BAB 7 KODE ETIK PROFESI KESEHATAN
D. Tanggung Jawab Hukum dan Etika Profesi Tenaga
perilaku anggota profesi kesamaan dalam berinteraksi dengan baik antara sesama anggota profesi.
3. Meningkatkan pengabdian anggota profesi kesehatan untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai profesi, dan merumuskan ketetapan bersama yang perlu dilakukan oleh semua anggotanya dalam menjalankan tugasnya.
4. Meningkatkan mutu, kode etik menjelaskan tentang norma, nilai atau petunjuk agar mutu profesi searah bidang pengabdiannya (Ketut Mendri, no date).
D. Tanggung Jawab Hukum dan Etika Profesi Tenaga Kesehatan
perbedaan kelamin, politik, atau kedudukan sosial dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita.
b. Hubungan Dokter dengan Teman Sejawat
Etika kedokteran mewajibkan setiap dokter untuk menjaga hubungan baik dengan sesama teman sejawat sesuai dengan makna suatu kalimat dalam kode etik kedokteran Indonesia pasal 15 “Saya akan memperlakukan teman sejawat saya, sebagaimana saya sendiri ingin diperlakukan”, pasal 16 “setiap dokter tidak diperkenankan mengambil alih pasien dari teman sejawatnya tanpa persetujuannya”
c. Kewajiban Seorang Dokter pada Diri Sendiri
Setiap dokter berkewajiban memelihara kesehatannya agar bisa bekerja dengan baik (KODEKI pasal 17), dan pasal 18 menyebutkan “setiap dokter tetap mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan”, dan dapat mengikuti pendidikan dokter berkelanjutan (Continuing Medical Education). Kode etik kedokteran adalah pedoman perilaku yang berisi garis – garis besar yaitu 1) Etik jabatan kedokteran (medical ethics) yang
menyangkut permasalahan yang berkaitan sikap dokter terhadap teman sejawat, para pembantunya serta terhadap masyarakat dan pemerintah.
2) Asuhan etik kedokteran (ethics of medical care) etik kedokteran untuk kehidupan sehari – hari yaitu sikap, tindakan seorang dokter pada setiap pasiennya yang menjadi tanggung jawabnya dapat dibedakan sebagai berikut:
2. Kode Etik Profesi Keperawatan yang Dikeluarkan oleh DPP PPNI
a. Tanggung Jawab Terhadap Klien
1) Perawat dalam melaksanakan pengabdiannya, senantiasa berpedoman pada tanggung jawab
berdasarkan dari kebutuhan keperawatan baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
2) Perawat dalam melaksanakan pengabdiannya dibidang keperawatan, selalu memelihara iklim lingkungan kerja yang menghormati nilai- nilai budaya, adat istiadat, serta kelangsungan hidup beragama secara individu, keluarga dan masyarakat.
3) Dalam melaksanakan komitmennya sebagai individu, keluarga, masyarakat, senantiasa dilandasi rasa tulus ikhlas sesuai dengan tradisi luhur dan martabat keperawatan dalam bertugas.
4) Senantiasa membina hubungan baik dan bekerja sama pada individu, keluarga, serta masyarakat dalam mengambil prakarsa dalam melaksanakan upaya kesehatan, serta upaya kesejahteraan umum sebagai tugas dan kewajiban untuk keperluan masyarakat.
b. Tanggung Jawab terhadap Tugas
1) Perawat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan, menerapkan pengetahuan dan kejujuran secara profesional, keterampilan keperawatan, sesuai kebutuhan individu, keluarga, dan masyarakat.
2) Perawat harus merahasiakan semua yang diketahuinya dalam bertugas, kecuali diperlukan oleh hukum.
3) Perawat tidak akan menggunakan pengetahuannya dan keterampilan keperawatannya bila tidak sesuai dengan norma – norma kemanusiaan.
4) Perawat dalam bertugas selalu berusaha penuh kesadaran untuk tidak terpengaruh oleh pertimbangan, suku, ras, umur, jenis kelamin, aliran politik, agama dan kebangsaan.
