BAB IV PEMBAHASAN
4.6 Pembangunan Sub Sektor Perikanan Tangkap Tuna dan Arahan Strategi
4.6.2 Faktor Strategi Eksternal Pengembangan Sumber daya ikan
140 Keadaan harga dari hasil perikanan, bahan dan alat produksi seperti digambar telah mengakibatkan permodalan nelayan dan petani ikan semakin merosot, dan ―bargaining position‖ nelayan dalam hal penjualanhasil usahanya maupun dalam hal pembelian bahan dan alat produksi tambah hari tambah merosot pula. Di pihak lain, para pedagang pengumpul/tengkulak yang beroperasi di daerah pelabuhan perikanan labuan Bajo Kab donggala tambah kuat ― bargaining position‖ nya. Di Sulawesi Tengah, pedagang pengumpul ini disamping sebagai pembeli ikan, pada umumnya juga berperan sebagai penjual (supplier) bahan dan alat perikanan untuk nelayan dan petani ikan yang penjualannya secara kredit uang untuk nelayan dan petani ikan yang penjualannya secara kredit, dan juga pemberi kredit uang untuk nelayan atau petani ikan. Pada waktu nelayan atau petani ikan menjual hasil usahanya kepada tengkulak bersangkutan maka dalam penyelesaian hutang piutang (kredit), para tengkulak memperhitungkan sejumlah bunga yang tinggi yang harus dibayar oleh nelayan atau petani ikan pelagis tuna. Sistim perkreditan macam ini merupakan salah satu dari berbagai faktor kelemahan internal pengembangan ikan tuna yang lemah bargaining position‖ nelayan atau petani ikan.
Strategi yang perlu diterapkan di dalam pengembangan sumber daya optimal ikan pelagis tuna di PPI Paranggi Kabupaten Parigi Moutong yaitu membentuk kerja sama diantara nelayan atau petani ikan bermodal kecil seperti dalam bentuk ― perkumpulan Koperasi ― (marketing cooperative) dapat memperkuat ―bargaining position‖ mereka dalam hal penjualan hasil, membantu nelayan dalam perkreditan dan menghindari nelayan terhadap praktek tengkulak yang merugikan nelayan atau petani ikan,
4.6.2 Faktor Strategi Eksternal Pengembangan Sumber Daya Ikan Pelagis Tuna di PPI
141 seiring dengan dsahkannya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Oleh karenanya, desentralisasi pembangunan dinilai memiliki makna yang semakin penting. Inti dari desentralisasi ini pada dasarnya adalah pemberdayaan wilayah dan masyarakat, serta pengembangan prakarsa dan kreativitas lokal. Desentralisasi memungkingkan daerah-daerah tersebut mempunyai kewenangan dan keleluasaan yang lebih besar untuk melaksanakan kebijakan dengan prakarsa dan aspirasi masyarakat serta kondisi daerahnya masing-masing.Salah satu wujud dari implementasi desentralisasi adalah ditindak lanjutinya gagasan otonomi daerah melalui penetapan UU No. 22/1999 JO UU nomor 32.2004 tentang Pemerintahan Daerah. Hal menarik, yang patut dicermati adanya pasal yang mengatur kewenangan daerah dalam pengelolaan wilayah perairan laut dalam kneario otonomi daerah . Disebutkan dalam pasal 10 UU No. 22/199, bahwa daerah Provinsi berwenang mengelola wilayah laut maksimum sejauh 12 mil dari garis pantai , sementara daerah kabupaten/kota berwenang mengelola wilayah laut sejauh sepertiga dari batas kewenangan daerah Provinsi atau sekitar 4 mil laut dari garis pantai. Sebagaimana yang tertuang pada pasal 18 ayat 93) UU No. 31/2004, jenis kewenangan tersebut diantaranya mencakup:
a. Eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan kekayaan laut b. Pengaturan administratif
c. Pengaturan Tata Ruang
d. Penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenanangannya oleh pemerintah
e. Ikut serta dalam pemeliharaan keamanan; dan f. Ikut serta dalam Pertahanan kedaulatan negara.
