BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
2. Hasil penelitian siklus II
lxxxii
lxxxiii
pelaksanaan pembelajaran pada siklus II dengan menggunakan Make a Match. Pelaksanaan pembelajaran hampir sama dengan siklus I, namun pada siklus II proses pembelajarannya dilaksanakan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I.
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap pelaksanaan tindakan yaitu:
1. Kegiatan Awal (Pendahuluan)
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah guru melaksanakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) siklus II yang telah disusun, serta menggunakan model Make a Match yang sesuai dengan materi pembelajaran pada siklus II dengan mengacu pada siklus I.
Pada tahap kegiatan awal atau pendahuluan, guru memberi motivasi dan mengeksplorasi pengetahuan awal siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan materi yang akan diajarakan kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai serta menjelaskan metode yang digunakan dengan jelas dan bersama-sama membuat kontrak belajar.
2. Kegiatan inti
Kegiatan pada tahap ini, guru mengawalnya dengan mengkondisikan kelas suapaya tertib baru kemudian guru dan peneliti memulai dengan membagi kelompok. Kelompok A membawa kartu pertanyaan dan kelompok B membawa kartu jawaban. Masing-
lxxxiv
masing dari kelompok mengatur posisi sehingga belajar saling berhadepan. Setelah itu guru menjelaskan aturan permainan kartunya.
Setiap kelompok di bagikan beberapa kartu sesuai dengan kelompoknya (kelompok pertanyaan dan kelompk jawaban) jika masing-masing kelompok telah mendapatkan kartu, setelah itu siswa memikirkan jawaban atas pertanyan yang meraka dapat lalu mencari pasangannya masing-masing. Jika ada yang sudah menemukan jawaban atau pasangan maka masing-masing pasangan maju kedepan untuk mencocokan jawaban dan pertanyaan dan mempresentasikan melalui pasangan kartu yang telah mereka cocokkan. Agar siswa lebih memahami materi yang disampaikan oleh guru. Namun guru juga tidak lupa memberikan motivasi kepada siswa agar berani mengajukan pertanyaan terhadap materi yang belum dipahami oleh siswa.
3. Kegiatan Akhir (Penutup)
Pada tahap akhir (penutup) kegiatan pembelajaran, guru menyimpulkan materi bersama dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa terkait materi tersebut. Kemudian guru memberikan tugas kepada siswa untuk materi selanjutnya
c. Tahap Observasi dan Evaluasi
1. Hasil Observasi Aktivitas Mengajar Guru
Pada proses belajar mengajar di kelas, guru melakukan aktivitas mengajar sesuai dengan skenario pembelajaran atau rencana
lxxxv
pelaksanaan pembelajaran siklus II. Guru sudah berusha maksimal untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus sebelumnya. Sehingga diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.0
Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus II
No Kegiatan Guru Sekor
1 Sekor perolehan 21
2 Sekor maksimal 30
3 Persentase 70%
4 Katagori Sangat Baik
Melihat tabel (4.0) diatas, data hasil observasi aktivitas guru selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan metode Make a Match pada siklus II sudah tergolong sangat baik dan sesuai dengan indikator kinerja guru yang telah ditetapkan. Hal ini dapat dilihat dari sekor masing-masing indikator kinerja yang rata- rata sudah sangat baik. Seperti Sekor perolehan mencapai 21, sekor maksimal 30 dan persentase mencapai 70%, mencapai krekteria sangat baik.
2. Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa
Data aktivitas belajar siswa selama kegiatan pembelejaran berlangsung di peroleh dengan menggunakan lembar observasi aktivitas belajar siswa yang dilakukan oleh peneliti.
Tabel 4.1
lxxxvi
Data Hasil Aktivitas Siswa kelas VIII Siklsus II
No Kegiatan Guru Sekor
1 Sekor perolehan 27
2 Sekor maksimal 30
3 Persentase 90%
4 Katagori Sangat Baik
Dari table. (4.1) Diatas, data hasil observasi siswa bahwa nilai aktivitas selama proses pembelajaran dengan menggunakan model Make a Match pada siklus II tergolong tinggi. Dimana pada saat mencapai nilai perolehan 27 dan sekor maksimal 30 dengan krekteria persentase mencapai 90% dengan krekteria sangakat aktif. Hal ini dapat membuktikan bahwa terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa dari siklus sebelumnya. Jadi kesimpulannya bahwa dengan menggunakan model make a match dapat meningkatkan akitivitas dan hasil belajar, maka sangat penting dalam proses pembelajaran menggunakan model Make a Match terebut.
