• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jejak Lada dan Warisan Budaya

B. Hasil dan Pembahasan

7. Jejak Lada dan Warisan Budaya

Kejayaan lada Banten di masa lampau sebetulnya masih bisa ditemukan melalu jejak arkeologis dan warisan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sonny Wibisono bersama pusat arkeologi nasional, dapat diketahui bahwa Gunung Pulosari di Desa Pandat, Mandalawangi, merupakan lokasi penting penghasil lada tertua di Banten. Pada ketinggian 650 meter di atas laut, pohon-pohon lada yang ada di Gunung Pulosari diperkirakan telah ada sejak ratusan tahun lalu. Beberapa pohon yang ditemukan di sekitar Gunung Pulosari memiliki diameter batang lebih dari 2 sentimeter dan tumbuh liar merambati pepohonan. Sejumlah petani menduga tanaman lada itu telah berumur puluhan atau bahkan lebih dari seratus tahun. Menurut Somad, salah satu petani lada di Pulosari, cerita turun-temurun yang ia peroleh dari kakek dan neneknya dapat diketahui bahwa tanaman lada di desanya sudah ada sejak beberapa keturunan sebelumnya (Kurniawan

& Kurniawan, 2017). Pohon-pohon lada tua yang ada di Gunung Pulosari masih menghasilkan “anakan” yang bisa menjadi bibit lada baru. Bibit lada tersebut dimanfaatkan oleh penduduk desa untuk mengembangkan perkebunan lada yang mampu panen dua kali dalam setahun (Kompas TV, 2017). Menurut keterangan Sonny Wibisono, pada masa panen lada, pedagang-pedagang Cina di masa lampau datang hingga ke pedalaman Banten untuk mendapatkan lada dengan harga yang lebih murah (BPCB Banten, 2020).

Secara geografis, lokasi Gunung Pulosari berjarak kurang lebih 48 km dari Teluk Lada.

Keberadaan lokasi Teluk Lada dapat dikatakan relatif tidak terlalu jauh dengan Gunung Pulosari sebagai lokasi pohon-pohon lada tua. Hal ini dapat memunculkan asumsi lain, bahwa toponimi Teluk Lada terkait dengan jejak historis lada di kawasan tersebut. Sonny Wibisono menduga nama Teluk Lada tak lepas dari posisi Banten sebagai daerah penghasil lada di masa lampau. Nama “Teluk Lada” dapat diidentifikasi berdasarkan peta Banten tahun 1777 yang mencantumkan lokasi dengan nama “Pepper Bay” (BPCB Banten, 2020). Dengan kata lain, secara historis Teluk Lada menunjukkan salah satu bukti eksisnya perdagangan lada.

93 Meskipun belum ditemukan bukti arkeologis terkait Teluk Lada, namun pendapat ini cukup masuk akal, pasalnya toponimi Teluk Lada memiliki kemiripan dengan toponimi daerah Labuan. Penamaan daerah Labuan (Pandeglang, Banten) agaknya erat pula dengan sebutan

“pelabuhan” sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal pengangkut komoditas perdagangan.

Masih merujuk pada temuan Sonny Wibisono, ia menyebutkan bahwa dalam naskah-naskah abad ke-18, ditemukan daftar 180 kampung di Banten yang dapat diduga sebagai penghasil tanamana lada, beberapa di antaranya desa-desa di pedalaman/pegunungan seperti Tjiomas, Tjisaat, Goea, Waroe, dan Pakoe Ajie (BPCB, 2020).

Ditemukannya pohon-pohon lada tua di Gunung Pulosari menjadi salah satu jejak yang menunjukkan bahwa Banten menjadi salah satu bandar penting lada dalam perdagangan global di masa lampau sebagaimana dikemukakan oleh para peneliti seperti Reid (1999), Guillot (2008), Ota (2015), dan Roelofsz (2016). Selain Gunung Pulosari, situs Banten Girang yang lokasinya lebih ke pedalaman dapat pula menjadi salah satu bukti arkeologis, bagaimana Banten pra-Islam sebetulnya telah eksis memperjualbelikan komoditas lada (BPCB Banten, 2020). Sebagaimana dijelaskan oleh Guillot (2008), bahwa pada masa menjelang peralihan dari Banten pra-Islam (Kerajaan Sunda-Banten) menjadi Kesultanan Banten (Islam) sekitar abad ke-16, raja di Banten Girang sempat melakukan kesepakatan dengan Portugis untuk membantu Kerajaan Banten dari ancaman Demak. Raja Banten saat itu, Pucuk Umun, meminta bantuan Portugis di Malaka dan dalam kesepakatannya disebutkan bahwa Raja akan memberikan 1000 bahan lada untuk Portugis (Guillot, 2018).

