BAB 4 HAK ASASI MANUSIA
C. Hak dan Kewajiban Dalam Profesi
C. Hak dan Kewajiban Dalam Profesi
yang terutama penting dalam etika kedokteran adalah hak untuk hidup, bebas dari diskriminasi, bebas dari siksaan dan kekejaman, bebas dari perlakuan yang tidak manusiawi dan tidak pantas, bebas beropini dan berekspresi, persamaan dalam mendapatkan pelayanan umum di suatu negara, dan pelayananmedis.
Declaration on the Rights of the Patients yang dikeluarkan oleh WMA (World Medical Association) memuat hak pasien terhadap kerahasiaan sebagai berikut:
a. Semua informasi yang teridentifikasi mengenai status kesehatan pasien, kondisi medis, diagnosis, prognosis, dan tindakan medis serta semua informasi lain yang sifatnya pribadi, harus dijaga kerahasiaannya, bahkan setelah kematian. Perkecualian untuk kerabat pasien mungkin mempunyai hak untuk mendapatkan informasi yang dapat memberitahukan mengenai risiko kesehatan mereka.
b. Informasi rahasia hanya boleh diberikan jika pasien memberikan ijin secara eksplisit atau memang bias dapat diberikan secara hokum kepada penyedia layanan kesehatan lain hanya sebatas “apa yang harus diketahui”
kecuali pasien telah mengijinkan secara eksplisit (tersirat dengan jelas).
c. Semua Data Pasien harus dilindungi. Perlindungan terhadap data harus sesuai selama penyimpanan.
Substansi manusia dimana data dapat diturunkan juga harus dilindungi.
Deklarasi ini juga menyatakan adanya perkecualian terhadap kewajiban menjaga kerahasiaan apabila terdapat beberapa hal relatif tidak masalah (purnama, 2017).
BAB
5
Dr.dr. Asriati,M.Kes.
A. Pendahuluan
Etika profesi berhubungan dengan masalah etika yang muncul di lingkungan kerja profesional. Sebagian besar profesional menghadapi masalah etika dalam kehidupan profesional dibandingkan dengan masyarakat umum, terutama karena profesional melayani masyarakat yang tidak dapat diakses oleh orang yang bekerja bukan di bidang profesional.
Etika profesi adalah cara memberikan jawaban atas pertanyaan sulit melalui pelatihan menyeluruh, berbagi fakta, dan kepatuhan terhadap praktik yang merupakan etika profesional.
Kata etika berasal dari bahasa Yunani yaitu berasal dari kata “ethos” yang berarti kesantunan, budi pekerti, akhlak, adab atau adat istiadat. Sebagai subjek, etika akan berhubungan dengan dasar moral yang dimiliki oleh individu atau pekerja profesional yang ditandai dengan berpikir sebelum menilai apakah perilaku yang dilakukan salah atau benar, jelek atau bagus (Isnanto, 2009).
kata “profesi” pun berasal dari bahasa Latin, yaitu kata kerja profiteor/profiteri yang berarti: menyatakan secara terbuka, member maklumkan, tampil dihadapan umum, mengakui. Karena itu kata benda Latin professio mula-mula mempunyai arti lebih luas daripada istilah profesi sekarang, yaitu “pernyataan” atau “pemakluman” (Bertens, 2020).
ETIKA PROFESI
B. Sejarah Etika Profesi
Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, 1993 menuliskan dalam makalahnya yang berjudul “sejarah etika profesi dan etika jabatan publik”, makalah tersebut menjelaskan bahwa tradisi membangun etika positif berupa prinsip-prinsip etika dan perilaku bermula dikembangkan di negara Inggris,tradisi ini dirumuskan sebagai standar yang cocok bagi para anggota suatu komunitas profesi atau jabatan tertentu yang membutuhkan kepercayaan publik, tetapi di Inggris tradisi ini tidak berkembang kemudian dikembangkan oleh Amerika Serikat dalam arti yang lebih modern. Bidang kedokteran (medical ethics) merupakan bidang profesi yang pertama kali memperkenalkan sistem etika positif ini.
