• Tidak ada hasil yang ditemukan

DI KABUPATEN MERAUKE

Dalam dokumen hathi (Halaman 38-48)

Ganggaya Sotyadarpita*, Parlinggoman Simanungkalit, Yudi Lasmana dan Nurlia Sadikin

Balai Penelitian dan Pengembangan Rawa, Pusat Litbang Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

*[email protected]

Intisari

Kabupaten Merauke merupakan penghasil padi terbesar di kawasan Papua Selatan.

Berdasarkan data BPS (2015), 99% komoditas padi di Papua Selatan dihasilkan dari wilayah ini. Lahan pertanian di Merauke cukup potensial untuk dikembangkan karena luas pemanfaatan eksisting masih mencakup 1% dari keseluruhan luas lahan di Kabupaten Merauke. Kondisi topografi Merauke yang didominasi oleh dataran rendah (lowland) dan rawa memerlukan pendekatan khusus dalam penyelidikan potensi lahan untuk pengembangan lahan irigasi rawa.

Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi pengembangan lahan irigasi rawa berdasarkan konsep macrozoning yang dikembangkan oleh WACLIMAD. Zonasi makro membagi peruntukan lahan berdasarkan arahan konservasi dan budidaya. Peta zonasi makro disusun menggunakan perangkat lunak GIS dengan teknik overlay berdasarkan data sekunder parameter lahan yang meliputi kesatuan hidrologi, status kawasan hutan, gambut, kawasan dengan high conservation value (HCV), kawasan pantai, penggunaan lahan dan izin konsesi, serta fungsi kawasan hutan.

Hasil penelitian ini adalah informasi sebaran dan luasan potensi lahan berdasarkan empat kriteria zonasi makro yaitu, kawasan konservasi, kawasan pengelolaan adaptif, kawasan pengelolaan pantai, dan kawasan pengembangan. Pengembangan lahan irigasi rawa dapat dilakukan pada kriteria kawasan pengembangan dan sebagai alternatif kriteria kawasan pengelolaan adaptif dapat dikembangkan dengan strategi atau perlakuan khusus.

Kata kunci: zonasi makro, parameter lahan, Kabupaten Merauke, pertanian, lahan rawa

LATAR BELAKANG

Kabupaten Merauke merupakan daerah penghasil komoditas padi terbesar di wilayah Indonesia Timur. Menurut Kementerian Pertanian (2014), Kabupaten Merauke berada pada peringkat 15 nasional sebagai kabupaten/kota prospektif pengembangan komoditas unggulan padi. Berdasarkan data BPS Provinsi Papua (2015), 99% komoditas padi di Papua Selatan dihasilkan dari wilayah ini. Pada Tahun 2015, luas tanam di Kabupaten Merauke mencakup 39.123,63 ha, namun tersebar tidak merata. Mayoritas lahan pertanian terletak di daerah transmigran seperti Distrik Tanah Miring, Distrik Kurik, Distrik Semangga, Distrik Malind, Distrik Merauke dan Distrik Jagebob (BPS Kabupaten Merauke, 2016). Prospek

pengembangan pertanian di Kabupaten Merauke direspon pemerintah dengan mencanangkan wilayah ini sebagai lumbung padi nasional pada periode 2015- 2019. Dari 4,6 juta ha luas lahan di Kabupaten Merauke, pengembangan eksisting baru dilakukan pada 39 ribu ha atau sekitar 1% dari total luas lahan, sehingga masih menyisakan lebih dari 4,5 juta ha lahan.

Sejalan dengan program tersebut, penyelidikan potensi lahan pertanian perlu dilakukan agar diperoleh lahan yang tepat dalam pengembangan lahan pertanian.

Karakeristik lahan di Kabupaten Merauke didominasi oleh topografi dataran rendah (lowland) dan lahan rawa, yang tentunya harus dipertimbangkan dalam kajian potensi lahan. Pada tahap penyelidikan awal, harus diketahui terlebih dahulu mana lahan yang dapat dikembangkan (potensial) dan mana lahan yang tidak dapat dikembangkan. Salah satu metode klasifikasi lahan yang identik dengan lowland dan lahan rawa adalah macrozoning (zonasi makro).