3. Evaluasi Hasil Belajar Siswa
Evaluasi di laksanakan pada tiap akhir siklus. Dilaksankan dengan memberikan soal isian sebanyak 12 soal. Sehingga di peroleh data sebagai berikut:
lxxxvii Tabel 4.2
hasil evaluasi belajar siswa Siklus II
No Analisis Hasil Belajar Siswa
Kelas VIII Hasil Belajar
1 Jumlah Siswa 22
2 Nilai Tertinggi 95
3 Nilai Terendah 65
4 Jumlah Siswa Yang Ikut Tes 22
5 Jumlah Siswa Yang Tuntas 20
6 Jumlah Siswa Yang Tidak Tuntas 2
7 Jumlah Nilai 1,940
8 Nilai Rata-Rata 88,18%
9 Jumlah Siswa Yang Tuntas Secara Kelasikal 90,90%
10 Katagori Ketuntasan Tuntas
Dari data tabel (4.2). dapat di lihat bahwa hasil nilai siswa ada peningkatan bahwa nilai tertinggi mencapi 95 dengan nilai sangat baik dan nilai terendah mencapai 65 dengan kualifikasi cukup baik.
Sedangkan pada jumlah nilai rata-rata siswa mencapai 88,18 dengan ketuntasan nilai klasikal mencapai 90,90% ini menandakan bahwa ketuntasan belajar siswa dikatagorikan sudah mencapai krekteria ketuntasan klasikal. Siswa dikatakan tuntas apabila lebih mencapai dari 85%. Meskipun ada bebrapa siswa yang yang belum tuntas
lxxxviii
secara individu penelitian ini dapat diberhentikan karena telah mencapai dari 85%. Dengan begitu tidak perlu diadakan perbaikan pada siklus selanjutnya.
a. Jumlah siswa yang tuntas 20 karena faktor:
1) Abdul aziz : Pada siklus dua abdul aziz sangkat aktif dan antusias mengerjakan soal latihan dengan menggunakan metode make a match.
2) Abdul latif saukani: Siswa di nyatakan tuntas tidak jauh beda dengan siklus satu karena faktor siswa bisa mencocokan jawabannya dan aktif dalam mempersentasikan hasil diskusi sama teman pasangannya
3) Ahmad fahriadi: Dinyatakan tuntas karena faktor cepat memahami pelajaran dan nilainya lebih meningkat dari siklus sebelumnya.
4) Ahmad yani muktar: Saat menggunakan metode make a match siswa lebih aktif dalam mencari pasangan atau mencocokan jawabannya.
5) Deni johandi: Dinyatakan tuntas karena faktor lebih aktif dari siklus sebelumnya.
6) Hamdi: Siswa ini dinyatakan tuntas karena pada saat di bagikan kelompok siswa rafi, sopan, sangkat aktif.
7) Ahmad fazly daud: Siswa ini tidak jauh beda dari siklus sebelumnya cepat memhami langkah-langkah metode make a
lxxxix
match, cepat dalam menangkap pelajaran dan benar dalam menjelaskan
8) Dimas: Dari siklus sebelumnya dimas tidak tuntas karena belum memahami metode yang di pake dalam kelas saat berkelompok, akan tetati pada siklus kedua dimas tuntas karena sudah memahami cara metode dan benar dalam mempersentasikan hasil kecocokan jawabannya.
9) L.Ribhan hidayat: Saat menggunakan make a match siswa sangakat kompak dalam memprsentasikan hasil dari jawaban soal tersebut dan cepat dalam mencari pasangannya.
10) M.Faizanul fajri: Siswa ini dinyatakan tuntas karena pada saat dibagikan kelompok siswa kompak dalam mengerjakan tugas dan mencari pasangannya utnuk mencocokan jawabannya dan mempersentasikan hasil diskusinya.
11) M.Ardi: Siswa mampu berintraksi dengan teman sebangkunya yang awalnya pasiklus satu kurang dalam berintraksi, dan sekarang aktif bisa menjelaskan hasil dari kelompok mencari kecocokan jawabannya.
12) M.Rody sanjaya: Siswa yang bernama M. Rody sanjaya sangat aktif dalam mengerjakan soal dengan menggunakan metode make a match.