5) Perawat selalu mengutamakan perlindungan dan keselamatan klien dalam melaksanakan tugas keperawatan dan mampu dalam mempertimbangkan untuk menerima atau mengalihtugaskan/serah terima tanggung jawab keperawatan.
c. Tanggung Jawab terhadap Teman Sejawat
1) Perawat senantiasa menjaga hubungan baik dengan semua perawat atau tenaga kesehatan lain. Baik dalam memelihara kerahasiaan dalam lingkungan kerja maupun dalam pelayanan kesehatan agar tujuan tercapai secara menyeluruh.
2) Perawat senantiasa menyebarluaskan atau mengembangkan pengetahuan, skill dan pengalaman kesemua perawat, mampu menerima pengetahuan dan keterampilan dari profesi lain, untuk meningkatkan kemampuan sebagai tenaga keperawatan.
d. Tanggung Jawab terhadap Profesi
1) Perawat senantiasa berusaha mengembangkan kemampuan profesional secara sendiri – sendiri atau bersama – sama dengan jalan mengembangkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang bermanfaat bagi perkembangan keperawatan.
2) Perawat senantiasa menjaga nama baik profesi keperawatan dengan memperlihatkan perilaku dan sifat pribadi yang luhur.
3) Perawat senantiasa berperan sebagai penentu dalam pembakuan pendidikan untuk pelayanan keperawatan serta menerapkan dalam kegiatan dan pendidikan keperawatan.
4) Perawat bersama – sama memelihara dan membina mutu organisasi profesi sebagai sarana pengabdian keperawatan.
e. Tanggung Jawab Terhadap Pemerintah, Bangsa dan Negara
1) Perawat senantiasa melaksanakan ketentuan- ketentuan sebagai kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam bidang keperawatan dan kesehatan.
2) Perawat senantiasa secara aktif berperan dalam menyumbangkan pikiran untuk pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dan keperawatan kepada masyarakat.
3. Kode Etik Profesi Bidan
a. Kewajiban Bidan terhadap Pasien dan Masyarakat 1) Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi,
menghayati dan mengamalkan sumpah jabatannya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya.
2) Setiap bidan dalam melaksanakan tugas profesinya menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia yang utuh dan memelihara citra bidan.
3) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa berpedoman pada peran, tugas, dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat.
4) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya selalu mendahulukan kepentingan klien, keluarga dan masyarakat dengan identitas yang sesuai dengan kebutuhan sesuai kemampuan yang dimilikinya.
5) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya mendahulukan kepentingan klien, menghormati hak klien, dan menghormati nilai- nilai yang berlaku di masyarakat.
6) Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam hubungan melaksanakan tugasnya, dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan secara optimal.
b. Kewajiban Bidan terhadap Tugas
1) Setiap bidan senantiasa memberikan pelayanan paripurna kepada klien, keluarga serta masyarakat sesuai dengan tugas profesi yang dimilikinya berdasarkan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat.
2) Setiap bidan berhak melaksanakan pertolongan dan memiliki kewenangan dalam mengambil keputusan dalam tugasnya termasuk keputusan atau mengadakan konsultasi atau rujukan.
3) Setiap bidan dapat menjamin kerahasiaan keterangan yang dapat atau dipercayakan kepadanya, kecuali bila diminta oleh pengadilan atau diperlukan oleh hukum sehubungan dengan kepentingan klien.
c. Kewajiban Bidan Kepada Teman Sejawat dan Tenaga Nakes Lainnya
1) Setiap bidan dapat menjalin hubungan yang baik dengan teman sejawatnya untuk menciptakan suasana lingkungan kerja yang serasi.
2) Setiap bidan dalam melaksanakan tugas harus saling menghormati baik terhadap sejawatnya maupun tenaga tenaga nakes lain.
d. Kewajiban Bidan terhadap Profesinya
1) Setiap bidan wajib menjaga nama baik dengan menjunjung tinggi citra profesinya, dan menampilkan kepribadian yang tinggi dan melaksanakan pelayanan yang baik kepada masyarakat.
2) Setiap bidan senantiasa harus mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan profesinya, sesuai dengan perkembangan IPTEK.
3) Setiap bidan senantiasa harus berperan serta dalam melakukan penelitian dan kegiatan sejenisnya agar dapat meningkatkan citra profesi dan mutu profesi.
e. Kewajiban Bidan terhadap Diri Sendiri
1) Setiap bidan dapat menjaga kesehatan agar dapat melaksanakan tugas profesinya dengan baik.
