• Tidak ada hasil yang ditemukan

Iklim

Dalam dokumen PDF Laporan Hasil Penelitian (Halaman 56-62)

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian

4.1.1 Iklim

Sulawesi Tengah secara geografis memiliki luas wilayah perairan laut sebesar 193.000 km2 dengan panjang garis pantai4013 km dan jumlah pulau 729 buah. Perairan

56 tersebut mencakup laut Sulawesi, Selat Makassar, Teluk Tomini, dan Teluk Tolo dengan faktor oseanografi dan karakteristik yang spesifik pada wilayah masing-masing perairan lainnya.

Sejak dicanangkannya program Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 11 Juni 2005 maka dimulainya upaya untuk mewujudkan keunggulan kompetitif yang dibangun atas keunggulan komparatif berupa kekayaan sumberdaya alam yang dikelola dan diusahakan dengan menerapkan ilmuPengetahuan dan Teknologi (IPTEK) serta manajemen professional. Pada sector perikanan khususnya sub sctor perikanan tangkap, komoditas yang dikedepankan dalam revitalisasi adalah perikanan Tuna.

Perikanan Tuna merupakan salah satu primadona Perikanan Indonesia mengingat kontribusi komoditas ini dalam perolehan devisa maupun pertumbuhan nilai expornya sangat signifikan. Dari pendapatan devisa hasil perikanan, kelompok Tuna dan cakalang merupakan hasil divisa kedua setelah udang, perlu diketahui selain udang. Tuna juga merupakan komoditas perikanan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan mampu memasuki pasar Internasional. Hal ini terbukti dengan semaikin tingginya permintaan pasar dunia, terutama Jepang sebagai Negara pengkonsumsi ikan Tuna di dunia.

Program Revitalisasi Perikanan Tuna meliputi perbaikan fasilitas penanganan ikan diatas kapal dan didarat, penerapan metode penangkapan dan penanganan ikan yang baik serta peningkatan kelembagaan usaha perikanan tangkap. Pembangunan revitalisasi perikanan menghadapi beberapa masalah antara lain :

1. Belum memadainya sarana/prasarana dan dukungan modal

2. Ketimpangan pemanfaatan stok ikan antar wilayah ataupun antar spesies 3. Keamanan dan kepastian hukum dalam berusaha

4. Hasil perencanaan tata ruang laut, pesisir dan pulau-pulau kecil belum seluruhnya ditindak lanjuti dengan penetapan PERDA oleh Pemerintah Daerah , terkait dengan perlunya kepastian tata ruang untuk pengembangan areal budidaya udang dan rumput laut.

5. Kelembagaan nelayan dan pembudidaya ikan masih perlu ditingkatkan

6. Belum ikutnya Indonesia dalam keanggotaan organisasi Internasionalseperti Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT) dan West and Central Pasifik Fisheries Commision (WCPFC).

57 7. Semakin kentalnya persyaratan ekspor produk perikanan khususnya ke Uni Eropa Amerika Serikat dan Jepang, sedangkan peralatan Laboratorium mutu dan tenaga fungsional penguji mutu dilapangan masih terbatas.

8. Masih rendahnya mutu bahan baku dan tingginya losses 9. Masih lemahnya sistem informasi pemasaran

10. Kondisi sarana dan prasarana pemasaran yang minim dan belum memenuhi standar sanitasi dan higienis.

Upaya yang telah dilakuuukan dalam rangggka pelaksanaan revitalisasi perikanan terkait dengan pengembangan perikanan tangkap dengan komoditas utama Tuna antara lain:

a. Restrukturisasi armada perikanan tangkap

b. Optimasi perikanan tangkap berbasis wilayah (wilayah pengelolaan perikanan, high seas, dan perairan umum).

c. Implementasi Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 17 Tahun 2006 yang diamandemen menjadi Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 05 tahun 2008 tentang Usaha Perikanan dalam Rangka Pengembangan Usaha Perikanan Tangkap Terpadu.

d. Pemanfaatan alat bantu, penataan sistem penangkapan ikan, dan penetapan fishing ground.

e. Pemberian rekomendasi kapal ikan asing (KIA) pada lisensi beralih status menjadi joint venture sebanyak 12 perusahaan patungan dengan jumlah kapal sebanyak 279 unit.

f. Penyiapan lahan industri di Pelabuhan Perikanan (PPN) Tuai, PpnTernate, PPN Pelabuhan Ratu, PPN Sibolga).

