BAB 6 PERMASALAHAN KODE ETIK KESEHATAN
C. Kasus Pelanggaran Etik Profesi Tenaga Kesehatan
Pelanggaran Etik Masyarakat di Bidang Gizi
Kasus gizi buruk ditemukan di Wilayah Kabupaten Sorong menimpa seorang remaja bernama Carmelita (13).
Penderita gizi buruk ini ditemukan oleh Forum Komunikasi anak dan Orangtua Disabilitas (FKOD) Kab. Sorong. Carmelita tinggal bersama neneknya yang bekerja di lading. Carmelita tidak bisa mendapat asupan makanan bergizi karena kemiskinan. Kondisi ini Carmelita yang sangat kurus dan hanya terkulai lemas di tempat tidur berbeda jauh dari kesan wilayah negeri Papua yang kaya minyak bumi, gas, hutan dan alam yang eksotis. Pihak keluarga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah Kab. Sorong untuk mengobati Carmelita (Suripatty, 2005).
Pelanggaran yang dilakukan diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 23 Tahun 2014 Tentang Upaya Perbaikan Gizi Pasal 2 dan Pasal 8 sebagai berikut (Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Upaya Perbaikan Gizi, 2014):
Pasal 2
1) Pengaturan upaya perbaikan gizi ditujukan untuk menjamin (Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Upaya Perbaikan Gizi, 2014):
a. Setiap Orang memiliki akses terhadap informasi gizi dan pendidikan gizi; 2014, No.967 4
b. Setiap Orang terutama kelompok rawan gizi memiliki akses terhadap pangan yang bergizi; dan
c. Setiap Orang memiliki akses terhadap pelayanan gizi dan kesehatan.
2) Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui (Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Upaya Perbaikan Gizi, 2014):
a. Perbaikan Pola konsumsi makanan yang sesuai dengan gizi seimbang;
b. Perbaikan Perilaku sadar gizi, aktivitas fisik, dan kesehatan;
c. Peningkatan Akses dan mutu pelayanan gizi yang sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi; dan
d. Peningkatan Sistem kewaspadaan pangan dan gizi Pasal 8
1) Setiap orang harus mengkonsumsi makanan sesuai dengan standar angka kecukupan gizi.
2) Menteri menetapkan standar angka kecukupan gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya setiap 4 (empat) tahun sekali.
3) Dalam menetapkan angka kecukupan gizi sebagaimana dimaksud ayat (2) Menteri mempertimbangkan rekomendasi kelompok kerja nasional di bidang pangan dan gizi.
4) Kelompok kerja nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibentuk dan ditetapkan oleh Menteri.
5) Standar angka kecukupan gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan untuk:
a. Acuan dalam menilai kecukupan gizi;
b. Acuan dalam menyusun makanan sehari-hari;
c. Acuan perhitungan dalam perencanaan penyediaan pangan tingkat regional maupun nasional;
d. Acuan pendidikan gizi; dan
e. Acuan label pangan yang mencantumkan informasi nilai gizi.
(Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Upaya Perbaikan Gizi, 2014)
Pelanggaran di Bidang Epidemiologi
Permasalahan yang terjadi di bidang Epidemiologi yaitu Di suatu desa terjadi KLB DBD, ketika masyarakat meminta bantuan dari pihak puskesmas untuk melakukan fogging pihak puskesmas menolak dengan alasan desa tersebut tidak memenuhi kriteria untuk fogging.
Pelanggaran yang dilakukan diatur dalam UU No. 36 Tentang Kesehatan dalam pasal 3 sebagai berikut (Undang- Undang N0. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, 2009).
Pasal 3
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.
Pelanggaran di Bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja Nahas dialami dua pekerja bangunan ini. Mereka tewas kesetrum saat membuat gudang di lantai dua sebuah gedung di Banyumas, Jawa Tengah. Suwarno dan Tasiran (35), warga Kecamatan Sokaraja dan Kecamatan Kembaran, tewas ditemukan tewas di gedung yang terletak di Kelurahan Berkoh, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis siang. Saat itu, keduanya sedang mengambil batu bata di atas bangunan.