2) Setiap bidan seyogianya berusaha dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya sesuai perkembangan IPTEK.
f. Kewajiban Bidan Terhadap Pemerintah, Bangsa, dan Tanah Air
1) Setiap bidan harus menjalankan tugasnya senantiasa menjalankan ketentuan – ketentuan pemerintah dalam sektor kesehatan, khususnya pada pelayanan KIA/KB dan kesehatan keluarga.
2) Setiap bidan melalui profesinya dapat berpartisipasi dalam menyumbangkan pemikirannya kepada pemerintah untuk meningkatkan mutu jangkauan pelayanan kesehatan kepada layanan KIA/KB serta kesehatan keluarga.
4. Kode etik profesi TLM Sesuai Munas VIII PATELKI 2017 di Surabaya
a. Kewajiban Umum
1) Setiap ATLM harus menjunjung tinggi, mengamalkan, serta menghayati sumpah profesi.
2) Setiap ATLM dalam menyelenggarakan praktek profesinya harusberpedoman pada standar profesi.
3) Setiap ATLM harus menghormati hak – hak pasien, hak – hak teman sejawat, hak – hak tenaga kesehatan lainnya.
b. Kewajiban TLM terhadap Pasien atau Pemakai Jasa 1) Setiap ATLM dalam memberikan layanan dengan
bersikap adil serta mementingkan kepentingan pasien atau pemakai jasa tanpa membeda – bedakan kedudukan sosial, golongan, suku, jenis kelamin, dan agama.
2) Setiap TLM harus bertanggung jawab dalam menjaga kemampuannya memberikan pelayanan kepada pasien atau pemakai jasa secara profesional.
3) Setiap ATLM wajib untuk merahasiakan segala sesuatu informasi yang diketahui dari hasil pemeriksaan yang berhubungan dengan tugas yang
dipercayakannya kecuali jika diperlukan oleh pihak yang berhak dan jika diminta oleh pengadilan.
4) Setiap ATLM dapat berkonsultasi merujuk kepada teman sejawat atau pihak yang lebih ahli untuk dapat hasil yang akurat.
c. Kewajiban TLM terhadap Masyarakat
1) Setiap ATLM dalam melaksanakan praktik profesional harus mengutamakan kepentingan masyarakat dan memperhatikan aspek pelayanan kesehatan serta, adat istiadat, budaya yang berkembang di masyarakat.
2) Setiap ATLM wajib memiliki tanggung jawabuntuk menyumbangkan kemampuan profesionalnya baik secara teoritis maupun praktek kepada masyarakat luas dan selalu mengutamakan kepentingan masyarakat umum.
3) Setiap ATLM dalam memberikan layanan sesuai dengan profesinya dengan mengikutiperaturan perundang-undangan yang berlaku serta norma budaya yang berkembang pada masyarakat.
4) Setiap ATLM harus dapat melihat penyimpangan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar prosedur operasional dan norma yang berlaku pada saat itu dengan melakukan upaya untuk dapat melindungi kepentingan masyarakat.
d. Kewajiban TLM terhadap Profesi
1) Setiap ATLM harus menjunjung tinggi dalam memelihara martabat kehormatan profesi, menjaga integritas, kejujuran serta dapat dipercaya, produktif, efektif, efisien, peduli terhadap tugas dan lingkungan.
2) Setiap ATLM berkewajiban menjunjung tinggi norma- norma dan nilai-nilai luhur kehidupan dalam menyelenggarakan praktek profesinya.
3) Setiap ATLM senantiasa harus melakukan pekerjaan profesinya sesuai dengan standar prosedur
operasional, standar keselamatan kerja yang berlaku dan kode etik profesi.
4) Setiap ATLM yang akan menjalankan pekerjaan wajib memiliki surat tanda registrasi (STR) dan surat ijin praktik (SIP).
e. Kewajiban TLM terhadap Teman Sejawat/ Profesi Lain 1) Setiap ATLM memerlukan setiap teman sejawat
dalam batas-batas norma yang berlaku sebagaimana dia sendiri ingin diperlakukan
2) Setiap ATLM harus menjunjung tinggi kesetiakawanan dan sikap saling menghargai dengan teman sejawat dalam menyelenggarakan profesinya.