Dengan demikian, hal ini memperjelas bahwa implementasi otonomi daerah membawa sejumlah implikasi terhadap aktivitas pemanfaatan sumber daya ikan. Pertama, sudah seharusnya daerah mengetahui potensi perikanan serta batas-batas wilayahnya sebagai dasar untuk meregulasi pengelolaan sumber daya dengan tetap memperhatikan peraturan-peraturan per undang-undangan yang berlaku, seperti penentu jenis ikan dan tipe kegiatan perikanan yang sesuai di daerahnya, Kedua, daerah yang dituntut bertanggung jawab atas kelestarian sumber daya ikan di daerahnya. Karena kerusakan sumber daya ikan di suatu daerah berdampak terhadap keberlanjutan sumber daya ikan di daerah lain. Ketiga, semakin terbukanya peluang luar negeri dan bagi masyarakat lokal, terutama masyarakat nelayan untuk terlibat dalam proses pengelolaan sumber daya ikan pelagis tuna di Kabupaten donggala.
142 Di sisi lain, globalisasi perekonomian dan liberalisasi perdagangan dunia sangat mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia yang menganut sistem ekonomi terbuka.
Globalisasi perekonomian dunia yang semakin kompleks dan kompetitif menuntut tingkat efisiensi yang tinggi. Pergerakan ke arah tingkat efisiensi ini menuntut penggunaan tekhnologi tinggi yang semaikin intensif dengan tetap memperhatikan asas-asas kelestarian lingkungan, serta kemampuan manajerial dan profesionalisme yang semakin meningkat pula. Dampak lain dari kondisi tersebut adalah persaingan yang ketat dalam kualitas produk termasuk produk dan njasa dari subsektor perikanan tangkap.
Terdapat enam alasan utama mengapa sektor program peningkatan daya saing produk perikanan dilakukan antara lain:
1. Kegiatan terintegrasi hulur hilir dengan bentuk klaster
2. Penerapan Cold Chain System (CCS) melalui pembangunan dan optimalisasi pabrik es 3. Peningkatan promosi dan pemasaran hasil perikanan berupa peningkatan pasar ikan
tradisional
4. Pembangunan sentra-sentra pengelola ikan dan produk perikanan lain
5. Diversifikasi peningkatan mutu dan promosi produk olahan hasil produksi UMKM 6. Penibgkatan konsumsi ikan perkapita/ tahun
Untuk penjelasan ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 45 Matrik Faktor Strategi Eksternal Pengembangan Ikan Tuna Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2008
Kode Unsur SWOT Bobot Rating Skor
Eksternal A B AXB
Peluang P1
P2 P3 P4
Peluang pengembangan usaha ke depan Dukungan pemerintah daerah
Daya dukung lingkungan Kondisi perekonomian daerah
0.09 0.13 0.12 0.10
3 3 3 3
0.27 0.39 0.36 0.30
Ancaman A1
A2 A3 A4 A5
Iklim
Ancaman bencana alam
Nelayan dari luar daerah/luar negeri Kebijakan import ikan dari luar negeri Lembaga keuangan penyedia modal
0.11 0.10 0.11 0.11 0.10
2 2 2 2 2
0.26 0.24 0.22 0.20 0.20
Total 1.00 2.44
143 Tabel 46. Model Matrik Analisis SWOT Kabupaten Parigi Moutong tahun 2008
Faktor Internal
Faktor Eksternal
Kekuatan 1. Ketersediaan
stok/konsistensi pasokan ikan
2. Peralatan tangkap ikan 3. Infrastruktur pelabuhan 4. Jaringan distribusi
pemasaran
5. Modal internal bagi pengembangan usaha 6. SDM nelayan
Kelemahan 1. Ikan mengandung
zat berbahaya 2. Fasilitas
pergudangan 3. Manajemen
pengelola kelompok
Peluang
1. Peluang pengembangan usaha ke depan
2. Dukungan pemerintah daerah 3. Daya dukung lingkungan 4. Kondisi perekonomian daerah
Kebijakan KP Kebijakan LP
Ancaman 1. Iklim
2. Ancaman bencana alam 3. Nelayan dari luar daerah/luar
negeri
4. Kebijakan import ikan dari luar negeri
5. Lembaga keuangan penyedia modal
Kebijakan KP Kebijakan LP