣ َﻢَِّﲤُِﻷ ُﺖْﺜِﻌُﺑ ﺎَﱠﳕِإ " :َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﷲ ﻰﱠﻠَﺻ

“Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Ibn Yusuf al- Ashbahani, mengabarkan padaku Abu Sa’id Ibn Al-‘Araby, Abu Bakr

50 Najib Sulhan, Pendidikan Berbasis Karakter: Sinergi Antara Sekolah dan Rumah dalam Membentuk Karakter Anak, (Surabaya: PT JePe Press Media Utama, 2010), h. 1

Muhammad Ibn ‘Ubaid al-Marwarudziy, Sa’id Ibn Manshur, Abdul Aziz Ibn Muhammad, mengabarkan padaku Muhammad Ibn ‘Ajlany, dari Qa’qa’ Ibn Hakim, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah r.a.

mengatakan: Berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Aku diutus untuk menyempurnakan keluhuran budi pekerti.51

Hingga hari ini Rasulullah Saw. merupakan teladan paling baik dalam hal suri tauladan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 21:

َمْﻮَـﻴْﻟاَو َﷲ ﻮُﺟْﺮَـﻳ َنﺎَﻛ ْﻦَﻤِﻟ ٌﺔَﻨَﺴَﺣ ٌةَﻮْﺳُأ ِﷲ ِلْﻮُﺳَر ِﰲ ْﻢُﻜَﻟ َنﺎَﻛ ْﺪَﻘَﻟ اًﺮْـﻴِﺜَﻛ َﷲ َﺮَﻛَذَو َﺮِﺧﻵْا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(QS.

Al-Ahzab [33]: 21)

Berdasarkan hal tersebut, maka kita sebagai umat manusia yang hidup di akhir zaman seharusnya mengikuti dan meneladani Rasulullah Saw., dan meneruskan perjuangannya dalam menanamkan pendidikan nilai-nilai karakter dalam Al-Qur’an ke segala penjuru bumi ini.

b. Dasar Negara

Mengakar pada kesepakatan para founding fathers52 kita saat mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang lalu, maka dasar filosofi penerapan pendidikan karakter adalah Pancasila.53 Dalam kaitan ini ditegaskan oleh Soedarsono: “Dengan demikian, kita harus tegas menolak adanya anggapan yang marak berkembang

51Lihat: Abu Bakar Al-Baihaqi, As-Sunnan al-Kubra, (Beirut: Darul Kitab al-‘Ilmiyah, 2003), Juz 10, h. 323

52Bapak Pendiri Bangsa

53Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, h. 21-22

bahwa Pancasila sudah tidak relevan lagi di alam modernisasi, reformasi, dan globalisasi sekarang ini. Padahal sudah jelas dan tegas bahwa ideologi bangsa Indonesia adalah Pancasila. Pancasila itu sendiri telah terpatri dalam kalbu dan mengalir dalam darah setiap anak bangsa.”54

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tidaklah bertentangan dengan Al-Qur’an sebagai kitab pedoman manusia.

Bahkan membuat bangsa Indonesia yang multikultural ini dapat bersatu, menjunjung nilai-nilai karakter yang tertuang di dalamnya.

Karakter sangatlah penting bagi tercapainya tujuan hidup setiap manusia.

Karakter yang berlandaskan falsafah Pancasila maknanya adalah setiap aspek karakter harus dijiwai oleh kelima Pancasila secara utuh dan komprehensif sebagai berikut:

Sila Pertama, bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan bentuk kesadaran dan perilaku iman dan takwa serta akhlak mulia sebagai karakteristik pribadi bangsa Indonesia.

Sila kedua, bangsa yang menjunjung kemanusiaan yang adil dan beradab diwujudkan dalam perilaku hormat menghormati antar warga dalam masyarakat sehingga timbul suasana kewargaan (civic) yang saling bertanggung jawab, juga adanya saling hormat menghormati antar warga bangsa.

Sila ketiga, bangsa yang mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa yaitu memiliki komitmen dan perilaku yang selalu

54 Soedarsono, Soemarno, Karakter Mengantar Bangsa Dari Gelap Menuju Terang, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2009), h.

mengutamakan persatuan dan kesatuan Indonesia di atas kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan.

Sila keempat, bangsa yang demokratis dan menjunjung tinggi hukum dan hak asasi manusia. Bangsa ini merupakan bangsa yang demokratis yang tercermin dari sikap dan perilakunya yang senantiasa dilandasi nilai dan semangat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, menghargai pendapat orang lain.

Sila kelima, bangsa yang mengedepankan keadilan dan kesejahteraan yaitu memiliki komitmen dan sikap untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat dan seluruh bangsa Indonesia.

Karakter berkeadilan sosial tercermin dalam perbuatan yang menjaga adanya kebersamaan, kekeluargaan dan kegotongroyongan, menjaga harmonisasi antara hak dan kewajiban, hormat terhadap hak-hak orang lain, suka menolong orang lain, menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain, tidak boros, tidak bergaya hidup mewah, suka bekerja keras, menghargai karya orang lain.55