3) Setiap ATLM harus membina hubungan kerjasama yang baik dan saling menghormati dengan teman sejawat dan tenaga profesional lainnya dengan tujuan utama untuk menjamin pelayanan senantiasa berkualitas tinggi.
f. Kewajiban TLM terhadap Diri Sendiri
1) Setiap ATLM senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa
2) Setiap ATLM berkewajiban dalam mengembangkan keahlian dan meningkatkan pengetahuannya sesuai dengan IPTEK
3) Setiap ATLM berkewajiban untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan di bidang teknologi laboratorium medis, maupun bidang lain yang menunjang pelayanan profesinya.
4) Dalam melakukan pekerjaannya, setiap ATLM harus bersikap serta berpenampilan sopan, santun dan wajar serta tetap menjaga nilai-nilai kesopanan.
5) Setiap ATLM harus memelihara kesehatan dirinya supaya dapat bekerja dan melayani dengan baik (MUNAS VIII PATELKI, 2017)
BAB
8
Herman. S.Kep. Ns. M.Kep.
A. Pendahuluan
Dalam kesehatan hubungan perilaku sangatlah penting dan erat. Banyak hal yang tanpa disadari dari perilaku yang kecil atau perilaku yang dianggap biasa yang dapat menimbulkan efek kesehatan yang besar bagi kesehatan seseorang. Contohnya seperti edukasi untuk mengajak seseorang sebelum melakukan aktivitas diutamakan dengan mencuci tangan. Kita semua mengetahui bahwa mencuci tangan adalah hal yang sangat sederhana. Namun jika hal tersebut dijadikan perilaku kebiasaan sebelum memulai aktivitas maka akan sangat membawa manfaat atau efek besar bagi kesehatan.
Kesehatan masyarakat profesional secara umum memahami pentingnya perubahan perilaku dalam mempengaruhi perilaku di seluruh jangka hidup mulai dari pencegahan kehamilan remaja, hingga pencegahan cedera dan pencegahan penyakit kronis, untuk mempromosikan sesuatu yang sehat (Crosby, Salazar and Diclemente, 2019).
B. Pengertian Konsep perilaku kesehatan
Perilaku kesehatan adalah segala bentuk sosialisasi seseorang dengan lingkungannya, yang akan mempengaruhi pengetahuan dan tindakan seseorang tentang Kesehatan dan merupakan refleksi dari keadaan tubuh daripada perilaku.
KONSEP PERILAKU
KESEHATAN
Dengan demikian, perilaku kesehatan tidak mencakup perbaikan klinis atau pemulihan fisiologis, tetapi mencakup analisis (Gochman, 1988).
Ada empat klasifikasi konsep perilaku kesehatan, yaitu:
1. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia berespons, baik secara pasif (mengetahui, bersikap, dan mempersepsikan penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya dan diluar dirinya), maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut. Perilaku terhadap sakit dan penyakit ini dengan sendirinya sesuai dengan tingkat- tingkat pencegahan penyakit, yakni:
a. Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan (health promotion behavior).
b. Perilaku pencegahan penyakit (health prevention behavior), adalah respons untuk melakukan pencegahan penyakit.
Misalnya perilaku untuk tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
c. Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan (health seeking behavior), yaitu perilaku untuk melakukannya atau mencari pengobatan, misalnya mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas kesehatan modern seperti rumah sakit atau puskesmas.
d. Perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan (health rehabilitation behavior), yaitu perilaku yang berhubungan dengan usaha-usaha pemulihan kesehatan setelah sembuh dari suatu penyakit. Misalnya Mematuhi anjuran dokter dalam melakukan program diet.
2. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan, adalah respons seseorang terhadap sistem pelayanan kesehatan baik sistem pelayanan kesehatan modern maupun tradisional.
3. Perilaku terhadap makanan (nutrition behaviour), yakni respons seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan utama bagi kehidupan. Perilaku ini meliputi pengetahuan, respon, sikap, dan praktik terhadap makanan.
4. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (environmental health behavior) adalah respons seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia. Salah satu jenis dari perilaku ini adalah Perilaku sehubungan dengan limbah, baik limbah padat maupun limbah cair.
Termasuk didalamnya sistem pengolahan limbah seperti pembuangan sampah dan air limbah, serta dampak pembuatan limbah yang tidak baik (Crosby, Salazar and Diclemente, 2019).