Namun mereka tidak menyadari bahwa diatas mereka melintang sebuah kawat listrik bertegangan tinggi. Tafsiran tersengat terlebih dahulu pada bagian tangannya. Saat itu dia berusaha melepaskan diri dari kawat. Sementara Suwarno yang
berusaha menolong justru ikut tersengat. Keduanya langsung menempel di kawat listrik dan meninggal di lokasi. Yanto, mandor bangunan mengatakan, saat itu dirinya sudah mengingatkan agar berhati-hati terhadap kawat listrik yang melintang. Apalagi, kawat listrik ini hanya berjarak 50 sentimeter dari bangunan lantai dua di mana pekerja membuat bangunan. “Setiap pagi akan bekerja, saya selalu mengingatkan para buruh agar hati-hati. Tapi saat kejadian saya belum berada di lokasi,” ujar Yanto di lokasi, Kamis (17/3/2011).
Mendapat laporan, aparat Polsek Purwokerto Timur dan Polres Banyumas langsung memeriksa kondisi korban dan lokasi kejadian. Kedua korban masih berada di Rumah Sakit Sinar Kasih Purwokerto untuk di autopsi. Kasus ini masih dalam penanganan aparat Polres Banyumas. Polisi juga memeriksa pemilik bangunan yang diduga belum mengurus izin pembangunan ke dinas setempat (Ayyubi, 2011).
Terjadinya kecelakaan ini disebabkan adanya pelanggaran terhadap UU NO.1 TAHUN 1970 tentang keselamatan kerja. (Pemerintah Indonesia, 1970):
1) Pelanggaran pada pasal 3 ayat 1q yang berbunyi“ mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya”.
2) Pelanggaran pada pasal 3 ayat 1r yang berbunyi
“menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerja yang berbahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi“.
3) Dan adanya pelanggaran pada pasal 9 yang berbunyi
“pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang:
a. Kondisi-kondisi dan bahaya-bahaya serta yang dapat timbul dalam tempat kerja;
b. Semua pengamanan dan alat-alat perlindungan yang diharuskan dalam tempat kerjanya;
c. Alat-alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan;
d. Cara-cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya.
4) Dan diketahui juga terjadi pelanggaran pada pasal 3 ayat 1 yang berbunyi “memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja”.
5) UU no 13 tahun 2003
a. Pasal 86 ayat 1A yang berbunyi: “Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja”
b. Pasal 87 ayat 1 yang berbunyi: “Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen kesehatan”.
Pelanggaran Etika Lingkungan
Pembakaran Limbah Medis RSUD Bangli. Dunia medis biasanya identik dengan lingkungan yang bersih dan jauh dari pencemaran atau polusi. Tetapi bagaimana apabila pencemaran tersebut justru dilakukan sendiri oleh pihak medis. Kasus inilah yang terjadi di daerah Bangli, di mana pembakaran limbah medis yang dilakukan oleh Rumah Sakit Umum Daerah Bangli berdampak buruk terhadap masyarakat sekitar. Kepulan asap hitam dan disusul dengan debu yang berjatuhan di area pemukiman membuat masyarakat terkadang mengunci putra putri mereka dikamar agar tidak menghirup asap ataupun debu yang berjatuhan akibat adanya pembakaran limbah (Anonim, 2011).
Mesin incinerator yang digunakan untuk melakukan pembakaran jaraknya juga sangat dekat dengan pemukiman warga sekitar 3 meter dan bau yang ditimbulkan oleh asap dan debu hasil pembakaran sangatlah menyengat sehingga warga tidak dapat melakukan aktivitas di pekarangan/ halaman rumah serta tidak jarang pula debu-debu hasil pembakaran yang berupa gumpalan hitam mengotori lingkungan termasuk jemuran warga.
Dalam hal ini, pihak rumah sakit tidak menjalankan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), UU No. 32 Tahun 2009 (Ilham Nur, 2016).
BAB
7
Anita Rosanty. SST, M.Kes.