13) M. Abdullah: Di lihat dari hasil nilai siklus satu siswa yang bernama M. Abdullah dengan adanya metode make a match
xc
jadi nilai siswa meningkat karena tergolong sangakat aktif dan atuasias dalam beajar.
14) M.Izral: Siswa dinyatakan tuntas tidak jauh beda dengan sikap dan aktifnya saat menggunakan metode make a match, siswa cepat memhami pelajaran, cepat dalam mencocokan jawaban dan pada saat mempersentasian hasil kecocokan jawabanya.
15) Farid: Pada siklus satu tidak tuntas dan disiklus dua tuntas karena faktor siswa bisa menangkap materi sesuai dengan kartu soal yang siswa dapatkan
16) M.Irsad: Saat menjelaskan siswa sering memperhatikan guru dengan begitu ada ke aktifan dan keinginannya untuk belajar dengan menggunakan metode make a match sehingga hasil nilainya meningkat pada siklus dua.
17) Saefullah: Pada saat siklus satu siswa tidak tuntas karena faktor belum memahami secara mendalam metode make a match dan belum bisa mempersentasikan hasil diskusi mencocokan jawabannya.
18) Wahyudi: Pada siklus satu siswa tuntas dan pada siklus dua pun siswa tuntas karena siswa sangakat aktif dan cepat dalam memahami pelajaran dan cara metode belajar dalam kelas.
19) M.Arzaki ramdani: Di nyatakan tuntas karena siswa sudah bisa mempersentasikan hasil dari kecocokan jawaban dan bisa menjawab pertanykaan dari teman-temannya yang bertanya.
xci
20) M. Irfan hakim: Begitu juga dengan siswa M. Irfan hakim sudah bisa mempersentasikan hasil diskusi kecocokan jawabannya dan sangat aktif dalam berdiskusi kelompok.
b. Jumlah yang tidak tuntas 2 orang karena faktor:
1) M.Ramzi: Siswa ini dinyatakan tidak tuntas karena faktor masih kurang memahami cara mempersentasikan hasil kecocokan jawabannya, masih belum benar cara mencockan jawabanya.
2) Ulul azmi: Siswa ini dinyatakan tidak tuntas karena belum memahami cara penggunaan metode make a match, siswa ini masih dalam kebingungan dan jarang mendengrkan guru saat di jelaskann maka hasil nilainya tidak tuntas
d. Pembahasan
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas VIII di MTs.
Al-Madaniyah Jempong Barat dengan menggunakan model Make a Match. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus dan pelaksanaannya dari tanggal 22 juli 2019.
Berdasarakan hasil pelaksanaan pada siklus I dan II dapat dinyatakan bahwa pembelajaran IPS menggunakan model Make a Match dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VIII MTs. Al-Madaniyah Jempong Barat. Sebelum melaksanakan pembelajaran pada siklus I, terlebih dahulu telah disusun perencanaan pelaksanaan pembelajaran yaitu sekenario pembelajaran yang disusun
xcii
sebagai langkah-langkah yang akan dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Di samping itu peneliti juga membuat lembar observasi aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Untuk mengukur penguasaan siswa dalam materi “perubahan ruang dan intraksi antarruang”akibat faktor alam dan manusia, peneliti menyiapkan alat berupa soal isian sebanyak 5 soal.
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, adapun tiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.
Pada tahap perencanaan guru dan peneliti membuat RPP dan menyusun lembar observasi aktivitas siswa dan guru, pada pelaksanaan tindakan guru melakukan proses pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun, pada tahap observasi atau pengamatan saat proses belajar mengajar dilakukan secara kalaboratif dengan guru mata pelajaran, sedangkan yang diamati adalah aktivitas siswa dan guru, pada tahap refleksi guru menyusun perbaikan-perbaikan terhadap kekurangan pada siklus sebelumnya. Sebelum guru memulai kegiatan belajar mengajar guru terlebih dahulu menginformasikan metode yang akan digunakan oleh siswa yaitu: siswa di bagi dalam empat kelompok, misalnya kelompok A dan kelompok B. Kedua kelompok diminta berhadepan. Guru dan peneliti membagikan karu dan jawaban kepada kelompok A untuk soal dan kelompok B untuk jawaban begitu juga dengan kelompok lain. Guru harus menyampaikan bahwa mereka harus mencari/mencocokan kartu kelompok dengan lain.
