• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Pertanian/ Perkebunan/ Pangan/ Peternakan

Dalam dokumen KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) (Halaman 123-128)

DAFTAR TABEL

KRP 1: Pengembangan Pertanian/ Perkebunan/ Pangan/ Peternakan

Pengembangan sektor pertanian, perkebunan, pangan dan peternakan merupakan sekumpulan rencana program yang ada di dalam arah kebijakan RPJMD Kabupaten Aceh Tamiang 2017-2022. Sektor-sektor tersebut, termasuk bidang perikanan didalamnya telah terbukti menyumbang PDRB terbesar hingga saat ini di Kabupaten Aceh Tamiang, yaitu sebesar 40,54%, sehingga kedepan berpotensi besar menyokong perekonomian Kabupaten Aceh Tamiang. Pengoptimalan pengembangan ekonomi di bidang perikanan adalah salah satu yang dapat memberi solusi pada isu kemiskinan daerah yang melalui kajian ini harus diatangani. Saat ini Kabupaten Aceh Tamiang memiliki luas kawasan perikanan 1.583,92 ha, yang rencananya akan menambah peruntukannya melalui pengaturan pola ruang menjadi sebesar 1.822 ha hingga tahun 2032. Produksi perikanan tangkap tahun 2016 sebesar 7.434 ton, sedangkan perikanan budidaya adalah sebesar 619,5. Konsumsi ikan di Kabupaten Aceh Tamiang masih jauh dari target nasional, yaitu sebesar 43,88 kg/kap/thn untuk tahun 2016. Sedangkan konsumsi ikan di Kabupaten Tamiang Tahun 2016 masih sebesar 35,08 kg/kap/thn.

Kondisi ini terbuka luas untuk menggerakkan industri pengolahan ikan, sehingga memberikan nilai tambah perekonomian, peningkatan serapan tenaga kerja dari sektor perikanan, hingga peningkatan PDRB kabupaten. Hingga saat ini di Kabupaten Aceh Tamiang belum terdapat kegiatan industri pengolahan ikan, termasuk yang dapat digerakkan oleh rumah tangga dalam skala kecil dan menengah.

Sejumlah program yang akan dilaksanakan dalam lingkup kebijakan ini dinilai akan bersinggungan dengan sejumlah kondisi sosial. Khusus untuk KRP 1, di dalam RPJMD Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2017-2022 tidak terdapat rencana daerah untuk

perluasan perkebunan sawit, meski kemudian ditemukan sejumlah indikator kinerja tentang peningkatan produktivitas perkebunan sawit melalui program produksi perrtanian/perkebunan. Diakui bahwa program sejenis ini telah membawa sejumlah peningkatan, terutama kelangsungan ekonomi dan PDRB daerah, tapi kegiatan ini sekaligus membawa kerugian. Melalui kajian ini Pemerintah Daerah diminta untuk mempertimbangkannya melalui sejumlah alasan berikut ini.

Problem Pengukuran Luas Lahan Perkebunan Kelapa Sawit

Pengembangan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Tamiang sekali lagi ditekankan telah menyebabkan terjadinya alih fungsi hutan dan lahan. Dalam pembahasan tata guna lahan dalam KLHS ini telah dijelaskan, bahwa kondisi eksisting kebun kelapa sawit dengan status Hak Guna Usaha (HGU) di Aceh Tamiang mencapai 46.994,59 ha yang sebagian besar berada pada lahan Areal Penggunaan Lain (APL) dengan luas 45.618,77 ha atau 97,07 % dari luas total Perkebunan (HGU). Masih ada lahan perkebunan (HGU) yang berada pada kawasan Hutan Produksi (HP) seluas 1.199,24 ha dan Hutan Lindung seluas 172,94 ha, sebagaimana telah dijelaskan pada Tabel 2.3.

Luasan lahan ini masih menjadi persoalan. Di luar lahan milik HGU masih terdapat lahan-lahan perkebunan sawit milik masyarakat yang sulit ditertibkan. Jika dilihat pada peta perkebunan kelapa sawit HGU telah terdapat di banyak titik, sebagaimana dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Tamiang memperkirakan luas perkebunan sawit miliki masyarakat melebihi angka 20.902 ha yang mereka data. Jumlah tersebut juga dihitung telah melebihi daya tampung lingkungan hidup (merujuk Gambar 2.21.).

