• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor yang Mempengaruhi Pelayanan Kesehatan

BAB 12 PERILAKU PENCARIAN PELAYANAN

F. Faktor yang Mempengaruhi Pelayanan Kesehatan

Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah hasil dari proses pencarian pelayanan oleh individu maupun kelompok tertentu untuk menggunakan fasilitas kesehatan. Feldstein 1988 mengetahui faktor-faktor yang mendorong individu untuk mau memanfaatkan jasa pelayanan kesehatan merupakan informasi kunci untuk merancang program pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan mampu dibeli oleh konsumen di masa yang akan datang (Su’udi, 2010).

Bila Permintaan (demand) dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan dianggap sebagai suatu permintaan dari masyarakat, maka berlaku teori ekonomi secara umum yang menjelaskan tentang besarnya permintaan (demand), dipengaruhi oleh:

1. Harga pelayanan

2. Harga barang lain yang terkait dengan pelayanan yang sepadan atau setara di fasilitas lain,

3. Tingkat pendapatan per kapita, 4. Selera konsumen,

5. Jumlah penduduk, 6. Distribusi pendapatan

7. Upaya pemasaran, yang dapat dikaitkan dengan kualitas pelayanan (Samuelson and Nordhaus, 2003 dalam Su'udi, 2010).

Namun, dalam pelaksanaan yang biasa terjadi, ditemukan spesifikasi dalam kebutuhan akan pelayanan

Kesehatan. Oleh karena itu, perlu pengkajian mendalam terhadap kesesuaian teori yang lebih tepat. Beberapa teori terkait pemanfaatan pelayanan kesehatan yaitu:

1. Teori Permintaan (Demand) Menurut Grossman, Mills dan Feldstein

Menurut Grossman (1972) yang dikutip dalam Su'udi, 2010, bahwa faktor yang mempengaruhi Demand terhadap pelayanan kesehatan atau rumah sakit adalah: kejadian penyakit, karakteristik kultural demografi, dan faktor ekonomi. Menurut Mills, demand terhadap pelayanan kesehatan dapat diartikan sebagai bertemunya kemampuan dan kemauan (ATP vs WTP) dalam diri seseorang.

Permintaan (demand) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Negara berkembang dapat dikaitkan dengan:

a. Faktor demografi atau karakteristik, seperti umur, pendidikan, gender dan status kesehatan,

b. Faktor ekonomi seperti pendapatan, tarif atau harga pelayanan, cara pembayaran, dan biaya transportasi c. Faktor non ekonomi seperti waktu dan kemudahan akses

mencapai pelayanan, dan kualitas pelayanan kesehatan.

Feldstein, mengemukakan bahwa faktor yang berhubungan dengan demand penderita terhadap pelayanan medis sangat berkaitan dengan faktor yang ada pada pasien dan provider kesehatan itu sendiri, antara lain:

a. Angka kejadian penyakit atau kebutuhan pelayanan dari pasien

b. Faktor sosiodemografi: umur, seks, status perkawinan, jumlah anggota keluarga dan pendidikan.

c. Faktor ekonomi: pendapatan, harga layanan, nilai waktu yang dipergunakan untuk mencari pengobatan

d. Faktor dari pelaku pelayan kesehatan, yang meliputi karakteristik provider (perilaku petugas dan jenis keahlian dokter), termasuk sudut pandang ekonomi dari petugas dalam menciptakan kebutuhan masyarakat untuk memanfaatkan layanan tertentu.

Gani tahun 1981 menyatakan bahwa permintaan pelayanan kesehatan (Demand) merupakan fungsi dari adanya kebutuhan karena adanya keluhan sakit (Need), pendidikan (Education), pekerjaan (Occupation), Preferensi (Preference), Pendapatan (Income), harga pelayanan kesehatan (Price), ketersediaan asuransi (Insurance), jarak ke pelayanan kesehatan (Distance).

2. Model Pemanfaatan Pelayanan Zschock

Faktor yang mempengaruhi seseorang menggunakan pelayanan kesehatan menurut Zschock (1979), yaitu:

a. Status kesehatan, pendapatan dan pendidikan artinya adalah semakin tinggi status kesehatan seseorang, maka ada kecenderungan orang tersebut banyak menggunakan layanan kesehatan. Sedangkan apabila pendapatan yang dihasilkan seseorang rendah, maka akan sulit pula untuk memperoleh pelayanan kesehatan, meskipun membutuhkan (unmet need). Tingkat pendidikan seseorang juga mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan seseorang.

b. Faktor konsumen dan penyedia pelayanan kesehatan.