Makalah yang ditulis oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, 1993 juga memaparkan tentang para ilmuwan yang memberi ide awal mengenai etika kedokteran, yang sebenarnya pertama kali datang dari banyak sarjana, termasuk dari pemikir Muslim bernama al-Ruhawi dan al-Razi (Rhazes) di Abad Pertengahan.
Bahkan buku pertama tentang 'etika kedokteran' yang ditulis oleh al-Ruhawi, yaitu buku "the Conduct of a Physician"
merupakan karya fenomenal di bidang etika kedokteran. Pada akhir abad ke-18, dokter Inggris, Thomas Percival, menyusun 'kode etik kedokteran' pertama dalam pengertian modern. Ia pertama kali menulis kode etik pada tahun 1794 dan memperluas isinya pada tahun 1803 dengan memperkenalkan istilah 'etika kedokteran' dan 'yurisprudensi kedokteran'. Pada tahun 1815, Pemerintah Inggris mengeluarkan Undang-Undang Apoteker yang pertama, dan sejak itu, dunia kedokteran dan kesehatan secara resmi diatur oleh negara, termasuk sistem etika yang harus dijalankan. Amerika Serikatmengembangkan sistem etika dimana Pada tahun 1846, American Medical Association (AMA) didirikan dan untuk pertama kalinya menyusun kode etik organisasi yang memuat kewajiban dan hak dokter. Pada tahun berikutnya, yaitu tahun 1847, atas laporan Dr. John Bell, kode etik disahkan sebagai 'Kode Etik
Kedokteran' dan bahkan 'Kode Etik (Profesional)' pertama dalam sejarah modern.
Sistem etika profesi dikembangkan kemudian oleh profesi akuntan dan tercatat sebagai profesi kedua yang mengembangkan sistem etika profesi. Etika profesi akuntan pertama kali pada tahun 1494 di rintis oleh Luca Pacioli yang biasa dianggap sebagai ‘the father of accounting’ yang menulis buku berjudul “Summa de Arithmetica, Geometri, Proportione, et Proportionalita”. Tetapi, dalam pengertian modern, kode etik akuntan baru ada setelah dibentuknya American Association of Public Accountant (AAPA). Organisasi Profesi ini didirikan pada tahun 1887, dan kode etik pertama yang ditulis dan disahkan untuk mendidik para anggotanya pada tahun 1905, tetapi kode etik yang lebih efektif yang tertuang dalam anggaran dasar (bylaws) organisasi, baru ditetapkan pada tahun 1907 bersamaan dengan ulang tahun AAPA yang ke-20. Nama organisasi ini beberapa kali mengalami perubahan dan terakhir berubah menjadi American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) sampai sekarang.
Profesi ketiga yang membentuk kode etik profesi ini adalah profesi hukum. Pada tahun 1854, Hakim George Sharswood menulis esai berjudul “Legal Ethics”. Dari buku ini muncul ide untuk menyusun kode etik hukum di pelbagai negara bagian. Negara bagian pertama Amerika Serikat yang menyusun dan mengesahkan kode etik ini adalah Alabama, yaitu pada tahun 1887. Pada tahun 1854, American Bar Association (ABA) didirikan, dan baru pada tahun 1908 atau 54 tahun kemudian mengusulkan mengesahkan berlakunya kode etika profesional yang disebut pertama kali sebagai “Canons of Professional Ethics”. Kode Etik American Bar ini juga merujuk kepada tulisan George Sherwood tentang “Legal Ethics”
tersebut di atas. Selama abad ke-20, ide tentang kode etika ini berkembang pesat di semua bidang profesi, didunia bisnis, dan bahkan di lingkungan kekuasaan pemerintahan negara.