METODOLOGI STUDI

Zonasi makro disusun berdasarkan data sekunder berupa data spasial/peta yang mewakili parameter lahan. Parameter lahan yang digunakan meliputi kesatuan hidrologi, status kawasan hutan, gambut, kawasan dengan high conservation value (HCV), kawasan pantai, penggunaan lahan dan izin konsesi, serta fungsi kawasan hutan. Masing-masing parameter lahan diwakili oleh data sekunder yang sifatnya instansional, kecuali untuk data gambut dan data penutup lahan yang diperoleh dari interpretasi citra satelit penginderaan jauh Landsat 8. Terhadap kedua data tersebut juga dilakukan validasi melalui groundcheck atau survei lapangan.

Gambar 1. Diagram Alir Skema Macro-Zoning (Azdan, 2012)

Data-data tersebut selanjutnya dianalisis menggunakan Geographic Information System (GIS) dengan teknik tumpang susun/overlay. Prosedur tumpang susun menggunakan pendekatan macrozoning yang dikembangkan oleh Water Management for Climate Change Mitigation and Adaptive Development in Lowlands (WACLIMAND) pada tahun 2012. Alur pikir macrozoning disusun berdasarkan sumber daya dengan mempertimbangkan kondisi eksisting di lapangan dan kebijakan yang telah ditetapkan (Azdan, 2012), Gambar 1. Hasil dari analisis tersebut adalah kriteria zonasi makro yang terdiri dari empat kawasan, yaitu kawasan pengelolaan konservasi, kawasan pengelolaan adaptif, kawasan pengelolaan pantai, dan kawasan pengembangan.

Konsep ini dianggap paling relevan dalam menentukan zonasi kawasan di lahan rawa karena secara kontekstual macrozoning disusun untuk menghadapi kajian-kajian di daerah lowland yang di dalamnya mencakup lahan rawa. Pelaksanaan zonasi makro secara garis besar mengikuti literatur yang dirilis oleh WACLIMAD pada tahun 2012 berupa Working Paper seri 1-4. Data yang lengkap sangat diperlukan dalam rangka mewujudkan output dari skema macrozoning. Adapun data yang diperlukan meliputi parameter-parameter lahan yang terdiri dari:

1. Kesatuan Hidrologi

Kesatuan hidrologi adalah suatu kawasan dengan batas hidrologi yang jelas, seperti pantai, sungai utama, batas dataran tinggi, dengan kondisi hidrologi independen dari unit lain yang berdekatan dalam satu kawasan dataran rendah (WACLIMAD, 2012). Wilayah yang berada di luar kesatuan hidrologi tidak masuk dalam kajian macrozoning.

Gambar 2. Konsep deliniasi Kesatuan Hidrologi (WACLIMAD, 2012) 2. Status Kawasan Hutan

Lahan dengan status fungsi sebagai kawasan suaka alam (KSA), kawasan pelestarian alam (KPA), atau hutan lindung (HL) akan diklasifikasikan sebagai zona konservasi, sedangkan di luar itu dapat diarahkan menjadi zona pengembangan.

3. Gambut

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut, ekosistem gambut yang harus dilindungi/dikonservasi adalah

yang memiliki kriteria luasan 30% dari keseluruhan kesatuan hidrologis gambut, berada pada kubah gambut, atau memiliki ketebalan melebihi 3 meter.

4. Kawasan dengan High Conservation Value (HCV)

HCV atau nilai konservasi tinggi adalah nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah kawasan baik itu lingkungan maupun sosial, seperti habitat satwa liar, daerah perlindungan resapan air atau situs arkeologi (kebudayaan) dimana nilai-nilai tersebut diperhitungkan sebagai nilai yang sangat signifikan atau sangat penting secara lokal, regional atau global (Konsorsium Revisi HCV Toolkit Indonesia, 2008). Kawasan yang memiliki HCV akan dikategorikan sebagai zona konservasi.