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kesehatan Ada beberapa teori yang mengemukakan tentang faktor yang mempengaruhi perilaku khususnya perilaku kesehatan salah satunya adalah teori Lawreence Green, yang menjelaskan bahwa ada tiga faktor utama yang mempengaruhi perilaku kesehatan, yaitu:
1. Faktor Predisposisi (Predisposing Factor)
Faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem dan kepercayaan masyarakat, sistem nilai yang dianut atau diyakini masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan sebagainya.
2. Faktor Pemungkin (Enabling Factor)
Faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat seperti, Rumah sakit, poliklinik, puskesmas, pos obat desa, dokter praktek atau praktek bidan swasta. Dengan adanya fasilitas kesehatan ini, maka akan lebih memudahkan perilaku kesehatan.
3. Faktor Penguat (Reinforcing Faktor)
Faktor ini meliputi sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama dan perilaku petugas kesehatan.
Termasuk juga disini peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah
yang terkait dengan kesehatan. Untuk berperilaku sehat, masyarakat tidak hanya berbekal ilmu pengetahuan saja melainkan ada contoh positif dari tokoh masyarakat, tokoh agama dan terutama petugas kesehatan itu sendiri, serta peraturan yang dibuat baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sebagai acuan untuk memperkuat perilaku masyarakat tersebut. Model ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Dimana:
B : behavior
PF : Predisposing factor EF : Enabling Factor RF : Reinforcing Factor
Disimpulkan bahwa perilaku individu atau masyarakat misalnya kesehatan, dapat ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Selain itu sikap dan perilaku para petugas kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya suatu perilaku.
Seorang ibu tidak mau memeriksakan kondisi kehamilannya di rumah sakit atau puskesmas di karenakan ibu tersebut tidak mengetahui manfaat dari pemeriksaan kehamilan bagi ibu dan janin (predisposing factor). Akan tetapi mungkin jarak fasilitas kesehatan dengan rumah ibu tersebut yang jauh, sehingga tidak memeriksakan kehamilannya (enabling Factor). Sebab lainnya mungkin karena perilaku petugas kesehatan atau tokoh masyarakat disekitar yang tidak pernah memberikan contoh tentang pentingnya melakukan pemeriksaan kehamilan secara berkala pada ibu hamil (reinforcing factor). Lawreence Green dalam (Nursalam, 2014).
B = f ( PF, EF, RF )
D. Perilaku sehat
Menurut Becker, konsep perilaku sehat mencakup tiga domain:
1. Pengetahuan kesehatan (Health Knowledge)
Pengetahuan kesehatan mencakup apa yang diketahui oleh individu terhadap cara-cara memelihara kesehatannya, seperti pengetahuan tentang penularan penyakit, pengetahuan tentang faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan dan pengetahuan tentang fasilitas kesehatan.
2. Sikap terhadap Kesehatan (Health Attitude)
Sikap terhadap kesehatan adalah pendapat atau penilaian seseorang tentang hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan, seperti cara mencegah penyakit menular, sikap terhadap faktor yang mempengaruhi kesehatan dan sikap menghindari kecelakaan.
3. Praktek Kesehatan (Health Practice)
Praktek kesehatan adalah semua kegiatan atau aktivitas individu dalam rangka memelihara kesehatan, seperti tindakan terhadap penyakit menular, praktek fasilitas kesehatan dan tindakan untuk menghindari kecelakaan.
Hal ini berguna untuk mengukur seberapa besar tingkat perilaku kesehatan individu yang menjadi analisis penelitian.
E. Pelaksanaan Perilaku Sehat Berdasarkan Pengetahuan dan Sikap
Bloom (1908) membagi perilaku itu ke dalam 3 domain, pembagian tersebut dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan. Bahwa dalam tujuan suatu pendidikan adalah mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain perilaku tersebut, yang terdiri dari ranah kognitif (cognitive domain),
ranah afektif (affective domain), dan ranah psikomotor (psychomotor domain).
Dalam perkembangan berikutnya oleh ahli pendidikan dan untuk kepentingan pengukuran hasil pendidikan, ketiga domain ini diukur dari: pengetahuan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (knowledge), sikap atau tanggapan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (attitude), dan praktik atau tindakan yang dilakukan oleh peserta didik sehubungan dengan materi pendidikan yang diberikan (practice). Bloom (1908) dalam (Natoatmodjo, 2007).
