BAB III TINJAUAN KASUS
2) Post Redo Evakuasi Tamponade
3.9 Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
2. Gangguan ventilasi spontan berhubungan dengan kelemahan otot pernapasan (Bedah Jantung)dibuktikan dengan penggunaan otot bantu nafas, PCO2 meningkat, takikardi (D0004)
Luaran Utama :
Ventilasi spontan (L.01007)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, pasien mampu bernafas secara adekuat dengan kriteria hasil :
• Volume tidal meningkat
• Tidak ada dyspnea
• PCO2 membaik
• PO2 membaik
• Tidak ada takikardi
Pemantauan respirasi (I.01014) Observasi :
- Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas
- Monitor pola napas dan bunyi nafas - Monitor adanya sumbatan jalan napas - Monitor saturasi oksigen
- Monitor selang ETT, terutama setelah mengubah posisi
- Monitor nilai AGD Terapeutik :
- Atur interval waktu pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien.
- Dokumentasikan hasil pemantauan - Berikan posisi semi fowler/ fowler 3. Gangguan pertukaran gas
berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi perfusi (D.0003).
Luaran Utama :
Pertukaran gas (L.01003)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membrane alveolus-kapiler dalam batas normal dengan kriteria hasil :
• Dispnea menurun
• Bunyi napas tambahan menurun
• Takikardia menurun
• PCO2 membaik
• PO2 membaik
• pH arteri membaik
Pemantauan respirasi (I.01014) Observasi :
Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas
Monitor pola napas dan bunyi nafas
Monitor adanya sumbatan jalan napas
Monitor saturasi oksigen
Monitor sumbatan jalan nafas
Monitor selang ETT, terutama setelah mengubah posisi
Monitor nilai AGD Terapeutik :
sesuai kondisi pasien.
Dokumentasikan hasilpemantauan
Berikan posisi semi fowler/ fowler Edukasi:
Informasikan hasil pemantauan, jika perlu Terapi Oksigen (I.01026)
Observasi
Monitor kecepatan aliran oksigen
Monitor posisi alat terapi oksigen
Monitor aliran oksigen secara periodik dan pastikan fraksi yang diberikan cukup
Monitor efektifitas terapi oksigen (mis.
Oksimetri, Analisa gas darah), jika perlu
Monitor kemampuan melepaskan oksigen saat makan
Monitor tanda-tanda hipoventilasi
Monitor monitor tanda dan gejala toksikasi oksigen dan atelektasis
Monitor tingkat kecemasan akibat terapi oksigen
Monitor integritas mukosa hidung akibat pemasangan oksigen
Terapeutik
Bersihkan sekret pada mulut, hidung, dan trakea, jika perlu
Pertahankan kepatenan jalan napas
Berikan oksigen tambahan, jika perlu
Tetap berikan oksigen saat pasien di transportasi
Gunakan perangkat oksigen yang sesuai dengan tingkat mobilitas pasien
Edukasi
Ajarkan pasien dan keluarga cara menggunakan oksigen dirumah
Kolaborasi
Kolaborasi penentuan dosis oksigen
Kolaborasi penggunaan oksigen saat aktivitas dan/atau tidur
4. Risiko perfusi renal tidak efektif dibuktikan dengan disfungsi renal dan pembedahan jantung (D.0016)
Luaran Utama : Perfusi renal (L.02013)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam, perfusi renal meningkat dengan kriteria hasil :
• Jumlah urine meningkat
• Tekanan arteri rata-rata membaik
• Kadar urea nitrogen darah
• membaik
• Kadar kreatinin plasma membaik
• Tekanan darah sistolik membaik
• Tekanan darah diastolik membaik
• Kadar elektrolit membaik
Manajemen Hemofiltrasi Observasi :
Identifikasi kondisi pasien (mis. tekanan darah, nadi, pernapasan dan suhu tubuh, berat badan, edema, keseimbangan cairan)
Monitor status hemodinamik selama proses hemofiltrasi
Monitor ultrafiltration rate, hemodinamik dan kebocoran
Monitor intake dan output cairan tiap jam Terapeutik :
Ambil sampel darah untuk pemeriksaan fungsi ginjal, dan elektrolit sebelum terapi
Gunakan teknik steril untuk melakukan priming blood line hemofiltrasi, saat menyambungkan
arteri - blood line dan vena pasien
Bebaskan sirkuit hemofiltrasi dari udara
Berikan heparin sesuai protokol
Periksa kepatenan hubungan blood line, arteri maupun vena
Rawat lokasi insersi dan selang sesuai protokol
Hentikan hemofiltrasi jika kondisi menurun Edukasi :
Jelaskan tujuan dan prosedur hemofiltrasi pada pasien dan keluarga.
5. Risiko
ketidakseimbangan cairan dibuktikan dengan prosedur pembedahan mayor dan penyakit ginjal (D.0036).