5. Kawasan Pantai

Penentuan kawasan pantai dilakukan dengan pendekatan keberadaan ekosistem pantai seperti mangrove/bakau, nipah, dan hutan pantai. Kawasan pantai memiliki kriteria macrozoning tersendiri, yaitu Kawasan Pengelolaan Pantai.

6. Penggunaan Lahan dan Izin Konsesi

Dalam konteks macrozoning ada empat jenis penggunaan lahan yang menjadi perhatian, yaitu permukiman, pertanian, perikanan, dan konsesi izin. Apabila suatu daerah sudah diklasifikasikan menjadi zona konservasi berdasarkan parameter- parameter sebelumnya, namun memiliki keberadaan penggunaan lahan seperti yang disebutkan di atas, maka kriterianya menjadi Kawasan Pengelolaan Adaptif.

7. Fungsi Kawasan Hutan

Kawasan hutan ditinjau dari kriterianya sebagai hutan produksi (HP), hutan produksi terbatas (HPT), hutan produksi konversi (HPK), dan arahan penggunaan lain (APL). Sama seperti penggunaan lahan, apabila zona konservasi di dalamnya memiliki hutan dengan fungsi HP, HPT, HPK, atau APL maka akan dikategorikan ke dalam Kawasan Pengelolaan Adaptif.

HASIL STUDI DAN PEMBAHASAN Identifikasi Kesatuan Hidrologi

Kesatuan hidrologi adalah suatu kawasan dengan batas hidrologi yang jelas, seperti pantai, sungai utama, batas dataran tinggi, dengan kondisi hidrologi independen dari unit lain yang berdekatan dalam satu kawasan dataran rendah (WACLIMAD, 2012). Pendekatan batasan hidrologi yang paling ideal pada wilayah Kabupaten Merauke adalah batas aliran sungai utama dan batas laut. Terdapat beberapa sungai besar di Kabupaten Merauke, seperti Sungai Maro, Sungai Kumbe, Sungai Bian, Sungai Bulaka, Sungai Digul, dan Sungai Fly. Berdasarkan Gambar 2, metode dalam penentuan batas kesatuan hidrologi adalah dengan melihat batas suatu lahan terhadap sungai di sekitarnya, batas laut, dan batas antara lowland dengan upland.

Adapun faktor lain yang cukup dominan dalam menentukan batasan kesatuan hidrologi adalah keberadaan kubah gambut. Belum ada sumber data yang mampu menyajikan keberadaan kubah gambut secara holistik untuk keseluruhan wilayah

di Merauke. Oleh karena itu, pada kegiatan ini pendekatan kubah gambut tidak digunakan. Batas sungai dan laut dapat diperkirakan dengan melihat data alur sungai utama yang bersumber pada Peta Rupa Bumi (RBI) dijital yang dikeluarkan oleh Badan Informasi Spasial dan didukung dengan Peta Batas Daerah Aliran Sungai dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Gambar 3. Peta Kesatuan Hidrologi di Kabupaten Merauke

Batasan antara lowland dengan upland menggunakan pendekatan batas daerah rawa. Batas daerah rawa diperoleh dari Peta Tutupan Lahan 2015-2016 Kabupaten Merauke 2016 yang disusun oleh Balai Litbang Rawa dengan LAPAN. Hasil identifikasi kesatuan hidrologi menunjukkan adanya delapan wilayah kesatuan hidrologi. Ke-delapan wilayah kesatuan hidrologi tersebut diberi nama sesuai dengan lokasi DAS yang bertampalan di antaranya. Adapun nama dan luas kesatuan hidrologi tersebut disajikan pada Gambar 3 dan Tabel 1.

