DAFTAR TABEL
KRP 3: Pembangunan Infrastruktur
3.5.4.2 Emisi Karbon Setelah Penerapan SPRE (Skenario Optimum) (ton
Penerapan SPRE merupakan bagian dari pendekatan untuk mendukung pembangunan berbasis berkelanjutan (sustainability). Dalam konteks emisi karbon, penerapan SPRE diharapkan mampu menurunkan potensi pelepasan karbon semaksimal mungkin dengan mempertahankan tutupan lahan di Kawasan Lindung Setempat. Melalui pendekatan ini, simpanan karbon yang ada pada Kawasan Lindung Setempat akan
Sumber: Hasil Analisis Spasial Tim KLHS RPJMK Aceh Tamiang 2017-2022 (2018)
tetap terjaga dan memungkinkan untuk peningkatan kemampuan penyerapan karbon di masa mendatang. Namun, kajian untuk peningkatan karbon di masa mendatang tidak dianalisa secara detail pada laporan ini.
Di samping menurunkan emisi karbon, Kawasan Lindung Setempat juga dapat mendukung peningkatan Daya Dukung dan Daya Tampung (DDDT) kawasan hutan yang berada di Kabupaten Aceh Tamiang pada berbagai jenis jasa ekosistem seperti tata air, perlindungan dan pencegahan bencana, hingga peningkatan konservasi alam.
Hal ini akan memungkinkan adanya perbaikan kualitas kawasan hutan yang sangat penting untuk menjadi stabilitas lingkungan di sekitarnya, termasuk meningkatkan kemampuan penyerapan karbon di kemudian hari. Berbagai fungsi ekosistem yang penting bagi keberlangsungan masyarakat di sekitar kawasan dapat berjalan dengan baik dan mendukung kegiatan pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang.
Secara umum, penerapan SPRE dalam implementasi KRP diperkirakan dapat menurunkan potensi emisi karbon yang dihasilkan akibat implementasi dari program- program yang berada pada KRP tersebut dari 742.763,61 Ton C menjadi 484.769,62 Ton C (Tabel 3.50.). Penurunan ini disebabkan oleh adanya simpanan karbon pada Kawasan Lindung Setempat yang diusahakan untuk tetap dipertahankan melalui penyesuaian pada program-program yang terdapat di setiap KRP. Pengurangan potensi emisi karbon terbesar diperkirakan dapat diusahakan terutama pada KRP Pembangunan Infrastruktur yang terkait dengan program pembangunan jalan dan jembatan.
Tabel 3.50.Emisi karbon Skenario BAU dan Skenario Optimum KRP
KRP Program Potensi Emisi Karbon
Skenario BAU (Ton C)
Potensi Emisi Karbon Skenario Optimum
(Ton C)
1 Pembukaan Lahan Sawah 103127.46 43542.86
Pembukaan Peternakan 31303.32 31303.32
2
Pengembangan Kawasan
Industri 36245.74 30027.37
Pengembangan Destinasi
Pariwisata 11301.81 11301.81
3
Pembangunan Jalan dan
Jembatan 264547.82 83669.55
Pembangunan Bendungan 84246.50 84246.50
Pembangunan Saluran Irigasi 211990.96 200678.21
Total 742763.61 484769.62
Sumber: Hasil Analisis Spasial Tim KLHS RPJMD Aceh Tamiang 2017-2022 (2018)
Untuk dapat mencapai penurunan emisi karbon, perlu dilakukan langkah-langkah strategis sebagai bentuk mitigasi dan adaptasi. Gambaran mitigasi dan adaptasi yang dapat dilakukan sebagai bentuk penerapan SPRE pada KRP di Kabupaten Aceh Tamiang adalah sebagai berikut:
KRP 1: Pengembangan Pertanian/Perkebunan/Pangan/Peternakan
Pelaksanaan KRP ini untuk lima tahun mendatang lebih dititikberatkan pada program
karbon sebagai akibat dari implementasi dua program ini, perencanaan yang matang perlu dilakukan sesuai dengan lima kriteria khusus penerapan SPRE seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada sub-bab 3.4.4.4. Selain itu, sangat penting untuk lebih memprioritaskan program intensifikasi lahan daripada melakukan ekstensifikasi lahan persawahan. Hal ini terutama sangat relevan untuk menjaga kawasan hutan lindung di Kabupaten Aceh Tamiang seiring dengan perubahan lahan yang terjadi. Disamping itu, hal ini juga bertujuan untuk menghindari terjadinya banjir dan longsor akibat perubahan lahan, dan menjaga ketersediaan air untuk kebutuhan pengairan di Kabupaten Aceh Tamiang. Pemanfaatan lahan terdegradasi atau lahan dengan kemampuan penyerapan karbon yang rendah juga dapat menjadi alternatif untuk menghindari pembukaan lahan yang termasuk ke dalam Kawasan Lindung Setempat.
Praktik pertanian seperti agroforestry atau pertanian lahan kering campur juga dapat dipertimbangkan sebagai pilihan lain dari pengembangan sawah.
