BAB 11 PSIKOLOGI PERILAKU
G. Domain Perilaku
d. Sosial Ekonomi
Lingkungan sosial (budaya dan ekonomi) merupakan salah satu lingkungan yang berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Misalnya, keluarga yang status ekonominya berkecukupan, akan mampu menyediakan segala fasilitas yang diperlukan untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, dengan demikian, perilaku mereka akan berbeda dengan keluarga yang berpenghasilan pas-pasan.
e. Kebudayaan
Kebudayaan diartikan sebagai kesenian, adat istiadat atau peradaban manusia. Hasil kebudayaan manusia tersebut akan mempengaruhi perilaku manusia itu sendiri. Misalnya, kebudayaan Jawa akan mempengaruhi perilaku masyarakat Jawa pada umumnya dan orang Jawa pada khususnya.
Berdasarkan gambar di atas, maka pengukuran domain perilaku meliputi:
1. Cognitive domain, diukur dari knowledge (pengetahuan) 2. Affective domain, diukur dari attitude (sikap)
3. Psychomotor domain, diukur dari psychomotor practice (ketrampilan)
Knowledge (Pengetahuan)
Pengetahuan adalah hasil dari rasa keingintahuan yang terjadi melalui proses sensoris, khususnya mata dan telinga terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku terbuka (open behavior). Perilaku yang didasari pengetahuan biasanya bersifat kekal.
Menurut Rogers (1974) yang dikutip Notoatmodjo S.
(1977), proses adopsi perilaku, sesungguhnya di dalam diri orang tersebut terjadi suatu proses yang berurutan, yaitu:
Awareness, Interest, Evaluation, Trial dan Adoption (AIETA).
1. Awareness (kesadaran), pada tahap ini individu menyadari bahwa ada rangsangan (Stimulus) yang datang padanya.
2. Interest (ketertarikan), individu mulai tertarik terhadap stimulus tersebut.
3. Evaluation (pertimbangan), Individu mulai menimbang- nimbang dan berpikir tentang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya.
4. Trial (percobaan), Individu sudah mencoba perilaku baru.
5. Adoption (pengangkatan), Individu telah memiliki perilaku baru sesuai dengan pengetahuan, sikap dan kesadarannya terhadap stimulus.
Menurut Rogers, adopsi perilaku tidak selalu melewati tahapan AIETA, sehingga umumnya perilaku baru tersebut tidak langgeng. Sebaliknya, perilaku yang melalui proses AIETA akan bersifat langgeng atau menetap. Hal ini disebabkan perilaku tanpa tahapan hanya sekedar ikut-ikutan saja tanpa mengetahui makna dibalik perilaku yang ia lakukan.
BAB
12
Ida Mardhiah Afrini Kasman A, SKM., M.Kes.
A. Pendahuluan
Ilmu perilaku adalah cabang dari ilmu sosial yang sasaran atau objeknya adalah perilaku manusia. Ada tiga macam faktor yang mempengaruhi seseorang dalam menentukan perilakunya. Menurut teori Lawrance Green (1980) , perilaku manusia dipengaruhi oleh 2 faktor inti yaitu : faktor perilaku (behaviour causes) dan faktor diluar perilaku (non behaviour causes)(Oliver, 2016). Dari dua faktor penentu selanjutnya perilaku ditentukan dan terbentuk dari 3 faktor yaitu:
1. Faktor Predisposisi (predisposing factors) yaitu faktor yang meliputi pengetahuan, sikap dan sebagainya.
2. Faktor pemungkin (enabling factor) yang mencakup lingkungan fisik yang menunjang tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas, sarana-sarana keselamatan kerja (APD, pelatihan dan sebagainya).
3. Faktor Penguat (reinforcement factor), faktor-faktor ini meliputi undang-undang, peraturan-peraturan pengawasan dan sebagainya (Notoatmodjo, 2007).