Penyedia pelayanan kesehatan (provider mempunyai peranan besar dalam menentukan tingkat dan jenis pelayanan kesehatan bagi konsumen. Adanya consumer ignorance sering menyebabkan terjadinya over utilization pelayanan kesehatan.

c. Kemampuan dan penerimaan pelayanan Kesehatan dilihat pada kemampuan seseorang dalam membayar pelayanan Kesehatan. Hal ini erat hubungannya dengan tingkat penerimaan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan.

d. Risiko sakit dan lingkungan. Dari Keadaan ini dapat dilihat bahwa faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi status kesehatan individu dan masyarakat. Dengan lingkungan yang bersih dan sehat maka risiko penyakit yang timbul akan rendah.

3. Model Perilaku (Behavioral Model)

Menurut Anderson (1975) mengemukakan tentang pemanfaatan pelayanan kesehatan sebagai model perilaku (behavioral model of health services utilization). Determinan pemanfaatan pelayanankesehatan tersebut meliputi pada tiga faktor, yaitu:

a. Karakteristik predisposisi (Predisposing Characteristics):

Pada karakter predisposisi menggambarkan mengenai karakteristik sosial-budaya suatu individu sebelum menderita penyakit (Ramadani, 2016). Dalam hal ini dapat dilihat bahwa setiap individu memiliki kecenderungan yang berbeda untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan, tergantung pada kepercayaannya pada pelayanan Kesehatan (health belief services), struktur sosial (tingkat Pendidikan, pekerjaan, ras dan agama) serta demografi (umur, gender dan status perkawinan).

b. Karakteristik kemampuan (Enabling Characteristics): yaitu kondisi yang membuat seseorang mampu melakukan tindakan dalam memilih atau mendapatkan perawatan.

Misalnya dilihat dari sumber daya yang dimiliki baik itu dari penghasilan, kepemilikan asuransi kesehatan, daya beli dan pengetahuan tentang pelayanan kesehatan, dapat juga dilihat dari sisi sumberdaya masyarakat, ketersediaan sarana pelayanan, jumlah tenaga kesehatan, rasio penduduk dan hubungan sosial yang dimiliki setiap individu atau kelompok tertentu.

c. Karakteristik kebutuhan (Need Characteristics); yaitu kondisi paling utama suatu individu atau kelompok dalam memilih fasilitas pelayanan Kesehatan oleh karena itu sangat beralasan bila seseorang langsung berhubungan dengan permintaan layanan kesehatan (persepsi sakit, diagnosa penyakit, kecacatan, status kesehatan).

Dalam model Andersen (1995) menyatakan bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan pada era 1960-an

berfokus pada keluarga sebagai unit analisis tersebut, dengan menambahkan komponen sistem pelayanan kesehatan (health care system), pengaruh lingkungan (external environment) dan outcome dari pelayanan kesehatan terhadap kepuasan pelanggan (custumer satisfaction). Dengan begitu, maka kebutuhan yang dievaluasi akan lebih erat terkait dengan jenis dan jumlah pengobatan yang akan diberikan setelah pasien datang ke penyedia perawatan medis.

4. Teori Akses Pelayanan menurut Aday, Andersen, dan Flemming

Dalam studi Aday, Andersen dan Flemming, teori akses pelayanan kesehatan dikaitkan dengan dua faktor.

Yaitu karakteristik penduduk (user) dan karakteristik pelayanan kesehatan atau penyedia jasa (provider):

a. Karakteristik pelayanan kesehatan (provider). Yaitu ketersediaan dan distribusi fasilitas pelayanan kesehatan.

Bisa dikategorikan pada sisi supply.

b. Karakteristik penduduk berisiko (user). yaitu umur, status kesehatan, tingkat pendapatan dan kepesertaan asuransi. Dikategorikan dalam sisi demand (Aday, Andersen and Fleming, 1980 dalam Su'udi, 2010).

BAB

13

dr. Raja Al Fath Widya Iswara, M.H., Sp.FM., MHPE.

A. Pendahuluan

Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat.

Upaya pelayanan kesehatan diberikan dalam bentuk pelayanan kesehatan dalam upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif maupun pelayanan kesehatan tradisional.

Pelayanan kesehatan promotif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan.

Pelayanan kesehatan preventif adalah suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan/penyakit.

Pelayanan kesehatan kuratif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat penyakit, pengendalian penyakit, atau pengendalian kecacatan agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal mungkin.

