BAB VII PROGRAM PENGAJARAN REMEDIAL
E. Hubungan Program Remedial dengan Belajar Tuntas
Sistem pembelajaran dengan satuan pelajaran dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) berorientasi pada prinsip
Bab VII Program Pengajaran Remedial 149
belajar tuntas (mastery learning) dan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Hal ini merupakan suatu inovasi pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan usaha siswa dalam upaya mencapai ketuntasan dalam belajar. Hal ini berlaku untuk semua siswa, baik yang berinteligensi tinggi maupun rendah.
Strategi pembelajaran individual di samping menekankan kemungkinan setiap siswa dapat belajar sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-masing, juga memungkinkan setiap siswa dapat menguasai bahan pelajaran secara penuh. Kemampuan untuk menguasai bahan pelajaran dan memperoleh hasil secara penuh ini merupakan ide yang melandasi sistem pengajaran individual. Ide inilah yang kemudian oleh Bloom menyebutnya dengan istilah mastery learning yakni sistem belajar tuntas.
Belajar tuntas (mastery learning) adalah suatu system belajar yang menginginkan sebagian besar siswa dapat menguasai tujuan instruksional (pembelajaran) umum (basic learning objectives) dari sutuan atau unit pelajaran secara tuntas. Sistem belajar tuntas ini merupakan suatu pola pengajaran tersruktur yang bertujuan untuk mengadaptasikan pengajaran kepada kelompok siswa yang besar (pengajaran klasikal sedemikian rupa, sehingga dapat memberikan perhatian yang secukupnya pada perbedaan-perbedaan yang ada di antara siswa, khusus nya mengenai tingkat kecepatan atau kemajuan siswa dalam belajar. Dengan system ini, maka diharapkan guru akan mampu mengatasi kelemahan-kelemahan yang sering terjadi dalam pengajaran klasikal, yaitu hanya siswa yang pandai yang akan mencapai semua atau sebagian besar tujuan pembelaran yang telah ditetapkan, sementara siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar tidak mencapainya, sehingga mereka yang disebut terakhir ini akan mengaanggap sekolah sebagai sumber frustasi. Bila ini yang terjadi, motivasi belajar dan rasa percaya dirinya akan hilang.
Program remedial merupakan implikasi dari teori belajar tuntas yang memerlukan upaya tambahan untuk mengatasi dan membantu siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar (Izzati, 2015:57). Salah satunya adalah dengan mengadakan program remedial untuk membantu siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar. Dengan demikian,
150 Pengajaran Remedial dalam Pendidikan Jasmani
perlu adanya penekanan pada beberapa aspek pengajaran agar soal pengajaran terstruktur ini dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Penekanan – penekanan ini ini pada:
(1) Tujuan-tujuan pembelajaran yang akan dicapai harus ditetapkan secara tegas; semua tujuan itu dirangkaikan, dan materi pelajaran di bagi atas unit-unit pelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
(2) Siswa dituntut agar dapat mencapai tujuan instruksional yang pertama terlebih dahulu sebelum ia dibolehkan mempelajari unit pelajaran yang baru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang kedua. Demikian seterusnya, sehingga dalam sistem pengajaran yang seperti ini lebih menekankan pada penguasaan (mastery).
(3) Adanya upaya untuk meningkatkan motivasi belajar dan efektifitas belajar siswa melalui tes secara berkala dan kontinu, serta memberikan umpan balik kepada siswa mengenai keberhasilan atau kegagalannya pada saat-saat pelaksanaan tes formatif. Adanya upaya pemberian bantuan atau pertolongan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar, yaitu dengan penyelenggaraan pengajaran remedial pada saat-saat yang tepat dan dengan menggunakan cara-cara yang efektif.
Dalam program belajar tuntas dengan program perbaikan (remedial) dan program pengayaan (enrichment) didalamnya, menunjukkan bahwa para siswa yang mengikuti ini secara umum dapat belajar dengan lebih baik dan memiliki tingkat pencapaian yang lebih tinggi, serta mereka mempunyai rasa percaya diri terhadap kemampuan belajar dan keberadaan diri mereka sebagai pelajar (Mulyadin, 2015:2).