xciii
Tetapi sebelum mencari pasangan siswa harus memikirkan apa maksud soal dan jawaban yang sudah di bagikan. Setelah itu baru siswa mencocokan jawaban mereka kepada kelompok lain. Guru meminta mereka melaporkan diri kepadanya dan mencatat pada kertas. Guru memanggil pasangan untuk presentasi. Pasangan lain dan siswa yang tidak mendapat pasangan di hukum dan memperhatikan, memberikan tanggapan apakah pasangan itu cocok atau tidak. Guru memberikan komfirmasi tentang kebenaran dan kecocokan pertanyaan dan jawaban dari pasangan yang memberikan presentasi. Pada hasil observasi dan evaluasi siklus I terlihat pada total sekor aktivitas belajar siswa adalah 66,66% dengan krektria aktif. Sedangkan pada total sekor kinerja guru adalah 60% dengan krekteria baik. Sementara ketuntasan hasil belajar siswa secara kelasikal masih dibawah 85% yaitu baru mencapai 54,54%
dengan sekor nilai rata-rata 69,32 hal ini disebabkan karena ada beberapa kekurangan dalam proses belajar mengajar dan kurang terbiasanya dalam pembelajaran menggunakan model Make a Match ini, rendahnya keaktifan siswa selama mengikuti pelajaran, hal ini di sebabkan kurangnya penguatan yang diberikan oleh guru, pengelolaan terhadap waktu pembelajaran, persiapan dan pe rencanaan dalam proses pembelajaran berlangsung begitupun sebaliknya dengan guru yang mengajar menggunakan model atau metode Make a Match hal ini dapat dilihat dari hasil observasi pada siklus I pertemuan pertama dan kedua.
xciv
Setelah meliahat kekurangan pada siklus I dan melakukan perbaikan pada siklus II terlihat peningkatan aktivitas belajar dan hasil belajar, dari hasil observasi sebelumnya, dan setelah diperbaiki keaktifan siswa kelas VIII mencapai 90% sedangkan pada kinerja guru mencapai 70% yang dikatagorikan sangat aktif, hasil evaluasi atau nilai rata-rata kelas VIII mencapai 88,18% dan ketuntasan kelasikal mencapai 90,90%
peningkatan aktivitas siswa kelas VIII ini disebabkan karena menggunakan model atau metode Make a Match sudah lebih tepat dimana kelebihan dalam menggunkan medol Make a Match dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa pada proses pembelajaran. Hal ini disebabkan karena siswa terlihat cukup baik dalam kesiapan mengikuti pelajaran. Interaksi siswa dengan guru tentang materi yang belum di mengerti, dan pada saat berdiskusi siswa sudah memulai berintraksi dengan siswa lain. Jadi sebenarnya peningkatan keaktifan siswa tidak terlepas dari peranan guru sebagai mediator dan fasilitator. Berdasarkan hal tersebut pembelajaran dengan menggunakan model atau metode Make a Match merupakan model pembelajaran yang mendorong siswa untuk berdiskusi, kerjasama untuk menyelesaikan suatu masalah dan tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama teman lainya.
Dari hasil observasi yang telah di peroleh pada pembelajaran siklus I dan siklus II dapat disimpulkan bahwa penerapan model Make a Match dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa. Oleh
xcv
karena itu, secara keseluruhan bahwa penggunaan model Make a Match pada mata pelajaran IPS dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini di sebabkan karena model pembelajaran ini dapat memudahkan anak dalam memahami materi serta membangkitkan motivasi siswa dalam belajar.
Melalui model pembelajaran ini siswa mendapatkan pengalaman secara langsung, membuktikan konsep secara menyenangkan, menggali kreativitas, melatih cara berfikir tingkat tinggi, menguatkan hafalan, dapat belajar bekerjasama dengan temannya. Selain itu model pembelajaran ini dapat meningkatkan keterampilan kognitif, keterampilan motorik halus, melatih kemampuan nalar, melatih kesabaran dan meningkatkan keterampilan sosial. Jadi model Make a Match merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat bermanfaat untuk siswa dan dapat motivasi atau dorongan untuk belajar siswa.
Kareana dengan bermain kartu siswa akan melatih sel-sel otaknya untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya.
Seperti yang di kutip oleh Dimayati dan Mudjiono dalam hidayati (2004) dengan belajar secara aktif di harpkan siswa akan mengenal dan mengembangkan kafasitas belajar dan potensi yang dimilikinya secara penuh. Menyadari dan dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat di sekitarnya. Di samping itu siwa dapat lebih terlatih dan berprasangka, berpikir secara teratur, keritis, tanggap dan dapat menyelesaikan masalah sehari-hari serta lebih terampil serta menggali,
xcvi
menjajah, mencari dan mengembangkan informasi yang bermakna baginya.