g. Penetapan seluruh UPT Pusat Pelabuhan Perikanan (PPS, PPN, PPP, PPI) disejumlah 21 lokaaasi sebagai pelabuhaaan pangkalan perikanan.

h. Penetapan 13 lokasi untuk pembantuan proses perizinan usaha perikanan tangkap dengan jumlah kapal yang telah dilayani sebanyak 208 kapal.

i. Pemantapan revitalisasi perikanan tuna melalui peningkatan fasilitas dan prosedur proses penanganan ikan diatas kapal dan ditempat pelelangan ikan (TPT), seperti palkanisasi, cool box, dan pembinaan teknis penanganan.

Revitalisasi perikanan akan difokuskan pada beberapa langkah kebijakan yaitu pertama, pengembangan industri perikanan terpadu meliputi pengembangan industri perikanan terpadu meliputi pengembangan industri perikanan tuna terpadu secara vertical

58 dan horizontal termasuk inisiasi dan pengembangan awal budi daya tuna untuk menghasilkan tuna segar, pengembangan industri tambak udang terpadu secara vertical dan horizontal, termasuk pembangunan broodstock, panti perbenihan, pabrik pakan, dan obat-obatan penanggulangan hama dan penyakit serta pengembangan

Pengembangan prasarana pelabuhan sebagai penangkal dan pencegah IUU fishing, transhipment dan kapal ikan ke kapal angkut secara illegal.Pengembangan pelabuhan diharapkan dilakukan oleh Swasta. Peningkatan partisipasi Indonesia dalam perikanan Regional, utamanya sebagai anggota (contracting party) dari Commission for Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT), Keanggotaan ini akan membuka akses Indonesia sebagai pemanfaat sumber daya ikan (utamanya tuna ) diperairan Internasional .(high seases)yaitu Samudra Hindia. Keanggotaan Indonesia juga akan membuat Indonesia memiliki Kuota produksi dan pasar internasional serta menghindari Indonesia dari kemungkinan embargo produk tuna.

4.1.2 Pelabuhan perikanan/ Pangkalan Pendaratan Ikan Tuna di Kabupaten Donggala Salah satu elemen yang sangat penting untuk mendukung kelancaran operasional kegiatan perikanan tangkap tuna di pelabuhan labuan bajo serta kegiatan revitalisasi tuna di Sulawesi Tengah adalah tersedianya prasarana pendukung untuk tempat berlabuh atau bersandar bagi kapal-kapal perikananserta tempat untuk mendaratkan ikan hasil tangkapan tuna. Prasarana dimaksud berupa Pelabuhan Perikanan atau Pangkalan ikan sebagai tempat atau pangkalan untuk memperoleh pemenuhan kebutuhan bagi kapal- kapal perikanan.

Pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan /PPI diharapkan dapat mendukung pengembangan industri perikanan yang berwawasan Agribisnis yang akan memberikan nilai tambah bagi produk yang dihasilkan. Fungsi mpelabuhan Perikanan/n pendaratan ikan sebagai berikut:

4.1.3 Data Produksi Ikan di Pelabuhan Perikanan Tangkap di Lokasi Penelitian

Pengumpulan data produksi ikan tuna di pelabuhan perikanan diperoleh dari form catatan harian perahu/kapal motor yang mendarat di tempat pendaratan ikan yang kemudian direkap setiap bulan dengan menggunakan daftar produksi perusahaan perikanan laut/catatan produksi tempat pendaratan ikan.

59 Data yang dibutuhkan untuk melengkapi penyajian data inti dari statistik pelabuhan perikanan adalah :

1. Nama Kapal yang mendaratkan Ikan

2. Aktifitas Kapal berupa tanggal berangkat operasi, Tanggal tiba kembali ditempat pendaratan ikan dan tanggal pembongkaran/pendaratan hasil tangkapan

3. Status Kapal yang mendaratkan ikan yaitu kapal penangkap ikan, kapal penangkap ikan sekaligus kapal pengangkut atau kapal pengangkut.