Problem Perikanan

Selain sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan Kabupaten Aceh Tamiang juga memiliki prospek yang baik untuk pengembangan sektor kelautan dan perikanan, khususnya untuk kegiatan budidaya tambak dan penangkapan ikan. Khusus untuk budidaya ikan di Kabupaten Aceh Tamiang tersedia lahan tambak seluas 8.794,54 ha.

Lahan tersebut berpotensi digunakan untuk budidaya udang windu, udang putih, udang vaname, kepiting, dan komoditi lainnya. Hingga saat ini memang masyarakat masih trauma dengan wabah penyakit yang pernah menyerang udang windu yang dibudidaya di tambak secara intensif. Ada fenomena beralih ke budidaya udang vaname dan campuran antara udang dan ikan bandeng (polyculture). Prospek budidaya tambak tersebut tentu masih dapat dioptimalkan dengan upaya peningkatan penggunaan teknologi untuk manajemen kualitas air atau dengan sistem tertutup (close running system) untuk mengantisipasi terkontaminasi wabah penyakit yang berasal dari lingkungan sekitarnya. Termasuk untuk mendukung kegiatan budidaya kepiting lunak (soft cell culture) yang bernilai ekonomis penting.

Selanjutnya terkait dengan kegiatan penagkapan ikan, Kabupaten Aceh Tamiang juga telah memiliki armada penangkapan yang lumayan jumlah, yaitu sekitar 1.570 unit

masih sangat sedikit (sekitar 5 unit). Hal ini menggambarkan bahwa kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan relatif tidak jauh dari garis pantai dimana tingkat kesuburan sangat terkait dengan keberadaan akosistem mangrove yang tumbuh di kawasan pesisir. Oleh sebab itu, kawasan ekosistem mangrove perlu dipertahankan dan ditingkatkan luasannya sehingga dapat berperan sebagai unsur pendukung dalam meningkatan keanekaragaman spesies dan kelimpahannya di lingkungan perairan pesisir.

Dalam menunjang operasional kegiatan armada penangkapan ikan kabupaten Aceh Tamiang belum memiliki pelabuhan perikanan yang representatif sepertihalnya di Idi Rayeuk di Kabupaten Aceh Timur yang arah pengembangan suatu ketika akan menjadi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Sementara ini, kapal-kapal perikanan berlabuh dan bongkar muat di 11 PPI kecil yang tersebar pada beberapa kecamatan. Dalam rangka meningkatkan nilai tambah (value added) di sektor kelautan dan perikanan, maka Kabupaten Aceh Tamiang perlu dibangun industri perikanan terpadu dengan memanfaatkan kelebihan produksi ikan hasil tangkapan dan budidaya tambak. Pada saat ini total produksi ikan hasil tangkapan mencapai 7.075, 5 ton sementara tingkat penggunaannya baru mencapai 400 ton (komunikasi langsung ke aparat Pemerintahan Kabupaten Aceh Tamiang). Tidak tertutup kemungkinan bahan baku industri perikanan terpadu yang akan dibangun juga dapat disupplai dari kota Langsa dan Kabupaten Aceh Timur. Selain itu, perlu dibangun sentra-sentra pengolahan ikan pada lokasi-lokasi yang strategis dengan melibatkan masyarakat luas di wilayah pesisir.

Upaya peningkatan nilai tambah tersebut penting untuk menciptakan efek ganda (multiflyer effect) guna menciptakan pertumbuhan ekonomi di wilayah Kabupaten Aceh Tamiang.

Dampak Banjir

Dari sisi incomeuntuk daerah, keberadaan perkebunan sawit memberikan trend positif.