Tabel 1. Nama Kesatuan Hidrologi dan Luasan Areanya

No. Nama Kesatuan Hidrologi Luas (Ha)

1. Sakiramke-Maro 490.127

2. Merauke 16.706

3. Maro-Kumbe 432.095

4. Kumbe-Bian 401.985

5. Bian-Bulaka 520.225

6. Bulaka-Digul 779.365

7. Pulau Kimaam 1.169.260

8. Pulau Komolon 73.618

Luas Kesatuan Hidrologi di Kab. Merauke 3.883.381 Luas Wilayah Kab. Merauke 4.679.163

Kesatuan hidrologi terluas adalah di Pulau Kimaam dengan luasan lebih dari 1 juta ha, sedangkan yang paling kecil luasannya adalah Pulau Komolon dengan luas kurang dari 100 ribu ha. Pada Peta Kesatuan Hidrologi di Merauke, terlihat bahwa wilayah non-kesatuan hidrologi yang ada di Merauke terletak di bagian

timur laut, di mana pada wilayah tersebut memang memiliki kecenderungan elevasi yang semakin meninggi, sesuai dengan karakteristik bentanglahan Pegunungan Jayawijaya yang ada di utara.

Validasi/Groundcheck

Groundcheck atau survei lapangan menitikberatkan pada informasi yang sifatnya masih indikatif atau memiliki perubahan dinamis, dalam konteks penelitian ini adalah informasi gambut dan informasi tutupan lahan. Kedua informasi tersebut berperan sebagai parameter untuk penentuan kriteria pada skema macro-zoning.

Secara spesifik, informasi yang akan disadap dari informasi gambut adalah mengenai luasan, persebaran, dan kedalaman/ketebalannya. Sedangkan untuk tutupan lahan informasi yang dibutuhkan adalah batas daerah rawa (pendekatan kebasahan lahan) dan batas kawasan pantai (pendekatan identifikasi vegetasi, mangrove, bakau, nipah). Citra satelit penginderaan jauh yang menjadi dasar untuk interpretasi gambut dan tutupan lahan adalah citra satelit Landsat 8 yang dikombinasikan dengan data eksisting berupa Peta Indikatif Gambut dari Wetlands dan Peta Geologi. Hasil interpretasi dari kombinasi data tersebut selanjutnya divalidasi dengan survei lapangan (groundcheck).

Overlay Peta

Data spasial yang terkumpul selanjutnya diolah dalam GIS mengikuti skema macrozoning. Teknik yang digunakan adalah teknik clip, erase, dan intersect. Hasil akhir dari macrozoning adalah Peta Zonasi Makro Rawa Kabupaten Merauke, yang disajikan pada bab selanjutnya. Selain peta tersebut, tahap ini juga menghasilkan peta-peta untuk masing-masing kriteria kawasan seperti yang disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4. Peta Kriteria Kawasan Zonasi Makro Rawa di Kabupaten Merauke

Finalisasi Peta

Pada tahap ini, ada dua hal yang menjadi sasaran kerja, yaitu finalisasi substansi peta dan finalisasi format/layout peta. Hasil groundcheck menunjukkan adanya perubahan luas lahan gambut dari data sekunder yang digunakan, sehingga pada hasil akhir diketahui luasan untuk masing-masing kawasan adalah: 1) Kawasan Konservasi dengan luas 1.202.390 ha; 2) Kawasan Pengelolaan Adaptif dengan luas 2.148.658 ha; 3) Kawasan Pengelolaan Pantai dengan luas 238.345 ha; dan 4) Kawasan Pengembangan dengan luas 290.821 ha. Hasil final berupa Peta Zonasi Makro Rawa disajikan pada Gambar 5.

Gambar 5. Peta Zonasi Makro Rawa Kabupaten Merauke Pembahasan

Penyusunan zonasi makro rawa di Kabupaten Merauke menghasilkan empat kawasan, yaitu kawasan konservasi, kawasan pengelolaan adaptif, kawasan pengelolaan pantai, dan kawasan pengembangan. Luas area untuk masing-masing kawasan dapat dilihat pada Tabel 2. berikut.