Untuk rencana pembukaan kawasan peternakan di Baling Karang dan Alur Jambu, perlu diperhatikan perubahan lahan yang akan terjadi. Kedua lokasi peternakan ini berada dalam Kawasan Lindung Setempat, sehingga kehati-hatian di dalam land clearing dan pengelolaan kawasan menjadi sangat penting. Hal ini dilakukan guna menghindari gangguan terhadap fungsi kawasan hutan lainnya di luar kawasan peternakan yang telah direncanakan. Selain itu, praktik silvopasture dan agrosilvopasture dapat menjadi pilihan untuk rencana peternakan ini dengan memanfaatkan lahan-lahan dengan daya serapan karbon yang rendah.
Selanjutnya, perlu dipertimbangkan kembali untuk lahan perkebunan yang sebagian besar digunakan untuk sawit dan karet. Hal ini terkait dengan permasalahan ketersediaan air terutama di musim kemarau. Penyelarasan rencana strategis (renstra) dari masing-masing satuan kerja dalam pemerintahan daerah perlu disesuaikan, terutama Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Aceh Tamiang. Selain itu, peningkatan teknologi juga perlu dilakukan, terutama melalui kerjasama dengan perguruan tinggi dan pihak swasta.
KRP 2: Pengembangan Industri dan Wisata
Pengembangan kawasan industri Halal Food di Kecamatan Seruway yang berwawasan lingkungan menjadi sangat penting untuk mengurangi emisi karbon yang akan terjadi.
Dari informasi spasial, diperoleh bahwa lokasi industri ini sebagian besar berada di luar Kawasan Lindung Setempat. Walaupun demikian, perlu kehatian-hatian di dalam pembangunan dan operasi dari kawasan dan kegiatan industri ini. Suplai energi yang berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) perlu diprioritaskan untuk operasi industri ini sebagai langkah pengurangan emisi karbon dari kegiatan industri, utamanya solar energy dan energi/listrik berbasis biomassa hasil limbah sawit.
Selanjutnya, rencana program pengembangan destinasi pariwisata perlu mendapatkan perhatian yang tinggi. Hal ini mengingat lokasi rencana berada keseluruhan di dalam Kawasan Lindung Setempat. Implementasi program ini dapat menyebabkan berkurangnya simpanan karbon yang berada di dalam Kawasan Lindung Setempat, dan juga terganggunya ekosistem yang berada di dalamnya. Selain itu, alih fungsi lahan
mangrove menjadi kawasan wisata Pulau Rukui dapat mengurangi stock karbon (blue carbon). Pembuatan rambu-rambu disekitar kawasan wisata perlu diberi perhatian yang tinggi, guna menghindari terjadinya bukaan lahan baru yang dapat mengakibatkan terjadinya longsor, banjir, dan terganggunya keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan tersebut. Selanjutnya, pengembangan kawasan industri dan wisata ini perlu mendapatkan perhatian, terutama dari Dinas Industri dan Dinas Pariwisata Kabupaten Aceh Tamiang di dalam penyusunan rencana strategis, dengan lebih memprioritaskan penetapan kawasan rencana di luar Kawasan Lindung Setempat.
KRP 3: Pembangunan Infrastruktur
Pembangunan jalan dan jembatan berpotensi menyebabkan terjadinya perubahan lahan yang dapat menimbulkan pelepasan karbon, terutama yang berada di dalam Kawasan Lindung Setempat. Hal ini selanjutnya dapat mengakibatkan terjadinya fragmentasi hutan dan dapat menganggu suaka margasatwa. Penapisan yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan Kawasan Lindung Setempat dapat meminimalkan emisi karbon yang ditimbulkan dan juga dapat mempertahankan biodiversity di dalamnya.
Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Aceh Tamiang dengan program pembangunan jalan dan jembatannya perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam pelaksanaan pembangunan jalan dan jembatan di Kawasan Lindung Setempat, terutama di wilayah dengan DDDT biokonservasi yang tinggi. Pemetaan jalur migrasi hewan dapat dilakukan untuk melihat titik-titik yang perlu dihindari. Pembangunan wildlife bridge juga bisa menjadi alternatif untuk menjaga konektivitas kawasan hutan terutama kawasan konservasi, sehingga pembangunan jalan tidak mengganggu habitat satwa.
Rencana pembangunan bendungan yang terletak di dalam Kawasan Lindung Setempat perlu mendapatkan perhatian. Perubahan atau alih fungsi kawasan hutan menjadi kawasan genangan perlu ditindaklanjuti dengan penetapan rambu-rambu terhadap kawasan disekitarnya. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya perambahan hutan yang dapat menganggu ketersediaan air. Selanjutnya, lokasi rencana bendungan ini berada di lintasan patahan yang tidak aktif. Namun demikian, perhatian terhadap kestabilan struktur bendungan perlu mendapatkan perhatian khusus, terutama dari Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pengairan.
Rencana pembangunan saluran irigasi yang akan dilakukan sebagian besar berada di luar Kawasan Lindung Setempat. Perlu di tetapkan rambu-rambu untuk menghindari perambahan lahan di sekitar kawasan saluran irigasi rencana, terutama yang berbatasan dengan Kawasan Lindung Setempat. Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pengairan Kabupaten Aceh Tamiang perlu memastikan bahwa pelaksanaan pembangunan dan kegiatan operasi saluran irigasi ini berjalan dengan baik dan tidak menganggu Kawasan Lindung Setempat.