Argumen yang dikemukakan Guillot (2018) sebagaimana ia merujuk pada sumber Sadjarah Banten dan sumber-sumber Portugis, membuktikan bahwa lada sudah menjadi komoditas penting di Banten sejak masa sebelum Kesultanan Banten berdiri.

Jejak arkeologis lainnya yang menunjukkan eksistensi komoditi lada Banten di masa lampau dapat dilihat dari temuan keramik-keramik dengan corak khas Cina, Jepang, Vietnam, dan Thailand di sekitar Banten Girang. Keramik-keramik tertua dari temuan tersebut diindikasikan berasal dari abad ke-9 hingga ke-13, jauh sebelum Banten menjadi kesultanan (Islam). Merujuk pada temuan Naniek Hartaningsih, Banten Pra-Islam, khususnya di situs Banten Girang, telah menjalin kontak dengan bangsa lain (Guillot et.al, 1996/1997). Bangsa- bangsa asing tersebut datang ke Banten dengan tujuan memperoleh rempah, salah satunya adalah lada.

Pada tahun 1526, tepatnya ketika Maulana Hasanudin berkuasa, pusat perdagangan Banten berlokasi di pesisir pantai yang saat ini dikenal sebagai kawasan Banten Lama (sekitar Pantai Karangantu) (Guillot, 2008). Pesisir pantai di sekitar Banten lama di masa lampau menjadi tempat transitnya kapal-kapal pedagang dari Eropa, Cina, dan Arab. Para pedagang membongkar buat barang-barangnya di sekitar Banten lama. Salah satu lokasi yang dapat diindikasikan sebagai tempat bongkar muat komoditas lada pada abad ke-15 sampai ke- 18 dapat ditemukan di Kampung Pamarican. Toponimi “Pamarican” agaknya dapat diasosiakan dengan keberadaan komoditas lada. Kampung Pamarican di masa lampau boleh jadi merupakan tempat penyimpanan (gudang) lada. Seperti halnya Kampung Pamarican, di sekitar Banten lama juga dapat ditemukan Kampung yang bernama Pabean. Toponimi

“Pabean” erat kaitannya dengan bea cukai atau tempat memungut pajak. Di Kampung Pabean hingga saat ini masih dapat ditemukan bukti arkeologis berupa jembatan yang dapat diindikasikan sebagai tempat masuknya kapal dan dikenakannya pajak bagi kapal-kapal

93 dagang yang masuk ke Banten. Kampung Pamarican dan Kampung Pabean menunjukkan bahwa wilayah tersebut dahulunya memiliki peran dalam perdagangan lada.

Merujuk pada penelusuran yang dilakukan oleh Helmi Faizi bersama komunitas Bantenologi, dapat diketahui klaster toponimi atau wilayah yang identik dengan jejak lada dan komunitas masyarakat yang heterogen, khususnya merentang sepanjang pesisir utara Banten. Komunitas tersebut meliputi orang-orang Cina, Keling, Parsi, Arab, Melayu, Bali, Jawa, dan Bugis. Dari komunitas tersebut kemudian muncul pemukiman berdasarkan etnis seperti Kampung Bugis, Pekojan, Kebalen, Dermanyon, Pabean, Pacinan. Terdapat pula beberapa nama daerah yang berkaitan dengan lada. Selain Pamarican, terdapat pula daerah dengan nama Kampung Pedes, Panimbang, Teluk Lada (BPNB Jawa Barat, 2020). Nama Kampung Pedes ditemukan di daerah Saketi, Patia, dan Panimbang. Bagi orang Pandeglang, pedes adalah sebutan lain untuk lada/merica. Adapun nama Panimbang terkait dengan lada yang menurut cerita tutur masyarakat berhubungan dengan pedagang Portugis. Dalam transaksi jual beli para pedagang Portugis terlebih dahulu menimbang lada untuk menentukan harganya.