Bahkan, sekarang, dari 50 negara bagian Amerika Serikat, sudah ada 42 negara bagian yang membangun infrastruktur
etik berupa kode etik dan kode perilaku, dilengkapi dengan terbentuknya Komisi Etika yang bersifat permanen dalam rangka mengembangkan dan menegakkan kode etika tersebut sebagai institusi yang bersifat mandiri (independent oversight commission). Ke-8 negara bagian lainnya, meskipun tidak memiliki Komisi Etik yang khusus, tetap memiliki kode etika dan kode perilaku yang pelaksanaannya dikoordinasikan sendiri oleh sekretaris negara bagian (secretary of state) atau komite etik yang bersifat tidak tetap (Jimly Asshiddiqie, 1993)
C. Pengertian Etika Profesi 1. Etika
Istilah etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, sesuai yang dirumuskan oleh Aristoteles dalam bukunya yang berjudul “Etika Nikomacheia”. Menurut Aristoteles pengertian etika dibagi menjadi dua yaitu:
a. Terminius Technicus yang artinya etika dipelajari untuk ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia.
b. Manner dan Custom yang artinya membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat dalam kodrat manusia (inherent in human nature) yang terikat dengan pengertian “baik dan buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia. (Nurul Qomariah, 2017).
Yanti Kirana, (2020) menulis tentang istilah lain untuk etika dimana etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang praksis (tindakan) manusia. Etika tidak mempertanyakan kondisi manusia, tetapi mempertanyakan bagaimana manusia harus bertindak. Tindakan manusia ditentukan oleh berbagai norma. Norma tersebut masih dibagi lagi menjadi norma hukum, norma moral, norma agama, dan norma kesusilaan.
Norma hukum berasal dari peraturan perundang- undangan, norma agama berasal dari agama, sedangkan norma moral berasal dari hati nurani. Norma kesopanan berasal dari kehidupan sehari-hari sedangkan norma moral berasal dari etika. Etika berarti moral sedangkan etiket berarti sopan santun. Etika akan memberikan semacam batasan dan standar yang akan mengatur interaksi manusia dalam kelompok sosial. Dalam arti khusus berkaitan dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian dijabarkan dalam bentuk kode tertulis yang secara sistematis sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada dan bila diperlukan akan dapat berfungsi sebagai alat untuk menilai segala sesuatu. jenis tindakan logis. Akal sehat dianggap menyimpang dari kode etik. Pengertian psikologi dikemukakan oleh Plato dan Aristoteles, yaitu ilmu yang mempelajari hakikat jiwa dan prosesnya hingga tuntas.
2. Profesi
Profesi berasal dari bahasa latin professio yang memiliki dua arti yaitu janji atau ikrar dan pekerjaan. Jika maknanya dibuat dalam arti yang lebih luas, menjadi kegiatan “apa saja” dan “siapa saja” untuk mencari nafkah yang dilakukan dengan keterampilan tertentu. Sedangkan dalam arti sempit, profesi berarti kegiatan yang dilakukan berdasarkan keterampilan tertentu dan dituntut darinya untuk melaksanakan norma-norma sosial khusus yang tidak diperoleh dalam pekerjaan sebelumnya. Profesi merupakan pekerjaan yang menuntut pengemban profesi untuk terus menerus memperbaharui keahliannya sesuai dengan perkembangan teknologi. Secara populer, setidaknya ada dua arti yang diberikan pada istilah profesi. Pertama, pekerjaan yang ditekuni dan menjadi fokus kehidupan.
