DAFTAR TABEL
BAB 2 KARAKTERISTIK BIOFISIK DAN SOSEKBUD KABUPATEN ACEH TAMIANG
2.1 Aspek Biofisik .1 Tata guna lahan
2.1.4 Pencemaran
Gambar 2.9. Peta ancaman kebakaran lahan/hutan di Kabupaten Aceh Tamiang (Sumber: Hasil Analisis Spasial Tim Pokja KLHS RPJMD Aceh Tamiang 2017-2022, 2018)
pencucian dan mandi di Kabupaten Aceh Tamiang pada umumnya di gelontorkan begitu saja di sekitar rumah. Rumah tangga yang ada selalu memanfaatkan lahan maupun parit yang ada di sekitar pekarangan untuk membuang limbah cairnya tanpa memperhatikan dan melihat dampak dari limbah tersebut terhadap kesehatan dan kebersihan orang lain (tetangga) dan lingkungan sekitar. Selanjutnya penduduk yang tinggal di sekitar aliran sungai, pembuangan limbah cair rumah tangganya umumnya langsung disalurkan ke sungai atau anak-anak sungai sehingga kualitas air sungai akan terkontaminasi dan juga menimbulkan pendangkalan pada parit maupun sungai.
Hanya sebagian kecil masyarakat yang sudah membuat kolam atau lobang resapan sederhana di sekitar pekarangannya guna menampung hasil limbah cair dari rumah tangganya (SSK Aceh Tamiang, 2015).
Hingga saat ini, 79% masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang sudah memiliki akses terhadap pengelolaan Air Limbah, dimana 25% masyarakatnya sudah memiliki jamban pribadi dengan sistem pengelolaan awal/setempat menggunakan septik tank dan dan sisanya menggunakan non septik termasuk jamban dengan sistem cubluk (SSK Aceh Tamiang, 2015). Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja (IPLT) sudah dibangun di Kabupaten Aceh Tamiang pada tahun 2012 dengan daya tampung volumenya sebesar 2000 m3. IPLT tersebut terletak di Kampung Durian yang berdekatan dengan Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) Sampah Kabupaten Aceh Tamiang. Namun sayangnya IPLT Kabupaten Aceh Tamiang tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal, hal ini disebabkan beberapa faktor sehingga pengelolaan IPLT tidak dapat dilakukan secara intensif oleh pilah BLHK Kabupaten Aceh Tamiang (SSK Aceh Tamiang, 2015). Sampai tahun 2015, sebaran penduduk Kabupaten Aceh Tamiang yang tidak mempunyai akses bidang air adalah sebanyak 7.238 keluarga, yang tersebar di Kecamatan Tamiang Hulu dan Kecamatan Tenggulun. Adapun Kecamatan Manyak Payed mendominasi sebagai kecamatan yang mempunyai keluarga lebih dari 1.000 KK tidak memiliki akses sarana dan prasarana layanan air limbah.
Sistem pengelolaan sampah padat rumah tangga di Kabupaten Aceh Tamiang pada beberapa wilayah masih dilakukan secara individual skala rumah tangga, yang dilakukan dengan cara dikumpulkan di sekitar pekarangan rumahnya dan pada waktu tertentu (sore hari atau selang beberapa hari) kemudian baru dibakar. Pada daerah aliran air (sungai) sampah rumah tangga biasanya dibuang langsung di pinggiran aliran sungai, yang pada waktu tertentu ketika air sungai meninggi sampah tersebut akan terbawa arus/aliran sungai tersebut. Pada umumnya pengelolaan sampah rumah tangga adalah dibakar dan masih ada rumah tangga yang membuang sampahnya ke aliran sungai atau anak sungai yang ada. Baru 27,29% sistem pengelolaan sampah rumah tangga yang ada memenuhi syarat kesehatan. Volume timbulan sampah di Kabupaten Aceh Tamiang adalah sebesar 528 m3 setiap harinya, volume timbulan terbanyak terdapat pada daerah Kecamatan Karang Baru yaitu sebanyak 76,03 m3 setiap harinya. Timbulan sampah tersebut masih tercampur antara sampah organik dan nonorganik. Sarana dan prasarana bidang persampahan di Kabupaten Aceh Tamiang belum dapat memberikan pelayanan yang optimal terhadap seluruh kawasan permukiman yang ada.