Selain dari toponimi, jejak lada dapat ditelusuri pula dari pengetahuan lokal masyarakat di Banten. Menurut Helmi Faizi, lada masih digunakan dalam pengobatan tradisional.

Misalnya di Kampung Panimbang, orang-orang Panimbang biasa menggunakan lada untuk mengobati pusar bayi yang baru terlepas dari tali ari-arinya. Caranya dengan memasukan lada utuh ke dalam pusar. Tujuannya supaya luka pusar bayi cepat mengering. Pengetahuan tentang lada pun dapat ditelusuri dari cara masyarakat menanam dan membudidayakan tanaman lada. Misalnya dalam penanaman lada, masyarakat di Serang memiliki tiga teknik:

(1) Solor yaitu mengambil lada dari rambatan pohonnya yang ada di bawah kemudian langsung di tanam; (2) Petet yaitu mengambil lada dari rambatan pohonnya yang ada di bagian bawah, namun sudah timbul akar; (3) sarang gantung yaitu dengan cara stek dari pucuk termudanya. Teknik serupa dipraktikan juga oleh petani lada di Pulosari sebagai salah satu wilayah penghasil lada tua (BPNB Jawa Barat, 2020).

Jejak lada Banten sebetulnya dapat pula ditelusuri dari memori kolektif yang mengendap di tengah masyarakat. Misalnya memori kolektif tersebut terdapat dalam cerita rakyat yang menyebutkan lada. Salah satu cerita yang sedikitnya dapat menggambarkan eksistensi keberadaan lada di masa lampau adalah dongeng/legenda Batu Kuwung. Tokoh utama yang diceritakan dalam cerita rakyat tersebut adalah seorang pedagang yang memiliki hubungan kerabat dengan Sultan Haji (1683-1687). Pedagang tersebut diceritakan sebagai seorang yang memiliki kuasa dan hak monopoli terhadap perdangan beras dan lada. Pada cerita Batu Kuwung tersebut, dikisahkan bahwa si Pedagang merupakan sosok yang kikir.

Oleh karena kekikirannya itu, si Pedagang mendapat semacam kutukan, dan kutukan tersebut baru bisa sembuh apabila ia bertapa dan meminum air yang muncul dari Batu Kuwung.

Tokoh utama yang diceritakan dalam cerita rakyat tersebut dapat diidentifikasi sebagai ponggawa, yaitu jabatan/kedudukan elit lokal yang ditunjuk oleh Sultan untuk menjadi pengepul lada dari para petani. Keberadaan jabatan ponggawa memang dapat dibuktikan secara historis sebagaimana dijelaskan oleh Ota (2015).

Jejak-jejak sejarah Banten yang berkaitan dengan komoditas lada agaknya dapat ditelusuri juga dari khazanah boga khas Banten. Merujuk pada catatan perjalanan yang dilakukan oleh John Splinter Stovarinus (1798), dapat diketahui bahwa Kesultanan Banten memiliki kekayaan jenis hidangan yang menurut Stovarinus “bercitarasa India yang diolah

93 secara beragam. Bahan utama sebagian besar dari mereka adalah ikan dan unggas, bervariasi dengan banyak kuah [...]”. Ia juga menjelaskan bahwa hidangan tersebut menggunakan bahan gula, cuka, dan asam. Citarasa India yang diungkapkan Stovarinus agaknya dapat diasosiasikan sebagai hidangan yang banyak menggunakan rempah. Beberapa jenis masakan yang memiliki ciri yang dikemukakan oleh Stovarinus di antaranya adalah gerem asem.