Kedua, lebih dari sekedar pekerjaan, profesi adalah bidang pekerjaan yang didasarkan pada pendidikan keterampilan tertentu. (Dewi, 2020)
3. Etika Profesi
Etika profesi adalah istilah yang dapat dipahami dengan cara yang berbeda. Ada berbagai macam tipe pengertian etika profesi yang dapat ditemukan, namun pada umumnya terdapat 3 tipe pengertian etika profesi yang paling dipahami yaitu:
Pertama, etika profesi adalah kode nilai dan norma yang benar-benar memandu keputusan praktis ketika dibuat oleh profesional. Dengan demikian, etika profesi menjadi penentu tindakan yang dapat digambarkan secara eksplisit dan nyata. Studi tentang aspek etika profesi ini termasuk dalam psikologi sosial.
Kedua, etika profesi adalah seperangkat nilai yang sepenuhnya diidealkan yang tujuannya adalah untuk menjelaskan batas atau aturan suatu profesi tertentu dapat bekerja. Semua profesi saat ini telah merumuskan kode etik mereka sendiri yang menjelaskan nilai, perilaku, dan konsekuensi terbaik yang dapat ditentukan dan disesuaikan dengan dunia profesi tersebut. Etika profesi semacam itu dapat dicirikan sebagai ekspresif dan demonstratif, dan karena itu dapat dipelajari dengan baik dengan metode yang disebut retorika. Tetapi pernyataan seperti itu harus diklarifikasi sebelum dapat diterima. Misalnya, ide-ide retoris tidak boleh dipahami dengan cara yang merugikan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa etika profesi adalah pernyataan dan perwujudan niat baik yang seharusnya menjadi ciri suatu profesi tertentu.
Ketiga, etika profesi dapat dipahami sebagai suatu disiplin filosofis yang kritis, sehingga dapat dikategorikan sebagai bagian dari bidang etika terapan yang lebih luas.
Dalam hal ini, metode normal. Etika filosofis diterapkan pada keputusan, rencana, dan tindakan profesional untuk mengevaluasi, mengkritik, dan mengembangkannyaDalam etika profesi filosofis. (Hebenstreit, Marics and Hlavac, 2017)
Istilah yang digunakan pertama kali, oleh E. Pincoffs disebut sebagai confusion etiquette, istilah ini mewakili istilah untuk terjadinya dilema etik dalam kehidupan profesional.
Ketika ide ini diterapkan pada etika profesi, kehidupan profesional dipelajari dari sudut pandang masalah dramatis atau dilema etikanya. Misalnya, seorang pengacara pembela tahu bahwa dia mewakili pelaku berbahaya yang pembebasannya akan menyebabkan kerugian serius bagi publik. Haruskah dia tetap membela orang ini? Setiap orang berhak untuk membela diri, tetapi hal ini tidak dapat dilaksanakan tanpa bantuan seorang ahli hukum. Ini adalah dilema etika yang khas di bidang hukum.
Konsep Kunci kerja profesional dan profesionalisme secara umum dapat diteliti dengan analisis konseptual filosofis. Banyak filsuf yang berpikir bahwa ini adalah pendekatan filosofis utama di bidang etika, yang legitimasinya jelas dan manfaatnya jelas. Misalnya, konsep otonomi dan otoritas adalah objek analisis yang khas.
Pendekatan filosofis dapat berfokus pada sejarah dunia kehidupan profesional, yang dapat dipahami sebagai konteks dan lingkungan di mana semua kegiatan profesional berlangsung. Pendekatan seperti ini dipelopori oleh Foucault.
Dalam banyak hal, pendekatan Foucault adalah yang paling bermanfaat karena memungkinkan memberi gambaran keseluruhan kehidupan profesional yang terbentuk dan dapat menggambarkan hubungan dengan aspek lain dari etika profesional. Suatu profesi dibangun dengan landasan yang bermoral karena seorang profesional memang dituntut untuk menghasilkan standar kinerja berkualitas tinggi dan mengutamakan kepentingan publik.