4. Nama kapal penangkap ikan yang hasil tangkapannya diangkut oleh kapal mendaratkan ikan.

5. Jenis alat penangkapan ikan yang digunakan.

6. Daerah asal kapal penangkap ikan

7. Jenis Kapal penangkap ikan (motor temple,kapal motor) 8. Ukuran kapal penangkap ikan (tonase)

9. Wilayah pengelolaan Perikanan (WPP) dari daerah penangkapan ikan 10. Daerah penangkapan ikan

11. Biaya operasional kegiatan penangkapan ikan yaitu : Bahan bakar, oli, umpan,es, perbekalan makanan dan minuman, air tawar, upah nakhoda, upah anak buah kapal ABK), biaya tambat labuh,dll.

12. Produksi ikan tuna/cakalang/tongkol dan nilainya menurut spesies dan mutu 4.1.4 Metoda Pengumpulan Data

Dalam pendataan revitalisasi perikanan tuna ada bebrapa hal yang harus diperhatikan antara lain :

1. Pengumpulan data dilaksanakan untuk semua kapal yang mendaratkan salah satu, beberapa atau semua jenis ikan tuna, cakalang dan tongkol.

2. Pengumpulan data dilaksanakan menurut jenis alat penangkapan ikan dan jenis/kategori ukuran kapal penangkap

3. Pencatatan dilaksanakan setiap hari dan data yang diperoleh direkap setiap bulan 4. Untuk menjamin validitas data, maka kegiatan pengumpulan data dilakukan oleh

minimal dua orang pengumpul data,

5. Data yang dicatat adalah volume (dalam kilogram) setiap kategori mutu dari jenis ikan dalam keadaan utuh, Bila ikan didaratkan dalam bentuk lain maka harus dikembalikan keberat utuhnya menggunakan table bantu berdasarkan table konversi.

60 6. Produksi menurut spesies ikan harus sama dengan produksi menurut spesies ikan.

Prinsip ini mengacu kepada ketentuan dalam statistik yang menghindari pengabaian dan penghitungan ganda.

7. Produksi ikan dicatat menurut spesies dan mutu ikan berdasarkan criteria yang disusun

8. Jika status kapal yang mendaratkan ikan adalah kapal pengangkut atau kapal penangkap ikan yang sekaligus sebagai kapal pengangkut, maka enumerator harus mencari informasi tentang kapal penangkap ikan yang hasil tangkapannya diangkut oleh kapal tersebut berikut volume dan jenis ikannya.

4.1.5. Pengumpulan Data Untuk Ikan yang Didaratkan Di Pelabuhan Perikanan

Untuk mengumpulkan data jenis ikan, mutu dan produksi yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan atau Unit Pengolahan Ikan memerlukan pengumpul data yang dapat menilai mutu ikan tuna, cakalang dan tongkol. Dalam rangka mengikuti perkembangan pendaratan ikan tuna, cakalang dan tongkol, maka pengumpulan data dilakukan melalui dua cara, yaitu: Ikan yang didaratkan ditimbang beratnya menurut jenis ikan (spesies) Pengumpul data 1 :

a. Mencatat berat ikan (apabila ikan didaratkan dalam bentuk olahan/tidak utuh, maka harus dikembalikan keberat utuh menggunakan table bantu)

b. Memeriksa dan mencatat mutu ikan

c. Mencatat nilai produksi menurut jenis ikan

Pengumpul data II :

Mencari informasi melalui wawancara dengan ABK atau nakhoda atau data dari loog book/buku keluar/syahbandar tentang : identitas kapal (nama, daerah asal kapal, status kapal, ukuran kapal), aktifitas kapal (daerah operasi,tanggal masuk/tiba/bongkar, biaya operasi).

Hasil pengumpulan data dari form catatan harian produksi ikan Tuna/Cakalang/Tongkol menurut mutu ikan dikumpulkan dan direkap menurut alat penangkapan ikan setiap bulan menggunakan rekapitulasi data harian produksi ikan Tuna/Cakalang/Tongkol.

61 Pengumpulan Produksi Ikan Tuna

Secara teknis pengumpulan data untuk ikan yang didaratkan di pelabuhan perikanan tetapi di unit pengolahan ikan juga dilakukan dengan dua cara yaitu sebagai berikut:

Pengumpul data 1 :

- Mencatat hasil penimbangan setiap jenis (spesies) ikan dan mencatat mutunya

- Mencari informasi tentang nilai setiap jenis ikan menurut mutunya melalui wawancara atau catatan lainnya.

