• Tidak ada hasil yang ditemukan

76 meminimalisir atau mengatasi adanya learning loss adalah dengan memberikan perhatian khusus kepada peserta didik, salah satunya melalui internalisasi karakter disiplin yang merupakan sebuah usaha sadar dan terstruktur mewujudkan iklim dan suasana pembelajaran dengan terfokus kepada pengembangan potensi peserta didik agar memiliki kekuatan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan bagi diri peserta didik, masyarakat, agama, dan negara (Arifin, 2020).

Pendidikan Karakter dalam penelitian ini diinternalisasikan melalui pembelajaran sejarah lokal Lampung yang beragam karena diyakini bahwa dengan mempelajari sejarah lokal maka akan melahirkan kesadaran mengenai pengembangan budaya dan peradaban manusia, hasil belajar peserta didik yang kemudian dikenal dengan istilah kesadaran sejarah (Mutiani, 2020). Melalui kesadaran sejarah ini juga terdapat suatu proses peserta didik mengenali potensi yang dimilikinya, kolaborasi karakter disiplin dalam mengatasi learning loss pasca pandemi kemudian diintegrasikan kembali dengan mengadaptasi nilai-nilai lakon Banjaran Bima yang syarat akan karakter perwira yang teguh pendirianya, seorang ksatria, suka menolong, tidak kenal menyerah, tegas, dan tidak takut terhadap siapapun (Dwijanegoro, 2019). Nilai-nilai disiplin yang dimiliki lakon Banjaran Bima kemudian dianggap relevan menjadi penguatan karakter peserta didik dan sebagai upaya mengatasi learning loss atau tidak maksimalnya proses pembelajaran dalam masa pasca pandemi.

77 Assiddiqi, D. R., & Soeryanto (2021). Peluang Menurunnya Capaian Hasil Belajar (Learning Loss) Dan Alternatif Solusinya: Kajian Kasus Pembelajaran Online di Era Pandemi Covid-19 Di Jurusan Teknik Mesin Unesa. JPTM, 10 (3), 47-54.

Budi, S., dkk. (2021). Deteksi Potensi Learning Loss Pada Siswa Berkebutuhan Khusus Selama Pembelajaran Daring Masa Pandemi Covid-19 di Sekolah Inklusif. Jurnal Basicedu, 5(5), 3607-3613.

Dwijonagoro, Suwarna dkk. (2019). Pendidikan Karakter Dalam Lakon Banjaran Bima Dan Implikasinya Dalam Pendidikan. Jurnal Pendidikan Karakter, 9(2), 133-151.

Dwijonagoro, Suwarna dkk. (2019). Pendidikan Karakter Dalam Lakon Banjaran Bima Dan Implikasinya Dalam Pendidikan. Jurnal Pendidikan Karakter. 9(2), 133-151.

Harahap, Aridin S. (2019). Teknik Wawancara Bagi Reporter dan Moderator di Televisi.

Jurnal Komunikasi, 16(1), 1-6.

Kaffenberger, M. (2021). Modelling the long-run learning impact of the Covid-19 learning shock: Actions to (more than) mitigate loss. International Journal of Educational Development, 81, 102-326.

Kathryn, E. (2016). Multi-Episode Constructions. Dissertation: Universiteit Leiden.

Kuswono, K., Hartati, U., Amboro, K., & Mujiyati, N. (2019). Metro Tempo Dulu:

Sejarah Metro era Kolonisasi 1935-1942. Pendidikan Sejarah UM Metro.

Maulyda, M.A, Erfan, M & Hidayati, V.R. (2021). Analisis Situasi Pembelajaran Selama Pandemi Covid-19 Di SDN Senurus:Kemungkinan Terjadinya Leraning Loss.

Collase:Creative of Learning Students Elemnatry Education Jurnal of Elemntary Education, 4(3), 386-390.

Mutiani, dkk. (2020). Membangun Komunitas Belajar Melalui Lesson Study Model Transcript Based Learning Analysis. Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah, 3(2),113-122.

Naredi, H. 2020. Pembelajaran Sejarah Berbasis Sejarah Lokal Banten dan Kaitannya dengan Toleransi Beragama (Studi Kasus: Masjid Agung Banten dan Vihara Avalokitesvara). Jurnal Candrasangkala, 6 (1), 22-23.