Terdapat 8 lokasi identifikasi awal potensi titik genangan air di Kabupaten Aceh Tamiang, lokasi tersebut terdapat pada Kampung Benua raja dan Suka mulia Kecamatan Rantau, Kampung Bukit Tempurung Kecamatan Kota Kuala Simpang, Kampung Air Masin Kecamatan Serue, Kampung Seuneubok Dalam Kecamatan Kampung Upah Kecamatan Karang Baru, Kampung Sukajadi dan Juar Kecamatan Karang Baru, dan Kampung Buket Panjang II Kecamatan Manyak Payet . Potensi genangan air ditentukan berdasarkan hasil analisa proyeksi Instrumen Profil Sanitasi Kabupaten Aceh Tamiang pada tahun 2015 (SSK, 2015). Gambar 2.10. berikut disajikan peta potensi genangan banjir di Kabupaten Aceh Tamiang.
Gambar 2.10.Lokasi banjir di Kabupaten Aceh Tamiang (Sumber: Instrumen Profil Sanitasi, 2015, dalam SSK, 2015).
2. Pencemaran Kualitas Air
Berdasarkan morfologi dari Wilayah Kabupaten Aceh Tamiang, maka dapat dilihat ada beberapa DAS yang mengalir melewati wilayah administrasi dan ekologi dari Kabupaten Aceh Tamiang, yatu DAS Sungai Tamiang yang Sub DASnya terdiri dari Sub DAS Simpang Kiri dan Sub DAS Simpang Kanan. Sungai Tamiang merupakan salah satu sungai yang berada dalam satuan wilayah sungai (SWS) 01.05 Tamiang-Langsa yang terletak di Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh serta sebagian daerah hulu sungai terletak di Kabupaten Aceh Tenggara. Lokasi Sungai Tamiang yang membujur dari arah timur laut ke Barat daya dan secara geografis terletak pada posisi 97o18’ –98o 15’ BT dan 03o45’ –05015’ LU. Wilayah hulu DAS Sungai Tamiang berada di Wilayah Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Timur.
Maknanya, degradasi hutan dan lahan di kedua kabupaten tersebut berimplikasi negatif terhadap Kabupaten Aceh Tamiang yang berada di hilir DAS, utamanya dalam bentuk banjir di musim hujan, kekurangan air di musim kemarau serta tingginya laju erosi dan sedimentasi.
Luas Daerah Pengaliran Sungai (DPS) Krueng Tamiang sekitar 4.683 km2 dengan panjang sungai utama 208 m dan lebar rata-rata di daerah hilir 150 m. Di kota Kuala simpang Sungai Tamiang terbagi atas dua anak sungai utama, yaitu Sungai Tamiang/Simpang Kanan (luas DPS 3304 km2 dengan panjang sungai 159 km) dan sungai Simpang Kiri (luas DPS 1024,5 km2 dengan panjang 92,5 km). Sungai Tamiang tersebut mengalir membelah Wilayah Kabupaten Aceh Tamiang dan hilirnya bermuara ke Wilayah Kecamatan Seuruway. Selanjutnya terdapat juga Sungai Kaloy dan Sungai Tenggulun yang pucuk DASnya berada di Kecamatan Tamiang Hulu dan Kecamatan Kejuruan Muda.
Sebagian besar daerah tangkapan hujan yang ada di DAS Tamiang merupakan daerah sungai kritis dan selalu membawa bencana banjir, terutama pada waktu musim hujan.