Luaran Utama :
Keseimbangan cairan (L.03020)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam, keseimbangan cairan meningkat, terdapat kondisi ekuilibrium (seimbang) antara volume cairan di ruang intraselular dan ekstraselular tubuh. dengan kriteria hasil:
q. Asupan cairan meningkat r. Output urin meningkat
s. Membrane mukosa lembab meningkat t. Edema menurun
u. Dehidrasi menurun v. Tekanan darah membaik w. Frekuensi nadi membaik x. Kekuatan nadi membaik
y. Tekanan arteri rata-rata membaik z. Mata cekung membaik
Manajemen Cairan (I.03098) Observasi
Monitor status hidrasi (mis: frekuensi nadi, kekuatan nadi, akral, pengisian kapiler, kelembaban mukosa, turgor kulit, tekanan darah)
Monitor berat badan harian
Monitor berat badan sebelum dan sesudah dialisis
Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (mis:
hematokrit, Na, K, Cl, berat jenis urin, BUN)
Monitor status hemodinamik (mis: MAP, CVP, PAP, PCWP, jika tersedia)
Terapeutik
Catat intake-output dan hitung balans cairan 24 jam
Berikan asupan cairan, sesuai kebutuhan
Berikan cairan intravena, jika perlu Kolaborasi
Kolaborasi pemberian diuretik, jika perlu
aa. Turgor kulit membaik Pemantauan Cairan (I.03121) Observasi
Monitor frekuensi dan kekuatan nadi
Monitor frekuensi napas
Monitor tekanan darah
Monitor berat badan
Monitor waktu pengisian kapiler
Monitor elastisitas atau turgor kulit
Monitor jumlah, warna, dan berat jenis urin
Monitor kadar albumin dan protein total
Monitor hasil pemeriksaan serum (mis: osmolaritas serum, hematokrit, natrium, kalium, dan BUN)
Monitor intake dan output cairan
Identifikasi tanda-tanda hypovolemia (mis:
frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit meningkat, hasil, lemah, konsentrasi urin meningkat, berat badan menurun dalam waktu singkat)
Identifikasi tanda-tanda hypervolemia (mis:
dispnea, edema perifer, edema anasarca, JVP meningkat, CVP meningkat, refleks hepatojugular positif, berat badan menurun dalam waktu singkat)
Identifikasi faktor risiko ketidakseimbagnan cairan (mis: prosedur pembedahan mayor, trauma/perdarahan, luka bakar, apheresis, obstruksi
intestinal, peradangan pancreas, penyakit ginjal dan kelenjar, disfungsi intestinal)
Terapeutik
Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien
Dokumentasikan hasil pemantauan Edukasi
Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
Dokumentasikan hasil pemantauan 6. Risiko ketidakseimbangan
elektrolit dibuktikan dengan efek samping prosedur pembedahan, disfungsi ginjal (D.0037)
Luaran Utama :
Keseimbangan elektrolit (L.03021)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam, keseimbangan elektrolit meningkat dengan kriteria hasil:
• Serum natrium meningkat
• Serum kalium meningkat
• Serum klorida meningkat
• Serum kalsium meningkat
• Serum natrium meningkat
Manajemen Elektrolit (I.03102) Observasi :
Identifkasi tanda dan gejala ketidakseimbangan elektrolit
Identifikasi penyebab ketidakseimbangan elektrolit
Identifikasi kehilangan elektrolit melalui cairan (mis. Diare, drainase luka, diaphoresis)
Monitor kadar elektrolit
Monitor efek samping pemberian suplemen elektrolit
Terapeutik :
Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien
Dokumentasikan hasil pemantauan Kolaborasi :
Kolaborasi pemberian suplemen elektrolit (mis.
Oral, NGT, IV) sesuai indikasi
7. Risiko Perdarahan dibuktikan dengan efek agen farmakologis (D.0012)
Luaran Utama:
Tingkat Perdarahan (L.02017)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 8 jam, maka tingkat perdarahan menurun dengan kriteria hasil:
• Membran mukosa lembap meningkat
• Kelembapan kulit meningkat
• Kadar Hemoglobin membaik
• Hematokrit membaik
• Tekanan darah membaik
• Frekuensi nadi membaik
• Suhu tubuh membaik
Pencegahan Perdarahan (I.02067) Observasi :
Monitor tanda dan gejala perdarahan (warna urin, BAB, cairan lambung, sputum)
Monitor nilai hematokrit/hemoglobin sebelum dan sesudah kehilangan darah
Monitor koagulasi (mis, PT, APTT, fibrinogen) Terapeutik :
Pertahankan bedrest selama perdarahan
Gunakan kasur pencegahan dekubitus
Hindari pengukuran suhu rektal Kolaborasi :
Kolaborasi pemberian obat pengontrol perdarahan, jika perlu.
Kolaborasi pemberian komponen darah, jika perlu.
8. Risiko Infeksi dibuktikan dengan efek prosedur invasif (D.0142)
Luaran Utama :
Tingkat Infeksi (L.14137)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam, infeksi tidak terjadi dengan kriteria hasil:
• Kadar sel darah putih membaik
• Area luka bersih, tidak kemerahan dan bengkak
• Hasil kultur negatif
Pencegahan Infeksi (I.14539) Observasi :
Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik
Terapeutik :
Batasi jumlah pengunjung
Berikan perawatan kulit pada area edema
Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien
Pertahankan teknik aseptik pada pasien beresiko tinggi
Periksa kondisi luka operasi, lakukan perawatan luka sesuai SPO
Dapatkan kultur yang sesuai
Tingkatkan supan nutrisi yang cukup Kolaborasi :
Kolaborasi pemberian antibiotik