Dengan demikian berdasrakan pendapat peneliti ini bahwa menggunakan model Make a Match dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran IPS siswa kelas VIII di MTs. Al- Madaniyah Jempong Barat tahun ajaran 2019/2020.
xcvii BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Dari pembahasan penelitian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan model kooperatif tipe make a match dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VIII MTs. Al- Madaniyah Jempong Barat pada mata pelajaran IPS terpadu. Dengan menggunakan model make a match, siswa mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan aktif dalam pembelajaran belangsung.
Hal ini dapat dilihat pada siklus I hasil dari observasi aktivitas siswa yaitu 66,66% dengan rata-rata nilai siswa 69,32 dan ketuntasan kelasikal sebesar 54,54%. Pada siklus II hasil observasi aktivitas siswa meningkat menjadi 90% dan rata-rata nilai sebesar 88,18 dengan ketuntasan nilai kelasikal yang berjumlah 90,90%.
B. Saran-Saran
Berdasarkan hasl penelitian yang telah dilakukan di MTs. Al- Madaniyah Jempong Barat dengan menggunakan model Make a Match untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa pada mata pelajaran IPS, maka peneliti memberikan beberapa saran kepada:
Pertama bagi guru kelas diharapkan untuk dapat menggunakan model pembelajaran, khususnya model Make a Match dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa tidak hanya pada mata pelajaran IPS tapi juga pada mata pelajaran lain.
xcviii
Kedua bagi siswa diharpkan agar lebih aktif dan termotivasi dalam kegiatan pembelajaran melalui model Make a Match.
Ketiga bagi kepala sekolah diharpkan dapat mengambil kebijakan untuk para guru agar menerapkan penggunaan model Make a Match dalam proses belajar mengajar di sekolah guna untuk meningkatkan mutu pendidikan.
xcix
DAPTAR PUSTAKA
Adriani, dkk, Metode Penelitian. Jakarta: Universitas Terbuka, 2010 Ameliasari, Penyusunan Peteka,Esensi, Dari Erlangga Group, 2013 Aqib, Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: Yrama Widya, 2016
Arifin, Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2016 Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2017
Arum Rahma Sopiya. “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match Untuk Meningkatkan Motivasi Hasil Belajar Sosiologi Siswa Kelas XI IPS 3 SMA Negri 3 Wonogiri,Skripsi Uiniversitas Sebelas Maret Surakarta, 2012/2013
Dhestha Hazilla Aliputri.”Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match berbantuan kartu bergambar untuk meningkatkan hasil belajar siswa,Jurnal Bidang Pendidikan Dasar (JBPD), Vol.2 No. 1A April 2018 Dinda setiani. “Penerapan Strategi Make A Match Pada Mata Pelajaran Ips
Terpadu Dengan Tema Pengaruh Interaksi Sosial Terhadap Mobilitas Sosial Untuk Siswa Kelas VIII Smpn 1 Kartasura Kabupaten Sukoharjo,Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhamadiyah Surakarta, 25 Oktober 2017
Dekumentasi, MTs. Al-Madaniyah Jempong Barat, 20 Agustus 2019
Etin Solihatin, Cooperative Learning Analisis Model Pembelajaran Ips, PT Bumi Aksara, 2011
Rusman Dkk, Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi Dan Komunikasi, Cepi Riana,Jakarta: Raja Wali, 2012
c
https://WWW, massofa-wordpress>Pengertian,Ruang Lingkup Ips. Di Akses Tanggal 9-Desember-2010
IAIN Mataram,Pedoman Penulisan Skripsi, Pedoman Penulisan skripsi, 2019 Krisno Prastyo Wibowo, Marzuki “ Penerapan model make a match berbantuan
media untuk Meningkatan motivasi dan hasil belajar ips”,Harmoni sosial:
Jurnal Pendidikan Ips,Volume 2, No 2, September 2015
Kunandar, Penelitian Tindakan Kelas,PT.Rajagerafindo Persada, Jakarta, 2012 Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan
Profesi Guru, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011
Masitoh, dan Laksmi Dewi, Strategi Pembelajaran, Jakarta: Dirjen Pendidikan Islam Depag RI, 2009
Miftaul Huda,Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran, Yogyakarta: Pustaka Belajar 2017
Muhamad faturrohman,model-model pembelajaran inofatif,Jakrta: Ar-Ruzz Media, 2017