Perilaku pada dasarnya berorientasi pada tujuan yang umumnya dimotivasi oleh suatu keinginan untuk mencapai tujuan tertentu. Beberapa definisi perilaku yang berasal dari teori-teori hasil riset, sebagai berikut:
1. Perilaku adalah sesuatu yang disebabkan karena hal tertentu.
PERILAKU PENCARIAN PELAYANAN
KESEHATAN
2. Perilaku ditunjukan kearah sasaran tertentu.
3. Perilaku yang dapat diobservasi dapat diukur.
4. Perilaku yang tidak langsung dapat di observasi (contoh berpikir, memilih untuk melakukan pelayanan kesehatan).
B. Konsep Perilaku
Perilaku adalah sesuatu yang kompleks. Secara biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas makhluk hidup, baik yang dapat diamati langsung ataupun tidak langsung.
Perilaku individu dipengaruhi oleh adanya pengetahuan dan sikap yang memiliki acuan pada sistem nilai dan norma yang dianutnya. Skinner (1938) mengemukakan bahwa dalam teori S-O-R (Stimulus – Organisme – Respon) perilaku individu pada dasarnya terbentuk karena 2 faktor inti yaitu: stimulus dan respon. Stimulus adalah faktor eksternal, sedangkan respon adalah faktor dalam diri seseorang (Mahendra, 2019).
Respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan konsep sehat, sakit, penyakit dan faktor yang mempengaruhinya seperti lingkungan, makanan, minuman dan pelayanan kesehatan. Perilaku kesehatan adalah semua aktivitas atau kegiatan seseorang baik yang dapat diamati atau tidak, yang berkaitan dengan upaya pencegahan, perlindungan diri dari masalah kesehatan lain, upaya meningkatkan kesehatan dan mencari penyembuhan apabila sakit atau memiliki masalah kesehatan. Perilaku orang yang sehat agar tetap sehat dan atau kesehatannya meningkat disebut dengan perilaku sehat (healthy behavior). Perilaku sakit adalah perilaku mencari pencari penyembuhan atau pemecahan masalah kesehatan (health seeking behaviour). Suatu alat atau tempat pencarian kesembuhan sebagai upaya penyembuhan penyakit ini adalah tempat atau fasilitas kesehatan, baik fasilitas Kesehatan atau pelayanan kesehatan tradisional. (Notoatmodjo, 2014).
C. Persepsi dan Perilaku Sakit
Persepsi masyarakat pada penyakit dan kesakitan sangat beragam, sehingga menyebabkan konsep sehat-sakit yang terjadi antara penyedia layanan Kesehatan dan masyarakat tidak sejalan. Perbedaan konsep sehat-sakit sering disebabkan karena adanya persepsi sakit yang tidak sama antara masyarakat dan penyedia jasa layanan Kesehatan. Perbedaan itu terletak pada penyakit (disease) dan rasa sakit (illness).
Penyakit diartikan sebagai suatu bentuk reaksi biologis terhadap sesuatu benda asing yang masuk kedalam tubuh, sedangkan rasa sakit didefinisikan sebagai suatu penilaian seseorang terhadap penyakitnya (persepsi).
Perkins (1972), dalam Azwar (1992) menyatakan bahwa sehat atau tidaknya seseorang sangat berhubungan dengan keseimbangan relatif dari bentuk dan fungsi tubuh, yang terjadi sebagai hasil kemampuan penyesuaian secara dinamis terhadap berbagai tenaga atau kekuatan yang mengganggunya.
Dengan kata lain, Kesehatan seseorang sangat bergantung pada lingkungannya, pejamu dan bibit penyakit.
D. Perilaku Pencarian Pelayanan Kesehatan
Kesehatan merupakan hal yang sangat fundamental, hal ini dibuktikan dalam Pasal 28 H ayat 1 (UUD Republik Indonesia, 1945) yang menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk memperoleh pelayanan Kesehatan. Kewajiban yang menjelaskan Kesehatan merupakan hal yang harus diperjuangkan juga tertuang pada Pasal 9 ayat 1 Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2009 yang menyatakan bahwa setiap orang wajib mewujudkan, mempertahankan dan meningkatkan derajat Kesehatan setinggi-tingginya.