Bersama sejumlah kegiatan pertanian dan perkebunan lainnya, perkebunan kelapa sawit menyumbang PDRB terbesar (40%) sejak lima tahun terakhir, tapi hal ini tidak memberikan kecenderungan berkurangnya fenomena bencanahydrometeorology yang turut ditimbulkan. Banjir luas yang terjadi pada tahun 2015 memberi dampak kepada 6.997 jiwa penduduk, sehingga menimbulkan gelombang pengungsian, kerusakan aset, masalah kesehatan, aktivitas pendidikan, transportasi, dan sosial lainnya. Dalam laporan tentang Risiko Bencana Indonesia yang dirilis pada tahun 2016 oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kabupaten Aceh Tamiang memiliki 121.128 jiwa penduduk yang terkategori sebagai risiko rendah terhadap banjir, sedangkan 110.998 jiwa berisiko sedang, dan 17.427 berisiko tinggi. Kerugian fisik yang tertinggi pernah dialami akibat banjir adalah sebesar 138.884 milyar, sementara kerugian ekonomi tetinggi adalah sebesar 346 milyar, dan dampak pada lingkungan tertinggi seluas 12.171 ha. Dapat dibandingkan antara PDRB yang dihasilkan oleh kegiatan ini dengan sejumlah kerugian yang dihasilkan yang membutuhkan biaya rehabilitasi yang tinggi.

Di samping banjir biasa, BNPB juga memprediksikan Kabupaten Aceh Tamiang berisiko mengalami banjir bandang yang dampaknya akan lebih besar.

Dampak jangka panjang dari menurunnya daya tampung lingkungan akibat alih fungsi lahan ini salah satunya adalah banjir akibat curah hujan yang semakin tinggi dan menerus yang berakibat meluapnya aliran sungai. Sejumlah wilayah sempadan sungai yang berpotensi besar terdampak banjir adalah kawasan pada aliran Sungai Simpang Kiri, Sungai Simpang Kanan dan Sungai Tamiang adalah Kecamatan Tenggulun, Tamiang Hulu, Kejuruan Muda, Kota Kuala Simpang, Rantau, Karang Baru, Manyak Payed, Seruway dan Bendahara. Jika saja bencana ini terus-menerus terjadi setiap tahun, maka pengeluaran daerah untuk melakukan rehabilitasi akan semakin besar.

Dampak Kekeringan

Dampak berikutnya dari alih fungsi lahan adalah menyusutnya persediaan air tanah, sehingga sejumlah kawasan di Kabupaten Aceh Tamiang sudah mulai rentan kekeringan. Dampaknya tidak lagi dirasakan oleh sejumlah keluarga, bahkan pada musim kemarau tertentu melanda sejumlah desa. Keadaan ini memaksa masyarakat untuk memperbesar pengeluaran mencukupi ketersediaan air bersih, disamping sejumlah bantuan penyaluran air bersih yang harus disediakan oleh pemerintah. Belum terhitung jumlah kasus penyakit yang menjangkiti masyarakat pasca banjir surut.

Pada Tabel 3.4. di atas telah diperlihatkan persentase masyarakat dengan akses air minum layak dapat dilihat masih rendah di sejumlah kecamatan. Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2017 menunjukkan persentase penduduk yang memiliki akses air minum yang layak tahun 2016 adalah 64,5% (182.452 dari 282.921 jiwa). Angka ini menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dan seluruh pemangku kepentingan yang ada masih harus bekerja keras untuk meningkatkannya. Meski tidak tersedia data pendukung tentang penggunaan sumur tanah, namun biasanya masyarakat di wilayah pedalaman belum memiliki air minum yang terlindungi seperti air ledeng dan masih menggantungkan sumber air minumnya dari sumur tanah tentunya sangat rentan dengan terjadinya kekeringan.

Dampak Kesehatan

Banjir dan kekeringan membawa masalah kesehatan, yaitu akibat kurangnya ketersediaan air bersih. Salah satu alat pengukuran Rumah Tangga ber-PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) dihitung melalui penggunaan air bersih, seperti mencuci tangan dengan air bersih dan sabun menggunakan jamban sehat. Target nasional untuk rumah ber PHBS adalah sebesar 70%, sementara di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012 s/d 2016 masih dibawah target yang ditetapkan. Penanganan lingkungan hidup yang berlarut akan terus membawa dampak pada kesehatan keluargaa, terutama cakupan rumah tangga ber-PHBS. Tabel 3.18. berikut menyajikan persentase rumah tangga ber-PHBS di Kabupaten Aceh Tamiang.