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Edisi Revisi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010
Muhibin Syah, Pisikologi Belajar ,Jakarta, Bumi Aksara,2011
Mansur Muslich, Melaksanakan PTK Itu Mudah Jakarta: Bumi Aksara, 2011 Muslich, Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas itu Mudah, Jakarta: Bumi
Aksara, 2014
Muhamad Nurman, Evaluasi Pendidikan , Sayang-Sayang Cakra Negara Mataram, Institut Agama Islam Negri (IAIN) Mataram
ci
Nana Sudjana, Penilaianh Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009
Nandang Kosasih dan Dede Sumarna, Pembelajaran Quantum Dan Optimalsasi Kecerdasan, Bandung: Alfabeta, 2013
Nurkencana, Evaluasi Hasil Belajar, Surabaya: Usaha Nasional, 1990 Oemar Malik, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2013
Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta: Rajawali Pers, 2012
Sobry Sutikno, belajar dan pembelajaran, Lombok: Holistika, 2013
Suharsimi Arikunto Dkk, Penelitian Tindakan Kelas : Pt Bumi Akasara, Jakarta, 2014
Terianto, Model-Model Pembelajaran Inopatif Berorientasi Konstrutivistik Jakarta, Perstasi Pustaka,27
Thomas Lickona, Mendidik Untuk Membentuk Karakter, Jakarta:Remaja Rosdakarya, 2012
Viviani Diyah riyantika.”Penerapan model Koopratif tipe make a match dalam meningkatkan minat dan hasil hasil belajar siswa X 3 SMA Pengudi luhur pada materi protista, Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2016
Wirawan Andianto Abdullah. “Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dalam meningkatkan minat dan hasil belajar matematika siswa kelas III SD Negeri 3 Palar, Klaten, Skeripsi, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, 2015
Yoni dkk,Menyusun Penelitian Tindakan Kelas, Yogyakarta, 2001
cii
Lampiran Siklus 1
ciii Lampiran I
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
NamaSekolah : MTs Al-Madaniyah
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Kelas/Semester : VIII/ Ganjil
Tema : Perubahan Keruangan Dan Intraksi Antarruang Di Indonesia Dan Negara- Negara ASEAN
Sub tema : Perubahan ruang dan intraksi antarruang akibat faktor alam dan manusia
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit (1x Pertemuan ) A. Kompetensi Inti
KI-1 :Menghargai dan mengahayati ajaran agama yang dianutnya
KI-2 :Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli ( toleransi, gotong royong ), santun, percaya diri, dalam berintraksi secara efektif dengan lingkungan sosial, dengan alam dalam jangka pergaulan dan keberadaannya.
KI-3 :Memahami pengetahuan ( factual, konseptual, dan procedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, senibudaya terkait penomena dan kejadian tampak mata KI-4 :Mencoba, mengolah dan menyaji dalam ranah kongkret (
menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak ( menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari disekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/ teori.
civ
B. Kompetensi Dasar dan indikator pencapaian kompetensi No Kompetensi Dasar (KD) Indikator pencapaian
kompetensi (IPK) 1 3.1 Memahami perubahan
keruangan dan intraksi antarruang di indonesia dan negara-negara ASEAN yang diakibatkan oleh paktor alam dan manusia (teknologi, ekonomi, pemanfaatan lahan, politik) dan pengaruhnya terhadap keberlangsungan kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik.
3.1.1Mengamati perubahan ruang dan intraksi antarruang akibat faktor alam dan manusia
3.1.2Menjelaskan tentang perubahan ruang dan intraksi antarruang akibat faktor alam 3.1.3Menjelaskan
perubahan ruang dan intraksi antrruang akibat faktor manusia 2 4.1 Menyajikan hasil analisis
tentang perubahan keruangan dan intraksi antararuang di indonesia dan negara-negara ASEAN yang di akibatkan oleh faktor alam dan manusia (teknologi, ekonomi,
pemanfaatan lahan politik) dan pengruhnya terhadap kebelangsungan kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik
4.1.1Melakukan
pengamatan terhadap perubahan ruang dan intraksi antarruang akibat faktor alam dan manusia
4.1.3 Menyajikan hasil analisis bagian perubahan ruang dan intraksi antrruang akibat faktor alam 4.1.4 Menyajikan hasil
analisis bagian perubahan ruang dan