B. Hasil dan Pembahasan
1. Lada dalam Konteks Konsumsi dan Niaga Global
83 Fred Czarra (2009). Hasil-hasil penelitian para peneliti arkeologi juga dijadikan sebagai sumber rujukan utama untuk menunjukkan hubungan lada dengan artefak yang ditemukan di Banten, salah satunya karya Guillot, Nurhakim, dan Wibisono (1996/1997) yang berjudul Banten Sebelum Zaman Islam: Kajian Arkeologi di Banten Girang 932-1526.
Adapun untuk mendapatkan jejak yang tertinggal dalam wujud warisan budaya takbenda, diperlukan pencarian data yang lebih bersifat etnografis, yaitu dengan observasi dan wawancara. Observasi dan wawancara ini dilakukan untuk menelusuri memori kolektif tentang lada yang mengendap di tengah masyarakat. Lokus wilayah yang menjadi tujuan observasi adalah Karangantu, sementara informan yang dijadikan sebagai objek wawancara adalah penduduk atau tokoh yang memiliki pengetahuan tentang sejarah dan pengetahuan lokal yang hidup di daerah setempat. Wilayah Karangantu menjadi lokus observasi karena, menurut penelitian yang dilakukan Guillot (1996/1997; 2008), Karangantu menjadi pelabuhan “internasional” pada abad ke-15. Selain wilayah Karangantu, wilayah Banten Girang dan Teluk Lada potensial untuk digali memori kolektif masyarakat di sekitarnya, mengingat dua wilayah tersebut merupakan wilayah penting di masa Kesultanan Banten.
Dari sekian banyak sumber yang dikumpulkan, kami kemudian menginterpretasikan berbagai sumber yang digunakan agar terjalin suatu narasi yang utuh tentang sejarah lada Banten serta cerita dibalik budidaya lada dan penggunaan lada. Hasil interpretasi tersebut kemudian dirangkai menjadi kisah dalam bentuk historiografi. Penarasian sejarah dalam kajian ini akan dipaparkan dari umum ke khusus, yaitu dengan terlebih dahulu memberi konteks lada dalam niaga global, kemudian mengerucut pada lokus lada di wilayah Banten;
bagaimana lada dideskripsikan dalam laporan-laporan perjalanan, dibudidayakan (produksi), dan dijual (distribusi). Terakhir, menjelaskan bagaimana jejak lada mengendap dalam praktik dan budaya sehari-hari; bagaimana lada digunakan dan hidup ditengah-tengah masyarakat (konsumsi).
84 in virtue” maka tidak mengherankan bahwa lada dijuluki sebagai “Queen of Spices”
(Toussaine-Samat, 2009: 443-444; Shaffer, 2013: 1-2).
Hampir satu milenia setelah jatuhnya Romawi, lada tetap menjadi “Queen of Spices” di Eropa. Pada abad pertengahan pemakaian dan permintaan lada di Eropa semakin tumbuh dan berkembang, demikian pula dengan harga lada yang tetap tinggi di pasar Eropa. Cher comme poivre (mahal seperti lada) merupakan sebuah idiom dalam Bahasa Prancis yang menggambarkan bahwa lada memiliki nilai yang tinggi (Toussaine-Samat, 2009: 444).
Manakala wabah Black Death melanda Eropa, resep “Puding Hitam” yang menyertakan lada dan rempah-rempah lain, dipercaya masyarkat sebagai salah satu bahan baku masakan yang baik dalam penyembuhan wabah. Rempah dipercaya memiliki aromatic drugs yang dapat menangkal wabah (Braudel, 1981: 221).
Bagi orang-orang Eropa, nilai penting dari lada dan rempah lainnya adalah kemampuan tanaman ini untuk membantu mengawetkan daging. Ketika Eropa dilanda wabah dan kelaparan pasca Perang Salib, rempah berperan mengawetkan makanan berbahan daging, dan menambah citarasa makanan Eropa yang semula sangat miskin citarasa (Shaffer, 2017).
Menurut Jean-Louis Flandrin (1999), rempah dapat menutup rasa daging yang busuk. Lebih jauh dari itu, masih menurut Flandrin, rempah digunakan oleh kaum bangsawan untuk mengolah panganan eksotis dari daging lumba-lumba, paus, angsa, dan rusa (Flandrin dan Montanari, 1999: 313).
Jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat dan berkembangnya Imperium Islam di Timur Tengah sempat menjadikan lada menjadi produk yang sangat langka di Eropa hingga awal abad kesebelas. Sesudah Perang Salib I, para ksatria Perang Salib yang kagum dengan eksotisme barang-barang mewah dari wilayah Palestina, Mesir, dan Arabia, kemudian berperan menjadi pedagang perantara yang menjual rempah seperti lada, kayu manis, cengkeh, pala, saffron, hingga jahe. Perdagangan rempah yang dilakukan oleh mantan ksatria Perang Salib dengan Bangsa Arab ini mendorong tumbuhnya kota-kota dagang di sekitar Laut Mediterania, salah satunya adalah Venesia (Shaffer, 2013: 17).
