B. Perbendaharaan Kasultanan Ngagyogyakarta Masa Hamengkubuwono II
3. Diplomasi dalam Mengembalikan Kedaulatan RI
Di tempat ini, para tokoh kemerdekaan Indonesia menjalankan perannya sebagai pusat perjuangan Republik Indonesia kala itu. Di tempat pesangasingan Soekarno dan Mohammad Hatta serta beberapa tokoh lain yang disaingkan kerap kali dijadikan untuk tempat bermusyawarah menuju kedaulatan Republik Indonesia.
Mohammad Roem di dalam bukunya meceritakan bahwa pada permulaan Januari 1949, para pemipin republik yang ditawan di puncak bukit Menumbing mendapat kunjungan Komisaris van den roon Brouwer, yang berdomisili di Medan, memberitahukan sikap pemerintah Belanda menyatakan bahwa Republik sudah berhenti eksistensinya. Ketika itu Dewan PBB, sebelum hari Natal bersidang di Paris, telah mengambil resolusi berisi perintah agar pemimpin-pemimpin Republik dibebaskan dari tahanan. Saat kesempatan pertama Panitia Jasa-jasa Baik berkunjung ke Menumbing, maka terlihat bahwa para tahanan masih dikurung dalam ruangan terbatas 4 x 6 Meter. Kemudian sikap PBB dalam hal tersebut yakni dengan tetap mengakui Republik Indonesia, hal tersebut membuat sebagian besar perjuangan diplomasi Republik Indonesia beralih ke Bangka. Republik sudah mendapat hak mengeluarkan suara, sekalipun belum ikut belum ikut menentukan sudah mempunyai status mantap yang tidak dapat disangkal oleh siapapun yaitu: “The Republic of Indonesian is a party in the dispute (with the Netherlands)” (Roem, 1989:58-59).
152 Tanggal 5 Februari 1949 terdengar kabar bahwa KTN (Komisi Tiga Negara) datang ke Bangka bersamaan dengan rombongan kedua yang akan diasingkan dari prapat ke Bangka. Dengan Kapal Udara KTN datang Dr. Darma Setiawan, Prof.
Soepomo, Dr. Leimena, Mr. Soejono (selaku delegasi Republik). Kemudian dari BFO datang dengan wakil Anak Agung Gde Agung (perdana Menteri Indonesia Timur), Dr. Ateng (Perdana Menteri Jawa Timur) dan Jahja (Hatta,1982: 558).
Anggota Delegasi Republik (Soepomo, Soedjono dan Darmasetiawan) berangkat ke Bangka menemui M. Hatta untuk membahas Resolusi Dewan Keamanan di Pangkalpinang dan kembali ke Batavia pada hari Kamis sore. Selanjutnya kedatangan para anggota KTN (Komisi Tiga Negara) yang terdiri dari Australia, Belgia dan Amerika, menemui Presiden Soekarno dan wakil presiden Mohammad Hatta. Para anggota yang dating kepesanggrahan Muntok pada saat itu antara lain Merle Cochram, Mr. Koets, Critchhley, Mc. Kahin, Hermans dan Prof. Lyle. KTN ini sendiri dibentuk pada tanggal 25 Agustus 1947 oleh perserikatan bangsa-bangsa (PBB) untuk mengawasi gencatan senjata antara Belanda dan Indonesia. Tiga Negara yang tergabung dalam KTN yang dipilih oleh kedua belah pihak yakni Belgia dipilih oleh Belanda dipimpin oleh Paul Van Zeeland, Australia dipilih oleh Indonesia yang dipimpin oleh Richard Kirby dan Amerika yang dipilih oleh Indonesia dan Belanda dipimpin oleh Dr. Frank Graham (Babelpos.sumeks.co).
Pertemuan dengan utusan KTN (Komisi Tiga Negara) (Sumber: Lembaga Kearsipan Daerah Bangka Barat)
Selain para aggota KTN yang datang ke Muntok, hadir pula utusan BFO (Bijeenkomst Voor Federal Overleg), Badan Permusyawaratan Federal yang dibentuk oleh Belanda untuk menandingi kekuasaan Republik Indonesia. Utusan lain yang datang ke Pnesaggrahan Muntok yakni utusan UNCI (United Nations Commisions for Indonesia).
Hari Senin, mereka melakukan pertemuan dengan pemimpin Republik Indonesia di Mentok dan kembali ke Jakarta pada hari Selasa, 8 Februari 1949.
Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan bahwa Soekarno dan Hatta bersedia menjalin komunikasi dan pertemuan lanjutan untuk saling bertukar pandangan menyelesaian konflik Indonesia-Belanda. Saat kesempatan ini, Hatta menyampaikan surat kepada Ketua BFO, Sultan Hamid yang ditulis pada tanggal 4 Februari sebagai jawaban atas telegraf ketua BFO tanggal 3 Februari 1949. Surat berisi kesimpulan, bahwa Pemerintah Belanda tidak mengakui presiden dan pemimpin Republik lainnya sebagai Pemerintah Republik Indonesia dan menganggap nasibnya tergantung kehendak rakyat. Selain itu pemerintah Belanda tidak mau membebaskan Presiden
153 Sukarno dan para pemimpin Republik lainnya sampai ada kesepakatan antara BFO dan pemerintah Belanda membentuk pemerintahan sementara federal Negara Indonesia Serikat. Kebijakan ini bertentangan dengan Resolusi Dewan Keamanan 28 Januari 1949.
Soekarno dan Mohammad Hatta Besama BFO (Sumber: Lembaga Kearsipan Daerah Bangka Barat)
Perundingan- perundingan perwakilan Belanda, BFO dan Republik Indonesia yang dimediasi oleh DK PBB (Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa), baik GOC (Good Office Committe) atau KTN (Komisi Tiga Negara) dan UNCI (United Nations Commission for Indonesia).
Di sinilah kemudian Bung Karno mengucapkan kalimat bersejarah itu: Restore the Republic. Restore Sukarno as President of the Republic Indonesia and I will
“musyawarah”. Not before…. (Pulihkan Republik. Pulihkan Sukarno sebagai presiden Republik Indonesia dan saya akan bermusyawarah. Tidak sebelumnya….) (Sujitno, 1996:181). Beberapa perundingan kemudian selanjutnya dipindahkan ke Kota Pangkalpinang (ada yang lokasinya di gedung yang sekarang dijadikan Museum Timah Indonesia Pangkalpinang, dan di Rumah Residen).
Mohammad Roem yang telah di beri kuasa penuh oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta dalam mewakili Indonesia untuk menyatakan kesanggupan sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan tanggal 28 januari 1949 dan petunjuk-petunjuknya tanggal 23 Maret 1949. Kemudian setelah berhasilnya perjanjian Roem Royen ini maka di Pesanggrahan Muntok menjadi tempat dimana diserahterimanya Surat Kuasa Kembalinya Pemerintah RI ke Yogyakarta dari Ir.
Soekarno kepada Sri Sultan Hamungkubuono IX pada bulan Juni 1949. Surat Kuasa tersebut dikonsep oleh Mohammad Hatta di Pesanggrahan Menumbing dan diketik oleh Abdul Gaffar Pringgodigdo. Penyerahan surat kuasa ini disaksikan oleh Mohammad Hatta, Mr. Roem dan Ali Satroamidjojo.
Selanjutnya sebagai pelaksanaan butir pertama dari isi perjanjian Roem-Royen yang menyetujui kembalinya Pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta maka pada tanggal 6 Juli 1949, Presiden Soekarno dan rombongan kembali ke Kota Yogyakarta dari pulau Bangka. Sebelum berangkat rombongan berpamitan dengan masyarakat Pangkalpinang dan masyarakat Bangka umumnya, bertempat di Balai (sekarang berseberangan dengan Masjid Al Muhajirin Jalan Balai, kini Jalan KH.
Hasan Basri Sulaiman) Pangkalpinang. Pada saat itulah Bung Karno mengatakan satu sloka yang menggugah semangat kebangsaan bahwa “Dari Pangkalpinang Pangkal Kemenangan Bagi Perjuangan”.
154 Hari terakhir di Pulau Bangka, Rabu tanggal 6 Juli 1949, kesibukan kelihatan di kota Pangkalpinang. Orang berdatangan ke Lapangan udara Kampung Dul, baik masyarakat Bangka, pejabat Belanda maupun pejabat Bangka. Pesawat datang dari Jakarta membawa Delegasi Republik Maria Ulfah Santoso, Dr. Darmasetiawan, Prof.
Supomo dan Mr. Sudjono, sekretaris delegasi RI telah tiba di Lapangan udara Kampung Dul. Para pemimpin Republik Indonesia yang ada di Bangka, yakni Soekarno, Muhammad Hatta, Haji Agus Salim, Muhammad Rum, Ali Sastroamijoyo, Mr. Assaat, Mr. AG. Pringgodigdo dan Komodor Suryadarma akhirnya meninggalkan pulau Bangka setelah 197 hari berada di tengah-tengah masyarakat Bangka yang sangat cinta Indonesia.
D. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian di pembahasan dapat disimpulkan bahwa, aktivitas politik yang dilakukan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta pada saat pengasingannya di Kota Muntok Kabupaten Bangka Barat tahun 1948-1949 adalah sebagai berikut:
1. Membangkitkan Semangat nasionalisme masyarakat Muntok
a. Mendekatkan diri dengan masyarakat Muntok dan hal tersebut dilakukan oleh Soekarno dengan mendatangi tempat keramaian masyarakat Muntok dan merayakan ulang tahun Soekarno bersama anak-anak Muntok
b. Berpidato dan ceramah yang membakar semangat nasionalisme warga Muntok seperti pada saat Soekarno datang di acara pernikahan Jusuf Rasidi.
c. Melakukan piknik bersama PORI (Perkumpulan Olahraga Republik Indonesia).
d. Mengadakan kursus politik dan ekonomi yang dilakukan oleh Mohammad Hatta, 2. Merumuskan perjanjian Roem Royen
Hal yang dilakukan dalam merumuskan perjanjian Roem Royen saat pengasingan di Kota Muntok yakni Soekarno dan Mohammad Hatta serta pemimpin republik lainnya melakukan perundingan, perencanaan dan persiapan menjelang perjanjian Roem-Royen dilaksanakan serta menentukan strategi-strategi yang harus dilakukan pada saat perjanjian tersebut dilaksanakan. Sehingga Soekarno dan Mohammad Hatta setuju dalam pelaksaannya Mohammad Roem menjadi ketua delegasi Indonesia dan Ali Sastroamidjojo sebagai wakil delegasi Indonesia.
3. Diplomasi dalam mengembalikan Kedaulatan Negara Republik Indonesia Diplomasi tersebut dilakukan dengan berbagai pihak seperti dengan utusan PBB (UNCI), BFO, dan KTN. Diplomasi tersbut dilakukan untuk membantu memulihkan kedaulatan Republik Indonesia.
155 DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Adams, Cindy. 2007. Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Yogyakarta:
Yayasan Bung Karno, PT Media Pressindo.
Ahmadi, Abu. 2006. Metodologi Penelitian, Jakarta: PT Bumi Aksara.
Erfan, Muhammad. 2020. Mengingat Sejarah Pesanggrahan Bung Karno dan Muntok.
Muntok: Dinas Komunikasi dan Informatika Daerah Bangka Barat.
Kartodirdjo, Sartono. 1982. Pemikiran Dan Perkembangan Historiografi Indonesia: Suatu Alternatif. Jakarta: Gramedia.
Muhammad TWH, Drs.H. 2011. Peristiwa Sejarah di Sumatera Utara. Yayasan Pelestarian Fakta Perjuangan Kemerdekaan RI.
Notosusanto, Nugroho. 1984. Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer. Jakarta: Inti Idayu Press.
Poesponegoro, Marwati Djoened., dan Nugroho Notosusanto. 2010. Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI. Jakarta: Balai Pustaka.
Roem, Mohammad. 1989. Diplomasi: Ujung Tombak Perjuagan RI. Jakarta: PT. Gramedia.
Seno, Dkk. 2012. Bunga Rampai Sejarah Bengkulu: Bengkulu Dari Masa Kolonial Hingga Otonomi Daerah. Jakarta: BPSNT Padang Press.
Sugiono. 2007. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta
Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Suseno, Bambang Haryo, Dkk. 2020. Kapita Selekta Penulisan Sejarah Lokal. Muntok: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
Swastiwi, A. T., Sesangka A.N., & Hendri P. 2017. Lintas Sejarah Perdagangan Timah Di Bangka Belitung Abad 19-20. Tanjungpinang: Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau.
Wasino, Hartatik. SE. 2018. Metode Penelitian Sejarah: dari Riset hingga Penulisan.
Yogyakarta : Magnum Pustaka Utama.
Wulandari, Taat. 2014. Upaya Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia.
Yogyakarta: Universitas Yogyakarta.
Zed, Mestika. 2004. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Jurnal Ilmiah:
Farid, Hilmar. 2013. Pengasingan dalam Politik Kolonial. Jurnal Prisma. 3 (2): 104-111.
Kuswandi, H. 2015. Pengaruh Perang Kemerdekaan II Terhadap Pengakuan Kedaulatan Ri Tanggal 27 December 1949. Jurnal Artefak. 3 (2): 207-220.