Bahan utama gerem asem terdiri dari daging (kambing, kerbau, bebek, sapi) dengan bumbu dari asem jawa, lada, garam, cabai, laos, salam. Gerem asem tersebar di dari daerah Utara yang identic sebagai wilayah Kesultanan Banten. Persebaran kuliner ini meliputi daerah Pontang, Tanara, Tirtayasa, Keramat Watu, sampai ke daerah Timur meliputi Cikande dan Jawilan (Ahyadi, wawancara, 16 Maret 2021; Kusnandar, wawancara, 16 Maret 2021,)

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Diana Tustiantina (2017), ciri khas kuliner yang berasal dari Serang Banten setidaknya dipengaruhi oleh empat faktor: (1) faktor tradisi, (2) pengaruh Kesultanan Banten, (3) pengaruh dari luar seperti Cina, Arab, dan Eropa, (4) ketersediaan bahan baku di Banten. Pengaruh akulturasi budaya di masa lampau melalui hubungan dagang antar bangsa di Banten dapat ditelusuri melalui warisan kulinernya, seperti rabeg.

Rabeg menggunakan bahan utama berupa daging (kambing, kerbau, sapi) dengan bumbu yang memadukan aneka rempah seperti lada, jahe, laos, cabai, ketumbar, asem jawa, pala, kapolaga, kemiri, serai. Daerah persebaran Rabeg di antaranya terdapat di daerah Kaujon, Kaloran, Gantungan, Sukalila (Banten Utara). Daerah-daerah tersebut dapat dikatakan merupakan wilayah tempat tinggalnya ningrat-ningrat Banten, di antaranya ditandai dengan nama yang bergelar tubagus, mas, dan ayip. Para ningrat di daerah tersebut kemungkinan yang mewarisi kuliner khas kesultanan (Faizi, wawancara 6 November 2020).

Rabeg sampai saat ini masih bisa ditemukan di perkotaan maupun perkampungan, seringkali dihidangkan pada hari-hari besar agama Islam seperti ldul Fitri dan Idul Adha. Dikenal luasnya rabeg oleh masyarakat Banten Utara, hingga muncul istilah ngerabeg yang lazimnya diasosiasikan dengan makan bersama di acara hajatan dengan hidangan rabeg (Ahyadi, wawancara, 7 November 2020).

Penggunaan bahan utama berupa daging kambing mengindikasikan kuatnya pengaruh Arab. Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, rabeg bermula dari kisah Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570) yang menunaikan ibadah haji ke Mekah. Ketika ia singgah di Pelabuhan Rabigh (sekitar Laut Merah), sang sultan mencicipi makanan dengan bahan daging kambing. Sepulang ke Banten, ia kemudian meminta juru masaknya untuk membuat makanan yang serupa (Johari, 2019).

Jejak rempah, khususnya lada dalam kuliner Banten dapat diidentifikasi dari keberadaaan panganan dendeng di Kota Serang. Dendeng yang berada di Serang, Banten, dibuat dengan menggunakan bahan daging (sapi, kerbau) dengan bumbu terdiri dari lada, garam, asem jawa, dan gula merah. Pengolahannya sederhana; daging yang telah diberi bumbu kemudian dikeringkan dengan cara dijemur. Menurut keterangan Yadi Ahyadi, filolog dari Bantenologi, dendeng memiliki nilai unik karena panganan ini tahan lama dan cocok dijadikan bekal dalam perjalanan, apalagi di masa lampau di mana perjalanan laut dan darat bisa memakan waktu yang sangat lama (Ahyadi, wawancara, 5 November 2020). Masih menurut Yadi, istilah daging kerbau kering, yang dapat diidentifikasi sebagai dendeng, sering disebutkan dalam naskah-naskah kuno tentang Banten. Adapun menurut keterangan Fadly

93 Rahman, penulis buku Jejak Rasa Nusantara, dendeng atau daging yang dikeringkan sebetulnya merupakan panganan yang lazimnya dapat ditemukan di berbagai belahan dunia, termasuk di Nusantara (Rahman, wawancara, 27 Oktober 2020). Daging kering sangat praktis dan bekal yang selalu dibawa oleh para pelancong. Meski dapat dikatakan bukan kuliner khas Banten, keberadaan panganan dendeng kontekstual dengan posisi pelabuhan Banten di masa lampau yang serupa pasar internasional, berbagai pedagang dan penjelajah berbagai bangsa singgah dan bertemu. Dendeng dapat menjadi jejak budaya material yang kuat terkait eksistensi pelabuhan Banten beserta lada yang menjadi komoditi unggulan di abad ke-15 hingga 18. Argumen ini sejalan dengan pendapat Braudel (1981) dan Shaffer (2013) yang menyatakan bahwa lada di Eropa pada abad ke-17 penting dalam pengolahan daging agar terhindar dari bau busuk.

C. Kesimpulan

Lada telah menjadi konsumsi dan diperdagangkan di berbagai belahan dunia, bahkan sejak abad ke-5, menyebar dari India ke Asia Tenggara, Cina, Mesir, hingga Eropa. Dalam konteks budaya, lada bukan sekadar rempah yang dikonsumsi dalam makanan, tetapi memiliki nilai lain: alat diplomasi, alat tukar, alat pembayaran upeti, menegaskan status sosial, merepresentasikan eksotisme timur, dipercaya sebagai obat penyembuh wabah, dan yang paling penting, lada menjadi medium pertukaran budaya lintas bangsa serta benua. Lada menjadi produk yang turut menghidupkan pusat-pusat perdagangan dunia, menjadi wilayah yang kosmopolit: dari Malabar, Venesia, Konstantinopel, hingga Banten. Pada titik itulah lada Banten penting dilihat dalam perspektif global, regional, dan lokal.

Dalam perspektif global, lada Banten menjadi daya tarik yang mengundang datangnya para pedagang dari berbagai bangsa (Arab, Cina, Portugis, Inggris, Jerman, Belanda).

Kondisi ini menciptakan ekosistem kapitalis: petani lada, pedagang perantara, pedagang besar, modal, alat produksi, dan profit yang diperoleh pedagang dan kesultanan. Sebagaimana sifat alaminya, kapitalisme ini melahirkan persaingan, yang dalam konteks Banten abad ke- 15 hingga 18, berujung pada konflik dan kekerasan. Persaingan tersebut dimenangkan VOC yang berujung pada tertentuknya imprealisme; penguasaan wilayah dan kedaulatan Banten.

Terbukanya Banten terhadap berbagai bangsa juga melahirkan lingkungan budaya yang kosmopolit di mana terjadi interaksi dan pertukaran budaya. Pertukaran budaya ini yang kemudian melahirkan jejak budaya material dalam khazanah budaya (yang nampak maupun tak nampak).

Dalam perspektif regional, lada menjadi medium yang mempertemukan Banten dengan Lampung. Lada yang dipasok di pelabuhan Banten merupakan lada yang diangkut dari pedalaman Lampung semisal Tulang Bawang, Seputih, Sekampung, dan Semangka.

Hubungan Banten-Lampung dalam memasok lada ini menghasilkan elit sosial yang disebut ponggawa. Mereka menjadi otoritas yang ditunjuk Banten untuk bertanggung jawab dalam memasok lada kepada kesultanan.

Dalam perspektif yang lebih lokal, lada meninggalkan banyak artefak budaya di Banten.

Artefak budaya yang terkait dengan lada mengendap dalam berbagai domain: (1) tinggalan arkeologis berupa pohon-pohon lada tua, dan keramik-keramik Cina; (2) toponimi tempat yang memiliki hubungan dengan lada seperti Teluk Lada, Pamarican, Pabean, Panimbang, Kampung Pedes; (3) pengetahuan lokal tentang teknik penanaman lada yang meliputi teknik

93 solor, petet, sarang gantung; (4) cerita rakyat yang berhubungan dengan eksistensi ponggawa sebagai pengumpul lada; (5) Khazanah kuliner Banten yang merepresentasikan pengaruh Arab dan India seperti gerem asem dan rabeg.

DAFTAR PUSTAKA Buku:

Blockmans, W., Mikhail Krom, dan Justyna Wubs-Mrozewicz (eds.). (2017). The Routledge Handbook of Maritime Trade Around Europe 1300–1600. London. Routledge.

Boelman, C. (1936). Bijdrage tot De Geschiedenis der Geneeskruidcultuur in Nederlandsch Oost-Indië. Leiden: S. C. Van Doesburgh

Braudel, F. (1981). Civilization and Capitalism. Vol. I: The Structures Of Everyday Life.

London: William Collins Sons & Co Ltd.

Chauduri, K.N. (1985). Trade and Civilization in The Indian Ocean: An Economic History from The Rise of Islam to 1750. Cambridge: Cambridge University Press.

Czarra, F. (2009). Spices: A Global History (2009). London: Reaction Book.