Tabel 2. Luas dan Persen Luas Wilayah Kriteria Kawasan Zonasi Makro Rawa di Kabupaten Merauke

NO KRITERIA KAWASAN LUAS (Ha) % WILAYAH

1. Kawasan Konservasi 1.202.390 25,70 %

2. Kawasan Pengelolaan Adaptif 2.148.658 45,92 %

3. Kawasan Pengelolaan Pantai 238.345 5,09 %

4. Kawasan Pengembangan 290.821 6,22 %

Luas Kesatuan Hidrologi di Kab. Merauke 3.880.214 82,93 %

Luas Wilayah Kab. Merauke 4.679.163 100,00 %

Berdasarkan luasan tersebut pengembangan ideal dimungkinkan pada 6,22 % dari luas wilayah Kabupaten Merauke. Pengembangan ideal berarti dapat dilakukan budidaya pertanian secara intensif dengan rekayasa infrastruktur menyesuaikan dengan karakteristik mikro/detil wilayah tersebut. Merujuk pada Peta Zonasi Makro Rawa (Gambar 5), terlihat bahwa kawasan pengembangan tersebar secara dominan pada Kesatuan Hidrologi Kota Merauke, Kesatuan Hidrologi Maro-Kumbe bagian selatan dan Kesatuan Hidrologi Bian-Bulaka, atau di sekitar Sungai Bian, Sungai Kumbe, dan Sungai Maro (BIKUMA). Apabila ditinjau dari pembagian wilayah kesatuan hidrologinya, diperoleh distribusi luasan masing-masing kriteria kawasan seperti pada Tabel 3 di bawah ini.

Tabel 3. Luas Kawasan Zonasi Makro Rawa Berdasarkan Kesatuan Hidrologi di Kabupaten Merauke

Kesatuan Hidrologi

Luas Kawasan Bedasarkan Kriteria Zonasi Makro Rawa (ha) Konservasi Pengelolaan

Adaptif

Pengelolaan

Pantai Pengembangan

Sakiramke-Maro 430.031 51.711 7.116 -

Merauke - 249 1.991 14.465

Maro-Kumbe - 323.546 521 108.028

Kumbe-Bian - 345.635 - 56.296

Bian-Bulaka - 401.330 6.757 112.031

Bulaka-Digul 99.720 658.516 20.468 -

Komolon 39.651 29 33.881 -

Kimaam 632.987 367.642 167.612 -

Pada tanggal 9 Mei 2015, Presiden dalam kunjungannya ke Merauke dalam rangka panen raya telah mencanangkan Kabupaten Merauke dalam 3 tahun ke depan untuk menjadi pusat penghasil pangan padi nasional/lumbung pangan nasional dengan cakupan lahan seluas 1,2 juta ha (WWF-Indonesia, 2015). Guna merealisasikan arahan Presiden tersebut, telah dirumuskan suatu kajian Pengembangan Kawasan Food Estate di Merauke oleh Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah.

Berdasarkan kajian tersebut diketahui gambaran luas area yang sudah memiliki jaringan irigasi di Kabupaten Merauke baru sekitar 1.920 ha (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2015).

Hasil analisis zonasi makro rawa ini dapat diangkat sebagai data pendukung spasial yang dapat memberikan informasi di lokasi mana saja kawasan-kawasan yang dapat dikembangkan. Luas kawasan pengembangan 290.821 ha, memang belum mencukupi untuk rencana pemerintah seluas 1,2 juta ha. Namun kekurangan tersebut dapat ditutupi dengan memanfaatkan pengembangan terbatas pada kawasan pengelolaan adaptif yang luasnya mencapai 2,1 juta ha (Tabel 2).