Pengumpul data 2 :

Mencari informasi baik melalui wawancara dengan ABK atau nakhoda atau data dari logbook/bukumkeluar/syahbandar tentang : Identitas kapal (nama, daerah asal kapal, status kapal, ukuran kapal),aktifitas kapal (daerah operasi, tanggal masuk/tiba/bongkar, biaya operasional)

Hasil pengumpulan data dari form catatan harian produksi ikan Tuna/Cakalang/Tongkol menurut mutu ikan dikumpulkan dan direkap menurut alat penangkapan ikan setiap bulan.

Pengiriman Data

Pelabuhan Perikanan mengirimkan data sekunder ke Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (Direktorat Sumberdaya Ikan) dengan tembusan ke Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi mengirimkan data dari UPTD ke Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (Direktorat Sumberdaya Ikan).

Form Pengumpulan Data

Untuk form pengumpulan data digunakan : a. Catatan Harian Produksi

b. Rekapitulasi catatan harian produksi

c. Tabel bantu untuk ikan yang sudah mengalami perlakuan

4.2 Dukungan Sarana dan Prasarana Dalam Program Revitalisasi Perikanan Tuna Sulawesi Tengah

4.2.1 Pelabuhan Perikanan/Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI)

62 Salah satu elemen yang sangat penting untuk mendukung kelancaran operasional kegiatan perikanan tangkap serta kegiatan revitalisasi tuna di Sulawesi Tengah adalah tersedianya prasarana pendukung untuk tempat berlabuh atau bersandar bagi kapal-kapal perikanan serta tempat untuk mendaratkan ikan hasil tangkapan. Prasarana dimaksud berupa Pelabuhan Perikanan atau Pangkalan Pendaratan Ikan sebagai tempat atau pangkalan untuk memperoleh pemenuhan kebutuhan bagi kapal-kapal perikanan.

Pembangunan dan pengembangan pelabuhan Perikanan/PPI diharapkan dapat mendukung pengembangan industri perikanan yang berwawasan Agribisnis yang akan memberikan nilai tambah bagi produk yang dihasilkan. Fungsi Pelabuhan Perikanan/Pangkalan Pendaratan Ikan, sebagai berikut:

1. Sebagai pusat pengembangan masyarakat nelayan dan pertumbuhan ekonomi nelayan.

2. Tempat berlabuh kapal perikanan 3. Tempat pendaratan ikan hasil tangkapan

4. Tempat pelayanan dan memperlancar kegiatan operasional kapal perikanan 5. Pusat pelaksanaan pembinaan dan penanganan mutu hasil perikanan

6. Pusat pemasaran dan distribusi hasil perikanan

7. Pusat pelaksanaan penyuluhan dan pengumpulan data perikanan 8. Tempat pelaksanaan pengawasan (MCS).

Berdasarkan hal tersebut telah dibangun beberapa PPI yang masing-masing ditempatkan di tiga (3) zona pengelolaan perikanan tangkap yakni zona I laut Sulawesi dan Selat Makassar telah dibangun dan dikembangkan PPI Donggala, zona II Perairan Teluk Tomini PPI Paranggi dan PPI Malenge di Kepulauan Togean serta zona III Perairan Teluk Tolo PPI Kolonedale.

PETA LOKASI PELABUHAN PERIKANAN/PPI (Propinsi Sulawesi Tengah)

ZONA I KOTA PALU KAB. DONGGALA

KAB. TOLITOLI KAB. BUOL

ZONA II KAB. PARIGIMOUTONG

KAB. POSO KAB. BANGGAI KAB. TOJO UNAUNA

ZONA III KAB. BANGGAI KAB. BANGKEP KAB. MOROWALI

63 Gambar 3. Peta Lokasi Pelabuhan Perikanan/PPI

Krisis ekonomi yang berkepanjangan, diikuti oleh kenaikan harga bahan Bakar Minyak (BBM) sangat terasa di segala aspek lini kehidupan masyarakat. Dalam kondisi perekonomian masyarakat yang sangat memprihatinkan saat ini, kenaikan BBM semakin menambah beban masyarakat yang sampai saat ini masih juga menanggung beban krisis ekonomi.

Kenaikan harga BBM akan mengakibatkan efek dominan di masyarakat, baik secara ekonomi maupun sosial politik kebijakan menaikan harga BBM juga akan menimbulkan kerawanan sosial di masyarakat. Di tengah kehidupan sosial-ekonomi yang parah yang semakin terhimpis krisis, kebutuhan hidup semakin meningkat, sementara daya beli masyarakat semakin rendah, yang akan menimbulkan ketidakstabilan sosial- ekonomi dan keamanan.