A. Pendahuluan
Orientasi utama sebuah profesi dengan mendayagunakan keahlian yang dimiliki setiap individu melalui pendidikan formal dan non formal untuk kepentingan masyarakat secara umum. Kode etik profesi kesehatan memiliki kaidah dan standar moral tinggi, serta memiliki pendidikan, keterampilan untuk modal dalam bekerja yang dilindungi oleh aturan hukum. Pelayanan kepada individu, kelompok, masyarakat dibutuhkan tenaga kesehatan yang profesional dibidangnya masing-masing sehingga masyarakat dapat merasakan langsung dan sekaligus terlindungi dari setiap pelayanan yang diterima dari profesi tenaga kesehatan manapun. Sehingga setiap tenaga kesehatan memiliki ciri dan kompetensi dalam bekerja di layanan seperti puskesmas, Rumah sakit, klinik bersama, laboratorium harus memiliki kode etik profesi dalam organisasi profesi kesehatan.Seiring dengan perkembangan teknologi serta kemudahan akses informasi dalam pelayanan kesehatan serta peningkatan ilmu pengetahuan, teknologi dan adanya pergeseran budaya, gaya hidup, tata nilai di masyarakat modern, membuat masyarakat lebih peka dan kritis yang dapat menimbulkan permasalahan etik termasuk memberi penilaian terhadap pelayanan yang diterimanya. Ketika masyarakat tidak puas dalam pelayanan dari tenaga kesehatan (Nakes), atau merasa dirugikan oleh tenaga kesehatan, bisa dimejahijaukan, untuk itu perlu
KODE ETIK PROFESI
KESEHATAN
ditingkatkan pelayanan kesehatan melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan sesuai kebutuhan masyarakat dan kepekaan masyarakat tentang hukum atau nilai moral yang terkandung dalam pelayanan primer sesuai tuntutan profesi Kesehatan (Tutu Suseno, 2010).
B. Kode Etik Profesi Kesehatan
Kode etik profesi kesehatan diartikan sebagai model profesi sebagai panduan dari nilai – nilai dari dalam dan luar setiap disiplin ilmu yang komprehensif oleh profesi yang mengarahkan bagi setiap anggota/tenaga nakes dalam melaksanakan pengabdian, pelayanan kesehatan. Kode etik disusun oleh profesi berdasarkan keyakinan, kesadaran profesional atau tanggung jawab pada kekuatan moral dan kemampuan manusia (Depkes,2002). Kode etik adalah Petunjuk serta anjuran agar profesi berusaha mengembangkan kualitas profesi sesuai bidang pengabdiannya, dan mengatur agar tetap terpelihara dalam meningkatkan mutu organisasi profesi (Herlambang, 2011).
1. Pengertian Kode Etik
Aturan atau standar yang berlaku yang digunakan sebagai pedoman perilaku sebagai kerangka kerja dalam membuat keputusan sehingga kejadian pelanggaran etik dapat dihindari dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
Sistem pelayanan secara profesional harus tertulis secara tegas menyampaikan apa yang benar, baik, dan apa yang tidak benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan atau dihindari dengan tujuan untuk melindungi profesi dalam bekerja secara profesional.
Setiap organisasi profesi memiliki kode etik masing – masing, jika ada pelanggaran etik akan diberi sanksi oleh majelis kode etik dari profesi bukan pengadilan (Fanani, 2011).
2. Pengertian Profesi Kesehatan
Profesi secara etimologi dari bahasa latin Profeus, yaitu mengakui, mampu, ahli dalam bekerja. Profesi yaitu pekerjaaan yang memiliki pendidikan tinggi bagi pelakunya, atau pekerjaan yang membutuhkan pelatihan khusus atau keterampilan tertentu (profesi tenaga kesehatan).