Arahan untuk kawasan lain, seperti kawasan konservasi adalah pengelolaan dan monitoring konservatif, reforestasi, upaya restorasi hidrologi untuk area-area yang mengalami kerusakan sistem tata air, serta exit strategy terhadap aktivitas- aktivitas yang mempengaruhi lingkungan. Sementara untuk kawasan pengelolaan pantai lebih diutamakan strategi pengelolaan untuk perlindungan pantai (coastal

protection), yaitu dengan perlindungan barrier alam seperti ekosistem mangrove, bakau, dan nipah, serta upaya rekayasa infrastruktur fisik seperti instalasi bangunan- bangunan pencegah abrasi pantai.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan

Zonasi makro berguna sebagai data pendukung tahap awal perencanaan, yang memberikan informasi di lokasi mana saja kawasan-kawasan yang dapat dikembangkan sebagai lahan pertanian. Kawasan yang dapat dikembangkan di Kabupaten Merauke adalah 290.821 ha dan kawasan yang dapat dikembangkan secara adaptif adalah 2,1 juta ha.

Rekomendasi

Pada tahap perencanaan selanjutnya, zonasi makro dapat ditingkatkan menjadi studi zonasi meso atau zonasi mikro, sehingga dapat menyajikan informasi yang lebih akurat dan lebih mendalam mengenai karakteristik detil lahan di kawasan pengembangan maupun kawasan pengelolaan adaptif terhadap skenario teknis pengembangan lahan irigasi rawa.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Balai Penelitian dan Pengembangan Rawa Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang telah memberi dukungan terhadap penelitian ini.

REFERENSI

Azdan, D., 2012. WACLIMAD dan Dialog Kebijakan.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua, 2015. Papua Dalam Angka 2015, BPS Provinsi Papua, Jayapura.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Merauke, 2016. Kabupaten Merauke Dalam Angka 2016, BPS Kabupaten Merauke, Merauke.

Kementerian Kehutanan, 2009. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.50/Menhut-II/2009 Tentang Penegasan Status dan Fungsi Ka- wasan Hutan, Republik Indonesia, Jakarta.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2014. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 25 Tahun 2014 tentang Pe- nyelenggaraan Data dan Informasi Geospasial Infrastruktur Bidang Pe- kerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Jakarta.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2015. Executive Sum- mary: Inkubasi Pengembangan Kawasan Food Estate Merauke, Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah, Jakarta.

Kementerian Pertanian, 2014. Kebijakan Pembangunan Pertanian 2015-2019, disajikan pada Workshop Aplikasi e-Proposal 2015 dan e-monev 2014 Indo- nesia Wilayah Barat, 5 Maret 2014, Bandung.

Konsorsium Revisi HCV Toolkit Indonesia, 2008. Panduan Identifikasi Konser- vasi Tinggi di Indonesia, Jakarta.

Pemerintah Republik Indonesia, 2014. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut, Sekretariat Negara Republik Indonesia, Jakarta.

Susanto, R. H., 2010. Pengembangan dan Pengelolaan Daerah Rawa untuk Pem- bangunan Berkelanjutan: Refleksi 25 Tahun Mengabdi untuk Indonesia di Daerah Rawa, Universitas Sriwijaya, Palembang.

WACLIMAD, 2012. Working Paper 1: Lowland Definitions, Government of Indo- nesia, World Bank.

WACLIMAD, 2012. Working Paper 2: Lowland Mapping and Delineation, Gov- ernment of Indonesia, World Bank.

WACLIMAD, 2012. Working Paper 3: Lowland Macro-zoning, Government of Indonesia, World Bank.

WACLIMAD, 2012. Working Paper 4: Lowland Classification, Government of Indonesia, World Bank.

WWF-Indonesia, 2015. 1,2 Juta Ha Lahan Merauke untuk Lumbung Pangan Nasional | WWF Indonesia, Global Environmental Conservation Organiza- tion | WWF Indonesia. http://www.wwf.or.id/?40183/12-Juta-Ha-Lahan-Me- rauke-untuk-Lumbung-Pangan-Nasional [diakses pada tanggal 24 Desember 2016]

TANTANGAN PENGELOLAAN SUNGAI FLY

Dalam dokumen hathi (Halaman 38-48)