Pratiwi, N. I. 2017. Penggunaan Media Vidio Call dalam Teknologi Komunikasi. Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial, 1(2), 212-213.

Pratiwi, W. D. 2021. Dinamika Learning Loss: Guru dan orang Tua. Jurnal Edukasi Nonformal, 2 (1), 147-153.Rahmat, P. S. 2009. Penelitian Kualitatif. Jurnal Equilibrium, 5 (9), 507-612.

Putra, M. S. (2020). Selama Belajar Online, Peserta didik Lebih Banyak Bermain Game.

Kalimantaan: Telisik Indoesia. (Selasa 5 April 2022), hal 1.

Rahman, Novri. (2019). Nilai Karakter Syair Lagu Gitar Tunggal Lampung Pesisir.

Skripsi. Universitas Lampung.

Siska, Y. 2015. Analisis Kebutuhan Bahan Ajar Sejarah Lokal Lampung untuk Sekolah Dasar. Jurnal Mimbar Sekolah Dasar, 2(2), 199-211.

Sukardi, T. (2011). Tinjauan Kritis Mengenai Pembelajaran Sejarah. Khazanah Pendidikan, 3(2), 1-22.

Tas’au, P.R. (2016). Pelestarian Budaya Tenun Buna dalam Mengembangkan Ekonomi Kerakyatan (Studi Etnografi Masyarakat Adat Sonaf Maubes) National Conference

78 On Economic Education. Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Negeri, Malang.

Verrysaputro, Exwan A dkk. (2020). Nilai Pendidikan Karakter Pada Lakon Cerita Wayang Sumantri Ngenger Oleh Ki Manteb Soedharsono Untuk Siswa Sekolah Dasar Kelas Rendah. Jurnal Elementary School, 7, 312-317.

Wibowo, AM. 2016. Pengembangan Model Pembelajaran Sejarah Lokal di SMA Kota Madiun. Jurnal Agastya, 6(1), 86-97.

Wijaya, H. (2018). Analisis Data Kualitatif Model Spradley (Etnografi).

https://core.ac.uk/download/pdf/287061605.pdf. Diakses tanggal 12 Maret 2021.

Windiani. (2016). Menggunakan Metode Etnografi dalam Penelitian Sosial. Jurnal Dimensi, 9(2),90-95.

Zayyadi, M. (2017). Eksplorasi Etnomatika pada Batik Madura. Jurnal Sigma, 2(2):36- 40.

79 LADA BANTEN; DARI NIAGA HINGGA WARISAN BUDAYA

Hary Ganjar Budiman1), G. Andika Ariwibowo2) Badan Riset dan Inovasi Nasional

Email: [email protected]

Abstract: The article wants to show the significance of pepper in the dynamics of commerce and culture during the 15th century to the end of the 18th century in Banten. Pepper in this article is positioned as material culture, part of the grand narrative of the spice trade that developed throughout the 15th to 18th centuries. To broaden the scope of the narrative about material culture, this article will also review the domain of cultural heritage that still exists among the people of Banten. The article is qualitative research that combines historical methods (heuristics, critics, interpretation, historiography) with ethnography (observations and interviews). From the results of the study, it can be seen that pepper in Banten is a medium of cultural interaction between nations. In addition, pepper is a medium for the formation of a capitalist ecosystem in Banten which causes competition, conflict, monopoly, and territorial control. Traces of pepper as a material culture are embedded in various artifacts and cultural heritages in Banten which include: (1) archaeological remains, (2) toponyms of places, (3) local knowledge, (4) folklore, and (5) culinary treasures.

Keywords: Banten, Lampung, pepper, material culture, cultural heritage.