(Airaksinen, 2002)
Suatu profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari orang lain jika ada kesadaran yang kuat dalam dirinya untuk mengindahkan etika profesi ketika hendak
memberikan jasa keahlian profesional kepada orang lain atau masyarakat yang membutuhkannya. Tanpa etika profesi, yang semula dikenal sebagai profesi terhormat akan segera terjerumus ke dalam pekerjaan yang mencari nafkah biasa yang sama sekali tidak diwarnai oleh nilai-nilai idealisme dan pada akhirnya akan berakhir tanpa rasa hormat atau kepercayaan yang layak untuk diberikan. ke profesi. Timbulnya etika profesi sebenarnya bermula dari penyimpangan perilaku para pelaku profesi terhadap sistem nilai, norma, peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dalam profesinya. Kurangnya komitmen pribadi dalam menjalankan tugas, tidak jujur, tidak bertanggung jawab, tidak berdedikasi, tidak menghargai hak orang lain, tidak adil dan sejenisnya. (Amin, 2017)
D. Ciri-ciri Suatu Profesi
Pekerjaan bagi seorang profesional yang menjalankan suatu profesi mempunyai beberapa ciri yang dapat dikenali dengan ciri ciri sebagai berikut:
1. Adanya pengetahuan khusus, biasanya keterampilan dan keahlian tersebut diperoleh melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman selama bertahun-tahun.
2. Ada aturan dan standar moral yang sangat tinggi. Ini biasanya berarti bahwa setiap pelaku profesional mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi Melayani kepentingan umum, artinya setiap praktisi profesional harus menempatkan kepentingan pribadinya di bawah kepentingan masyarakat.
3. Ada aturan dan izin khusus untuk menjalankan profesi.
Semua profesi masing masing, akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, sehingga untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu memiliki izin khusus.
4. Profesional biasanya merupakan anggota dari suatu profesi.
(Dewi, 2020)
E. Syarat Suatu Pekerjaan Disebut Profesi
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menyebut suatu pekerjaan sebagai profesi, yaitu:
1. Melibatkan aktivitas intelektual.
2. Pengembangan pengetahuan tertentu.
3. Membutuhkan persiapan profesional yang alami dan bukan hanya latihan.
4. Memerlukan pelatihan in-service yang berkelanjutan.
5. Menjanjikan karir yang dapat dipakai seumur hidup dan keanggotaan tetap. (Dewi, 2020)
F. Prinsip Dasar Etika Profesi
Dewi dkk (2020) Membagi prinsip etika dalam beberapa hal. Etika profesi memiliki prinsip-prinsip dasar yang dapat dipahami dari prinsip-prinsip berikut:
1. Prinsip Tanggung Jawab
Setiap profesional harus bertanggung jawab atas pelaksanaan suatu pekerjaan dan juga atas hasilnya. Selain itu, profesional juga memiliki tanggung jawab atas dampak yang mungkin terjadi dari profesinya terhadap kehidupan orang lain atau masyarakat umum.
2. Asas Keadilan
Dalam prinsip ini, setiap profesional dituntut untuk mengutamakan keadilan dalam menjalankan pekerjaannya.
Dalam hal ini keadilan harus diberikan kepada siapapun yang berhak.
3. Prinsip Otonomi
Setiap profesional mempunyai wewenang dan kebebasan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan profesinya. Artinya, seorang profesional berhak melakukan atau tidak melakukan sesuatu dengan memperhatikan kode etik profesi.
4. Prinsip Integritas Moral
Integritas moral adalah kualitas kejujuran dan prinsip moral dalam diri seseorang yang dijalankan secara konsisten dalam menjalankan profesinya. Artinya, seorang profesional harus memiliki komitmen pribadi untuk menjaga kepentingan profesinya, dirinya sendiri, dan masyarakat.
Kata profesi selalu dikaitkan dengan bidang ilmu yang di tekuni, Apabila profesi itu berkenaan dengan bidang kesehatan, maka kelompok profesi itu disebut kelompok profesi kesehatan (dokter, perawat, ahli teknologi laboratorium medik, dan profesi kesehatan yang lainnya).