Tabel 3.18. Perkembangan rumah tangga per-PHBS tahun 2012 – 2016

No Uraian Satuan Tahun

2012 2013 2014 2015 2016 1 Jumlah Rumah Tangga

PHBS

Unit 3.509 1.418 321 64.067 71.03 1 2 Jumlah RT Yang Dipantau Unit 8.890 19.149 6.073 8.402 4.830

3 Persentase RT Ber PHBS % 39,5 7,4 5,3 13,1 6,8

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang, 2017.

Tanpa adanya air bersih, maka dikhawatirkan sejumlah penyakit akan diderita oleh masyarakat, bahkan bahaya penyakit menular lainnya yang akan terus menjadi beban daerah di bidang kesehatan. Selain itu, juga kasus-kasus seperti akibat gigitan nyamuk Malaria dan Demam Berdarah yang cenderung terus meningkat dalam lima tahun terakhir, sebagaimana terlihat pada Tabel 3.5. di atas.

Dampak Konflik Sosial

Konflik sosial yang didata oleh Dinsosnaker Kabupaten Aceh Tamiang, yaitu berupa sengketa antara karyawan dan perusahaan ternyata kasusnya lebih tinggi dari pada yang diberitakan oleh media massa yang menjadi sumber penghitungan SNPK. Dengan demikian, jumlah riil konflik sosial yang terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang terkait pengelolaan sumberdaya alam bisa saja lebih tinggi dari pada kabupaten lainnya di Aceh, sebagaimana pada Gambar 3.12. berikut.

Gambar 3.12. Pertambahan kasus konflik sosial terkait pengelolaan sumberdaya alam

Sumber: Diolah Berdasarkan Ketersediaan Data Dinsosnaker dan SNPK Kemenko PMK 0

3 2

1 0 1

0

11

8

11 12

15

0 2 4 6 8 10 12 14 16

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017

Data SNPK Data Dinsosnaker Kabupaten Aceh Tamiang

Semua kasus konflik yang bersumber dari Dinsosnaker terlihat banyak pada kasus administratif, yaitu disebabkan oleh perselisihan karyawan dan pihak manajemen perusahaan terkait; a. Indisipliner, b. Pelanggaran terhadap peraturan perusahaan, c.

Persoalan upah kerja, dan d. Terkait kebijakan baru dari perusahaan yang tidak disetujui oleh karyawan. Dalam daftar kasus yang dikumpulkan oleh Kemenko PMK terdapat satu kasus tentang sengketa kepemilikan lahan antara perusahaan dan masyarakat. Sementara itu kasus yang paling menonjol dan masih menjalani persidangan adalah proses pembangunan pabrik semen oleh PT. Tripa Semen Aceh yang dinilai oleh sejumlah kalangan LSM Lingkungan akan merusak Kawasan Ekosistem Leuser. Kasus ini juga terpantau oleh kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol dan Linmas) Provinsi Aceh dalam rangka melakukan deteksi dini konflik sosial.

Persoalan kedua yang diperhitungkan akan memunculkan konflik sosial adalah tentang rencana pembangunan kawasan industri Halal Food di Kecamatan Seruway seluas 400 ha, yang direncakan akan banyak melakukan usaha peternakan. Jika dilihat dari kasus- kasus yang terjadi di kabupaten lain di Aceh, biasanya konflik tidak hanya terjadi antara karyawan dan perusahaan akibat hak-hak atau keinginan yang belum terpenuhi, tapi juga lantara pencemaran yang disebabkan oleh aktivitas perusahaan. Dalam kasus kawasan Halal Food sangat penting diperhatikan tentang tentang manajemen pengelolaan sampah dan limbahnya, terutama karena kawasan industri ini berlokasi di dekat pemukiman penduduk. Meski kegiatan ini akan membawa manfaat besar bagi masyarakat di Kabupaten Aceh Tamiang secara ekonomi, namun sejumlah kasus di berbagai daerah menunjukkan adanya ketegangan antara warga setempat jika kegiatan produksi dinilai menimbulkan dampak negatif kepada lingkungan hidup, seperti kualitas air dan udara. Jika terjadi, maka kemudian dibutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit untuk pemulihannya.

Dalam dokumen KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) (Halaman 123-128)