Pelayanan kesehatan rehabilitatif adalah kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan untuk mengembalikan bekas penderita ke

HUKUM

KESEHATAN PADA

PELAYANAN

KESEHATAN

dalam masyarakat sehingga dapat berfungsi lagi sebagai anggota masyarakat yang berguna untuk dirinya dan masyarakat semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuannya. Pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan/atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

B. Hak dan Kewajiban Atas Kesehatan

Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya dibidang kesehatan.

Adapun hak atas kesehatan masyarakat Indonesia antara lain:

1. Memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau.

2. Secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya.

3. Mendapatkan lingkungan yang sehat bagi pencapaian derajat kesehatan.

4. Mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab.

5. Memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan.

Selain memiliki hak, masyarakat Indonesia juga memiliki kewajiban atas kesehatan antara lain:

1. Mewujudkan, mempertahankan, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya meliputi upaya kesehatan perseorangan, upaya kesehatan masyarakat, dan pembangunan berwawasan kesehatan.

2. Menghormati hak orang lain dalam upaya memperoleh lingkungan yang sehat, baik fisik, biologi, maupun sosial.

3. Berperilaku hidup sehat untuk mewujudkan, mempertahankan, dan memajukan kesehatan yang setinggi- tingginya.

4. Menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan bagi orang lain yang menjadi tanggung jawabnya.

5. Turut serta dalam program jaminan kesehatan sosial.

C. Tanggung Jawab Pemerintah

Dalam pelayanan kesehatan, pemerintah memiliki tanggung jawab antara lain:

1. Merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina, dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat yang dikhususkan pada pelayanan publik.

2. Bertanggung jawab atas lingkungan, tatanan, fasilitas kesehatan baik fisik maupun sosial bagi masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

3. Bertanggung jawab atas ketersediaan sumber daya di bidang kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

4. Bertanggung jawab atas ketersediaan akses terhadap informasi, edukasi, dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

5. Memberdayakan dan mendorong peran aktif masyarakat dalam segala bentuk upaya kesehatan.

6. Bertanggung jawab atas ketersediaan segala bentuk upaya kesehatan yang bermutu, aman, efisien, dan terjangkau.

7. Bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat melalui sistem jaminan sosial nasional bagi upaya kesehatan perorangan.

D. Tenaga Kesehatan

Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di

bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

Tenaga kesehatan di Indonesia dikelompokkan ke dalam beberapa kategori antara lain:

1. Tenaga medis yang terdiri atas dokter, dokter gigi, dokter spesialis dan dokter gigi spesialis.

2. Tenaga psikologi klinis.

3. Tenaga keperawatan yang terdiri atas berbagai jenis perawat.

4. Tenaga kebidanan.

5. Tenaga kefarmasian yang terdiri atas apoteker dan teknis kefarmasian.

6. Tenaga kesehatan masyarakat yang terdiri atas epidemiolog kesehatan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan kerja, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga biostatistik dan kependudukan serta tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga.

7. Tenaga kesehatan lingkungan yang terdiri atas tenaga sanitasi lingkungan, entomolog kesehatan dan mikrobiologi kesehatan.

8. Tenaga gizi yang terdiri atas nutrisionis dan dietisien.

9. Tenaga keterapian fisik yang terdiri atas fisioterapis, okupasi terapis, terapi wicara dan akupuntur.

10. Tenaga keteknisian medis yang terdiri atas perekam medis dan informasi kesehatan, teknik kardiovaskuler, teknis pelayanan darah, refraksionis optisien/optometris, teknisi gigi, penata anestesi, terapis gigi dan mulut, dan audiologis.

11. Tenaga teknik biomedika yang terdiri atas radiografer, elektromedis, ahli teknologi laboratorium medik, fisikawan medik, radioterapis dan ortotik prostetik.

12. Tenaga kesehatan tradisional yang terdiri atas tenaga kesehatan tradisional ramuan dan tenaga kesehatan tradisional keterampilan.

Dalam menjalankan praktik, tenaga kesehatan memiliki hak antara lain:

1. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan Standar Profesi, Standar Pelayanan Profesi dan Standar Prosedur Operasional.

2. Memperoleh informasi yang lengkap dan benar dari penerima pelayanan kesehatan atau keluarganya.

3. Menerima imbalan jasa.

4. Memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia, moral, kesusilaan, serta nilai-nilai agama.

5. Mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan profesinya.

6. Menolak keinginan penerima pelayanan kesehatan atau pihak lain yang bertentangan dengan standar profesi, kode etik, standar pelayanan, Standar Prosedur Operasional, atau ketentuan Peraturan Perundang-Undangan.