Profesi didefinisikan kelompok individu dalam sebuah disiplin ilmu yang mematuhi standar etika tertentu, mempunyai pengetahuan dan skill khusus dalam bidang pembelajaran yang diakui secara luas yang berasal dari penelitian, pendidikan, dan pelatihan pada tingkat tinggi, dan diakui oleh masyarakat mengacu tiga pilar pokok yang ditujukan sebagai profesi yaitu: pengetahuan, keahlian dan persiapan akademik (Ketut Mendri, no date).
a. Pengetahuan sebagai fenomena yang diketahui, sistematis dengan memiliki daya prediksi, daya kontrol, aplikasi tertentu. Pada tingkat lebih tinggi pengetahuan atau kognitif yang diperoleh melalui proses belajar.
b. Keterampilan bermakna sebagai kemampuan keilmuan yang dapat digunakan sebagai acuan dalam bertindak, keahlian sama dengan kepakaran dalam bidang ilmu tertentu.
c. Persiapan akademik mengandung derajat profesional atau jenis profesi tertentu, dengan persyaratan pendidikan khusus.
Pekerjaan dan profesi kesehatan, dua kata selalu beriringan dalam penggunaan secara bergantian, pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan dengan imbalan nilai moneter, sedangkan profesi kesehatan adalah pekerjaan sebagai tenaga kesehatan dengan pelatihan pendidikan khusus sesuai table dibawah:
Tabel 7.1. Perbedaan Antara Etik, Profesi & Pekerjaan dan Profesi (Ketut Mendri, No Date)
No ETIK PROFESI PEKERJAAN
1 Mengatur prilaku pelaksanaan pengembangan profesi.
Ada etika yang mengatur
Tidak ada etika yang mengatur hanya dilakukan dengan imbalan moneter.
2 Dibuat berdasarkan kesepakatan anggota profesi
Profesi diatur oleh badan pemerintahan dan
mengharuskan seseorang lulus ujian untuk memenuhi syarat profesinya.
Pekerjaan sering berjangka pendek dan dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan hidup seseorang.
3 Sangsinya dapat berupa hukuman disiplin oleh komisi etik bukan pada pengadilan.
Menghasilkan jasa bagi orang lain
Tidakmenghasilkan jasa bagi orang lain dan tidak menjamin kehidupan
masyarakat dalam jangka pendek.
4 Kontrol dan penilaian atas pelaksanaannya dilakukan oleh organisasi profesi,
Tidak ada campur tangan orang lain
Ada campur tangan orang lain dan tergantung jenis pekerjaan seperti purnawaktu, paruh waktu, musiman, sementara, kontrak &
wirausaha.
No ETIK PROFESI PEKERJAAN 5 Etik tidak
seluruhnya tertulis
Profesi
Kesehatan: dokter umum, gigi, perawat, bidan, ahli gizi,
apoteker, farmasi, teknologi
laboratorium medis, dll.
Jam kerja tergantung jenis pekerjaan yang sudah diatur berkisar dari satu jam sampai 9 jam/hari.
6 Penyelesaian pelanggaran etik tidak selalu disertai bukti fisik.
Melalui komisi etik dan hukum yang ada di pelayanan yang mewakili setiap organisasi profesi masing – masing.
Tidak ada sanksi tetapi lebih ke pemenuhan kebutuhan dasar.
Pekerjaan profesi (professio berarti pengakuan) diharuskan memiliki pendidikan dan latihan untuk bekerja dengan mencirikan sebagai berikut:
a. Pendidikan sesuai standar nasional.
b. Mengutamakan sesuai panggilan kemanusiaan c. Berdasarkan etik profesi dan mengikat seumur hidup d. Legal melalui perizinan
e. Belajar sepanjang hayat
f. Organisasi profesi memiliki anggota yang bergabung (Jusuf Hanafiah, 2016).
C. Jenis Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan adalah setiap individu yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta mempunyai pengetahuan dan atau keterampilan menempuh jalur pendidikan di bidang kesehatan sesuai minat seseorang dengan bidang tertentu dengan kewenangan untuk melakukan upaya
kesehatan sesuai peraturan pemerintah No 32 Tahun 1996 tentang tenaga kesehatan di Indonesia pada pasal 2 yaitu:
1. Tenaga kesehatan terdiri dari:
a. Tenaga medis b. Tenaga keperawatan c. Tenaga keparmasian
d. Tenaga kesehatan masyarakat e. Tenaga gizi
f. Tenaga keterapian fisik g. Tenaga keteknisian medis.