Potensi perikanan tangkap Indonesia diperkirakan mencapai Potensi perikanan tangkap Indonesia diperkirakan mencapai 6.28 juta ton per tahun dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan sebesar 5.01 juta ton atau 80% dari MSY (Maximum Sustainable Yield). Jumlah tangkapan hingga saat ini mencapai 3.50 juta ton sehingga tersisa peluang sebesar 1.50 juta ton/tahun. Potensi perikanan tangkap tersebut diperkirakan memiliki nilai ekonomi US$ 15.10 milyar. Potensi ini tersebar dalam sepuluh wilayah pengelolaan perikanan yang meliputi Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Laut Jawa, Selat Makassar dan Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram dan Teluk Tomini, Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik, Laut Arafura, Samudera Hindia A (Barat Sumatera) dan Samudera Hindia B (Selatan Jawa dan Nusa Tenggara) (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2003). Selanjutnya. Olii (2007) mengatakan bahwa potensi perikanan wilayah Teluk Tomini sebesar 590.620 ton per tahun namun tingkat pemanfaatannya sebesar 197.640 ton per tahun (33,46%). Adapun potensi perikanan pelagis besar sebesar 39.420 ton (Tuna) per tahun dan tingkat pemanfaatanya sebesar 37,01%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan

64 bahwa tingkat eksploitasi sumberdaya perikanan pelagis di perairan Teluk Tomini diduga belum optimal atau masih underfishing sehingga masih dapat dikembangkan.Secara geografis perairan Teluk Tomini terletak pada 3 daerah administrasi provinsi dan 10 kabupaten. Dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 32 tahun 2004, dijelaskan bahwa kewenanangan pengelolaan sumberdaya pesisir provinsi sejauh 12 mil dan wilayah kabupaten sejauh 4 mil. Ini berarti bahwa setiap provinsi dan kabupaten dapat menyusun rencana strategis pengelolaan sumberdaya perikanan secara sendiri-sendiri sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh undang-undang. Hal ini akan berdampak kurang baik bagi keberlanjutan sumberdaya perikanan karena setiap daerah berusaha untuk memanfaatkan sumberdaya tersebut sebesar-besarnya. Selain itu karena sumberdaya ikan pelagis bersifat dinamis dan dapat berpindah-pindah dari daerah perairan kabupaten/provinsi yang satu ke perairan kabupaten/provinsi lainnya sehingga memungkinkan nelayan yang berada di suatu kabupaten/provinsi akan menangkap ikan di perairan kabupaten/provinsi lainnya. Data dibawah ini produksi ikan tuna.

Tabel 12. Produksi Ikan Tuna PPI Labuan Bajo Kabupaten Donggala Tahun 2012

No. Bulan

JENIS IKAN

Tuna Cakalang Baby Tuna Tongkol

Kg Nilai

Kg Nilai

Kg Nilai

Kg Nilai

(Rp 1000) (Rp 1000) (Rp 1000) (Rp 1000)

1 April

9,087

272,610

1,850

27,750

2,950

59,000

8,050

161,000

2 Mei

10,041

281,148

4,150

60,175

2,500

46,250

8,150

138,550

3 Juni

22,852

639,856

1,700

22,950

2,410

44,585

6,050

102,850

4 Juli

20,632

577,696

5,500

71,500

2,400

44,400

5,600

95,200 5 Agustus

2,076

62,280

10,000

140,000

4,075

77,425

7,350

132,300 6 September

2,256

67,680

11,840

165,760

4,525

85,975

7,545

135,810 7 Oktober

-

-

48,900

293,400 -

-

11,900

95,200 8 Nopember

43,921

1,301,608

2,695

48,870

2,476

51,356

5,645

107,865 9 Desember

2,370

71,100

21,805

327,075

5,490

109,800

9,400

141,000 Jumlah 113,235 3,273,978 108,440 1,157,480 26,826 518,791 69,690 1,109,775

65

Grafik 2 : Produksi Ikan Tuna di PPI Labuan Bajo Kab Donggala Tahun 2012

Upaya untuk melakukan pengeloaan bersama antar propinsi telah dimulai pada tahun 2003 ketika dicanangkan Gerakan Nasional Pembangunan Kelautan dan Perikanan (Gerbang Mina Bahari), namun baru dapat terwujud dalam bentuk penandatangan kesepakatan oleh tiga gubernur provinsi Sulut, Gorontalo dan Sulteng pada tanggal 19 Mei 2009. Terdapat 4 kesepakatan yang disetujui ketiga gubernur tersebut yaitu :

1. Menetapkan rencana strategis pengelolaan Teluk Tomini secara terpadu dan berkelanjutan sebagai dokumen perencanaan pembangunan daerah.