7. Memperoleh hak lain sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan.

Selain memiliki hak, tenaga kesehatan memiliki kewajiban antara lain:

1. Memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan Standar Profesi, Standar Pelayanan Profesi, Standar Prosedur Operasional, dan etika profesi serta kebutuhan kesehatan Penerima Pelayanan Kesehatan.

2. Memperoleh persetujuan dari Penerima Pelayanan Kesehatan atau keluarganya atas tindakan yang akan diberikan.

3. Menjaga kerahasiaan kesehatan Penerima Pelayanan Kesehatan.

4. Membuat dan menyimpan catatan dan/atau dokumen tentang pemeriksaan, asuhan, dan tindakan yang dilakukan.

5. Merujuk Penerima Pelayanan Kesehatan ke Tenaga Kesehatan lain yang mempunyai kompetensi dan kewenangan yang sesuai.

E. Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun

rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.

Pelayanan kesehatan terdiri atas pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat. Pelayanan kesehatan perseorangan ditujukan untuk menyembuhkan penyakit danmemulihkan kesehatan perseorangan dan keluarga. Pelayanan kesehatan masyarakat ditujukan untuk memelihara dan meningkatkankesehatan serta mencegah penyakit suatu kelompok dan masyarakat.

Dalam praktiknya, fasilitas pelayanan kesehatan memiliki kewajiban antara lain:

1. Memberikan akses yang luas bagi kebutuhan penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan.

2. Mengirimkan laporan hasil penelitian dan pengembangan kepada Pemerintah Daerah atau Menteri.

3. Memberikan pelayanan kesehatan bagi penyelamatan nyawa pasien dan pencegahan kecacatan terlebih dahulu pada kondisi darurat.

Peningkatan kesehatan merupakan segala bentuk upaya yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat untuk mengoptimalkan kesehatan melalui kegiatan penyuluhan, penyebarluasan informasi, atau kegiatan lain untuk menunjang tercapainya hidup sehat. Pencegahan penyakit merupakan segala bentuk upaya yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat untuk menghindari atau mengurangi risiko, masalah, dan dampak buruk akibat penyakit. Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin dan menyediakan fasilitas untuk kelangsungan upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.

Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan diselenggarakan untuk mengembalikan status kesehatan, mengembalikan fungsi tubuh akibat penyakit dan/atau akibat cacat, atau menghilangkan cacat. Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dilakukan dengan pengendalian, pengobatan, dan/atau perawatan. Pengendalian, pengobatan,

dan/atau perawatan dapat dilakukan berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan atau cara lain yang dapat dipertanggungjawabkan kemanfaatan dan keamanannya pelaksanaan pengobatan dan/atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu.

Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan pengobatan dan/atau perawatan atau berdasarkan cara lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dapat dilakukan melalui transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh, implan obat dan/atau alat kesehatan, bedah plastik dan rekonstruksi, serta penggunaan sel punca.

F. Perlindungan Pasien

Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh tindakanpertolongan yang akan diberikan kepadanya setelah menerima dan memahami informasi mengenai tindakan tersebut secara lengkap. Hak menerima atau menolak tidak berlaku pada penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara cepat menular ke dalam masyarakat yang lebih luas, keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri atau gangguan mental berat.

Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan pribadinya yang telah dikemukakan kepada penyelenggara pelayanan kesehatan. Ketentuan mengenai hak atas rahasia kondisi kesehatan pribadi sebagaimana dimaksud tidak berlaku dalam hal perintah undang-undang, perintah pengadilan, izin yang bersangkutan, kepentingan masyarakat atau kepentingan orang tersebut.

Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau

kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang diterimanya.

Tuntutan ganti rugi tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan darurat.

G. Pelayanan Kesehatan Tradisional

Berdasarkan cara pengobatannya, pelayanan kesehatan tradisional terbagi menjadi pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan keterampilan dan pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan ramuan.

Pelayanan kesehatan tradisional dibina dan diawasi oleh Pemerintah agar dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya serta tidak bertentangan dengan norma agama.

Setiap orang yang melakukan pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan alat dan teknologi harus mendapat izin dari lembaga yang berwenang. Penggunaan alat dan teknologi harus dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya serta tidak bertentangan norma agama dan kebudayaan masyarakat.

Masyarakat diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan, meningkatkan dan menggunakan pelayanan kesehatan tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya.