Dalam peningkatan derajat Kesehatan masyarakat ditentukan oleh banyak faktor misalnya pelayanan Kesehatan, ketersediaan sarana prasarana Kesehatan, faktor ekonomi, pengetahuan, lingkungan sosial, keturunan, dll. Pencarian pelayanan Kesehatan juga dapat dilihat dari dua aspek.
Notoatmodjo (2010) membagi dua kategori pelayanan Kesehatan, yaitu:
1. Kategori yang berorientasi pada Masyarakat, pada pelayanan ini terdiri dari sanitasi lingkungan misalnya tersedianya air bersih, pembuangan limbah, imunisasi dan tersedianya sarana prasarana.
2. Orientasi pelayanan promotif dan preventif, yaitu berorientasi pada individu yang memilih fasilitas pelayanan Kesehatan karena kondisi kondisinya (sakit) sehingga memerlukan pengobatan baik itu dalam bentuk rehabilitatif maupun kuratif.
Sekelompok masyarakat tentu mempunyai perilaku yang berbeda-beda terkait dengan pemahaman sakit dan penyakit.
Perilaku tersebut dapat dilihat dalam bentuk respons yang dilakukan apabila suatu kelompok masyarakat diserang penyakit atau merasakan sakit mulai dari tidak bertindak atau tidak melakukan apa-apa (Julismin and Hidayat, 2013).
Keputusan suatu individu dalam melakukan pengobatan berhubungan dan dipengaruhi beberapa faktor, yaitu: kondisi sosial ekonomi, status sosial, umur, jenis kelamin, status sosial, akses pelayanan kesehatan dan persepsi seseorang terhadap pelayanan yang akan diberikan di fasilitas kesehatan (Mackian, 2003).
Perilaku pencarian pengobatan adalah perilaku suatu kelompok/individu untuk melakukan pengobatan atau pencarian pelayanan Kesehatan yang jenisnya beragam tergantung jenis, metode dan sarana prasarana yang disediakan pada fasilitas pelayanan Kesehatan (Saragih, 2013).
Berikut adalah perilaku masyarakat dalam mencari pelayanan kesehatan untuk mengobati penyakit yang dideritanya:
1. Tidak Bertindak (No Action)
Biasanya beralasan karena kondisi yang dialami tidak mengganggu kegiatan atau pekerjaan sehari-hari. Pendapat bahwa tanpa bertindak maka rasa sakit akan sembuh atau
hilang dengan sendirinya. Alasan lain yang memicu tidak bertindaknya seseorang yaitu: fasilitas yang diperlukan sangat jauh letaknya, para petugas yang terkadang tidak responsif dan kurang simpatik. dll
2. Tindakan Mengobati Diri Sendiri (Self Treatment)
Tindakan ini beralasan karena seseorang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi untuk mengobati dirinya sendiri sehingga mengakibatkan pencarian pengobatan atau fasilitas pelayanan tidak dilakukan.
Susenas (2008) menyatakan bahwa sebanyak 65,59%
persentase penduduk Indonesia memilih mengobati dirinya sendiri dari keluhan kesakitan yang dialaminya (Rahman, Prabamurti and Riyanti, 2016).
Hal ini membuktikan bahwa sangat banyak penduduk Indonesia yang lebih memilih untuk mengobati dirinya sendiri daripada berobat di fasilitas pelayanan Kesehatan yang persentasenya sebesar 44,37%.
3. Pengobatan ke Fasilitas Pengobatan Tradisional (Traditional Remedy)
Terkhusus untuk masyarakat pedesaan, biasanya pengobatan tradisional masih menjadi pilihan utama dibandingkan dengan pengobatan-pengobatan yang lain.