Penutupan lahan (vegetasi) di DAS Tamiang sebagian besar berupa hutan, rumput dan semak belukar. Kondisi air sungai di sebagian wilayah hulu dan hilir di Kabupaten Aceh Tamiang mengalami kekeruhan yang mengandung bahan cemaran. Salah satu penyebab terjadi pencemaran air sungai diantaranya, yaitu adanya erosi lahan, abrasi sungai, galian C, dan limbah. Pada saat musim hujan kondisi air sungai berlumpur, keruh dan banyak dijumpai sampah-sampah yang mengakibatkan air tidak baik untuk kesehatan. Sedangkan ketika musim kemarau air sungai lebih jernih. Debit maksimum Sungai Tamiang pada musim hujan sebesar 1.494,60 m3/det dan debit pada musim kemarau 61,00 m3/det dan debit rata-rata 298,84 m3/det dengan potensi air 9.424.218.240,0 m3/tahun dan curah hujan 3.000 mm/tahun. Perbandingan debit aliran sungai pada musim hujan dan kemarau yang jauh di atas 50:1 tersebut mengindikasikan sudah terganggunya fungsi hidrologi DAS Tamiang.
Untuk melihat kondisi kualitas air Sungai Tamiang, maka telah dilakukan pemantauan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Tamiang (2017) pada beberapa lokasi, yaitu (1) di hulu sungai di Desa Kaloy Kecamatan Tamiang Hulu; (2) Desa Seumadam;
(3) Desa Bukit Rata Kecamatan Kejuruan Muda; (4) Kota Kualasimpang; (5) Desa Alur Manis Kecamatan Rantau; dan (6) Dermaga Pekan Seruway.
Pada pemantauan tersebut hasil pengukuran sample air sungai Tamiang, diekspresikan melalui 20 parameter yang diukur. Kedua puluh parameter tersebut kemudian dapat dikelompokkan sehingga dapat memberikan gambaran tentang berbagai jenis polutan yang berpotensi menimbulkan penurunan terhadap kualitas air dari sungai Tamiang, yaitu berupa limbah (1) bahan organik (BOD5, COD, TSS, DO, TDS, pH, Fecal Colliform, dan Total Colliform); (2) panas (temperatur); (3) nutrien (NH3-N, NO2-N, dan NO3-N);
(4) detergen; (5) minyak dan lemak; dan (6) unsur logam (Pb, Fe, Cl2, Cu, dan Zn).
Berdasarkan besaran nilai dari parameter-paremeter yang diukur tersebut, maka dapat diketahui beberapa jenis limbah yang dominan mempengaruhi kualitas air sungai Tamiang, seperti yang diuraikan berikut ini.
a. Limbah Bahan Organik dan Partikel Lumpur
Berdasarkan dari 4 tahap pemantauan yang telah dilakukan sebagian besar parameter yang diukur di bagian atas (upstream) dari sungai Tamiang relatif masih baik, dimana
perikanan). Meskipun demikian ada kecenderungan beberapa parameter kualitas air di Desa Kaloy (kecamatan Tamiang Hulu) dan Desa Seumadam (Kecamatan Kejuruan Muda) sudah terkontaminasi oleh limbah bahan organik, diperlihatkan oleh peningkatan nilai parameter BOD5, COD, dan TSS melebihi baku mutu lingkungan, terutama pada pemantauan Tahap-2 (BOD5 berkisar 4,9-5,1 mg/l), Tahap-3 (BOD5
berkisar 18-58 mg/l; COD berkisar 32-101 mg/l; dan TSS berkisar 30-385 mg/l), dan Tahap-4 (BOD5 berkisar 18,2-47 mg/l; COD berkisar 35-90 mg/l; dan TSS berkisar 29- 115 mg/l). Namun, peningkatan bahan organik yang terjadi belum terlalu mengkuatirkan karena tidak diiringi oleh penurunan kadar Oksigen Terlarut (DO) dan pH yang ekstrim (nilainya masih dalam kondisi normal) sebagai akibat lanjutan dari proses dekomposisi bahan organik yang berlebihan, kecuali pada pemantauan Tahap- 3 dimana nilai DO di Desa Seumadam turun menjadi 2,93 mg/l dan pemantauan Tahap-4 menjadi 3,14 mg/l. Hal ini tentu akan membahayakan kehidupan organisme akuatik yang hidup di dalamnya. Selanjutnya peningkatan parameter TSS yang terjadi di Desa Seumadam pada pemantauan Tahap-3 (TSS sebesar 385 mg/l) dan Tahap-4 (TSS sebesar 115 mg/l) diperkirakan bukan hanya bersumber dari limbah bahan organik, tetapi tidak tertutup kemungkinan akibat erosi yang kemungkinan terjadi pada ekosistem daratan (terestrial). Hal ini tergambarkan dari warna air yang terlihat keruh berlumpur.