Pengembangan profesi kesehatan merupakan tuntutan profesional yang sangat erat hubungannya dengan suatu kode etik untuk masing-masing bidang profesi. Pengembangan etika profesi sangat diperlukan supaya para pekerja profesional bekerja secara profesional dan fungsional. Mereka memiliki tingkat ketelitian, kehati-hatian, ketekunan, kritis dan pengabdian yang tinggi karena mereka bertanggung jawab kepada diri sendiri dan kepada sesama anggota masyarakat, bahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, mereka bekerja sesuai dengan kode etik, dimana mereka harus rela mempertanggungjawabkan akibatnya sesuai dengan tuntutan kode etik (Amin, 2017).
BAB
6
Fifi Nirmala G, S.Si., M.Kes.
A. Pendahuluan
Perkembangan zaman dibidang kesehatan mulai mengalami kemajuan yang pesat baik dalam teknologi maupun tenaga kerja medis. Namun, hal ini sering juga dibicarakan karena mulai timbulnya permasalahan etik dalam bidang kesehatan baik dalam kedokteran, keperawatan, kesehatan masyarakat dan beberapa tenaga kerja medis yang bersangkutan. Sehingga perlunya penegakan kode etik untuk pencegahan dan penyelesaian permasalahan tersebut agar tidak terjadi.
Kode etik profesi diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan disisih lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalahgunaan keahlian. Sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para professional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya (Syamsuddin and Pabbu, 2012).
Seiring dengan kemajuan zaman, serta kemudahan dalam akses informasi, era globalisasi membuat akses informasi tanpa batas, serta peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat masyarakat semakin kritis. Di sisi lain menyebabkan timbulnya berbagai permasalahan etik. Selain itu perubahan gaya hidup, budaya dan tata nilai masyarakat, membuat
PERMASALAHAN
KODE ETIK
KESEHATAN
MASYARAKAT
masyarakat semakin peka menyikapi berbagai persoalan, termasuk memberi penilaian terhadap pelayanan yang diberikan petugas kesehatan (Irwan, 2017).
Dalam hal untuk menjunjung dan menegakkan sebuah kode etik kesehatan masyarakat, seorang kesehatan masyarakat perlu mengikuti pendidikan tentang kesehatan masyarakat agar mengerti dan paham akan kode etik itu sendiri. Karena kesehatan masyarakat sebagai ilmu dan seni untuk mencegah penyakit, memperpanjang masa hidup dan meningkatkan kesehatan melalui upaya bersama masyarakat secara terorganisasi untuk sanitasi lingkungan, pemberantasan penyakit, pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan dan sebagainya, mengandung makna bahwa aspek preventif dan promotif adalah lebih penting daripada kuratif dalam rangka peningkatan status kesehatan masyarakat. Pendekatan preventif promotif yang melibatkan keikutsertaan masyarakat mempunyai implikasi bahwa klien profesi kesehatan masyarakat bukanlah individu, tetapi masyarakat (Purnama, 2016).
B. Faktor Penghambat Kode Etik
Kode etik menjadi tidak tepat apabila hanya berisi peraturan-peraturan. Terdapat Faktor yang menghambat jalannya pelaksanaan kode etik, yaitu (Purnama, 2016):
1. Sifat Kekeluargaan
Sifat kekeluargaan adalah memberikan perlakuan yang khusus kepada anggota keluarga. Namun, perlakuan berbeda akan diberikan kepada yang bukan keluarga. Hal ini melanggar profesionalisme kode etik yang seharusnya memberikan perlakuan yang sama terhadap klien.