1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Notoatmodjo (2007) menjelaskan bahwa pengetahuan dalam domain kognitif memiliki enam tingkatan, antara lain:
a. Tahu(know) merupakan tingkatan yang paling rendah.
Seseorang dapat dikatakan tahu ketika dapat mengingat suatu materi yang telah dipelajari, termasuk mengingat kembali sesuatu yang lebih spesifik dari bahan materi yang telah diterimanya. Contohnya anak dapat menyebutkan manfaat mandi.
b. Memahami (Comprehension)Seseorang dikatakan memahami jika ia mampu menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menarik kesimpulan materi tersebut secara benar. Misalnya anak dapat menjelaskan pentingnya mandi setiap hari.
c. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah ia pelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Misalnya seorang anak akan melakukan mandi setiap hari ketika ia memahami materi kesehatan kulit.
d. Analisis (Analysis)seseorang dikatakan mencapai tingkat analisis ketika ia mampu menjabarkan materi kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur yang sama dan berkaitan satu sama lain. Ia mampu membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan lain sebagainya.
e. Sintesis (Synthesis) merupakan kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Seseorang mampu menyusun formulasi-formulasi baru. Misalnya anak dapat menyusun, merencanakan, menyesuaikan terhadap suatu teori dan rumusan yang telah ada.
f. Evaluasi (Evaluation)merupakan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi. Misalnya membandingkan antara anak yang rajin menggosok gigi dengan yang tidak (Rejeski and Fanning, 2019).
2. Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek.
Newcomb salah satu seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu.
Dalam bagian lain Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2007) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok, yaitu:
a. Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.
b. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek.
c. Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave).
Ketiga kompenen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam
penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan berfikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Suatu contoh misalnya, seorang ibu telah mendengarkan penyakit polio (penyebabnya, akibatnya, pencegahannya, dan sebagainya). Pengetahuan ini akan membawa si ibu untuk berfikir dan berusaha supaya ananya tidak terkena polio.
Dalam berfikir ini komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja sehingga si ibu tersebut berniat akan mengimunisasikan anaknya untuk mecegah supaya anaknya tidak terkena polio. Sehingga si ibu ini mempunyai sikap tertentu terhadap objek yang berupa penyakit polio itu.
Perilaku kesehatan sangat berperan penting dalam mendukung peningkatan kesehatan seorang individu.
Sehingga diperlukan pengetahuan sikap mengenai konsep perilaku kesehatan. Berdasarkan teori Lawrence Green diketahui bahwa salah satu cara untuk mengubah perilaku kesehatan adalah dengan melakukan intervensi faktor disposisi yakni mengubah pengetahuan, sikap dan persepsi terhadap permasalahan kesehatan melalui aktivitas pendidikan kesehatan. Pengiriman masyarakat terpilih atau staf terpilih ke objek percontohan yang bagus tentang perilaku kesehatan akan memberikan pengalaman berharga mereka sehingga terbangunlah perilaku kesehatan yang bagus. Gochman 1988 dalam (Rzym, 2022).
BAB
9
Wiwit Fetrisia, S.ST,M.Keb.
A. Konsep Perubahan
Konsep merupakan suatu ide dimana terdapat kesan abstrak yang dapat diorganisir menjadi simbol-simbol yang nyata. Sedangkan konsep keperawatan merupakan ide yang menyusun suatu kerangka konseptual. Perubahan merupakan suatu proses di mana terjadinya peralihan atau perpindahan dari status tetap (statis) menjadi status tetap yang bersifat dinamis, artinya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada, perubahan dapat mencakup keseimbangan personal sosial maupun organisasi untuk dapat menjadikan kepribadian atau penyempurnaan serta dapat menerapkan ide atau konsep terbaru dalam mencapai tujuan tertentu.
Perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang direncanakan yaitu suatu usaha sistematik untuk mendesain ulang suatu organisasi dengan cara melakukan adaptasi pada perubahan yang terjadi dilingkungan eksternal maupun internal untuk mencapai sasaran baru. Banyak definisi pakar tentang berubah, dua diantaranya yaitu: pertama berubah merupakan kegiatan atau proses yang membuat sesuatu atau seseorang berbeda dengan keadaan sebelumnya Kemudian yang kedua berubah merupakan proses yang menyebabkan perubahan pola perilaku individu atau institusi.