Masalah sehat-sakit belum dianggap sebagai gangguan fisik melainkan masih dianggap hal-hal yang berkaitan dengan budaya. Karena masih dikaitkan erat dengan sosial-budaya maka dalam pengobatan pun masih dilakukan dengan cara tradisional yang biasanya dilakukan oleh dukun. Dukun yang melakukan pengobatan tradisional berdasarkan kebudayaan biasanya lebih diterima oleh masyarakat daripada dokter, bidan, mantri dan tenaga Kesehatan lainnya. Pengobatan yang dilakukan oleh tenaga Kesehatan pun masih dianggap asing oleh sekelompok masyarakat yang terbiasa dengan pengobatan tradisional/kebudayaan.
4. Mencari Pengobatan dengan Membeli Obat-obat ke Warung Warung Obat (Chemist Shop) dan Sejenisnya, Termasuk ke Tukang Jamu
Dalam kasus ini, adalah hal yang sangat sulit untuk dikontrol karena obat-obat yang dikonsumsi/didapatkan tidak memakai resep dokter.
5. Pencarian Pengobatan ke Fasilitas Pengobatan yang Diadakan oleh Pemerintah atau Lembaga-lembaga Kesehatan Swasta yang Dikategorikan ke dalam Balai Pengobatan, Puskesmas dan Rumah Sakit (Modern)
6. Mencari Pengobatan di Fasilitas Pengobatan Modern yang Diselenggarakan oleh Dokter Praktek (Private Medicine)
Dari uraian-uraian diatas dapat dilihat dengan jelas bahwa persepsi masyarakat terhadap kejadian sehat-sakit sangat berbeda pada setiap individu, kelompok dan masyarakat. Persepsi atau anggapan masyarakat terhadap konsep sehat sakit sangat erat hubungannya dengan perilaku pencarian pengobatan, berdasarkan perbedaan persepsi, mempengaruhi atas dipakai atau tidak dipakainya fasilitas kesehatan yang tersedia. Apabila persepsi sehat- sakit masyarakat belum sama dengan konsep sehat-sakit, maka dipastikan masyarakat belum tentu akan memilih menggunakan fasilitas-fasilitas yang telah disediakan atau diberikan, (Notoatmodjo, 2007).
E. Tujuan Penggunaan Pelayanan Kesehatan
Dalam teori Anderson dan Newman yang dikutip dalam Notoadmodjo (2010) menjelaskan bahwa dalam model penggunaan pelayanan kesehatan dapat menjelaskan alasan mengapa seseorang atau kelompok menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan dalam menentukan kedua sisi antara faktor penentu dan pengguna layanan kesehatan:
1. Untuk mengurangi beban dalam merencanakan kebutuhan masa yang akan datang dalam pelayanan kesehatan.
2. Menentukan ada atau tidaknya suatu permasalahan yang ada dalam penggunaan layanan kesehatan.
3. Memberikan masukan kepada stakeholder dalam menentukan arah kebijakan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan.
4. Sebagai evaluasi dalam melihat adakah pengaruh program pemeliharaan/perawatan Kesehatan yang saat ini dilakukan.
F. Faktor yang Mempengaruhi Pelayanan Kesehatan
Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah hasil dari proses pencarian pelayanan oleh individu maupun kelompok tertentu untuk menggunakan fasilitas kesehatan. Feldstein 1988 mengetahui faktor-faktor yang mendorong individu untuk mau memanfaatkan jasa pelayanan kesehatan merupakan informasi kunci untuk merancang program pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan mampu dibeli oleh konsumen di masa yang akan datang (Su’udi, 2010).