Limbah bahan organik dan padatan tersuspensi diperkirakan bersumber dari kegiatan (a) Industri kecil pembuatan perabot; (b). Limbah cair PKS PTPN I Pulo Tiga (titik pertemuannya di Dusun Lubuk Sukun Desa Selebu Kecamatan Kejuruan Muda); (c).
Pasar Pulo Tiga (limbah domestik dan sampah pasar); (d). Limbah cair sawit PKS PT.
Pati Sari; (e). Limbah pertanian dari perkebunan Sawit PT. Socfindo dan PT. Mopoli Raya; dan (f). Erosi dan abrasi Sungai Tamiang (Laporan Kualitas Air Sungai Tahun 2017 oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Tamiang). Berdasarkan hasil Pemantauan terhadap outlet 9 industri pengolahan kelapa sawit (PT PN I Pulo Tiga; PT Tri Argo Palma Tamiang; PT Pati Sari; PT PN I Tanjung Seumentok; PT Parasawita; PT Sisirau; PT Socfindo; PT Bahari Dwi Kencana Lestari); dan 1 perusahaan pengolahan karet (PT Aceh Rubber Industri) yang beroperasi di sepanjang badan Sungai Tamiang (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Tamiang, 2017), maka diperoleh hasil pengukuran terhadap beberapa parameter kunci terkait kandungan bahan organik, yaitu nilai BOD5 berkisar 49-89 mg/l; COD berkisar 60-138 mg/l; dan TSS berkisar 126-405 mg/l (Tabel 2.12.).
Tabel 2.12. Hasil analisis limbah PKS tahun 2017 di Kabupaten Aceh Tamiang
No Nama PKS Koordinat Outlet
Hasil Analisa Limbah
Pada Outlet Baku Mutu Parameter Hasil Analisa
1 2 3 4 5 6
1
PKS PT PN I Tanjung
Seumentoh
04O21'40,4" LU pH 8,60 6 s/d 9
098O05'02,9" BT TSS 175mg/l 250
BOD 78 mg/l 100
COD 328,98 mg/l 350
Minyak dan Lemak 21,20 mg/l 25
N-Total 44,37 mg/l 50
No Nama PKS Koordinat Outlet
Hasil Analisa Limbah
Pada Outlet Baku Mutu Parameter Hasil Analisa
1 2 3 4 5 6
2
PKS CV. Selaxa Windu
04O21'38,0" LU pH 8,4 6 s/d 9
098O03'45,1" BT TSS 103 mg/l 250
BOD 43,34 mg/l 100
COD 65,08 mg/l 350
Minyak dan Lemak 2,5 mg/l 25
N-Total 34 mg/l 50
3
PKS PT. Bahari Dwikencana Lestari
04O 21'06,5" LU pH 8,3 6 s/d 9
098O06'33,1" BT TSS 218 mg/l 250
BOD 79,3 mg/l 100
COD 119,06 mg/l 350
Minyak dan Lemak 2,81 mg/l 25
N-Total 38 mg/l 50
4 PKS PT. Tri Agro Palma Tamiang
04O 11'18,6" LU pH 8,32 6 s/d 9
098O02'25,7" BT TSS 144 mg/l 250
BOD 95,3 mg/l 100
COD 197,01 mg/l 350
Minyak dan Lemak 6,0 mg/l 25
N-Total 20,69 mg/l 50
5
PKS PT. Sisirau
04O 12'23,6" LU pH 7,18 6 s/d 9
098O03'51,3" BT TSS 20,46 mg/l 250
BOD 98,9 mg/l 100
COD 234,56 mg/l 350
Minyak dan Lemak 12 mg/l 25
N-Total 20,46 mg/l 50
6
PKS PT. Pati Sari
04O 05'06,2" LU pH 7,05 6 s/d 9
097O57'39,0" BT TSS 95 mg/l 250
BOD 68,3 mg/l 100
COD 135 mg/l 350
Minyak dan Lemak 2,5 mg/l 25
N-Total 12,4 mg/l 50
7
PKS PT. PN I Pulo Tiga
04O 10'52,6" LU pH 7,62 6 s/d 9
097O56'14,6" BT TSS 198,34 mg/l 250
BOD 88 mg/l 100
COD 337,06 mg/l 350
Minyak dan Lemak 17,20 mg/l 25
N-Total 41,94 mg/l 50
8
PKS PT. Socfin Indonesia
pH 8,36 6 s/d 9
TSS 130 mg/l 250
BOD 95,2 mg/l 100
COD 165,34 mg/l 350