2. Tenaga medis meliputi: tenaga dokter dan dokter gigi 3. Tenaga keperawatan meliputi perawatan dan kebidanan 4. Tenaga kefarmasian meliputi: apoteker, analis farmasi,
asisten apoteker
5. Tenaga kesehatan masyarakat meliputi epidemiologi kesehatan, entomologi kesehatan, mikrobiologi kesehatan, penyuluhan kesehatan, administrator kesehatan, dan sanitarian.
6. Tenaga gizi meliputi: nutrisionis, dan dietisien.
7. Tenaga keterapian fisik meliputi fisioterapis, terapi wicara, terapi okupasi.
8. Tenaga keteknisian medis meliputi: radiografer, radioterapia, teknisi gigi, teknisi elektromedik, analis kesehatan, refraksionis optisien, otorik prostetik, teknisi transfusi, dan perekam medis (Etik dan Hukum di Bidang Kesehatan. Kedua, 2006)
Setiap tenaga kesehatan mempunyai syarat – syarat dalam profesi kesehatan yaitu:
1. Melibatkan kegiatan intelektual
2. Menggeluti Suatu batang tubuh keilmuan khusus
3. Memerlukan persiapan profesional alami dan bukan sekedar latihan.
4. Memerlukan kemampuan dalam jabatan yang berkesinambungan
5. Menjanjikan jenjang karir dan keanggotaan yang permanen
6. Mementingkan layanan diatas keuntungan pribadi
7. Memiliki organisasi yang profesional serta kuat & terjalin erat
8. Menentukan standar kode etik yang baku (Ketut Mendri, no date).
Memiliki karakteristik sebagai berikut.
1. Menghasilkan produk etika terapan yang berdasarkan nilai - nilai pada konsep – konsep pemikiran etis atas suatu profesi tertentu.
2. Merupakan hasil “self regulation” dari profesi itu sendiri yang mewujudkan nilai – nilai etik yang sangat hakiki, dengan prinsip tidak dipaksakan dari luar.
3. Di jiwa atau cita – cita yang hidup bagi anggota profesi itu sendiri, tidak efektif bila diintervensi pengelolaannya oleh pemerintah.
4. Bertujuan untuk mencegah terjadinya perilaku yang tidak etis, dan berkewajiban untuk melaporkan setiap ada pelanggaran pada komisi etik
5. Bersifat dinamis, bisa diubah dan berubah sesuai perkembangan IPTEK.
Sosialisasi kode etik bagi profesi kesehatan:
1. Kode etik sebagai alat kontrol sosial
2. Kode etik dapat mencegah pengawasan atau campur tangan yang dilakukan oleh pihak luar bukan kalangan profesi.
3. Kode etik perlu untuk pengembangan petunjuk baku dari kehendak manusia yang lebih tinggi berdasarkan moral.
Tahapan Operasionalisasi kode etik bagi tenaga profesi kesehatan:
1. Melindungi anggota organisasi untuk menghadapi persaingan pekerjaan profesi yang tidak jujur serta mengembangkan tugas profesi yang sesuai dengan kepentingan masyarakat.
2. Menjalin hubungan antara anggota profesi satu dengan yang lain dan menjaga nama baik profesi.
3. Mendukung perkembangan profesi dan setiap anggota profesi diharapkan memiliki kualifikasi pendidikan yang memadai (sarjana)
4. Mencerminkan hubungan antara pekerjaan profesi dengan pelayanan masyarakat dan kesejahteraan sosial.
5. Mengurangi konflik antara anggota maupun dengan masyarakat pengguna layanan secara umum.
6. Membentuk ikatan yang kuat bagi semua anggota dan melindungi profesi terhadap norma hukum yang bersifat norma moral profesi(Herlambang, 2011).