Finucane, A. (2016). The Temptations of The Trade. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.

Flandrin, Jean-Louis dan Massimo Montanari (eds.). (1999). Food: A Culinary History from Antiquity to the Present. New York: Columbia University Press.

Freedman, P. (2008). Out of the East: Spices and the Medieval Imagination. New Haven &

London: Yale University Press.

Fusaro, M. (2015). Political Economies of Empire in the Early Modern Mediterranean: The Decline of Venice and the Rise of England, 1450–1700. Cambridge: Cambridge University Press.

Glamann, K. (1981). Dutch Asiatic Trade 1620-1740. S-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Guillot, C., Nurhakim, L., Wibisono, S. (1996/1997). Banten Sebelum Zaman Islam: Kajian Arkeologi di Banten Girang 932-1526. Jakarta: Pusat Arkeologi Nasional.

Guillot, C. (2008). Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII. Jakarta: KPG.

Harvey, K. (2018). History and Material Culture: A Student’s Guide to Approaching Alternative Sources. New York: Roudledge.

Jacob. (1936). De Geschiedenis de Economische Beteekenis en Het Pharmaceutisch Onderzoek van Kruidnagelen. Amsterdam: N.V. Drukkerij en Uitgeverij

Lach, D. F. (1994). Asia in The Making of Europe: The Century of Discovery. Chicago &

London: The University of Chicago Press.

Lombard, D. (2005). Nusa Jawa: Silang Budaya II (Jaringan Asia). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Lubis, N. H. (2004). Banten dalam Pergumulan Sejarah: Sultan, Ulama, Jawara. Jakarta:

LP3ES.

Michrob, A. (1987). A Hypothetical Reconstruction of The Islamic City of Banten Indonesia.

Tesis. University Pennsylvania.

Ota, A. (2006). (2006). Change of Regime andSocial Dynamics in West Java: Society,State and The Outer World of Banten1750-1830. Leiden: Brill.

Ota, A. (2015). Toward a Transborder, Market-Oriented Society: Changing Hinterlands of Banten, c. 1760–1800. Dalam Mizushima, Tsukasa., Souza, George B., Flynn, Dennis

94 O (Eds.), Hinterlands and Commodities: Place, Space, Time and the Political Economic

Development of Asia Over the Long Eighteenth Century. Leiden, Boston: Brill.

Pudjiastuti, T. (2007). Perang, Dagang, dan Persahabatan: Surat-surat Sultan Banten.

Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Depdikbud. (1977). Sejarah Daerah Lampung.

Rahman, A. (et.al.). (1991). Carita Parahiyangan Karya Pangeran Wangsakerta. Jakarta:

Yayasan pembangunan Jawa Barat.

Ravindran. P. N. (Ed.). (2006). Black Pepper (Piper Nigrum). Australia: Hardwood Academic Publisher.

Reid, A. (1999). Asia Tenggara dalam Kurun Niaga: Jaringan Perdagangan Global. Jilid. 2.

Jakarta: Buku Obor.

Ricklefs, M. C. (1976). Bantĕn and the Dutch in 1619: Six Early'pasar Malay'Letters. Bulletin of the School of Oriental and African Studies, University of London, 128-136.

Roelofsz, M. A. P. M. (2016). Persaingan Eropa dan Asia di Nusantara: Sejarah Perniagaan 1500-1630. Jakarta: Komunitas Bambu.

Saptono, N. (t.t.). Laporan. Model Pertukaran Banten-Lampung pada Abad XVI-XVIII.

Bandung: Balai Arkeologi Bandung.

Shaffer, M. (2013). Pepper: A History of The World’s Most Influential Spice. New York: St.

Martin Press.

Swantoro, P. (2019). Perdagangan Lada Abad XVII: Perebutan “Emas” Putih dan Hitam di Nusantara. Jakarta: KPG.

Toussaine-Samat, M. (2009). History of Food. New Jersey: Wiley-Blackwell.

Turner, J. (2019). Sejarah Rempah: Dari Erotisme sampai Imperialisme. Jakarta: Komunitas Bambu.

Laporan:

Corney, B. (1855). The Voyage of Sir Hendry Middleton. London: Hakluyt Society.

