BAB V DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR
D. Prosedur Identifikasi Diagnosis Kesulitan Belajar
Diganosis kesulitan belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar. Sebagai prosedur maka diagnosis kesulitan belajar terdiri dari langkah-langkah yang tersusun secara sistematis. Menurut Ross & Stanley (1956:332-341), tahapan-tahapan diagnosis kesulitan belajar adalah jawaban terhadap pertanyaan- pertanyaan sebagai berikut.
Bab IV Belajar Tuntas (Mastery Learning) 101
Gambar 5.1 Tahapan Diagnosis Kesulitan Belajar menurut Ross & Stanley
Dari skema Ross & Stanley, tampak bahwa keempat langkah yang pertama dari diagnosis itu merupakan usaha perbaikan atau penyembuhan. Sedangkan langkah yang kelima merupakan usaha pencegahan.
Sedangkan menurut Burton (1952:640-652) penggolongan tahapan-tahapan diagnosis tidak didasarkan pada usaha penanganan, tetapi didasarkan [ada teknik dan instrumen yang digunakan dalam pelaksanaannya, seperti di bawah ini:
1) General Diagnosis
Pada tahap ini lazim dipergunakan tes baku, seperti yang dipergunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologis dan hasil belajar. Sasarannya, untuk menemukan siapakah siswa yang diduga mengalami kelemahan tertentu.
2) Analistic Diagnosis
Pada tahap ini yang lazim digunakan ialah tes diagnostik.
Sasarannya, untuk mengetahui dimana letak kelemahan tersebut.
5. How can errors be prevented?
(Bagaimana kelemahan-kelemahan itu dapat dicegah?) 4. What are remedies are suggested?
(Penyembuhan apa saja yang disarankan?) 3. Why are the errors occur?
(Mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi?) 2. Where are the errors located?
(Dimanakah kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilokalisasikan?) 1.Who are the pupils having trouble?
(Siapa siswa yang mengalami gangguan?)
Bab V Diagnosis Kesulitan Belajar
102 Pengajaran Remedial dalam Pendidikan Jasmani
3) Psychological Diagnosis
Pada tahap ini teknik pendekatan dan instrumen yang digunakan antara lain: (a) observasi; (b) analisis karya tulis; (c) analisis proses dan respon lisan; (d) analisis berbagai catatan objektif; (e) wawancara; (f) pendekatan laboratories dan klinis; (g) studi kasus.
Sasaran kegiatan diagnosis pada langkah ini pada dasarnya digunakan untuk memahami karakteristik dan faktor-faktor penyebab terjadinya kesulitan. Jika output dari layanan bimbingan belajar berupa perubahan pada diri siswa (terbimbing). Setelah menjalani tindakan penyembuhan (treatment). Maka output dari layanan diagnosis kesulitan belajar hanya sampai pada rekomendasi tentang kemungkinan alternatif tindakan penyembuhan.
Dari kedua model pola pendekatan di atas, Prof. Dr. H. Abin Syamsudin Makmun, M.A. menjabarkannya ke dalam suatu pola pendekatan operasional sebagai berikut (Restian, 2015:140).
Gambar 5.2 Pola Pendekatan Diagnosis Kesulitan Belajar
1) Mengidentifikasi Kasus dan Masalah
Langkah-langkah operasionalnya berupa, yaitu menandai dan menemukan siapakah siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.
Bab IV Belajar Tuntas (Mastery Learning) 103
Yang menjadi persoalan dalam langkah ini adalah bagaimana cara membuktikan kasus dugaan tersebut dalam praktiknya, dengan kata lain, siapa saja siswa yang dalam kenyataannya memerlukan bantuan.
Menemukan dimana letak kesulitan belajar itu dan mengidentifikasikan bagaimana karakteristik kesulitan belajar tersebut. Persoalan pada langkah ini berupa:
(1) Dalam mata pelajaran manakah kesulitan itu terjadi?
(2) Pada kawasan tujuan belajar (aspek perilaku) yang manakah kesulitan itu terjadi?
(3) Pada bagian (ruang lingkup) bahan yang manakah kesulitan itu terjadi?
(4) Dalam segi-segi proses belajar manakah kesulitan itu terjadi?
2) Mengidentifikasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Menurut Loore (1970:121-133), berbagai variable yang memengaruhi proses belajar-mengajar terdiri atas: (a) stimulus atau learning variables, (b) organismic variables, (c) response variable.
Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut.
a. Stimulus atau Learning Variables Variabel ini mencakup:
(1) Learning experience variables, hal ini menyangkut kuat lemahnya motivasi untuk belajar, serta bermakna tidaknya atas apa yang dipelajari dan dikerjakan.
(2) Environmental variables, menyangkut iklim belajar yang bergantung pada tempat, waktu, fasilitas, dan keharmonisan hubungan manusiawi dalam lingkungannya.
b. Organismic variables Variable ini mencakup:
(1) Characteristik of the learners, antara lain tingkatan intelegensi, usia dan taraf kematangan, jenis kelamin, kesiapan dan kematangan untuk belajar.
(2) Mediating processes, kondisi lazim terdapat dalam diri antara lain intelegensi, presepsi, motivasi, dorongan, kesiapan konflik, tekanan batin dan sebagainya turut berperan pula dalam proses berperilaku termasuk perilaku belajar.
Bab V Diagnosis Kesulitan Belajar
104 Pengajaran Remedial dalam Pendidikan Jasmani
c. Response variables
Sebagaimana telah dikelompokkan berdasarkan tujuan-tujuan pendidikan, yaitu: (1) tujuan kognitif; (2) tujuan afektif; (3) tujuan psikomotor.
3) Mengambil Kesimpulan dan Membuat Rekomendasi Pemecahannya Ada tiga rekomendasi pelaksanaan dalam menarik kesimpulan, yaitu:
(1) Menarik suatu kesimpulan meskipun hanya secara tentative.
(2) Membuat perkiraan apakah masalah itu mungkin untuk diatasi.
(3) Memberikan saran tentang kemungkinan cara mengatasinya.
Apabila model diagnosis kesulitan belajar peserta didik dari beberapa ahli disintesis maka prosedur operasionalisasinya menjadi tahapan-tahapan kegiatan sebagai berikut.
1. Mengidentifikasi Peserta Didik yang Diduga Mengalami Kesulitan Belajar
Dengan cara mengenali latar belakang baik psikologis maupun non psikologis. Kasus kesulitan belajar dapat diketahui melalui : a. Analisis Perilaku
Peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dapat diketahui melalui observasi atau laporan proses pembelajaran. Analisis perilaku terhadap peserta didik yang diduga mengalami kesulitan belajar dilakukan dengan: pertama, membandingkan perilaku yang bersangkutan dengan perilaku peserta didik lainnya yang berasal dari tingkat atau kelas yang sama; kedua, membandingkan perilaku yang bersangkutan dengan perilaku yang diharapkan oleh satuan pendidikan.
Dalam proses pembelajaran dapat diketahui:
(1) Cepat lambatnya menyelesaikan tugas
(2) Kehadiran dan ketekunan dalam proses pembelajaran (3) Peran serta dalam mengerjakan tugas kelompok (4) Kemampuan kexjasama dan penyesuaian sosial b. Analisis Prestasi Belajar
Dapat dilakukan dengan cara menghimpun dan menganalisis hasil belajar serta menafsirkannya. Dalam menafsirkan hasil belajar peserta didik harus menggunakan norma yaitu Penilaian Acuan Norma
Bab IV Belajar Tuntas (Mastery Learning) 105
(PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP). Dari segi prestasi belajar, individu dapat dinyatakan mengalami kesulitan bila: pertama, nilai yang bersangkutan lebih rendah dibanding nilai rata-rata di kelasnya;
kedua, prestasi yang dicapai sekarang lebih rendah dari sebelumnya;
dan ketiga, prestasi yang dicapai berada di bawah kemampuan sebenarnya.
c. Analisis Hubungan Sosial
Intensitas interaksi sosial individu dengan kelompoknya dapat diketahui dengan sosiometri. Dengan sosiometri dapat diketahui individu-individu yang terisolasi dari kelompoknya. Gejala tersebut merupakan salah satu indikator kesulitan belajar.
2. Melokalisasi Letak Kesulitan Belajar
Dapat kita lakukan dengan cara mengetahui dalam mata pelajaran atau bidang studi apa kesulitan itu terjadi, kemudian aspek atau bagian mana kesulitan belajar itu dirasakan oleh peserta didik.
Untuk menemukan bidang studi apa peserta didik mengalami kesulitan belajar dapat dilakukan dengan cara membandingkan skor prestasi yang diperoleh peserta didik dengan nilai rata-rata dari masing-masing bidang studi. Sedangkan untuk mengetahui aspek atau bagian mana kesulitan belajar itu dirasakan oleh peserta didik dapat dilakukan dengan memeriksa hasil pekerjaan tes.
Setelah para peserta didik yang mengalami kesulitan belajar diidentifikasi, langkah berikutnya adalah menelaah:
(1) Pada materi PJOK apa yang bersangkutan mengalami kesulitan;
(2) Pada aspek tujuan pembelajaran yang mana kesulitan terjadi;
(3) Pada bagian (ruang lingkup) sub materi yang mana kesulitan terjadi;
(4) Pada segi-segi proses pembelajaran yang mana kesulitan terjadi.
3. Menentukan Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Dapat dilakukan dengan cara meneliti faktor-faktor yang ada pada diri peserta didik (internal) dan faktor-faktor yang berada di luar peserta didik (eksternal) yang menghambat proses belajar dan atau pembelajaran.
Bab V Diagnosis Kesulitan Belajar
106 Pengajaran Remedial dalam Pendidikan Jasmani
Pada tahap ini semua faktor yang diduga sebagai penyebab kesulitan belajar diusahakan untuk dapat diungkap. Tahap ini oleh para ahli dipandang sebagai tahap yang paling sulit, mengingat penyebab kesulitan belajar itu sangat kompleks, sehingga hal tidak dapat dipahami secara sempurna, meskipun oleh seorang ahli sekalipun (Partowisastro & Hadisuparto, 1998:21).
Teknik pengungkapan faktor penyebab kesulitan belajar dapat dilakukan dengan: (1) observasi; (2) wawancara; (3) kuesioner; (4) skala sikap, (5) tes; dan (6) pemeriksaan secara medis.
4. Memperkirakan Alternatif Bantuan
Langkah yang akan ditempuh dengan cara menjawab beberapa pertanyaan berikut ini:
(1) Apakah peserta didik yang mengalami kesulitan belajar tersebut masih mungkin untuk ditolong ?
(2) Teknik apa yang tepat untuk pertolongan tersebut ?
(3) Kapan dan dimana proses pemberian bantuan tersebut dilaksanakan
?
(4) Siapa saja yang terlibat dalam proses pemberian bantuan tersebut ? (5) Berapa lama waktu yang diperlukan untuk kegiatan tersebut ? 5. Menetapkan Kemungkinan Cara Mengatasinya
Langkah ini merupakan langkah untuk menentukan bantuan atau usaha penyembuhan yang diperlukan peserta didik Selanjutnya rencana pemberian bantuan harus disesuaikan dengan jenis kesulitan yang dialami peserta didik. Bantuan dapat diberikan melalui program remedial atau pengajaran perbaikan, layanan bimbingan dan konseling, program referal yaitu mengirimkan peserta didik kepada ahli yang berkompeten dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik. Tahap ini merupakan kegiatan penyusunan rencana yang meliputi: pertama, teknik-teknik yang dipilih untuk mengatasi kesulitan belajar dan kedua, teknik-teknik yang dipilih untuk mencegah agar kesulitan belajar tidak terjadi lagi.
Bab IV Belajar Tuntas (Mastery Learning) 107
6. Tindak Lanjut
Tahap keenam ini merupakan tahap terakhir dari diagnosis kesulitan belajar mahasiswa. Pada tahap apa saja yang telah ditetapkan pada tahap kelima dilaksanakan. Ini merupakan langkah terakhir yang berupa kegiatankegiatan sebagai berikut:
(1) Memberikan pertolongan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, sebagai penerapan program bantuan yang telah ditetapkan pada langkah sebelumnya
(2) Melibatkan berbagai pihak yang dipandang dapat memberikan pertolongan kepada peserta didik
(3) Mengikuti perkembangan peserta didik dan mengadakan evaluasi terhadap bantuan yang telah diberikan kepada peserta didik untuk memperbaiki kesalahan atau ketidaktepatan bantuan yang diberikan (4) Melakukan referral kepada ahli lain yang berkompeten dalam
menangani kesulitan yang dialami peserta didik.