Bila Permintaan (demand) dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan dianggap sebagai suatu permintaan dari masyarakat, maka berlaku teori ekonomi secara umum yang menjelaskan tentang besarnya permintaan (demand), dipengaruhi oleh:
1. Harga pelayanan
2. Harga barang lain yang terkait dengan pelayanan yang sepadan atau setara di fasilitas lain,
3. Tingkat pendapatan per kapita, 4. Selera konsumen,
5. Jumlah penduduk, 6. Distribusi pendapatan
7. Upaya pemasaran, yang dapat dikaitkan dengan kualitas pelayanan (Samuelson and Nordhaus, 2003 dalam Su'udi, 2010).
Namun, dalam pelaksanaan yang biasa terjadi, ditemukan spesifikasi dalam kebutuhan akan pelayanan
Kesehatan. Oleh karena itu, perlu pengkajian mendalam terhadap kesesuaian teori yang lebih tepat. Beberapa teori terkait pemanfaatan pelayanan kesehatan yaitu:
1. Teori Permintaan (Demand) Menurut Grossman, Mills dan Feldstein
Menurut Grossman (1972) yang dikutip dalam Su'udi, 2010, bahwa faktor yang mempengaruhi Demand terhadap pelayanan kesehatan atau rumah sakit adalah: kejadian penyakit, karakteristik kultural demografi, dan faktor ekonomi. Menurut Mills, demand terhadap pelayanan kesehatan dapat diartikan sebagai bertemunya kemampuan dan kemauan (ATP vs WTP) dalam diri seseorang.
Permintaan (demand) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Negara berkembang dapat dikaitkan dengan:
a. Faktor demografi atau karakteristik, seperti umur, pendidikan, gender dan status kesehatan,
b. Faktor ekonomi seperti pendapatan, tarif atau harga pelayanan, cara pembayaran, dan biaya transportasi c. Faktor non ekonomi seperti waktu dan kemudahan akses
mencapai pelayanan, dan kualitas pelayanan kesehatan.
Feldstein, mengemukakan bahwa faktor yang berhubungan dengan demand penderita terhadap pelayanan medis sangat berkaitan dengan faktor yang ada pada pasien dan provider kesehatan itu sendiri, antara lain:
a. Angka kejadian penyakit atau kebutuhan pelayanan dari pasien
b. Faktor sosiodemografi: umur, seks, status perkawinan, jumlah anggota keluarga dan pendidikan.
c. Faktor ekonomi: pendapatan, harga layanan, nilai waktu yang dipergunakan untuk mencari pengobatan
d. Faktor dari pelaku pelayan kesehatan, yang meliputi karakteristik provider (perilaku petugas dan jenis keahlian dokter), termasuk sudut pandang ekonomi dari petugas dalam menciptakan kebutuhan masyarakat untuk memanfaatkan layanan tertentu.
Gani tahun 1981 menyatakan bahwa permintaan pelayanan kesehatan (Demand) merupakan fungsi dari adanya kebutuhan karena adanya keluhan sakit (Need), pendidikan (Education), pekerjaan (Occupation), Preferensi (Preference), Pendapatan (Income), harga pelayanan kesehatan (Price), ketersediaan asuransi (Insurance), jarak ke pelayanan kesehatan (Distance).
2. Model Pemanfaatan Pelayanan Zschock
Faktor yang mempengaruhi seseorang menggunakan pelayanan kesehatan menurut Zschock (1979), yaitu:
a. Status kesehatan, pendapatan dan pendidikan artinya adalah semakin tinggi status kesehatan seseorang, maka ada kecenderungan orang tersebut banyak menggunakan layanan kesehatan. Sedangkan apabila pendapatan yang dihasilkan seseorang rendah, maka akan sulit pula untuk memperoleh pelayanan kesehatan, meskipun membutuhkan (unmet need). Tingkat pendidikan seseorang juga mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan seseorang.
b. Faktor konsumen dan penyedia pelayanan kesehatan.
Penyedia pelayanan kesehatan (provider mempunyai peranan besar dalam menentukan tingkat dan jenis pelayanan kesehatan bagi konsumen. Adanya consumer ignorance sering menyebabkan terjadinya over utilization pelayanan kesehatan.
c. Kemampuan dan penerimaan pelayanan Kesehatan dilihat pada kemampuan seseorang dalam membayar pelayanan Kesehatan. Hal ini erat hubungannya dengan tingkat penerimaan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan.
d. Risiko sakit dan lingkungan. Dari Keadaan ini dapat dilihat bahwa faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi status kesehatan individu dan masyarakat. Dengan lingkungan yang bersih dan sehat maka risiko penyakit yang timbul akan rendah.
3. Model Perilaku (Behavioral Model)
Menurut Anderson (1975) mengemukakan tentang pemanfaatan pelayanan kesehatan sebagai model perilaku (behavioral model of health services utilization). Determinan pemanfaatan pelayanankesehatan tersebut meliputi pada tiga faktor, yaitu:
a. Karakteristik predisposisi (Predisposing Characteristics):
Pada karakter predisposisi menggambarkan mengenai karakteristik sosial-budaya suatu individu sebelum menderita penyakit (Ramadani, 2016). Dalam hal ini dapat dilihat bahwa setiap individu memiliki kecenderungan yang berbeda untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan, tergantung pada kepercayaannya pada pelayanan Kesehatan (health belief services), struktur sosial (tingkat Pendidikan, pekerjaan, ras dan agama) serta demografi (umur, gender dan status perkawinan).
b. Karakteristik kemampuan (Enabling Characteristics): yaitu kondisi yang membuat seseorang mampu melakukan tindakan dalam memilih atau mendapatkan perawatan.
Misalnya dilihat dari sumber daya yang dimiliki baik itu dari penghasilan, kepemilikan asuransi kesehatan, daya beli dan pengetahuan tentang pelayanan kesehatan, dapat juga dilihat dari sisi sumberdaya masyarakat, ketersediaan sarana pelayanan, jumlah tenaga kesehatan, rasio penduduk dan hubungan sosial yang dimiliki setiap individu atau kelompok tertentu.
c. Karakteristik kebutuhan (Need Characteristics); yaitu kondisi paling utama suatu individu atau kelompok dalam memilih fasilitas pelayanan Kesehatan oleh karena itu sangat beralasan bila seseorang langsung berhubungan dengan permintaan layanan kesehatan (persepsi sakit, diagnosa penyakit, kecacatan, status kesehatan).
Dalam model Andersen (1995) menyatakan bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan pada era 1960-an
berfokus pada keluarga sebagai unit analisis tersebut, dengan menambahkan komponen sistem pelayanan kesehatan (health care system), pengaruh lingkungan (external environment) dan outcome dari pelayanan kesehatan terhadap kepuasan pelanggan (custumer satisfaction). Dengan begitu, maka kebutuhan yang dievaluasi akan lebih erat terkait dengan jenis dan jumlah pengobatan yang akan diberikan setelah pasien datang ke penyedia perawatan medis.
4. Teori Akses Pelayanan menurut Aday, Andersen, dan Flemming
Dalam studi Aday, Andersen dan Flemming, teori akses pelayanan kesehatan dikaitkan dengan dua faktor.
Yaitu karakteristik penduduk (user) dan karakteristik pelayanan kesehatan atau penyedia jasa (provider):
a. Karakteristik pelayanan kesehatan (provider). Yaitu ketersediaan dan distribusi fasilitas pelayanan kesehatan.
Bisa dikategorikan pada sisi supply.
b. Karakteristik penduduk berisiko (user). yaitu umur, status kesehatan, tingkat pendapatan dan kepesertaan asuransi. Dikategorikan dalam sisi demand (Aday, Andersen and Fleming, 1980 dalam Su'udi, 2010).
BAB
13
dr. Raja Al Fath Widya Iswara, M.H., Sp.FM., MHPE.
A. Pendahuluan
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat.
Upaya pelayanan kesehatan diberikan dalam bentuk pelayanan kesehatan dalam upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif maupun pelayanan kesehatan tradisional.
Pelayanan kesehatan promotif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan.
Pelayanan kesehatan preventif adalah suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan/penyakit.
Pelayanan kesehatan kuratif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat penyakit, pengendalian penyakit, atau pengendalian kecacatan agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal mungkin.