2. Pelaksanaan pengelolaan Teluk Tomini secara terpadu dan berkelanjutan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan menerapkan strategi pengelolaan secara konsisten dan konsekuen.

3. Penguatan kelembagaan pengelolaan Teluk Tomini secara terpadu dan berkelanjutan untuk melaksanakan koordinasi, integrasi, sinergitas program/kegiatan dan evaluasi bersama.

4. Peningkatan alokasi anggaran untuk pengelolaan Teluk Tomini secara terpadu dan berkelanjutan melalui APBD ketiga provinsi, APBD Kabupaten/Kota, dukungan APBN; penggalangan dunia usaha, masyarakat serta kerjasama internasional.

Sumberdaya perikanan pelagis di perairan Teluk Tomini masih diduga underfishing, untuk itu diperlukan konsep pengembangan perikanan untuk mencapai laju eksploitasi optimum. Besarnya laju eksploitasi optimum sangat bergantung kepada pembuat kebijakan (Panayotou, 1982 dan Koswara, 2009). Selama ini kebijakan

66 pengelolaan sumberdaya perikanan pelagis di perairan Teluk Tomini dilakukan secara parsial berdasarkan pendekatan kewilayahan geografis belum dilakukan secara terpadu berdasarkan pendekatan kawasan ekologis. Dalam keadaan yang masih underfishing, sumberdaya perikanan pelagis di perairan Teluk Tomini selayaknya dikelola secara terpadu untuk menjamin keberlanjutannya.

4.2.2 Profil Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di Sulawesi Tengah

Pangkalan Pendataran Ikan (PPI) Paranggi Kabupaten Parigi Moutong

Pelabuhan Paranggi terletak di Desa Paranggi Kecamatan Ampibabo Kabupaten Parigimoutong untuk daerah penangkapan adalah Teluk Tomini. PPI ini berjarak lebih kurang ± 2 Km dari ibu kota Kecamatan atau sekitar 50 Km dari ibu kota Kabupaten dan sekitar 97 Km dari ibu kota Provinsi.

Tabel 13. Produksi Ikan PPI Paranggai Kab Parigi Moutong Tahun 2012

No. Bulan

Jenis Ikan

Cakalang Tongkol Tuna

Nilai Nilai Nilai

(Rp 1000) (Rp 1000) (Rp 1000)

1 April 18,050 56,500 -

2 Mei 1,100 600 -

3 Juni 12,300 38,900 -

TW I 31,450 96,000 -

4 Juli 48,000 2,000 -

5 Agustus 71,350 46,000 22,950

6 September 109,550 - -

TW II 228,900 88,000 22,950

7 Oktober 114,800 - -

8 Nopember 71,350 46,000 22,950 9

TW III Desember 186,150 46,000 22,950 Jumlah 446,500 230,000 45,900 Grafik 3 : Produksi Ikan Tuna di PPI Paranggai Kab Paranggi Moutong Tahun 2012

67 Hingga saat ini, situasi pendaratan ikan di PPI Paranggi berjalan cukup baik.

Jumlah perahu yang berada di areal PPI tersebut sekitar 200 unit, sebagian besar perahu berupa perahu bermesin katinting. Sedangkan kapal motor yang dilengkapi dengan alat tangkap Purse Seine sebanyak 10 unit. Armada penangkapan tersebut selain berasal dari Desa Paranggi juga berasal dari desa-desa sebelah di Kabupaten Parigimoutong. Kondisi PPI Paranggi di Kabupaten Parigi Moutong dapat dilihat dibawah ini.