Artikel dalam koran:
156 Akhmad Elvian, 2021. Pertemuan dan Perundingan di Pangkal Pinang. Babel. Diakses di https://babelpos.sumeks.co/2021/12/28/pertemuan-dan-perundingan-di-Pangkalpinang/
Pada tanggal 19 Januari 2022.
Bambang Haryo Suseno, S.H., M.Ec.Dev. 2021. Mengenang 7 Mei 1949; Statemet Roem Royen. Diakses di https://kutementok.com/lintas-sejarah/mengenang-7-mei-1949- statement-roem-royen . Diakses pada 19 Desember 2021
Bambang Haryo Suseno, S.H., M.Ec.Dev. 2021. Pernikahan Jusuf Rasidi dan Soleha Said:
Jejak Kedekatan Presiden Soekarno dengan Masyarakat Bangka. Diakes di https://kutementok.com/artikel/pernikahan-jusuf-rasidi-dan-soleha-said-jejak-
kedekatan-presiden-soekrano-dengan-masyarakat-bangka. Diakses Pada 19 Desember 2021.
Dokumen resmi/Arsip:
Naskah Sumber Arsip (Pesanggrahan Menumbinng Aset Kajian Pustaka). Muntok: Dinas Kearsipan dan Pepustakaan Daerah Bangka Barat.
Naskah Sumber Arsip (Pesanggrahan Muntok Aset Sejarah Kota Pustaka). Muntok: Dinas Kearsipan dan Pepustakaan Daerah Bangka Barat.
157 MIND MAPPING SEBAGAI INOVATIVE LEARNING BERBASIS
MICROSOFT PAINT DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM ERA PANDEMI COVID-19
Monica Septiani1), Sonia Ayuning Pangesty2), Ahmad Fariz Agus Maulana3), Yusuf Perdana4).
Univesitas Lampung, Kota Bandar Lampung, Lampung, Indonesia.
email: [email protected]
Abstract: Microsoft paint is an application program intended for drawing/painting. The purpose of writing this scientific paper is to investigate the role or influence of Microsoft Paint in supporting the process of creating collaborative mind mapping teaching media in learning the history of Islamic culture in the era of the covid-19 pandemic. This writing is literature writing. Sources of data are taken from national and international journals, Indonesian and foreign textbooks. The results of this paper indicate that Microsoft Paint can be used in creating collaborative teaching media in mind mapping because it has complete features and can create beautiful and detailed images. With the implementation of the mind mapping method based on Microsoft Paint in the pandemic era in learning the history of Islamic culture, it is very influential and well developed for students, where with only digital images from Microsoft Paint, the mind mapping method can foster the imagination of students to increase their knowledge of cultural history. Islam in the era of the covid-19 pandemic.
Keywords : Microsoft Paint, Mind Mapping,,History of Islam.
Abstrak: Microsoft paint adalah program aplikasi yang diperuntukan untuk menggambar/melukis.
Tujuan dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk menyelidiki bagaimanakah peran atau pengaruh Microsoft Paint dalam mendukung proses menciptakan kolaborasi media pengajaran mind mapping dalam pembelajaran sejarah kebudayaan islam di era pandemi covid-19. Penulisan ini merupakan penulisan kepustakaan. Sumber data diambil dari jurnal nasional dan internasional, buku teks Indonesia dan asing. Hasil dari penulisan ini menunjukkan bahwa Microsoft Paint dapat digunakan dalam menciptakan kolaborasi media pengajaran dalam mind mapping karena memiliki fitur lengkap dan dapat membuat gambar yang bagus dan terperinci. Dengan diterapkannya metode mind mapping berbasis microsoft paint di era pandemi dalam pembelajaran sejarah kebudayaan islam ini sangat berpengaruh dan berkembang dengan baik bagi peserta didik yang dimana dengan hanya bermodal gambar digital dari microsoft paint, metode mind mapping dapat menumbuhkan imajinasi peserta didik bertambah akan pelajaran sejarah kebudayaan islam di era pandemi covid-19.
Kata Kunci : Microsoft Paint, Mind Mapping, Sejarah Kebudayaan Islam.
A. Pendahuluan
Pandemi Covid-19 berdampak besar pada berbagai sektor, salah satunya pendidikan.
Dunia pendidikan juga ikut merasakan dampaknya. Pendidik harus memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, meskipun peserta didik berada di rumah. Solusinya, pendidik dituntut mendesain media pembelajaran sebagai inovasi dengan memanfaatkan media daring (online). Kondisi pandemi Covid-19 ini mengakibatkan perubahan yang luar biasa, termasuk dalam bidang pendidikan. Seolah seluruh jenjang pendidikan 'dipaksa' bertransformasi untuk beradaptasi secara tiba-tiba drastis untuk melakukan pembelajaran dari rumah melalui media daring (online). Ini tentu bukanlah hal yang mudah, karena belum sepenuhnya siap.