2. Pengaruh Jabatan
Karena pengaruh jabatan, terkadang seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat memberikan pelayanan yang lebih istimewa terhadap seorang klien dibandingkan dengan klien lain. (Sari, Suhariningsih and Nurdin, 2016). Sebagai contoh,
seorang kepala puskesmas memiliki anggota keluarga yang sedang sakit sehingga membutuhkan pelayanan kesehatan di Puskesmas tersebut. Pasien tersebut mendapat pelayanan kesehatan dengan segera tanpa harus menunggu giliran, sedangkan pasien lain harus menunggu lama. Hal tersebut dikarenakan jabatan salah satu keluarganya sebagai kepala puskesmas yang merasa harus di prioritaskan.
3. Pengaruh Konsumerisme
Tuntutan konsumerisme erat kaitannya dengan perekonomian dan daya konsumsi suatu individu. Sifat konsumerisme ini seringkali membuat sarjana kesehatan masyarakat melakukan langkah-langkah yang melanggar kode etik demi memenuhi kepuasan hidupnya. Dengan sifat konsumerisme ini juga membuat sarjana kesehatan masyarakat menganggap bahwa pekerjaan sebagai ladang untuk mencari uang dan mengabaikan peranannya. Sebagai contoh, Seorang dosen program studi kesehatan masyarakat memiliki gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya.
Namun, ia ingin mendapatkan uang tambahan untuk memenuhi kebutuhan hiburan. Sehingga, ia menawarkan kolusi dengan mahasiswa yang diujinya. Jika mahasiswa tersebut ingin lulus dengan nilai A, maka ia harus bersedia memberikan imbalan berupa uang. Jika mahasiswa tersebut menolak, maka daftar nilai dan kertas ujian akan ditahan oleh dosen.
4. Profesi Menjadi Kegiatan Bisnis
Seorang yang telah memiliki profesi pasti mengetahui bahwa profesi berbeda dengan kegiatan bisnis. Tujuan bisnis dan profesi sangatlah berbeda. Tujuan bisnis adalah untuk mendapatkan keuntungan, sedangkan tujuan profesi adalah untuk memberikan layanan kepada masyarakat.
5. Lemahnya Iman
Menjadi seorang yang profesional tidak hanya melakukan pekerjaan sesuai dengan bidangnya, tetapi juga harus memiliki ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha esa
dengan cara menjalankan perintah-Nya dan menjauhkan larangan-Nya. Dengan iman dan takwa yang tebal, maka seorang individu akan tidak mudah tergiur untuk melakukan hal buruk (Wiranata, 2005). Sebagai contoh, Seseorang yang menjabat sebagai kepala rumah sakit melakukan tindakan kriminal seperti penggelapan uang.
Hal ini terjadi karena ia memiliki iman yang lemah sehingga mudah tergoda untuk melakukan tindakan tersebut demi mendapatkan keuntungan yang besar.
C. Kasus Pelanggaran Etik Profesi Tenaga Kesehatan Masyarakat
Pelanggaran Etik Masyarakat di Bidang Gizi
Kasus gizi buruk ditemukan di Wilayah Kabupaten Sorong menimpa seorang remaja bernama Carmelita (13).
Penderita gizi buruk ini ditemukan oleh Forum Komunikasi anak dan Orangtua Disabilitas (FKOD) Kab. Sorong. Carmelita tinggal bersama neneknya yang bekerja di lading. Carmelita tidak bisa mendapat asupan makanan bergizi karena kemiskinan. Kondisi ini Carmelita yang sangat kurus dan hanya terkulai lemas di tempat tidur berbeda jauh dari kesan wilayah negeri Papua yang kaya minyak bumi, gas, hutan dan alam yang eksotis. Pihak keluarga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah Kab. Sorong untuk mengobati Carmelita (Suripatty, 2005).
Pelanggaran yang dilakukan diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 23 Tahun 2014 Tentang Upaya Perbaikan Gizi Pasal 2 dan Pasal 8 sebagai berikut (Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Upaya Perbaikan Gizi, 2014):
Pasal 2
1) Pengaturan upaya perbaikan gizi ditujukan untuk menjamin (Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Upaya Perbaikan Gizi, 2014):