Gambar 4. PPI Paranggi Kabupaten Parigi Moutong Pangkalan Pendaratan Ikan Pagimana Kabupaten Luwuk Banggai

Pangkalan Pendaratan Ikan Pagimana (PPI ) Pagimana, terletak di sebelah Timur Teluk Tomini di Kecamatan Pagimana Kabupaten Banggai. Awalnya pada lokasi PPI

68 Pagimana adalah lokasi pasar tradisional yang sebagian besar komoditas yang diperdagangkan adalah Kapal penagkapan ikan. Merapat ke dermaga dan oleh karena itu pemerintah membangun sebuah PPI yang suatu saat dapat digunakan oleh para nelayan untuk mendaratkan hasil tangkapannya sekaligus melaksanakan transaksi di pelabuhan PPI Paranggai Kab. Parimo.

Pelabuhan Perikanan/ Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Pagimana Kab Banggai memiliki luas arel lebih kurang ± 1,25 Ha, jarak PPI dengan ibu kota Kabupaten Banggai

± 65 Km dapat ditempuh selama 1,5 jam dengan menggunakan kendaraan umum.

Gambar PPI Pagimana di Kabupaten Banggai dapat dilihat dibawah ini. Pelabuhan PPI Pagimana terletak di sebelah Timur Teluk Tomini di Kecamatan Pagimana kabupaten Banggai. Awalnya pada lokasi PPI Pagimana adalah lokasi pasar tradisional yang sebagian besar komoditas yang diperdagangkan adalah ikan. Oleh karena itu pemerintah membangun sebuah PPI yang suatu saat dapat digunakan oleh para nelayan untuk mendaratkan hasil tangkapannya sekaligus melaksanakan transaksi pembeli dan penjual ikan di pelabuhan Pagimana. Pelabuhan ini sangat penting untuk mendukung kegiatan operasional perikanan tangkap revitalisasi tuna di Pelabuhan Pagimana Kabupaten Banggai Propinsi Sulawesi Tengah adalah belum tersedianya sarana dan prasarana pendukung untuk tempat berlabuh masih sangat terbatas, dan gudang penyimpanan ikan serta pabrik Es tidak mencukupi kebutuhan para nelayan untuk menyimpan ikan agar dapat tahan lama, demikian pula solar BBM untuk kapal penangkapan ikan belum memenuhi estándar penangkapan sehingga produksi ikan tuna hanya relatif kecil karena ikan dihasilkan di Pelabuhan Pagimana adalah jenis ikan demersal (ikan karapuh, ikan kakap, ikan tongkol lainnya ) dan yang dihasilkan kurang optimal dan masih tertinggal dibandingkan di daerah pelabuhan lainnya di Sulawesi Tengah.

Gambar 5. Pelabuhan Pagimana Kab. Banggai

69 Pengembangan pembangunan pelabuhan perikanan (PPI) di Pagimana diharapkan dapat mendukung pengembangan industri perikanan yang berwawasan Agribisnis yang akan memberikan nilai tambah bagi produk ikan tuna yang dihasilkan nelayan di Pelabuhan Pagimana Kabupaten Banggai. Haisl produksi ikan yang dihasilkan pelabuhan PPI Pagimana dapat dilihat tabel data produksi ikan sebagai berikut :

Tabel 14 Produksi Ikan Tuna PPI Pagimana Kabupaten Banggai Propinsi Sulawesi Tengah Tahun 2012

No Bulan

Jenis Ikan

Cakalang Tongkol Tuna

Nilai Nilai Nilai

(Rp 1000) (Rp 1000) (Rp 1000)

1 April 7,290 1,080 3,200

2 Mei 40,700 1,700 14,300

3 Juni 51,000 5,400 9,750

TW I 98,990 8,180 27,250

4 Juli 54,750 4,500 7,950 5 Agustus 42,050 8,400 10,600 6 September 35,050 2,000 3,200

TW II 131,850 14,900 21,750

7 Oktober 7,510 3,600 3,500 8 Nopember 23,240 20,120 28,450 9 Desember 3,600 23,720 31,950 TW III 34,350 47,440 63,900 Jumlah 265,190 70,520 112,900

Nilai produksi cakalang Rp. 265.190.000, dan ikan tongkol Rp. 70.520.000, dan ikan tuna Rp.112.000.000, Jumlah produksi ikan berfluktuasi tergantung musiman apabila dilihat di grafik bulan april, Mei dan Juni produksi ikan menurun, kemudian pada bulan Juni, agustus dan september sudah mulai meningkat dan pada bulan oktober S/d

Dalam dokumen PDF Laporan Hasil Penelitian (Halaman 56-62)