Problematika dunia pendidikan yaitu belum seragamnya proses pembelajaran, baik standar maupun kualitas capaian pembelajaran yang diinginkan.
158 Hal ini tentu dirasa berat oleh pendidik dan peserta didik. Terutama bagi pendidik, dituntut kreatif dalam penyampaian materi melalui media pembelajaran daring. Ini perlu disesuaikan juga dengan jenjang pendidikan dalam kebutuhannya. Dampaknya akan menimbulkan tekanan fisikmaupun psikis (mental). Pola pikir yang positif dapat membantu menerapkan media pembelajaran daring, sehingga menghasilkan capaian pembelajaran yang tetap berkualitas. Belajar di rumah dengan menggunakan media daring mengharapkan orangtua sebagai role model dalam pendampingan belajar anak, dihadapi perubahan sikap.
Masa pandemi Covid-19 ini bisa dikatakan sebagai sebuah peluang dalam dunia pendidikan, baik pemanfaatan teknologi seiring dengan industri 4.0 (Atsani, 2020 : 82).
Media salah satu penunjang dalam proses pembelajaran. Berhasil atau tidaknya proses pembelajaran sangat ditentukan oleh media yang digunakan. Pembelajaran online adalah sistem belajar yang terbuka dan tersebar dengan menggunakan perangkat pedagogi, yang dimungkinkan melalui internet dan teknologi berbasis jaringan untuk memfasilitasi pembentukan proses belajar dan pengetahuan melalui aksi dan interaksi yang berarti (Arsyad, 2005 : 45). Salah satunya yaitu penerapan microsoft paint, program aplikasi ini digunakan untuk menggambar/melukis. Fungsi microsoft paint digunakan untuk komunikasi dan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menggambar digital yang dimana dapat membantu dalam pembuatan mind mapping pada pelajaran sejarah kebudayaan Islam (Desti dan Prasetyo, 2019 : 200-208).
B. Metode Penelitian
Data dan informasi yang mendukung penulisan dikumpulkan dengan melakukan penelusuran pustaka, pencarian sumber-sumber yang relevan dan pencarian data melalui internet. Data dan informasi yang digunakan yaitu data dari jurnal, skripsi, media elektronik, dan beberapa pustaka yang relevan. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu dengan teknik kepustakaan. Menurut Hadari Nawawi, teknik kepustakaan dapat diartikan sebagai sumber data dari perpustakaan yang dapat diperoleh melalui buku-buku literatur yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti oleh peneliti (Nawawi, 1993 : 133).
Studi kepustakaan ini adalah langkah yang sangat penting dimana penulis melakukan kajian dengan teori yang berkaitan dengan topik yang diteliti. Berdasarkan pendapat diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa teknik kepustakaan yaitu suatu rangkaian cara yang digunakan untuk mendapatkan informasi dengan cara mengumpulkan sumber yang diperoleh dari perpustakaan. Adapun buku-buku/ jurnal tersebut didapatkan dari internet yang memiliki korelasi dengan topik penulisan yang diangkat pada karya tulis ilmiah ini.
Teknik pengolahan data adalah suatu cara dimana data yang sudah diperoleh akan diolah lebih lanjut baik di analisis atau dijelaskan lagi agar dapat menjadikan sebuah data yang utuh yang akan lebih dapat mudah di fahami. Analisis data yang digunakan pada penulisan ini adalah teknik analisis data kualitatif. Data kualitatif didapatkan dari pengamatan penulis kepada guru serta peserta didik. Ada beberapa tahapan dalam menganalisis sebuah data yang pertama dengan mengkaji ulang seluruh data yan diperoleh dari berbagai sumber buku, jurnal atauoun literatur yang didapatkan, kemudian setelah itu dibuatlah sebuah rangkungan dengan tujuan agar lebih memudahkan bagi penulis untuk mengembangkan informasi yang telah didapatkannya. Lalu penulis membuat resume kemudian data-data tersebut disusun menjadi
159 satu bagian yang utuh sehingga lebih sistematis dan memudahkan bagi penulis. Dan yang terakhir yaitu adanya pemeriksaan kembali terhadap data-data tersebut.
C. Hasil dan Pembahasan
1. Penerapan Metode Mind Mapping dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam