• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lada Banten pada Abad XV-XVIII

B. Hasil dan Pembahasan

5. Lada Banten pada Abad XV-XVIII

Pada masa Kesultanan Banten para pedagang Eropa mulai ramai berdatangan mengikuti jejak Portugis yang lebih dulu datang ke Nusantara. Sultan Maulana Hasanuddin (1550-1570) berhasil menguasai Lampung dan daerah sekitarnya, sehingga suplai komoditas lada bukan sekadar berasal dari Banten, tetapi juga berasal dari Sumatera Selatan (Swantoro, 2019: 21). Mulai ramainya Pelabuhan Banten seiring dengan melonjaknya perdagangan komoditas lada (pepper-boom) pada 1600-an (Swantoro, 2019). Kondisi tersebut mengakibatkan terjadi persaingan keras antara pedagang-pedagang Belanda, Inggris, dan Portugis. Di sisi lain, para pedagang Cina memusatkan pasokan lada mereka dari Pelabuhan Banten di mana panen lada dapat mencapai 100.000 – 200.000 zak dengan harga 50-60 real setiap sepuluh zak (Swantoro, 2019: 21). Selain pesisir Pantai Malabar India, Banten menjadi salah satu bandar lada terbesar yang disinggahi pedagang-pedagang Eropa (Shaffer, 2013).

88 Pelabuhan Banten menjadi tempat bagi para pedagang dari Inggris, Prancis, Denmark, dan Cina untuk memperoleh lada. Mereka mendirikan pabrik atau gudang di Pelabuhan Banten (Shaffer, 2013; Guillot, 2018). Dua laporan perjalanan Sir James Lancaster (1600) dan Sir Henry Middleton (1604) dapat menjadi bukti hubungan dagang yang baik antara Banten dengan Inggris (Corney, 1885). Dalam surat perintah yang dikeluarkan oleh Komite English East India Company dapat diketahui bahwa pada 1604, Sir James Lancaster pergi meninggalkan Banten dengan membawa 1500 karung lada (Corney, 1885).

Menurut Shaffer (2013), Inggris memiliki pabrik tertua di Banten dan pabrik tersebut menjadi semacam pusat administrasi Inggris di Asia, mulai didirikan pada 1602 ketika pertama kali James Lancaster menetapkan pos perdagangan di Banten. English East India Company (EIC) memiliki gudang di Banten yang menampung suplai lada mereka yang berasal dari Jambi, pesisir pantai timur Sumatera, dan daerah Banten itu sendiri (Shaffer, 2013). Pendirian gudang lada dapat terwujud karena hubungan diplomasi yang baik antara Sultan Banten dengan Raja Inggris sebagaimana didokumentasiakan oleh Hakluyt Society (Corney, 1855) mengenai isi surat diplomasi dari Sultan kepada Raja Charles I: Now England and Bantam are both as one. I have also received a present from your Maiestie : the which I give you many thankes for your kindnesse (Corney, 1855: 83). Hubungan baik tersebut terus berlangsung sampai masa kepemimpinan Raja Charles II.

Diplomasi yang baik antara Banten dan Inggris ditandai pertukaran komoditi dari kedua belah pihak. Lada Banten menjadi alat tukar untuk membeli meriam dan senapan. Dalam Surat berbahasa Arab yang ditulis oleh Sultan Abul Fath kepada Raja Inggris Charles II tahun 1664 dapat diketahui bahwa Inggris bersedia menjual meriam dan senapan kepada Banten, sebagai balasannya Banten mengirimkan 100 bahar lada hitam dan 100 pikul jahe. Dalam penutup suratnya Sultan Abul Fath menjelasakan: […] wa arsalna ilaikum suhbata al- waraqati filfalan aswad mi'ata baharan wa zanjabilan mi'ata haml. Wa dzalika min rusumi al-mawaddah wa al-mushalahati. Arti kutipan surat tersebut: […] dan kami kirimkan kepada Tuan surat persahabatan yang disertai dengan 100 bahar lada dan 100 pikul jahe sebagai bentuk cinta dan persahabatan (Pudjiastuti, 2007: 30-32).

Jika lada menjadi medium hubungan diplomasi yang baik antara Banten dengan Inggris, tidak demikian hubungan Banten dengan pedagang Belanda. Lada cenderung menjadi medium konflik dan ketegangan di antara Banten dan para pedagang Belanda.

Dalam kontak pertamanya dengan Banten pada 1594, De Houtman hanya mendapatkan 240 karung lada, 45 ton pala, dan 30 bal bung pala (Aryono, 2018). Lada yang didapat De Houtman sangat jauh lebih sedikit ketimbang lada yang didapat oleh Sir James Lancaster yang mencapai 1500 karung. Kedatangan rombongan De Houtman ke Banten kurang dapat diterima dengan baik karena rombongannya merampok dua kapal pengangkut lada dari Jawa dan menembak pelabuhan Banten (Lubis, 2004). Belajar dari kegagalan De Houtman, pedagang Belanda yang datang pada 1598, Jacob van Neck, melakukan pendekatan yang lebih halus untuk memperoleh simpati Sultan (Lubis, 2004). Barulah pada 1603, para pedagang Belanda di bawah payung VOC, dapat mendirikan pos dan gudang pertama di Banten (Ricklefs, 1976: 130). Pos perdagangan tersebut, menurut Ricklefs (1976), menjadi “a famous pepper-trading kingdom in West Java”.

89 Dapat dikatakan Pelabuhan Banten pada awal abad ke-17 layaknya pasar internasional.

Terdapat pos dagang dan komplek-komplek pedagang dari berbgai negara dengan rumah- rumah yang dibangun dengan dinding tembok. Pasar aktif setiap hari dengan menjual berbagai panganan dan komoditas dari berbagai negara semisal kain sutera, kain katun, emas, porselen, minyak Kasturi (Lombard, 2005: 56). Lada dijual oleh warga lokal di Pasar Karangantu. Menurut Michrob (1987) para pedagang lokal di Karangantu sebagian besar adalah kaum perempuan. Mereka menjual lada, buah-buahan, cengkeh, pala, kayu manis, rempah-rempah, serta kue panas. Pasar Karangantu adalah yang terbesar, dan pada kenyataannya merupakan pusat di mana sebagian besar perdagangan impor dan ekspor dilakukan di Banten (Michrob, 1987: 115).

Banten yang menjadi tempat bertemunya berbagai bangsa demi kepentingan bisnis, sangat rentan terhadap berbagai macam konflik. Dalam upaya memperebutkan komoditi lada, para pedagang Cina, Belanda, dan Banten seringkali menimbulkan pertikaian dan kekerasan;

saling serang kapal, dan saling tusuk di jalanan (Colombijn, 1989). Pertikaian dan ketegangan antara pedagang, khususnya antar kelompok pedagang Cina, Belanda, dan Inggris memang menjadi hal yang lazim terjadi di Banten sepanjang 1596 hingga 1619. Kelompok pedagang Cina, Inggris, dan Belanda agaknya menjadi kelompok paling dominan dalam upaya mengukuhkan hegemoni perdagangan lada di Banten (Colombijn, 1989). Setelah tahun 1596, sumber primer tentang Banten lebih banyak menyebutkan esksistensi ketiga kelompok itu ketimbang pedagang-pedagang dari bangsa lain semisal Portugis, Arab atau Asia Barat.

Persaingan yang keras dalam memperebutkan komoditi lada ini agaknya dapat dipahami mengingat Banten pada abad ke-17 menjadi pasar lada terpenting di seluruh Asia (Glamann, 1981; Lodewyckz, 1915; Roelofsz, 2016). Pencapaian tersebut dapat terjadi karena pada masa keemasannya, Sultan Banten, yaitu Sultan Agung Tirtayasa, memerintahkan penanaman lada. Bukti perintah tersebut dapat dilihat dalam piagem (peraturan yang ditulis dalam piring tembaga) pada 1662 (Ota, 2015: 171; Saptono, tt: 8).

Stabilitas niaga dan persaingan bebas terkait penjualan lada menjadi terganggu semenjak Sultan Haji yang mendapat sokongan VOC, berhasil menjatuhkan kekuasaan ayahnya, Sultan Agung Tirtayasa, pada 1682. Semenjak itu, para pedagang lain terdepak dari Banten. Para pedagang Inggris, pesaing utama VOC, terpaksa meninggalkan gudang-gudang lada yang telah dirintis di Banten sejak 1602 (Shaffer, 2013). Sultan Haji memberikan hak monopoli kepada VOC untuk menguasai lada yang dipasok dari wilayah-wilayah di Lampung (Depdikbud, 1977). VOC mengirimkan pasukan ekspedisi di bawah pimpinan Koopman Everhard van der Schuur pada 1682 menuju ke Lampung untuk merealisasikan keinginan mereka memonopoli lada di Lampung, termasuk berupaya menangkal masuknya pengaruh EIC (Inggris) ke Lampung (Depdikbud, 1977: 60). Kondisi ini mengakibatkan gerak Inggris dalam memperoleh lada seolah terkunci di Jambi. Mereka kesulitan memperoleh suplai lada dari Lampung dan Banten. Selain itu, sejak 1684 seluruh hubungan dagang dan diplomasi Banten dengan dunia luar dikuasai oleh VOC, termasuk seluruh pelabuhan-pelabuhan dagang milik Banten (Ariwibowo, 2017).

Sejak masa pemerintahan Sultan Haji (1683 - 1687) hingga Sultan Zainal Arifin (1750- 1752), seluruh pedagang dilarang menjual lada kepada orang Palembang. Selain itu, bagi pedagang yang menjual lada di lautan, seluruh muatan berikut perahunya dirampas untuk

90 diserahkan kepada sultan (Saptono, tt; Ota 2015). “Tanam paksa” lada dilakukan oleh sultan sehingga suplai lada meningkat dan menguntungkan bagi VOC sebagai pihak yang memonopoli. Pada 1723 Banten dapat menghasilkan lada antara 1,5 hingga 2,5 juta kilogram, hingga pada tahun 1724 jumlah ini terus meningkat hingga 3,5 juta kilogram (Glamann, 1981: 88-91). Adapun jumlah dan grafik suplai lada Banten dan Lampung didokumentasikan dengan baik lewat penelitian yang dilakukan oleh Atshusi Ota (2015: 30).

Lada hasil monopoli VOC ini dijual ke pasar Asia (Taiwan, Jepang, Persia) dan Eropa.

VOC juga menjual lada-lada ini ke Surat dan Benggala di India (Ariwibowo, 2017). Pada abad ke-18, VOC mulai menjual lada ke pasar Tiongkok dengan menggunakan kapal-kapal milik VOC dan junk-junk Tionghoa (Ariwibowo, 2017). Perdagangan lada menurun setelah 1770-an karena pasokan lada dari Silebar, Semangka, dan Sungai Tulang Bawang terganggu oleh aktivitas bajak laut dari Tiongkok, Sulu, dan Irnaun (selatan Filipina). Menurut Ota (2006: 125-126) aktivitas bajak laut di perairan Lampung pada 1791 hingga 1792 dapat menjarah sekitar 6000 pikul lada. Angka tersebut setara dengan 36 persen pasokan lada VOC dari daerah Lampung pada periode yang sama.