• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Ekspor Perikanan Tangkap ke luar negeri

Dalam dokumen PDF Laporan Hasil Penelitian (Halaman 86-93)

BAB IV PEMBAHASAN

4.3 Data Mutu Produksi Ikan Di PPI Propinsi Sulawesi Tengah

4.3.1 Perkembangan Ekspor Perikanan Tangkap ke luar negeri

Perkembangan perikanan tangkap Sulawesi Tengah tahun 2007- 2011 dengan negara tujuan eksport yaitu Uni Eropa, Belgia, Italia, Perancis, Portugal dengan jumlah export 7.586.877 kg atau 7,6 ton dengan nama perusahaan pengekxpor PT.Banggai Sentral Group dan CV.Indotropic Fishery. Dan untuk ke amerika 2019, 39 kg atau 2,1 tong dengan ekxportir dari perusahaan PT. Banggai Sentral Shrimp CV Indotropic Fishery. Untuk negara Asia yaitu Jepang 2355,48 kg/ 2,4 ton, Hongkong 182. 42 kg, dan Kore 134. 42 kg.atau 1,3 ton.dengan perusahaan Exportir PT. Banggai Sentral Shrimp, CV. Indotropic Fishery, UD. Bian Togian

PT. Chamin Jaya International. Peningkatan produksi penangkapan di laut, tidak terlepas dari bertambahnya sarana penangkap ikan yang dioperasikan dan makin majunya teknologi yang diterapkan sehingga terjadi kenaikan produktivitas. Sementara itu, armada perikanan tangkap Indonesia didominasi oleh armada perikanan skala kecil. Hal ini

86 dikarenakan, dari 549.100 unit armada perikanan tangkap Indonesia di dominasi oleh perahu tanpa motor 256.830 unit (46,78%, motor tempel 165.337 unit (30,11% dan kapal motor 126.933 unit (23,11%) Armada kapal motor perikanan tangkap di Indonesia didominasi oleh ukuran yang gross tonnage (GT-nya) kecil, yaitu kapal motor kurang dari 5GT sebesar 90,148 unit (71,02%), dan kapal motor 5-10 GT sebesar 22,917 unit (18.0,5%), sisanya berkisar 4% bahkan kapal motor ukuran diatas 200 GT hanya sebesar 436 unit (0,34%).

Dengan demikian, dalam pengembangan perikanan ke depan, salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah peningkatan kemampuan armada perikanan, terutama yang dimiliki oleh nelayan skala keci, Selain itu kebijakan yang berkaitan dengan BBM juga perlu disikapi secara serius, karena usaha perikanan tangkap sangat berkaitan erat dengan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), mengingat hampir 60% modal perikanan tangkap adalah BBm. Pada saat yang sama, secara bertahap tetapi pasti kita harus mengadakan rasionalisasi intensitas penangkapan (jumlah nelayan atau jumlah kapal ikan), pada setiap wilayah perairan sesuai dengan potensi lestarinya penangkapan ikan. Dengan kata lain, fishing effort pada wilayah-wilayah perairan yang telah overfishing seperti Selat Malaka, Pantai utara Jawa dan lainnya sudah saatnya dikurangi, Selanjutnya nelayan-nelayan ini ditingkatkan kemampuannya untuk beroperasi di wilayah perairan yang masih belum dimamfaatkan secara optimal (underutilization). atau kelebihan nelayan dari wilayah yang telah mengalami overfishing ini disalurkan pada usaha budidayaperikanan, industri penanganan dan pengolahan hasil perikanan, serta sektor ekonomi lainnya (Dahuri, 2002).

Upaya peningkatan kemampuan armada perikanan baik nasional maupun di masing-masing provinsi, kabupaten dan kota merupakan langkah untuk menjadikan nelayan sebagai tuan rumah dilautnya sendiri. Para nelayan dengan armada yang lebih moderen diharapkan mampu beroperasi di perairan lepas pantai bahkan ZEEI untuk dapat memamfaatkan sumber daya yang ada sekaligus menjalankan fungsi penawaran terhadap praktik ilegal kapal asing yang masuk menangkap ikan di Indonesia. Rekapitulasi ekxport ikan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 18. Rekapitulasi Eksport Produk Perikanan Tangkap Sulawesi Tengah Tahun 2007-2011

No Negara Tujuan Eksport

Jumlah Eksport (Kg)

Nama Perusahaan

87 1 Uni Eropa

Belgia Italia Perancis Portugal

755.06 13.23 130.92 141.77

PT. Banggai Sentral Shrimp PT. Banggai Sentral Shrimp PT. Banggai Sentral Shrimp CV. Indotropic Fishery

2 Amerika 2,019,39 PT. Banggai Sentral Shrimp

CV. Indotropic Fishery 3 Asia

Jepang

Hongkong

Korea China

2,355.48 182.42 139.42 85.28

PT. Banggai Sentral Shrimp CV. Indotropic Fishery UD. Bian Togian

PT. Chamin Jaya International UD. Harapan

PT. Banggai Sentral Shrimp PT. Chamin Jaya International PT. Banggai Sentral Shrimp Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Sulawesi Tengah Tahun 2012

Tabel 19. Rekapitullasi Export Produk Perikanan Tangkap Tuna Sulawesi Tengah Tahun 2012

No Negara Tujuan Eksport Jumlah Eksport Nama Perusahaan 1 Uni Eropa

Belgia

United Kingdom Rijeka Croatia Perancis

23,953.60 13,110 10,472.00 19,927.00

CV. Indotropic Fishery PT. Banggai Sentral Shrimp PT. Banggai Sentral Shrimp CV. Indotropic Fishery 2 Amerika 10,099,994.00 CV. Indotropic Fishery 3 Asia

Australia Jepang

Hongkong

7530 194,455.00 51,880.00

CV. Indotropic Fishery PT. Banggai Sentral Shrimp CV. Indotropic Fishery CV. Indotropic Fishery Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Sulawesi Tengah, Tahun 2012 Model Pengelolaan Sumberdaya Perikanan

Menghitung Catch per Unit Effort (CPUE)

Catch per unit effort (CPUE) dihitung dengan membagi total hasil tangkapan (Kg) dari satu alat tangkap dengan jumlah total upaya penangkapan (effort) dalam satuan unit.

Hasil Tangkapan

CPUE = ———————— ………. (3.1) Upaya Penangkapan

a. Standarisasi Effort

88 Standarisasi effort dilakukan karena di wilayah penelitian banyak alat tangkap yang digunakan (multi gear) untuk menangkap beberapa jenis ikan (multi species) sehingga diperlukan satuan pengukuran yang setara. Teknik standarisasi effort mengikuti formulasi yang dikemukakan oleh King (1995) yakni :

Eit = Φit Dit ………..…. (3.2) Dengan :

Uit

Φit = —— ……….. (3.3) Ustd

Dimana :

Eit = effort dari alat tangkap yang distandarisasi

Dit = Jumlah hari laut (fishing days) dari alat tangkap i pada waktu t.

Φit = nilai kekuatan menangkap (fishing power) dari alat tangkap i pada waktu t.

Uit = catch per unit effort (CPUE) dari alat tangkap i pada waktu t.

Ustd = catch per unit effort (CPUE) dari alat tangkap yang dijadikan dasar standarisasi.

b. Standarisasi Biaya

Biaya per unit standardized effort mengikuti standarisasi yang dikemukakan oleh Anna (2003) sebagai berikut :

Dimana :

Cet = biaya per unit standardized effort pada periode t TCi = biaya total alat tangkap i untuk i = 1,2

Ei = total standardized effort untuk alat tangkap i hit = produksi alat tangkap i pada periode t

∑hi+hj = total produksi ikan untuk seluruh alat tangkap n = jumlah alat tangkap

CPIt = indeks harga konsumen pada periode t c. Estimasi Maximum Sustainable Yield (MSY)

... (3.4)

89 Estimasi MSY dilakukan dengan menggunakan model produksi surplus dari Schaefer. Formulasi model tersebut adalah sebagai berikut :

CPUEt = Ut = a – bEt ... (3.5) Ct = aEt - bEt2 ... (3.6) Dengan menggunakan analisis regresi sederhana dari persamaan (3.5) dapat dihitung nilai a dan b sehingga dapat diestimasi hasil tangkapan maksimum dan upaya optimal sebagai berikut :

CMSY = a2 / 4b EMSY = a / 2b dimana :

CMSY : Hasil tangkapan maksimum lestari Eopt : Upaya optimal

Selanjutnya dengan membandingkan hasil tangkapan aktual dengan hasil tangkapan lestari dari model tersebut dapat dilakukan pengujian hipotesis statistik dengan menggunakan uji t-student.

d. Estimasi Maximum Economic Yield (MEY)

Untuk melakukan estimasi MEY digunakan formulasi yang dikembangkan oleh Clarke-Yoshimoto-Polley (1992). Formulasi CYP dapat dituliskan sebagai berikut : 2 r (2 – r) q

ln (Ut+1) = —— ln (q K) + —— ln Ut - —— (Et + Et+1) ……... (3.8) (2 + r) (2 + r) (2 + r)

Dimana :

2 r (2 – r) q Ct a = —— b = —— c = —— Ut = ——

(2 + r) (2 + r) (2 + r) Et

Sehingga formulasinya dapat dituliskan :

Ln(Ut+1) = a ln (qK) + b ln(Ut) - c (Et + Et+1) ………..…. (3.9)

Dengan meregregresikan hasil tangkapan per unit effort yang dilambangkan dengan U pada periode t+1 dan dengan U pada periode t serta penjumlahan effort pada periode t dan t+1 akan diperoleh parameter r, q dan K.

……… (3.7)

90 2 (1 - b)

r = ————

(1 + b)

q = - c (2 + r) ……….. ………. (3.10) ea (2+r) (2r)

K = ————

q dimana :

r = pertumbuhan intrinsik q = koefisien tangkap

K = daya dukung lingkungan

Selanjutnya dengan mempergunakan formulasi yang dikembangkan oleh Fauzi (2004) dari Model CYP yaitu :

q

π = p ( qKE ( 1 - — )) - c E ……….… (3.11) r

dimana :

p = harga ikan c = biaya operasional

dapat dihitung upaya optimal yaitu : r c

E* = — ( 1 - —— ) ………. (3.12) 2q pqK

Dan tingkat panen (hasil) optimal sebesar : rK c c

h* = — ( 1 + —— ) ( 1 - —— ) ………. (3.13) 4 pqK pqK

Manfaat (rente) ekonomi optimal diperoleh sebagai berikut :

π = p h* - c E* ………. (3.14)

Selanjutnya dengan membandingkan manfaat (rente) ekonomi aktual dengan manfaat (rente) ekonomi optimal dapat dilakukan pengujian hipotesis statistik dengan menggunakan uji t-student.

91 e. Estimasi Maximum Social Yield (MScY)

Formulasi untuk mengestimasi MScY digunakan model yang dikemukakan oleh Fauzi (2004) dari hasil pengembangan model CYP yaitu :

q

π = p ( qKE ( 1 - — )) - c E ……….… (3.15) r

dimana :

p = harga ikan c = biaya sosial

Dari persamaan (3.15) dapat dihitung upaya optimal yaitu r c

E* = — ( 1 - —— ) ……….……….. (3.16) 2q pqK

Dan tingkat panen (hasil) optimal sebesar : rK c c

h* = — ( 1 + —— ) ( 1 - —— ) ………... (3.17) 4 pqK pqK

Manfaat sosial optimal diperoleh sebagai berikut :

π = p h* - c E* ……….……… (3.18)

Selanjutnya dengan membandingkan manfaat sosial aktual dengan manfaat sosial optimal dapat dilakukan pengujian hipotesis statistik dengan menggunakan uji t-student.

Adapun biaya operasional penangkapan tuna yang dilakukan oleh nelayan selama dua malam di laut dengan pengeluaran sebagai berikut, lihat tabel dibawah ini:

Tabel 20 Biaya Operasional Penangkapan Tuna yang dilakukan oleh Nelayan selama Melaut di Pesisir Selat Makassar Propinsi Sulawesi Tengah

Sub Total (1)

No. Jenis Pengeluaran Jumlah Rata-Rata Biaya

(Rp.) 1. Armada 5 Gt - 10 Gt 180 Buah X Rp. 1.450.000 Rp. 116.000.000 2. Alat Tangkap Baru

2 Set Ukuran Meter 100² 3 Set Ukuran Meter 100²

2 X Rp. 60.000 X 180 Armada 3 X Rp. 60.000 X 180 Armada

Rp. 21.600.000 Rp. 32.400.000

92

Sub Total (1) Rp. 170.000.000

Sub Total (2)

No. Biaya

Penangakapan Jumlah/Volume Harga

(Rp.)

Total Biaya Rata-Rata (Rp) 1. Bahan Bakar Minyak

(BBM)

25 Liter X Rp. 4.500 X 180 Armada Rp. 4.500 Rp. 20.250.000

2. Konsumsi Beras 5 Kg X Rp. 9.000 X 180 Rp. 9.000 Rp. 8.100.000 3. Garam 20 Pack X Rp. 10.000 X 180 Armada Rp. 10.000 Rp. 36.000.000 4. Es Balok 2 Balok X Rp. 15.000 X 180 Armada Rp. 10.000 Rp. 5.400.000 5 Umpan Ikan 300 X 500 X 180 Armada Rp. 500 Rp. 27.000.000 6. Sembako (Lain-Lain)

Gula, Kopi, Rokok, Teh, Roti

Rp. 100.000 X 180 Armada Rp. 100.000 Rp. 18.000.000

Sub Total (2) Total

Rp. 114.750.000 Rp. 284.750.000

Sub Total (1) : Rp. 170.000.000 Sub Total (2) : Rp. 114.750.000 Total : Rp. 284.750.000

Jumlah 180 Armada Rata-Rata Biaya Operasional Nelayan Rp. 284.750.000/180 = Rp.

1.581.945 Pengeluaran Armada Perikanan

4.4 Estimasi Maximum Sustainable Yield (MSY) di Kabupaten Donggala

Dalam dokumen PDF Laporan Hasil Penelitian (Halaman 86-93)