• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Nilai-Nilai Lakon Banjaran Bima

Tokoh pewayangan Bima merupakan putra kedua Prabu Pandu dan Dewi Kunti, Bima diceritakan terlahir dalam keadaan bungkus (terbungkus daging). Secara bahasa, Bima berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna sesuatu yang hebat, dahysat dan menakutkan.

Bima lahir dan tumbuh di sebuah daerah bernama Hastinapura dan memiliki guru dengan nama Durna, Bima adalah sosok pengayom dan penyelamat bagi Pandawa dan sang ibu, Dewi Kunti. Pandawa terdiri dari Yudisthira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Sejak kecil hingga dewasa Bima menunjukan sikapnya yang bertanggung jawab dengan menjamin keselamatan saudara terutama dari kelicikan dan tipu daya para Kurawa (Dwijanegoro, 2019).

Guru Durna, sejak kecil menjadi guru bagi Pandawan dan Kurawa yang senantiasa menghalalkan segala cari untuk melukai dan mencelakai para Pandawa. Kurawa dijelaskan sebagai tokoh yang selalu memiliki peran jahat, contohnya tokoh Dursasana, Kartamarma, Gerdapati, dan masih banyak lagi. Diceritakan pada suatu hari, sang guru yakni guru Durna dihadapkan dengan pilihan yang sulit dari sang raja Hastinapura untuk melenyapkan Bima dengan konsekuensi kedudukannya sebagai guru di Hastinapura akan dipertahankan. Namum pada akhirnya guru Durna memilih untuk memperdaya Bima untuk kemudian melenyapkanya dengan penuh harap bahwa Bima akan tetap dilindungi oleh Dewa (Dwijanegoro, 2019).

Nartosabdo menjadi orang pertama yang membuat lakon banjaran paa tahun 1977 dengan menampilkan wayang Lakon Banjaran Bima di Yogyakarta. Pada pertunjukan Lakon Banjaran Bima ini menjelaskan mengenai kisah hidup mulai dari lahir hingga kematian Bima dengan ujian dan cobaan yang dapat Bima selesaikan dengan penuh rasa pantang menyerah (Kathryn, 2016).

Lakon Pewayangan memiliki nilai kearifan lokal yang istimewa karena memiliki nilai- nilai karakter didalamnya. Nilai karakter seperti disiplin, tanggungjawab, peduli sosial hingga sikap pantang menyerah. Sikap yang dimiliki oleh Bima dapat diintregasikan kedalam sejarah lokal Lampung dengan memasukan nilai-nilai kedalam situs sejarah lokal yang ada di Lampung. Belajar mengenai kearifan lokal sebagai bentuk pengenalan budaya kepada peserta didik.

74 Gambar 4.1 Lakon Banjaran Bima

Terdapat nilai-nilai yang bisa kita ambil melalui lakon Banjaran Bima diantaranya:

1. Patuh pada Guru, Bima memiliki sikap yang patuh terhadap perintah yang diberikan oleh gurunya yaitu Durna, ketika Durna memberikan permintaan kepada Bima tanpa berfikir Panjang Bima siap untuk menjalankan apa yang gurunya perintahkan selagi itu dalam konteks yang positif. Sikap Bima dapat dicontoh oleh peserta didik dimasa pembelajaran daring ini agar selalu patuh pada peraturan guru.

2. Tanggung Jawab, Bima memiliki sikap tanggungjawab yang besar semasa hidupnya, Bima selalu merasa memiliki tanggungjawab untuk menjaga saudaranya dar pengaruh-pengaruh buruk yang dapat mencelakakan saudaranya. Bima selalu bertanggungjawab atas tugas yang ia dapatkan. Sikap tanggungjawab Bima dapat dicontoh dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik, karena nilai tersebut relevan dengan keadaan sekarang ini. Peserta didik harus memiliki sikap yang tanggungjawab ketika diberikan tugas maupun amanah oleh guru.

3. Disiplin, selain memiliki sikap yang patuh dan tanggungjawab Bima juga memiliki sikap disiplin. Sikap disiplin Bima terbukti ketika Bima akan belajar dengan gurunya Bima selalu dating tepat waktu, mendengarkan serta melakukan tugas yang diberikan oleh Durna sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan. Bima memiliki sikap yang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugasnya. Sikap disiplin Bima dapat dijadikan contoh maupun idola bagi peserta didik bahwa sikap disipplin itu penting dalam menjalankan proses pembelajaran (Dwijonagoro, 2019).

2. Pembelajaran Sejarah Pada Masa Learning Loss

Pembelajaran dapat diartikan sebagai aktivitas yang melibatkan guru dan siswa dengan bekerja sama dalam kegiatan belajar mengajar yang terorganisir dengan baik dari segi struktur dan rencana. Kegiatan tersebut dilakukan dalam upaya untuk mengembangkan potensi peserta didik, dengan begitu tujuan pembelajaran akan tercapai (Arjun & Basri, 2021).

Sejarah sebagai suatu pembelajaran yaitu untuk memperkenalkan peristiwa masa lampau agar peserta didik dapat menelaah dan memahami serta meneladaninya. Pembelajaran sejarah memiliki kegiatan yang meliputi metode keilmuan, pembelajaran bahan/struktur pengetahuan, dan metode evaluasi. Pada prosesnya, pembelajaran sejarah memprioritaskan aktivitas belajar yang terpusat pada peserta didik sedangkan pendidik atau guru memiliki peranan sebagai pihak yang memfasilitasi (fasilitator), mediator, katalisator, serta evaluator sehingga peserta didik mendapatkan kesempatan untuk lebih mengembangkan kemampuannya dalam mengolah suatu informasi serta mengkontrstruksi pengetahuan yang telah dipelajari dengan menyesuaikan lingkungan sosialnya. Pembelajaran sejarah memilik peranan penting dalam upaya penanaman kesadaran berbangsa dan bernegara dalam jiwa setiap peserta didik sehingga peserta didik meneladani nilai dan norma yang sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan (Sukardi, 2011).

Pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia pada awal tahun 2020 memberikan dampak yang besar ke berbagai bidang di antaranya yakni pemerintahan pusat yang memutuskan untuk membuat suatu kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan yaitu meliburkan semua lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Kemudian pemerintah menerapkan

75 kebijakan yakni pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau dapat disebut juga dengan pembelajaran daring. Pada dasarnya, penerapan pembelajaran daring juga didukung oleh kemajuan teknologi. Namun tentu saja pembelajaran yang dilakukan di rumah memiliki kekurangan tersendiri dimana hal tersebut berdampak pada pembelajaran yang kurang efektif.

Penerapan pembelajaran secara daring jika diterapkan dalam waktu yang lama juga akan menimbulkan adanya Learning loss (Andriani, 2021).

Learning loss dapat diartikan sebagai suatu kondisi hilangnya motivasi belajar peserta didik akibat interaksi antara guru yang kurang dalam proses pembelajaran. Gejala yang terjadi karena adanya learning loss ini di antaranya prestasi peserta didik yang menurun, keterampilan dan intelektual peserta didik menurun, adanya kesenjangan dalam hal akses belajar, peserta didik mengalami tekanan psikologis dan psikososial, serta tumbuh kembang peserta didik yang terganggu. Dalam pembelajaran daring, learning loss dapat terjadi terutama akibat kualitas dan fasilitas yang rendah sehingga mempengaruhi capaian belajar peserta didik (Budi, 2021).

Gambar 4.2 Pembelajaran Pasca Pandemi

Terjadinya learning loss dalam pendidikan khususnya pada pembelajaran sejarah mengakibatkan terjadinya berbagai permasalahan diantaranya peserta didik yang merasa kesulitan karena harus menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran kombinasi, kesulitan dalam penguasaan materi pelajaran, adanya keterbatasan dalam hal sarana prasarana, serta kurangnya motivasi atau minat belajar peserta didik terutama dalam mata pelajaran sejarah (Arjun & Basri, 2021). Learning loss yang terjadi pasca pandemi Covid-19 mempengaruhi pembelajaran sejarah di sekolah karena siswa harus menghadapi sejumlah kendala, serta memudarnya minat belajar sejarah sehingga menghambat prestasi belajar peserta didik.

3. Internalisasi Karakter Disiplin Lakon Banjaran Bima Sebagai Upaya Mengatasi Learning Loss dalam Pembelajaran Sejarah Lokal Lampung Pasca Pandemi

Learning Loss adalah konsep yang diartikan sebagai suatu kondisi ketidakmaksimalnya kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah, proses pembelajaran yang tidak maksimal akan berakibat kepada hasil informasi yang didapatkan oleh peserta didik tidak maksimal pula. Learning Loss menjadikan peserta didik yang masih menerima pendidikan pada masa pandemi sampai masa pasca pandemi tidak maksimal sehingga berakibat pada output sumber daya manusia yang kurang berkualitas karena ada suatu tahapan belajar yang hilang dari struktur pembelajaran normal (Maulyda, 2021). Salah satu cara dalam

76 meminimalisir atau mengatasi adanya learning loss adalah dengan memberikan perhatian khusus kepada peserta didik, salah satunya melalui internalisasi karakter disiplin yang merupakan sebuah usaha sadar dan terstruktur mewujudkan iklim dan suasana pembelajaran dengan terfokus kepada pengembangan potensi peserta didik agar memiliki kekuatan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan bagi diri peserta didik, masyarakat, agama, dan negara (Arifin, 2020).

Pendidikan Karakter dalam penelitian ini diinternalisasikan melalui pembelajaran sejarah lokal Lampung yang beragam karena diyakini bahwa dengan mempelajari sejarah lokal maka akan melahirkan kesadaran mengenai pengembangan budaya dan peradaban manusia, hasil belajar peserta didik yang kemudian dikenal dengan istilah kesadaran sejarah (Mutiani, 2020). Melalui kesadaran sejarah ini juga terdapat suatu proses peserta didik mengenali potensi yang dimilikinya, kolaborasi karakter disiplin dalam mengatasi learning loss pasca pandemi kemudian diintegrasikan kembali dengan mengadaptasi nilai-nilai lakon Banjaran Bima yang syarat akan karakter perwira yang teguh pendirianya, seorang ksatria, suka menolong, tidak kenal menyerah, tegas, dan tidak takut terhadap siapapun (Dwijanegoro, 2019). Nilai-nilai disiplin yang dimiliki lakon Banjaran Bima kemudian dianggap relevan menjadi penguatan karakter peserta didik dan sebagai upaya mengatasi learning loss atau tidak maksimalnya proses pembelajaran dalam masa pasca pandemi.