Manfaat etik profesi tenaga kesehatan yaitu:
1. Adanya pertanggungjawaban dari tenaga kesehatan bagi pasien yang menerima layanan kesehatan.
2. Mengurangi terjadinya pelanggaran yang dapat merugikan masyarakat.
3. Menghasilkan keputusan etis dari tenaga kesehatan dalam melakukan penanganan medis, melalui keputusan etis yang bermanfaat untuk mencapai pendirian moral dalam pergolakan pandangan misalnya (penggunaan obat tradisional, membantu agar tidak kehilangan orientasi utama dalam menolong), tidak naif/ekstrem dalam merawat pasien atau diskriminasi), dan menemukan dasar kemantapan iman.
Kode etik profesi kesehatan bertujuan.
1. Menjunjung tinggi martabat dan citra profesi, dengan menjaga citra organisasi dan mencegah orang luar memandang rendah suatu profesi tersebut.dan melarang anggotanya berperilaku tidak baik yang dapat mencemarkan nama baik profesi.
2. Untuk menjaga serta meningkatkan penghasilan para anggota yaitu kesejahteraan material, spiritual dan mental, dengan menekankan larangan bagi anggotanya untuk menjaga perilaku agar tidak melanggar norma etika, moral yang dapat merugikan orang lain. Kode etik mengatur
perilaku anggota profesi kesamaan dalam berinteraksi dengan baik antara sesama anggota profesi.
3. Meningkatkan pengabdian anggota profesi kesehatan untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai profesi, dan merumuskan ketetapan bersama yang perlu dilakukan oleh semua anggotanya dalam menjalankan tugasnya.
4. Meningkatkan mutu, kode etik menjelaskan tentang norma, nilai atau petunjuk agar mutu profesi searah bidang pengabdiannya (Ketut Mendri, no date).
D. Tanggung Jawab Hukum dan Etika Profesi Tenaga Kesehatan 1. Kode Etik Profesi Kedokteran
Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) sesuai keputusan Menteri Kesehatan RI No 434 (Menkes/SK/X/1963) disusun dengan mempertimbangkan International Code of Medical Ethics dengan landasan Idiil Pancasila dan landasan struktural UUD 1945, yang mengatur hubungan antara manusia yang memiliki kewajiban umum sebagai seorang dokter, peran dokter terhadap pasiennya, kewajiban dokter terhadap sejawatnya, dan kewajiban terhadap diri sendiri sebagai dokter (Etik dan Hukum di Bidang Kesehatan. Kedua, 2006).
a. Hubungan Pasien dengan Dokter
Hubungan antara manusia sering terjadi pertentangan antara dokter dengan pasien karena masing – masing memiliki nilai – nilai/ budaya yang berbeda, hubungan dokter – pasien yang baik dapat dicapai apabila masing – masing pihak menyadari akan hak dan kewajibannya, dan memahami aturan perundang – undangan yang berlaku sesuai lapas sumpah dokter yang berbunyi saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita, saya akan berjanji dengan sebenar - benarnya agar tidak terpengaruh oleh pertimbagan keagamaan, kebangsaan, kesukuan,
perbedaan kelamin, politik, atau kedudukan sosial dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita.
b. Hubungan Dokter dengan Teman Sejawat
Etika kedokteran mewajibkan setiap dokter untuk menjaga hubungan baik dengan sesama teman sejawat sesuai dengan makna suatu kalimat dalam kode etik kedokteran Indonesia pasal 15 “Saya akan memperlakukan teman sejawat saya, sebagaimana saya sendiri ingin diperlakukan”, pasal 16 “setiap dokter tidak diperkenankan mengambil alih pasien dari teman sejawatnya tanpa persetujuannya”
c. Kewajiban Seorang Dokter pada Diri Sendiri
Setiap dokter berkewajiban memelihara kesehatannya agar bisa bekerja dengan baik (KODEKI pasal 17), dan pasal 18 menyebutkan “setiap dokter tetap mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan”, dan dapat mengikuti pendidikan dokter berkelanjutan (Continuing Medical Education). Kode etik kedokteran adalah pedoman perilaku yang berisi garis – garis besar yaitu 1) Etik jabatan kedokteran (medical ethics) yang
menyangkut permasalahan yang berkaitan sikap dokter terhadap teman sejawat, para pembantunya serta terhadap masyarakat dan pemerintah.