Adapun unsur-unsur dari sistem belajar tuntas tercermin dalam:
(1) Usaha untuk meningkatkan mutu pengajaran klasikal agar proses pembelajaran dalam kelas dapat berlangsung secara optimal.
(2) Penggunaan Penilaian Acuan Patok (PAP) bukan Penilaian Acuan Norma (PAN).
(3) Siswa yang dalam mengerjakan tes formatif mencapai taraf keberhasilan atau taraf penguasaan kurang dari 75% melakukan program pengajaran perbaikan (remedial).
Bab VII Program Pengajaran Remedial 151
(4) Secara kelompok, ketuntasan belajar dinyatakan tercapai apabila sekurang- kurangnya 75 % sampai 85 % dari siswa dalam satuan kelas yang bersangkutan telah memenuhi kriteria ketuntasan belajar secara perorangan (75 % dalam tes formatif dan 60 % dalam tes sumatif).
(5) Siswa yang lebih cepat dan telah mencapai taraf penguasaan 75 % atau lebih dalam tes formatif ketika menempuh untuk pertama kali, harus diberi program belajar pengayaan.
(6) Jika hasil penilaian formatif menunjukkan 60 % sampai 85 % dari jumlah siswa mencapai tingkat keberhasilan minimal 75 % dari suatu pokok bahasan tertentu, maka pengajaran dapat dilanjutkan.
(7) Penentuan alokasi waktu untuk masing-masing satuan bahasan, termasuk penilaian formatif, bersifat tetap dan pasti (fixed time).
(8) Mengadakan program pengajaran perbaikan (remedial) atau program pengayaan (enrichment).
Demikian panorama atau synopsis tentang konsep pengajaran remedial dan pengayaan sebagai solusi belajar tuntas, yang kiranya sedikit membantu pemahaman pendidik dalam proses belajar mengajar di kelas.
Rangkuman
Sejarah pengajaran remedial berawal pada tahun 1940, yaitu program pendidikan dan pengajaran remedial mulai terorganisasi melalui kebijakan-kebijakan pemerintah dan butir-butir aspirasinya dimasukkan ke dalam Undang-Undang Pendidikan.
Pengajaran remedial adalah suatu layanan pendidikan atau suatu bentuk program pembelajaran yang dilaksanakan dengan perlakuan khusus yang diberikan guru pada siswa yang mengalami kesulitan dan hambatan dalam kegiatan belajar mengajar agar mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan.
Tujuan pengajaran remedial adalah untuk membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dengan memperbaiki prestasi belajarnya dan memberikan bantuan peserta didik agar dapat mencapai tingkat penguasaan yang telah ditetapkan
152 Pengajaran Remedial dalam Pendidikan Jasmani
Fungsi pengajaran remedial meliputi fungsi korektif, pemahaman, penyesuaian, pengayaan, akselerasi, dan terapeutik. Agar fungsi-fungsi tersebut dapat tercapai maka remedial harus terlaksana sebagaimana mestinya hubungan program remedial dengan belajar tuntas
Hubungan program remedial dengan belajar tuntas yaitu karena program remedial merupakan implikasi dari teori belajar tuntas yang memerlukan upaya tambahan untuk mengatasi dan membantu siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar.
Latihan Soal
1. Bagaimana sejarah tentang pengajaran remedial?
2. Jelaskan apa yang dimaksud pengertian pengajaran remedial!
3. Jelaskan bagaimana ciri-ciri pengajaran remedial!
4. Mengapa diperlukan pengajaran remedial di kelas?
5. Kapan waktu dilaksanakan pengajaran remedial?
6. Jelaskan bagaimana prinsip-prinsip melakukan pengajaran remedial!
7. Jelaskan apa saja tujuan dari pengajaran remedial!
8. Jelaskan apa saja fungsi dari pengajaran remedial!
9. Jelaskan bagaimana perbedaan pengajaran remedial dengan pengayaan!
10. Bagaimana hubungan program remedial dengan belajar tuntas?
153