Pemerintah mengatur dan mengawasi pelayanan kesehatan tradisional dengan didasarkan pada keamanan, kepentingan dan perlindungan masyarakat.

H. Rumah Sakit

Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah Sakit diselenggarakan berdasarkan Pancasila dan didasarkan pada nilai kemanusiaan, etika dan profesionalisme, manfaat, keadilan, persamaan hak dan anti diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi sosial.

Pengaturan penyelenggaraan rumah sakit bertujuan:

1. Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

2. Memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit.

3. Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit.

4. Memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber daya manusia rumah sakit, dan Rumah Sakit.

Rumah Sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Untuk menjalankan tugas tersebut, maka Rumah Sakit mempunyai fungsi:

1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.

2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.

3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pelayanan kesehatan.

4. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

I. Puskesmas

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.

Prinsip penyelenggaraan Puskesmas meliputi paradigma sehat, pertanggungjawaban wilayah, kemandirian masyarakat, pemerataan, teknologi tepat guna, serta keterpaduan dan kesinambungan.

Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Puskesmas menyelenggarakan fungsi penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya dan penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya.

Upaya kesehatan masyarakat (UKM) esensial meliputi pelayanan promosi kesehatan; pelayanan kesehatan lingkungan; pelayanan kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana; pelayanan gizi; serta pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit.

Upaya kesehatan perseorangan (UKP) tingkat pertama dilaksanakan dalam bentuk rawat jalan, pelayanan gawat darurat, pelayanan satu hari (one day care), home care dan atau rawat inap berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan kesehatan.

Untuk melaksanakan upaya kesehatan, Puskesmas harus menyelenggarakan manajemen Puskesmas, pelayanan kefarmasian, pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat, dan pelayanan laboratorium.

J. Sanksi Administratif Pada Pelayanan Kesehatan 1. Tenaga Kesehatan

Pada pasal 82 Undang-Undang No 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan yang berbunyi:

“Setiap tenaga kesehatan yang tidak melaksanakan ketentuan antara lain praktik mandiri wajib memasang papan nama praktik; mengikuti proses evaluasi kompetensi; memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan profesi, standar prosedur operasional, dan etika profesi serta kebutuhan kesehatan penerima pelayanan kesehatan;

memperoleh persetujuan dari penerima pelayanan kesehatan atau keluarganya atas tindakan yang akan diberikan; menjaga kerahasiaan kesehatan penerima pelayanan kesehatan; membuat dan menyimpan catatan dan/atau dokumen tentang pemeriksaan, asuhan, dan tindakan yang dilakukan; merujuk penerima pelayanan kesehatan ke tenaga kesehatan lain yang mempunyai kompetensi dan kewenangan yang sesuai; memberikan pertolongan pertama kepada penerima pelayanan kesehatan dalam keadaan gawat darurat dan/atau pada bencana untuk penyelamatan nyawa dan pencegahan kematian; dikenai sanksi administratif dapat berupa teguran lisan, peringatan tertulis, denda administratif, dan/atau pencabutan izin praktik.”

2. Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Pada pasal 82 Undang-Undang No 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan yang berbunyi:

“Setiap fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak melaksanakan ketentuan antara lain Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau kepala daerah yang membawahi fasilitas pelayanan kesehatan harus mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan lokasi serta keamanan dan keselamatan kerja Tenaga Kesehatan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan; menyimpan dan menjaga kerahasiaan rekam medis; dilarang mengizinkan tenaga kesehatan yang tidak memiliki STR dan izin untuk menjalankan praktik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan; dikenai sanksi administratif dapat

berupa teguran lisan, peringatan tertulis, denda administratif, dan/atau pencabutan izin.”

K. Sanksi Pidana Pada Pelayanan Kesehatan 1. Pelayanan Kesehatan Gawat Darurat

Pada pasal 190 Undang-Undang No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yang berbunyi:

[1] Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan yang melakukan praktik atau pekerjaan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang dengan sengaja tidak memberikan pertolongan pertama terhadap pasien yang dalam keadaan gawat darurat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

[2] Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan terjadinya kecacatan atau kematian, pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan tersebut dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

2. Pelayanan Kesehatan Tradisional

Pada pasal 191 Undang-Undang No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yang berbunyi:

“Setiap orang yang tanpa izin melakukan praktik pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan alat dan teknologi tanpa izin dari lembaga kesehatan yang berwenang sehingga mengakibatkan kerugian harta benda, luka berat atau kematian dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah).”

3. Jual Beli Organ

Pada pasal 192 Undang-Undang No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yang berbunyi: