• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Objek Penelitian

Dalam dokumen UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR (Halaman 72-82)

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

LAZISMU adalah lembaga zakat tingkat nasional yang berkhidmat dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendayagunaan secara produktif dana zakat, infaq, wakaf dan dana kedermawanan lainnya baik dari perseorangan, lembaga, perusahaan dan instansi lainnya. Didirikan oleh PP. Muhammadiyah pada tahun 2002, selanjutnya dikukuhkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional melalui SK No. 457/21 November 2002. Dengan telah berlakunya Undang- undang Zakat nomor 23 tahun 2011, Peraturan Pemerintah nomor 14 tahun 2014, dan Keputusan Mentri Agama Republik Indonesia nomor 333 tahun 2015. LAZISMU sebagai lembaga amil zakat nasional telah dikukuhkan kembali melalui SK Mentri Agama Republik Indonesia nomor 730 tahun 2016.

Latar belakang berdirinya LAZISMU terdiri atas dua faktor.

Pertama, fakta Indonesia yang berselimut dengan kemiskinan yang masih meluas, kebodohan dan indeks pembangunan manusia yang sangat rendah. Semuanya berakibat dan sekaligus disebabkan tatanan keadilan sosial yang lemah. Kedua, zakat diyakini mampu bersumbangsih dalam mendorong keadilan sosial, pembangunan manusia dan mampu mengentaskan kemiskinan. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi zakat, infaq dan wakaf yang terbilang

cukup tinggi. Namun, potensi yang ada belum dapat dikelola dan didayagunakan secara maksimal sehingga tidak memberi dampak yang signifikan bagi penyelesaian persoalan yang ada. Berdirinya LAZISMU dimaksudkan sebagai institusi pengelola zakat dengan manajemen modern yang dapat menghantarkan zakat menjadi bagian dari penyelesai masalah (problem solver) sosial masyarakat yang terus berkembang.

Dengan budaya kerja amanah, professional dan transparan, LAZISMU berusaha mengembangkan diri menjadi Lembaga Zakat terpercaya. Dan seiring waktu, kepercayaan publik semakin menguat.

Dengan spirit kreatifitas dan inovasi, LAZISMU senantiasa menproduksi program-program pendayagunaan yang mampu menjawab tantangan perubahan dan problem sosial masyarakat yang berkembang.

Saat ini, LAZISMU telah tersebar hampir di seluruh Indonesia yang menjadikan program-program pendayagunaan mampu menjangkau seluruh wilayah secara cepat, fokus dan tepat sasaran.

a. Kebijakan Mutu

LAZISMU adalah Lembaga Amil Zakat Terpercaya yang berada di bawah Persyarikatan Muhammadiyah dengan kebijakan mutu sebagi berikut :

1) Berkomitmen untuk senantiasa menjalankan visi, misi, dan tujuan Persyarikatan Muhammadiyah dan LAZISMU.

2) Berkomitmen untuk mematuhi seluruh peraturan dan persyaratan yang berlaku.

3) Berkomitmen untuk mematuhi seluruh kebijakan yang telah ditetapkan oleh Persyarikatan Muhammdiyah dan pimpinan

LAZISMU.

4) Berkomitmen untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas SDM.

5) Berkomitmen untuk memprioritaskan kepuasan pelanggan.

6) Berkomitmen untuk menjadikan kebijakan mutu sebagai kerangka kerja dalam penyusunan sasaran dan program mutu.

7) Berkomitmen untuk melakukan peninjauan kebijakan dan sasaran mutu secara periodik.

8) Berkomitmen untuk menjamin efektivitas penerapan dan meningkatkan kinerja sistem manajemen secara berkelanjutan.

b. Kebijakan Strategis

1) Misi Pendayagunaan :

Terciptanya kehidupan sosial ekonomi umat yang berkualitas sebagai benteng atas problem kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan pada masyarakat melalui berbagai program yang dikembangkan Muhammadiyah.

2) Kebijakan Strategis Pendayagunaan:

Prioritas penerima manfaat adalah kelompok fakir, miskin dan fisabilillah.

a) Pendistribusian ZIS dilakukan secara terprogram (terencana dan terukur) sesuai core gerakan Muhammadiyah, yakni:

pendidikan, ekonomi, dan sosial-dakwah.

b) Melakukan sinergi dengan majelis, lembaga, ortom dan amal- usaha Muhammdiyah dalam merealisasikan program.

c) Melakukan sinergi dengan institusi dan komunitas diluar

Muhammadiyah untuk memperluas domain dakwah sekaligus meningkatkan awareness public kepada persyarikatan.

d) Meminimalisir bantuan karitas kecuali bersifat darurat seperti di kawasan timur Indonesia, daerah yang terpapar bencana dan upaya-upaya penyelamatan.

e) Intermediasi bagi setiap usaha yang menciptakan kondisi dan faktor-faktor pendukung bagi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya Visi Muhammadiyah 2025.

f) Memobilisasi pelembagaan gerakan ZIS di seluruh struktur Muhammadiyah dan amal usaha.

2. Struktur Organisasi di LAZISMU Kota Makassar

LAZISMU Kota Makassar memiliki struktural yang terdiri dari Dewan Syariah (2 orang), Badan Pengawas (2orang), Badan Pengurus (9 orang), Badan Eksekutif (5 orang), serta Relawan yang ikut berpartisipasi dalam setiap agenda LAZISMU Kota Makassar (21). Berikut ini adalah gambar yang menunjukkan struktural yang ada di LAZISMU Makassar.

Gambar 4.1 Struktural LAZISMU Kota Makassar

a. Tugas dan Kewajiban

1) Wali amanah, bertugas membina dan mengawasi jalannya LAZISMU

2) Dewan syariah bertugas, memberikan fatwa dan menilai

kesesuaian dengan syariat islam atas seluruh ketentuan program dan kegiatan pengumpulan, pengelolaan dan pendayagunaan ZIS oleh Badan Direksi dan Badan Eksekutif.

3) Badan Pengawas bertugas :

a) Mengawasi pelaksanaan program kerja yang telah disahkan b) Mengawasi pelaksanaan kebijakan-kebijakan yang diambil

Badan Direksi

c) Mengawasi operasional kegiatan yang dilaksanakan Badan Direksi dan Badan Eksekutif mencakup pengumpulan, pengelolaan, dan pendayagunaan.

d) Melakukan pemeriksaan keuangan secara berkala dan melaporkan hasilnya kepada wali amanah dan dewan syariah yang ditembuskan kepada badan direksi dan badan eksekutif e) Menunjuk akuntan publik, bila diperlukan

f) Memberikan saran kepada badan direksi dan badan eksekutif 4) Badan Direksi bertugas:

a) Merencanakan, mengorganisasikan, mengontrol, dan mengevaluasi pelaksanaan program pengumpulan, pengelolaan, dan pendayagunaan ZIS

b) Membuat kebijakan pengumpulan, pengelolaan, dan pendayagunaan ZIS

c) Memberdayakan badan eksekutif dan UPZ d) Menerbitkan NPWZ

e) Melakukan pengelolaan dan pendistribusian ZIS f) Membuat laporan secara berkala

5. Badan Eksekutif bertugas:

a) Melaksanakan pengumpulan ZIS secara intensif dan inovatif terhadap muzakki/munfik yang tidak dijangkau UPZ

b) Menyelenggarakan administrasi perkantoran c) Mengkoordinir dan memberdayakan UPZ

d) Membukukan seluruh pemasukan dan pengeluaran secara tertib dan rapih sesuai ketentuan akuntansi

e) Menfasilitasi seluruh kegiatan wali amanah, dewan syariah, badan pengawas, dan badan direksi

f) Menyelenggarakan pengajian muzakki/munfiq sekali tiga bulan.

6. UPZ (Unit Pengumpul Zakat) sebagai ujung tombak di lapangan bertugas:

a) Mendata muzakki/munfiq dan mustahik di lingkungannya b) Menfasilitasi pelaksanaan sosialisasi dilingkungannya c) Menyampaikan permintaan ZIS kepada muzakki/munfiq

dilingkungannya

d) Mengumpulkan ZIS secara intensif dan inovatif

e) Menyetor ZIS yang telah dikumpulkan kepada Badan Eksekutif bagian keuangan paling lambat 7 (tujuh) hari setelah transaksi (sekali sepekan)

f) Menyelenggarakan pengajian muzakki/munfiq dan mustahik sekali sebulan.

b. Sinergi Pendayagunaan

Berpijak pada posisi LAZISMU sebagai lembaga intermediate, maka dalam penyaluran dan pendayagunaan dana ziswaf bersinergi dengan berbagai lembaga baik di internal Muhammadiyah maupun lembaga diluar Muhammadiyah. Seperti program pendayagunaan bidang pertanian, lazismu bersinergi dengan MPM (Majelis Pemberdayaan Masyarakat) PP Muhammadiyah, program kemanusiaan bersinergi dengan LPB PP Muhammadiyah, masalah sosial bersinergi dengan MPS Muhammadiyah, bidang ekonomi dengan MEK Muhammadiyah dan untuk pemberdayaan kaum perempuan lazismu bersinergi dengan PP ‘Aisyiyah.

Sedang sinergi dengan lembaga di luar Muhammadiyah, LAZISMU telah menggandeng berbagai lembaga dan komunitas dalam menyalurkan dan mendayagunakan dana ziswaf seperti lembaga IWAPI, komunitas WIRAMUDA, berbagai komunitas hobby dan profesi dan sebagainya.

Tujuan dari sinergi adalah agar pendayagunaan memberi manfaat yang maksimal kepada masyarakat karena dikelola oleh lembaga pengelola yang expert serta menjangkau lokasi sasaran program yang lebih luas.

Dalam mengelola zakat yang dilakukan oleh lembaga amil zakat saat ini telah mengalami berbagai macam dinamika perkembangan.

Perkembangan tersebut ditandai dengan adanya upaya optimalisasi penggunaan dana zakat. Lembaga amil zakat tersebut menginvesatasikan dana-dana zakat yang terkumpul dalam proyek- proyek bisnis, baik yang berskala besar maupun kecil, kemudian labanya diberikan kepada fakir

miskin.

Salah satu tujuan utama disyariatkannya ibadah zakat adalah untuk meningkatkan kesejahteraan kaum dhuafa, baik secara materil maupun spiritual. Tentu saja, agar hal tersebut dapat direalisasikan, maka kerja keras dan kerja cerdas institusi amil sangat diperlukan. Pemilihan program pemberdayaan yang tepat, disertai dengan proses pendampingan mustahik yang kontinyu dan teratur dengan baik, menjadi kata kunci kesuksesan pendayagunaan zakat.

Agar para mustahik tersebut berdaya secara ekonomi, dan mampu bertahan pada jangka panjang, maka keberadaan program pendayagunaan yang dapat menjamin ketersediaan sumber pendapatan mustahik secara berkelanjutan, menjadi kebutuhan yang sangat vital dan urgen. Disinilah pentingnya program pendayagunaan zakat yang bersifat produktif. Melalui program tersebut, seorang mustahik tidak hanya diberikan ikan, yang biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sesaat, namun juga diberikan kail, yang bisa menjadi alat baginya untuk mendapatkan ikan-ikan lain dalam jumlah yang lebih banyak, sehingga kebutuhan jangka panjangnya dapat terpenuhi. Penggunaan zakat untuk tujuan produktif bagi kepentingan pemberdayaan mustahiq juga terjadi di zaman Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, dari Salim bin Abdillah bin Umar, dikatakan bahwa Rasul SAW telah memberinya zakat dan menyuruhnya untuk mengembangkan dan menyedekahkannya lagi.

Hadits tersebut memberi kita dua pelajaran. Pertama, dalam pengelolaan zakat, hendaknya ada proporsi dana yang digunakan untuk

mengembangkan usaha produktif bagi kepentingan mustahik. Kedua, orientasi utama pemberdayaan zakat adalah untuk mengubah status seorang mustahiq menjadi muzakki. Bagi lembaga amil zakat sendiri, hadits tersebut diimplementasikan dalam bentuk program Indonesia Makmur, yang diharapkan dapat memunculkan micro entrepreneur yang memiliki daya tahan dan daya saing. Terdapat dua faktor kunci dalam menyediakan jasa menuju pasaran dan sasaran dalam pengelolaan zakat demi terwujudnya tujuan dan hikmah zakat yaitu, pemilihan lokasi dan saluran distribusi. Dua keputusan tersebut menyangkut bagaimana menyampaikan jasa di mana transaksi itu dilakukan.