2) Asuhan etik kedokteran (ethics of medical care) etik kedokteran untuk kehidupan sehari – hari yaitu sikap, tindakan seorang dokter pada setiap pasiennya yang menjadi tanggung jawabnya dapat dibedakan sebagai berikut:
2. Kode Etik Profesi Keperawatan yang Dikeluarkan oleh DPP PPNI
a. Tanggung Jawab Terhadap Klien
1) Perawat dalam melaksanakan pengabdiannya, senantiasa berpedoman pada tanggung jawab
berdasarkan dari kebutuhan keperawatan baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
2) Perawat dalam melaksanakan pengabdiannya dibidang keperawatan, selalu memelihara iklim lingkungan kerja yang menghormati nilai- nilai budaya, adat istiadat, serta kelangsungan hidup beragama secara individu, keluarga dan masyarakat.
3) Dalam melaksanakan komitmennya sebagai individu, keluarga, masyarakat, senantiasa dilandasi rasa tulus ikhlas sesuai dengan tradisi luhur dan martabat keperawatan dalam bertugas.
4) Senantiasa membina hubungan baik dan bekerja sama pada individu, keluarga, serta masyarakat dalam mengambil prakarsa dalam melaksanakan upaya kesehatan, serta upaya kesejahteraan umum sebagai tugas dan kewajiban untuk keperluan masyarakat.
b. Tanggung Jawab terhadap Tugas
1) Perawat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan, menerapkan pengetahuan dan kejujuran secara profesional, keterampilan keperawatan, sesuai kebutuhan individu, keluarga, dan masyarakat.
2) Perawat harus merahasiakan semua yang diketahuinya dalam bertugas, kecuali diperlukan oleh hukum.
3) Perawat tidak akan menggunakan pengetahuannya dan keterampilan keperawatannya bila tidak sesuai dengan norma – norma kemanusiaan.
4) Perawat dalam bertugas selalu berusaha penuh kesadaran untuk tidak terpengaruh oleh pertimbangan, suku, ras, umur, jenis kelamin, aliran politik, agama dan kebangsaan.
5) Perawat selalu mengutamakan perlindungan dan keselamatan klien dalam melaksanakan tugas keperawatan dan mampu dalam mempertimbangkan untuk menerima atau mengalihtugaskan/serah terima tanggung jawab keperawatan.
c. Tanggung Jawab terhadap Teman Sejawat
1) Perawat senantiasa menjaga hubungan baik dengan semua perawat atau tenaga kesehatan lain. Baik dalam memelihara kerahasiaan dalam lingkungan kerja maupun dalam pelayanan kesehatan agar tujuan tercapai secara menyeluruh.
2) Perawat senantiasa menyebarluaskan atau mengembangkan pengetahuan, skill dan pengalaman kesemua perawat, mampu menerima pengetahuan dan keterampilan dari profesi lain, untuk meningkatkan kemampuan sebagai tenaga keperawatan.
d. Tanggung Jawab terhadap Profesi
1) Perawat senantiasa berusaha mengembangkan kemampuan profesional secara sendiri – sendiri atau bersama – sama dengan jalan mengembangkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang bermanfaat bagi perkembangan keperawatan.
2) Perawat senantiasa menjaga nama baik profesi keperawatan dengan memperlihatkan perilaku dan sifat pribadi yang luhur.
3) Perawat senantiasa berperan sebagai penentu dalam pembakuan pendidikan untuk pelayanan keperawatan serta menerapkan dalam kegiatan dan pendidikan keperawatan.
4) Perawat bersama – sama memelihara dan membina mutu organisasi profesi sebagai sarana pengabdian keperawatan.
e. Tanggung Jawab Terhadap Pemerintah, Bangsa dan Negara
1) Perawat senantiasa melaksanakan ketentuan- ketentuan sebagai kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam bidang keperawatan dan kesehatan.