Abstrak: Artikel ini ingin menunjukkan signifikansi lada dalam dinamika niaga dan budaya selama abad ke-15 sampai akhir abad ke-18 di Banten. Lada dalam artikel ini didudukan sebagai budaya material (material culture), bagian dari narasi besar perdagangan rempah yang berkembang sepanjang abad ke-15 hingga abad ke-18. Dalam upaya memperluas cakupan narasi tentang budaya material, maka artikel ini akan meninjau pula domain warisan budaya yang masih eksis di tengah masyarakat Banten. Artikel merupakan penelitian kualitatif yang memadukan metode sejarah (heuristik, kritik, interpretasi, historiografi) dengan etnografi (pengamatan dan wawancara). Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa lada di Banten menjadi medium interaksi budaya antar bangsa. Selain itu, lada menjadi medium terbentuknya ekosistem kapitalis di Banten yang menimbulkan persaingan, konflik, monopoli, hingga penguasaan wilayah. Jejak lada sebagai budaya material mengendap dalam beragam artefak dan warisan budaya yang masih eksis di Banten, meliputi: (1) tinggalan arkeologis, (2) toponimi tempat, (3) pengetahuan lokal, (4) cerita rakyat, dan (5) khazanah kuliner.

Kata kunci: Banten, Lampung, lada, budaya material, warisan budaya.

A. Pendahuluan

Lada saat ini lebih lazim kita ketahui sebagai bumbu masak belaka, sangat mudah didapatkan di pasar maupun swalayan. Ia digunakan untuk sekadar menambah rasa pedas/hangat pada masakan, semisal memperkuat cita rasa dalam sup, steak, dan ayam.

Singkatnya, lada sudah biasa tersimpan di suatu sudut lemari dapur kita. Dalam sejarah kebudayaan Eropa, lada pernah disetarakan dengan emas; menjadi salah satu simbol kelas elit (Haggerty, 2011). Pada masa lampau, misalnya di Prancis abad ke-14, lada sebagaimana umumnya rempah, menjadi salah satu bahan dalam berbagai hidangan ekslusif di lingkungan istana (Freedman, 2008: 20). Sekitar abad ke-17, tanaman yang sejatinya memiliki ribuan jenis spesies ini, menjadi salah satu persembahan rakyat Inggris bagi Pangeran Charles (Duke of Cornwall) bersama dengan hadiah lain seperti busur panah, emas, dan dua anjing pemburu (Rupp, 2014).

Pada periode yang lebih jauh ke belakang, pada sekitar abad ke-5, Imperium Roma membeli wilayah Visigoth dengan menggunakan lada (Rupp, 2014). Manakala koin belum menjadi standar mata uang di Eropa, lada digunakan sebagai satuan mata uang; mas kawin

80 dibayar dengan lada, hakim disuap dengan lada, dan seorang budak dapat membayarkan kebebasannya dengan satu pon lada (Rupp, 2014). Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila lada, khususnya lada hitam (piper nigrum L) sering kali dijuluki sebagai Black Gold atau ada pula yang menyebutnya sebagai The King of Spices di Eropa. Nilai komoditi lada yang bernilai tinggi, secara tidak langsung turut mendorong bergeloranya semangat penjelajahan bahari dan ilmu pengetahuan (kartografi, etnografi, botani) di Eropa pada abad ke-15.

Dilihat dari kacamata penjelajahan bahari, rempah memang menjadi salah satu alasan mengapa Colombus tiba di Benua Amerika. Oleh karena rempah pula Magellen bersedia menerima berbagai instruksi rahasia dari pemerintah Spanyol untuk mencari informasi tentang lada dari “Sunda” (Guillot, 2008: 61; Turner, 2019). Pun demikian dengan Francisco de Sa yang akhirnya tiba di Banten pada September 1527 (Guillot, 2008: 49). Dalam ranah ilmu pengetahuan, dapat diketahui bahwa berkat catatan para penjelajah Portugis dan manuskrip-manuskrip yang disusun oleh kartograf Petrus Plancius, Cornelis de Houtman akhirnya bisa sampai ke Banten pada 1596. Tidak lama setelah itu, maha karya John Huighen van Linschoten, Itinerario, buku yang berisi peta jalur rempah, varietas, dan wilayah penghasil rempah, mampu mendorong Belanda menjadi penguasa rempah-rempah. Itinerario turut menuntun upaya pelayaran Inggris mencari rempah (Rahman, 2019). Lalu, sebagaimana kita tahu, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), yang kemudian dilanjutkan oleh Pemerintah Hindia-Belanda, secara perlahan membangun hegemoninya di beberapa wilayah penghasil rempah di Nusantara, di antaranya Aceh, Jambi, Lampung, Malaka, Banjarmasin, dan Banten.

Di antara sekian banyak wilayah penghasil rempah di Nusantara, Banten menjadi salah satu penghasil lada terbaik (Hirth dan Rockhill, 1911) sekaligus menjadi salah satu penyuplai utama lada pada abad ke-16 di kawasan Asia Tenggara (Roelofsz, 2016). Heeren XVII, direktur utama VOC, menganggap suplai lada Banten sangat penting bagi perusahaan karena komoditi ini menjadi komoditi yang paling diinginkan di Eropa (Glamann, 1981: 87).

Kondisi tersebut dapat terjadi disebabkan oleh dinamika perdagangan di Eropa pada 1600-an yang mengalami fenomena pepper-boom (Swantoro, 2019: 21).

Pada abad ke-16 Kesultanan Banten telah mampu memenuhi permintaan 1000 ton lada per tahun untuk pedagang Portugis, dan memenuhi permintaan 3000 ton lada per tahun untuk pedagang Cina (Ariwibowo, 2017: 255-256). Bukan hanya itu, menurut Glamann (1981: 74) lada Banten mampu turut mewarnai ketersediaan komoditi lada di Eropa yang pada pertengahan abad ke-17 permintaannya bisa mencapai 3,2 sampai 3,6 juta kilogram per tahunnya. Dapat dikatakan bahwa lada Banten menjadi salah satu komoditi penting dalam dinamika niaga global. Seturut itu pula wilayah pelabuhan Banten menjadi salah pelabuhan internasional paling ramai yang mempertemukan berbagai ras manusia, dari berbagai penjuru dunia, serta dari beragam profesi; pedagang, bangsawan, kalangan militer, budak, hingga para ahli etnografi dan botani (Guillot, 2008).

Kajian ini ingin menunjukkan dan membuktikan lewat penelusuran sumber-sumber lampau, tentang signifikansi lada dalam dinamika niaga dan budaya selama abad ke-15 sampai akhir abad ke-18 di Banten. Kajian ini mendudukan lada sebagai budaya material (material culture), bagian dari narasi besar niaga rempah yang bersemi sepanjang abad ke-15

81 hingga abad ke-18. Pendekatan yang dilakukan dalam kajian ini mengadopsi cara pandang Braudel yang menempatkan budaya material—Braudel menyebutnya sebagai material civilization—sebagai bagian dari praktik konsumsi sehari-hari sebagaimana digambarkan dalam The Structure of Everyday Life (Braudel, 1981). Pendekatan ini sejalan dengan pendekatan yang juga digunakan oleh Bernard Herman sebagaimana dijelaskan oleh Harvey (2018), bahwa budaya material dapat ditempatkan sebagai bukti (evidence) dari suatu hubungan sosial yang kompleks. Untuk itu, masih menurut Harvey (2018), objek material dapat dihubungan dengan konteks historis melalui kontruksi biografi kolektif objek dengan deskripsi yang kuat. Secara praktis, kajian ini akan menggunakan sumber tertulis, sumber material (artefak), dan endapan memori kolektif di tengah masyarakat (toponimi, cerita rakyat, pengetahuan lokal) untuk mengupas lapisan makna tentang lada di masa lalu. Dengan cara tersebut, diharapkan dapat diketahui bagaimana orang-orang pada masa lampau memproduksi, menggunakan, dan hidup dengan lada.

Merujuk pada latar belakang dan kerangka pikir yang dikemukakan di depan, penelitian ini dapat diringkas dalam dua pertanyaan utama: (1) bagaimana signifikansi lada mewarnai kehidupan sosial-budaya di Banten pada abad ke-15 hingga ke-18; (2) bagaimana jejak lada yang nampak dalam warisan budaya di Banten.

Karya-karya yang membahas tentang rempah cukup banyak bertebaran dalam khazanah historiografi. Beberapa karya membahas secara khusus sejarah rempah, di antaranya adalah Sejarah Rempah: Dari Erotisme sampai Imperialisme (2019) yang ditulis oleh Jack Turner, Out of the East: Spices and the Medieval Imagination (2008) karya Paul Freedman, dan Spices: A Global History (2009) yang ditulis oleh Fred Czarra. Karya-karya lainnya lebih menautkan rempah dalam dinamika perdagangan pada masa penjelajahan samudera, seperti Persaingan Eropa dan Asia di Nusantara: Sejarah Perniagaan 1500-1630 (2016) karya Meilink Roelofsz, Dutch Asiatic Trade 1620-1740 (1981) karya Kristof Glamann, The Temptations of The Trade (2016) karya Adrian Finucane, serta Asia in The Making of Europe: The Century of Discovery (1994) yang ditulis oleh Donald F. Lach. Adapun beberapa artikel jurnal ilmiah yang topiknya cukup relevan dengan kajian ini adalah Dutch Colonial Policy in The Seventeenth Century (1961) ditulis oleh George Masselman dan

“Negeri Rempah-rempah”: Dari Masa Bersemi hingga Gugurnya Kejayaan Rempah-rempah (2019) yang ditulis oleh Fadly Rahman.

Karya sejarah yang membahas lada secara spesifik tidak bisa dikatakan sedikit.

Pasalnya, semangat penulisan sejarah rempah dan jalur rempah yang diwacanakan pemerintah dalam beberapa tahun belakangan ini, agaknya turut mendorong bermunculannya beragam karya sejarah rempah. Beberapa karya yang secara khusus membahas sejarah lada adalah Perdagangan Lada Abad XVII: Perebutan “Emas” Putih dan Hitam di Nusantara (2019) karya P. Swantoro, Perdagangan Lada Lampung dalam Tiga Masa (1653-1930) (2016) ditulis oleh Iim Imadudin, dan Sungai Tulang Bawang dalam Perdagangan Lada di Lampung pada Periode 1684 Hingga 1914 (2017) yang ditulis oleh G. Andika Ariwibowo.

Adapun karya peneliti luar Indonesia yang membahas tentang lada di antaranya, Pepper: A History of The World’s Most Influential Spice (2013) ditulis oleh Marjoire Shaffer dan Black Pepper (Piper Nigrum) karya P. N. Ravindran (Ed.) (2006), namun penelitian yang dikerjakan Ravindran lebih berupa kumpulan tulisan tentang lada hitam dari perspektif botani

82 ketimbang tulisan sejarah. Tentu saja penelitian tersebut tetap bisa menjadi penunjang dalam melengkapi kajian tentang lada Banten.

Kajian ini ingin memposisikan untuk melengkapi penelitian tentang sejarah lada yang sudah dilakukan oleh Swantoro (2019), Imadudin (2016), dan Ariwibowo (2017). Kajian ini lebih memilih menggunakan perspektif budaya material (material culture), yaitu mendudukkan lada sebagai bagian dari praktik konsumsi dan niaga pada abad ke-15 hingga ke-18. Kajian ini memfokuskan pada lokus Banten sebagai jejaring perdagangan lada di dunia dan Nusantara. Pembahasan tentang lada Banten ternyata belum banyak dibahas secara tersendiri, atau kalaupun banyak disebutkan dalam banyak sumber (Guillot, 2008; Glamann, 1981; Roelofsz, 2016; Ota, 2015) tetapi belum menjadi satu narasi yang utuh, dan masih tercecer dalam potongan-potongan kisah. Untuk memperkuat unsur kebaruan dan memberikan unsur aktualitas, kajian ini juga memberi amatan terhadap jejak warisan budaya yang terkait dengan lada yang mengendap di tengah masyarakat dalam bentuk cerita rakyat, toponimi, dan pengetahuan lokal

B. Metode Penelitian

Kajian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi empat tahapan kerja; heuristik (pengumpulan sumber), kritik otentisitas dan kredibilitas sumber, interpretasi, dan historiografi (penulisan sejarah). Dalam tahap pengumpulan sumber, kami terlebih dahulu mengumpulkan sumber dari beberapa catatan-catatan para pedagang dan penjelajah terdahulu yang menyebutkan tentang lada Banten. Cukup banyak catatan perjalanan di masa lampau yang sudah ditranslasi dan dapat diakses melalui archive.org. Beberapa catatan perjalanan yang akan tim peneliti telusuri di antaranya: catatan perjalanan Chau Ju Kua pada abad ke-12 (Chau Ju Kua His Work on the Chinese and Arab Trade in 12-13th Century) yang telah ditranslasi oleh Hirth dan Rockhill (1912), catatan perjalanan Ibn Batutta (Travels in Asia and Africa 1325-1354) yang telah ditranslasi oleh H.A.R. Gibb (1929), catatan tentang jalur rempah dan varietas rempah dari Jan Huyghen van Linschoten (The Voyage of John Huyghen van Linschoten to The East Indies from The Old English Translation of 1563-1611) yang telah ditranslasi oleh W. Philip (1885), catatan perjalanan Sir Henry Middleton (The voyage of Sir Henry Middleton to Bantam and The Maluco Islands 1570-1613) yang telah ditranslasi oleh Bolton Corney (1855), catatan perjalanan Cornelis de Houtman (De Eerste Schipvaart der Nederlanders naar Oost-Indië onder Cornelis de Houtman 1595—1597) yang ditulis oleh Van Willem Lodewyckz (1913). Untuk menunjang sumber-sumber primer tersebut, peneliti menggunakan beberapa penelitian ilmuwan Belanda pada abad ke-19, seperti sejarah ekonomi dan farmasi tentang rempah (De Geschiedenis de Economische Beteekenis en Het Pharmaceutisch Onderzoek van Kruidnagelen) karya Jacob A.L. (1936) dan sejarah pengobatan herbal di Hindia Belanda (Bijdrage tot De Geschiedenis der Geneeskruidcultuur in Nederlandsch Oost-Indië) karya Cornelis Boelman (1936).

Untuk melengkapi data tentang penggunaan lada di wilayah Banten dan di Eropa, kami menggunakan gabungan sumber primer dan sekunder, antara lain catatan Rumphius tentang rempah (Rumphius Gedenbook 1702-1902) dan karya sejarah tentang rempah semisal Sejarah Rempah: Dari Erotisme sampai Imperialisme yang ditulis oleh Jack Turner (2019), Black Pepper (piper nigrum) karya Ravindran (2006), dan Spices A Global History karya

83 Fred Czarra (2009). Hasil-hasil penelitian para peneliti arkeologi juga dijadikan sebagai sumber rujukan utama untuk menunjukkan hubungan lada dengan artefak yang ditemukan di Banten, salah satunya karya Guillot, Nurhakim, dan Wibisono (1996/1997) yang berjudul Banten Sebelum Zaman Islam: Kajian Arkeologi di Banten Girang 932-1526.

Adapun untuk mendapatkan jejak yang tertinggal dalam wujud warisan budaya takbenda, diperlukan pencarian data yang lebih bersifat etnografis, yaitu dengan observasi dan wawancara. Observasi dan wawancara ini dilakukan untuk menelusuri memori kolektif tentang lada yang mengendap di tengah masyarakat. Lokus wilayah yang menjadi tujuan observasi adalah Karangantu, sementara informan yang dijadikan sebagai objek wawancara adalah penduduk atau tokoh yang memiliki pengetahuan tentang sejarah dan pengetahuan lokal yang hidup di daerah setempat. Wilayah Karangantu menjadi lokus observasi karena, menurut penelitian yang dilakukan Guillot (1996/1997; 2008), Karangantu menjadi pelabuhan “internasional” pada abad ke-15. Selain wilayah Karangantu, wilayah Banten Girang dan Teluk Lada potensial untuk digali memori kolektif masyarakat di sekitarnya, mengingat dua wilayah tersebut merupakan wilayah penting di masa Kesultanan Banten.

Dari sekian banyak sumber yang dikumpulkan, kami kemudian menginterpretasikan berbagai sumber yang digunakan agar terjalin suatu narasi yang utuh tentang sejarah lada Banten serta cerita dibalik budidaya lada dan penggunaan lada. Hasil interpretasi tersebut kemudian dirangkai menjadi kisah dalam bentuk historiografi. Penarasian sejarah dalam kajian ini akan dipaparkan dari umum ke khusus, yaitu dengan terlebih dahulu memberi konteks lada dalam niaga global, kemudian mengerucut pada lokus lada di wilayah Banten;

bagaimana lada dideskripsikan dalam laporan-laporan perjalanan, dibudidayakan (produksi), dan dijual (distribusi). Terakhir, menjelaskan bagaimana jejak lada mengendap dalam praktik dan budaya sehari-hari; bagaimana lada digunakan dan hidup ditengah-tengah masyarakat (konsumsi).