Pada LAZ, yaitu suatu lembaga pengelola zakat yang salah satu tujuannya adalah mewujudkan danmengangkat kesejahteraan ekonomi mustahik. Salah satu programnya adalah pendayagunaan ZIS diwujudkan dengan pengembangan usaha ekonomi seperti bantuan, modal usaha (dipermanenkan). Distribusi atau penyaluran dana zakat hanya dapat diberikan kepada 8 ashnaf sebagaimana yang telah ditetapkan dalam al- Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa zakat harus diambil dan didistribusikan di daerah di mana zakat itu diambil. Jadi, sebelum membantu masyarakat lain, maka harus dibantu terlebih dahulu masyarakat di sekitar wilayah muzakki.

Memang dalam konsep zakat itu harus didistribusikan di daerah muzakki kepada semua kelompok penerima zakat (ashnaf) di wilayah di mana zakat itu diperoleh. Golongan fakir miskin di daerah terdekat dengan muzakki adalah sasaran pertama yang berhak menerima zakat. Karena memberikan kecukupan kepada mereka merupakan tujuan utama dari

zakat yang membutuhkan perhatian khusus. Tidak dibenarkan orang fakir miskin dibiarkan terlantar dan kelaparan. Zakat yang disalurkan kepada fakir miskin ini dapat bersifat konsumtif dan produktif. Konsumtif yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sedangkan bersifat produktif yaitu untuk menambah modal usahanya. Jika kelompok ashnaf yang delapan tidak ada di tempat itu, maka pembagian zakat boleh dipindahkan ke wilayah yang paling dekat dengannya.41Kemudian kepada desa yang lebih jauh dan seterusnya secara berurutan.

Idealnya, pengelolaan zakat dapat menunjang kemandirian daerah muzakki untuk didistribusikan kepada mustahiq di wilayahnya.

Sebagaimana pada masa awal kerasulan Muhammad SAW di mana zakat merupakan tonggak pembangunan ekonomi kedaerahan. Kalaupun ingin membantu masyarakat di luar daerahnya, harus tetap mempertimbangkan batas maksimum kesejahteraan masyarakat. Nantinya, pendayagunaan zakat akan mendorong sebuah peningkatan taraf hidup sesuai dengan tingkat kebutuhan masyarakat tanpa menggantungkan pada sistem bantuan dari pusat.

Dalam bentuk dan sifat penyaluran zakat jika kita melihat pengelolaan zakat pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat, kemudian diaplikasikan pada kondisi sekarang, maka kita dapati bahwa penyaluran zakat dapat dibedakandalam dua bentuk, yakni :

1) Bantuan Sesaat (konsumtif)

Bantuan sesaat bukan berarti bahwa zakat hanya diberikan kepada mustahik hanya satu kali atau sesaat saja. Namun berarti bahwa penyaluran kepada mustahik tidak disertai target terjadinya

kemandirian ekonomi (pemberdayaan) dalam diri mustahik. Hal ini dilakukan karena mustahik yang bersangkutan tidak mungkin lagi mandiri, yang dalam aplikasinya dapat meliputi orang tua yang sudah jompo, orang cacat, pengungsi yang terlantaratau korban bencana alam.

2) Pemberdayaan (produktif)

Pemberdayaan adalah penyaluran zakat secara produktif, yang diharapkanakan terjadinya kemandirian ekonomi mustahik. Pada pemberdayaan ini disertai dengan pembinaan atau pendampingan atas usaha yang dilakukan.Islam tidak sekedar mengatur secara rinci mengenai aturan pengumpulan maupun pendistribusian zakat dan tidak pula pembayaran zakat sekedar menolong fakir miskin untuk memenuhi kebutuhannya, lebih dari itu tujuan utamanya adalah agar manusia lebih tinggi nilainya dari pada harta sehingga ia menjadi tuannya harta bukan budaknya harta.

Dalam dokumen UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR (Halaman 72-82)

Dokumen terkait