Cortesao, A. (1944). The Suma Oriental of Tome Pires. London: The Hakluyt Society.

Gibb, H.A.R. (1929). Ibn Batutta: Travels in Asia and Africa 1325-1354. London: Routledge

& Keagan Paul.

Hakluyt Society. (1944). The Suma Oriental of Tome Pires and The Book of Francisco Rodrigues. McGill University.

Hirth, F., Rockhill, W. W. (1911). Chau Ju-Kua: His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteenth Centuries. St. Petersburg: Imperial Academy of Sciences.

Lodewyckz, V. W. (1915). De Eerste Schipvaart Der Nedelanders Naar Oost-Indie onder Cornelis de Houtman 1595-1597, D’Eerste Boek. S-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Middleton, S. H. (1855). The voyage of Sir Henry Middleton to Bantam and The Maluco Islands 1570-1613. (B. Corney, Trans.). London: The Hakluyt Society. (Original work published 1606)

95 Rumphius. (1902). Rumphius Gedenbook 1702-1902. Nederland: Koloniaal Museum Te

Haarlem.

Stovarinus, J. S. (1798). Voyages to The East Indies. (Wilcocke, S. H., Trans.). London: G.G.

and J. Robinson.

Jurnal Ilmiah:

Ariwibowo, G. A. (2017). Sungai Tulang Bawang Dalam Perdagangan Lada di Lampung pada Periode 1684 Hingga 1914. Masyarakat dan Budaya, 19(2), 253-268.

Ashtor, E. (1976). “Spice Prices in the Near East in the 15th Century”. Journal of the Royal Asiatic Society (Volume 108, Issue 01, January 1976), hlm. 26-41.

Colombijn, F. (1989) Foreign influence on the state of Banten, 1596–1682, Indonesia Circle.

School of Oriental & African Studies. Newsletter, 18:50, 19-30, DOI:

10.1080/03062848908729717

Imadudin, I. (2016). Perdagangan Lada Lampung dalam Tiga Masa (1653-1930). Patanjala, 8(3), 349-364.

Masselman, G. (1961). Dutch Colonial Policy in The Seventeenth Century. The Journal of Economic History, 21 (4), 455-468.

Rahman, F. (2019). Negeri Rempah-rempah: Dari Masa Bersemi hingga Gugurnya Kejayaan Rempah-rempah. Patanjala, 11(3), 347-362.

Rockhill, W.W. (1915). “Notes on the Relations and Trade of China With the Eastern Archipelago and the Coast of the Indian Ocean During the Fourteenth Century (part I)”. T’oung Pao, Volume 15: Issue 1, (1 January 1914), hlm. 419-447.

Saptono, N., Widyastuti, E., Nuralia, L., Aryanto, B. (2021). Perkebunan Lada dan Masyarakat di Kawasan Lampung Timur pada Masa Kesultanan Banten. Purbawidya, 10(2), 183-202.

Yung-Hao, T. (1982). “Pepper Trade in East Asia”. T’oung Pao, LXVIII, 4-5 (1982), hlm.

221-247.

Tustiantina, D. (2017). Asem, Sawo, Kelapa, dan Masyarakat Kota Serang. Paradigma Jurnal Kajian Budaya, 7(1), 1-13.

Wake, C.H.H. (1986). "The Volume of European Spice Imports at the Beginning and End of the Fifteenth Century," Journal of European Economic History, Vol. 15 (1986), hlm.

621-655.

Artikel online:

Aryono. (2018). Melipat Laba di Pelayaran Kedua, diakses 23 Agustus 2020 dari https://historia.id/kuno/articles/melipat-laba-di-pelayaran-kedua-P0olW

Haggerty, A. (2011). Medical Use of Black Pepper, diakses 9 Januari 2020, dari http://bioweb.uwlax.edu/bio203/2011/haggerty_adam/medicine.html.

Isnaeni, H. F. (2019). Demak Mengislamkan Banten, diakses 28 Juli 2020 dari https://historia.id/kuno/articles/demak-mengislamkan-banten-DLBNQ.

Johari, H. (16 Mei 2019). Rabeg, Santapan Sang Raja, diakses 13 Agustus 2020 dari https://historia.id/kultur/articles/rabeg-santapan-sang-raja-Dr94l