Pelayanan kesehatan rehabilitatif adalah kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan untuk mengembalikan bekas penderita ke
HUKUM
KESEHATAN PADA
PELAYANAN
KESEHATAN
dalam masyarakat sehingga dapat berfungsi lagi sebagai anggota masyarakat yang berguna untuk dirinya dan masyarakat semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuannya. Pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan/atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
B. Hak dan Kewajiban Atas Kesehatan
Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya dibidang kesehatan.
Adapun hak atas kesehatan masyarakat Indonesia antara lain:
1. Memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau.
2. Secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya.
3. Mendapatkan lingkungan yang sehat bagi pencapaian derajat kesehatan.
4. Mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab.
5. Memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan.
Selain memiliki hak, masyarakat Indonesia juga memiliki kewajiban atas kesehatan antara lain:
1. Mewujudkan, mempertahankan, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya meliputi upaya kesehatan perseorangan, upaya kesehatan masyarakat, dan pembangunan berwawasan kesehatan.
2. Menghormati hak orang lain dalam upaya memperoleh lingkungan yang sehat, baik fisik, biologi, maupun sosial.
3. Berperilaku hidup sehat untuk mewujudkan, mempertahankan, dan memajukan kesehatan yang setinggi- tingginya.
4. Menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan bagi orang lain yang menjadi tanggung jawabnya.
5. Turut serta dalam program jaminan kesehatan sosial.
C. Tanggung Jawab Pemerintah
Dalam pelayanan kesehatan, pemerintah memiliki tanggung jawab antara lain:
1. Merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina, dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat yang dikhususkan pada pelayanan publik.
2. Bertanggung jawab atas lingkungan, tatanan, fasilitas kesehatan baik fisik maupun sosial bagi masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
3. Bertanggung jawab atas ketersediaan sumber daya di bidang kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
4. Bertanggung jawab atas ketersediaan akses terhadap informasi, edukasi, dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
5. Memberdayakan dan mendorong peran aktif masyarakat dalam segala bentuk upaya kesehatan.
6. Bertanggung jawab atas ketersediaan segala bentuk upaya kesehatan yang bermutu, aman, efisien, dan terjangkau.
7. Bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat melalui sistem jaminan sosial nasional bagi upaya kesehatan perorangan.
D. Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di
bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Tenaga kesehatan di Indonesia dikelompokkan ke dalam beberapa kategori antara lain:
1. Tenaga medis yang terdiri atas dokter, dokter gigi, dokter spesialis dan dokter gigi spesialis.
2. Tenaga psikologi klinis.
3. Tenaga keperawatan yang terdiri atas berbagai jenis perawat.
4. Tenaga kebidanan.
5. Tenaga kefarmasian yang terdiri atas apoteker dan teknis kefarmasian.
6. Tenaga kesehatan masyarakat yang terdiri atas epidemiolog kesehatan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan kerja, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga biostatistik dan kependudukan serta tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga.
7. Tenaga kesehatan lingkungan yang terdiri atas tenaga sanitasi lingkungan, entomolog kesehatan dan mikrobiologi kesehatan.
8. Tenaga gizi yang terdiri atas nutrisionis dan dietisien.
9. Tenaga keterapian fisik yang terdiri atas fisioterapis, okupasi terapis, terapi wicara dan akupuntur.
10. Tenaga keteknisian medis yang terdiri atas perekam medis dan informasi kesehatan, teknik kardiovaskuler, teknis pelayanan darah, refraksionis optisien/optometris, teknisi gigi, penata anestesi, terapis gigi dan mulut, dan audiologis.
11. Tenaga teknik biomedika yang terdiri atas radiografer, elektromedis, ahli teknologi laboratorium medik, fisikawan medik, radioterapis dan ortotik prostetik.
12. Tenaga kesehatan tradisional yang terdiri atas tenaga kesehatan tradisional ramuan dan tenaga kesehatan tradisional keterampilan.
Dalam menjalankan praktik, tenaga kesehatan memiliki hak antara lain:
1. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan Standar Profesi, Standar Pelayanan Profesi dan Standar Prosedur Operasional.