Kota dagang Venesia merupakan salah satu pasar terbesar di Laut Mediterania. Venesia memiliki peran penting sebagai pasar penjualan rempah-rempah Asia di pasar Eropa hingga sekitar pertengahan abad ketujuhbelas atau ketika Antwerp dan Bruges, menjadi ibukota emporium perdagangan lada di Eropa (Shaffer, 2013: 17; Fusaro, 2015: 52, 106, dan 188;
Blockmans, Krom, dan Wubs-Mrozewicz, 2017: 107). Rempah-rempah yang tiba di Pelabuhan Venesia delapan puluh persennya berupa lada yang berasal dari India yang dikirimkan ke Venesia melalui Pelabuhan Alexandria dan Beirut. Lada dari Venesia ini kemudian didistribusikan ke negara-negara Eropa lain. C.H.H. Wake dalam artikelnya mengenai perdagangan rempah di Eropa pada akhir abad kelimabelas menjelaskan bahwa rata-rata penjualan lada dari Alexandria ke Venesia bisa mencapai 1000 ton per tahun.
Jumlah tersebut setara dengan 90.000 dinar. Adapun distribusi rempah lain seperti jahe, kayu manis, cengkeh, dan pala hanya mencapai 220 ton per tahun. Berdasarkan jumlah tersebut Venesia menguasai delapan puluh persen perdagangan lada di Eropa, sisanya dibagi di antara Genoa, Palermo, Firenze, dan Catalonia (Ashtor, 1976: 324-327; Wake, 1986: 631-632).
85 Tabel: Perdagangan Lada Ke Venesia dari Alexandria Tahun 1394 hingga 1404
Tahun Jumlah (dalam ton)
1394 1286
1396 873
1399 952
1404 816
Sumber: Wake, 1986: 632
Stabilitas perdagangan rempah di Eropa mulai terganggu semenjak kebangkitan Turki Usmani. Dalam waktu singkat Turki Usmani dapat menguasai wilayah-wilayah seperti, Konstatinopel (Istanbul) (1453), Yunani (1479), Balkan (1454), Palestina (1516), Suriah (1516), hingga Mesir (1517). Kondisi tersebut mengganggu dinamika perdagangan dari kawasan Laut Merah hingga Laut Adriatik bagi Bangsa Eropa. Turki Usmani mulai membatasi dengan ketat perdagangan dengan negara-negara di bagian barat Mediterania.
Terhambatnya niaga rempah di Mediterania ini telah membuka kemungkinan- kemungkinan baru bagi para pedagang dan penjelajah Eropa. Segala informasi terkait negeri penghasil rempah yang masih samar- samar, namun telah dikumpulkan para penjelajah terdahulu seperti Ptolomeus, Marco Polo, dan Tome Pires, mulai ditelusuri ulang seiring mulai berkembangnya pengetahuan tentang kartografi. Para ahli kartografi dari Portugis, Spanyol, Italia, Belanda, dan Jerman saling berlomba melakukan pemetaan dan mengidentifikasi kawasan Nusantara sebagai salah satu wilayah penghasil rempah (Rahman, 2019). Aksi pencurian informasi terkait jalur pelayaran ke Nusantara dilakukan kartograf Belanda Jan Huygen van Linschoten sepanjang 1583 sampai 1588 di Goa, India. Ia menyalin informasi pengetahuan navigasi Portugis meliputi peta-peta, pelabuhan-pelabuhan dagang, serta berbagai petunjuk penting perdagangan Portugis. Aksi serupa dilakukan pula oleh kartograf Petrus Plancius. Plancius melakukan serangkaian aksi spionase dan penyogokan terhadap orang-orang di Semenanjung Iberia dan London demi memperoleh berbagai manuskrip peta dan pedoman menuju nusantara (Rahman, 2019).
Di sisi lain, para pedagang asal Tiongkok sebetulnya sudah jauh lebih dulu melakukan pelayaran ke Nusantara untuk mendapatkan lada. Merujuk pada catatan perjalanan Chau Ju Kua (Hirth dan Rochill, 1911) dan beberapa kajian naskah-naskah Tiongkok yang dilakukan oleh William W. Rockhill (1915), Lo Jung-Pang (1957), dan Tsao Yung Ho (1982), dapat diketahui bahwa para pedagang Cina sudah sampai ke Nusantara sejak abad ke-13. Pasokan lada bahkan sudah diperoleh para pedagang Cina dari India sejak abad ke-2, tepatnya di masa Dinasti Han (Rochill, 1914: 419; Yung-Ho, 1982: 222). Seperti orang-orang Eropa, bagi orang Tiongkok, lada merupakan produk multiguna; sebagai alat tukar, pembayaran upeti, dan konsumsi. Kekaisaran Tiongkok menjadikan lada sebagai bahan rempah utama dalam sajian makanan dan pengobatan istana. Dalam buku yang disusun oleh Li Hsun pada abad ke- 8 dengan judul Hai-yao-pen-tsao (Bahan-bahan Pengobatan), dijelaskan bahwa salah satu tanaman herbal untuk berbagai jenis pengobatan. Li Hsun menjelaskan bahwa tanaman lada
86 berasal dari wilayah Laut Selatan atau Nanhai (Yung-Ho, 1982: 222-223; Chauduri, 1985:
20- 21).