Minyak dan Lemak 6,0 mg/l 25
N-Total 21,41 mg/l 50
9
PKS PT. Mopoli Raya
04O 17'25" LU pH 6,82 6 s/d 9
098O09'08" BT TSS 230 mg/l 250
BOD 66,10 mg/l 100
COD 99,24 mg/l 350
Minyak dan Lemak 2,8 mg/l 25
N-Total 42 mg/l 50
10 PT. Bima Desa
Selanjutnya pada daerah tengah dan hilir kandungan bahan organik di perairan sungai Tamiang nilainya berfluktuasi, namun ada kecenderungan kandungannya relatif lebih tinggi di beberapa lokasi , tercermin dari nilai BOD5 sebesar 7,02 mg/l (Tahap-1), 48 mg/l (Tahap-3), dan 39,6 mg/l (Tahap-4); nilai COD sebesar 85 mg/l (Tahap-3) dan 75 mg/l (Tahap-4); serta nilai Total Colliform yang cenderung meningkat tetapi masih dalam batas normal. Relatif tingginya kadar bahan organik di wilayah tengah kemudian diikuti dengan menurunnya kadar DO menjadi 3,35 mg/l (Tahap-3) dan 3,56 mg/l (Tahap-4). Penurunan kadar oksigen terlarut tersebut diperkirakan akibat penggunaan oksigen oleh bakteri dalam proses dekomposisi bahan organik sehingga nilai Total Colliform cenderung meningkat menjadi 110 mg/l (Tahap-1); 120 mg/l (Tahap-3); dan 110 mg/l (tahap-4), namun nilainya masih dalam batas normal.
Selanjutnya bila dilihat parameter TSS, maka nilainya relatif tinggi di lokasi tengah, yaitu sebesar 172 mg/l (Tahap-2); 187 mg/l (Tahap-3); dan 94 mg/l (Tahap-4).
Tingginya nilai TSS tersebut diperkirakan bersumber dari limbah bahan organik kegiatan pertanian, perkebunan, dan kegiatan domestik; partikel lumpur dari kegiatan penambangan galian C, abrasi, dan Erosi (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Tamiang, 2017).
b. Limbah Nutrien
Bahan organik yang masuk ke perairan Sungai Tamiang bersumber dari pembuangan limbah industri CPO (Cruide Palm Oil), limbah pertanian, limbah domestik, dan limbah pasar. Bahan organik tersebut mengalami proses dekomposisi melalui aktivitas bakteri, baik dalam kondisi tersedia oksigen (aerobic decomposition), maupun tanpa oksigen (an aerobic decomposition). Melalui proses dekomposisi bahan organik tersebut akan dihasilkan gas amonia (NH3-N) dan kemudian dilanjutkan dengan proses nitrifikasi menghasilkan NO2-N (nitrit) dan NO3-N (nitrat). Ketiga bentuk senyawa nitrogen tersebut dapat dimanfaatkan oleh organisme mikro algae dan tanaman akuatik lainnya sehingga pertumbuhannya meningkat. Ada kecenderungan kadar ammonia (NH3-N) sudah melebihi baku mutu lingkungan pada beberapa titik pemantauan dan nilainya berflutuasi hingga ke downstream (hilir), yaitu pada Pemantauan Tahap-1. Apabila kadar amonia tersebut relatif tinggi tentu akan bersifat toksik terhadap kehidupan organisme akuatik.
c. Limbah Detergen serta Minyak dan Lemak
Limbah detergen yang masuk ke Sungai Tamiang kemungkinan besar berasal dari kegiatan domestik (rumah tangga dan restoran) dalam kegiatan mencuci barang- barang rumah tangga dan restoran dengan menggunakan bahan aktif detergen.
Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Pendataan Sipil Kabupaten Aceh Tamiang (2016) beberapa kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk yang relatif tinggi adalah Kota Kuala Simpang (4.562 jiwa/km2); Rantau (730 jiwa/km2); Karang Baru (308 jiwa/km2); Kejuruan Muda (301 jiwa/km2); dan Bandar Mulia (263 jiwa/km2) diduga berpotensi menghasilkan limbah detergen. Meskipun demikian, berdasarkan Pemantauan Tahap-1, Tahap-2, Tahap-3, dan Tahap-4 kandungan detergen di Sungai Tamiang belum melebihi Baku Mutu Lingkungan.
Selanjutnya limbah minyak dan lemak yang masuk ke perairan sungai Tamiang kemungkinan besar dari kegiatan industri pengolahan CPO, perbengkelan, dan alat transportasi air (boat-boat nelayan yang terkonsentrasi di bagian hilir). Kadarnya berfluktuasi pada beberapa titik pemantauan dan masih dibawah Baku Mutu Lingkungan.
d. Limbah Logam
Jenis logam yang dipantau di perairan Sungai Tamiang terdiri dari logam Pb, Fe, Cl2, Cu, dan Zn. Umumnya kadarnya relatif masih rendah dan tidak berfluktuatif diantara titik- titik pemantauan. Namun untuk parameter CL2 ada indikasi nilainya meningkat melebihi Baku Mutu Lingkungan di beberapa titik dan pada saat pemantauan yang berbeda, yaitu pada pemantauan Tahap-1 (wilayah tengah); Tahap-2 (tengah dan hilir); dan Tahap-4 (tengah dan hilir). Berdasarkan indikasi tersebut, maka dapat diinformasikan bahwa lokasi tengah dan hilir relatif lebih rawan terhadap terjadinya peningkatan kadar Cl2 di perairan Sungai Tamiang. Senyawa CL2 tersebut umumnya bersifat desinfektan (pembunuh mikrobia) dan biasanya sering dipergunakan dalam pengolahan air bersih dan air limbah industri. Dalam hal ini CL2 kemungkinan besar dilepaskan dari outlet sistem pengolahan limbah CPO yang berada di sepanjang badan sungai Tamiang dan sistem pengolahan air bersih milik PDAM yang inletnya berada di lokasi tengah (Desa Kebun Tengah Kecamatan Kejuruan Muda).
e. Limbah Panas
Limbah panas (bersuhu tinggi) berpotensi meningkatkan suhu di perairan, biasanya bersumber dari kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dimana air sungai dipergunakan sebagai bahan baku untuk proses pendinginan instalasi pembangkit listriknya dan kemudian dibuang kembali (melalui oultlet) berupa air yang relatif panas ke perairan sehingga berpotensi meningkatkan nilai suhu perairan. Berdasarkan hasil pemantauan (Tahap-1 s.d. Tahap-4) pada berbagai titik pengamatan (tengah dan hilir) terhadap parameter suhu tampaknya tidak ada indikasi yang perlu dikuatirkan karena nilainya relatif masih jauh di bawah baku mutu kualitas air.
Berdasarkan hasil beberapa tahap pemantauan tersebut Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Tamiang menyimpulkan bahwa sungai Tamiang pada saat ini sudah tergolong tercemar sedang. Hal ini perlu diwaspadai agar tingkat pencemaran yang terjadi di Sungai Tamiang jangan sampai mengarah ke pencemaran berat, justru dapat diantisipasi ke arah tingkat pencemaran ringan atau tidak tercemar dengan upaya meningkatkan kesadaran kepada pihak industri dan masyarakat luas serta penggunaan teknologi pengolahan limbah yang tingkat efisiensinya tinggi.